cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2016): April 2016" : 6 Documents clear
Suita Zodiak: Komposisi Musik untuk String Kuartet dan Trio Woodwind Ovan Bagus Jatmika
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1472

Abstract

Zodiak adalah rasi bintang di sepanjang garis ekliptika yang terdiri atas 12 bagian, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces. Ke-12 zodiak tersebut memiliki karakter yang berbeda karena dibedakan oleh modus (cardinal, fixed, mutable) dan elemen (api, tanah, udara, air) yang menyusunnya. Fenomena ini, dalam konteks komposisi musik, merupakan hal-hal ekstra musikal. Hal-hal ekstra musikal inilah yang akan diangkat ke dalam komposisi musik programa dengan judul “Suita Zodiak”. Komposisi ini disusun dalam 12 gerakan dan disusun dalam 12 tonalitas yang berbeda. Masing-masing gerakan menggambarkan karakter 12 zodiak dari Aries hingga Pisces. Karakter dari ketiga modus yang menyusun zodiak ditransformasi ke musik melalui pembedaan tekstur, sedangkan karakter dari keempat elemen yang menyusun zodiak ditransformasi ke musik melalui pembedaan karakter melodi, suasana musikal, dan pembedaan tempo. Pemaknaan tentang karakter 12 zodiak kemudian dijadikan batasan dalam penciptaan “Suita Zodiak” bersifat arbitrer. Hal ini mengacu pada beberapa karya yang pernah diciptakan sebelumnya, yang sebagian besar menghubungkan karya musik dengan unsur ekstra musikalnya secara arbitrer. Karya ini digarap dalam format string kuartet dan trio woodwind dengan mengembangkan beberapa konsep melodi yang diambil dari thesaurus of scales and melodic pattern. Zodiac Suite: Music Composition for String Quaertet and Trio Woodwind. Zodiac is the constellations along the ecliptic line consisting of 12 parts, namely Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, and Pisces. The 12 zodiacs have different characters because they are distinguished by the mode (cardinal, fixed, mutable) and elements (fire, earth, air, water) that are arranged them. This phenomenon, in the context of musical composition, is extra-musical things. These extra-musical things will be lifted into musical composition program entitled “Suita Zodiak”. This music composition has been worked out in 12 movements and arranged in 12 different tones. Each movement describes the character of the 12 zodiacs from Aries to Pisces. The characters of the three modes setting up the zodiac will be transformed into music through texture distinction; meanwhile the characters of four elements that are creating the zodiac have been transformed into music through the distinction of the melodic character, musical atmosphere, as well as difference in tempo. The meaning of 12 zodiac characters are then used as constraints in the creation of the arbitrary Zodiac Suite. This refers to several masterpieces that had been previously created, most of which relate to musical masterpiece with arbitrary extra-musical element. This artistry has been created in the quartet string and trio woodwind format by developing several melody concepts that are taken from thesaurus of scales and melodic pattern.
Kelompok Pita Maha: Gerak Menuju Seni Lukis Modern Bali Zuliati Zuliati
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1479

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan memahami perubahan yang terjadi dalam seni lukis Bali sejak adanya Kelompok Pita Maha. Konsep mengenai seni lukis modern di Indonesia mempunyai perbedaan sejarah, baik dalam bentuk maupun isi, dengan wacana seni lukis modern di Barat yang monolinier-universalis-rasionalis. Wacana seni lukis modern yang menggejala di Indonesia (termasuk Bali) hadir melalui intervensi asing (penjajahan). Wacana seni lukis modern secara bersamaan telah meminggirkan seni-seni lain yang tidak memenuhi kriteria-kriteria “modern”. Seni di luar kriteria modern kemudian disebut sebagai seni tradisi yang mempersempit dan mengecilkan keberadaannya. Sejarah perkembangan seni lukis di Bali menarik untuk dikaji karena terdapat pola yang khas karena warisan-warisan seni pada masa lalu masih terus hadir dalam seni lumkis masa kini. Tulisan ini tidak akan mempertentangkan antara seni lukis tradisi dengan seni lukis modern. Tulisan ini membahas pengaruh Kelompok Pita Maha terhadap modernisasi dalam seni lukis Bali. Data dikaji secara secara deskriptif-analitis dengan pendekatan sosio-historis mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam seni lukis Bali dari tatanan seni lukis prakolonial menjadi tatanan seni lukis Bali masa kini. Pita Maha Group: The Motion Towards the Balinese Modern Paintings. The concept of modern painting in Indonesia has different histories, both in the form and content, with the discourse of modern painting in the West which is monolinier-universal-rationale. The discourse of modern painting implicated in Indonesia (including Bali) presents through colonization. Modern art at the same time has marginalized other arts that do not fullfill modern criteria. Art, outside the criteria of modern art is called as an traditional art that narrowed and lowered its existence. It is interesting to make a research about the development of painting history in Bali because there is a unique pattern showing the artistic legacy of the past which still presents in nowadays art. This paper will not focus on polarizing between traditional and modern painting. It is interesting to discuss it more descriptive-analytically with the social-historis approach on how the changes happened in Balinese painting of pre-colonial art to modern Balinese paintings of which the other one is the presence of the Pita Maha.
Transformasi Naskah Lakon Macbeth (1603-1607) Karya William Shakespeare Ke Film Throne of Blood atau Kumonosu-Jo (1957) Karya Akira Kurosawa Arinta Agustina
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1471

Abstract

Karya sastra (naskah drama) yang ditransformasi ke film sudah tidak asing lagi bagi penontonnya. Film pada sat ditayangkan maka baik penulis karya sastra yang ditransformasi maupun pembacanya akan menemui banyak perbedaan. Perbedaan tersebut juga ditemukan dalam transformasi naskah Macbeth karya William Shakespeare ke film Throne of Blood atau Kumonosu-Jo karya Akira Kurosawa yang menjadi objek material penelitian ini. Kreativitas film terhadap karya sastra aslinya disebabkan adanya perbedaan yang mendasar antara karya sastra dan film, yakni medium. Karya sastra dalam hal ini menggunakan medium bahasa, sedangkan film menggunakan medium gambar dan suara. Terdapat suatu peristiwa tertentu yang dapat dimunculkan dengan baik pada karya sastra, tetapi tidak dapat dimunculkan dalam film, atau sebaliknya. Penelitian ini membatasi pada perbedaan kernel dan satelit film terhadap karya sastra aslinya sehingga terlihat perbedaan alur film terhadap karya sastra aslinya. Perubahan fungsi yang menyebabkan perbedaan alur tersebut dianalisis dengan menggunakan teori intertekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kernel dan satelit film lebih sedikit dibandingkan film karena tuntutan durasi. Film banyak memberikan variasi setting waktu dan tempat ataupun perubahan berupa penambahan tokoh dan alur sekaligus mengadakan penghilangan tokoh ataupun alur yang tidak memberikan peran penting dalam perkembangan penceritaan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya perubahan fungsi yang menghasilkan perbedaan alur antara karya sastra dan film. The Text of the Play Macbeth Transformation (1603-1607) by William Shakespeare into Film Throne of Blood or Kumonosu-Jo (1957) by Akira Kuroswa. Transformation from play to film is one of the common literary works. The writer of the play and the readers of the literary, however, face many differences in the film as the result of transformation process. These differences are also found at both; a play Macbeth by William Shakespeare while the film Throne of Blood by Akira Kurosawa. These two literary works are the object of material in this research. The basic differences between a play and film are that each has its own medium. The medium of film is pictures and music’s. Meanwhile, the medium of novel is language. Thus, there could be a certain plot appeared in film but not in novel or vice versa. Furthermore; this research is merely limited on the differences of kernel and satellite between play and film. Eventually, the various changes of the function lead to the differences in plot. These changes of the function lead to the differences are analyzed by making use of intertextuality theory. The result of this research indicates that the number of kernel and satellite of film is fewer than the one of literary. It happens because of the limited duration of the time. Eventually, there are many variations of setting of time, of place, and of participants. Next, the final result of this research is that there are several changes of function which lead to the differences both in literary and film.
Representasi Identitas Bali Pada Koleksi Tetap Museum Neka Willy Himawan; Setiawan Sabana; A. Rikrik Kusmara
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1475

Abstract

Pulau Bali memiliki budaya yang unik dengan berbagai artefak. Representasi artefak budaya ditampilkan di museum. Salah satu museum yang memiliki kunjungan wisatawan tertinggi di Bali adalah Museum Neka. Museum sebagai lembaga permanen memiliki koleksi karya seni yang dipilih sesuai dengan kepentingan pemilik institusi, termasuk Museum Neka. Penelitian ini mengamati dan mengkaji representasi visual dari koleksi permanen Museum Neka dan hubungannya dengan identitas Bali. Karya-karya seni yang dikaji dibatasi untuk karya seni rupa khususnya lukisan karena Museum Neka memiliki koleksi terbesar dari lukisan, yaitu lebih dari 300 lukisan. Neka Museum juga memfokuskan pada lukisan dalam koleksi permanennya. Lukisan-lukisan tersebut dilihat melalui metode pengamatan visual, dan analisis konten visual yang menggambarkan konstruksi identitas Bali. Pendekatan hermeneutik digunakan untuk memahami makna keseluruhan presentasi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memetakan kecenderungan museum untuk membangun identitas budaya. The Representation of Balinese Identity in the Permanent Collection of Neka Museum. The island of Bali has a unique culture with various artifacts. The representation of cultural artifacts is showed in the museum. One of the museums that has the highest rate of tourist visit in Bali is the Neka Museum. The museum as a permanent institution has a collection of art works in accordance with the institution’s interest, as well as the Neka Museum. Through the works of a permanent collection, this study observes and reviews the visual representation of the permanent collection of Neka Museum and its relation with the balinese identity. The art works of that are examined are restricted to works of fine art and devoted to the paintings because of Neka Museum has the largest collection of paintings for more than 300 paintings. Neka Museum also exhibits a permanent collection focuses on paintings. In addition, the paintings can be seen through visual observation methods, the analysis of visual content that describes the construction of balinese identity. Hermeneutic approach is used to understand the overall meaning of the presentation. The results of this study can be used to map the tendency of museums to build a cultural identity.  
Memaknai Nilai Kesenian Kuda Renggong dalam Upaya Melestarikan Budaya Daerah di Kabupten Sumedang Pratiwi Wulan Gustianingrum; Idrus Affandi
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaknai nilai kesenian Kuda Renggong dalam upaya melestarikan budaya daerah di Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian Kuda Renggong antara lain: spiritual/religius, interaksi antar makhluk Tuhan, teatrikal, estetika, kerja sama, kekompakan dan ketertiban, kerja keras dan ketekunan, dan sosial. Kesenian ini secara tidak langsung membentuk karakter manusia/masyarakat menjadi lebih baik. Hal ini ditunjukkan lewat tindakan kerja bersama, saling menghargai satu dan yang lain, kebersamaan, ketekunan, ketertiban, dan semangat religius yang tinggi sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pelestarian kesenian ini didukung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, seniman, dan masyarakat. Interpreting the Art Value of Kuda Renggong in Preserving the Local Culture in Kabupten Sumedang. The research aims to interpret the art value of Kuda Renggong in preserving the the local culture in Sumedang. The research uses qualitative approach with a case study as the research method. The subject of research covers the Local Government of Sumedang, PASKURES and society. The data collection techniques use the observation, interviews, and documentation. Kuda Renggong contains some values such as: spiritual/ religious values, the value of the interaction among the God’s creatures, theatrical value, universal value, aesthetic value, cooperative value, cohesiveness and order value, hard work and perseverance value, and social value. Kuda Renggong indirectly forms human or social character better. It can be shown through out the team-work action, mutual appreciation,to getherness, perseverance, discipline, and high religious spirit as the expression to thank to God the almighty. The preservation of Kuda Renggong is supported by the government of Sumedang Regency, artists, and the society.
Fashion Budaya Nasional dalam Konteks Wawasan Kebangsaan: Studi Kasus pada Jember Fashion Carnaval Agustinus Tampubolon; Cecep Darmawan
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1473

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi makna fashion yang berkaitan dengan konsep wawasan kebangsaan. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi mendalam dan studi dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) hal-hal yang diungkapkan fashion sebagai penguat wawasan kebangsaan melalui Jember FashionCarnaval (JFC) berkaitan dengan aspek kreativitas, tema, dan simbol-simbol dalam kostum karnaval;(2) pesan fashion berkaitan dengan wawasan kebangsaan karena memuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang dilandasi semangat dan usaha rela berkorban. Pesan menggambarkan bagaimana konstruksi nilai-nilai kebangsaan yang dimiliki secara bersama-sama dapat dijadikan sebagai pedoman hidup antarmasyarakat berbangsa dan bernegara;(3) proses mengonstruksi nilai-nilai kebangsaan melalui fashion ditunjukkan dengan partisipasi atau keterlibatan secara aktif dan bertanggung jawab dalam mengikuti program pelatihan dan pembimbingan. Program yang disebut In House Training selama lima bulan menjelang pelaksanaan JFC meliputi pemilihan tema berdasarkan riset dan pengkajian sampai pada acara puncak, yaitu grand carnival. The Fashion of National Culture in the Context of National Insight : CaseStudy on Jember Fashion Carnaval. This study aims to explain the construction meaning of fashion related to the concept of national insight. The study is qualitative with phenomenological method. Data collection technique was carried out by interviews, in-depth observation, and documentation studies. The results show that: (1) disclosed matters of the fashion as a reinforcement of the concept of national insight through Jember Fashion Carnaval (JFC) deal with aspects of creativity, themes, and symbols in carnival costume; (2) the fashion statement relates to the concept of national insight because it contains the values of unity and the spirit of understanding and self-sacrificing efforts. The messages describe how the construction of the national values held together can be used as guidelines for intra-national and state of life; (3) the process of constructing the national values through fashion is indicated by participation or involvement actively and responsibly in the training program and coaching. The program called In House Training for five months before the implementation of JFC includes the selection of themes based on the research and studies until the main event, which is a grand carnival.

Page 1 of 1 | Total Record : 6