Visual Art
The Visual Art section of ITB Undergraduate Journal of Visual Art and Design welcomes orginal articles exploring creative works and/or research in the area of visual art both practice and theory. It focuses, but not limited to, any creative ideas and pratical knowledge as results from exploring forms, materials and techniques in painting, sculpturing, print-making, ceramic-making, and/or intermedia art-work; as well as developing critical thoughts that suit as art-curation and critique.
Articles
43 Documents
Search results for
, issue
" Vol 2, No 1 (2013)"
:
43 Documents
clear
BEBAS X KEBEBASAN
Fachamy, Junizar;
Kusmara, Rikrik
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Kecenderungan untuk meraih kebebasan merupakan hakikat dasar setiap manusia. Sejak dilahirkan ke dunia, setiap manusia telah memiliki hak untuk hidup dan bebas melakukan hal yang diinginkan. Kebebasan merupakan hak yang dimiliki oleh tiap individu tanpa kecuali dan tidak bisa direnggut oleh siapapun.Penulis menyadari ada hal yang menarik mengenai pemahaman dan implementasi makna kebebasan di antara manusia. Adanya benturan yang membuat pihak lain merepresi keinginannya membuat makna kebebasan menjadi hal yang bertolak belakang. Konsepsi bebas dalam suatu kebebasan menimbulkan pertanyaan yang muncul dalam benak penulis. Hal tersebut membuat penulis memutuskan untuk melakukan pencarian kembali mengenai makna kebebasan bagi dirinya. Penulis berangkat dari makna kebebasan secara umum yang pada prosesnya direfleksikan menjadi suatu karya Tugas Akhir yang lebih personal. Pemahaman penulis diwujudkan secara metaforis dalam rangkaian metamorfosa karya patung mengenai kebebasan
TANPA TEMBOK
Wirapraja, Anatasof;
Sanjaya, Tisna
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Kegiatan berpameran merupakan suatu bentuk kegiatan untuk memediasikan karya seni kepada publik untuk memunculkan gagasan seniman melalui karyanya kepada publik. Karya seni merupakan visualisasi gagasan seniman yang merespon permasalahan yang dirasakan, yang juga memiliki kedekatan kepada publik. Karya seni sendiri melalui gagasan seniman memiliki lapisan-lapisan serta makna yang dalam untuk kemudian dapat diapresiasi dan menginspirasi.Dewasa ini praktik seni rupa telah menjadi sesuatu yang berjarak dari kehidupan publik di luar medan sosial seni. Praktik seni rupa seolah memiliki ruang-ruang bersekat yang harus dilalui satu per satu dalam jenjang kesenimanannya, juga bagi publik diluar medan sosial seni yang tidak memiliki frekuensi yang sama dalam mengapresiasi karya seni.Menempuh pendidikan di institusi seni rupa, penulis ingin melepaskan perasaan gundah tersebut melalui karya seni. Karya yang dibuat ini merupakan sebuah proses yang berfungsi sebagai simulasi mediasi seni secara digital yang kembali mengemukakan akan keadaan renggang yang terjadi antar praktik seni dengan publik diluar medan sosial seni ini.
GELISAH DALAM KOSONG
Octavianingrum R.P, Nurfitrianah;
Sudrajat, Dadang
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Sebuah karya adalah buah hasil dari pencapaian kesadaran untuk apa terjun dalam dunia seni yang dijalani dalam institusi. Ketika kesadaran itu muncul maka terciptalah ilham-ilham yang membentuk konsep dalam berkarya dan ide-ide yang keluar dari pikiran dan hati. Sebuah wadah yang memberikan kebebasan berfikir dan berkarya bukan berartitanpa kesadaran atau pembenaran seperti fiktif. Saya berkarya dengan gaya ekspresionis karena kesadaran atas sebuah bidang kosong yang memberikan kebebasan tampa batasan media untuk berkarya menuangkan kegelisahan. Dan terinspirasi dari perjalanan hidup yang selama ini saya jalani. Ekspresi dapat menimbulkan pro dan kontra dalam ruang seni karena sebuah karya seni itu relatif. Namun saya tidak peduli atas kerelatifan sebuah karya seni, karena saya dapat mempertanggung jawabkannya dan melampiaskan apa yang saya rasakan atas dasar kejujuran dari pancaindera dan hati. Gejolak dalam kejiwaan diberi media yang sangat tepat oleh dunia seni. Tidak peduli lagi akan media yang dipakai atau pun seni tinggi dan rendah. Tapi esensi dari sebuah karya seni yang ditampilkan.
HOMAGE TO A FATHERHOOD
Bezharie, Agung;
Hujatnika, Agung
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Sosok seorang ayah merupakan salah satu model yang keberadaannya penting untuk setiap individu, sosok ayah mengajarkan tentang law, order, kegiatan fisik dan memberikan pengertian tentang pekerjaan dan posisi seorang individu di dalam masyarakat. Hilangnya sosok ayah memberikan dampak hilangnya sebuah model yang memberikan banyak pelajaran terutama tentang maskulinitas. Penulis membuat karya ini sebagai bentuk usaha pencapaia kedewasaan ditengah permasalahan diatas, dan melalui karya ini seniman berusaha menciptakan definisi sosok ayah yang selama ini penulis raba-raba dan pelajari dari luar tubuh ayah penulis yang absen. Karya ini juga memberikan sebuah pernyataan akan keadaan zaman dan bagaimana media-media digital memberi pengaruh yang besar pada generasi penulis.
KAJIAN KARYA SENI PERFORMANS MELATI SURYODARMO
Pradipta, Btari Widya;
Damajanti, Irma
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Melihat perkembangan dunia seni kontemporer, penggunaan media dalam seni rupa tidak lagi berkisar pada media tradisional belaka. Seni performans sebagai salah satu jenis dari seni intermedia merupakan salah satu medium yang banyak digunakan seniman Indonesia saat ini, namun masih jarang dikaji secara keilmuan. Penelitian ini difokuskan pada representasi visual dan nilai estetik Melati Suryodarmo, seniman performans Indonesia yang aktif berkarya di Indonesia, Eropa, dan Amerika, dengan memperhatikan kajian tubuh berdasarkan teori Michel Foucault. Karya performans Melati dapat dikategorikan menjadi tema sosial, cinta, budaya, pribadi, psikologis, medan seni, dan spiritual. Representasi visual karya performans Iâm a Ghost in My Own House yang diambil sebagai sampel adalah sebagai perlambang kegelisahan Melati akan keberadaannya yang dirasa terasing dari lingkungannya, sementara nilai estetik yang dicapai adalah intensitas karyanya yang mampu meraih hati publik, baik penikmat seni maupun kaum awam.
SCHIZOPHRENIA PARANOID
Ramadana, Kemal Adhi;
Sanjaya, Tisna
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Gangguan kejiwaan merupakan salah satu penyakit yang masih mendapat tanggapan negatif dari mayoritas masyarakat di Indonesia. Salah satu penyakit yang tergolong dalam gangguan kejiwaan adalah schizophrenia. Skizofrenia atau Schizophrenia merupakan penyakit mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan respon emosional yang buruk. Kondisi tersebut sering bermanifestasi sebagai halusinasi pendengaran, delusi paranoid atau hambatan berpikir yang disertai disfungsi social Dalam karya tugas akhir ini, permasalahan yang akan penulis angkat adalah berupa pemaparan dan pengalaman yang berkaitan dengan Schizophrenia. Penulis mencoba merangkum pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan pembuatan karya tugas akhir ini. Mengapa schizophrenia menjadi sebuah momok dalam masyarakat? Bagaimana memvisualkan masalah memori ini ke dalam sebuah karya seni, dalam cakupan yang lebih khusus, ke dalam tugas akhir ini?Dalam Pembahasan dan pengerjaannya, tugas akhir ini dibatasi pada type schizophrenia itu sendiri yaitu schizophrenia paranoid yang merupakan inti dari karya ini dan juga batasan untuk teknik yg akan digunakan, yaitu drawing. Dalam karya Tugas Akhir ini penulis ingin menggambarkan rasa ketertekanan dan frustasi ketika harus mengurus seseorang dengan Schizophrenia Paranoid. Fungsi karya Tugas Akhir ini dapat diposisikan sebagai katarsis bagi penulis.
UNTITLED
Dwityosunu, Nurachman Andika;
Sudrajat, Dadang
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Dalam melihat sebuah karya seni, penulis lebih memilih untuk berapati pada wilayah pemaknaan narasi dari sebuah karya; seperti filosofi atau ideologi tertentu yang diusung. Apa yang menjadi perhatian bagi penulis dalam membaca sebuah karya --dalam hal ini dikhususkan kepada seni lukis-- adalah apa yang telah dan/atau sedang terjadi di atas bidang kanvas. Bagaimana material yang telah diracik menampakkan wujudnya di atas kanvas, bagaimana teknik yang diaplikasikan untuk mewujudkan bentuk tertentu, bagaimana komposisi bentuk, tekstur, dan warna dari karya itu, bagaimana ketidaksengajaan dan kesengajaan yang terjadi selama proses penciptaan saling âberinteraksiâ, dan bagaimana ârasaâ yang disadari saat berempati pada karya itu, baik saat proses pengerjaan serta saat setelah karya itu selesai. Hal ini yang nantinya akan dikaitkan kepada ekspresi estetik dalam menciptakan dan menikmati karya seni.Penulis menciptakan karya murni untuk kesenangan penulis dalam mencermati elemen-elemen yang dibentuk sedemikian rupa di atas kanvas (tekstur, bentuk, warna) dan karya itu sendiri yang menjadi âkendaraanâ penulis dalam berkontemplasi.
âIN IGNEM AETERNUMâ
Martawinata, Nanda Pratama;
Sanjaya, Tisna
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Pada umumnya, manusia normal memilik otak yang berfungsi untuk berpikir, berimajinasi, menganalisa masalah, dan menghasilkan akal. Rasionalisme adalah kemampuan manusia untuk berpikir secara logika, sedangkan logika bukan merupakan sebuah logika apabila sifatnya tidak nyata. Manusia pantas disebut sebagai makhluk rasional, dikarenakan dalam beradaptasi maupun berkembang, rasionalisme berperan mutlak dalam prosesnya. Hagemoni agama adalah salah satu contoh dimana terdapat konsep ke-Tuhan-an yang bersifat agape atau korporasi-korporasi raksasa yang menjual produknya dengan mencari tujuan absolute profit.Berdasarkan pengamatan penulis, terdapat satu kesamaan yang jelas antara agama dengan korporasi raksasa, yaitu keduanya sama-sama mencari keuntungan melalui penarikkan massa secara komunal demi kepentingan masing-masing. Entah apa alasannya rasionalisme terasa kurang digunakan lagi perannya, padahal manusia sudah jelas adanya sebagai makhluk yang rasional.Berdasarkan pemikiran diatas, penulis berusaha membuat karya ilusi optik maupun formasi impossible yang bersifat satir dan mengkritik namun tidak vulgar menggunakan bahasa simbol. Penulis juga berharap bahwa karya ini dapat menjadi trigger untuk mengajak apresiator menganalisa suatu hal lebih jauh sebelum menerimanya begitu saja serta merangsang persepsi kritis terhadap suatu persoalan.
âIbuâ
Halim, Mahaputra
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Tugas akhir bertemakan âIbuâ merupakan penggambaran dan pengekspresian dari rasa rindu yang sangat mendalam pada sosok seorang ibu. Dimana kehadiran seorang ibu sudah lama hilang sehingga menimbulkan kekhawatiran dalam benak penulis yang sangat mengganggu. Karya dibuat dengan metode cetak sablon di atas kain sutera untuk menonjolkan keindahan warna emas di atas kain sutera yang berwarna hitam.
RECONCEIVE BRAGA
Pradipta, Eldwin;
Durahman, Deden Hendan
Visual Art Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Visual Art
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (0.168 KB)
Jalan Braga di Kota Bandung adalah salah satu objek wisata yang hampir setiap harinya ramai dilewati pengunjung. Salah satu hal yang menarik dari jalan ini adalah para pedagang lukisan yang setiap hari menjajakan dagangannya kepada para pengunjung di sepanjang Jalan Braga. Kegiatan jual beli ini telah berlangsung selama puluhan tahun, membentuk sebuah pasar seni sederhana yang permanen.Semasa kecil, sebelum menjalani pendidikan Seni Rupa di ITB, penulis cukup mendapat pengalaman estetis dari lukisan-lukisan Jalan Braga, penulis mengagumi keindahan dan kemampuan para pelukisnya dalam meniru alam ke media lukisan. Semakin lama menjalani pendidikan seni rupa, penulis semakin menyadari bahwa cara pandang penulis terhadap lukisan-lukisan tersebut semakin berubah.Selain faktor personal tersebut, penulis juga merasa tertarik dengan posisi lukisan jalanan ini di masyarakat dan di sejarah seni rupa Indonesia, juga mengenai asal mula visual yang digunakan di dalam lukisan-lukisan ini, dan relevansi asal muasal visual tersebut dengan keadaan sekarang saat penulis berkarya. Hal-hal tersebut mendorong penulis untuk membuat karya dengan mengangkat tema lukisan jalanan, khususnya lukisan-lukisan Jalan Braga.Karya yang dibuat adalah sebuah simulasi keadaan toko ataupun kios penjual lukisan di Jalan Braga yang dibuat menggunakan teknik pemetaan proyeksi video yang ditembakkan ke bingkai-bingkai berwarna putih. Setiap bingkai memuat visual lukisan Jalan Braga yang perlahan bergerak.