cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
GION MATSURI: PROSESI BUDAYA, PARTISIPASI KOMUNITAS DAN PELESTARIAN WAJAH KOTA KYOTO Fatimah, Titin
Nalars Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Gion Matsuri adalah satu dari tiga festival terbesar di Jepang yang diselenggarakan tiap bulan Juli. Prosesi dalam festival yang berlangsung selama sebulan tersebut melibatkan masyarakat lokal sebagai penyelenggara utama. Artikel ini bertujuan untuk melihat apa dan bagaimana Gion Matsuri, sejauh mana keterlibatan masyarakat/ komunitas lokal dalam penyelenggaraannya serta kaitannya dengan upaya pelestarian wajah kota/ townscape sebagai bagian dari pelestarian lansekap kota secara keseluruhan. Kota menjadi panggung utama tempat festival ini digelar, oleh karena itu karakter khas Kyoto berupa bangunan tradisional/ machiya townhouse sangatlah penting. Berbagai upaya pelestarian telah ditempuh. Sayang sekali, pesatnya pembangunan yang tak terkontrol menyebabkan wajah kota Kyoto berubah banyak. Populasi machiya semakin menurun, tergantikan dengan menjamurnya bangunan-bangunan baru yang berpotensi merusak karakter kota Kyoto. Upaya pelestarian sudah ditempuh oleh pemerintah, namun beberapa peraturan yang sudah dibuat untuk melindungi karakter lansekap kota belum menyentuh pada esensi karakter kota secara keseluruhan. Padahal tantangan perubahan sosial ekonomi budaya terus berlangsung seiring tuntutan zaman. Untuk itu perlu upaya sinergis antara pemerintah, swasta dan masyarakat/ komunitas untuk mengkondisikan laju pembangunan tetap bisa selaras dan harmonis dengan karakter kota Kyoto.Kata kunci: Gion Matsuri, Kyoto, Festival, Komunitas, Lansekap Kota, Wajah Kota, Karakter Kota ABSTRACT. Gion Matsuri is an annually festival in Kyoto, organized in every July and renowned as one of the three biggest festivals in Japan. The processions take place through the whole month where local community take part as main organizer. This article aims to describe what is Gion Matsuri, how local community involved in organizing the festival, and the relation with the effort of townscape conservation as part of the whole urban landscape. The festival takes place in the historic city centre as its main stage, therefore traditional wooden architecture is important as the Kyoto’s character. A number of efforts on townscape conservation have been carried out, but unfortunately uncontrollable development have caused the big changes on Kyoto townscape. The population of machiya townhouses, the Kyoto’s unique traditional wooden architecture, has decreased. The new built buildings that replaced those traditional ones potentially destroy the character of Kyoto towscape. Government had took some efforts to protect the townscape, but the issued regulations does not yet touch the whole character of Kyoto townscape. Whereas, social economy and culture that are continuesly changing is a big challenge for conservation. Therefore, sinergic effort among the government, private sector and local community is needed to condition the development pace to be harmonious with the character of Kyoto City.Keywords: Gion Matsuri, Kyoto, Festival, Community, Urban Landscape, Townscape, City Character
PEMBENTUKAN ATRIBUT RUANG BERSAMA PADA PERMUKIMAN DUSUN BONGSO WETAN GRESIK Ardianti, Intan
Nalars Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Suatu kelompok masyarakat hidup dalam suatu permukiman mempunyai keterkaitan sosial satu sama lain. Dusun Bongso Wetan Gresik merupakan permukiman yang berpenduduk awalnya berasal dari Madura, beragama Hindu dan Islam yang saling berdampingan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menggunakan ruang sosial yang digunakan bersama pada kehidupan sehari-hari maupun pada kegiatan ritual tertentu sehingga menjadi ruang bersama masyarakat. Latar belakang budaya dan kekerabatan masyarakat Dusun Bongso Wetan dalam suatu kawasan pedesaan menjadikan interaksi sosial dan aktivitas budaya yang khas dan beragam. Ruang bersama yang terbentuk dalam suatu lingkungan fisik dipengaruhi aktivitas, pelaku, ruang fisik dan waktu aktivitasnya yang terbentuk dalam suatu setting dengan elemen ruang pembentuknya yaitu elemen fix, elemen semifix dan elemen non fix. Tujuan studi adalah untuk mengetahui bagaimana suatu aktivitas masyarakat membentuk ruang bersama dengan atributnya. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pengamatan aktivitas pada tempat sehingga diperoleh hasil studi suatu setting dari elemen-elemennya yang membentuk ruang bersama pada permukiman. Setting ruang aktivitas bersama sehari-hari maupun aktivitas budaya masyarakat menunjukkan bagaimana pembentukan ruang bersama memiliki atribut yang berbeda sehingga dapat memenuhi fungsi ruang yang tumpang tindih. Keleluasaan dan aksesibilitas yang mudah memungkinkan berbagai aktivitas terjadi dalam suatu setting.Kata kunci: ruang bersama, setting, atribut ruang, elemen ruang ABSTRACT. A community lives in a settlement has social relation each other. People of Dusun Bongso Wetan Gresik originally came from Madura Island, and now with their religion Islam and Hindu, they live together in their daily activities in Dusun Bongso Wetan. These activities use social spaces in their settlement together in their daily community interactions or in occasionally rituals and then common space for society formed. This community with their cultural and kinship background in rural area makes a unique and diverse of their domestic activities. In physical environment, common space influenced by activities, person (who did the activity), space (where the activity happen) and time (when the activity happen) formed as a setting with its space elements: fixed element, semi-fixed element, and non-fixed element. The purpose of this study was to identify how common space with its attribute formed by activities. Qualitative method with place centered mapping observation has been used to get the result of this study, a setting with its space elements form common space in settlement. Setting for daily activities and cultural activities in society shown how common space have different attribute to accommodate the sumperimposed using of space. Flexibility and accessibility of space make more activities possible to take place inside the setting.Keywords: common space, setting, space attributes, space elements
MAKNA RUANG PUBLIK PADA RUMAH TRADISIONAL MASYARAKAT JAWA KASUS STUDI: DESA JAGALAN KOTAGEDE YOGYAKARTA Sumardiyanto, Sumardiyanto; Antariksa, Antariksa; Salura, Purnama
Nalars Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemahaman tentang ruang publik pada rumah tinggal masyarakat Jawa. Untuk itu dipilih rumah-rumah tradisional masyarakat Jawa tipe joglo di desa Jagalan Kotagede Yogyakarta sebagai representasi aspek bentuk. Untuk representasi aspek fungsi dipilih tiga adat dan upacara daur hidup yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Pendekatan dasar yang digunakan adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Levi Strauss dikombinasikan dengan pengkategorisasian aspek dalam arsitektur oleh Capon dan perputaran aspek fungsi – bentuk – makna oleh Salura dan Fauzy. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengungkap struktur permukaan aspek fungsi dengan menelusuri elemen-elemen dan relasi sintagmatik dari kegiatan pada adat dan upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Pada saat yang sama juga dilakukan pengungkapan struktur permukaan aspek bentuk melalui penelusuran elemen-elemen dan relasi sintagmatik dari rumah-rumah kasus studi. Langkah berikutnya adalah melakukan analisis oposisi biner untuk mendapatkan relasi paradigmatik antara struktur permukaan aspek fungsi dan struktur permukaan aspek bentuk. Hasilnya kemudian diinterpretasi lebih lanjut dengan mengkaitkannya dengan konsep-konsep yang hidup dalam masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ruang publik pada rumah tinggal masyarakat Jawa merupakan bagian integral masyarakat Jawa dalam rangka menemukan keselamatan dalam hidup. Kata Kunci : ruang publik, makna, rumah tradisional, Kotagede. ABSTRACT. This research is aimed to explore the understanding of public space within Javanese traditional house. For this reason, it has been chosen some Javanese traditional houses known as Joglo House as case studies. Those houses are located in Jagalan Village, Kotagede Yogyakarta which will represent as form aspect. To represent function aspect, it has been conducted three ritual life cycle ceremony consist birth, marriage and death. The basic approach that has been used is structuralism which has been developed by Levi Strauss and has been combined with aspect categorization in architecture by Capon as well as rotation aspect of function-form-meaning by Salura and Fauzy. Steps taken in this research is describing the surface structure of function aspect by exploring elements and sintagmatic relation from the activities of ritual ceremony of birth, marriage and death. In the same time, it will describe the surface structure of form aspect through exploring elements and sintagmatic relation of case studies conducted. Next step is by doing binary opposition analysis to get paradigmatic relation between surface structure of function aspect and form aspect. The result will be interpretated more by relating with the concept of living within community. Analysis result has shown that public space on Javanese traditional house is an integral part of Javanese community in a term to find a safety life.         Key Words : public space, meaning, traditional house, Kotagede
MODEL RUMAH SUSUN LAYAK ANAK DI DKI JAKARTA Permadi, Permadi
Nalars Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perumahan Rakyat, bertekad membangun Rumah Susun sebanyak 2000 buah pertahun untuk masyarakat dengan penghasilan ekonomi menengah bawah. Kebanyakan pemakai/ penghuni Rumah Susun adalah keluarga muda yang mempunyai anak yang masih kecil baik yang masih bayi, balita maupun remaja. Anak-anak yang masih dalam taraf tumbuh kembang memerlukan tempat tinggal lengkap dengan sarana dan fasilitas yang layak bagi anak baik dari segi keamanan, kenyamanan, kesehatan dan ketersediaannya ruang terbuka hijau untuk sarana bermain dan olah raga.Penelitian ini bertujuan untuk mencari karakteristik Konsep Desain Rumah Susun Layak Anak yang kemudian diaplikasikan ke perancangan model Rumah Susun Layak Anak. Model Rancangan ini nantinya akan menjadi pilot project yang dapat diaplikasikan pada berbagai bangunan Rumah Susun khususnya yang ada di DKI Jakarta. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas bangunan Rumah Susun yang Layak Anak. Maksudnya dapat menjadi wadah tumbuh kembang anak baik dari segi keamanan, kesehatan maupun kenyamanan serta tersedianya lahan atau ruang terbuka hijau yang dapat menjadi sarana dan fasilitas bermain atau olah raga yang layak bagi anak.Kata kunci: rumah susun, layak anak, model, desain. ABSTRACT. The Government of the Republic of Indonesia through the Ministry of Housing, Flats determined to build as many as 2000 pieces per year to the community with middle-low income. Mostly, users/ occupants are young families who have small children either still babies, toddlers and teenagers. Children who are still in early stages of growth and development requires a residence which is complete with facilities and adequate facilities for children in terms of safety, comfort, health and availability of green open spaces for play and sports facilities.This study is aimed to explore the characteristics of Children Friendly Design Concepts Flats then applied to the design of the model flats which are eligible and friendly for children. This design models will be a pilot project that can be applied to various flats buildings/ vertical housing particularly in Jakarta. Another goal of this research is to improve the quality of vertical housing which are eligible and friendly for children. This vertical housing should become a proper space for children to growth either in terms of safety, health and comfort as well as the availability of land or green open space that would become a playing facility or sport facility for children.Keywords: vertical housing, children friendly, model, design
TRANSFORMASI STRUKTUR BENTUK JARINGAN JALAN DI KAWASAN SIMPANGLIMA KOTA BANDUNG Al-Athas, Syarifah Ismailiyah
Nalars Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perubahan bentuk jaringan jalan dan bentukan ruang yang terjadi dalam skala kota Bandung. Secara khusus, studi transformasi ini akan digerakkan pada obyek pertumbuhan jaringan jalan di simpang lima kota Bandung sebagai salah satu penggal Grote Postweg serta pembentukan ruang yang terjadi sebagai akibat pertumbuhan pembangunan ruas jalan dan bangunan di tepiannya. Dengan multi-signifikansinya, ruas jalan ini mengalami berbagai perubahan karakter dan memerlukan strategi konservasi serta peninjauan kembali signifikansi tampak ruang jalan. Studi dimulai dengan paparan singkat tentang signifikansi kawasan Simpanglima Bandung dalam konteks penggal pertama dalam pembangunan Grote Postweg. Data fisik berupa catatan sejarah dan dokumentasi peta jalan serta bangunan di kawasan Simpanglima Bandung selama rentang waktu 1808 sampai dengan 1942 akan menjadi obyek analisis selanjutnya. Kerangka analisis pada studi ini bersumber dari teori transformasi N.J. Habraken yang menempatkan ‘bentuk’ sebagai wujud keteraturan fisik. Tahap pertama analisis akan dilakukan terhadap data fisik Simpanglima Bandung untuk mensarikan elemen yang akan diamati perubahannya. Analisis kemudian dilanjutkan untuk merumuskan konfigurasi elemen tersebut beserta proses pertumbuhannya. Lebih mendalam lagi pada studi selanjutnya, rentang waktu dipilih untuk membatasi studi pada andil pemerintah kolonial Belanda sebagai agen transformasi dalam pembentukan morfologi simpang lima pada khususnya, dan kota Bandung secara umum dalam konteks kolonialisasi. Kata kunci: transformasi, morfologi, Simpanglima Bandung, keteraturan fisik ABSTRACT. This study is aimed to analyze the deformation of the road network and the formation of the space in Bandung. In particular, the study of this transformation will be driven on the object of the growth of the road network in the Simpanglima Bandung as one piece of Grote Postweg as well as the formation of space occurs as a result of roads construction growth and buildings on its streetscape. With multi-significance, this road undergone various changes in character and require conservation strategies as well as a review of the significance of visible road space. The study has been begun with a brief description of the significance of Simpanglima Bandung region in the context of the first cut-off in the construction Grote Postweg. Physical data such as historical records and documentation as well as the road map Simpanglima Bandung buildings in the area during the time range between 1808 to 1942 will become an object for further analysis. Framework of analysis in this study comes from the theory of transformation N.J. Habraken who put the shape as a form of physical regularity. The first stage of the analysis will be performed on the physical data Simpanglima Bandung to extract elements that will be observed. Analysis then proceeded to define the configuration of these elements along with the growth process. More deeply in subsequent studies, the time range has been chosen for the study limits the influence of the Dutch colonial government as an agent of transformation in the establishment of Simpanglima morphology in particular, and the city of Bandung in generally in the context of colonization. Keywords: transformation, morphology, Simpanglima Bandung, physical regularity
SPACE :IDENTIFICATIONS AND DEFINITIONS Case study on The Traditional Malay Dwellings of West Kalimantan Indonesia Zain, Zairin
Nalars Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. A house has function as a shelter for the occupants from directly physical influence of the environmental changes such as climate or weather. Each object of traditional Malay dwellings which taken as case study represent the type of traditional Malay dwellings in each city across West Kalimantan. According to the indentifications on the space, researcher have found the definitions of respective rooms within  The Traditional Malay Dwellings of West Kalimantan which is related to the religious belief of the Malays. The teaching of Islam is manifested in the design of house’s form and elements that support the space inside the dwellings. Keywords : traditional dwelling, space, identification, definitions ABSTRAK. Sebuah rumah memiliki fungsi sebagai pelindung bagi penghuninya dari pengaruh fisik secara langsung dari perubahan lingkungan seperti iklim atau cuaca. Setiap obyek dari hunian tradisional Melayu yang diambil sebagai studi kasus mewakili setiap tipe hunian tradisional Melayu pada setiap kota di Kalimantan Barat. Berdasarkan identifikasi ruang, peneliti menemukan definisi dari ruang tertentu dalam hunian tradisional Melayu di Kalimantan Barat yang dikaitkan dengan kepercayaan agama dari orang Melayu. Ajaran Islam diwujudkan dalam disain bentuk rumah dan elemen-elemen yang mendukung ruang di dalam hunian-hunian tersebut. Kaca kunci: hunian tradisional, ruang, identifikasi, definisi
SINKRETISME DALAM TATA RUANG MESJID WALI SONGO Ashadi, Ashadi
Nalars Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Dalam beberapa tahun terakhir, sinkretisme menjadi bahasan yang sangat penting dalam studi Islam Jawa karena keduanya telah menjadi bagian masyarakat Jawa yang tak terpisahkan sejak Islam memasuki pulau Jawa.Salah satu bentuk sinkretisme itu adalah tata ruang mesjid WaliSongo. Dengan pendekatan budaya,  tulisan ini mencoba mengeksplorasi bentuk-bentuk dan latar belakang terjadinya sinkretisme dalam tata ruang mesjid WaliSongo terutama berkaitan dengan tipologi ruang, orientasi ruang, dan tata letak masa bangunan mesjid.  KATA KUNCI : Sinkretisme, Orientasi Ruang, Tata Ruang, Hindu-Budha Jawa, Islam Jawa. ABSTRACT. In recent years, syncretism becomes very important topics in the study of Javanese Islam because they have become part and inseparable of Javanese society since Islam entered the island of Java. One form of syncretism is a lay out of WaliSongo’s mosque. By using a cultural approach, this paper tries to explore the forms and background how a syncretism had been formed in a layout of WaliSongo’s mosque, particularly related to typologies of space, room orientation, and layout of mosque building’s mass. KEYWORDS: syncretism, room orientation, room layout, Javanese Hindu-Buddhist, Javanese Islam
DESAIN INTERIOR PERSINGGAHAN TRANSPORTASI PUBLIK SEBAGAI ALAT REKOGNISI TEMPAT (PENGAMATAN STASIUN MASS RAPID TRANSIT DI SINGAPURA) Aqli, Wafirul
Nalars Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK.Persinggahan transportasi publik seperti halte bus, terminal, dermaga, pelabuhan laut maupun udara memiliki fitur yang dapat membantu pengguna atau penumpang moda transportasi tersebut untuk bernavigasi menentukan rute perjalanan sekaligus mencari jalan ke tempat tujuannya. Fitur tersebut adalah penanda tertulis atau grafis berupa signage yang informatif bagi pengguna/penumpang. Yang menjadi permasalahan adalah apabila signage yang tersedia tidak dapat direspon oleh pengguna moda transportasi karena memiliki keterbatasan fungsi indera. Lingkungan yang paling dekat dengan pengguna ketika tidak dapat membaca signage yang ada adalah dengan melihat bentukan desain interior persinggahan yang ada. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengamati bagaimana desain interior dalam studi kasus stasiun transportasi massal di Singapura, SMRT dapat menjadi penanda kawasan yang dapat dibaca sebagai alternatif selain signage yang ada. Hasil dari pengamatan tersebut dirumuskan ke dalam ciri-ciri utama yang dapat dikembangkan konsepnya menjadi instrumen pananda kawasan selain hanya sekedar pemanis ruang dalam. Kata Kunci: Penanda, Desain Interior, Stasiun MRT. ABSTRACT. Transit facilities in public transport services such as bus stop, bus terminal, boat pier and port, or airport have feature that can help the users to navigate their journey. That feature formed as a written signage or illustrated graphically which informative to the users. This signage feature become not functioning when if the users cannot respond the notification appear on the signage caused by their sensory disability. The closest element in the built environment which can directly scanned by disabled users are the interior surround them. observed in this article about how the design in some sample stations from Singapore Mass Rapid Transit system, can become an alternate signage-function. This observation result is in form of definitive characteristic of the interior design, which can developed as a signage design concept. Key words: Signage, Interior Design, MRT Station.
Maksud dan Makna Feng Shui Bangunan Terhadap Keadaan Lingkungan Menurut Pandangan Teori Arsitektur Ramsyah, Irwin
Nalars Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Feng shui adalah sebuah seni Tao dan keserasian ilmu hidup dengan lingkungan bagi kalangan masyarakat Cina. Ilmu Feng shui sudah ada sejak zaman 2200 sebelum Masehi yang diciptakan pertama kalinya oleh  Kaisar Cina bernama Fu Hsi.Dalam perkembangan kehidupan bangsa china, banyak mengalami perubahan perubahan yang datangnya dari pergantian dinasti, mencakup berbagai hal seperti perubahan politik dan kebijakan, membuat sejarah Feng Shui mengalami pasang surut. Akibatnya banyak ajaran ajaran feng shui telah hilang dan mengalami perubahan dan tidak lagi sesuai aslinya. Di sisi lainnya Feng shui yang di susun oleh Ahlinya di china pada dasarnya di susun menurut pengamatan ahli feng shui yang disesuaikan dengan keadaan  iklim atau keadaan alam di china itu sendiri. Namun Perkembangan zaman, rupanya feng shui juga di pakai oleh banyak kalangan di seluruh dunia,bukan hanya di china saja yang sudah barang tentu harus di susun kembali berdasarkan daerah setempat Perubahan alam yang berbeda sagat memperngaruhi juga prinsip prinsip ajaran feng shui Sehingga ajaran feng shui ini mengalami banyak pergeseran dari hakekat aslinya,dari ilmu seni mengatur hubungan manusia dengan alam hingga bergser menjadi sebuah keyakinan yang terkadang keliru cara memandangnya. Dalam tulisan ini disajikan beberapa pandangan cara melihat feng shui itu sendiri menurut kaca mata arsitektur untuk mencari makna dari sebagian kecil ajaran feng shui, bahwa sebenarnya feng shui itu mengajarkan tentang keseimbangan ruang antara pemakai dengan lingkungannya.Kata Kunci: Feng Shui, bangunan, lingkungan, arsitekturABSTRACT. Feng Shui is a Tao art and a harmony between life and environment for China community. Feng Shui has been delivered since 2200 BC which had been created firstly by China Emperor called Fu Hsi. By the development of China community, there are many changes from one dynasty to other, particularly in politic change and regulation. These changes had affected the history of Feng Shui, and shown that many matter of Feng Shui have been disappeared and changes from the original one. On the other hand, Feng Shui which has been formed by expertise in China, basically according to climate condition in China. Although, Feng Shui has been used by many parties within world, not only in China. This phenomena has shown that Feng Shui which has been delivered all over the world has been formed as well according to local climate condition. These changes have affected that there are many original principles within Feng Shui have been transformed. From an art to organize a relationship between human and nature, then have been transformed to a believe which sometime there are many mistakes if people have a wrong perspective. This paper will explore some perspectives how to see Feng Shui in architecture to define that the original Feng Shui is delivering a space harmony between human and environment.  Keywords: Feng Shui, building, environment, architecture  
JEJAK KEBERADAAN RUMAH TRADISIONAL KUDUS : SEBUAH KAJIAN ANTROPOLOGI – ARSITEKTUR DAN SEJARAH Ashadi, Ashadi
Nalars Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bentuk rumah beratap joglo pencu, bisa jadi meniru gaya bangunan joglo pendapa dan mungkin bangunan rumah beratap joglo milik para penguasa pribumi, bupati dan para pembantunya yang terlebih dulu ada. Dengan menampilkan bangunan monumental berupa pendapa dan rumah-rumah “bangsawan” yang pada umumnya beratap joglo telah menjadikan kelompok orang-orang ini mempunyai kedudukan istimewa dimata masyarakat.  Rumah-rumah tinggal tradisional pada periode pertama, disamping sebagai generasi awal yang mungkin lebih banyak dibangun oleh orang-orang yang punya hubungan dengan para penguasa pribumi, juga dilain pihak telah menciptakan persaingan prestise bagi rumah-rumah tinggal tradisional yang muncul kemudian yang dibangun oleh para saudagar Muslim yang anggota keluarganya mungkin telah menjadi ulama-ulama muda modernis dan bagi mereka yang telah berhasil dalam sektor ekonominya. Adanya dinding tembok tinggi yang mengelilingi rumah mungkin merupakan salah satu cara pembeda antara kelompok Islam modernis di satu pihak dengan kelompok Islam penguasa dan Islam non modernis, serta kelompok yang melulu business oriented di pihak lain. Kelompok yang disebut terakhir mungkin bisa dilihat dari ekspresi rumahnya yang memiliki gebyok lengkung. Kata Kunci : rumah tradisional, kemakmuran, ukiran  ABSTRACT. House with ’joglo pencu’ roof, has been determined as an adopted style from ’joglo pendapa’ style or ’joglo’ houses which belong to local government (bupati and their ’abdi dalem’). The style is presenting monumental building such as ’pendapa’ as well as ’bangsawan’-nobleman houses which usually have a ’joglo’ roof style. This style has shown a group of people who have power, high and special level within community. Traditional houses within first period, has been regarded as building which have special prestige for people who lived within it. Furthermore, traditional houses have been built by moeslem businessman who become modern young ’ulama’ and succeed economically. High wall which surrounded houses, has been determined as a gap between modern islamic group and non modern islamic group as well as with business oriented group on the other part. The last group could be seen from house’s expression which has ’gebyok lengkung’ as a focal point of their house. Keywords: traditional house, prosperity, engraving.

Page 5 of 35 | Total Record : 349


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue