cover
Contact Name
STT Jaffray
Contact Email
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jaffray
ISSN : 18299474     EISSN : 24074047     DOI : -
Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dan membuka akses yang berfokus pada mempromosikan teologi dan praktik pelayanan yang dihasilkan dari teologi dasar, pendidikan Kristen dan penelitian pastoral untuk mengintegrasikan penelitian dalam semua aspek sumber daya Alkitab. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. Review singkat yang berisi perkembangan teologi, tafsiran biblika dan pendidikan teologi yang terbaru dan mutakhir dapat dipublikasi dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 458 Documents
Analisis Kata menō Berdasarkan Surat 1 Yohanes Dju, Nyoman Lisias Fernand
Jurnal Jaffray Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah mengetahui makna kata menō dalam surat 1 Yohanes melalui pendekatan studi eksegesis yaitu analisis leksikal, analisis grammatikal, analisis konteks dan analisis historis. Perjanjian Baru menggunakan kata menō digunakan dalam hubungan dengan Allah, berarti menekankan sifatnya, sementara dalam hubungan dengan doktrin Kristen, kata ini digunakan secara kiasan menunjuk kepada ketetapan hidup sebagai umat yang diselamatkan. Secara grammatikal, bentuk yang menyatakan bahwa suatu tindakan (peristiwa) sedang terjadi, subjeknya melakukannya secara aktif dan tindakan/peristiwa itu merupakan suatu realitas. Penulis surat ini, Yohanes menyatakan dengan serius bahwa hal yang paling mungkin bagi seseorang untuk tinggal dalam Anak dan Bapa adalah harus tetap tinggal di dalam firman yang “telah kamu dengar dari mulanya.” Sedangkan pendekatan analisis konteks arti menō adalah orang yang lahir dari Allah dan berada di dalam Dia memiliki potensi untuk menjauhkan diri dari dosa karena benih ilahi tinggal tetap di dalamnya dan karena mereka mengenal Dia. Dalam konteks historis penggunaan kata menō yang di dalamnya terkandung pengajaran dan nasihat yang mendasar mengenai doktrin dan praktika hidup Kristen jelas menunjukkan bahwa secara historis teologis kata ini merupakan kata yang penting dalam pergumulan iman dan perkembangan doktrin dalam komunitas Kristen mula-mula. 
Peran “Teologi Sosial” Gereja Protestan Indonesia Di Gorontalo (GPIG) Dalam Menanggapi Masalah Kemiskinan Harold, Rudy
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.230

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk melihat peran “teologi sosial” yang berkembang di lingkungan Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG) dalam menanggapi masalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Berdasarkan hasil penelitian, teologi sosial yang dikembangkan di GPIG dalam menanggapi masalah kemiskinan bersumber dari refleksi teologi GPIG tentang gereja (eklesiologi) dan keselamatan (soteriologi). Hal ini berdasarkan kajian terhadap dokumen – dokumen Tata Gereja GPIG tentang Pokok Panggilan dan Tugas GPIG serta pemahaman tentang keselamatan yang terkandung dalam Tata Gereja GPIG.
Disiplin Gereja Berdasarkan Injil Matius 18:15-17 Dan Implementasinya Dalam gereja Masa Kini Tumanan, Yohanis Luni
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.231

Abstract

Seringkali gereja mengalami kebingungan saat harus menentukan sikap terhadap orang yang berbuat dosa. Salah satu sikap yang ekstrim adalah membiarkan saja seseorang jatuh ke dalam dosa karena takut membuat orang itu tersinggung. Sikap ekstrim yang lain adalah sangat membenci dosa, sehingga membenci juga orang yang melakukannya. Disiplin dalam gereja merupakan kelalaian besar di sebagian gereja saat ini. Pemimpin takut untuk melakukan disiplin gereja kepada anggota jemaat, karena dinggap bertentangan dengan “kasih Allah” dan dapat menyebabkan perpecahan di dalam persekutuan. Pelaksanaan disiplin gereja disinyalir dapat menyebabkan hilangnya anggota jemaat yang berpengaruh dan kaya. Ada juga kesalahpahaman besar tentang makna, tujuan, dan sifat disiplin gereja. Banyak yang melihat disiplin gereja sebagai kutukan dan pengucilan daripada cinta kasih yang memulihkan untuk mengembalikan kepada persekutuan dengan orang percaya. Artikel ini bermaksud menjelaskan pemahaman yang benar mengenai tidakan dan prosedur disiplin gereja yang alkitabiah berdasarkan Injil Matius 18:15-17. Often churches are confused when it comes to determining the attitude toward those who sin. One extreme attitude is to let alone the person who falls into sin for fear of making him/her offended. The other extreme attitude is that we hate the sin so much, that we begin to hate the one who did it. The application of discipline in the church is often overlooked in most churches today. Leaders are afraid to discipline members of the church, because it is deemed contrary to the “love of God” and can lead to divisions in the congregation. The implementation of church discipline can allegedly cause the loss of influential and rich members of the congregation. There is also a big misconception about the meaning, purpose, and the nature of church discipline. Many see church discipline as a curse and exclusion rather than love that restores the fellowship of believers. This article aims to explain the correct understanding of the act of and procedures of biblical church discipline based on Matthew 18: 15-17. 
Implementing Andragogy In Indonesian Theological Schools Sumule, Leonard
Jurnal Jaffray Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v16i1.281

Abstract

Most Christians inIndonesia, when asked about the term "school" or "Sunday school", they always think that those terms are addressed to childrens education. Even the term "Adult Sunday School", which is a very familiar sound in the ears of Christians inAmerica, is not heard of among the churches inIndonesia. Why? According to the Christians inIndonesia, Sunday School is always intended for children. It is also carried in general education. That is why the term education is always directed to the education of the children or young persons rather than to adult education.It is time that theological schools inIndonesiaunderstand the importance of andragogy for adult Christian education. InIndonesia, adults do not like the idea of Sunday school or school because they think Sunday school or school is for children and it is beneath their dignity.  However, utilizing the andragogical methods described in this paper, adult can learn in a dignified manner.  Instead of being lectured what to know as children would be, adults should realize that each one is an integral part of the learning process. Through respectful participation, each adult can learn through discovery as well as contribute insight to others. 
Pandangan Teologi Reformed Mengenai Doktrin Pengudusan Dan Relevansinya Pada Masa Kini Mawikere, Marde Christian Stenly
Jurnal Jaffray Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v14i2.211

Abstract

Artikel ini membahas mengenai pandangan teologi Reformed mengenai Doktrin Pengudusan (Sanctification) dan relevansinya pada masa kini.  Teologi Reformed memandang konsep pengudusan  sebagai bagian integral dari doktrin keselamatan (soteriologi) yang merupakan karya anugerah Allah yang menjadikan orang pilihan yang kemudian memercayai Yesus Kristus sebagai “orang kudus” (pengudusan definitif) serta berkesinambungan dalam proses kehidupan orang percaya tersebut untuk menghidupi kekudusan dalam kehidupan setiap hari melalui pertumbuhan iman dalam Kristus yang akan berlangsung seumur hidup (pengudusan progresif).  Hal ini juga yang menjadi paradoks dalam soteriologi Reformed bahwa pengudusan bersifat monergis (pengudusan definitif) sekaligus  sinergis (pengudusan progresif).  Dengan demikian, soteriologi Reformed tidak sekedar konsep yang ideal dan filosofis seperti yang tersirat dalam slogan Sola Christo, Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura dan Soli Deo Gloria, namun juga bersifat praktis yang melibatkan pengalaman hidup setiap orang percaya dengan Tuhan (Sola Expierientia).
“Barrenness”: Jalan Penggenapan Janji Allah Bagi Keluarga Allah Susanta, Yohanes Krismantyo
Jurnal Jaffray Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i2.253

Abstract

Kemandulan adalah tema umum dalam Alkitab terutama dalam Perjanjian Lama. Kemandulan merupakan persoalan serius bagi pasangan di dalam budaya yang menekankan pentingnya keturunan. Tulisan ini membuktikan bahwa kemandulan adalah karya Allah yang memiliki kehendak-Nya. Perspektif budaya tentang kemandulan akan dijelaskan dalam perseptif Perjanjian Lama. Tulisan ini menyatakan bahwa Allah dapat memakai kemandulan untuk meneguhkan iman keluarga Kristen kepada Allah. Allah juga dapat memakai kemandulan sebagai kesempatan bagi pasangan untuk melakukan adopsi anak. Allah dapat menggunakan kemandulan sebagai kesaksian bagi pasangan yang memiliki anak untuk menghargai anak-anak sebagai anugerah dari Allah.Barrenness is a common theme in Scripture. Barrenness is a serious problem for couples in a culture that emphasizes the importance of descent. This writing proves that barrenness is the work of God having his will. The cultural perspective about infertility will be explained from the perspective of the Old Testament. This paper states that God can use barrenness to strengthen the Christian familys faith in God. God can also use barrenness as an opportunity for couples to adopt children. God can use barrenness as a witness for couples who have children to appreciate children as a gift from God.
Book Review: Gift & Giver: The Holy Spirit for Today Lathrop, John Paul
Jurnal Jaffray Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i2.245

Abstract

Dr. Craig Keener has established himself as a highly respected New Testament scholar. Over the years he has written a number of very significant commentaries including works on the gospels of Matthew and John, and the book of Acts. His highly acclaimed IVP Bible Background Commentary: New Testament is one of his best known works. In addition, he has produced books devoted to specific biblical topics such as miracles, women in marriage and ministry, and divorce and remarriage. He is not one to shy away from controversial subjects. In this present volume Keener writes about the Holy Spirit including the sometimes controversial charismatic aspects of His ministry. Gift & Giver was first published in theUnited States in 2001. More recently it has been translated into Indonesian and published inIndonesia.
Penggenapan Progresif Misi Allah Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Lie, Heryanto David
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.235

Abstract

Kisah Para Rasul 1:8 merupakan suatu master plan misi Allah yang Kristus amanatkan kepada para murid. Melalui pertolongan dan kuasa Roh Kudus yang telah dicurahkan para peristiwa Pentakosta, seluruh master plan misi Allah tersebut tergenapi secara progresif. Itulah yang hendak Lukas perlihatkan melalui kitabnya yang kedua, Kisah Para Rasul. Kebenaran ini menjadi landasan pemahaman teologis bahwa bermisi adalah melaksanakan master plan misi Allah. Kisah Para Rasul 1:8 juga mengingatkan bahwa menjadi saksi Kristus merupakan panggilan bagi semua orang percaya tanpa terkecuali. Atas dasar kebenaran ini, maka tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak bermisi atau bersaksi bagi Kristus. Bahkan kebenaran ini mengingatkan bahwa bermisi bukan tergantung kepada hebatnya program tetapi seberapa efektif program-program tersebut dalam memperkenalkan Kristus. Kisah Para Rasul mem-berikan suatu dasar kebenaran bahwa pelayanan misi yang dilakukan gereja-gereja sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan dari fase “ujung bumi.” Misi yang dilakukan oleh gereja-gereja masa kini adalah bagian dari fase memperkenalkan Kristus sampai ke seluruh permukaan bumi secara geografis hingga Kristus kembali untuk kedua kalinya pada akhir zaman.Acts 1: 8 is a master plan for the mission of God which Christ gave as a mandate to the disciples. Through the help and power of the Holy Spirit that was poured out at the events of Pentecost, the entire master plan of the mission of God is fulfilled progressively. That’s what Luke wants to show through his second book, Acts. This truth is the foundation of the theological understanding that missions is carrying out the master plan of God. Acts 1: 8 is also a reminder that becoming a witness of Christ is a call to all believers without exception. On the basis of this truth, then there is no reason for believers not to do missions or witness for Christ. Moreover, this truth is a reminder that doing missions is not dependanton a great program, but on how effective these programs are in introducing Christ. Acts provides a basic truth that missions conducted by churches today is actually a continuation of the phase “ends of the earth.” Missions being carried out by the churches of today are part of a phase of introducing Christ to all peopleson the face of the earth until Christ comes again for the second time on the last day.
Ulasan Buku Kisah kisah Misi Singkat di Berbagai Belahan Dunia Kanna, Armin Sukri
Jurnal Jaffray Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v16i1.286

Abstract

Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar kembali menerbitkan buku, pada kesempatan ini, berisi tentang sejarah misi yang di tulis oleh Pdt. Dr. Daniel Ronda, dengan judul ‘Kisah-kisah Misi Singkat di Berbagai Belahan Dunia.’. Dari judul yang diberikan, maka dapat diperoleh gambaran mengenai apa yang menjadi isi dari buku tersebut. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa kisah dalam sejarah pelaksanaan misi yang dilaksanakan diberbagai belahan dunia, sekalipun singkat, namun penulis menampilkannya secara komprehensif dan berkesinambungan yang berawal dari pelaksanaan misi mula-mula dalam Kisah Para Rasul, sampai pada pelaksanaan misi moderen di abad ke-21.
Teologi Pembangunan Berbasis Pengembangan Masyarakat Shalom Pada Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Kupang Nusa Tenggara Timur Laukapitang, Yunus Daniel Anus
Jurnal Jaffray Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v14i2.212

Abstract

Trasformasi dunia dengan kuasa Kristus yang bangkit. Tahun 2011-2016 dengan  Advokasi trasformasi membangun masyarakat damai melalui kuasa Kristus yang bangkit.   Dalam konteks Indonesia secara umum dan masyarakat Nusa Tenggara Timur, secara khusus jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Kupang-NTT yang umumnya berada di pedesaan secara standard nasional belum mengalami kesejahteraan secara umum dibandingkan dengan daerah yang lain. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan  prinsip-prinsip pembangunan masyarakat damai secara umum maupun Alkitab  serta pendekatan konsep pengembangan masyarakat sehingga pada akhirnya bagaimana prinsip-prinsip teologi dan umum yang berhubungan dengan pengembangan masyarakat dapat diaplikasikan dalam berbagai program pembangunan gereja bagi jemaat sehingga dapat terjadi perubahan dalam kehidupan masyarakat menuju masyarakat shalom itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang benar mengenai teologi pembangunan melalui pendekatan pengembangan masyarakat shalom memberi dampak secara langsung bagi kemandirian umat GKII Daerah Kupang bila bersatu hati, pikiran dan tindakan dalam membangun perencanaan strategis bersama untuk memaksilkan potensi alam, sumber daya sosial, rohani dan manusia untuk menghadirkan masyarakat shalom pada Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Kupang – NTT.The transformation of the world through the power of the risen Christ. For the years 2011-2016, a transformation campaign to raise up a community of peace through the power of the risen Christ. In the Indonesian context in general and society in East Nusa Tenggara, specifically in the congregation of the Gereja Kemah Injil Indonesia in the area of Kupang-NTT, that according to national standard is in a rural area, has not yet experienced prosperity when compared to other areas. The purpose of this writing is to explain the general and biblical principles of building a community of peace, along with the approach of the concept of community development so that, in the end, the general and theological principles that are related to community development can be applied in various programs of church planting for the congregation so that it will produce change in the lives of the community that will move towards the aforementioned community of peace. The results of this research show that a right understanding about community development theology through the approach of developing a community of peace, has an immediate impact on the independence of the congregation of the Kupang GKII when they have one heart, mind, and act in building a strategic plan together to maximize their natural resources, as well as their social, spiritual and human resources in order to bring a community of peace to the Gereja Kemah Injil Indonesia Area Kupang—NTT.

Filter by Year

2003 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 2 (2023): October 2023 Vol 21, No 1 (2023): April 2023 Vol 20, No 2 (2022): October 2022 Vol 20, No 1 (2022): April 2022 Vol 19, No 2 (2021): October 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020 Vol 18, No 2 (2020): October 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 1 April 2019 Vol 17, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13, No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Vol 10, No 1 (2012): Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 2 Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Vol 9, No 1 (2011): Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010 Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): April 2010 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Oktober 2008 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 More Issue