cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,223 Documents
New Lights on Prophecy-Pretending and Mimetic Religions in Medieval Islamic North Africa Mansouri, Mabrouk Chibani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.1-33

Abstract

This paper addresses the proliferation of prophetic movements and mimetic religions in medieval Islamic North Africa, focusing on the Barghwāṭa and Ghumāra tribes. It critiques medieval Arabic and Orientalist terminologies used to explain this complex issue, arguing that they fail to capture the dynamics of these movements. The paper introduces the concept of mimetic religion to interpret localized prophetic movements that emerged on the periphery of the established religion, namely Islam, retaining its structure while presenting parallel, rather than counteractive, religio-cultural projects. Drawing on primary sources, it highlights how misrule and exploitative practices by early conquerors fueled North African resistance, leading to revolutionary and prophetic movements. It challenges both medieval historiographical reductions of these movements to sectarianism and modern interpretations shaped by French colonial Orientalism, which often reduced them to ethnic or religious conflicts between Arab-Muslim conquerors and indigenous North Africans. By analyzing primary sources and questioning Orientalist biases, the paper emphasizes the interplay of political, economic, social, and cultural factors in shaping North African religious settings. Ultimately, it defines new boundaries for re-contextualizing and re-interpreting mimetic religion as expressive of a complex texture framing religious, cultural, and social nomenclature rooted in local North African indigenous heritage. [Makalah ini membahas proliferasi gerakan-gerakan kenabian dan agama-agama mimetik di wilayah Afrika Utara abad pertengahan, dengan fokus pada suku Barghwāṭa dan Ghumāra. Studi ini mengkritisi terminologi Arab klasik dan orientalis terkait persoalan yang kompleks ini, dengan kesimpulan bahwa terminologi tersebut gagal menangkap dinamika gerakan yang terjadi. Konsep agama mimetik diperkenalkan untuk memahami gerakan-gerakan kenabian lokal yang berkembang di samping agama yang mapan, yaitu Islam, dengan mempertahankan struktur dasar, namun membawa konsep religio-kultural yang sejajar tanpa mengambil posisi kontradiktif. Berdasarkan sumber-sumber primer, tulisan ini menunjukkan bahwa ketidakadilan pemerintahan dan praktik eksploitasi oleh para penakluk awal turut memicu perlawanan di Afrika Utara yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan revolusioner dan kenabian. Penulis menolak reduksi historiografi abad pertengahan yang memandang gerakan-gerakan tersebutsebagai bentuk sektarianisme semata, sekaligus menolak interpretasi modern a la orientalisme kolonial Prancis, yang menyederhanakan gerakan-gerakan tersebut menjadi konflik etnis atau agama antara penakluk Arab-Muslim dan masyarakat pribumi Afrika Utara. Tulisan ini menekankan pentingnya interaksi antara faktor politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam membentuk lanskap keagamaan di Afrika Utara. Agama mimetik adalah ekspresi dari tekstur kompleks yang membingkai nomenklatur religius, kultural, dan sosial yang berakar pada warisan budaya lokal masyarakat pribumi Afrika Utara.]
Islam At the Crossroads of Global Ethics: An Ecumenical-Pluralist Reading of Hans Küng (1928-2021) Boulaouali, Tijani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.173-203

Abstract

Religious and cultural pluralism has introduced a new approach that differs from classical European orientalism, taking into account the historical, socio-cultural, and political transformations experienced by Western societies in their shift from monoculturalism to pluralism. Contemporary Western scholars, philosophers, and theologians have given significant space to Islamic components, offering pluralism as one of the most objective frameworks for interacting with Islam. Hans Küng stands out among other thinkers for his objectivity, courage, and ability to deconstruct Orientalist assumptions that approach Islam from a narrow ideological perspective. This study explores Küng’s main ideas and projects, particularly his concepts of global ethics, pluralism, interfaith dialogue, competing paradigms, and the reinterpretation of the friend-enemy dichotomy. This study shows that Küng’s theological and philosophical foundation in interacting with Islam is closely related to his personal experiences and intellectuality. This led him to initiate a global ethics project as a moral foundation for interfaith dialogue. Küng positions Islam in the context of cosmic pluralism as an important component in the equation of international peace and interfaith dialogue, not only through its tolerant teachings, but also through its rich legal and philosophical heritage, which has contributed to the advancement of human civilization. Therefore, he calls for a reinterpretation of Islam and a deconstruction of contemporary Muslim challenges through competing paradigms to find a viable way out of the current crisis of civilization.[Pluralisme agama dan budaya telah memperkenalkan pendekatan baru yang berbeda dari pembacaan orientalistik Eropa klasik, dengan mempertimbangkan transformasi historis, sosio-budaya, dan politik yang dialami oleh masyarakat Barat dalam pergeseran mereka dari monokulturalisme ke pluralisme. Cendekiawan, filsuf, dan teolog Barat kontemporer telah memberikan tempat yang signifikan bagi komponen Islam, dengan menawarkan pluralisme sebagai salah satu kerangka kerja paling objektif untuk berinteraksi dengan Islam. Hans Küng menonjol di antara para pemikir lainnya karena objektivitasnya, keberaniannya, dan kemampuannya untuk mendekonstruksi asumsi-asumsi orientalistik yang mendekati Islam dari perspektif ideologis yang sempit. Studi ini mengeksplorasi gagasan dan proyek utama Küng, terutama konsepnya tentang etika global, pluralisme, dialog antaragama, paradigma yang bersaing, dan reinterpretasi dikotomi teman dan musuh. Studi ini menunjukkan bahwa landasan teologis dan filosofis Küng dalam berinteraksi dengan Islam sangat berkaitan erat dengan pengalaman pribadi dan intelektualitasnya. Hal tersebut membawanya untuk menggagas proyek etika global sebagai landasan moral untuk dialog antaragama. Küng memposisikan Islam dalam konteks pluralisme kosmis sebagai komponen penting dalam persamaan perdamaian internasional dan dialog antaragama, tidak hanya melalui ajaran-ajarannya yang toleran, tetapi juga melalui warisan yuridis dan filosofisnya yang kaya, yang telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Oleh karena itu, ia menyerukan reinterpretasi Islam dan dekonstruksi tantangan Muslim kontemporer melalui metodologi paradigma yang bersaing untuk menemukan jalan keluar yang layak dari krisis peradaban saat ini.]
Sosiologi Agama Ganie, Fatchuddin A
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 8 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1975.08.68-77

Abstract

Sosiologi Agama mempelajari hubungan antara agama dan masyarakat, atau dengan kata lain akan mempelajari adanya saling pengaruh mempengaruhi antara agama dan masyarakat. Umpamanya, adakah suatu bentuk struktur masyarakat karena pengaruh dari suatu ajaran agama, atau sebaliknya adakah suatu agama di pengaruhi oleh beberapa orang bahkan oleh masyarakat. sebenarnya, pembahasan tontang masyarakat sudih banyak ditulis oleh para sarjana. Akan tetapi perlu di ketahui bahwa study “sosiologi agama” mempunyai segi lain ialah sifatnya empiris. Oleh karena itu maka “sosiologi agama" harus di selidiki secara tersendiri. Kita mengakui bahwa dari pelajaran sosiologi, para mahasiswa yang mernpelajari sosiologi agama, dapat memperoleh bahan sebagai pelengkap, akan tetapi harus pula diingat bahwa agama mempunyai aspek-aspek yang penting yang bermacam-macam bentuknya. Sedangkan approach empiris, apabila berhasil, kita akan memperoleh data-data sangat kuat.
Hukum Islam dan Tujuannya Abdurrachman, Asjmuni
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 8 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1975.08.59-67

Abstract

Kata Hukum Islam berasal dari Bahasa Arab, tetapi pengertiannya sudah sedikit berlainan setelah menjadi Bahasa Indonesia, menurut pandangan ahli Hukum lslam, sekalipun masih ada segi-segi persamaannya. Hukum berasal dari Bahasa Arab AI Hukmu yang berarti Al Qadla(memberi keputusan). Menurut ahli Hukum Umum, Hukum itu berarti "Peraturan-peraturan yang bersifat memaksa yang diadakan untuk melindungi kepentingan-kepentingan orang dan masyarakat. Sedang menurut ahli Hukum lslam, Hukum itu ialah Firman Tuhan dan Sabda Nabi (Syari') yang bertalian dengan perbuatan manusia yang telah aqil baligh (mukallaf) yang mengandung ketentuan-ketentuan tuntutan, kebolehan maupun mengandung sabab, syarat atau halangan (mani') terujudnya hubungan Hukum. Dua perbodaan yang nyata antara dua pengertian tersebut: Pertama: Dalam Hukum lslam ditegaskan ketentuan sumbernya ialah dari Tuhan, sedang dalam Hukum Umum tidak. Kedua : Pada Hukum Umum, ditegaskan adanya sifat memaksa, sedang dalam Hukum lslam tidak semuanya bersifat memaksa, bahkan dalam Hukum lslam ada Hukum yang sifatnya hanya menyatakan anjurap dan kebolehan saja. Disamping itu, dalam Hukum lslam memasukkan ketentuan yang akan membawa atau Menghalangi adanya hubungan Hukum, yang disebut Hukum Wadl'i. Kalau kita lihat lapangan yang diaturnya, Hukum Umum dan Hukum lslam itu hamper bersamaan, sedikit kelebihannya ialah, Hukum lslam mengatur soal-soal ibadah, yang meliputi soal keimanan, shalat, zakat, puasa dan hajji.
An Historical Background to The Coming and Spread of Islam and Christianity in The Malay Peninsula, And the Indonesian and Philippine Archipelagos Majul, Cesar Adib
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 8 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1975.08.38-58

Abstract

An all too common feature of history has been how such externally introduced cultur institution as religion, has served to move peoples from their parochial, self-contained communities into wider ones committed to universal values. As it were, both lslam and christianity, which are universal in intent, have served to induce peoples in southeast Asia to conceive of themselves as part of wider human communities that have transcended the limitations of race, language, region and geography. Yet, paradoxically, lslam and to a lesser extent christianity as well, have provided those very elements of identity which played a large part in the struggle of the Malay peoples against foreign domination. No full understanding of these peoples' political, economic, and social conditions as well as of their concomittant expectations and tendencies is possible without taking into account the spiritual framework within which they lived.
Catatan Singkat Dialog Antar Muslim dan Kristen Dari Asia Tenggara Di Hongkong, 4-10 Januari 1975 Abdullah, Samsuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 8 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1975.08.25-37

Abstract

Dewan Gereja Sedunia (World Council of Churches) 150, Route de ferney, 1211 Geneva 20, Switzerland. ‘’Muslim dan orang-orang Kristen dalam masyarakat: menuju kearah Muhibbah (good-will), musyawarah dan bekerja-sama di Asia Tenggara”. Thema ini bertujuaan untuk memberi tempat kepada persoalan-persoalan yang bersifat historis masa depan dan kontemporer, sosio-politik dan juga persoalan-persoalan theologis. Thema ini juga diharapkan akan mampu mengungkap persoalan-persoalan yang langsung berhubungan dengan Negara-negara Asia Tenggara (seperti: Indonesia, Singapore, Malaysia dan Philipina). Perhatian juga diberikan kepada apa dan bagaimana arti istilah-istilah seperti Muhibbah (good-will) dan Musyawarah (Consultation) menurut agama Islam dan Kristen; Istilah “kerja sama’” hendaklah diartikan kerja-sama Muslim dan Kristen dalam pengabdiannya kepada Allah.
Pertumbuhan dan Perkembangan Historigrafi Islam Umar, Muin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 8 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1975.08.6-24

Abstract

Historiografi Islam sebagaimana ilmu-ilmu lainnya mendapat pembahasan yang cukup banyak dari para ahli, walaupun pembahasan itu dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Bentuk Historiografi Islam pada dasarnya terbagi kepada tiga: 1. Khabar yang berisikan ceritera- ceritera yang berhubungan dengan peperangan dan lain-lain. 2. Chronologi, yang mencatan kejadian-kejadian sejarah menurut tahun. 3. Bentuk yang lebih kecil mengenal periodesasi sejarah: a. Historiografi Dynasti. b. Pembagian tingkat (thabaqat). c. Susunan Genealogis. Isi daripada karya-karya sejarah Islam meliputi, genealogi, biografi, geografi dan cosmografi, astrologi, filsafat, ilmu social dan politik, dokumen-dokument, manuskrip dan mata uang. Anika ragam penulisan sejarah Islam ada yang menggunakan bentuk sajak dan ada pula yang mempergunakan bentuk prosa berirama. 
Lembaga Bahasa IAIN Sumardi, Muljanto
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 8 (1975)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1975.08.3-5

Abstract

Berkali-kali Bapak Mentri Agama Prof. Dr. H.A Mukti Ali menyatakan bahwa salah satu kekurangan IAIN ialah kekurangan dibidang Bahasa, khususnya Bahasa Arab dan Nahasa Inggris. Beberapa kenyataan membuktikan memang demikianlah adanya. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang seharusnya sudah dapat digunakan oleh para mahasiswa untuk mendalami bidang ilmu yang ditulis dalam Bahasa ini dalam kenyataannya masih merupakan beban berat yang harus dipikul mahasiswa dan ditanggulangi oleh para dosen Bahasa. Pengajaran kedua Bahasa ini harus dimulai dari permulaan lagi, sekalipun untuk mahasiswa jurusan Bahasa sendiri. Dengan kata lain, kemampuan Bahasa para mahasiswa yang masuk IAIN pada dasarnya sama, yaitu masih harus mulai dari tingkat dasar. Tingkat kemampuan yang sama ini seharusnya diatasi dengan mengadakan koordinasi antara para pelajar Bahasa, khususnya diatasi dengan mengadakan koordinasi antara para pengajar Bahasa, khususnya dalam segi metode mengajar dan materi pelajaran. Saying sekali tidaklah demikiaan kenyataannya. Masing-masing fakultas menyelenggarakan program Bahasa sendiri dengan cara dan seleranya sendiri biarpun tenaga pengajar yang berkelayakan (Qualified) masih sangat kurang. Keadaan ini menjadi lebih buruk lagi dengan adanya keyakinan yang salah, bahwa seolah-olah ada Bahasa Arab Tarbiyah, Syari’ah, dsb. Bahasa Arab adalah Bahasa Arab. Yang membedakan Bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah dengan Bahasa Arab di Fakultas Syari’ah atau lainnya ialah bidang kosa-kata-nya (Vocabulary), bukan bidang morfologi dan sintaksisnya.
The Qur’anic Movement Gerakan Ayo Mengaji (Gerami) in Jambi: An Intersectional Analysis of Women, Gender, and Class Maghfirah, Moona; Rafiq, Ahmad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.143-172

Abstract

This article demonstrates that women’s experiences within religious movements are diverse and multifaceted, shaped by a complex interplay of social factors. By investigating ‘Gerakan Ayo Mengaji’ (GERAMI) as Quranic movement in Jambi City, it applies an intersectional lens to examine how gender and class dynamics influence Muslim women’s experiences within the movement, such as their space, roles, and performance. Drawing on in-depth interviews, participant observation, and the movement’s archival materials, the study analyzes the identities and activism of GERAMI’s women members. The findings suggest that the intersectionality of gender identities enables the movement to function not only as a source of Muslim women’s identity formation but also as a means of reinforcing or contesting gendered social structures. The intersection of various forms of individual capital significantly shapes members’ roles and performances within the movement, thereby constructing internal hierarchies. The article argues that the convergence of diverse social identities within a Qur’anic movement can inadvertently produce hierarchical power dynamics, leading to the emergence of new gendered public spaces and class structures within the movement itself.[Artikel ini menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dalam gerakan keagamaan bersifat beragam dan memiliki banyak sisi, yang dibentuk oleh interaksi kompleks faktor-faktor sosial. Dengan mengkaji ‘Gerakan Ayo Mengaji’ (GERAMI) sebagai gerakan Al-Quran di Kota Jambi, penelitian ini menggunakan lensa interseksional untuk menganalisis bagaimana dinamika gender dan kelas memengaruhi pengalaman perempuan Muslim dalam gerakan tersebut, termasuk ruang, peran, dan aktivitas mereka. Menggunakan wawancara mendalam, pengamatan partisipatif, dan bahan arsip gerakan, studi ini menganalisis identitas dan aktivisme anggota perempuan GERAMI. Temuan menunjukkan bahwa interseksionalitas identitas gender memungkinkan gerakan ini berfungsi tidak hanya sebagai sumber pembentukan identitas perempuan Muslim, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat atau menantang struktur sosial yang berorientasi gender. Selain itu, persilangan berbagai bentuk modal individu secara signifikan membentuk peran dan kinerja anggota dalam gerakan, sehingga membentuk hierarki internal. Pada akhirnya, artikel ini berargumen bahwa konvergensi identitas sosial yang beragam dalam gerakan Qur’anik dapat secara tidak sengaja menghasilkan dinamika kekuasaan hierarkis, yang mengakibatkan munculnya ruang publik berjenis kelamin baru dan struktur kelas di dalam gerakan itu sendiri.]
Pasai and Constantinople: Hybrid Legitimacies and Multiple Identities in the 15th Century Muslim Societies Hasbi, Baiquni; Muhammad, Rasyidin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.115-141

Abstract

This article provides an alternative historical explanation that challenges the monolithic portrayal of premodern Muslim polities. Prevailing narratives often emphasize Islam as the sole dominant identity, relegating Southeast Asia to the ‘periphery’ of the Islamic world and reducing the Ottoman governance to purely Islamic ideals. This article reconsiders how Muslim polities in the fifteenth century forged legitimacy through strategies that were neither monolithic nor exclusively Islamic. Focusing on the Sultanate of Pasai in Sumatra and the Ottoman Empire in Constantinople, it demonstrates how rulers embedded themselves in multiple traditions, Islamic, Indic, indigenous, and Greco-Roman Christian, at once. Through textual analysis of primary texts, Hikayat Raja-Raja Pasai, Tarih-i Ebü’l Fath, Târih-i Beyân-ı Binâ-yı Ayasofya-yı Kebîr, and History of Mehmed the Conqueror, this study demonstrates that both Pasai and the Ottomans integrated hybrid traditions to construct their sovereignty. Highlighting these multilayered repertoires adopts a polycentric rather than center-periphery framework, one in which Southeast Asia and the Mediterranean emerge as dynamic, interconnected sites of Muslim statecraft.[Artikel ini menawarkan sebuah penjelasan historis alternatif yang ingin menantang gambaran monolitik tentang kerajaan muslim pramodern. Narasi yang dominan selama ini masih cenderung menekankan Islam sebagai identitas tunggal yang mendominasi, sehingga menempatkan Asia Tenggara sebagai “pinggiran dunia Islam” dan mereduksi identitas Kekaisaran Utsmani hanya menjadi sekadar Islam semata. Artikel ini meninjau kembali bagaimana Kerajaan Muslim pada abad kelima belas membangun legitimasi melalui strategi yang tidak bersifat monolitik maupun eksklusif Islami. Dengan studi kasus Kesultanan Pasai di Sumatra dan Kekaisaran Utsmani di Konstantinopel, artikel ini menunjukkan bagaimana para penguasa menggabungkan berbagai tradisi sekaligus, Islam, lokal, Indic, dan Greko-Romawi Kristen. Melalui analisis beberapa teks primer seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Tarih-i Ebü’l Fath, Târih-i Beyân-ı Binâ-yı Ayasofya-yı Kebîr, dan History of Mehmed the Conqueror, kajian ini memperlihatkan bahwa baik Pasai maupun Usmani mengintegrasikan tradisi-tradisi hibrida untuk membangun legitimasi dan kedaulatannya. Untuk menjelaskan khazanah yang berlapis ini, artikel ini mengadopsi kerangka polisentris dari pada model pusat-pinggiran, di mana Asia Tenggara dan Mediterania muncul sebagai pusat-pusat dinamis yang saling saling terhubung dalam praktik Kerajaan Muslim.]

Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue