cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
Mendobrak Kriteria Perempuan sebagai Model Fesyen dalam Indonesia Plus-Size Festival 2018 Bonifacia Bulan Arumingtyas
Journal of Urban Society's Arts Vol 5, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v5i2.2098

Abstract

Sebagai seorang model fesyen, perempuan dituntut untuk memiliki tubuh ideal atau kurus proporsional. Seringnya menampilkan tubuh kurus perempuan, menjadikan sebuah konstruksi tentang standar kecantikan perempuan. Konstruksi tersebut menyebabkan sosok perempuan yang tidak bertubuh ideal atau gemuk, tidak layak tampil di muka publik. Berbeda dengan Indonesia Plus Size Festival 2018 yang digagas oleh Ririe Bogar. Ririe Bogar justru melakukan audisi model khusus untuk perempuan gemuk dengan berat minimal 70 kg. Penelitian ini menerapkan metode fenomenologis yang melibatkan langsung peneliti sebagai peserta audisi model untuk melihat fenomena riil yang ada. Selain melihat interaksi sesama perempuan gemuk dalam acara tersebut, peneliti dapat juga melihat respon masyarakat ketika melihat model catwalk yang tidak seperti umumnya, dalam kasus ini bertubuh gemuk. Penelitian ini menunjukkan bahwa tubuh yang gemuk dapat juga dengan baik menampilkan produk fesyen, sedikit demi sedikit, dapat merubah pandangan masyarakat tentang konstruksi standar kecantikan yang selama ini dibentuk.
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN FILM INDIE: MODEL PEMASARAN DAN DISTRIBUSI FILM INDIE INDONESIA Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani; Hanny Hafiar
Journal of Urban Society's Arts Vol 5, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v5i2.2120

Abstract

AbstrakFilm independent atau yang lebih akrab disebut dengan film indie secara umum adalah film yang diproduksi di luar major label atau perusahaan/production house (PH) film besar. Karena tidak dipasarkan melalui jalur distributor komersial, maka para sineas film indie harus cerdas dan intuitif dalam mencari peluang-peluang untuk memasarkan karya mereka kepada khalayak luas. Hal inilah yang menarik minat penulis untuk melakukan riset mengenai strategi komunikasi pemasaran film indie Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran film indie Indonesia. Teknik wawancara, observasi, studi pustaka dan Focus Group Discussion (FGD) digunakan untuk mengumpulkan data-data riset yang dibutuhkan. Penulis telah melakukan wawancara dan FGD dengan beberapa produser, sutradara dan aktivis/pengkaji film indie di 3 kota besar di Indonesia (Yogyakarta, Jakarta dan Makassar). Hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas para sineas film indie di Indonesia menjadikan festival-festival film (baik nasional maupun internasional) sebagai media pemasaran utama bagi karya-karya mereka. Selain menggunakan festival film sebagai ajang promosi, para sineas film indie Indonesia juga menggunakan beberapa media/cara lain, yaitu melalui ruang putar alternatif, media sosial, website yang memasarkan film-film alternatif, digital TV platform, roadshow, dan melalui press screening.Kata Kunci: Film; Indie; Komunikasi; Pemasaran AbstractMarketing Communication Strategy of Indie Film: Marketing Model and Distribution of Indonesia Indie Film. Independent films or more familiarly referred to indie films in general are films produced by non-major label or company/production house (PH). Since it is not marketed through a commercial distributor line, indie filmmakers must be smart and intuitive in searching for opportunities to promote their work to a wide audience. The authors interested to do research on the marketing communication strategy of Indonesia indie films. Based on the description, the purpose of this research in this article is to explore the marketing communication strategy of Indonesia indie films. The authors has conducted interviews and FGDs with several producers, directors and indie film activists/reviewers in three cities in Indonesia (Yogyakarta, Jakarta and Makassar). The research results show that Indonesian’s indie filmmakers utilises film festivals (both national and international) as the main marketing medium for their works. In addition, indie film producers also use alternative media, such as social media, websites, digital TV platforms, roadshows, and through press screening.Keywords: Film; Indie; Communication; Marketing
Eco Art: Bamboo and Silat Spirituality in the Integrated Space Design Widya Poerwoko
Journal of Urban Society's Arts Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v6i1.3371

Abstract

Eco Art: Bambu dan Spiritualitas Pencak Silat dalam Disain Ruang Terintegrasi. Berita tentang perubahan iklim dalam fenomena Global Warming penting untuk diperhatikan. Meski peristiwa tersebut sulit dibayangkan oleh masyarakat pedesaan, namun faktanya fenomena tersebut telah mengakibatkan para petani mengalami kegagalan panen dan hampir tidak dapat lagi memprediksi waktu tanam. Di luar fenomena tersebut, persoalan lingkungan juga terjadi di kaki Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta. Penambangan pasir liar di pemukiman penduduk, telah mengakibatkan menyusutnya populasi tumbuhan dan rusaknya tata guna lahan, sehingga berdampak pada menurunnya permukaan air tanah dan air permukaan. Kerusakan lingkungan berawal dari terpecahnya cara pandang orang akibat dari munculnya pembedaan antara humanisme dengan ekologis, pengetahuan dengan nilai-nilai, dan tubuh dengan spiritualitas. Pencak silat, sebagai seni bela diri  Indonesia  yang  tunduk pada keselarasan antara manusia dengan lingkungan alam tempat hidupnya, dapat menggugah kesadaran orang setempat untuk mempertimbangkan kembali kebiasaannya yang dapat merugikan lingkungan dan alam. Integrated Space Design sebagai manifestasi estetis Eco Art, merupakan karya seni yang diciptakan untuk menjawab persoalan lingkungan yang terjadi di kawasan kaki Gunung Merapi, yaitu dengan mewujudkan ruang, wadah atau jembatan interaksi antar manusia, manusia dengan lingkungan buatannya dan alam seputar hidupnya, dengan menggunakan tanaman bambu sebagai medium utamanya, dan spiritualitas silat sebagai inspirasinya sehingga dapat melestarikan daya hidup masyarakat setempat, baik secara ekologis maupun spiritual. News about climate change in the phenomenon of Global Warming worth seriuos considerations. Although these events are difficult to imagine by rural communities, in fact the phenomenon has resulted in farmers experiencing crop failure and can hardly predict cropping time. Apart from this phenomenon, environmental problems also occur at the foot of Mount Merapi, Sleman, Yogyakarta. Illegal sand mining in residential areas has resulted in a shrinking of the plant population and impared the land use, resulting in a decrease both in the groundwater and surface water level. Environmental damage starts from the split of people’s perspectives as a result of the emerging separations between humanism and ecology, knowledge and values, and the body and spirituality. Pencak silat, as an indigenous Indonesian martial art that is subject to harmony between humans and the natural environment on which they live, can arise the awareness of local people to reconsider habits that are harmful both to the environment and nature. Integrated Space Design as the aesthetic manifestation of Eco Art, is an artwork created to address environmental problems that occur in the foot area of Mount Merapi namely by creating a space that bridges the interactions between humans, between humans and their artificial environment, and between humans and their surrounding nature, by using bamboo plants as its main media, and silat spirituality as an inspiration in order to sustain the living power of the local community, both ecologically and spiritually.
Glundhângan and Pigeon in Sociocultural Practices of Madurese People panakajaya hidayatullah
Journal of Urban Society's Arts Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v6i1.2575

Abstract

Glundhângan adalah ansambel gamelan kayu yang dimainkan oleh orang Madura. Musik glundhângan dipercaya sebagai musik kuno orang Madura. Bahkan ada sebelum era gamelan metallophone. Di Jember, glundhângan terkait erat dengan merpati dan biasanya digunakan untuk acara nyata dan totta’an dhârâ. Nyata adalah peristiwa ketika master merpati berhasil mendapatkan merpati lawannya. Sementara totta’an dhârâ adalah pertandingan melepaskan merpati bersama dan kemudian mereka, merpati, kembali ke pajhudhun (rumah merpati) dari tuan mereka. Glundhângan adalah musik yang menjadi penanda kemenangan master merpati ketika ia mendapat merpati lawannya, dan itu adalah musik yang menyertai pelepasan merpati dan kembali ke rumah. Glundhângan terdiri dari beberapa alat musik kayu seperti glundhâng, dhung-dhung, tong-tong, tek-tek, nèng-nèng dan ghâghâmbhâng, dan mereka disertai oleh vokal dari tembhāng mamaca (versi kuno) dan kèjhungan (versi modern). Setiap pajhudhun dan merpati harus memiliki alat musik dhung-dhung atau tong-tong dalam bentuk berbagai kentongan yang terbuat dari kayu. Alat musik digunakan oleh seorang master sebagai alat komunikasi untuk merpati dan manusia. Instrumen dhung-dhung dari master merpati umumnya keramat sebagai peninggalan lainnya seperti keris. Pada umumnya, sang guru memasok dirinya sendiri dan merpati dengan kekuatan mistis. Ini adalah dhung-dhung itu sendiri yang menjadi identitas musik glundhângan. Bagi orang Madura, merpati diperlakukan sebagai hewan istimewa. Merpati juga merupakan perwujudan kekuatan supernatural dari tuannya. Musik dan merpati glundhângan adalah artikulasi orang Madura yang mewakili tingkat sosial, kebanggaan yang dipertaruhkan, simbol maskulinitas dan distribusi hasrat konflik yang produktif di antara orang-orang.Glundhangan is an ensemble of wooden gamelan played by Madurese people. Glundhangan music is believed as archaic music of Madurese people. It even existed before era of metallophone gamelan. In Jember, glundhângan is closely related to pigeon and usually used for nyata and totta’an dhârâ events. Nyata is an event when a pigeon master succeeds to get his opponent’s pigeon. While totta’an dhârâ is a match of releasing pigeons together and then they, pigeons, come back to pajhudhun (pigeon house) of their masters. Glundhângan is a music which becomes winning signifier of pigeon’s master when he gets his opponent’s pigeon, and it is an accompanying music for pigeons release and return to home. Glundhângan consists of some wooden musical instruments like glundhâng, dhung-dhung, tong-tong, tek-tek, nèng-nèng and ghâghâmbhâng, and they are accompanied by vocal of tembhâng mamaca (ancient version) and kèjhungan (modern version). Every pajhudhun and pigeon master must have musical instruments dhung-dhung or tong-tong in a form of various kentongan made by wood. The music instrument is used by a master as means of communication to pigeons and people. Dhung-dhung instrument of the pigeon master is commonly sacred as other relics like keris. Commonly, the master supplies himself and pigeons with mythical power. It is dhung-dhung itself which becomes identity of glundângan music. For Madurese people, pigeon is treated as special animal. Pigeon is also a manifestation of supernatural power of its master. Glundhângan music and pigeons are articulations of Madurese people that represent social degree, pride at stake, symbol of masculinity and productive distribution of conflict desire among people.    
'Ora Minggir Tabrak' Electronic Dance Music (EDM), a Montage of The Time-Image Citra Aryandari
Journal of Urban Society's Arts Vol 5, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v5i2.2185

Abstract

Electronic Dance Music (EDM) is a music genre which has been perceived in negative way because closely related to night life in which alcoholic drinks and illegal drugs. The beatings of the rhythm presented can arouse a desire to shake the body, giving instant pleasure to escape from the weariness of life. Although it could be said that this music genre is able to help the listeners to forget “the problems” of life, however, it is very rarely that the academic circle looked into this music genre and make it as a subject of interesting studies. This article is written out of subjective observations in social sphere on subjects containing a lot of secrecies and initially considered as a taboo to be discussed. The existence of EDM in line with the technological developments as montage of the time-image related with complexity of social relations, attempting to embark on a new identity in power, politics, and ideological trappings. The phenomenon comes into sight specifically in the song of “Ora Minggir Tabrak”,literally means if you get on my way I will hit you, a soundtrack of Ada Apa Dengan Cinta 2feature film. And it obviously could be seen in talent hunting for EDM musicians program broadcast by Net TV (the ReMix), and several other big events with internationally standard organized annually, such as DWP (Djakarta Warehouse Project); and Dreamfield at GWK Bali, which are worth-discussing amidst the hustle and bustle of music market in Indonesia.
Beyond Tweets: Pragmatic Analysis of Humor as a Brand Image in Burger King’s Tweets Marti Fauziah Ariastuti; Amadhea Naidriya Putri
Journal of Urban Society's Arts Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v6i1.2567

Abstract

Melebihi Tweet: Analisis Pragmatis Humor sebagai Citra Merek di Tweet Burger King. Salah satu bentuk strategi komunikasi yang paling populer adalah humor. Meskipun berbagai penelitian telah dilakukan untuk meneliti hubungan humor dan semantik dalam konteks iklan, relatif sedikit yang telah membahas hubungan antara tweet humor, komunikasi bisnis, dan pragmatik. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk (1) menyelidiki konstruksi tweet humor berdasarkan delapan sumber daya pengetahuan dan (2) membahas fungsi pragmatisnya. Penelitian ini menggunakan versi ekstensi dari Teori Umum Humor Verbal Attardo (Tsakona, 2013), dilengkapi dengan analisis fungsional teks Brinker. Dipilih berdasarkan style humor yang digunakan (Martin, 2003), data untuk penelitian ini terdiri dari 111 tweet humor dari akun Twitter Burger King antara tahun 2016 dan 2018. Tiga tahun dipilih karena tampaknya ada korelasi positif antara penggunaan strategi humor di media sosial dan kinerja penjualan Burger King selama tahun-tahun itu. Temuan utama adalah bahwa Burger King: (1) menerapkan konstruksi humor yang berbeda di akun Twitter Burger King, terutama dalam oposisi teks, mekanisme bahasa, target, dan konteks; dan (2) menggunakan fungsi tweet humor yang berbeda untuk mempersonalisasi merek (2016), meminta pelanggan untuk melakukan beberapa tindakan (2017), dan mempromosikan produk (2018).                                                    One of the most popular forms of communication strategy is humor. Although various studies have accounted the relation of humor and semantics in advertisement context, relatively little has discussed the link between humor tweets, business communication, and pragmatics. Therefore, the main aim of this study is to (1) investigate the construction of humor tweets based on eight knowledge resources and (2) discuss its pragmatic function. The study applies the extension version of Attardo’s General Theory of Verbal Humor (Tsakona, 2013), complemented with Brinker’s text functional analysis. Selected based on style humor used (Martin et al., 2003), the data for the study consist of 111 humor tweets from Burger King Twitter account between the year 2016 and 2018. The three years are selected because there seems to be a positive corellation between the use of humor strategy in social media and Burger King’s sales during those years. A key finding is that Burger King: (1) applies different construction of humor in Burger King’s Twitter account, especially in Script Opposition, Language Mechanism, Target, and Context; and (2) uses different function of the humor tweets for personalizing the brand (2016), asking the customer to do some act (2017), and promoting the products (2018).
KONSEP SLAMMING PADA ANATOMI HURUF DAN TIPOGRAFI BAND REZUME Ni Wayan Setiasih
Journal of Urban Society's Arts Vol 5, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v5i2.2156

Abstract

Huruf adalah hal yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari, karena huruf manusia dapat berkomunikasi. Huruf menentukan berhasil tidaknya suatu penerima dan pengirim pesan. Permasalahan yang nantinya akan dibahas adalah konsep yang digunakan pada huruf dan tipografi pada band metal yang memiliki sub genre Slamming. Band yang memiliki aliran musik Brutal Slamming Death Metal, mengusung konsep dalam pembuatan huruf dan tipografi sesuai dengan aliran music yang digelutinya yakni Slamming. Huruf dan tipografi dari band Rezume adalah penggambaran dari jenis musik slamming. Tipografi yang yang memiliki kesan sulit dibaca karena memiliki tingkat distorsi sehingga tipografi ini unik untuk dikaji berdasarkan perspektif seni.Dalam penelitian ini materi yang digunakan adalah tipografi pada band Rezume sebagai objek yang akan diangkat sebagai kasus. Permasalahan yang diangkat yaitu, bagaimana peran konsep slamming pada bentuk anatomi huruf dan tipografi band Rezume? dan adapun tujuan dari penulisan hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui peran konsep slamming pada bentuk anatomi huruf dan tipografi band Rezume.Materi yang digunakan dalam mengkaji konsep pada anatomi huruf dan tipografi band Rezume adalah teori anatomi huruf dan kaitannya terhadap konsep. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode deskritif kualitatif yakni menguraikan secara fakta mengenai peran konsep slamming pada anatomi huruf dan tipografi band Rezume. 
Space Comfort in Street Clown Products: Case Study on Mampang Clown Ali Ramadhan; Juliano Umar Permana
Journal of Urban Society's Arts Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v6i1.2787

Abstract

Kenyamanan Ruang Pada Produk Badut Jalanan: Studi Kasus: Badut Mampang. Kenyamanan merupakan salah satu unsur yang perlu diperhatikan dan terdapat pada suatu ruang. Kenyamanan ruang dapat memberikan dampak kepada pengguna ruang pada saat melakukan aktifitasnya. Kostum diketahui sebagai salah satu benda pakai yang perlu memperhatikan unsur kenyamanan. Di dalam suatu produk, terdapat ruang yang dapat diisi untuk berbagai macam keperluan. Badut mampang merupakan salah satu produk hasil buatan manusia dan memiliki ruang di bagian dalamnya. Badut mampang digunakan oleh penggunanya untuk mencari nafkah dengan melakukan aktifitas menghibur salah satunya dengan bergoyang. Sehingga perlu adanya kenyamanan agar pada saat menggunakannya, dapat memberikan dampak positif yang dapat berpengaruh kepada penggunanya. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi mengenai kenyamanan ruang yang terdapat pada produk kostum badut mampang sehingga dapat memberikan manfaat untuk penggunanya agar dapat memaksimalkan pekerjaannya. Berdasarkan penelitian dihasilkan bahwa kostum badut mampang berbeda dari kostum badut pada umumnya. Dari penampilan luar yang memiliki ciri khas dengan menggunakan topeng berukuran besar dan pakaian yang bebrbentuk besar memberikan pengaruh kepada penggunanya. Penggunaannya di jalanan yang ramai, kenyamanan ruang kostum badut mampang dapat memberikan dampak kepada penggunanya tidak hanya dampak perekonomian namun juga dampak kepada kondisi yang dihadapi. Comfort is one element that needs to be considered and contained in a space. Space comfort can have an impact on space users when carrying out their activities. The costume is known as one of the items used that needs to pay attention to the element of comfort. In a product, there is space that can be filled for various purposes. Clowns are one of the products made by humans and have space inside. Clowns can be used by users to make a living by entertaining one of them by swaying. So that there needs to be comforted so that when using it, it can provide a positive impact that can affect users.By using qualitative descriptive research methods, this research is expected to help provide information about the comfort of space in the product of mampang clown costume so that it can provide benefits to its users to maximize their work.From the research conducted, it was found that clown costumes are quite different from clown costumes in general. From the outward appearance that has a characteristic by using a large mask and clothing that has a large form gives influence to its users. With its use used in busy streets, the comfort of clown costume rooms can make an impact on its users not only the economic impact but also the impact on the conditions faced. 
The Visual Language of Consumerism in Contemporary Artworks Singgih Prio Wicaksono; Anik Juwariyah
Journal of Urban Society's Arts Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v6i1.2263

Abstract

Bahasa Visual Konsumerisme dalam Karya Seni Kontemporer. Artikel ini mendeskripsikan wacana konsumerisme ketika dibahasakan secara visual dalam karya kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan visualnya, gaya ungkapannya, serta social effect dari karya-karya tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan obyek kajian empat karya kontemporer dunia yang sangat terkenal, “Campbell’s Soup Cans” karya Andi warhol, “Jesus Christ with Shopping Bags” kaya Banksy, “I Shop Therefore I Am” karya Barbara Kruger, “Super Supper” karya Ron English. Berdasarkan analisis terhadap empat karya tersebut dapat disimpulkan bahwa kecenderungan visual pada karya-karya tersebut adalah: (1) memiliki karakteristik visual bergaya Pop Art dengan penggunaan simbol-simbol budaya populer, (2) sarat akan unsur jenaka, satir dan sarkastik, (3) menimbulkan persoalan etis dan estetis.This article describes how consumerism discourse is visualized in contemporary works with the aim to find out how the visual approach, how the style of expression, as well as the social effects of these works. Using a descriptive approach with the object of study of four world famous contemporary works, “Campbell’s Soup Cans” by Andi warhol, “Jesus Christ with Shopping Bags” rich in Banksy, “I Shop Therefore I Am” by Barbara Kruger, “Super Supper” by Ron English. Based on the analysis of the four works, it can be concluded that the visual tendencies in these works are: (1) having visual characteristics of Pop Art style with the use of symbols of popular culture, (2) full of humorous, satirical and sarcastic elements, (3) giving rise to ethical and aesthetic issues.
Dream Interpretation of an Infant and Feminine Monstrosity in Among the Sleep Karen Winardi; Lucia Lusi Ani Handayani
Journal of Urban Society's Arts Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v6i1.2780

Abstract

Tafsir Mimpi Tokoh Utama Bayi dan Elemen Horor Feminin dalam Game Among the Sleep. Game Among The Sleep (2014) yang menyoroti perjalanan seorang bayi mencari kenangan-kenangan bersama ibunya ini memiliki ulasan beragam dari segi kesederhanaan teka-tekinya dan acaknya peletakkan simbolisme. Akan tetapi, gaya penceritaan dan aspek visual untuk membangun momentum cerita hingga mencapai resolusi penuh emosi dari game ini masih menuai pujian. Berkebalikan dari anggapan umum bahwa bayi sama sekali tidak dapat memahami kejadian di lingkungan sekitar mereka, tokoh utama bayi dalam game Among The Sleep mampu melakukan hal tersebut dengan bantuan mimpi dan fantasi.Menurut Freud, kedua hal tersebut akanmempengaruhi kepribadianbayi saat bertumbuh besar dari alam bawah sadar. Penelitian ini bertujuan memahami makna dari simbolisme mimpi tokoh utama game dengan teori tafsir mimpi Freud. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa elemen-elemen mimpi yang muncul bertujuan untuk memenuhi keinginan terpendam sang tokoh utama, dan hal tersebut merupakan wujud dari kemampuan kognitif bayi tersebut untuk bertahan di lingkungannya. Selain itu, dengan konsep abjeksi dan histeria, diketahui bahwa sosok ibu dari kenangan sang tokoh utama seringkali dipenuhi oleh elemen horor feminin demi memenuhi hasratnya memiliki sebuah penis dengan berupaya mengkastrasi anaknya. Seperti video game pada umumnya, elemen intrinsik penceritaan Among The Sleep membawa pesan untuk meyakinkan audiensnya mereka mampu melalui trauma yang mereka alami.Among The Sleep (2014) follows an infant in his quest to search for memories of his mother. The game receives mixed opinions regarding its overly simple puzzles and confusing juxtaposition of the dream symbols; nevertheless, it is still praised for its storytelling and visuals used to build the momentum leading up to the resolution invoking strong emotions in players. Contrary to a popular belief that infants are incapable of understanding the events around them, in this game the infant can process his surroundings with the help of dreams and fantasies. In Freudian perspective, they will unconsciously affect an infant’s personality when growing up. This research aims to understand the infant’s dreams using Freud’s interpretation of dreams. The findings show that the dream elements are the wish-fulfilment part of the infant’s cognitive ability to cope with his surroundings. Moreover, using the concepts of abjection and hysteria, it is revealed that memories of his mother are often filled with feminine monstrosity to satiate her desire for having a penis by attempting to castrate him. Similar to many other video games, Among The Sleep carries a message through its storytelling elements, and it is to encourage the audience to tackle their own trauma.

Page 9 of 18 | Total Record : 171