cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Ushuluddin (Online ISSN 2407-8247 | Print ISSN 1412-0909) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal Ushuluddin terbit pertama kali pada Bulan Desember 1998 dengan nama Jurnal Ushuluddin Cendikia. Pada tahun 2000 namanya berganti menjadi Jurnal Ushuluddin. Jurnal Ushuluddin memuat kajian-kajian dasar keislaman (islamic studies), baik dalam bentuk kajian kepustakaan maupun riset lapangan. Fokus utama Jurnal Ushuluddin meliputi aqidah, pemikiran Islam, filsafat agama, tasawuf, tafsir dan studi al-Qur'an, kajian Hadits, dan perbandingan agama. Jurnal ini diterbitkan dalam upaya mengkomunikasikan berbagai kajian yang terkait dengan Islam, baik klasik maupun kontemporer yang ditinjau dari berbagai perspektif. Dengan demikian, baik para sarjana Indonesia maupun sarjana asing yang fokus dengan kajian tersebut dapat memperkaya artikel yang dimuat dalam jurnal ini. Artikel yang masuk akan dinilai oleh peer-review, dan jika dipandang layak baru akan diterbitkan. Jurnal Ushuluddin diterbitkan dua kali dalam setahun, dan selalu menempatkan kajian Islam dan kajian tentang umat Islam sebagai fokus utama.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 1 (2017): January - June" : 8 Documents clear
Pro Kontra I’jaz Adady Dalam Al-Qur'an Syahrul Rahman
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2175

Abstract

Semenjak dikenalkan oleh Naufal, I’jaz adady telah mengalami perkembangan yang cukup luar biasa. I’jaz adady merupakan satu tawaran metoda baru dalam melihat kemukjizatan al-Qur’an, bermula dari kesesuaian penggunaan kata dalam al-Qur’an, sekarang cakupan teori ini telah meliputi kemukjizatan angka 11, angka 7, dan angka 19. Di sisi lain, ulama tradisional masih belum bisa menerima kajian ini sebagai bagian dari kajian ulum al-Qur’an. Dalam pandangan mereka, konsep teoretis i’jaz adady belum terbangun dengan kokoh dan terkesan tidak rasional. Di antara kelompok yang mengkritisi ini ada yang secara radikal menyangsikan keberadaan dan keabsahan diskursus ini dan ada juga yang mengapresiasinya dengan menyatakan ketepatan penggunaan kata dalam hitungan matematis bahagian dari ketelitian al-Qur’an bukan bagian kemukjizatan al-Qur’an.
A Philological Report Of The Theologus Autodidactus Of Ibn Al-Nafis By Max Meyerhof And Joseph Schacht Maulana Maulana; Khotimah Khotimah; Imron Rosidi
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2176

Abstract

Ibn al-Nafis is a monumental figure in Islamic scholarship. He wrote a fictional novel entitled “ Al-Risalah al-Kamiliyah fi’l sira al-Nabawiyah” which is translated as “ Theologus autodidactus”. This article does not focus on the content of this book but on the philological persepctive of how this book is edited by Joseph Schacht and Max Meyerhoff. Therefore, the question is whether this book which is edited by these two scholars is based on academic standards or not. Another question is how the editors study this text , particularly their main basis of editing this text. 
Penerjemahan Al-Qur’an: Proses Penerjemahan al-Qur’an di Indonesia Egi Sukma Baihaki
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2339

Abstract

Penerjemahan al-Qur’an dalam sejarahnya mengalami proses yang cukup panjang, misalnya dari persoalan kewenangan atau legitimasi penerjemah, hukum menerjemahkan, ditambah lagi dengan kehadiran terjemahan yang dibuat oleh para Orientalis membuat banyak perbedaan di antara para ulama dalam menyikapi penerjemahan al-Qur’an di berbagai wilayah. Penolakan terhadap penerjemahan al-Qur’an juga sempat ada di Indonesia. Tapi, meskipun sempat ditolak, pada akhirnya penerjemahan al-Qur’an di Indonesia tetap berlangsung hingga sekarang. Proses penerjemahan itu sendiri memiliki berbagai dimensi mulai dari keterlibatan sastra dan penggunaan bahasa daerah dalam menerjemahkan al-Qur’an
Mengkaji Nilai Salam Dalam Al-Qur'an (Kajian Tafsir Tematik) Syamruddin Nasution; Khoiruddin Nasution
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.1984

Abstract

Artikel ini mengkaji nilai salam dalam al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik. Dari kajian yang dilakukan terhadap aayat-ayat salam dalam al-Qur’an dapat diketahui bahwa ucapan salam sejahtera disampaikan Allah swt. kepada para nabi-Nya, antara lain, nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun dan Il-Yaasin, termasuk nabi Muhammad yang mereka sudah berhasil dalam menjalankan tugas masing-masing. Sebaliknya, nabi Isa menyampaikan salam do’a kepada Allah memohon keselamatan pada tiga pergantian hidup yaitu sewaktu dilahirkan, sewaktu dimatikan dan sewaktu nanti kelak menghadap Allah di padang Mahsyar. Dengan demikian, ternyata nilai salam begitu tinggi dalam pandangan Islam. Juga terdapat salam di kalangan masyarakat Jahiliyah apabila mereka bertemu dengan sesama temannya, yaitu “Hayakallah” artinya semoga umurmu panjang. Selain itu terdapat juga salam di kalangan orang Yahudi munafiq yang didasari permusuhan kepada nabi suatu salam yang tidak diajarkan Nabi kepada mereka yaitu “Assamu’alaikum” artinya semoga engkau celaka”. Seterusnya salam perdamaian diperintahkan Nabi agar disebarluaskan di kalangan masyarakat Islam dari yang muda kepada yang tua dari yang sedikit kepada yang banyak, dari yang berjalan kepada yang duduk, dari yang berkenderaan kepada yang berjalan kaki, dari yang melihat kepada yang tidak melihat, dari murid kepada guru, dari bawahan kepada atasan dan lain sebagainya. Problematika salam saat ini adalah lebih dimasyarakatkan oleh kalangan bawah dibandingkan kalangan atas sehingga hal itu menimbulkan kesan bahwa salam dalam Islam bernilai rendah padahal yang semestinya bernilai tinggi
The Hermeneutic Thoughts of Ashgar Ali Engineer in The Interpretation of Feminism Irsyadunnas Irsyadunnas
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2120

Abstract

Using hermeneutic as a method and approach in systematic interpretation of Al-Qur'an had begun during contemporary period. The reality and fulfillment of the academic standard had pushed contemporary Muslim scholars used the method. Asghar Ali Engineer was one of the Muslim scholars who supported hermeneutic in the study of Qur'anic exegesis on feminism. This article examined the impacts on how feminism in Engineer's hermeneutic exegesis of the Qur'an played significant role in the Qur'anic exegesis studies. He was placed at the same position with other contemporary Muslim scholars. His popularity as a Muslim feminist had been well-known mainly on his interpretation of the Qur'an about feminism. According to Engineer, the interpretation of the Qur'an had to consider three concepts, “the freedom of Al-Qur'an,” “the spirit of the Qur'an against Patriarchy,” and “the classified Qur'anic verses and sociological normative.” Engineer offered three sources when interpreting al- Qur'an; namely, text, context, and perspective. The Engineer interpreted Qur'anic verses about gender at QS. An-Nisa: 1; 3, and 34 by applying these concept, method and sources
Corak dan Pengaruh Tasawuf Al-Ghazali Dalam Islam Syofrianisda Syofrianisda; M Arrafie Abduh
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2559

Abstract

Salah seorang tokoh cendekiawan muslim yang berhasil mengkompromikan dan mengintegrasikan antara tasawuf dengan syari’at menjadi konstruksi yang sangat memuaskan kalangan syar’i dan kalangan sufi adalah Imam al-Ghazali (1058-1111), melalui karya monumentalnya Ihyā’ Ulūm al-Dīn menawarkan sufisme yang dinamis dan kreatif dengan melihat kehidupan sebagai proses untuk mencapai penyempurnaan diri yang harus dilalui melalui aktivitas yang kreatif. Kitab Ihyā’ Ulūm al-Dīn mendapat sambutan antusias dari kalangan Islam, karena al- Ghazali mengelaborasi tasawuf dalam al-Qur’an dan Sunnah, sehingga Mir Valiuddin menulis disertasinya, The Qur`anic Sufism (Sufisme dalam al-Qur`an). Ia menyuguhkan konsep cinta (mahabbah), tauhīd (monoteisme), makhafah (takut) dan ma’rifah (pengetahuan). Di antara tokoh sufi terbesar yang terpengaruh oleh al-Ghazali ialah Muhyiddin Ibn Arabi (1165-1240) tentang perwujudan Tuhan secara keseluruhan alam nyata dan alam ghaib, kemudian al- Sya’rani (w.973/1585) salah seorang pengikut tarekat Syadziliyah (didirikan oleh al-Syadzili, w.656/1258) tentang akhlak bahwa hidup yang baik terletak pada pengabdian terhadap orang lain. Di samping itu, karya-karya al-Ghazali juga mempengaruhi penulis Kristen terbesar pada abad pertengahan, yaitu St. Thomas Aquinas (1225-1274) tentang konsep Beatic Vision. Penulis generasi Kristen selanjutnya yang dapat dijumpai adanya dampak al-Ghazali adalah mistikus Perancis Pascal (1623-1662) tentang intuisi, yaitu hanya hati yang sadar akan Tuhan dan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang Tuhan, bukan pikiran.
Integrasi Agama dan Sains dalam Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI Faizin Faizin
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2560

Abstract

The application of religious and scientific integration in the Tafsir Ilmi of Ministry of Religious Affairs was critically analyzed in this paper. The paradigm of religious and scientific integration was used in order to expose the building framework of the integration. Three forms of the integration paradigm were highlighted, namely: [1] scientific interpretation as one of the patterns of integration of religion and science, [2] theology as the basis of the integration, and [3] Tafsir Ilmi as an effort to present ethical values. The result of the study showed that Tafsir Ilmi was the one which was deductive-confirmatively implemented in the integration of religion and science. The pattern of religious and scientific integration had included theology as its basis in the Tafsir Ilmi, in which the theological side became central fusion of the Qur’anic text and the universe through the reading of tafsir and science. Metaphysical side was presented in order to bring the majesty of Allah SWT. The values of monotheism, science, and caliphs had an integral relationship and became instruments for the birth of the ethical values. Theological aspects and ethics looked thickly decorated in the pages of the Ilmi interpretation
Ritual Tolak Bala Pada Masyarakat Melayu (Kajian Pada Masyarakat Petalangan Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan) Hasbullah Hasbullah; Toyo Toyo; Awang Azman Awang Pawi
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2742

Abstract

Kajian ini berpijak dari adanya fenomena masih dilaksanakannya ritual tolak bala oleh masyarakat Petalangan, padahal mereka semuanya sudah beragama Islam. Ritual tolak bala merupakan salah satu bentuk sinkretisme agama, di mana dalam ritual tersebut dapat ditemukan unsur-unsur Islam, Hindu dan Budha, serta animisme dan dinamisme. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan tujuan dari pelaksanaan tolak bala, perpaduan Islam dalam ritual tolak bala, serta mengapa ritual ini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif. Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa ritual tolak bala dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan agar terhindar dari bencana, baik secara individu, masyarakat, maupun kampung. Ritual ini disebut juga dengan mengobati kampung. Unsur Islan ditambahkan sedemikian rupa dalam ritual ini yang dibungkus dengan cara kenduri tolak bala. Bertahannya ritual ini dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam serta rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, serta masih kuatnya hubungan psikologis masyarakat dengan alam sekitar

Page 1 of 1 | Total Record : 8