cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
ANALISIS BENTUK DAN RUANG PADA RUMAH MELAYU TRADISIONAL DI KOTA SAMBAS KALIMANTAN BARAT Zain, Zairin
Nalars Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Arsitektur rumah Melayu tradisional di kota Sambas juga merupakan unsur kebudayaan nasional yang mempunyai struktur, fungsi dan style dengan bentuk fisik dalam proses pembuatannya senantiasa memberikan karakteristik tersendiri. Arsitektur tradisional sebagai hasil karya, cipta, karsa dan rasa manusia sebagai unsur kebudayaan manusia, yang tidak lepas dari interaksi dan pemahaman antara lingkungan fisik alam sekitar dengan keahlian atau kemampuan masyarakat dalam membentuk suatu kognisi. Penelitian ini dilakukan terhadap 3 (tiga) kasus rumah tradisional yang dijadikan sebagai kasus penelitian. Lokasi ketiga kasus tersebut terletak di kampung Dalam Kaum sebanyak 1 (satu) rumah Potong Kawat (kasus II) dan kampung Tanjung Mekar sebanyak 2 (dua) buah rumah yaitu potong Limas (kasus I) dan Potong Godang (kasus III). Kedominanan bentuk yang diberikan pada rumah tinggal Melayu tradisional baik secara vertikal maupun horizontal pada elemen pembentuk fasad disusun untuk memberikan perlindungan total dan kebebasan bagi anggota keluarga; sedangkan susunan ruang pada rumah Melayu tradisional di kota Sambas diarahkan pada penggunaan ruang secara bersamaan agar dapat menampung orang dalam jumlah yang banyak. Kata kunci : rumah Melayu tradisional, bentuk, ruang, kestabilan struktur ABSTRACT. The architecture of traditional Malay houses in the town of Sambas is also an element of the national culture and they also owned structure, function and style with the form, in its development process, is physically continues to provide its own characteristics. The traditional architecture as a result of the work, creativity initiative and the sense of man is an element of human culture, which can not be separated from the interaction and the understanding of the natural and physical environment with the skill or ability of the communities to form a cognition. The research was conducted on 3 (three) cases of the traditional Malay houses that serve as cases on this study. Three cases and its location site which were choosed as samples is in the following: 1 sample in the village of Dalam Kaum for Potong Kawat or the Kawat shape (as case II) and 2 samples were choosen in the village of Tanjung Mekar for Potong Limas or the Limas shape (as case I) and Potong Godang or Godang shape (as case III). The dominance is given by the form of traditional Malay houses, either vertically or horizontally, on the facade is forming the element arrangement to provide the total protection and freedom for all family members, whereas the spatial arrangement of the traditional Malay houses in the town of Sambas is directed to the use of space at the same time in order to accommodate many people in large numbers for traditional ceremony.Keywords : traditional Malay houses, forms, space, stability of the structure 
VARIASI POLA DESA-DESA TRADISIONAL DI KOTANOPAN, MANDAILING NATAL Nuraini, Cut
Nalars Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Permukiman penduduk di Mandailing terdiri atas beberapa desa yang letaknya tersebar di wilayah Mandailing Julu dan Mandailing Godang. Desa-desa tersebut pada awalnya merupakan huta adat yang dalam perkembangan selanjutnya disebut desa. Pola hidup yang menetap sudah lama ada di Mandailing sejak bermukimnya orang-orang yang pertama datang ke daerah ini. Dengan adanya pola hidup menetap, maka terbentuklah kampung-kampung (perkampungan) yang disebut huta.  Desa-desa yang terdapat di Kotanopan Mandailing dewasa ini secara tidak langsung telah mempengaruhi perencanaan dan pengembangan wilayah setempat. Fenomena ini semakin diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa sebagian besar wilayah pedesaan di Mandailing selalu didominasi oleh keberadaan alaman bolak selangseutang (halaman luas di depan rumah raja sebagai penanda bahwa desa tersebut telah melakukan proses adat) Pembahasan ini menjelaskan bahwa berdasarkan status letaknya, desa-desa di Kotanopan merupakan desa pedesaan, sedangkan berdasarkan mata pencahariannya, desa-desa tersebut terkategori dalam kelompok desa-desa pertanian dan desa-desa tambak. Jika ditinjau berdasarkan nilai sosial, desa-desa ini memiliki dua karakter, yaitu desa-desa yang berorientasi kultural dan sekaligus juga desa-desa yang berorientasi agama dan kepercayaan. Bentuk desa berdasarkan tiga kelompok, yaitu (1) Orientasi Rumah : merupakan bentuk desa dengan letak rumah-rumah yang membentuk kelompok terpusat (konsentris); (2) Aspek Fisiografis : merupakan desa lembah/ pegunungan dan (3) Aspek Non-Fisiografis : merupakan desa sepanjang jalan raya. Sedangkan Pola desa-desanya memiliki ciri linier dan radial.  Kata Kunci : Kawasan Permukiman, Huta, Konsentris, Linier, Radial  ABSTRACT. People Settlement in Mandailing consist of some villages that distribute on Mandailing Julu and Mandailing Godang district. In the beginning, those villages has been tradition huta expand to be a village in the future. Living to reside have been exist in Mandailing since those residence people came first in this region. With living to reside, so they have been created kampong-kampong as called huta.  The Villages in Kotanopan, Mandailing has effected the planning as well as the development of the region. This phenomenon has been strengthening by the fact that mostly on the village areas in Mandailing have been dominated by the existence of alaman bolak selangseutang (Wide yard in front of King House as symbolize that the village has been done the tradition proses). The discussion has tried to explain and describe that according to setting statue the villages in Kotanopan has been traditional village and according to people job the villages has been categoried in farm and lake villages. According to social value, the villages has been two caracter namely cultural oriented villages and religion oriented villages. The form of villages which has been delivered by 3 groups, namely (1) Houses Orientation : are villages form which have consentris house setting, (20 Fisiografis Aspect : are valley villages/ mountain villages and (3) Non-Fisiografis Aspect : are village along the main street. The pattern of Mandailing Villages has been linier and radial caracter.  Keywords:  Regional Settlement, Huta, Concentris, Linier and Radial
KAJIAN ARSITEKTUR LANSKAP RUMAH TRADISIONAL BALI SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR EKOLOGIS Hakim, Luqmanul
Nalars Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini mengkaji pengaruh Arsitektur Lanskap Rumah tradisional Bali terhadap pendekatan perancangan Arsitektur ekologis di daerah tropis. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi yang dipadu dengan observasi terhadap arsitekur lanskap rumah tradisional Bali. Data yang dihasilkan akan dikelompokkan dan disusun sehingga menjadi sebuah data yang menunjukkan adanya hubungan antara elemen lanskap dengan norma–norma yang diterapkan dalam penataannya. Kesimpulan yang didapat adalah konsep Asta Kosala kosali terbukti berhasil membuat Arsitektur Lanskap Rumah Tradisional Bali khususnya, bertahan sampai sekarang. Penataan ruang dengan Kasta di Bali sudah menunjukan dan membuktikan merupakan produk Arsitektur Lanskap yang ekologis. Kata Kunci: Arsitektur Lansekap, RumahTradisional Bali, Arsitektur Ekologis  ABSTRACT. This study will examine the effect of architectural landscape of Balinese traditional house on the approach of ecologist architecture design within tropical area. The method has been used is a description method combined with observation of architectural landscape of Balinese traditional house. The collected data will be grouped and organized thus become a data which showing the relationship between landscape elements with norms applied in the setting. The conclusion is  showing that the concept of Asta Kosala Kosali has succeeded to make architectural landscape of Balinese traditional housein particular, has survived until now. Structuring space with Caste in Bali has shown and provedas an Ecological Landscape Architecture product. Keywords: Landscape Architecture, Balinese Traditional House, Ecologist Architecture
POLA DAN STRATEGI PERBAIKAN PERMUKIMAN KUMUH DI PERKOTAAN Purwantiasning, Ari Widyati
Nalars Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tulisan ini akan membahas sedikit banyaknya tentang pola dan strategi perbaikan permukiman kumuh di perkotaan khususnya DKI Jakarta yang dinilai terlalu banyak kantong-kantong permukiman kumuh. Pola dan strategi perbaikan yang dibahas dalam tulisan ini meliputi pola dan strategi perbaikan permukiman kumuh dari yang pertama digulirkan oleh pemerintah maupun yang sampai saat ini masih diterapkan oleh pemerintah.  Kata kunci: strategi, pola, permukiman kumuh  ABSTRACT. This paper will discuss more or less about strategies and patterns of slum settlement improvement programme within cities, particularly DKI Jakarta. DKI Jakarta has been regarded as a city which has many slum areas’ within it. Strategies and patterns of improvement programme which will be discussed in this paper include patterns and strategies of initial programme which had been delivered by government as well as programme which is still employed by government.. Keywords: strategies, patterns, slum settlement
PERUBAHAN TATA RUANG RUMAH TIPE KECIL DAN PENGARUHNYA TERHADAP ASPEK KESEHATAN PENGHUNI (Kasus Studi: Rumah Sederhana Sehat di Depok Jawa Barat) Ashadi, Ashadi; Anisa, Anisa; Nelfiyanti, Nelfiyanti
Nalars Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kesehatan menjadi aspek penting yang harus diperhatilkan dalam desain rumah. karena rumah yang sehat akan berdampak pada kenyamanan yang dirasakan oleh penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tata ruang rumah tipe kecil ≤ 36 m2 dan pengaruh perubahan tersebut pada aspek kesehatan penghuninya. Kesehatan difokuskan pada sirkulasi udara dan cahaya (penghawaan dan pencahayaan) yang merupakan dua aspek penting pada kesehatan dalam rumah.  Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan mengambil kasus secara purposif sampling. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah pada perubahan tata ruang rumah tipe kecil selalu ada ruang yang tidak mendapatkan pencahayaan secara maksimal. Arah perubahan pada rumah tipe kecil adalah ke arah samping, belakang dan depan sehingga sirkulasi udara dan cahaya yang awalnya dioptimalkan melalui halaman depan dan belakang menjadi terganggu.  Upaya yang dilakukan adalah dengan membuat bukaan berupa jendela dan roster yang cukup lebar sehingga udara dan cahaya dapat masuk ke dalam ruangan. Namun untuk ruang yang tidak mendapatkan cahaya matahari secara langsung akan menjadi gelap dan lembab sehingga mempengaruhi kesehatan penghuninya. Kata kunci: tata ruang, rumah, kesehatan ABSTRACT. Health is become an important aspect which should be concerned in designing a house. Healthy house will affect to the conviniency of the occupants. This research is aimed to explore the transformation of house’s layout of small house less than 36 m2 and the impact of the changes to the health aspect for occupants. Health aspect will be focused on air circulation and natural lighting which are very important aspects for health within house. A qualitative descriptive method has been conducted to analyse this research by taking some cases with purposive sampling. A significant result will be presented that the changes of house’s layout of small house will affect to the existence of room which will not suplied by maximum natural lighting as well as good air circulation. The change direction of small house is to the side  direction, backwards and forward, thus air circulation and natural lighting which at the beginning will be optimized through rear side and front side will be interrupted. Efforts will be made by providing opened wall such as wide windows and roster, to circulate the air and natural lighting inside the house. For some rooms which will be not supported to get direct natural lighting and air circulation, the rooms will be uncomfortable for occupants, because it will be dark and humid for some reasons and will affect to the health of the occupants.  Keywords: layout, house, health
PENGARUH IKLIM DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR Irfandi, Irfandi
Nalars Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Bangunan sebagai hasil perancangan arsitektur dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan mendukung aktifitas manusia yang berada di dalam bangunan. Kondisi ruangan yang baik dapat membuat manusia sebagai pemakai bangunan beraktifitas dengan baik sesuai dengan kehendaknya. Kondisi ini menuntut ruangan sebagai wadah aktifitas manusia untuk dapat memenuhi persyaratan kenyamanan yang meliputi kenyamanan terhadap suara (acoustics), pencahayaan (lighting), dan kenyamanan termal (thermal comfort). Oleh karena itu dalam perancangan arsitektur harus memperhatikan faktor iklim ini sehingga dapat tercipta lingkungan dan bangunan yang memberikan kenyamanan, kenikmatan, dan keselamatan terhadap pemakainya. Kata kunci: Iklim, Pengaruh Iklim, dan Perancangan Arsitektur Abstracts. Building as a product of architectural design is attempted to give comfort and to encourage human activities within building. Condition of well organized room will encourage people as building user to do their activities as good as they want. This condition will require the room as activities’ place for human being to fulfill the requirement of comfort which include acoustics, lighting, and thermal comfort. Therefor, in architectural design, should concern about climate factor, thus it will created building and enviroment which giving comfort, and savety for the users.  Keyword: climate, climate effect, architectural design
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOTA BARU DI INDONESIA: Antara Fasilitasi Bisnis dan Pelayanan Publik Siregar, M Jehansyah
Nalars Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. The development of new-town in Indonesia have been initiated since 1950s through the development of Kebayoran Baru newtown as a satellite city in Southern Jakarta. Subsequently, a number of new-town were then built in Klender and Depok and in urban fringe area of other metropolitan like Surabaya and Medan. Hitherto, new-town development are then dominated by private developers, including industrial new-town development. In other side, various problems were occured in those new-town related to spatial planning, infrastructure and social and public facilities management issues. Through policy analysis on various documents, policy dialog notes and media analysis, it were found that there is an obscure policy direction in new-town development, both in national and local government levels, whether it is focused in business facilitation or it is focused in public service initiatives. As recommendations for next study and research, an obscure of policy direction is led to the need of strengthtened legal framework, capacity building and institutional development on new-town development in Indonesia. Keywords: new town, policy direction, Indonesia ABSTRAK. Pembangunan kota-kota baru di Indonesia pada dasarnya sudah dimulai sejak masa awal kemerdekaan, yaitu dengan dibangunnya Kota Kebayoran Baru sebagai kota satelit di sebelah Selatan dari Kota Jakarta. Selanjutnya, beberapa kota baru berupa permukiman terpadu skala besar dibangun oleh Perumnas seperti di Klender dan Depok. Pada perkembangannya hingga kini, pembangunan kota-kota baru lebih didominasi oleh usaha bisnis properti yang dilakukan oleh para pengembang swasta. Di sisi lain, beragam permasalahan bermunculan yang terkait dengan isu-isu penataan ruang dan pengelolaan pelayanan prasarana dasar dan fasilitas sosial dan umum di kota-kota baru tersebut. Berdasarkan analisis perkembangan kebijakan yang bersumber dari dokumen-dokumen rencana, catatan dari beberapa diskusi publik dan analisis media, dijumpai bahwa ada ketidakjelasan arah kebijakan pembangunan kota-kota baru, apakah lebih difokuskan kepada pelayanan bisnis properti atau perlu kembali ditekankan pada aspek pelayanan publik. Sebagai rekomendasi, adanya ketidakjelasan arah kebijakan ini menghantarkan pada perlunya dilakukan penguatan-penguatan pada aspek kerangka peraturan, peningkatan kapasitas dan pengembangan konsep dan sistem kelembagaan pembangunan kota-kota baru di Indonesia. Kata-kata kunci: kota baru, arah kebijakan, Indonesia.
TEKTONIKA BEBADUNGAN DI ARSITEKTUR BALI Prijotomo, Josef
Nalars Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bata adalah bahan bangunan yang mungkin saja paling dikenal oleh semua orang. Kita tidak perlu mempersoalkan sejak kapan bata ini digunakan sebagai bahan bangunan. Bersamaan dengan masa Renaisans di Eropa, di masa Majapahit bata juga sudah digunakan sebagai bahan pembangunan candi- candi. Bata memang bahan bangunan yang digunakan hampir di semua penjuru dunia. Memang, ada bata yang tidak dibakar dan ada yang dibakar terlebih dulu; juga ada bata yang berukuran kecil dan yang berukuran besar, namun perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi pengkonstruksian bata menjadi sebuah komponen bangunan. Tembok yang dihadirkan dari pasangan bata yang dijejer dan ditumpuk bukan sekadar sebuah teknologi konstruksi bangunan, tetapi juga sebuah tantangan bagi arsitek dan perancang untuk menggubah sebuah tektonika bata, yakni sebuah seni mengkonstruksi bataKata Kunci: tektonika, bebadungan, bataABSTRACT. Redbricks are a common building material in the world. We never know since when this material have been used as a building material. In the same time of Renaissance Period in Europe, in Majapahit Era, redbricks have been used as building material as well for temples. Redbricks have been regarded as a building material which have been used all over the world. Although, it has been know that there are many kind of redbricks: oven redbricks and non oven redbricks; small redbricks and big redbricks, but the differences will not become an obstacle in the process of building construction. Redbricks become one of building component in building construction. Building’s wall which have been constructed from redbricks structure is not only building construction technology, but also a challenge for architect and designer to change redbricks techtonic, which known as an art how to construct redbricks Keywords : Techtonic, ”bebadungan”, redbricks 
KAJIAN JALUR PEDESTRIAN SEBAGAI RUANG TERBUKA PADA AREA KAMPUS Purwantiasning, Ari Widyati; Mauliani, Lily; Aqli, Wafirul
Nalars Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Jalur pedestrian sudah seharusnya dapat menjadi fasilitas yang baik yang disediakan baik oleh pemerintah maupun lembaga swasta sebagai fasilitas untuk pejalan kaki. Kebutuhan fasilitas pejalan kaki sebagai ruang terbuka publik juga meningkat karena adanya penyesuaian gaya hidup dan standar hidup bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jakarta khususnya. Daerah jalur pejalan kaki memiliki banyak fungsi, salah satu fungsi mereka baik sebagai fasilitas untuk pejalan kaki, juga sebagai ruang terbuka untuk berbagai aktifitas diantaranya aktifitas social dan juga aktifitas lainnya. Sebuah jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja harus direncanakan dan dirancang sebagai akses yang mudah dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Hal ini menjadi latar belakang mengapa konsep pedestrian penting untuk diterapkan dalam wilayah publik seperti area kampus. Namun pada kenyataannya jalur pedestrian yang ada masih jauh dari optimal dalam hal perencanaan, desain atau penggunaannya. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep pedestrianisasi dalam area kampus sebagai ruang terbuka bagi komunitas kampus baik untuk memfasilitasi kebutuhan sosial juga untuk beraktifitas di dalamnya. Sebagai fakta terlihat bahwa jumlah arus pejalan kaki dalam waktu area kampus cukup tinggi. Perlunya kegiatan bersosialisasi antara mahasiswa dan lain-lain sangat penting. Metode deskriptif serta metode studi banding telah dipilih sebagai metodologi penelitian. Kata kunci: jalur pedestrian, ruang terbuka, area kampus ABSTRACT. A pedestrian line should be a good facility provided either by government or private institutions as a tool for pedestrians. The need for pedestrian facilities as public open spaces have also increased due to an adjustment of lifestyle and standard of living for Indonesian community generally and Jakarta’s community particularly. Pedestrian areas have many functions, one of their functions either as a tool for pedestrians, also as a space for social need for many people. A distance from residence to work place should be planned and designed as an easy access and can be reached by walking distance. This is become a background why the concept of pedestrian is important to be applied within public area such as campus area. But in fact the existing pedestrian path is far from optimal in terms of planning, design or use. This paper is aimed to analyse the application of pedestrianization concept within campus area as a public space for social need. As the fact showed that number of pedestrian’s flow within campus area is quite high. The need for socialization’s activity between students and others is significant as well. Descriptive method as well as comparative studies method have been chosen as a methodology of the research. Keywords: pedestrian line, open space, campus area 
AN OPTIMALIZATION OF NATURAL LIGHTING BY APPLYING AUTOMATIC LIGHTING USING MOTION SENSOR AND LUX SENSOR FOR HISTORICAL OLD BUILDINGS Bahri, Saeful; Purwantiasning, Ari Widyati
Nalars Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   One of the problems that occurs within city centres, particularly within capital cities, is the existence of many historical old buildings. Historical old buildings within city centres, that have abandoned for years because of their condition, suffer from a lack of utilities, infrastructure and facilities [2][3]. These conditions occur because of low levels of maintenance arising as a consequence of a lack of finance of the owner of a building, be they government or private sector. To solve the problem of abandoned historical old buildings, the concept of adaptive reuse can be adopted and applied. This concept of adaptive reuse may continously cover the cost of building maintenance. The adaptive reuse concept usually covers the interior of a building and its utilities, though the need for utilities depends on the function of a building [4]. By adopting a concept of adaptive reuse, new building functions will be designed as the needs and demand of the market dictate, and which is appropriate for feasibility study. One utility element that has to be designed for historical old buildings is the provision of lighting within a building. To minimize the cost of building maintenance, one of the solutions is to optimize natural lighting and to minimize the use of artificial lighting such as lamps. This paper will discuss the extent to which artificial lighting can be minimized by using automatic lighting; the automatic lighting types discussed in this paper are lighting controlled by motion sensor and lux sensor.  Keywords: Natural lighting, automatic lighting, motion sensor, lux sensor, historical old buildings ABSTRAK Salah satu permasalahan yang muncul dalam sebuah kota metropolitan, khususnya sebuah ibukota adalah keberadaan dari banyaknya bangunan-bangunan tua bersejarah. Bangunan-bangunan tua bersejarah dalam sebuah kota besar terutama yang diabaikan selama bertahun-tahun biasanya disebabkan karena kondisinya yang menua, minimnya utilitas bangunan, infrastruktur bangunan dan juga fasilitas-fasilitas yang mendukungnya [2][3]. Kondisi ini muncul karena rendahnya tingkat pemeliharaan yang biasanya muncul sebagai akibat dan konsekuensi karena minimnya dana anggaran dari pihak pemilik bangunan baik pemerintah daerah, pusat maupun sector swasta. Untuk mengatasi masalah ini, konsep adaptive reuse dapat diadopsi dan diaplikasikan pada kawasan yang memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah ini. Konsep adaptive reuse dapat secara berkelanjutan memenuhi dan mengatasi permasalahan pemeliharaan bangunan dalam hal finansial. Konsep ini biasanya meliputi ruang dalam bangunan dan utilitas yang ada di dalam bangunan tersebut tergantung dari kebutuhan dan fungsi dari bangunan yang akan diaplikasikan konsep tersebut [4]. Dengan mengadopsi konsep adaptive reuse, fungsi bangunan baru dapat direncanakan sesuai kebutuhan dan permintaan pasar sehingga sesuai dengan studi kelayakan yang dilakukan. Salah satu elemen utilitas bangunan yang dapat dirancang untuk bangunan-bangunan tua bersejarah adalah kebutuhan pencahayaan di dalam sebuah bangunan. Untuk meminimalisir biaya pemeliharaan bangunan, salah satu solusinya adalah dengan mengoptimalkan pencahayaan alami dan meminimalisir penggunaan cahaya buatan seperti lampu. Tulisan ini akan mendiskusikan seberapa jauh pencahayaan buatan dapat diminimalisir dengan menggunakan pencahayaan otomatis, dimana dalam tulisan ini akan dibahas mengenai control pencahayaan dengan menggunakan motion sensor atau sensor gerak dan lux sensor atau sensor cahaya.    Kata Kunci: pencahayaan alami, pencahayaan otomatis, motion sensor, lux sensor, bangunan tua bersejarah 

Page 6 of 35 | Total Record : 349


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue