cover
Contact Name
Muh. Nurjati Hidayat
Contact Email
jurnalpengairan@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
anggara.wws@ub.ac.id
Editorial Address
Jurnal Teknik Pengairan Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono 167 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 20861761     EISSN : 24776068     DOI : 10.21776
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Pengairan is a scientific journal published regularly twice per year by Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya. The paper submitted in this journal covers the fields of Water Resources Information System, Water Resources Conservation, Water Resources Utilization and Efficiency, Water Structure Engineering Planning and Water Resources Engineering Basic Knowledge. The submitted paper can be a summary of research reports or scientific literature review. The language used in this journal is either English or Indonesian.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2011)" : 14 Documents clear
Alternatif Penggunaan Abrupt Rise pada Usbr Tipe III Untuk Mengurangi Gejala Pulsating Waves Kristanto, Marturiawan; Priyantoro, Dwi
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.249 KB)

Abstract

Maksud dari kajian ini adalah untuk mempelajari perilaku hidrolika antara pengaruh abrupt rise pada USBR III terhadap fenomena Pulsating waves dan mengetahui alternatif pemecahan permasalahan yang terjadi. Penelitian ini menggunakan fasilitas Laboratorium Hidrolika Saluran Terbuka Jurusan Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dan beberapa alat tambahan yang dibuat sendiri guna melengkapi proses penelitian. Pengujian pada abrupt rise dibagi menjadi 12 seri yang mana pada setiap serinya akan dialiri 5 debit yang berbeda, adapun pembagian seri dari penelitian berdasarkan variabel berubah seperti q (m3/dt/m), perubahan baffle block, perubahan twl, perubahan slope abrupt rise. Didapatkan dari hasil pengujian bahwa perubahan slope abrupt rise mempunyai pengaruh berbeda-beda terhadap kondisi aliran dan pulsating waves di kolam olak. Hasil uji seri 3 (melepas baffle block, dan memasang abrupt rise dengan kemiringan 1 : 1) menghasilkan redaman dengan effisiensi tertinggi. Kesimpulan dari hasil penelitian yang memprioritaskan pada peredaman pulsating waves ini dapat ditindaklanjuti pada uji model tes. Sehingga dapat diketahui apakah rekomendasi desain hasil penelitian ini memenuhi kriteria aman terhadap tinggi jagaan atau gerusan dan juga apakah dapat dipakai sebagai acuan dalam mendesain panjang saluran pengarah setelah hilir kolam olak.Kata kunci : Abrupt rise, pulsating waves, tail water level (twl)
Evaluasi Kejadian Sedimentasi di Kali Surabaya, sebagai Data Penunjang untuk Mengantisifasi terjadinya Banjir di Kota Surabaya Kusnan, Kusnan
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.394 KB)

Abstract

Kali Surabaya merupakan cabang Kali Brantas yang berhulu di Gunung Arjuna daerah Malang, kemudian mengalir sampai hilir yang berada selat Madura di Surabaya,dalam proses aliran air Kali Surabaya melewati Mojokerto, Gresik, Sidoarjo dan Surabaya berakhir di muara Selat Madura. Fungsinya sangat vital terhadap kelangsungan hidup dan perekonomian masyarakat pada ke empat kota tersebut, yaitu sebagai pengambilan airirigasi, PDAM, Industri, dan pengendalian banjir.Untuk pengendalian banjir kota Surabaya, salah satu bagian yang diperlukan untuk pengendali banjir adalah kejadian sedimentasi yang menyangkut sifat dan karakteristik Kali Surabaya (Gunungsari). Dimana kejadian sedimen ini lambat laun akan mengakibatkan pendangkalan dasar sungai dan megecilnya palung sungai atau lebar sungai, akibatnya debit aliran air dari daerah hulu akan mengalami aliran luberan pada palung sungai yang mempunyai tanggul rendah. Pada saat proses perjalanan aliran menuju bagian di hilir (muara selat Madura), jika debit aliran ini tidak tertampung pada penampang basah palung sungai terjadilah banjir. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan perhitungan transportasi sedimentasi pada debit rata-rata pertahun, sebagai balance besaran volume aliran air penampang basah dasar sungai yang ditempati oleh Sedimentasi, nantinya akan dipakai sebagai data pendukung untuk perhitungan antisipasi terjadinya banjir mendatang. Hasil Debit sedimentasi rata-rata pertahun 53,512 m3/dt, yang terjadi di daerah Kali Surabaya tahun 2006, Sedangkan dari hasil penelitian dengan memakai perumusan (1); Meyer, Peter dan Muller, (2) Enggulend dan Hasen, (3) Acker dan Whitemasing-masing menunjukan hasil seperti berikut : (1) terbesar 16,0142 m3/detik, danterkecil 0,0084 m3/hari; (2) terbesar 202,3869 m3/hari dan terkecil 0,0437 m3/hari dan (3)terbesar 40,7085 m3/hari dan terkecil 0,0821 m3/hari. Jika dari ketiga ini diambil yang maksimal yaitu kejadian sidemen = 202,3869 m3/tahun dan minimal = 0,0437 m3/tahun,berarti volume sedimentasi yang terjadi pada tiap-tiap tahun, supaya tidak mengakibatkan luapan air atau lumberan aliran air, sebesar volume kejadian sedimentasi pada sepanjang Kali Surabaya, maka diperlukan adanya perhitungan besaran volumen sidimentasi secara priodik di Kali Surabaya, sehingga untuk mengimbangi (balance sediment dan aliran airlumberan), dan hasil data-data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dipakai sebagai pendukung data untuk mengatasi (antisipasi) akan terjadinya banjir.Kata kunci : Transportasi sedimen Kali Surabaya, sebagai cegah banjir
Penyisihan Kromium pada Limbah Cair dengan Menggunakan Unggun Filtrasi Pasir Anggraini, S. P, Abrina
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.234 KB)

Abstract

Banyak limbah berbahaya yang ditimbulkan pada industri kimia, salah satunya adalah industri pelapis logam karena air bilasannya mengandung ratusan ppm asam kromat. Muncul perhatian dari masyarakat terhadap semakin banyaknya polusi dan pembuangan limbah yang sangat berbahaya bagi kehidupan, sehingga diharapkan residu limbah solid yang mengandung konsentrasi tinggi logam berat harus diatas level ramah lingkungan. Salah satu metode yang digunakan adalah menggunakan cara filtrasi pasir.Filtrasi pasir merupakan proses pemisahan zat-zat atau senyawa-senyawa kimia yangtidak dibutuhkan dengan menggunakan pasir sebagai media penyaring. Penelitian ini dipusatkan pada penyisihan kromium (VI) pada limbah cair industri dengan menggunakan filtasi pasir .variasi pasir yang digunakan masing-masing sebesar 20gram, 40gram,60gram dan 80gram dengan konsentrasi 20ppm, 40 ppm, 60ppm dan 80ppm. Berbagaivariasi pasir dapat mengadsorbsi larutan kromium (VI) dalam jumlah yang cukup besar,namun dari setiap variasi pasir mempunyai kemampuan mengadsorbsi kromium (VI) yangberbeda-beda. Semakin besar massa pasir yang digunakan, maka semakin besar pula kromium (VI) yang teradsorbsi, hal ini disebabkan karena semakin besar massa pasir yangdigunakan maka luas permuakaannya akan semakin besar yang mengakibatkan tingkat adsoorpsi semakin tinggi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa persentase adsorbsimaksimum terjadi pada filtrasi dengan massa pasir sebesar 80 gram yang dapat mengadsorbsi larutan kromiun (VI) sampai dengan 86 %.Kata kunci : limbah, filtrasi, pasir
Analisa Ketersediaan dan Kebutuhan Air pada DAS Sampean Sari, Indra Kusuma; Limantara, Lily Montarcih; Priyantoro, Dwi
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.09 KB)

Abstract

Perkembangan wilayah pada suatu daerah akan menyebabkan kebutuhan air terusmeningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Pemenuhan kebutuhan pangan dan aktivitas penduduk selalu erat kaitannya dengan kebutuhan akan air. Tuntutan tersebut tidak dapat dihindari, tetapi haruslah diprediksi dan direncanakan pemanfaatan sebaik mungkin. Kecenderungan yang sering terjadi adalah adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. Untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan air dan ketersediaan air di masa mendatang, diperlukan upaya pengkajian komponen-komponen kebutuhan air, serta efisiensi penggunaan air.Kebutuhan air domestik dan Non Domestik sebesar 50,93 lt/dt untuk saat ini, 68,34lt/dt untuk 2 tahun mendatang, 87,09 lt/dt untuk 5 tahun mendatang, 111,96 lt/dt untuk 10 tahun mendatang dan sebesar 160,06 lt/dt untuk 20 tahun mendatang. Kebutuhan air irigasitotal sebesar 37.305,7 lt/dt mengairi sawah seluas 36.180 ha. Kebutuhan air Industrisebesar 4,68 lt/dt untuk saat ini, 4,74 lt/dt untuk 2 tahun mendatang, 4,84 lt/dt untuk 5tahun mendatang, 5,04 lt/dt untuk 10 tahun mendatang dan sebesar 5,54 lt/dt untuk 20tahun mendatang. Kebutuhan air Perikanan sebesar 281,72 lt/dt untuk saat ini, 296,13 lt/dtuntuk 2 tahun mendatang, 319,92 lt/dt untuk 5 tahun mendatang, 366,52 lt/dt untuk 10 tahun mendatang dan sebesar 495,48 lt/dt untuk 20 tahun mendatang.Dari hasil perhitungan diatas daerah layanan yang mengalami defisit air pada saat ini : Pakem, Botolinggo, Tlogosari, Bondowoso, 2 tahun mendatang : Pakem, Botolinggo,Tlogosari, Bondowoso, 5 tahun mendatang : Pakem, Botolinggo, Tlogosari, Bondowoso,Tenggarang, Sukosari, 10 tahun mendatang : Pakem, Botolinggo, Tlogosari, Bondowoso,Tenggarang, Sukosari, Maesan, 20 tahun mendatang : Pakem, Botolinggo, Tlogosari, Bondowoso, Tenggarang, Sukosari, Maesan, Prajekan, Curahdami.Ketersediaan dan Kebutuhan air pada Das Sampean mengalami defisit pada beberapa daerah layanan yang pada kondisi 2,5,10 hinggga 20 mendatang semakin bertambah daerah layanan yang mengalami defisit, Kebutuhan air yang mendominasi penggunaan air permukaan di Das Sampean adalah kebutuhan air irigasi, pada kondisi di daerah studi penggunaan air untuk kebutuhan industri dan perikanan banyak menggunakan air dari saluran irigasi yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas air yang masuk pada petak sawah. Keadaan ini ditunjang dengan belum dimanfaatkan dan minimnya saranabangunan air dari sumber-sumber air lainnya. Oleh sebab itu direkomendasikan agar dilakukan studi dan survey lebih lanjut dari aspek topografi, geologi, hidrologi untuk mengatasi penyediaan air pada daerah defisit, baik interkoneksi dari daerah surplus kedaerah defisit serta perlu dilakukan studi, survey dan investigasi lebih lanjut untuk mencarisumber air baru (bawah permukaan, permukaan) sebagai pemenuhan kebutuhan domestik dan non domestik.Kata kunci : Ketersediaan, Kebutuhan, Neraca Air.
Pengembangan Model Hidrograf Satuan Sintetis Snyder untuk Daerah Aliran Sungai di Jawa Timur Siswoyo, Hari
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.525 KB)

Abstract

Model hidrograf satuan sintetis (HSS) telah banyak dikembangkan oleh para pakar,antara lain HSS Snyder yang dikembangkan berdasarkan karakteristik sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan pegunungan Appalachian Amerika Serikat. Dalam Model HSS Snyder tersebut terdapat 2 parameter non fisik yang merupakan fungsi dari karakteristik DAS yaitu Ct dan Cp. Penggunaan metode ini untuk kondisi di Jawa Timur sangatlah sulit karena penentuan besarnya koefisien tersebut memerlukan proses kalibrasi untuk tiap daerah yang berbeda. Untuk mengatasi masalah tersebut HSS Snyder perlu dikembangkan dengan karakteristik, kondisi, dan pola hujan pada DAS-DAS di JawaTimur. Pemodelan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model statistikaregresi yang mencari hubungan antara unsur-unsur hidrograf satuan dengan karakteristik DAS yang diteliti. Dari hasil pemodelan diperoleh Model HSS Snyder dengan menggunakan koefisien-koefisien regresi yang sesuai dan lebih mendekati karakteristik hidrograf satuan untuk DAS di Jawa Timur.Kata Kunci : Hidrograf Satuan Sintetis, Karakteristik DAS
Optimasi Penggunaan Lahan Pertanian dengan Program Linier (Lokasi Studi : J.I. Sumber Buntu,Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang) Suhardono, Agus
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.747 KB)

Abstract

Perencanaan optimasi lahan pertanian dapat dilakukan dengan program linier. Dengan tujuan memaksimumkan keuntungan total dan pembatas ketersediaan air dan luas lahan, telah digunakan data-data pada areal pertanian irigasi jaringan irigasi Sumber Buntu, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Jenis tanaman yang digunakan adalah padi, polowijo (jagung dan sayur-sayuran) dan tebu, dengan analisa tiga kali musim tanam dalam setahun. Dari iterasi metode simpleks pada model matematika program linier diperoleh hasil sebagai berikut : pada musim tanam I luas lahan optimum untuk padi 7 hektar sedang untukpolowijo/ jagung dan tebu masing-masiiig 60 hektar dengan nilai keuntungan Rp3.750.350.000,-, musim tanam II luas lahan optimum untuk padi 63 hektar dengan keuntunganRp 649.6530.000,, musim tanam III luas lahan optimum untuk padi 60 hektar, dengan keuntungan Rp 618.600.000,-.Kata Kunci : optimasi lahan pertanian, memaksimalkan total keuntungan,program linier
Pemberian Sill (Z) pada Awal Saluran Transisi Pelimpah Samping Studi Kasus pada Pelimpah Bendungan Bayang-Bayang Kabupaten Bulukumba Taufik, Mohammad
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.092 KB)

Abstract

Bangunan Pelimpah Samping (side spillway) berfungsi mengalirkan air banjir yang menyebabkan naiknya muka air di bendungan, hal ini untuk menghindarkan dari bahaya over topping. Pada awal perencanaan pelimpah samping, penentuan dasar saluran sangat penting karena akan berpengaruh terhadap kemampuan mengalirkan debit supaya tidak terjadi aliran tenggelam (submerged) yang akan menyebabkan ketidaksempurnaan kemampuan pengaliran debit pada pelimpah.Banyak kasus pada pemodelan spillway yang mempunyai saluran transisi tidak lurrus karena kondisi medan atau lokasi yang tidak memungkinkan untuk dibuat lurus, hal ini akan menimbulkan aliran silang (cross flow) pada saluran transisi dan peluncur. Hal demikian tidak boleh terjadi karena akan menyebabkan ketidak sempurnaan aliran. Untuk itu maka diperlukan adanya ambang atau sill pada awal saluran transisi untuk mengarahkan agar supaya tidak terjadi aliran silang. Pendekatan tingginya ambang atau sill bisa diperkirakan dengan rumus empiris, agar supaya dalam penentuan sill dalam pemodelan tidak dilakukan dengan cara coba-coba.Kata kunci : saluran transisi, rumus empiris, ambang
Kajian Penataan Sumber Daya Air dan Konservasi Air Tanah pada Wilayah Kritis Air (Studi Kasus di DAS Blega Kabupaten Sampang Madura – Jawa Timur) Djunaedi, Djunaedi
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.43 KB)

Abstract

Pertumbuhan penduduk akan mempengaruhi terhadap potensi sumber daya air di wilayah DAS. DAS Blega yang terletak di Kabupaten Sampang Pulau Madura mengalamikondisi kritis, debit air sungai pada musim kemarau semakin kecil pada musim penghujan debit airnya semakin besar yang terdapat kandungan sedimen semakin besar, daya rusak banjir juga semakin besar. Sesuai kondisi wilayah DAS, mayoritas pertanian tadah hujan dan jenis tanaman yang di tanam adalah jagung di tanam pada saat musim hujan. Faktor yang berpengaruh adalah kondisi klimatologi dengan tingkat curah hujan yang rendah dan geologi tanah mempunyai porositas tinggi. Hal ini diperlukan upaya untuk memperbaiki bagian hulu DAS dengan melakukan penanaman pohon dan reboisasi untukmengembalikan dan menaikkan ketersediaan air di DAS Blega tersebut. Wilayah DAS Blega masih mampu memenuhi kebutuhan air, tetapi pada kenyataannya, dikategorikan sebagai wilayah yang mengalami kritis air disebabkan oleh factor penggundulan hutan pada daerah-daerah resapan air, kurang memaksimalkan dan memanfaatkan potensi-potensi air yang ada, kurangnya bangunan-bangunan air penunjang seperti bendung ataupun waduk, kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungannya dan kelestarian air.Kata Kunci : potensi sumber daya air, kondisi kritis, memanfaatkan potensipotensiair yang ada
Aplikasi Model AVSWAT 2000 untuk Memprediksi Erosi, Sedimentasi dan Limpasan di DAS Sampean Asmaranto, Runi; Suhartanto, Ery; Yuanita, Mike
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.775 KB)

Abstract

DAS Sampean merupakan salah satu DAS yang memiliki kondisi kritis, dengan musim penghujan pada Bulan Desember - Maret. Salah satu faktor yang menyebabkan kondisi DAS Sampean menjadi kritis adalah karena penggundulan hutan oleh masyarakat. Akibat kondisi DAS yang kritis tersebut, maka tingkat kekeringan dan banjir akan terus semakin bertambah apabila kondisi DAS tersebut tidak segera ditangani. Software AVSWAT 2000 adalah program yang berbasis SIG yang bekerja sebagai tambahan (Graphical User Interface) dalam software Arc View. Program AVSWAT 2000 dirancang khusus dan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah- masalah yang ada dalam suatu DAS. Salah satu kemampuannya adalah untuk memprediksi erosi, sedimentasi dan limpasan yang ada pada DAS Sampean. Besarnya debit limpasan rata-rata pada DAS Sampean mulai tahun 1996 sampai dengan tahun 2005 sebesar 358,67 m3/dt, laju erosi rata –rata sebesar 303,98 ton/ha/th atau sekitar 25,33 mm/th dan sedimen sebesar416960,9 ton/th. Berdasarkan Indeks Bahaya Erosi, DAS Sampean memiliki Indeks Rendah sebesar 9,64% (11997,47 ha), Indeks Sedang sebesar 39,38% (48863,70 ha), Indeks Tinggi sebesar 3,16% (3929,83 ha), dan Indeks Sangat Tinggi sebesar 47,92%(59609,87 ha).Kata Kunci : DAS Sampean, Erosi, Sedimentasi dan Limpasan
Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Sedimen di Sungai Lesti Febrianingrum, Noor Dinda; Masrevaniah, Aniek; Suhartanto, Ery
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.762 KB)

Abstract

Perubahan tata guna lahan yang terjadi di sungai Lesti merupakan sebuah dampak yang besar dari kegiatan manusia. Jumlah penduduk yang terus meningkat menyebabkan kebutuhan akan daerah pemukiman baru terus bertambah. Perubahan daerah hutan menjadi persawahan ataupun menjadikannya sebagai daerah pemukiman tentunya akan berpengaruh besar terhadap sedimen di sungai Lesti.Software AVSWAT 2000 adalah program berbasis SIG yang bekerja sebagai ekstensi dalam software ArcView yang dirancang khusus untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada suatu DAS. Salah satu kemampuannya adalah untukmemprediksi sedimen yang ada di badan sungai dalam DAS. Untuk mendapatkan nilai dari sedimen yang ada di badan sungai dibutuhkan overlay dari peta tata guna lahan dan peta jenis tanah. Data hidrologi dan klimatologi dibutuhkan program guna memprediksi besar kandungan yang terdapat di badan sungai.Dalam studi ini dikaji besaran sedimen di sungai Lesti berdasarkan 2 (dua) tataguna lahan tahun 2003 dan tahun 2005. Masing-masing tata guna lahan di bagi menjadi 20 sub DAS dengan total keseluruhan 59140.015 Ha. Perubahan luas tata guna lahan dari tahun 2003 ke tahun 2005 yang meliputi : Belukar/Semak berkurang sebesar41,131%, Air Tawar berkurang sebesar 95,556%, Industri berkurang sebesar 99,345%,Kebun bertambah sebesar 121,707%, Pemukiman bertambah sebesar 157,848%, Rumput berkurang sebesar 97,580%, Sawah Irigasi bertambah sebesar 76.114%, Sawah Tadah Hujan berkurang sebesar 79,809%, Tegalan berkurang sebesar 64,244%, dan Hutan berkurang sebesar 99,796%. Dengan terjadinya perubahan luas tata guna lahan maka didapatkan nilai persentase perubahan dari perbandingan hasil simulasi tahun 2003 ketahun 2005 yang menunjukkan terjadinya kenaikan konsentrasi sedimen sebesar 68,261%.Hasil sedimen simulasi mempunyai kecenderungan mempunyai trend yang sama dengan sedimen terukur meskipun model memberikan nilai kesalahan relatif yang masih besar pada tahun-tahun tertentu. Hal ini dimungkinkan karena keterbatasan data yang ada sehingga input parameter kurang detail. Hasil simulasi untuk sedimen mendekati sedimen terukur dengan koefisien korelasi 0,6 < R < 1,0 yang artinya mempunyai hubungan langsung positif baik. Melalui uji homogenitas dikatakan bahwa kedua model dikatakan 95% betul bahwa sama jenis atau homogen dengan sedimen terukur. Tetapi menurut fungsi waktu antara bulan januari sampai dengan bulan desember pada tahun 2003 dan tahun2005 dikatakan bahwa kedua model tidak sama.Kata kunci : Tata guna lahan, Sedimen, Simulasi, AVSWAT 2000

Page 1 of 2 | Total Record : 14