cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Naturalis : Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 23026715     EISSN : 26547732     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2020)" : 16 Documents clear
PENGARUH UKURAN MEDIA TANAM ORGANIK SERAT BUAH KELAPA SAWIT PADA PERTUMBUHAN SEMAI BAMBANG LANANG (Michelia champaca) Depri Agusni Starsy; Sigit Sudjatmiko; Enggar Apriyanto
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.1.12229

Abstract

Kelapa sawit merupakan komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya demikian pesat. Salah satu limbah padat kelapa sawit adalah serat buah yang dapat dimanfaatkan menjadi media tanam organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran media tanam organik pada pertumbuhan semai bambang lanang (Michelia champaca). Perlakuan ukuran media tanam terdiri dari media tanah berdiameter 3 inci, media tanam dari limbah serat buah kelapa sawit berdiameter 2 inci, 2 ½ inci dan 3 inci. Berdasarkan beberapa parameter yang diamati menunjukkan adanya pengaruh terhadap perlakuan tersebut. Media tanam organik limbah serat buah kelapa sawit ukuran 3 inci menunjukkan ukuran media terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan semai, sedangkan media tanam organik limbah serat buah kelapa sawit ukuran 2 inci menunjukkan respon terendah pada pertumbuhan semai bambang lanang
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA HUTAN MADAPI - TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT DI KABUPATEN REJANG LEBONG Yudi Lesmana; Gunggung Senoaji; Guswarni Anwar2
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.1.12234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik pengunjung / wisatawan objek wisata Hutan MADAPI, menghitung nilai kelayakan objek dan daya tarik wisata Hutan MADAPI dari aspek ekologis dan aspek ekonomis serta merumuskan strategi pengembangan ekowisata Hutan MADAPI sebagai objek wisata unggulan di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Metode analisis data yang digunakan dalam penulisan ini ada 3 yaitu Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO – ODTWA), analisis finansial (feasibility study) menggunakan perhitungan Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) dan Internal Rate of Return (IRR), analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity and Threat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung objek wisata Hutan MADAPI berdasarkan usia didominasi umur 22 tahun (74%), berdasarkan asal didominasi dari Kota Curup dan sekitarnya (45%), berdasarkan latar belakang pendidikan didominasi oleh pelajar SLTA/SMK (58%). Secara ekologis, Hutan MADAPI memiliki nilai objek dan daya tarik wisata alam sebesar 699,17 dengan indeks kelayakan sebesar 77,69%, (layak dikembangkan/ feasible). Secara finansial (feasibility study), pengembangan ekowisata Hutan MADAPI tidak layak dikembangkan karena memperoleh keuntungan (benefit) yang lebih kecil dari biaya (cost) yang dikeluarkan. Strategi pengembangan ekowisata Hutan MADAPI berada pada kuadran I (strategi SO), mendukung strategi yang agresif yaitu : 1). pengembangan Hutan MADAPI menjadi lokasi pendidikan lingkungan/pendidikan konservasi, bumi perkemahan tingkat kabupaten, lokasi penelitian dan lokasi outbond /photo spot/ pre wedding dan vidio shooting; 2). pengelolaan kolaboratif dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dan stakeholder; 3). pengembangan Desa Karang Anyar Pal VIII menjadi desa wisata; dan 4). optimalisasi pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat disekitar lokasi objek wisata.
DETERMINAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN PANTAI (STUDI KASUS DI KECAMATAN PONDOK KELAPA) Dwi Puspo Prihati; Satria Putra Utama; Yansen Yansen
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.1.12239

Abstract

Penelitian ini dilakukan dibukan Juni tahun 2019 di Wahana Surya, Sungai Suci dan Danau Gedang Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan pantai Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan skala likert. Data primer diperoleh dari para responden dan pengamatan di obyek penelitian sedangkan data sekunder diperoleh dari para narasumber di dinas terkait. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Karakteristik masyarakat meliputi jenis kelamin mempunyai hubungan yang signifikan terhadap partisipasi perencanaan. Pendidikan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap partisipasi evaluasi. Sedangkan dari karakteristik pengunjung umur berhubungan pada penyediaan tempat sampah dilihat dari niat pengunjung, pada pembuangan sampah, kebersihan, Karakteristik jenis kelamin mempunyai hubungan pada pembuangan sampah pada pendidikan mempunyai hubungandi peraturan kebersihan Pekerjaan mempunyai hubungan pada peraturan kebersihan. Partisipasi masyarakat yang meliputi partisipasi dalam tahap pelaksanaan dari aspek evaluasi, partisipasi dalam tahap pengambilan manfaat dan partisipasi dalam evaluasi dari aspek pengolahan sampah mempunyai hubungan yang signifikan terhadap upaya pelestarian lingkungan pantai. Bagi aparat desa hendaknya lebih mengutamakan pengadaan sarana dan prasarana kebersihan dan pengelolaan sampah yang terpadu, dimana didalam pengelolaan tersebut adanya pengelolaan sampah (3R) Reduce, Reuse dan Reycickle agar kondisi tempat pariwisata yang ada terjaga kebersihannya. Selin itu juga pihak desa lebih menggiatkan karang taruna untuk menjaga atau ikut mengawasi jalannya program kebersihan yang ada agar retribusi kebersihan menampakan hasilnya berupa PAD (Pendapatan Asli Daerah). Bagi Pemerintah daerah untuk meningkatkan dukungannya dalam pengelolaan kebersihan di wilayah lokasi pariwisata yang bekerja sama dengn pihak pengelola ataupun pihak kotraktor yang memegang wilayah tersebut.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM PERCETAKAN SAWAH BARU DI DESA AIR KERING KECAMATAN PADANG GUCI HILIR KABUPATEN KAUR DAN PENGARUHNYA TERHADAP LINGKUNGAN Yogi Very Hidayat; Enggar Apriyanto; Sigit Sudjatmiko
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.1.12230

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan (1) bobot limbah serat sawit yang optimum sebagai organik blok dalam meningkatkan kualitas bibit nyamplung, (2) dosis optimum pupuk osmote dalam meningkatkan kualitas bibit nyamplung, dan (3) bobot limbah serat sawit sebagai organik blok dan dosis pupuk osmocote yang optimum dalam meningkatkan kualitas bibit nyamplung. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu bobot media tanam organik (100 g, 110 g, dan 120 g) dan konsentrasi pupuk osmocote (0 g/tan, 1 g/tan, 2 g/tan, dan 3g/tan) dengan 7 kali ulangan. Hasil peneltian menunjukkan bahwa bobot media tanam organik 120 g menghasilkan tinggi tanaman tertinggi yaitu 25,43 cm, diameter batang terbesar yaitu 6,27 mm, luas daun terluas yaitu 26,84 cm2 , bobot basah akar terberat yaitu 3,89 g, basah batang terberat yaitu 4,54 g, bobot kering batang terberat yaitu 4,54 g, dan bobot kering batang terberat yaitu 4,54 g. Aplikasi pupuk osmocote 3 g tan-1 menghasilkan tinggi tanaman tertinggi yaitu 22,25 cm, diameter batang terberbesar yaitu 5,96 mm, luas daun terluas yaitu 26,89 cm2 , bobot basah akar terberat yaitu 3,24 g, bobot basah batang terberat yaitu 4,83 g, bobot basah daun terberat yaitu 0,79 g, bobot kering batang terberat yaitu 4,83 g, dan indeks mutu bibit tertinggi yaitu 0,95. Interaksi media tanam organik 120 g dan 3 g tan-1 pupuk osmocote menghasilkan jumlah daun terbanyak yaitu 8,8 helai.
PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PULAU ENGGANO PROVINSI BENGKULU Ahmad Firdiansyah; Yar Johan; Zamdial Ta’alidin
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.1.12235

Abstract

Pada wilayah Pulau Enggano terdapat program pengelolaan wilayah pesisir dengan menggunakan pendekatan konservasi terhadap terumbu karang yang dinamakan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) pada tahun 2014. Kawasan Konservasi Perairan (KKP) terletak di Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji persepsi dan partisipasi masyarakat Pulau Enggano analisis yang digunakan penelitian ini menggunakan metode survei, Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat pulau Enggano mempunyai tingkat persepsi baik (79,00%) dan tingkat partisipasi akif (89, 20%) dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), Strategi yang dapat dilakukan dalam melanjutkan Program pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di pulau Enggano yaitu penegakkan hukum, secara yuridis formal status peraturan desa yang telah ditetapkan oleh desa agar memiliki kekuatan hukum yang tetap. Masih terpola sebuah pemikiran yang klasik bahwapenegakkan aturan akan efektif jika tindakan atas pelanggaran peraturan yang ditetapkan bersama oleh masyarakat di tingkat desa harus dilakukan oleh intitusi formal seperti polisi/ angkatan laut. Selain itu pengelolaan KKP dipengaruhi juga oleh masalah pendanaan. Dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), dana dibutuhkan untuk melaksanakan pertemuan, penggantian tanda batas pelampung ramburambu Kawasan Konservasi Perairan (KKP), biaya operasional pengawasan. Secara umum kondisi fisik seperti rambu rambu sudah tidak terlihat lagi sehingga tidak menunjukkan fungsi sebagai tanda batas Zona Inti Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Hal yang terpenting diharapkan bahwa masyarakat lokal memiliki kontribusi penuh pengelolaan dari Daerah Peran pemerintah mampu mendorong sikap masyarakat dalam berpartisipasi aktif dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP)
KERENTANAN KAWASAN PESISIR KECAMATAN AIR NAPAL DAN BATIK NAU KABUPATEN BENGKULU UTARA PROVINSI BENGKULU Agus Sulaiman; Agus Susatya; Zamdial Ta’alidin
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.1.12072

Abstract

Kondisi sebagian wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara sudah mengalami kerusakan, seperti degradasi pantai, rusaknya hutan mangrove, dan semakin berkurangnya hutan pantai. Kondisi tersebut menyebabkan kerentanan kawasan pesisir sehingga perlu dikaji tingkat kerentanannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mendeskripsikan kerusakan yang terjadi di sepanjang wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara, dan menilai tingkat kerentanan wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara. Metode yang digunakan adalah metode survei serta data sekunder dari peta tutupan lahan Google Earth history untuk menganalisis berdasarkan 10 parameter perubahan garis pantai. Analisis data menggunakan analisis Indek Kerentanan Pesisir. Berdasarkan analisis Indek Kerentanan Pesisir (IKP) di Kecamatan Air Napal tiga desa termasuk dalam kerentanan sedang yaitu desa Tepi Laut, Talang Kering dan Selubuk. Dua desa masuk kategori sangat tinggi, sedangkan sisanya 4 desa termasuk dalam kategori tinggi. Untuk Kecamatan Batik Nau, dua dari 8 desa termasuk dalam kategori sedang, sedangkan sisanya termasuk dalam kategori tinggi. Variabel kerentanan yang memberikan nilai tinggi pada Kecamatan Air Napal dan Batik Nau adalah lebar sabuk hijau yang sangat sempit (kurang dari 500 meter) dan struktur litologi seluruh wilayah pesisir terbentuk dari jenis batuan endapan aluvium. Litologi berpengaruh pada resistensi (daya tahan) garis pantai terhadap proses pengikisan oleh gelombang, arus dan pasang surut yang menyebabkan perubahan garis pantai.

Page 2 of 2 | Total Record : 16