cover
Contact Name
Nur Rohim Yunus
Contact Email
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Phone
+6281384795000
Journal Mail Official
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Cita Hukum
ISSN : 23561440     EISSN : 2502230X     DOI : 10.15408
Jurnal Cita Hukum is an international journal published by the Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia. The focus is to provide readers with a better understanding of legal studies and present developments through the publication of articles, research reports, and book reviews. Jurnal Cita Hukum specializes in legal studies, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. It aims primarily to facilitate scholarly and professional discussions over current developments on legal issues in Indonesia as well as to publish innovative legal researches concerning Indonesian laws and legal system. Published exclusively in English, the Review seeks to expand the boundaries of Indonesian legal discourses to access English-speaking contributors and readers all over the world. The Review, hence, welcomes contributions from international legal scholars and professionals as well as from representatives of courts, executive authorities, and agencies of development cooperation. The review basically contains any topics concerning Indonesian laws and legal system. Novelty and recency of issues, however, is a priority in publishing. The range of contents covered by the Review spans from established legal scholarships and fields of law such as private laws and public laws which include constitutional and administrative law as well as criminal law, international laws concerning Indonesia, to various approaches to legal studies such as comparative law, law and economics, sociology of law and legal anthropology, and many others. Specialized legal studies concerning various aspects of life such as commercial and business laws, technology law, natural resources law and the like are also welcomed.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 737 Documents
Shift of Criminal Acts of Copyrights to the Direction of Civil Dispute (Review of Article 95 Paragraph (4) of Law Number 28 Year 2014 on Copyright) Sufiarina Sufiarina
Jurnal Cita Hukum Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v5i1.6581

Abstract

This article conducted a study about the obligation of mediation as a precondition for copyright infringement based on article 95 paragraphs (4) of the Law Number 28 of 2014 concerning Copyright. Mediation provisions in the Laws Number 30 of 1999 on Arbitration is a way of settlement of civil disputes outside the court to reach a settlement by consensus with the help of a mediator. While mediation is based on the supreme court  rule number 1 of 2008 is intended as an obligation for judges at first instance in the district courts and religious courts in the settlement dispute resolution is the authority of commercial courts as special courts general judicial. But the commercial court does not apply the obligations mediation. A study conducted by the approach of the laws and regulations. By considering the crime of copyright as higly relevant to a complaint mediation prior obligations imposed as a condition of doing criminal charges. Article 95 paragraph 4 of the law number  28 of 2014 on copyright, which requires the completion of  mediation prior to file criminal charges has brought about a shift in the field of copyright criminal offenses into civil disputes. Thus the obligation of mediation in the settlement of copyright disputes is not only necessary for a criminal offense, but also expanded as a condition for completion in litigation in the commercial courts. Artikel ini melakukan kajian terhadap kewajiban mediasi sebagai syarat untuk melakukan tuntutan pidana atas pelanggaran hak cipta berdasarkan Pasal 95 ayat (4) UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Ketentuan mediasi dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase merupakan cara penyelesaian sengketa perdata di luar pengadilan untuk mencapai penyelesaian secara musyawarah mufakat dengan bantuan mediator. Sedangkan mediasi berdasarkan Perma No.1 tahun 2008, ditujukan sebagai kewajiban bagi hakim pada pengadilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama dalam rangka penyelesaian sengketa keperdataan. Penyelesaian sengketa hak cipta merupakan kewenangan Pengadilan Niaga, sebagai pengadilan khusus di lingkungan peradilan umum. Namun di Pengadilan Niaga tidaklah berlaku kewajiban mediasi. Kajian dilakukan dengan pendekatan peraturan perundang-undangan (statuta aproacht). Dengan mengingat tindak pidana hak cipta sebagai delik aduan sangatlah relevan dibebankan kewajiban mediasi terlebih dahulu sebagai syarat melakukan tuntutan pidana. Pasal 95 ayat (4) UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang mensyaratkan penyelesaian mediasi terlebih dahulu untuk mengajukan tuntutan pidana, telah membawa konsekuensi pergeseran tindak pidana bidang hak cipta menjadi sengketa keperdataan. Dengan demikian kewajiban mediasi dalam penyelesaian sengketa hak cipta (HKI) tidak hanya diperlakukan bagi tindak pidana saja namun juga diperluas sebagai syarat untuk penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Niaga. DOI: 10.15408/jch.v5i1.6581
Pengadilan Khusus KDRT “Implementasi Gagasan Sistem Peradilan Pidana Terpadu Penanganan Kasus-Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (SPPT-PKKTP)” Muhammad Ishar Helmi
Jurnal Cita Hukum Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i2.1471

Abstract

Abstract: Court For Domestic violence. Court For Domestic violence is a new idea of the Integrated Criminal Justice System Handling Cases of Violence Against Women (SPPT- PKKTP) to provide justice to the victims of domestic violence, especially women. Given the complexity of issues related to domestic violence led to the need for this institution was formed. Act No. 23 of 2004 on the Elimination of Violence Against Domestic generally can back up women in getting their legal rights, but the implementation of the Act turns instead of criminalizing women victims of violence, especially because law enforcement officials do not consider the relationship between husband, wife and children, in applying this Act. As a result, women victims of violence do not get their rights. Abstrak: Pengadilan Khusus KDRT. Pengadilan Khusus Kekerasaan Dalam Rumah Tangga merupakan sebuah gagasan baru dari Sistem Peradilan Pidana Terpadu Penanganan Kasus-Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (SPPTPKKTP) dalam memberikan keadilan kepada para korban kekerasan dalam rumah tangga khususnya perempuan. Adanya kompleksitas permasalahan terkait kekerasan dalam rumah tangga menyebabkan perlunya lembaga ini dibentuk. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Terhadap Rumah Tangga yang secara umum dapat memback up kaum perempuan dalam mendapatkan hak-hak hukumnya, namun dalam implementasinya ternyata undang-undang tersebut justru mengkriminalisasi perempuan korban kekerasan, terutama karena aparat penegak hukum tidak mempertimbangkan hubungan antara suami, istri dan anak, dalam menerapkan undang-undang ini. Akibatnya, perempuan korban kekerasan tidak mendapatkan hak-haknya.  DOI: 10.15408/jch.v1i2.1471
Politik Hukum Dalam Kebijakan Hukum Pidana LGBT Iqbal Kamalludin; Hirda Rahma; Aldila Arumita Sari; Pujiyono Pujiyono
Jurnal Cita Hukum Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v6i2.7805

Abstract

Abstract.The development of the times turned out not to always be able to achieve goals in improving the moral of society. Evidenced by the increasing number of crimes of morality, especially in terms of sexual orientation deviations. Even though it is true that LGBT people are not to be shunned, their sexual orientation is deviant, directly or indirectly can have a negative effect on the wider community. This is a job for all aspects of society in overcoming LGBT. Deviations from noble values must be overcome by returning them to the legal ideals of the nation, Pancasila. In order not to conflict with human rights, regulation of LGBT is required to be a reflection of the legal ideals contained in each of the precepts in Pancasila.Keywords: Legal Politics, LGBT, PancasilaAbstrak. Perkembangan zaman ternyata tidak selalu dapat mencapai tujuan dalam perbaikan moral masyarakat. Terbukti dengan makin banyaknya kejahatan moralitas, terutama dalam hal peyimpangan orientasi seksual. Sekalipun memang benar bahwa kaum LGBT tidak untuk dijauhi, namun orientasi seksualnya yang menyimpang, secara langsung maupun tidak dapat berpengaruh negatif bagi masyarakat luas. Hal ini merupakan pekerjaan bagi seluruh aspek masyarakat dalam menanggulangi LGBT. Penyimpangan nilai-nilai luhur harus disiasati dengan mengembalikannya kembali kepada cita hukum bangsa yaitu Pancasila. Agar tidak bertentangan dengan HAM, pengaturan tentang LGBT diharuskan merupakan cerminan dari nilai-nilai cita hukum yang terkandung didalamnya setiap sila dalam Pancasila.Kata Kunci : Politik Hukum, LGBT, Pancasila.
Investigating the Injuries of Murder in Prohibition in Iranian Laws Jahangir Mirmohamadi; Hamidreza Adabi
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.15041

Abstract

AbstractThe issue of murder in marriage is regulated in Article 179 of the Criminal Code before the revolution originated in Article 324 of the French Criminal Code, and was previously reflected in Article 630 of the Islamic Criminal Code after the amendment in 1996. This problem has been criticized in terms of jurisprudence and validity. Deficiencies appear to be seen as weaknesses of a legitimate defense theory as a justified basis for verdicts, weaknesses in jurisprudence, and opportunities for misuse of sanctions for murder in marriage. Most of the objections are caused by; First, the lack of attention to place the problem into the realm of legal certainty, not the realm of proof, and second: the lack of careful analysis of the principles of jurisprudence and only refers to the views of some legal experts. This study uses a qualitative research method with the statutory approach. The results of the study stated that murder in marriage is relative in terms of defense and deserves the death penalty. In this study, the authors examined the damage to victims, the views of well-known legal experts, and an analysis of Iran's statute law with an analytical approach.Keywords: Damage, murder in marriage, statutory regulations AbstrakMasalah pembunuhan di dalam perkawinan diatur dalam Pasal 179 KUHP sebelum revolusi berasal dari Pasal 324 dari KUHP Perancis, dan sebelumnya tercermin dalam Pasal 630 KUHP Islam setelah perubahan pada tahun 1996. Masalah ini, mengalami kritik dalam hal yurisprudensi dan validitas. Kekurangan tampak terlihat seperti kelemahan teori pertahanan yang sah sebagai dasar yang dibenarkan untuk vonis, kelemahan yurisprudensi, dan peluang penyalahgunaan sanksi pembunuhan di dalam perkawinan. Sebagian besar keberatan  disebabkan oleh; Pertama, kurangnya perhatian untuk menempatkan masalah ke ranah kepastian hukum, bukan ranah pembuktian, dan kedua: kurangnya kecermatan analisis pada prinsip-prinsip yurisprudensi dan hanya merujuk kepada pandangan beberapa ahli hukum saja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menyatakan bahwa pembunuhan di dalam pernikahan bersifat relatif dalam hal pembelaan dan layak mendapatkan hukuman mati. Dalam penelitian ini, penulis melakukan pemeriksaan pada kerusakan korban, pandangan terkenal para ahli hukum, dan analisis pada hukum statuta Iran dengan pendekatan analitis.Kata kunci: Kerusakan, pembunuhan di dalam nikah, peraturan perundang-undang АннотацияПроблема убийства в браке регулируется статьей 179 Уголовного кодекса до революции, возникшей в статье 324 Уголовного кодекса Франции, и ранее была отражена в статье 630 Исламского уголовного кодекса после внесения поправки в 1996 году. Эта проблема подвергнута критике с точки зрения юриспруденции и обоснованности. Недостатки, по-видимому, рассматриваются как слабые стороны законной теории защиты в качестве оправданной основы для вынесения вердиктов, слабые стороны в юриспруденции и возможности неправильного применения санкций за убийство в браке. Большинство претензий вызваны: во-первых, недостаточным вниманием, чтобы поместить проблему в область юридической однозначности, а не в область доказывания; во-вторых: недостаточным тщательным анализом принципов юриспруденции и отношением только к мнениям некоторых судебных экспертов. В данном исследовании используется качественный метод исследования с законодательным подходом. Результаты исследования показали, что убийство в браке является относительным с точки зрения защиты и заслуживает смертной казни. В этом исследовании авторы провели расследование ущерба, нанесенного жертвам, мнения известных судебных экспертов и анализ статутного права Ирана с аналитическим подходом.Ключевые слова: Ущерб, Убийство в браке, Законодательные нормативно-правовые акты
Strategi Politik-Hukum Meningkatkan Kualitas Kinerja DPR Ri Dalam Produktivitas Legislasi Nasional Agus Riswanto
Jurnal Cita Hukum Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v4i2.4140

Abstract

ABSTRACT: This study examines and learn more on the need to improve the functioning of the House of Representatives (DPR RI) in national legislation. The main problem of the functions of Parliament in every period of the membership of Parliament from 2005-2016 year is the low productivity performance of the Parliament in legislation. This research is a normative law (legal research) or doctrinal explorative research-analysis. The data used is secondary data, in the form of material and the primary law and secondary law. The results showed the main causes of poor quality of legislation the DPR RI because of the extreme multiparty, Parliament favored the performance of supervisory functions in the executive and member of Parliament in the discipline in the use of his time. The legal policy  strategy to improve the productivity of legislation DPR RI is, change the course of politics from the agent/delegete to the trustee, eliminating the function of the fraction DPR RI, balancing the role and function of DPR RI and DPD RI,  accommodate veto the president, increasing public participation, and streamline costs in making law.   ABSTRAK Penelitian ini mengkaji dan mendalami tentang perlunya DPR RI meningkatkan fungsi legislasi nasional.  Problem utama fungsi DPR dalam setiap periode keanggotaan DPR dari tahun 2005-2016 adalah rendahnya kinerja DPR dalam produktivitas legislasi. Penelitian ini merupakan  penelitian hukum normatif (legal research) atau penelitian doktrinal yang bersifat eksploratif-analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa bahan hukum primer dan dan bahan hukum sekunder. Hasil penelitian menunjukan penyebab utama rendahnya kualitas produk legislasi DPR karena faktor multipartai ekstrim, DPR lebih mengutamakan pada fungsi kinerja pengawasan pada eksekutif dan rendahnya disiplin anggota DPR dalam memanfaatkan waktunya. Adapun strategi politik-hukum untuk meningkatkan kualitas produktifitas legislasi DPR adalah, mengubah haluan politik dari agent/delegete ke trustee, menghilangkan fungsi fraksi di DPR RI, menyeimbangkan peran dan fungsi DPR RI dengan DPD RI, mengakomodasi hak veto pada presiden,  meningkatkan partisipasi publik, dan mengefektifkan biaya dalam pembuatan undang-undang.  DOI: 10.15408/jch.v4i2.4140
Tindak Pidana Korupsi Sebagai Kejahatan Korporasi Burhanudin Burhanudin
Jurnal Cita Hukum Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i1.2981

Abstract

Corruption as a Corporate Crime. In an effort to eradicate corruption in Indonesia has been conducted in various ways, however, the result is not satisfying because corruption is part of corporate crime which can be proven by the involvement of elite politician whether individually or in groups. The fight against corruption is still halfheartedly, moreover, the perpetrator does not seem to have to account for what he has done. DOI: 10.15408/jch.v1i1.2981
Direct Election of President and Vice President In Pancasila Perspective Sonny Taufan; Risang Pujiyanto
Jurnal Cita Hukum Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v7i3.13720

Abstract

AbstractAfter the amendment to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, the Election of President and Vice President was not conducted by the People's Consultative Assembly but voted directly by the people. Amendment to the provision for the election of President and Vice President have invited debate, partly because they are deemed incompatible with Pancasila. This study examines the appropriateness of the presidential and vice-presidential election based on Pancasila. The research method uses normative juridical, using secondary data obtained through literature study and qualitative analysis. The result and discussion of this research are that the implementation of the election of President and Vice President based is in accordance with Pancasila, especially with the fourth principle.Keywords: Democracy, Direct Election, and Pancasila AbstrakSetelah amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tidak dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat tetapi dilaksanakan langsung oleh rakyat. Amandemen terhadap ketentuan untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden telah mengundang perdebatan, sebagian karena mereka dianggap tidak sesuai dengan Pancasila. Studi ini mengkaji kelayakan ketentuan pemilihan presiden dan wakil presiden berdasarkan Pancasila. Metode penelitian menggunakan metode yuridis normatif, menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui studi literatur dan dianalisis secara kualitatif. Hasil dan pembahasan penelitian ini adalah bahwa pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan Pancasila sudah sesuai dengan Pancasila, terutama dengan prinsip keempatKata Kunci: Demokrasi, Pemilihan Langsung, Presiden dan Wakil Presiden, Pancasila. АннотацияПосле внесения поправки в Конституцию Республики Индонезия 1945 года выборы президента и вице-президента не проводились Народной Консультативной Ассамблеей, а проводились непосредственно всенародными выборами в Индонезии. Поправки к положениям о выборах президента и вице-президента вызвали дебаты, отчасти потому, что они считаются несовместимыми с Панчасилой. В этом исследовании рассматривается соответствие принятия положений о президентских и вице-президентских выборах на основе Панчасилы. Метод исследования – нормативно-юридический, используя вторичные данные, полученные в результате изучения литературы и проанализируемые качественным методом. Результаты и обсуждение этого исследования заключаются в том, что осуществление выборов президента и вице-президента на основе Панчасилы соответствует Панчасиле, особенно четвёртому принципу.Ключевые слова: Демократия, Прямые Выборы, Президент и Вице-Президент, Панчасила.
Spirit Piagam Jakarta Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Mujar Ibnu Syarif
Jurnal Cita Hukum Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v4i1.3568

Abstract

Abstract: In the second trial BPUPKI, both nationalist and Islamic groups consensual that the future of Indonesia's independence will be based on the principle "godhood by running Shari'ah obligation for adherents". The consensus seems to be built on the foundation is not solid. Therefore it is not surprising that one day after the proclamation of independence, the agreement re-questioned. That same day, PPKI held a hearing to review the deal. As a result, the clause contained in the Preamble of the 1945 Constitution was changed to "Based on Belief in God Almighty". After the issuance of a Presidential Decree, began the debate about the existence of the spirit of the Jakarta Charter in 1945 which is applicable in the context of Indonesian politics in this contemporary age.  Abstrak: Spirit Piagam Jakarta dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasca Lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada sidang kedua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI / Dokuritsu Zyunbi Tyosakai) yang berlangsung sejak tanggal 10 hingga 16 Juli 1945, baik golongan nasionalis maupun golongan Islam berkonsensus bahwa masa depan Indonesia merdeka akan didasarkan pada sila "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya".  Penting dicatat, konsensus tersebut agaknya dibangun di atas landasan yang tidak kokoh. Karena itu, tidak aneh bila satu hari setelah proklamasi Kemerdekaan RI, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945, kesepakatan tersebut kembali dipersoalkan. Pada hari itu juga, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk tanggal 7 Agustus 1945 dan diketuai oleh Soekarno, menyelenggarakan sidang untuk meninjau kembali kesepakatan tersebut. Dalam sidang tersebut, anak kalimat  yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 (Piagam Jakarta), yakni: "Berdasarkan kepada Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diubah menjadi "Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa".  Setelah penerbitan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dimulailah perdebatan yang masih terus berlanjut hingga detik ini, mengenai ada atau tidak adanya semangat Piagam Jakarta dalam UUD 1945 yang berlaku dalam konteks politik Indonesia di masa kontemporer ini.  DOI: 10.15408/jch.v4i1.3568
Pengembangan Bina Damai Dalam Penanganan Tindak Pidana Terorisme Di Indonesia Muhammad - Khamdan
Jurnal Cita Hukum Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v4i1.2835

Abstract

Abstract: Handling criminal acts of terrorism by the government can be divided into two areas, within Correctional Institution and outside prisons. Legal approach based on Law No. 15 of 2003 on Combating Criminal Acts of Terrorism has not been optimally reduce the potential for violence of terrorism, since countermeasures tend to only show the use of weapons only. Successful handling of terrorism characterized by inmates terrorism cooperation with the government to inform the network of terrorism. Bina Damai development is applied to terrorists can reduce resistance and revenge, for promoting the process of dialogue rather than armed military action. Peaceful approach influenced legal and cultural communication strategy with the clarity of program coordination of the parties that have the authority handling criminal acts of terrorism. Abstrak: Penanganan tindak pidana terorisme yang dilakukan pemerintah dapat dibedakan atas dua bidang, di dalam Lembaga Pemasyarakatan dan di luar Lembaga pemasyarakatan. Pendekatan hukum yang berdasarkan UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme belum secara optimal mengurangi potensi kekerasan atas tindak terorisme karena cenderung mempertontonkan penggunaan senjata. Beberapa keberhasilan penanganan tindak pidana terorisme ditandai adanya kerjasama narapidana terorisme dengan pemerintah untuk memberi informasi jaringan terorisme sekaligus pengakuan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila. Pengembangan bina damai yang diterapkan pada teroris dapat menggurangi perlawanan dan balas dendam karena mengedepankan proses dialog daripada aksi militer bersenjata. Bina damai merupakan transisi dari proses rekonsiliasi menuju tahap konsolidasi untuk terbangunnya perdamaian yang permanen. Pendekatan damai dipengaruhi strategi komunikasi hukum dan budaya disertai kejelasan program koordinasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan penanganan tindak pidana terorisme.   DOI: 10.15408/jch.v4i1.2835
Undang-Undang Perkawinan Dalam Pluralitas Hukum Agama (Judicial Review Pasal Perkawinan Beda Agama) Muhammad Ashsubli
Jurnal Cita Hukum Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v2i2.2319

Abstract

Abstrak: Undang-Undang Perkawinan Dalam Pluralitas Hukum Agama. Pernikahan beda agama memang menjadi suatu fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat dengan pluralisme. Pernikahan beda agama tidak bisa begitu saja dihilangkan hanya dengan peraturan hukum, karena mencintai orang lain tidak bisa dibatasi dengan agama. Keutuhan dan keharmonisan hubungan menjadi dambaan bagi semua pasangan suami istri, tak terkecuali pasangan suami istri beda agama. Perbedaan agama memang menjadi suatu hal yang rentan terhadap munculnya masalah dan konflik dalam kehidupan berumah tangga pasangan beda agama, karena banyak perbedaan dalam pola pikir, cara pandang, aktivitas dan kebiasaan sehari-hari yang sedikit banyak disebabkan oleh perbedaan agama yang dimiliki oleh keduanya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis memandang perlunya meneliti bagaimana realitas yang terjadi dalam aturan agama yang diakui di Indonesia. Serta melalui penetapan inkracht oleh Mahkamah Konstitusi, maka pernikahan beda Agama kini dan nanti lebih diakomodasi oleh negara, agar tidak terjadi permasalahan dikemudian hari. konflik dalam hubungan dapat diminimalisir. DOI: 10.15408/jch.v2i2.2319

Page 5 of 74 | Total Record : 737