cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "No 47 (1991)" : 5 Documents clear
Eksistensi Istishhab Sebagai Sumber Tasyri’ Tjut Intan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.97-105

Abstract

Al-Qur’an sebagai sumber pertama bagi tasyri’ Islam Sebagian besar memuat hulkum-hukum secara global atau garis besar (mujmal) sehingga terkadang tidak bisa diaplikasikan secara langsung untuk memecahkan suatu problema yang muncul sebelum adanya explanasi atau intepretasi terhadap hukum tersebut. Tugas untuk memberi explanasi atau interpretasi terhadap hukum tersebut. Tugas untuk memberi explanasi atau inepretasi ini diserahkan kepada sumber lain yang kita kenal dengan istilah as-Sunnah atau al-Hadist. Sementara itu aktifitas kehidupan terus melaju, Langkah-langkah kecil menyeruak dihamparan waktu. Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih. Sumber hidup dan kehidupan terus diburu berpacu dengan waktu. Probematika yang ada pada masa lampau berbeda dengan yang dihadapi pada masa ekarang atau masa kini. Keadaaan masyarakat yang sederhana menjadi sangat complex, heterogeny dan pluralistis, sehingga menghendaki adanya formasi hukum baru. Hal ini disebabkan pristiwa yang terjadi tidak didapati hukumnya, baik di dalam Al-Qur’an, as-Sunnah maupun fatwah shahabat. Melihat keadaan seperti ini pula ualama berusaha sekuat tenaga untuk mengistimbatkan hukum terhadap pristiwa yang terjadi dengan berpegang kepada pristiwa-peristiwa yang tidak menyimpang dari kaidah-kaidah istimbath, yang akhirnya terciptalah suatu rumusan hukum yag bisa mewakili terhadap penyelesaian suatu problem hukum. Salah satu metode ijtihad yang dilakukan oleh para ulama adalah apa yang dikenal dengan istilah “istishhab”. Akan tetapi tentang keberadaannya sebagai hujjah, masih diperselisihkan. Hal ini disebabkan persepsi yang berbeda-beda dalam melakukan penalaran terhadap suatu masalah yang dihadapi. Berangkat dari pemikran diatas, penulis berusaha memaparkannya secara diskriptif, sehingga didapatkan gambaran existensi istishhab sebagai salah satu sumber tasyri’ dengan segala permasalahannya.  
Robin G. Collingwood dan Karyanya the Idea of History A. Munir Umar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.1-52

Abstract

R.G. Collingwood adalah seorang ahli filsafat terkemuka, terutama dalam bidang filsafat sejarah. Padamasa hayatnya dia adalah Guru Besar dalam bidang filsafata metafisika yang dijabatnya dari tahun 1935 sampai dengan tahun 1941 di Universitas Oxford Inggris. Namun pada masa Hidupnya dia tidak begitu terkenal, tetapi setelah meninggal tahun 1943, barulah para ahli sejarah mengakui kehebatannya didalam bidang sejarah dan mereka merasa berhutang budi kepadanya. Tulisan-tulisannya yang berupa makalah-makalah yang disampaikannya didalam ceramah-ceramah, diterbitkan secara anumerta sehingga para ahli menamakan bukunya ini sebagai”one of the great voices of oure time”sebagai suatu pemikiran besar pada masa sekarang ini. Collingwood menganggap ide modern terhadap sejarah dimulai pada masa Herodotus sampai kepada masa sekarang ini. Baginya sejarah bukanlah apa yang dapat dibaca dari buku-buku dan dokumen-dokumen, karena itu hanya merupakan keinginan dari orang sekarang. Dalam pemikiran ahli sejarah adalah apabila dia memberikan kritik dan intepretasi dokumen-dokumen itu, yang dengan demikian memberikan bayangan baginya mengenai ciri-ciri dari pemikiran-pemikiran yang diselidikinya. Mengingat banyaknya minat dari ahli filsafat dan ahli sejarah terhadap uraiaannyaini, maka buku ini secara anumerta disunting dan disusun oleh Professor T.M. Knox yang sekaligus juga memberi kata pengantar.disamping itu Collingwood juga mempunyai karyanya yang lain yaitu The Principles of Art, The Idea of Nature dan An Autobioraphy, yang kesemuanya diterbitkan di Oxford University Press. Secara singkat T.M. Knox menjelaskan bahwa dari keseluruhan makalah yang pernah disajikan oleh Collingwood dalam masalah filsafat sejarah, pada mulanya dibagi menjadi dua: 1. Mengenai ide modern yang berkembang semenjak Herodotus sampai abad ke 20. 2. Gambaran-gambaran filsafat mengenai sifat, isi, dan metode sejarah. Dari dua buku yang direncanakannya itu, maka buku kedua yang berjudul The Principles of History ditulisnya tahun 1939 ketia dia berada di jawa. Didalam buku ini diuraikannya mengenai ciri sejarah sebagai suatu ilmu khusus, kemudian dihubungkannya dengan ilmu-ilmu lain, terutama ilmu filsafat dan ilmu alam yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Pokok-Pokok Pikiran dalam Manifesto Humanisme M Muzairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.53-65

Abstract

Barangkali kita akan merasa bingung, kalua diajak untuk mendefinisikan humanism, tetapi yang pasti ialah istilah ini mempunyai suatu nada yang simpatik. Istilah ini nampaknya menampilkan suatu dunia penuh dengan konsep-konsep penting, seperti “humanum”(yang manusiawi), martabat manusia, perikemanusiaan, hak-hak asasi manusia dan lain sebagainya. Biarpun seringkali belum diketahui bagaimana persisnya merumuskan secara persis definisinya, namun bagi humanism bukan suatu yang asing.setelah pasca perang dunia ke II selesai humanism dijunjung tinggi sebagai suatu faham alternatif yang dianggap cocok untuk mengungkapkan cita-cita dunia baru diatas puing-puing material dan social yang ditinggalkan oleh perang itu. Eksistensialisme, aliran filosofis yang cukup terkenal setelah perang duania ke II mengeklim dirinya secara humanism, maka Jean Paul Satre menulis buku yang berjudul Existensialisme and Humanism. Dari pihak Kristen pun diadakan percobaan untuk mengeklaim nama Humanisme. Sesudah tahun tiga puluhan pemikir-pemikir Kristen di Prancis berusaha untuk mengerti dan merumuskan pandangan agama Kristen sebagai Humanisme, sebagai reaksi atas humanism sosialis yang pada waktu itu dilontarkan oleh pihak Komunisme. Buku yang berjudul Humanism Intergran yang terbit pada tahun 1936 yang ditulis oleh Jacques Maritain dan seorangtokoh Neothomisme mengungkapkan pendiriannya, bahwa Humanisme Kristiani dapat dipandan sebagai sintesa yang paling baik dari unsur-unsur humanistis yang tampak sepanjang, dari humanism klasik dijaman Renaisssance sampai dengan humanism Marxistis. Sesudah perang dunia ke II Humanisme Kristiani terutama diwakili oleh Imanual Mounier dan kawan-kawannya dilingkungan majalah ESPRIT. Sekalipun ia menyebutkan pendiriannya dengan nama lain, yaitu personalisme, namun Mounier personalisme pada dasarnya sinonim dengan humanism.
Colonial Educational Policy & Muhammadiyah’s Education (Analitical History Muhammadiyah in Yogyakarta 1912-1942) Yahdan Ibnu Human Saleh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.66-89

Abstract

This research takes object of Muhammadiyah Educational Development on the Islamic Village in Yogyakarta 1912-1942. Muhammadiyah was an Islamic Missionary Organization and movement founded on November 18, 1912 by kyai Haji Ahmad Dahlan at Yogyakarta. It had aim to spread of the true and genuine teaching of Islam among the population and especially among its members. If the various kinds of an economic, Social, Political, as well as cultural aspects were the whole process of growth of Indonesian Nationalism, Muhammadiyah, for the reason, could be said had the goal or value orientation. Because it could be considered as the Muslim, Social, educational and religious movement possessed the goal to attain away of life free from colonialism. In a colonialism situation nationalism might be seen as a social and moral force which had and orientation to wards the future. In the main while, Muhammadiyah might be understood as a group action or collective activity to face a condition of backwardness by responding according to its position. This organization fashioned nationalism by constituting and influential moral force, that tried to moralize all developments in the society, without any political ambition whatever, as a response to political, cultural and social conditions. Some social changes introduced in 1912-1942 with a formal and non-formal education system were adopted of the methods of the west, which were practiced in other activities. For these purpose, under the first four period charismatic had been set up and dedicated for the people’s welfare and progress. The social contribution given by Muhammadiyah in the field of social welfare from (1912-1942) were: bureaucratization as the process of rationalizing organization, the establishment of the new system of educational institution (1912, 1920, 1921, 1926, 1934, 1937), form of scout movement hizb al-wathan (1918), to educate young generation, the founding of hospital and clinic (1923) and orphanage (1925) among the Indonesian in general, and Muslim in particular, which were not only in backwardness, but also in weakest condition socially, economically and politically, suppressed by Duch colonialism. Muhammadiyah emphasized the importance of schools as means of education in both general and religious subjects. The combination of the two kinds of education so that became typical in all Muhammadiyah schools, from kindergartens to senior high schools. The school established by Muhammadiyah had been most beneficial to the Indonesian people, particularly in the Dutch Colonial rule when schools were rare. Colonial educational policy was only to supply skilled and semi-skilled laborers for industries and plantation owned by the Dutch and to fill jobs and lower government officials. It was not possible the Dutch policy to emancipate the Indonesian people from the backwardness and therefor the number of public school was kept as low as possible.
Bentuk Ideal Jurusan TH (Tafsir Hadist) Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.90-96

Abstract

Berpindahnya jurusan Tafsir Hadis dari fakultas Syariáh ke fakultas Ushuluddin memang belum lama, tepatnya baru dua tahun yang lalu. Mahasiswa baru jurusan Tafsir Hadis di fakultas Ushuluddin  sekarang sedang duduk disemester ke lima. Kita menyambut gembira aca sarasehan pemantapan jurusan Tafsir Hadis pada fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, lantaran pemindahan jurusan TH dari fakultas Syariáh ke fakultas Ushuluddin mengandaikan adanya latar belakang pemikiran tetentu, yang olehkarenanya jika tidak ada juklaknya, kita akan berjalan tanpa arah atau setidaknya kita hanya memindahkan jurusan secara pisik belaka.untuk menghindari kesan seolah-olah berpindahnya jurusan Th Cuma secara fisik tersebut, fakultas Ushuluddin yang sudah terlanjur ditugasi membina jurusan Th perlu waktu yang cukup untuk berbenah diri dengan memperbanyak forum dialog atau sarasehan seperti siang hari ini. Jika dilihat secara garis besar, perjalanan sejarah penulisan tafsir pada abad pertengahan, agaknya tidak teralalu meleset jika dikatakan bahwa dominasi corak penulisan tafsir al-Qur’an secara leksiografis  (lughawi) tampak lebih menonjol. Tafsir karya shihab al-Din al-khafffaji (1659) memusatkan perhatian pada Analisa gramatika dan Analisa sintaksis atas ayat-ayat al-Qur’an. Juga karya al-baydawi (1286), yang hingga sekarang masih dipergunakan  di pesantren-pesantren, memusatkan perhatiaan pada penafsiran al-Qur’an corak leksiografis seperti itu.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

1991 1991


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue