cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "No 11 (1975)" : 11 Documents clear
Dhu Al-Nun Al-Masri (180-245H) Suprapto, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dhu al-Nun berasal dari Akhmim, Mesir, keturunan Qibty yang beragama Nasrani. Dari kata-katanya menunjukan ia mempunyai pengetahuaan yang luas. Ia terkenal ahli dalam ilmu kimia, sehingga diriwayatkan bahwa ia dapat mengubah kerikil menjadi batu permata. Ilmu kimia waktu itu, tidak sebagaimana ilmu kimia sekarang yang kita terima karena faedahnya yang besar. Kimia pada zaman itu bercampur dengan ilmu sihir dengan keajaiban-keajaibannya. Oleh Ahmed Amin ia dikatakan sebagai orang aneh, tetapi oleh Margaret Smith ia dikatakan sebagai orang saleh yang tersembunyi ia merupakan pemimpin spirituil (Qutb) dari kaum sufi waktu itu, yang memiliki pandangan hati yang mendalam tentang rahasia ke Tuhanan dan ajaran tentang Yang Maha Esa. Dhu al-Nun al-Misri dikenal sebagai orang Zuhud dan hidup mengasingkan diri. Di Akhmim banyak terdapat bangunan-bangunan Mesir kuno yang didalamnya banyak lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan hyroclyph. Ia sering berkeliling disekitar bangunan tersebut dan melihat-lihat tulisan kuno yang ada disitu. Ia mengaku dapat membaca tulisan-tulisan itu dan dapat menterjemahkannya. Tetapi sebenarnya terjemahannya itu hanya bersifat kira-kira saja, sehingga tidak sesuai dengan yang seharusnya.
The Meaning of Pondok-Pesantren Dasuki, Abd.
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok-pesantren, sometimes called pondok or pesantren, also pasantren, literally means the residence of santri, the place where the pupil pursues the religious studies. the word pondok itself, means hut, a rude of small house, hovel, cabin, or dormitory. 1) the term santri refers to the pupil who studies in the pondok-pesantren. In the pondok-pesantren  the santri (pupil or disciple) stays and receives various Islamic teachings, i.e. intellectual, mental, spiritual as well as physical education. This Institution is governed by one or more persons called kyai (the rellgious teacher and venerable man). The kyai is considered as a teacher, guardian, trainer, guide, and helper. The term pondok-pesantren as used in the archipelago, refers to the Islamic educational institution, or religious school, which in Madura is called penyantren, in Pasuruhan (west Java) pondok, in Aceh rangkang meunasah an in Minangkabau surau. To give a general idea of the meaning of pondok-pesantren, it is necessary to refer to the points of view of both foreign and Indonesian scholars.
Zuhud dan Para Zahid dalam Kalangan Kaum Muslim Simuh, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penulisan tentang tasauf orang selalu memperhubungkan antara kehidupan zuhud dengan tumbuhnya tasuf dalam islam. Misalnya mengenal masalah “apa sebenarnya tasauf itu?” ternyata segolongan penulis-penulis ada yang menyamakan antara tasauf dan zuhud dan dengan demikian mereka memasukkan Nabi Muhammad s.a.w., Abu Bakar, Umar dan banyak sahabat-sahabat Nabi sebagai pemuka-pemuka sufi (penganut tasauf). Akibatnya pengertian dan gambaran mereka tentang hakikat tasauf jadi kabur (confuse), tidak jelas. Karena semua para Zahid, termasuk kita sekaliaan yang hidup sederhana, bisa disebut sufi, sedang nyatanya bukan sufi. Untuk menghindarkan kekacauan penggunaan istilah-istilah diatas perlu diberi pengertian yang definitive/tegas apakah memang tasauf itu sama dengan atau tidak sama dengan zuhud. Dan bagaimanakah pengertian zuhud itu? Disamping itu menurut teori yang secara tradisionil dikembangkan oleh penulis-penulis tentang tasauf selalu dikatakan bahwa tasauf itu timbul dari perkembangan peraktek-praktek kehidupan zuhud yang terdapat dalam sementara kehidupan tokoh-tokoh muslim semenjak masa Nabi sendiri. Memang teori evolusi ini sangat menarik karena memberikan dasar-dasar pegangan bagi orang-orang yang ingin mempertahankan suatu teori bahwa tasauf itu tumbuh dari kodrat ajaran Islam sendiri dan bersumber dan dikembangkan dari sumber-sumber agama (al Qur’an dan Sunnah) sendiri. Akan tetapi apakah teori-teori ini betul dan masih bisa dipertahankan?
Sayyid Ahmad Syahid Gerakan Mujahidin Suyanto, Endy
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sayyid Ahmad Syahid (bisa disebut Sayyid Ahmad), lahir di Rae Bareli (Barelawi), dekat Lucknow India, pada tahun 1786 M dan wafat pada tahun 1831 M. sewaktu masih muda ia pernah menjadi anggota pasukan berkuda (Kavaleri)  Nawab Amir Khan. Disini ia memperoleh pengetahuaan dan pengalaman militer yang dikemudian hari sangat berguna baginya dalam memimpin Gerakan Mujahiddin. Kemudian ia keluar dari dinas militer dan pergi ked elhi untuk belajar pada Syah Abdul Aziz setelah Nawab Amir Kahan berdamai dengan penguasa Inggris di India. Setelah merasa mempunyai pengetahuaan agama yang cukup, ia mulai berdakwah di depan umum, sehingga Namanya mulai popular. Daerah operasi berdakwah meliputi kota delhi dan daerah-daerah yang jauh dari ibu kota, misalnya didaerah Kampur dimana tinggal  orang-orang Afganistan dan di Kalkuta. Ia mengarang buku yang diberi nama “Shirathlm Mustaqim” yang penyusunnya banyak dibantu oleh murid-muridnya. Isi buku tersebut kebanyakan berisi pemikiran-pemikiran pembaharuaan yang menunjang pemikiran-pemikiran pembaharuan yang telah dirintis oleh Syah Waliyullah.
Syah Waliyullah Yasir, Asmuni
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riwayat Hidupnya Syah Waliyullah (1703-1762), dilahirkan di delhi. Orang tuanya Bernama Syah Abd Al-Rahim seorang sufi dan ulama yang memiliki madrasah, adalah pula pemimpin setempat Tarekat Naqshebandi, Ia dididik orang tuanya yang kemudian setelah dewasa turut mengajar di madrasah itu. Ia selanjutnya naik haji dan tinggal di Hijaz selama satu tahun dimana ia sempat belajar kepada ulama-ulama di Makkah dan Madinah. Ia hidup sezaman dengan Ibn Abd. Al Wahhab, tetapi tidak ada bukti bakaw mereka saling mempengaruhi meskipun ide pembaharuannya ada persamaan. Sepulangnya dari mekkah pada tahun 1732 ia Kembali ked elhi dan meneruskan pekerjannya yang lama sebagai guru. Kemudia ia sebagai seorang sufi menggantikan ayahnya. Diakui oleh Muhammad Iqbal bahwa  Syah Waliyullah adalah ulama besar terakhir dari Islam. Dan setengah orang menganggapnya lebih besar dari (al-Ghozali dan Ibn Rusyd). Disamping ide dan pendapat-pendapatnya difahami dan dilanjutkan serta dikembangkan oleh tokoh dibelakangnya ia banyak meninggalkan karangan-karangan seperti Hujjatullah Al-Balighin, Ham’at dan Terjemah serta Tafsir Al-Qur’an dalam Bahasa Persi yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Urdu oleh putranya.
Sir Sayyid Ahmad Khan Syamsuddin, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sir Sayyid Ahmad Khan lahir 17 Oktober 1817 di Delhi. Dia berasal dari keturunan Husin, cucu Nabi Muhammad saw. Leluhurnya dari jazirah Arab melarikan diri ke Iran, kemudian pindah ke Afganistan. Diantara keluarganya, berangkat ke india dimasa pemerintahan Syikh Jahan (1628-1666), AKHIRNYA DIANTARA MEREKA DAPAT MEMEGANG JABATAN PENTING DALAM PEMERINTAHAN ITU. Neneknya Bernama Sayyid Hadi adalah pembesar istana dimasa raja Alamghir II. Ayahnya, Mir Muttaqi seorang yang banyak bergaul dengan orang-orang sufi, dan anggota perserikatan rahasia (mistik), dan mempelajari buku agama untuk membersikan jiwa dari dosa. Perserikatan mistik seperti ini, cara berfikirnya lebih bebas, yang mana rupa-rupanya mempengaruhi cara berfikir anaknya kelak. Sedangkan ibunya seorang perempuan Islam, keturunan bnagsawan, berbudi tinggi, berpendidikan baik, dan sangat benci kepada takhayul-takhayul. Sir Sayyid Ahmad Khan dimasa mudanya belajar pengetahuan agama, bahasa Arab, Bahasa Persi dan berhitung. Dia sangat rajin membaca buku berbagai ilmu pengetahuaan. Disamping itu dia juga  belajar memanah dan berenang pada ayahnya.
Agama Sebagai Sasaran Penel,ahan dan Penelitian Di Indonesia Ali, A.
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa Indonesia menyimpan berbagai kemajemukan dan keberanekaan. Kemajemukan dan keberanekaan itu mewujud dalam pelbagai segi kehidupan bangsa Indonesia yang menempati segugusan kepulauaan yang ribuan jumlahnya di satu Kawasan yang amat luas wilayahnya. Bangsa Indonesia terdiri dari dan dibentuk oleh berbagai suku bangsa yang mempunyai adat istiadat dan Bahasa sendiri-sendiri disamping menganut agama yang berbeda-beda. Oleh karena itu, adalah sutu hal yang tak terhindarkan bahwa tata nilai yang dihargai dan dihayati oleh masayarakat tidak sama apalagi satu. Bahwa soal tata nilai merupakan hal yang amat asasi bagi keberadaan suatu masyarakat adalah jelas, sebab ia menyangkut makna dan dimensi kedalaman dalam kehidupan manusia. Ia adalah cita maknawi yang menjadi tujuan dan pedoman manusia dalam berbuat dan melakukan sesuatu. Ia mendasari alam pikiran dan tingkah laku manusia, baik sebagai orang seseorang maupun kelompok masyarakat dalam memahami, menafsirkan dan menghayati dunia dan lingkungannya.
Reading Comprehension Asasuddin, Umar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini saya tujukan kepada para dosen-dosen Bahasa Arab dan Inggris yang ada dilingkungan IAIN diseluruh Indonesia. Banyak pendapat baru tentang pengajaran Bahasa pada umumnya, dan Bahasa Inggris pada khususnya. Yang perlu kita ketahui bahan ini saya peroleh pada Fakultas Sastra Jurusan Teaching English as a Foreign Language (Dip T.E.F.L.) Universitas Sydney Australia, selama belajar pada jurusan ini satu tahun, yang khusus diperuntukkan bagi guru-guru Bahasa Inggris yang telah dapat gelar BA. Atau Drs. Dalam Bahasa Inggris. Semoga sumbangan karangan ini ada faedahnya. Yang dimaksud reading Comprehension ialah bagaimana caranya seorang dosen mengajar bacaan pada para mahasiswa agar mereka mengerti apa yang mereka baca. Untuk mencapai tujuan ini, bacaan (reading atau muthalaah) yang terdiri dua bagian: Intensive dan extensive reading harus diajarkan pada IAIN. Yang dimaksud dengan intensive reading ialah suatu bacaan pilihan dari majalah, koran atau buku yang terdiri dari satu atau dua halaman. Ia diajarkan untuk memperkenalkan tatabahasa baru, kata-kata baru melalui Latihan-latihan (drills) yang cukup dari bahan bacaan itu. Intensive reading ini untuk upelajaran Bahasa Arab sudah lama diajarkan di IAIN dengan istilah muthalaah, tapi saying tidak disertai dengan Latihan-latihan dan diskusi yang cukup. Jadi hasilnya kurang memuaskan. Sedangkan Extensive Reading belum pernah diperkenalkan pada (IAIN). Seharusnya bacaan ini diperkenalkan untuk mendapatkan informasi dari bahan bacaan. Dalam bacaan ini tidak ada kata-kata baru atau tatabahasa yang sukar. Bacaan ini harus dibaca dalam hati diluar kelas.
Salat Daim Aliran Kebatinan dan Dzikir dalam Islam Romdon, R
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa Aliran kebatinan di Indonesia ada yang mempunyai cara-cara tertentu untuk menghadap atau berhubungan dengan Tuhannya. Menghadap atau berhubungan dengan Tuhan itu bermacam-macam tujuannya, seperti memuji, memohon, menyembah, mengadukan nasib, berterima kasih dan sebagainya. Cara menghadap atau berhubungan dengan tuhan yang demikian didalam  agama tetentu  disebut ritus (upacara) yang cara, waktu, tempat dan persyaratannya sudah tentu, dan ada pula yang cara, waktu, tempat  dan persyaratannya sudah tertentu, dan ada pula yang cara dan sebagainya itu tidak tentu. Terhadap kedua macam cara berhubungan atau menghadap Tuhan itu masing-masing agama  ada yang membedakan dan memberi nama sendiri- sendiri, serta ada pula yang menyamakan antara kedua macam ritus tersebut dan memberi hanya satu nama saja. Tentu saja agama yang satu dengan agama yang lain berbeda dalam memberi nama kepada ritus demikian. Dalam kita mengenal istilah sholat, do’a dan dzikir. Dalam agama Kristen kita mengenal istilah sakramen, liturgi dan sebagainya. Dalam uraiaan ini untuk manamakan ritus sebagaimana tersebut diatas kita pergunakan saja istilah sembahyang atau salat dalam tulisan ini.
Abu Yazid Al- Bisthami Asnawi, A.
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 11 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam uraian biografi Abu Yazid ini penulis hanya akan mengungkapkan beberapa masalah sebagai berikut: Asal-Usulnya Abu Yazid al-Bisthami berasal dari Bistham, sebuah kota didaerah yang terletak sudut tenggara dari laut Kaspia. Ia dilahirkan kurang lebih pada tahun 801 dan nama lengkapnya Abu Yazid (Taifur) anak Isa anak surushan al-Bisthami. Dalam Bahasa persi dikenal dengan Bayazid  dari Bistham. Ibunya termasuk seorang Zahid dan kakeknya adalah seorang Zoroaster yang masuk agama Islam. Orang tuanya termasuk orang berada di Bistham, tetapi Abu Yazid memilih kehidupan sederhana dan menaruh cinta kasih kepada fakir miskin serta ia termasuk orang yang patuh kepada ibunya. Hidupnya sebelum jadi sufi, sebelum jadi sufi Abu Yazid belajar Syariat Hanafi. Muridnya ialah Abu Ali al-Sindi, yang akhirnya juga menjadi gurunya, karena ia belajar tashawuf dari padanya. Ia termasuk orang yang tidak bnayak keluar dari Bistham sehingga Ketika kepadanya dikatakan, bahwa orang orang yang mencari hakekat selalu berpindah dari satu tempat ketempat lain, ia menjawab: temanku (Maksudnya Tuhan) tidak pernah bepergian dan oleh karenanya akupun tidak pernah bergerak dari sini.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

1975 1975


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue