cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
FENOMENA BENTUK DAN WUJUD ARSITEKTURAL: Antara Materialitas, Representasi dan Muatan Kehidupan Keseharian dari Permukiman Kampung Perkotaan Harjoko, Triatno Yudo
Nalars Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pengetahuan arsitektur yang bukan fisik (kultur material), yakni artefak lingkung bangun dan keteknikannya, banyak dijelaskan melalui ide metafisik (non-material culture) hasil reka-pikir yang tidak terkait langsung dengan obyek fisik yang diamati. Ide metafisik arsitektural tidak dapat diklaim sebagai pengetahuan yang tetap. Kampung sebagai topik diskusi dalam tulisan ini akan dibahas bukan dari aspek fisik, seperti teknologi, tipologi, yang seringkali dipahami sebagai ide yang tetap dan tergeneralisasi, tetapi sebagai fenomena kehadiran bermukim sekelompok masyarakat perkotaan. Tropotopia sebagai sebuah ide untuk membahas kampung perkotaan suatu ‘ada’ akan mengungkap ‘apa’ dan ‘keapaan’nya. Ide ini juga dimaksud sebagai penjelasan tandingan dari ide kampung yang ada secara umum. Kata kunci: Kampung perkotaan, Bentuk, Wujud, dan Tropotopia ABSTRACT. Architecture as knowledge can be conceived as material or non-material culture. Analysis on non-material culture is basically a metaphysic; it cannot be claimed as fixed knowledge. Kampung can be discussed in this sense, as a non-material culture. Its does not concern technology (techne) or even typology, but as an existence or ‘being in the world’ – a phenomenon of human settlement di urban settings. Tropotopia as a metaphysical idea is bring forward to analyze urban kampung conceived as a being. It will discuss urban kampung to uncover ‘what’ and ‘whatness’ of it. This analyisis is also to put forward a rival paradigm against what is traditionally or generally accepted in architectural discourse. Keywords: urban kampung, form,appearance,tropotopia
KONSEP ARSITEKTUR BALI APLIKASINYA PADA BANGUNAN PURI Budihardjo, Rachmat
Nalars Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Arsitektur Bali yang kita kenal sampai dengan saat kini adalah merupakan arsitektur vernakuler yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya dalam perkembangan kepariwisataan di Bali. Salah satu dampak kepariwisataan adalah terjadinya perubahan status sosial yang lebih baik pada sebagian masyarakat (termasuk keluarga Puri) dan berakibat pada perubahan setting tata ruang dan tata bangunan (arsitektural) sesuai dengan tingkat perkembangan kebutuhan untuk masa kini dan masa yang akan datang. Puri yang pada masa lampau merupakan pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat di sekitarnya juga sekaligus menjadi tempat tinggal raja beserta keluarganya eksistensinya sampai dengan saat kini masih ada termasuk komposisi masyarakat Bali yang dibedakan menurut kasta masih juga bertahan ditengah-tengah perubahan jaman. Studi mengenai Puri yang ditelusuri sejak awal (masa lampau), saat sekarang dan upaya menjaga eksistensinya untuk masa yang akan datang tentunya akan menjadi topik yang urgen dan menarik bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya terkait dengan bidang sosial, budaya dan arsitektur Kata Kunci: Arsitektur Bali, Bangunan Puri ABSTRACT. Balinese architecture that we know nowadays is a vernacular architecture that grows and develops in the middle of the society in the development of tourism in Bali. One of the impacts of tourism is the change of social status to be better one on some part of community (including family of Puri). This change will affect to the changes of setting layout and building layout (architectural) referring to the development needs for the present and the future. Puri which in the past was the center of government and community activities in the surrounding area and also become a place for the royal family, their existence still remain the same, including the composition of the people of Bali which are differentiated by caste still survive in the middle of changing times. A study of Puri has been traced from the beginning (of the past), the present and the efforts to maintain its existence for the foreseeable future will certainly be an urgent topic and interesting for the development of science, particularly in relation to social,cultural and architectural. Keywords: Balinese Architecture, Building of Puri
ANALISIS KONSEP DESAIN HYBRID PADA MASJID AGUNG JAWA TENGAH (TINJAUAN ASPEK RUANG DAN BENTUK ) Ikhwanuddin, Ikhwanuddin
Nalars Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Desain arsitektur perlu memperhatikan sejarah dan budaya lokal, agar karya-karya arsitektur tidak asing berada di tempatnya dan sekaligus tetap memiliki karakternya yang unik. Salah satu cara untuk mendesain karya-karya berkarakter lokal dan unik adalah dengan menggunakan konsep desain Hybrid. Gagasan pokok konsep desain  Hybrid adalah mencampur atau  menggabungkan dua hal (referensi arsitektur) yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, konsep desain ini sangat menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek penelitian adalah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Lokasi obyek penelitian berada di kota Semarang, Jawa Tengah. Teknik pengambilan data primer dengan survei (observasi dan dokumentasi). Data sekunder berupa gambar perencanaan. Teknik analisis data dengan analisis grafis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hybrid diterapkan pada desain MAJT, baik pada aspek bentuk maupun ruang.Pada aspek bentuk berupa mixing atau percampuran antara bentuk-bentuk elemen arsitektur masjid  Timur Tengah dan arsitektur tradisonal Jawa.mixing elemen arsitektur ini terdapat pada: a) atap masjid, b) interior ruang utama sholat,dan c) elemen penting lainnya, seperti: plafond mezanin, kolom-kolom  dan menara masjid.  Sedangkan pada aspek ruang, diterapkan konsep desain: a) dominasi organisasi ruang masjid tradisional Jawa pada ruang sholat utama, b) ambiguity pada serambi masjid, dan c) displacing beberapa elemen penting masjid.  Kata Kunci: mixing, ambiguity, displacing  ABSTRACT. The architectural design needs to consider the local history and culture, thus architectural masterpieces will not become out of place within their location and will have unique character. How to design masterpieces which have local and unique character is by using Hybrid design concept. Hybrid design concept main idea is to mix or combine the two things (reference architecture), which is different to produce something new. Therefore, this design concept is very interesting to study. The paradigm of research is rationalism. A research using a grand concept. The case of research is Central Java Province Great Mosque (CJP-GM). The location of object lay on street of Gajahmada in Semarang City, capitol of central Java Province. The data is qualitative one and the method of collecting data is survey. The data have been analyzed using graphical method. The results of research show that hybrid design concept is used in formal aspect and space one of researched object. In formal aspect is used mixing method between arabic mosque (ottoman type) and javanese traditional mosque. The method was used in several ways: a) on the roof. It is used the principal of equivalent-mixing by wrapping and simplicity technique to form roof of CJP-GM, b) in interior of haram. it  used the principal of dominant-mixing to create the haram interior. The affect of javanese traditional mosque is strong enough in creating interior sense than arabic mosque, c) ambiguity principal is used in creating the form of Serambi of CJP-GM by cutting the Shan form. For the space aspect, it used some  methods: a) organisational space. The organisational space of Javanese traditional mosque is used as the rule to organize the space of CJP-GM, but the one space, called serambi (front porch), is modified in touch of an arabic mosque space, b) serambi of mosque. The space of Serambi is formed using ambiguity methods. The technique of placing-displacing is treated between serambi and shan, and the merging technique is treated berween shan and pelataran, c) the wudlu place and bedug. Both of them  are important elements in javanese traditional  mosque. Both element are treated with displacing technique. By this technique, both elements are placed differently from javanese traditional mosque. Keywords: mixing, ambiguity, displacing
ADAPTASI PENGHUNI TERHADAP KONDISI TERMAL (Studi Kasus Penghuni dan Rumoh Aceh Modern) Sawab, Husnus
Nalars Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Rumah Tradisional yang beragam merupakan kekayaan bangsa.  Salah satu kekayaan tersebut adalah rumah tradisional Aceh (rumoh Aceh).  Banyak hal yang dapat dipelajari, salah satu dari sekian banyak hal tersebut adalah masalah kondisi termal.  Oleh karena itu pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui kondisi termal hunian yang nantinya akan jadi masukan yang sangat berharga pada perencanaan bangunan pada iklim tropis lembab.Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif.  Pengambilan data penghuni dilakukan dengan wawancara ataupun penyebaran kuesioner. Sedangkan pengamatan terhadap bangunan dilakukan dengan mengukur kondisi termal indoor dan outdoor bangunan tersebut.  Kata kunci:  rumah tradisional, kondisi termal ABSTRACT. A variety traditional house is a country wealth. One of this wealth is traditional house in Aceh (Rumoh Aceh). There are many things that could be learnt from this traditional house, such as thermal condition within the house. This research will explore thermal condition within traditional house that will become an input an solution for building plan in humid  tropical climate.  This research will use quantitative method by collecting data from building user with interviews and questionaire distribution. On the other hand, to explore the builring by measuring thermal condition either indoor or outdoor.Keywords: traditional house, thermal condition
FUNGSI DAN PERAN JALUR PEDESTRIAN BAGI PEJALAN KAKI Sebuah Studi Banding Terhadap Fungsi Pedestrian Mauliani, Lily
Nalars Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Jalur pedestrian pada sebuah kota adalah bagian yang sangat penting, baik sebagai kelengkapan (amenity) kota maupun sebagai tempat orang berjalan kaki dengan aman dan nyaman. Namun untuk kota Jakarta, dan mungkin juga kota-kota lainnya di Indonesia, pedestrian seringkali mengalami perubahan fungsi tidak hanya sekedar sebagai jalur pejalan kaki namun juga bisa menjadi jalur kendaraan bermotor, area berjualan para pedagang kaki lima yang bersifat mobile, tetapi bisa juga menjadi “ruko” alias rumah toko. Permasalahannya adalah bagaimana nasib para pejalan kaki, dimana mereka dapat berjalan kaki dengan aman, tanpa takut tertabrak pengendara sepeda motor, tersenggol bajay, mikrolet atau mobil pribadi? Pembahasan tentang pedestrian ini dilakukan dengan cara mengamati dan membandingkan antara pedestrian yang ada di Jakarta dan di Singapura, dilihat dari segi fungsi dan penataannya. Kata kunci : pedestrian, fungsi, pejalan kaki ABSTRACT. Pedestrian path within the city has been regarded as an important element, either as a city amenity which contribute an aesthetic of city space or as a space for people or pedestrian to walk safely and comfort. Jakarta as one of a big city in Indonesia, has many pedestrian paths within it, but there are many pedestrian paths which have been changed in function. The pedestrian paths are not as a space for people to walk but have been accommodated as motorcycle lines as well as mobile shop or shop-house which has been known as RUKO or rumah toko. The main problem is how people could walk safely and comfort. This discussion of pedestrian paths will be explored in this paper by comparing the function and the design as well as the plan of pedestrian paths in Jakarta and Singapore. Keywords : pedestrian path, function, pedestrian.
KAJIAN KONSERVASI KAWASAN BANTARAN SUNGAI STUDI KASUS: BOAT QUAY SINGAPURA DAN SUNGAI CILIWUNG JAKARTA Mauliani, Lily; Nurhidayah, Nurhidayah; Masruroh, Fika
Nalars Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kepedulian akan kondisi kawasan bantaran Sungai Ciliwung di Jakarta yang sebenarnya memiliki potensi yang tinggi yang dapat dilestarikan seperti layaknya kawasan Boat Quay di Singapura. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang konsep konservasi dan juga aplikasinya pada kawasan bantaran sungai khususnya pada kawasan Boat Quay yang dinilai sangat berhasil dan mengkaitkannya dengan kondisi kawasan bantaran sungai Ciliwung Jakarta. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif komparatif antara dua lokasi yang berbeda namun memiliki karakteristik yang hampir sama yaitu area bantaran sungai. Kata kunci: konservasi, kawasan, bantaran sungai ABSTRACT. This research has been encouraged by an awareness of the condition of banks of Ciliwung river in Jakarta. This area has been examined as a highly potential area which could be conserved as succeeded as conservation area in Boat Quay Singapore. This study is aimed to review the concept of conservation as well as the application within banks of the river particularly in Boat Quat which has been regarded as a success conservation area in Singapore. Moreover, the result will be associated with the condition of banks of Ciliwung river in Jakarta. The method of the research will conduct descriptive comparative method between two different location of case studies which have similar characterisctic. Both case studies are area of banks of the river.           Keywords: conservation, area, banks of the river
TIPOLOGI PROSES MERUMAH DAN MAKNA RUMAH DI ATAS TANAH GARAPAN Studi kasus Permukiman di Kapuk Muara Wahyuni, Agustina Eka
Nalars Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kapuk Muara adalah daerah permukiman di tepi Muara Angke yang telah ada sejak 50 tahun yang lalu. Permukiman di tepi Muara Angke yang berstatus tanah pemerintah. Pemerintah daerah menyebutnya dengan tanah garapan. Beberapa rumah mereka adalah rumah-rumah komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe proses merumah di Kapuk Muara dan melihat makna rumah. Untuk mencapat tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian naturalistik dengan metode deskriptif-kualitatif. Kesimpulan dari penelitian status tanah garapan berbeda antara penggarap dengan pendatang, dan sangat dipengaruhi proses merumaah. Proses tersebut terjadi sebagai respon dari situasi yang terjadi. Bagi pendatang, selain rumah masih bernilai ekonomis status tanah dan situasi lingkungan bukan masalah yang penting. Bagi penggarap proses merumah di Kapuk Muara akan terus berjalan karena mereka mempunyai hubungan dengan tanah yang mereka kerjakan atau mereka buka. Maka itulah tujuan mereka untuk memperbaiki kondisi rumah. Kata kunci : rumah, proses merumah, tanah garapan, makna ABSTRACT. Kapuk Muara is a settlement area of town residing in edge Muara Angke and has been more than 50 years. Settlement by the side of Muara Angke lies on goverment land status. Local resident conceive this as tanah garapan. Many of their houses are commercial house. This research aims to know types of housing process in Kapuk Muara and look for the meaning of house. To reach this target hence approach of this research to be used is naturalistic with method of qualitative-descriptive. Conclusion of this research of tanah garapan status comprehended to differ between penggarap aand arrival, and very influencing to housing process. The process expands as a response to situation that happened. For arrival, during house still valuable economically hence land status and situation of environment is not an importaant matter. For penggarap, housing process in Kapuk Muara will be still going on because they have strong relationship with land which they worked on or open, so that all their efforts are for improvement of house condition Keywords : house, housing process, tanah garapan, meaning
DAKWAH WALI SONGO PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN PERUBAHAN BENTUK ARSITEKTUR MESJID DI JAWA (STUDI KASUS : MESJID AGUNG DEMAK) Ashadi, Ashadi
Nalars Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Perkembangan Islam awal di Jawa tidak terlepas dari dakwah Wali Songo dengan menggunakan pendekatan kompromis terhadap kebudayaan lama, sehingga terjadilah sinkretisme antara ajaran Islam dengan kepercayaan Animisme, Hindu dan Budha. Mesjid sebagai sarana dakwah Wali Songo kemudian menjadi penting bagi dunia penelitian karena perubahan-perubahan yang terjadi padanya selama beberapa abad sejak didirikan pada zaman Wali Songo hingga sekarang ini. Salah satu aspeknya adalah perkembangan perubahan bentuk arsitektur mesjid Wali Songo, yang bisa diketahui sejauh mana dakwah Wali Songo mempengaruhi perkembangan itu.            KATA KUNCI : Dakwah Wali Songo, Sinkretisme, Perubahan Bentuk Arsitektur ABSTRACT. Initial Islamic development in Java cannot be separated from Wali Songo’s missionary by using compromise approach to old culture. This condition will affect the appearance of cyncretism between Islam and animism, Hindu and Budhist. Mosque as a facility for walisongo’s missionary become something significant for research because the changes had been happened to the mosque for centuries since had been built at walisongo’s period untill recently. One of the aspect is the development of architectural form changing of walisongo’s mosque which had been known how far walisongo’s missionary will affect the development. Keywords : walisongo’s missionary, sincretism, architectural form changing.
ANATOMI BUBUNGAN TINGGI SEBAGAI RUMAH TRADISIONAL UTAMA DALAM KELOMPOK RUMAH BANJAR Aqli, Wafirul
Nalars Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Rumah Bubungan Tinggi merupakan Rumah adat suku Banjar, Kalimantan Selatan yang menempati strata paling tinggi dari kelompok Rumah Banjar yang berjumlah 11 jenis. Dengan fungsinya sebagai rumah raja atau sultan yang berkuasa dan merupakan jenis rumah Banjar tertua di antara rumah-rumah lainnya menjadikan jenis Bubungan Tinggi ini sebagai wajah dari arsitektur tradisional Kalimantan Selatan. Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi rumah Bubungan Tinggi menjadikan rumah tradisional ini sebagai ekspresi keberagaman latar belakang kepercayaan serta tanggapan terhadap potensi lokal dalam hal kekayaan hasil alam seperti kayu-kayuan. Dalam tulisan ini diuraikan secara anatomis bagaimana wujud rumah Bubungan Tinggi dan diharapkan dapat terurai lebih lanjut kajian-kajian yang lebih dalam menjelaskan konteks filosofi, fungsi dan lainnya yang berkaitan dengan metode desain arsitektural. Kata Kunci: Rumah Banjar, Bubungan Tinggi ABSTRACT. Bubungan Tinggi is one of 11 types in Banjar’s (South Kalimantan) Traditional Houses group, which occupies the highest strata within the group. With its function as the home of the ruling king or sultan, and the oldest type among other type of house, makes this Bubungan Tinggi as the main character/ typical image of traditional architecture in South Kalimantan. The values embodied in the philosophy of the house makes this traditional house as an expression of the diversity of beliefs background and responses to the local potential in terms of natural resources such as various woods. In this paper the Bubungan Tinggi house described anatomically and expected to be developed in further studies to explaining the context of philosophy, specific explanations about functions and other discussions related to architectural design methods. Key words: House of Banjar, Bubungan Tinggi
EKSPLORASI DENAH RUMAH TINGGAL DI LAHAN MAGERSARI Azizah, Ronim
Nalars Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Dengan semakin tingginya harga lahan di perkotaan serta tingkat pendapatan penduduk yang berbeda-beda maka membangun rumah dengan cara magersari menjadi sebuah pilihan. Rumah magersari menggunakan lahan secara bersama oleh keluarga ataupun orang lain dimana lahan terbagi menjadi beberapa petak untuk dibangun beberapa rumah tinggal. Rumah magersari juga memiliki fasilitas umum yang digunakan secara komunal berupa MCK (mandi, cuci, kakus), infrastruktur dan akses jalan. Kondisi ini menjadi lebih efektif jika dibandingkan dengan membeli lahan baru dengan harga yang sangat tinggi. Pengembangan atau perubahan desain rumah mungkin saja terjadi sehingga perlu digali sejauhmana pengembangan desain rumah tinggal yang dibangun pada lahan magersari dengan mempertimbangkan keberadaan fasilitas komunal. Pencarian data menggunakan metode survei dan pembahasan dilakukan dengan studi pustaka yaitu: (1) sumber-sumber dari dokumen tekstual; (2) sumber-sumber dari dokumen gambar; dan (3) sumber-sumber dari dokumen artefaknya. Pada akhir pembahasan, menghasilkan simpulan yang menjelaskan bahwa tata ruang desain rumah magersari mampu mengintegrasikan zona ruang-ruang privat (rumah inti) dan zona ruang publik (fasilitas komunal).  Kata kunci: rumah, magersari, pengembangan rumah ABSTRAK. Recently, to build a house by using "magersari" method has became an appropriate choice because of the economic condition of the community and refer to the high price of the land. Magersari house is a method by using the land together within family or other people. The method is by dividing the land into some blocks of land which will contain a small house for each block. This magersari house will provide public facilities which will be used communally such as MCK (Mandi, Cuci, Kakus), infrastructure and access for pedestrians and vehicles. This condition become effectively if compare by buying new land with high price. The development and transformation of the house design could be happened, thus it will be a necessary to explore how extend to which the development will continue within magersari house by considering the existence of communal facilities. Collecting data will be conducted by survey method and the analysis will be completed by exploring literature study: (1) textual document sources; (2) figure document sources; (3) artefact document sources. For final discussion, it will be concluded by explaining about how extend to which the layout of the magersari house design could integrate all private space zones (main space) and public space zones (communal facilities) within magersari house. Keywords: house, magersari, house development

Page 7 of 35 | Total Record : 349


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue