cover
Contact Name
Nur Rohim Yunus
Contact Email
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Phone
+6281384795000
Journal Mail Official
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Cita Hukum
ISSN : 23561440     EISSN : 2502230X     DOI : 10.15408
Jurnal Cita Hukum is an international journal published by the Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia. The focus is to provide readers with a better understanding of legal studies and present developments through the publication of articles, research reports, and book reviews. Jurnal Cita Hukum specializes in legal studies, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. It aims primarily to facilitate scholarly and professional discussions over current developments on legal issues in Indonesia as well as to publish innovative legal researches concerning Indonesian laws and legal system. Published exclusively in English, the Review seeks to expand the boundaries of Indonesian legal discourses to access English-speaking contributors and readers all over the world. The Review, hence, welcomes contributions from international legal scholars and professionals as well as from representatives of courts, executive authorities, and agencies of development cooperation. The review basically contains any topics concerning Indonesian laws and legal system. Novelty and recency of issues, however, is a priority in publishing. The range of contents covered by the Review spans from established legal scholarships and fields of law such as private laws and public laws which include constitutional and administrative law as well as criminal law, international laws concerning Indonesia, to various approaches to legal studies such as comparative law, law and economics, sociology of law and legal anthropology, and many others. Specialized legal studies concerning various aspects of life such as commercial and business laws, technology law, natural resources law and the like are also welcomed.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 716 Documents
Pengaruh Konvensi Hukum Laut Internasional Tahun 1982 Terhadap Wilayah Laut Indonesia Yoyon Mulyana Darusman
Jurnal Cita Hukum Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v6i2.8687

Abstract

Abstract.Indonesia is a country that has a wider sea area (two thirds) than the land area (one third). The land area of Indonesia consists of thousands of islands which include: inland waters, straits and bays which serve as a link between the existing islands. Determination of the Geneva convention in 1958-1960 concerning the law of the sea has not given satisfaction to the state of Indonesia in providing national security regarding the unintegrated national territory. This can be seen as a mistake in the decision of the Geneva convention of 1958-1960 on the Law of the International Sea, which has not guaranteed the protection of all marine areas, especially marine areas in inland waters. Therefore, the Indonesian government pioneered the 1957 Djuanda Declaration, followed by the struggle of Foreign Minister Mochtar Kusumaatmadja and Indonesian diplomats such as Hasyim Djalal to try to accommodate Indonesia's interests as an archipelagic state. In the end, the above struggles can be fulfilled in the provisions of the Third Law of the Sea Convention in 1982, recognizing that all marine areas including Indonesia's inland waters constitute an Indonesian territory (insight of the archipelago).Keywords: Law of the Sea 1958, Law of the Sea of 1982, Sea Area, Archipelago Insight Abstrak. Indonesia adalah negara yang memiliki wilayah laut lebih luas (dua pertiga) dari wilayah daratan (satu pertiga). Wilayah daratan Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau yang di dalamnya meliputi: perairan pedalaman, selat maupun teluk yang menjadi penghubung antar pulau-pulau yang ada. Penetapan konvensi Jenewa tahun 1958-1960 tentang hukum laut belum memberikan kepuasan kepada negara Indonesia dalam memberikan pengamanan secara nasional berkenaan dengan belum terintegrasinya wilayah nasional. Hal ini dapat dilihat salah keputusan konvensi Jenewa Tahun 1958-1960 tentang Hukum Laut Internasional belum memberikan jaminan perlindungan terhadap seluruh wilayah laut terutama wilayah laut di perairan pedalaman. Karena itu, pemerintah Indonesia yang pelopori dengan Deklarasi Djuanda 1957, dilanjutkan perjuangan Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja serta para Diplomat Indonesia seperti Hasyim Djalal berupaya agar kepentingan Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) dapat diakomodir. Pada akhirnya perjuangan-perjuangan di atas dapat dipenuhi pada ketetapan Konvensi Hukum Laut Ke III tahun 1982 mengakui bahwa seluruh wilayah laut termasuk perairan pedalaman Indonesia merupakan suatu kesatuan wilayah Indonesia (wawasan nusantara).Kata Kunci: Hukum Laut 1958, Hukum Laut 1982, Wilayah Laut, Wawasan Nusantara.
Kafa’ah among the Hadrami Arabs in the Malay World (Anthropology of Law Approach) Imam Subchi
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i2.16574

Abstract

AbstractThis article explores how Hadrami Arabs have been maintaining the law of kafa’ah marriage or endogamy marriage in the Malay world—in this instance Indonesia and Malaysia and, to some extent, Singapore—from the early 1990s to the present. Arabs, mostly of Hadrami descent, are carrying their traditions everywhere in their diaspora. Moreover, those traditions are related to the Islamic law of endogamy marriage. This study employs a qualitative research method. Library research is used in collecting data, published or unpublished documents. Data sources are done with a web search using the following databases: Google Scholar, Ebsco-host, Research gate, Sage Journal, Scientific Electronic Library Online (SciELO), and others. The results and discussion of the research explain that the process of the establishment of the tradition of endogamy marriage has begun since their existence in Hadramaut to preserve offspring because they became the target of the murder of the Umayyad dynasty. In Hadramaut, they established Naqabah Asyraf Kubra, which served to record the genealogy and maintain the Syarifah ((female descendants of Prophet Muhammad) to obey the law of endogamy marriage. On the other hand, this paper will also examine issues related to the existence of the Arab community diaspora in the state order in the legal perspective reviewed from the guarantee of its legal certainty. This study concludes that in the end, the issue of Syarifah marriage with this akhwal depends very much on the perspective of the community either from Alawiyyin group or not. Rigid attitudes towards traditions supported by religious propositions will still be able to preserve this. However, how big is the tradition of the law of endogamy marriageable to withstand the onslaught of globalization and modernization that continues to run, because some Syarifah groups question and even break out of or disobey this tradition.Keywords: kafa’ah, syarifah, sayyid, hadrami, nasab  AbstrakArtikel ini menjelaskan bagaimana komunitas Arab Hadrami mempertahankan hukum kawin sekufu’ atau perkawinan endogami di dunia Melayu—seperti di Indonesia, Malaysia, dan Singapura—dari kurun waktu 1990 hingga dewasa ini. Komunitas Arab Hadrami (yang dewasa ini sudah banyak menjadi keturunan), membawa tradisi mereka dimanapun berdiaspora, terlebih lagi tradisi tersebut berkaitan dengan hukum Islam kawin sekufu’. Studi ini menggunakan metode penelitian Pustaka, baik yang sudah atau belum dipublikasi. Sumber data dilakukan dengan pencarian web menggunakan basis data sebagai berikut: Google Scholar, Ebsco-host, Research gate, Sage Journal, Scientific Electronic Library Online (SciELO), dan lain-lain. Temuan penelitian ini adalah bahwa proses pembentukan tradisi hukum pernikahan sekufu’ telah dimulai sejak mereka menjadi incaran pembunuhan dari bani Umayah, dan semakin mapan semenjak keberadaan mereka di Hadramaut, dengan mendirikan Naqabah Asyraf Kubra guna mencatat silsilah dan mempertahankan syarifah agar mentaati hukum perkawinan sekufu’. Disisi lain, tulisan ini juga mengkaji terkait persoalan eksistensi diaspora komunitas arab dalam tatanan kenegaraan dalam persepektif hukum dengan ditinjau dari jaminan kepastian hukumnya. Di pihak lain, persoalan pernikahan Syarifah dengan akhwal atau eksogami sangat bergantung terhadap cara pandang masyarakat baik dari kalangan Alawiyyin maupun bukan. Sikap yang kaku terhadap tradisi yang ditopang oleh dalil-dalil agama akan tetap dapat melestarikan ini. Namun seberapa besar tradisi hukum kawin sekufu’ ini mampu bertahan terhadap gempuran globalisasi dan modernisasi yang terus berjalan, sebab sebagian kelompok syarifah mempertanyakan dan bahkan keluar dari atau tidak menta’ati tradisi ini.Keywords: Kafa’ah, Syarifah, Sayyid, Hadrami, Nasab АннотацияВ этой статье объясняется, как арабское сообщество Хадрами сохраняло закон kawin sekufu (равенства в браке) или эндогамного брака в малайском мире -например, в Индонезии, Малайзии и Сингапуре- с 1990 года по настоящее время. Арабское сообщество Хадрами (у которой сегодня много потомков) несет свои традиции везде, где бы они ни находились в диаспоре, более того, эта традиция связана с исламским законом kawin sekufu. В этом исследовании используются литературные методы исследования, опубликованные и неопубликованные. Результаты этого исследования состоят в том, что процесс формирования закона kawin sekufu был начат, так как они стали объектом убийства Омейядов, и стал более устоявшимся, так как их существование в Хадрамауте, путем создания Naqabah Asyraf Kubra для записи генеалогии и поддержания «Syarifah » в порядке соблюдать закон kawin sekufu. С другой стороны, в данной статье также исследуется вопрос о существовании арабской диаспоры в государственной структуре с правовой точки зрения, рассматривается  с точки зрения ее правовой определенности. Кроме того, вопрос о «Syarifah» с экзогамией сильно зависит от того, как люди относятся к тому и другому, исходя из Alawiyyin (Баалави Сада) или нет. Жесткое отношение к традиции, поддерживаемое религиозными аргументами, все же сможет сохранить эту вещь. Однако насколько сильно традиция закона kawin sekufu может противостоять продолжающемуся натиску глобализации и модернизации, потому что некоторые группы «Syarifah» подвергают сомнению и даже оставляют или не подчиняются этой традиции. Ключёвые Слова: кафа (термин, используемый в области исламской юриспруденции в отношении брака в исламе, что на арабском языке буквально означает равенство или эквивалентность), щерифа (традиционный арабский титул для женщин), сейид (почётный титул у мусульман для потомков пророка Мухаммеда — через его дочь Фатиму и внука Хусейна), хадрами, насаб (патронимическое имя)
Existence of Clemency as President Prerogative Right (Comparison Study of Indonesia with Countries of the World) Fathudin .; Ahmad Tholabi Kharlie
Jurnal Cita Hukum Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v5i1.6574

Abstract

The debate about the existence of clemency as a prerogative of the president stems from the understanding that the rights is coming independently from the authority and without any branches of power. In this context, the comparative study of the constitutional norms in some countries in the world related to the norm of clemency is important to read the tendency of other countries about clemency rules. This study shows that the constitutional norm of countries in the world basically has the same tendency in the application of clemency by the president; there is involvement of other branches of power. Some constitutions of the world call the recommendation, hearing, information, consultation, advice, in accord, concurrence (approval) and others. The involvement of other branches of power in the grant of pardon does not mean reducing the authority of the president (prerogative), but it has become a tendency in almost all modern states to embrace the system of government power within the framework of public accountability. The term prerogative of the president (absolute) in practice is no longer absolute and independent. Perdebatan sepuar eksistensi grasi sebagai hak prerogatif presiden berpangkal pada pemahaman yang menyebut bahwa suatu hak disebut sebagai hak prerogatif presiden jika kewenangan yang lahir dari hak tersebut bersifat khusus dan  mandiri tanpa adanya keterlibatan cabang kekuasaan lain. Dalam konteks ini, kajian perbandingan terutama terhadap norma konstitusi di beberapa negara di dunia terkait dengan norma tentang grasi menjadi penting untuk memotret kecenderungan yang dimiliki negara-negara lain dalam hal pengaturan tentang grasi. Kajian ini menunjukan bahwa norma konstitusi negara-negara di dunia pada dasarnya memiliki kecenderungan yang sama dalam penerapan pemberian grasi oleh presiden, yakni ada keterlibatan cabang kekuasaan lain. Beberapa konstitusi negara-negara di dunia menyebut keterlibatan tersebut dengan menggunakan ragam istilah seperti recomandation, hearing, inform, consultation, advice, in accordance, conccurance (persetujuan) dan lain-lain. Adanya keterlibatan cabang kekuasaan lain dalam mekanisme pemberian grasi bukan berarti mereduksi kewenangan presiden (hak prerogatif), tetapi memang menjadi kecenderungan hampir di semua negara-negara modern untuk menganut sistem pemerintahan yang berusaha menempatkan segala model kekuasaannya dalam kerangka pertanggungjawaban publik, sehingga istilah hak prerogatif presiden (sacara mutlak) dalam prakteknya tidak lagi bersifat mutlak dan mandiri. DOI: 10.15408/jch.v5i1.6574
Pengaruh Wacana Gender Dalam Pembangunan Hukum Keluarga di Indonesia Asep Syarifuddin Hidayat
Jurnal Cita Hukum Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i1.2985

Abstract

The Effect of Gender Discourse in the Development Family Law in Indonesia. One of the social movements that emerged and gained its strength in the second half of the 20th century is feminism movement that encourages a structural change in the patriarchal structure society and equality between men and women. The movement also includes Muslim countries. The struggle of feminism or gender equality gained its momentum when the practice of discrimination towards women prevail in the Muslim community that is supported by treasury classical Islamic law (fiqh). It is on that particular context, the process of family law reform in Muslim countries at the end of the century-20s became an important arena of women's advocacy groups of their rights, as well as incorporate aspects of family law reform.  DOI: 10.15408/jch.v1i1.2985
“MAHAR AND PAENRE’; Regardless of Social Strata Bugis Women in Anthropological Studies of Islamic Law Yayan Sopyan; Andi Asyraf
Jurnal Cita Hukum Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v6i1.8270

Abstract

AbstractIndonesia is a multicultural, multi-ethnic and multi-religious pluralist country where Islam is where Islam is one of religion that exists.  Islam in Indonesia is not present in the blank area but there have been earlier traditions and religions and then later alive and thriving, interact with one another and live in harmoniously. The most powerful pull of religious values and traditions is marriage. This research aims to analyze the runway used by the Bugis in Bulukumba Regency in setting mahar and paenre’, understanding the point of view of the Bugis society’s point of view life related to the dowry and paenre and its relation to life ', and explain and synergy and knowing the correlation of Islam acting against dowry and paenre’ in the understanding of the Bugis community. The result showed that the mahar and paenre’ in Bugis society determined based on the social strata of the bride, not only caused by a noble, but it likewise from of the position, job or educational level has reached. Behind of it, there is a philosophical meaning in the form of local wisdom values that can integrate or harmonious and synergize with the Islamic teachingKeywords: Mahar,  Paenre’, Women, Social Strata, Bugis, Bulukumba.   Abstrak: Indonesia adalah negara pluralis yang multikultural, multietnis, dan multi agama dimana Islam salah satu agama yang ada didalamnya. Islam hadir di Indonesia bukan di wilayah kosong, tetapi sudah terdapat tradisi dan agama sebelumnya dan kemudian hidup dan berkembang, berinteraksi satu dengan lain dan hidup secara harmonis.  Dan bagian yang paling kuat tarikan nilai agama dan sekaligus tradisi adalah perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis landasan yang digunakan oleh masyarakat Bugis di Kabupaten Bulukumba dalam menetapkan mahar dan paenre’, memahami sudut pandang masyarakat Bugis di Bulukumba, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan perspektif mengenai dunianya, yang berkaitan dengan mahar dan paenre’, serta menjelaskan dan mensinergikan serta mengetahui korelasi pandangan Islam tehadap mahar dan paenre’ dalam pemahaman masyarakat Bugis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahar dan paenre’ dalam masyarakat Bugis ditentukan berdasarkan strata sosial pengantin perempuan, namun strata sosial disini tidak hanya disebabkan oleh karena ia keturunan bangsawan, melainkan dapat juga disebabkan karena jabatan, pekerjaan ataupun jenjang pendidikan yang telah ditempuh. Dibalik itu terdapat makna filosofis yang terkandung di dalamnya berupa nilai-nilai kearifan lokal yang dapat harmonis dan terintegrasi ataupun bersinergi dengan ajaran Islam.Kata Kunci: Mahar,  Paenre’, strata sosial perempuan, Bugis, Bulukumba.
The Application of the Strict Liability Principle in The Indemnity Laws for Livelihoods in Indonesia; Analysis of The Supreme Court’s Decision Number 1794K/PDT/G/2004 Ahmad Tholabi Kharlie
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.15000

Abstract

AbstractThis study is applied a descriptive-normative method which used to explain, describe, and analyze a particular event that is a proceeding submitted by the plaintiff against environmental pollution and damage, namely landslides on Mount Mandalawangi, using the concept of illegal acts The results of this study are: First, the compensation applied in the case of the Mount Mandalawangi landslide is based on the strict liability principle. The implication of the theory stated that the injured complainant is not required to prove the mistakes made by the defendant. Even if the defendant can prove that he is blameless, but there is a clear and proven impact of the loss in court, the defendant still obliged to pay for the compensation. Secondly, the Supreme Court's cassation decision is under the provisions of the prevailing laws and regulations in Indonesia, especially in the case of illegal acts, both confirmed in Article 1365 of the Civil Code (KUHPer) or regulated in the Protection Law and Environmental Management (UU-PPLH).Keywords: Environmental law, strict liability, claim for compensation, Supreme Court  Abstrak:Studi ini bersifat deskriptif-normatif. Studi ini akan menjelaskan, menggambarkan, dan menganalisis suatu peristiwa tertentu yaitu suatu peristiwa tuntutan hukum yang diajukan oleh pihak penggugat yang terhadap pencemaran dan rusaknya lingkungan yaitu longsornya lahan di gunung Mandalawangi, dengan menggunakan konsep hukum perbuatan melanggar hukum. Adapun temuan dari studi ini adalah: Pertama, ganti kerugian yang diterapkan dalam kasus longsornya gunung Mandalawangi ini berdasarkan pada asas strict liability. Implikasi dari penggunaan teori tersebut, penggugat yang dirugikan tidak diharuskan untuk membuktikan kesalahan yang dilakukan oleh tergugat. Bahkan, bilapun tergugat dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah, namun ada dampak kerugian yang jelas dan dibuktikan di pengadilan, tergugat tetap memiliki kewajiban untuk membayar ganti kerugian tersebut. Kedua, putusan kasasi Mahkamah Agung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, terutama dalam hal perbuatan melawan hukum, baik yang ditegaskan dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) ataupun yang diatur di dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU-PPLH).Kata kunci: Hukum lingkungan, strict liability, gugatan ganti rugi, Mahkamah Agung Аннотация В данном исследовании применяется описательно-нормативный метод, который используется для объяснения, описания и анализа конкретного события, представляющего собой судебную тяжбу, представленную истцом в отношении загрязнения и нанесению ущерба окружающей среды, а именно дело о лавине на горе Мандалаванги, с использованием концепции закона неправомерного акта. Полученные результаты в этом исследовании: Во-первых, компенсация, применяемая в случае схода лавины на горе Мандалаванги, основана на принципе Strict Liability. Вовлечение теории гласилo, что потерпевший истец не обязан доказывать ошибки, допущенные ответчиком. Даже если ответчик может доказать, что он невиновен, но существует явное и доказанное влияние потери в суде, ответчик все же обязан выплатить компенсацию. Во-вторых, кассационное решение Верховного суда соответствует положениям действующего законодательства и нормативных актов Индонезии, особенно в случае неправомерного акта, которые подтверждены в статье 1365 кодекса Гражданского права (KUHPer) или регулируются Законом о Защите и Регулировании Окружающей Среды (UU-PPLH).Ключевые слова: экологическое право, Strict liability, Тяжба о компенсации, Верховный суд
Politik Hukum Ratifikasi Konvensi PBB Anti Korupsi di Indonesia Atep Abdurofiq
Jurnal Cita Hukum Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v4i2.4099

Abstract

Abstact : This study sought to see an international legal ratification of UN conventions in the form of anti-corruption and its impact on the internal environment of a country, especially Indonesia.Corruption is a never-ending problem discussed and resolved. Corruption became the nation's disease because it has been longstanding, massive and systemic. Corruptions become a disaster for the national economy and undermine system of governance. Corruption is not merely the loss of state money, but the impact on poverty and the miserable life of the people. Indonesia considers the UN anti-corruption convention is quite important in the effort to uphold the "good governance" and create a climate conducive to investment. International cooperation is needed to resolve the problem of corruption in order to prevent and eradicate corruption, of course, need to be supported by integrity, accountability, and management of good governance and the nation Indonesia has been active in the international community's efforts to prevent and eradicate corruption to have signed the United Nations Convention against Corruption, 2003 (United Nations Convention Against Corruption, 2003). Ratification is an attempt to construct the identity of Indonesia that first acts as a corrupt country into a country that has a desire to create a clean government. Abstrak: Tulisan ini mencoba untuk melihat ratifikasi hukum internasional khususnya konvensi PBB anti korupsi serta dampaknya bagi kondisi dalam negeri sebuah Negara, khususnya Indonesia. Indonesia memandang konvensi PBB anti korupsi cukup penting dalam upaya menegakkan "good governance"dan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kerja sama internasional diperlukan untuk menyelesaikan masalah korupsi ini dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak korupsi, tentunya perlu didukung oleh integritas, akuntabilitas, dan manajemen pemerintahan yang baik. Indonesia telah ikut aktif dalam upaya masyarakat internasional untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi dengan menandatangani Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003. Ratifikasi merupakan upaya konstruksi identitas Indonesia sebagai negara yang korup menjadi negara yang mempunyai keinginan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. DOI: 10.15408/jch.v4i2.4099
Peran Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Pengawasan Pendaftaran Jaminan Fidusia Nazia Tunisa
Jurnal Cita Hukum Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v2i2.2325

Abstract

Dalam pertumbuhan ekonomi dan teknologi saat ini, masyarakat dituntut cepat dan produktif untuk memenuhi kebutuhan (needs) dan keinginannya (wants) seperti moda transportasi yakni motor dan mobil. Hal ini menjadikan kendaraan sebagai kebutuhan mendasar bagi masyarakat (basic need). Konsep kendaraan sekarang ini telah mengalami pergeseran tidak hanya sebagai kebutuhan dasar saja, namun sebagai alat penunjang kegiatan usaha. Namun saat ini, kendaraan juga telah menjadi gaya hidup (life style), memberikan kemudahan dan menunjukkan karakteristik serta kelas sosial. Kelebihan-kelebihan atas sesuatu produk mendorong masyarakat (konsumen) tergiur untuk memilikinya meskipun secara kemampuan dana (financial) untuk membelinya tidak mencukupi. Oleh karena itu dibutuhkan lembaga yang mampu untuk menjamin terhadap selera masyarakat. Kondisi seperti ini yang menyebabkan tumbuh dan berkembangnya lembaga pembiayaan konsumen dalam sektor Lembaga Keuangan Non-Bank, selain lembaga pembiayaan yang termasuk dalam Lembaga Keuangan Non-Bank adalah asuransi, pegadaian, dana pensiun, reksa dana, bursa efek dan lain-lain. DOI: 10.15408/jch.v2i2.2325
Command Responsibility of Autonomous Weapons Systems under International Humanitarian Law Yordan Gunawan; Mohammad Haris Aulawi; Andi Rizal Ramadhan
Jurnal Cita Hukum Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v7i3.11725

Abstract

AbstractWar and Technological development have been linked for centuries. States and military leaders have been searching for weapon systems that will minimize the risk for the soldier, as technology-enabled the destruction of combatants and non-combatants at levels not seen previously in human history. Autonomous Weapon Systems are not specifically regulated by IHL treaties. On the use of Autonomous Weapons Systems, there are three main principles that must be considered, namely principle of Distinction, Proportionality and Unnecessary Suffering. Autonomous weapon systems may provide a military advantage because those systems are able to operate free of human emotions and bias which cloud judgement. In addition, these weapon systems can operate free from the needs for self-preservation and are able to make decisions a lot quicker. Therefore, it is important to examine who, in this case, the commander can be held responsible when an Autonomous Weapon System will commit a crime.Keywords: Command Responsibility, Autonomous Weapons Systems, International Humanitarian Law AbstrakPerang dan perkembangan Teknologi telah dikaitkan selama berabad-abad. Para pemimpin negara dan militer telah mencari sistem senjata yang akan meminimalkan risiko bagi prajurit itu, karena teknologi memungkinkan penghancuran para pejuang dan non-pejuang pada tingkat yang tidak terlihat sebelumnya dalam sejarah manusia. Sistem Senjata Otonom tidak secara spesifik diatur oleh perjanjian IHL. Pada penggunaan Sistem Senjata Otonom, ada tiga prinsip utama yang harus diperhatikan, yaitu prinsip Perbedaan, Proportionalitas, dan Penderitaan yang Tidak Perlu. Sistem senjata otonom dapat memberikan keuntungan militer karena sistem tersebut dapat beroperasi bebas dari emosi manusia dan bias yang menghakimi. Selain itu, sistem senjata ini dapat beroperasi bebas dari kebutuhan untuk pelestarian diri dan mampu membuat keputusan lebih cepat. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa siapa, dalam hal ini, komandan dapat bertanggung jawab ketika Sistem Senjata Otonom akan melakukan kejahatan.Kata kunci: Tanggung Jawab Komando, Sistem Senjata Otonom, Hukum Humaniter Internasional АннотацияВойна и развитие технологий были связаны на протяжении веков. Государственные и военные лидеры искали системы вооружений, которые минимизируют риски для солдат, потому что технология позволяет уничтожать боевиков и не боeвиков на уровне, невиданном ранее в истории человечества. Автономный Комплекс Вооружения конкретно не регулируется соглашением о МГП (Международное Гуманитарное Право). При использовании Автономного Комплекса Вооружения необходимо учитывать три основных принципа, а именно: принцип различия, пропорциональность и потери среди мирного населения. Автономный Комплекс Вооружения может обеспечить военные преимущества, поскольку он может функционировать без человеческих эмоций и субъективных предубеждений. Кроме того, эта система вооружения может работать без необходимости самосохранения и может принимать решения быстрее. Поэтому важно выяснить, кто, в этом случае, командир, может нести ответственность, когда Автономный Комплекс Вооружения совершит преступление. Ключевые слова: Командная ответственность, Автономный Комплекс Вооружения, Международное Гуманитарное Право 
Hak Politik Perempuan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi (Uji Materiil Pasal 214 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008) Nur Asikin Thalib
Jurnal Cita Hukum Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v1i2.1466

Abstract

Abstract: Women Rights in Politics after the Constitution Court Decision. Women and the Man have equal rights and duty in politics. Due to the cultural barrier, the political representation in Parliament is still low. To fill the gab, The Act No 10. 2008 regulate 30 percent of women representation in Parliament. Responding this promulgation, some parties went to the Constitutional Court to ask the annulations of this Act. The Court abolished the article 214 and replaced it based on majority voices. This article will discuss the judicial review process and the challenges faced after the Court’s  decision. Abstrak: Hak Politik Perempuan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. Perempuan dan laki memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam politik. Namun begitu, hambatan yang timbul diantaranya karena faktor budaya, menyebabkan representasi politik perempuan di Parlemen masih sangat rendah. Sebagai upaya mengejar ketertinggalan tersebut, disyahkanlah Pasal 214 UU Nomor 10 Tahun 2008 yang memberikan quota minimal 30 persen bagi perempuan di parlemen. Ketentuan ini membuat sebagian kalangan untuk mempertanyakan judicial review atas ketentuan tersebut. Mahkamah Konstitusi (MK) menyetujui judicial review tersebut dengan menghapuskan ketentuantersebut mengganti dengan suara terbanyak. Tulisan ini membahas proses judial review tersebut dan tantangan yang dihadapi paska putusan MK tersebut.  DOI: 10.15408/jch.v1i2.1466

Page 3 of 72 | Total Record : 716