cover
Contact Name
Nur Rohim Yunus
Contact Email
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Phone
+6281384795000
Journal Mail Official
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Cita Hukum
ISSN : 23561440     EISSN : 2502230X     DOI : 10.15408
Jurnal Cita Hukum is an international journal published by the Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia. The focus is to provide readers with a better understanding of legal studies and present developments through the publication of articles, research reports, and book reviews. Jurnal Cita Hukum specializes in legal studies, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. It aims primarily to facilitate scholarly and professional discussions over current developments on legal issues in Indonesia as well as to publish innovative legal researches concerning Indonesian laws and legal system. Published exclusively in English, the Review seeks to expand the boundaries of Indonesian legal discourses to access English-speaking contributors and readers all over the world. The Review, hence, welcomes contributions from international legal scholars and professionals as well as from representatives of courts, executive authorities, and agencies of development cooperation. The review basically contains any topics concerning Indonesian laws and legal system. Novelty and recency of issues, however, is a priority in publishing. The range of contents covered by the Review spans from established legal scholarships and fields of law such as private laws and public laws which include constitutional and administrative law as well as criminal law, international laws concerning Indonesia, to various approaches to legal studies such as comparative law, law and economics, sociology of law and legal anthropology, and many others. Specialized legal studies concerning various aspects of life such as commercial and business laws, technology law, natural resources law and the like are also welcomed.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 737 Documents
Perjanjian Berbahasa Asing yang Dibuat Oleh Notaris Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris Aliya Sandra Dewi
Jurnal Cita Hukum Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i1.2922

Abstract

Perjanjian Berbahasa Asing yang Dibuat Notaris Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004. Posisi notaris sebagai fungsionaris dalam masyarakat dianggap sebagai tempat resmi yang dapat memperoleh saran. Segala sesuatu yang ditulis dan ditetapkan sudah benar dan pejabat produsen resmi dalam dokumen kekuatan hukum, khususnya dokumen yang berkaitan dengan kontrak yang terjadi di masyarakat. Dengan perkembangan hubungan antara subjek hukum warga negara yang berbeda untuk membuat perjanjian dalam bahasa asing selalu digunakan antara pihak-pihak yang memilikin perbedaan karena perbedaan bahasa kewarganegaraan.DOI:10.15408/jch.v1i1.2922
Filling the Position of Constitutional Court Judge and its Corraletion With the Independence of Judges (Comparative Study of Some Countries) M Beni Kurniawan
Jurnal Cita Hukum Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v6i2.4739

Abstract

Abstract.This article explains how to fill the position of judges of the Constitutional Court in Indonesia by comparing the mechanism of filling the office of judges of the Constitutional Court in several countries in the world. This study also conducted a study on the correlation of filling the position of judges of the Constitutional Court with the independence of judges of the Constitutional Court in carrying out its functions and authority. This article concludes that there are three ways of recruitment of constitutional judges applicable in some countries. First mentioned, the single body mechanism, the appointment mechanism, the executive may determine all members of the Constitutional Court without further supervision by the legislative branch. Second, cooperative appointment mechanisms model; the appointment of this model calls for cooperation between institutions in determining the composition of a court or similar organ. Third is a representative reproduction model, this model involves a number of state institutions. For example, in Italy three of the nine constitutional justices are filed by the President, three by parliament, and three by the Supreme Court.Keywords: Filling the Position of Judge of the Constitutional Court, Independence, Comparison Abstrak. Artikel ini menjelaskan bagaimana pengisian jabatan hakim Mahkamah Konsitutisi di Indonesia dengan melakukan perbandingan terhadap mekanisme pengisian jabatan hakim Mahkamah Konsitutisi di beberapa negara di dunia. Penelitian ini juga melakukan studi terhadap korelasi pengisian jabatan hakim Mahkamah Konstitusi dengan Independensi hakim Mahkamah Konstitusi dalam menjalankan fungsi dan wewenangnya. Artikel ini menyimpulkan bahwa ada tiga cara rekruitmen hakim konstitusi yang berlaku di beberapa negara. Pertama disebut, single body mechanism, mekanisme pengangkatan ini, eksekutif dapat menentukan seluruh anggota Mahkamah Konstitusi tanpa pengawasan lebih lanjut oleh cabang legislatif. Kedua, model cooperative appointment mechanisms; pengangkatan model ini menghendaki kerja sama di antara lembaga-lembaga dalam menentukan komposisi mahkamah atau organ sejenisnya.  Ketiga, adalah model pengankatan representative, model ini melibatkan sejumlah lembaga negara. Sebagai contoh di Italia tiga dari Sembilan hakim konstitusi diajukan oleh Presiden, tiga oleh parlemen, dan tiga oleh Mahkamah Agung.  Kata kunci: Pengisian Jabatan Hakim MK, Independensi, Perbandingan 
Penguatan Fungsi Pengawasan DPR Melalui Perubahan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1954 Tentang Hak Angket Fitria Fitria
Jurnal Cita Hukum Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i1.1451

Abstract

Abstract: Strenghtening DPR’s Oversight Rights Through Out the Revision of Act No. 10 Year 1954 on Oversight Rights. Oversight right owned by the DPR is aimed to bring its function to be more effective. However, the implementation of this right is still on question since   the result of the oversight rights is placed in the "gray" area. This right is equipped with subpoena rights. But in contrary, the result of an inquiry is categorized appropriately as a “political product” because it can’t   force the government to obey it. To that end, it is important to study the rules on oversight right, so that in the future, the right of inquiry may be used as truly monitoring instruments, leading to control the other branches of power. Abstrak: Penguatan Fungsi Pengawasan DPR melalui Perubahan UndangUndang No. 10 tahun 1954 Tentang Hak angket. Kewenangan Hak angket yang dimiliki oleh DPR tidak lepas dari harapan DPR menjalankan pengawasan yang lebih efektif. Namun, Hak angket selama ini berada pada wilayah “abu-abu”, proses angket dilengkapi dengan hak subpoena1 sebagaimana proses hukum di pengadilan. Namun produk keputusan hak angket merupakan produk politik karena dianggap tidak memiliki daya ikat secara yuridis bagi penegak hukum. Akibatnya, hasil angket yang ada selama ini, termasuk hasil angket pansus century, seolah“sia-sia” karena tidak memiliki implikasi yang berarti bagi pemerintah. Untuk itu, meninjau ulang peraturan yang menjadi dasar digunakan hak ini menjadi sebuah keharusan, agar kedepan, hak angket dapat menjadi instrumen pengawasan yang sebenarnya, yaitu kontrol bagi cabang kekuasaan yang lain DOI: 10.15408/jch.v1i1.1451
Penilaian Kinerja Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia Dengan Metode Total Quality Management (TQM) Yuke Rahmawati
Jurnal Cita Hukum Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v4i2.3671

Abstract

Abstract: The existence and development of the capital markets can not be separated from the tidal existing problems, both managerial and management of transactions related to capital market investment. Infringement cases and disputes that occur are oftenresolved, either through Bapepam LK and through the Indonesian Capital Market Arbitration Board. Fraud risk, interest rate, breach of contract, misappropriation or embezzlement of funds is a problem that often arises in capital market transactions. FSAprovides two authorities on BAPMI, the first; authority is a consumer protection and public capital markets and, secondly; receipt of the notification to the implementation of the Arbitration Award. TQM is used in measuring the performance of BAPMI provide a preliminary picture that its existence can encourage security level of capital market transactions to be better for the development of capital markets in Indonesia.  Abstrak: Keberadaan dan perkembangan pasar modal tidak terlepas dari pasang surut permasalahan yang ada, baik yang bersifat pengelolaan secara manajerial maupun yang terkait dengan berbagai transaksi investasi pasar modal. Kasus pelanggaran dan sengketa yang terjadi seringkali terselesaikan, baik melalui Bapepam LK maupun melalui Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia. Risiko kecurangan, tingkat suku bunga, wanprestasi, penyelewengan dan atau penggelapan dana adalah diantara permasalahan yang sering muncul di dalam transaksi pasar modal. OJK memberikan dua kewenangan pada BAPMI, yakni pertama; kewenangan adalah perlindungan terhadap konsumen pasar modal dan masyarakat dan, kedua; adalah penerimaan notifikasi jika ada pihak dalam sengketa tidak melaksanakan Putusan Arbitrase. TQM yang digunakan peneliti dalam mengukur kinerja BAPMI memberikan gambaran awal bahwa eksistensinya dapat mendorong tingkat keamanan transaksi pasar modal menjadi lebih baik untuk perkembangan pasar modal itu sendiri di Indonesia. DOI : 10.15408/jch.v4i2.3671
Upaya Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Menangani Kasus Korupsi Gayus Halomoan P Tambunan Siti Salimah
Jurnal Cita Hukum Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i2.2999

Abstract

Abstract: Commission of Eradication Corruption Efforts in Handling Gayus Tambunan”s Corruption Case. Law enforcement on Corruption Case has drived public attention, one of these case is Gayus Tambunan’s case. From that case, it is clearly seen that corruption can be done collectively within an institution that protect this criminal act. This case also implicated law enforcer who supposed to be a front liner in combating corruption case. In contrary, Law enforcer has made this case even harder to be resolved. Finally, the corruption is an extra ordinary crime which is conducted in organised and systematic by the white collar crime. Abstrak: Upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dalam Menangani Kasus Korupsi Gayus Tambunan. Penegakan terhadap kasus korupsi menjadi sesuatu yang banyak mencuri perhatian di masyarakat luas. Hal ini terlihat dari mencuatnya pengungkapan kasus korupsi pajak yang didalangi oleh Gayus Tambunan. Dari kasus tersebut, dapat terlihat secara jelas bagaimana praktik korupsi dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah organisasi yang melindungi praktik tersebut. Kasus ini sangat menarik karena tidak dilakukan oleh satu orang saja tetapi dilakukan oleh para penegak hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi. Anehnya adalah jalinan organisasi ini terus ditutup-tutupi oleh penegak hukum sendiri sehingga sangat sulit untuk dibongkar. Akhirnya, korupsi adalah kejahatan yang luar biasa dan dilakukan secara terorganisir dan sistematis oleh para pelaku kerah putih. DOI: 10.15408/jch.v1i2.2999
Judicial Reform and Democratic Consolidation in Indonesia Ibnu Sina Chandranegara; Syaiful Bakhri; Muhammad Ali
Jurnal Cita Hukum Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v7i3.12228

Abstract

AbstractConstitutional Reform after fall of Soeharto’s New Order bring favorable direction for judiciary. Constitutional guarantee of judicial independence as regulated in Art 24 (1) of the 1945 Constitution, closing dark memories in the past. In addition, in Art 24 (2) of the 1945 Constitution decide the Judiciary is held by the Supreme Court and the judicial bodies below and a Constitutional Court. Such a strict direction of regulation plus the transformation of the political system in a democratic direction should bring about the implementation of the independent and autonomous judiciary. But in reality, even though in a democratic political system and constitutional arrangement affirms the guarantee of independence, but it doesn’t represent the actual situation. There some problem which still remains, such as (i) the absence of a permanent format regarding the institutional relationship between the Supreme Court, the Constitutional Court and Judicial Commission, and (ii) still many efforts to weaken judiciary through many ways such criminalization of judge. Referring to the problem above, then there are gaps between what “is” and what “ought”, among others, First, by changes political configuration that tend to be more democratic, the judiciary should be more autonomous. But in reality, various problems arise such as (i) disharmony in regulating the pattern of relations between judicial power actors, (ii) various attempts to criminalize judges over their decisions, (iii) judicial corruption. Second, by the constitutional guarantee of the independence of the judiciary, there will be no legislation which reduced constitutional guarantee. But in reality, many legislation or regulations that still not in line with a constitutional guarantee concerning judicial independence. This paper reviews and describes in-depth about how to implement constitutional guarantees of judicial independence under democratic consolidation after fall of new order and conceptualize its order to strengthening rule of law in IndonesiaKeyword: Judicial Reform, Judicial Independence, Judicial Accountability, Democratic Consolidation AbstrakPerubahan UUD 1945 membawa arah yang menguntungkan bagi cabang kekuasaan kehakiman di Indonesia. Penjaminan kemerdekaan kekuasaan kehakiman sebagaimana diatur dalam Pasal 24 (1) UUD 1945 seperti menutup ingatan kelam di masa lalu. Selain itu, dalam Pasal 24 (2) UUD 1945 yang menentukan kekuasaan kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan badan-badan peradilan di bawahnya  dan Mahkamah Konstitusi. Dengan dasar ini, tidak ada landasan hukum sedikitpun bagi Presiden atau DPR untuk mengintervensi cabang kekuasaan kehakiman. Tetapi dalam kenyataannya, meskipun dalam sistem politik yang demokratis dan pengaturan konstitusional menegaskan jaminan kemerdekaan namun kenyataannya tidak mewakili situasi aktual. Terdapat beberapa masalah yang masih tersisa, seperti (i) tidak adanya format permanen mengenai hubungan kelembagaan antara Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial, (ii) masih banyak upaya untuk melemahkan peradilan melalui banyak cara kriminalisasi hakim. Mengacu pada masalah di atas, maka ada kesenjangan antara apa yang senyatanya dan apa yang seharusnya antara lain, Pertama, perubahan konfigurasi politik yang cenderung lebih demokratis, kekuasaan kehakiman harus lebih otonom. Namun dalam kenyataannya, berbagai masalah muncul seperti (i) ketidakharmonisan dalam mengatur pola hubungan antara aktor kekuasaan Kehakiman, (ii) berbagai upaya untuk mengkriminalkan hakim atas keputusan mereka, (iii) berkembangnya praktek mafia peradilan. Kedua, dengan jaminan kemerdekaan kekuasaan kehakiman, seharusnya tidak akan ada undang-undang yang mengurangi jaminan kemerdekaan kekuasaan kehakiman. Namun pada kenyataannya, banyak peraturan perundang-undangan yang masih belum sejalan dengan jaminan konstitusional mengenai kemerdekaan kekuasaan kehakiman. Makalah ini bermaksud menguraikan secara mendalam tentang bagaimana menerapkan jaminan konstitusional atas kemerdekaan kekuasaan kehakiman dalam masa konsolidasi demokrasi pasca jatuhnya orde baru dan mengkonseptualisasikan agenda reformasi peradilan untuk memperkuat supremasi hukum di IndonesiaKeyword: Reformasi peradilan, kemerdekaan kekuasaan kehakiman, reformasi peradilan, konsolidasi reformasi АннотацияКонституционная реформа после падения Нового Порядка (New Order) Сухарто дала благоприятное направление для судебной власти. Конституционная гарантия на независимость судебной власти, регулируемая статьей 24 (1) Конституции 1945 года, позволяет оставить мрачные воспоминания в прошлом. Кроме того, в статье 24 (2) Конституции 1945 года определено, что судебная власть находится в ведении Верховного Суда, нижестоящих судебных органов и Конституционного Суда. Такие строгие нормативные директивы в сочетании с трансформацией политической системы в демократическом направлении должны привести к созданию независимой и автономной судебной власти. Но на самом деле, хотя в демократической политической системе и конституционных механизмах закрепляется гарантия независимости, онa не отражает реальную ситуацию. Существует ряд нерешенных вопросов, таких как (i) отсутствие постоянного формата об институциональных отношениях между Верховным Судом, Конституционным Судом и Судебной Комиссией, и (ii) по-прежнему предпринимаются многочисленные попытки ослабить судебную власть многими средствами, такими как криминализация судей. Ссылаясь на вышеупомянутую проблему, существует разрыв между тем, что «есть» и что «должно быть», среди прочего: во-первых, изменяя политические конфигурации, которые имеют тенденцию быть более демократичными, судебная власть должна быть более автономной. Во-вторых, с конституционной гарантией на независимость судебной власти не будет закона, который ограничивал бы конституционные гарантии. В этой статье рассматривается и подробно объясняется, как реализовать конституционные гарантии независимости судебной власти после политического преобразования и концептуализировать его порядок для укрепления верховенства закона в Индонезии.Ключевые слова: независимость судебной власти, судебная ответственность, судебная реформа
Arah Perubahan Sistem Pemilu Dalam Undang-Undang Politik Pasca Reformasi (Usulan Perubahan Sistem Pemilu Dalam Undang-Undang Politik Pasca Reformasi) Masyrofah .
Jurnal Cita Hukum Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i2.2988

Abstract

The change of Election System in Act related to Politics After Reformation. Elections which were conducted after the reformation: 1999, 2004 and 2009.In order to regulate Election, Act Number 3 Year 1999, Act Number 12 Year 2003 and Act Number 10 Year 2008 were promulgated. There were significant changes in terms of realization of election, election participants, and nomination s of member of House of Regional Representative, House of Representative and House of Council. In addition, there was also substantial change on the 30 percents Quota For Female nominated Member of Parliament.  DOI: 10.15408/jch.v1i2.2988
A Comparative Study of Gay and Lesbian Movement in Indonesia and America for the Struggle of Equality Recognition Aprilina Pawestri; Supanto Supanto; Isharyanto Isharyanto
Jurnal Cita Hukum Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v7i2.12012

Abstract

Abstract:Studies of sexual orientation or sexual behavior in homosexual groups have been carried out from various aspects, such as religion, health, psychology, philosophy, anthropology, and law. This paper aims both on conducting studies of sexual orientation in gays and lesbians, and also in its movement. This study focuses on the comparison by discussing the history of the entry of gays and lesbians in America first. United State has made policy with the granting of same-sex marriage rights through the 2015 Obergefell Supreme Court ruling; hence, the rejection of same-sex marriage was unconstitutional action. Churches also dare to facilitate the process of same-sex marriage, by reason of following state decisions. The LGBT movement especially gays as a pioneer called the Gay Liberation Movement has a strong influence in America in fighting for equality, and has a big contribution to the granting of the right to same-sex marriage. This right is also supplemented by adoption rights. If this condition is compared to Indonesia which has lots of similar movement and becomes one of the biggest movements in Southeast Asia, in contrast, the majority of people reject the status. Meanwhile, gays and lesbians demand on the basis of human rights protection. Related to this condition, Indonesia has different views on human rights values. Human rights have universal principles, yet the actualization of human rights can be particular. Indonesia could be like America, if there are no regulations and restrictions on gay and lesbian individuals with differences in their sexual orientation, including the and lesbian movements.Keywords: Movement, Gay, Lesbian, United State, Equality Recognition Abstrak:Kajian tentang orientasi seksual ataupun perilaku seksual pada kelompok homoseksual telah banyak dilakukan dari berbagai aspek, baik aspek agama, kesehatan, psikologi, filsafat, antropologi ataupun hukum. Tulisan ini selain melakukan kajian tentang orientasi seksual pada gay dan lesbian, namun juga pada gerakan gay dan lesbian yang terorganisir. Kajian tentang gerakan gay dan lesbian ini menitikberatkan pada perbandingan dengan terlebih dahulu membahas tentang sejarah masuknya gay dan lesbian di Amerika. Amerika membuat kebijakan dengan dikabulkannya hak pernikahan sesama jenis melalui putusan Mahkamah Agung Obergefell tahun 2015, sehingga tindakan penolakan atas pernikahan sesama jenis merupakan perbuatan inkonstitusional. Gereja-gereja pun berani memfasilitasi proses pernikahan sesama jenis, dengan alasan mengikuti keputusan negara. Gerakan LGBT khususnya gay sebagai pelopor yaitu Gay Liberation Movement memiliki pengaruh yang kuat di Amerika dalam memperjuangkan kesetaraan dan memiliki andil besar atas dikabulkannya hak atas pernikahan sejenis. Hak ini dilengkapi pula dengan hak adopsi. Jika kondisi ini dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki banyak gerakan serupa, bahkan menjadi salah satu gerakan terbesar di Asia Tenggara, namun mayoritas masyarakat menolaknya, sedangkan kaum gay dan lesbian menuntut atas dasar perlindungan Hak Asasi Manusia. Tentunya pada peristiwa yang sama Indonesia berbeda pandangan terhadap nilai-nilai HAM. HAM memiliki prinsip universal, namun aktulisasi HAM dapat menjadi partikular. Indonesia bisa menjadi seperti Amerika, jika tidak ada pengaturan dan pembatasan atas individu-individu gay dan lesbian dengan perbedaan orientasi seksual mereka, termasuk pada gerakan gay dan lesbian.Kata Kunci: Gerakan, Gay, Lesbian, Amerika, Pengakuan Kesetaraan Аннотация:Исследования сексуальных наклонностей или сексуального поведения в гомосексуальных группах проводились в различных аспектах, включая аспекты религии, здоровья, психологии, философии, антропологии или права. Данная статья не только проводит исследования сексуальных наклонностей геев и лесбиянок, а также их организованных движений. Данное исследование движений геев и лесбиянок фокусируется на сравнении, начиная с обсуждения истории появления геев и лесбиянок в Америке. Америка провела политику по предоставлению прав на однополые браки на основании решения Верховного суда Обергефелла 2015 года, поэтому отказ от однополых браков является неконституционным действием. Движение ЛГБТ, особенно гей-движение, как пионер Освободительного Движения Геев и Лесбиянок (GayLiberationMovement) оказывает сильное влияние в Америке на борьбу за равенство и играет большую роль в предоставлении прав на однополые браки. Если сравнивать это состояние с ситуацией в Индонезии, в которой есть много подобных движений, то большинство людей их отвергают, в то время как геи и лесбиянки требуют защиту на основе прав человека. Конечно, люди в Индонезии имеют разные идеи о ценностях прав человека. Индонезия может стать такой же страной, как США, если не будет распоряжений и ограничений перед личностям геев и лесбиянок с разными сексуальными наклонностями, включая движения геев и лесбиянок.Ключевые Слова: движения, гей, лесбиянкa, США, признание равенства
Scope of State Responsibility Against Terrorism in International Law Perspective; Indonesian Cases Dian Purwaningrum Soemitro; Indra Wahyu Pratama
Jurnal Cita Hukum Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v2i1.1841

Abstract

Abstract: Scope of State Responsibility Against Terrorism in International Law Perspective; Indonesian Cases. The emergence of global terrorism cases within more than a decade, marked by the tragedy of 9/11, making the issue of it being a big problem. The State as one of the subjects of International Law, into the spotlight. One of the problems that developed was the extent of the responsibility of the State towards acts of terrorism that occurred in the region of his sovereignty, which caused casualties both its own citizens or foreign nationals. In the case of terrorism that happened in Indonesia, the State's responsibility to the International Conventions implementation are very insufficient and the efforts from the country by creating a system of criminal justice to the criminal offence of terrorism has not been a maximum. There should be an obligation of the internationally imposed on it. The problem is if the terrorism was occurred will be submitted to the International Law are likely to be open to foreigners intervention. This is of course contrary to the principles of International Law. However, in the development of International Law as it has evolved in the Principle of the Responsibility to Protect and that should be accepted by any countries in order to attract the embodiment of the country against the security and Human Rights Abstrak: Lingkup Pertanggungjawaban Negara Terhadap Terorisme dalam Perspektif Hukum Internasional pada Kasus Indonesia. Munculnya kasus terorisme global dalam satu dekade, ditandai dengan tragedi 9/11 yang menjadi masalah besar. Salah satu masalah yang berkembang adalah sejauh mana tanggung jawab negara terhadap aksi terorisme yang terjadi di wilayah kedaulatannya, yang menyebabkan timbulnya korban, baik warga negaranya sendiri atau warga negara asing. Dalam kasus terorisme yang terjadi di Indonesia, pertanggungjawaban negara terlihat dalam pelaksanaan Konvensi Internasional dan upaya menciptakan sistem peradilan pidana bagi pelaku tindak pidana terorisme. Jika permasalahan terorisme diserahkan kepada Hukum Internasional, maka cenderung akan membuka intervensi asing. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip-prinsip Hukum Internasional. Namun, dalam perkembangan Hukum Internasional telah berevolusi dalam Prinsip Tanggung Jawab untuk melindungi, selain adanya keharusan setiap negara untuk menjaga keamanan dan Hak Asasi Manusia  DOI: 10.15408/jch.v2i1.1841
Presidential Threshold Between the Threshold of Candidacy and Threshold of Electability Suparto Suparto
Jurnal Cita Hukum Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v6i1.4414

Abstract

Abstract. In judicial review on Article 9 of Law Number 42 of 2008 on The Election of President and Vice-President which regulates Presidential threshold, the Constitutional Court refused on the grounds that it is an open legal policy which mandated by Article 6 paragraph (5) of the 1945 Constitution that the administration of the election of President and Vice-President will be further regulated in a Law. This reasoning is insufficient because Article 6 paragraph (5) regulates procedures (phases of the process), not requirements for candidates of President and Vice President to be eligible on participating in the election. Moreover Article 9 of Law Number 42 of 2008 has the potential to expand the norms as stipulated in Article 6A paragraph (2) of the 1945 Constitution that the candidates for President and Vice President shall be nominated by a political party or coalition of political parties participating in the election before the election without any other frills (the threshold). Keywords: Presidential Election, Presidential Threshold  Abstrak. Dalam pengujian Pasal 9 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden mengatur tentang Presidential threshold. Mahkamah Konstitusi menolak dengan alasan hal tersebut merupakan open legal policy dengan bersandarkan pada Pasal 6 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa tata laksana pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden lebih lanjut diatur dalam Undang-Undang. Argumentasi tersebut kurang tepat karena Pasal 6 ayat (5) mengatur tata laksananya (proses tahapan pelaksanaan) bukan persyaratan bagi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden untuk menjadi peserta pemilu. Selain itu, Pasal 9 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tersebut berpotensi memperluas norma sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6A ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik  peserta pemilu sebelum pemilu  tanpa adanya embel-embel lain (adanya ambang batas).Kata kunci: Pemilu Presiden, Presidential Threshold.

Page 11 of 74 | Total Record : 737