cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2022): October 2022" : 7 Documents clear
Power Relations in the Design and Development of Karangwaru Riverside Yogyakarta-Indonesia – Women's Perspective Artbanu Wishnu Aji; Suastiwi Triatmodjo; Agus Burhan
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.9370

Abstract

The design and construction of riverbanks in Karangwaru is a community participation-based development program where stakeholders play a role in the preparation of development and its implementation. The involvement of women as one of the stakeholders is one of the positive efforts for gender equality programs. However, women's voices in percieving the results of such development have never been clearly explored. How women respond to the development process and how power relations are created in a built environment are yet to be revealed. This study aims to see how power relations are formed in the design and development of Karangwaru Riverside. Using the Foucauldian discourse analysis method, this study managed to find 7 (seven) constructs and discourses that surround them. The results show that women have only control over two discourses, namely ethical and social discourse. Desain dan pembangunan bantaran sungai di Karangwaru merupakan program pembangunan berbasis partisipasi masyarakat di mana pemangku kepentingan berperan dalam persiapan pembangunan dan pelaksanaannya. Keterlibatan perempuan sebagai salah satu pemangku kepentingan merupkan salah satu upaya positif bagi program penyetaraan gender dalam pembangunan. Meskipun demikian suara perempuan dalam melihat hasil pembangunan tersebut belum pernah dieksplorasi dengan jelas. Bagaimana perempuan menyikapi proses pembangunan dan bagaimana relasi kuasa yang tercipta dalam lingkungan terbangun masih belum terungkap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana relasi kuasa yang terbentuk dalam desain dan pembangunan Karangwaru Riverside. Dengan menggunakan metode analisis diskursus Foucauldian, penelitian ini berhasil menemukan 7 (tujuh) konstruk dan diskursus yang melingkupinya. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan hanya memiliki kontrol pada dua diskurus yaitu diskursus etika dan sosial. 
Education Park Concept on Green Open Space Planning through Historical and Cultural Approach Sri Maqfirah Asyuni; Ahmad Syarief Iskandar; Nuryani Nuryani; Edhy Rustan
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.8088

Abstract

Green Open Space Planning (RTH) for urban areas needs to support ecological functions, education facilities, and social interaction facilities for urban communities and regional identity. As green open spaces, Complex Elementary Park and Reading Park in Palopo, South Sulawesi have not yet fulfilled their functions and benefits optimally. The two parks that are located in the heritage area become a unique/distinctive potential to show the historical connotation of the location in its design. This study aims to provide landscape design recommendations by exploring the potential of the location through the historical and cultural approach of the Luwu Kingdom. The research was conducted using a descriptive qualitative method that refers to the landscape planning of Seymour M. Gold through the stages of preparation, inventory, analysis, synthesis, and planning. The results of this study resulted in an Education Park site plan that elaborated the physical and philosophical characteristic of three cultural heritages, namely the Datu Luwu Palace Complex, the Jami' Mosque, and the Post and Giro Office. Konsep Taman Edukasi pada Perencanaan Ruang Terbuka Hijau melalui Pendekatan Sejarah dan Budaya. Perencanaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kawasan Perkotaan perlu menunjang fungsi ekologis, wadah pendidikan, sarana interaksi sosial masyarakat urban dan identitas daerah. Sebagai RTH, Taman SD Kompleks dan Taman Baca di kota Palopo, Sulawesi Selatan belum menunjukkan terpenuhinya fungsi dan manfaatnya secara optimal. Kedua taman yang berada dalam kawasan heritage menjadi potensi khas/unik untuk menunjukkan historical connotation lokasi dalam desainnya. Penelitian ini bertujuan membuat rekomendasi desain lanskap dengan mengeksplorasi potensi lokasi melalui pendekatan sejarah dan budaya Kerajaan Luwu. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif yang mengacu pada perencanaan lanskap Seymour M. Gold melalui tahapan persiapan, inventarisasi, analisis, sintesis dan perencanaan. Hasil penelitian ini menghasilkan siteplan Taman Edukasi yang mengelaborasi karakter fisik dan filosofis tiga cagar budaya yaitu Kompleks Istana Datu Luwu, Masjid Jami’ dan Kantor Pos dan Giro.
Exploring the Philosophy and Forms of Traditional Balinese Architecture at Badung Market I Kadek Pranajaya; I Nyoman Artayasa
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.6118

Abstract

After the fire disaster, Badung market was rebuilt by applying the values of Balinese  local wisdom. It was designed through an integrated synergy of regional arrangement within the Badung market, Kumbasari market, and the arrangement of the Tukad Badung to support the concept of a heritage city tour in Denpasar City. The philosophical concept used is tapak dara and padu raksa. The concept of values and architectural forms uses the Triangga, the Trimandala, the Sanga Mandala, and the Tri Hita Karana concepts. The forms of the entrance uses the bintang aring concept. It is combined with the kayon form as a symbol of balance, horizontal and vertical for human life. The concept of Balinese traditional architectural decoration uses bebadungan decorations. This research was with a qualitative exploratory method Researchers also found modernization towards more advanced changes with rational, effective, efficient, and economic principles. This is evidenced in the use ornaments made of Glass Reinforced Concrete, elevator facilities, and escalators. In addition, Badung market was designed to be more modern and universal with a children's play room, lactation room, emergency stairs, accessible toilets, and other facilities.Menjelajahi Filosofi dan Bentuk Arsitektur Tradisional Bali di Pasar Badung.  Pascabencana kebakaran, Pasar Badung dibangun dengan menerapkan nilai kearifan lokal Bali. Didesain melalui sinergitas penataan kawasan secara terpadu antara Pasar Badung, Pasar Kumbasari, dan penataan tukad Badung untuk menunjang konsep tur kota pusaka (heritage city tour) Kota Denpasar. Konsep filosofis yang digunakan adalah tapak dara sebagai simbol keseimbangan dan padu raksa sebagai makna stabilitas perputaran ekonomi masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan. Konsep tata nilai dan bentuk bangunan menggunakan konsep triangga, trimandala, sanga mandala, dan tri hita karana. Bentuk pintu masuk pada bangunan utama menggunakan konsep bintang aring dengan bebatelan di kiri dan kanan. Bintang aring difilosofikan sebagai pintu yang bercahaya bagai bintang sehingga terlihat monumental, berestetika, dan menambah kesan oriental. Bintang aring dikombinasikan dengan bentuk kayon sebagai lambang keseimbangan, horisontal dan vertikal bagi kehidupan manusia. Konsep ragam hias arsitektur tradisional Bali menggunakan ragam hias bebadungan. Ragam hias ini didesain untuk menciptakan identitas jati diri Kota Denpasar. Peneliti juga menemukan kehidupan modernisasi dengan prinsip rasional, efektif, efisien, dan ekonomis. Hal ini dibuktikan pada penggunaan ornamen dari bahan Glass Reinforced Concrete (GRC), fasilitas elevator, dan eskalator. Selain itu Pasar Badung didesain lebih modern dan universal dengan adanya ruang bermain anak, ruang laktasi, tangga darurat, toilet aksesibel, dan fasilitas lainnya.
Social-Engaged Art in Indonesia: Many in One, Nurturing Diversity & Inclusion Ika Yuliana; Dominique Lämmli
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.8106

Abstract

This research describes three socially engaged art practices of three collectives, Gubuak Kopi (Solok, West Sumatera), Festival Film Bahari (Cirebon, West Java) and Forum Sudut Pandang (Palu, Central Sulawesi), which were located in rural-urban area in Indonesia. The practices of these collectives that are established after 2010 were then read along the concept of Bhinneka Tunggal Ika. This research method is guided by the question: How did “many, but one” emerge in the practice of social arts and who benefits from it? The narratives were built by centralizing the perspectives of art practitioners on their motivations and aims, instead of analyzing certain case studies. The method of this paper is interview and desk review. Based on the research observations, the researchers  try to provide a perspective on how cultural promotion programs have an impact on community movements outside the big cities. Seni Berpenampilan Sosial di Indonesia: Ragam dalam Satu, Memelihara Kebhinekaan & Inklusi. Penelitian ini mendeskripsikan tiga praktik seni yang terlibat secara sosial dari tiga kolektif yakni Gubuak Kopi (Solok, Sumatera Barat), Festival Film Bahari (Cirebon, Jawa Barat) and Forum Sudut Pandang (Palu, Sulawesi Tengah) yang berada di daerah rural-urban di Indonesia. Tiga praktik dari kolektif yang muncul setelah 2010 ini kemudian dibaca dalam kaitannya dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Penelitian ini dipandu dengan pertanyaan: bagaimana “banyak namun satu” muncul dalam praktik seni yang terlibat secara sosial di Indonesia, dan siapa yang diuntungkan oleh praktik ini? Narasi dibangun dengan memusatkan perhatian pada perspektif praktisi seni atas motivasi dan tujuan berkaryanya, alih-alih menganalisis studi kasus tertentu. Metode penelitian yang diterapkan adalah wawancara dan studi pustaka. Berdasarkan hasil observasi, peneliti menawarkan pandangan akan bagaimana program pemajuan kebudayaan memberikan pengaruh pada pergerakan komunitas di luar kota-kota besar.
Adaptation of Pramoedya Ananta Toer's Novel Arok Dedes into Concept Art Baskoro Suryo Banindro; Asnar . Zacky; Rikhana Widya Ardilla
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.8362

Abstract

This research aims to obtain the creation of exploration resulting from the adaptation of the narrative text to the visual book novel Arok Dedes. The method used in this research is applied research, which is to apply basic research for practical purposes, in this case, the design of concept art. Data is collected and compiled by studying libraries related to concept art from textbooks and virtual libraries. The result of this study is that the adaptation of text narrative to visual in concept art requires a comprehensive exploration of starting to develop the concept of space transfer, visual reference, character study, and good mood board. Through the results of this study, it is expected that the exploration of the concept of designing text adaptation to visual concept art can be studied and used as a guide for illustrators who are interested in becoming concept artists, game artists, and character art visualizers. Adaptasi Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer dalam Concept Art. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsep penciptaan eksplorasi hasil adaptasi narasi teks ke visual novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian terapan, yakni mengaplikasikan penelitian dasar untuk keperluan praktis dalam hal ini perancangan seni konsep (concept art). Data dikumpulkan dan dikompilasi melalui studi pustaka terkait seni konsep baik dari buku maupun pustaka digital. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi narasi teks ke visual dalam seni konsep memerlukan eksplorasi yang komprehensif mulai dari menyusun konsep alih wahana, referensi visual, studi karakter dan mood board yang tepat. Melalui hasil penelitian ini diharapkan eksplorasi konsep perancangan adaptasi teks ke visual seni konsepdapat dipelajari dan digunakan sebagai panduan bagi ilustrator yang tertarik untuk menjadi seniman konsep, seniman gim (game artist) dan pengrajin karakter visual (visualizer art character).
Adaptation and Representation of Narcissistic Desires of Calon Arang's Text in Bali Koes Yuliadi
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.6486

Abstract

Rangda and Barong appear a lot in performing art, paintings, and tattoos in Bali.  The sacred rituals involving the two creatures always attract attention—likewise forms of performances and crafts for tourists.  Historically the existence of Rangda and Barong started from the text of Calon Arang, which initially came from the island of Java in Indonesia.  This fact shows how the Balinese people attach themselves to myths and then develop them in creative works.  The relationship between the narrative text and visualization will be the material to see what desires are behind their consciousness and unconsciousness in understanding the Calon Arang.  There is an antagonistic offer on the characterizations and the creative process that perceives Calon Arang's story. The process of studying the object uses a qualitative method. In a time, observe and be directly involved in the Rangda and Barong ceremonies, see these figures' performances, visit markets and art galleries, and interview Balinese artists and cultural figures.  This process concludes that the continuous adaptation process based on the Calon Arang text involves the spiritual and creative power of the Balinese people as part of their narcissistic and analytic desires. Rangda and Barong always provide new phenomena in creative works with antagonistic ideas. Analyzing this data is very important to understand the concepts created, outcomes, and the spirituality of the interwoven in the development of Balinese art. Adaptasi dan Representasi Hasrat Narsis Teks Calon Arang di Bali. Rangda dan Barong merupakan figur yang sering terlihat pada pertunjukan seni, lukisan, dan tato di Bali. Agenda ritual sakral yang melibatkan keduanya selalu menarik perhatian. Demikian juga ketika ia muncul dalam bentuk pertunjukan dan kerajinan untuk wisatawan. Secara historis keberadaan Rangda dan Barong tidak bisa dilepaskan dari teks Calon Arang yang pada walnya berasal dari Pulau Jawa di Indonesia. Kenyaaan ini menunjukkan bagaimana keterikatan masyarakat Bali dengan mitos dan kemudian mengembangkannya dalam karya kreatif. Relasi teks naratif dan visualisasnya akan menjadi bahan untuk melihat hasrat apa yang ada di balik kesadaran dan ketidaksadaran mereka dalam menghayati Calon Arang. Terlihat adanya tawaran antagonistik pada penokohan dan proses kretif yang merpersepsi cerita Calon Arang. Proses pengkajian objek di atas menggunakan metode kualitatif.  Selain mengamati dan terlibat langsung dalam upacara Rangda dan Barong, melihat pertunjukan yang melibatkan figur tersebut, mengunjungi pasar dan galeri seni, juga wawancara dengan beberapa seniman dan budayawan Bali. Proses ini memberikan simpulan bahwa proses adaptasi yang berkenajutan berdasar teks Calon Arang melibatkan daya spiritual dan kreatif masyarakat Bali sebagai bagian dari hasrat narsistik dan anaklitik. Rangda dan Barong selalu memberikan fenomena baru dalam karya kreatif dengan berbagai gagasan yang antagonistik. Menganalisis data ini sangat menarik untuk memahami gagasan penciptaan, keberlanjutan karya, dan jalinan spiritualitas dalam perkembangan seni Bali hingga saat ini.
Vertical Video Trends Among Amateur Digital Platform Users as an Alternative for Film Production Retno Mustikawati; Ghalif Putra Sadewa; Muhammad Alvin Fadholi
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i2.7949

Abstract

The Vertical Video Syndrome expression adequately represents the spread of the production process and projection of amateur digital content in vertical format. For smartphone users, the vertical is the king. All components of digital life make users subconsciously hold their phones vertically on various occasions. Penetration after penetration is carried out, from flexibility and artificial intelligence, to private viewing rooms that move dynamically. As a new starting point in quite an extended period, the vertical video gives birth to a glimmer of hope in a film atmosphere that seems exclusive and rigid. However, problems have arisen as user demands have increased and smartphones have become sociocultural necessity over the last decade. With a vertical screen, people are used to spending time watching video shows, including recording all their activities. Because of that, there is a big challenge for filmmakers to see the opportunities that exist. The vertical format creates a narrow, elongated reading space. The camera movement, which used to use action from left to right, now switches from top to bottom. Subjects in vertical formats are also forced to submit to limited reading space. In conventional films, close-ups can isolate the field of view while at the same time emphasizing facial expressions. But not vertically because it will bring out a different density; what arises is not a close-up but a big close-up and even an extreme close-up. As a result, this gives motivation and a different meaning visually. It would be a lie if this didn't fall into the challenges to be solved. The field of view gets more complicated. The vertical concept encourages creators to get out of the conventional mindset. Likewise, with the actors involved, the vertical format provides a more challenging exploration of expressions and gestures. This research uses qualitative methods in collecting data and utilizes a lot of current literature. The research results are in the form of knowledge and recommendations regarding the packaging and distribution of film production in a vertical format. Tren Video Vertikal di Antara Pengguna Platform Digital Amatir sebagai Alternatif Produksi Film. Sindrom Video Vertikal, ungkapan itu cukup mewakili merebaknya proses produksi dan proyeksi konten digital amatir berformat vertikal. Bagi pengguna smartphone, vertikal adalah raja. Seluruh komponen kehidupan digital membuat pengguna secara alam bawah sadar memegang telepon secara vertikal dalam beragam kesempatan. Penetrasi demi penetrasi dilakukan, fleksibilitas, kecerdasan buatan, hingga ruang tonton privasi yang bergerak dinamis. Sebagai titik pijak baru dalam kurun waktu yang cukup panjang, video vertikal melahirkan secercah harapan dalam suasana perfilman yang terkesan eksklusif dan kaku. Namun, persoalan pun muncul, di kala tuntunan pengguna semakin tinggi dan smartphone menjadi kebutuhan sosiokultural sejak satu dekade terakhir. Dengan layar vertikal, orang terbiasa menghabiskan waktu untuk menonton tayangan video termasuk merekam segala aktivitasnya. Karena itulah, muncul tantangan besar bagi pembuat film guna melihat peluang yang ada. Format vertikal mencipta ruang baca yang menyempit memanjang. Memindahkan pergerakan kamera yang terbiasa memanfaatkan pergerakan dari kiri ke kanan, kini beralih dari atas ke bawah. Subjek pada format vertikalpun dipaksa untuk tunduk pada ruang baca yang terbatas. Pada film konvensional, close-up sudah mampu mengisolasi ruang pandang sekaligus mempertegas ekspresi wajah. Namun tidak pada vertikal karena akan memunculkan kepadatan yang berbeda, yang timbul bukan close-up melainkan big close-up bahkan extreme close-up. Alhasil ini memberi motivasi dan makna yang berbeda secara visual. Suatu kebohongan jika ini tidak masuk dalam kategori tantangan yang harus dipecahkan. Ruang pandang menjadi sedikit lebih rumit. Konsep vertikal benar-benar mendorong kreator untuk keluar dari pola pikir konvensional. Begitu pula dengan aktor yang terlibat, format vertikal memberikan tantangan eksplorasi yang lebih pada ekspresi dan gerak tubuh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam mengumpulkan data dan memanfaatkan banyak literatur saat ini. Hasil penelitian berupa pengetahuan dan rekomendasi tentang pengemasan dan distribusi produksi film dalam format vertikal.

Page 1 of 1 | Total Record : 7