cover
Contact Name
Nia Kurniasih
Contact Email
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sosioteknologi, Labtek VII, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sosioteknologi
ISSN : 18583474     EISSN : 2443258X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Sosioteknologi is a journal that focuses on articles that discuss results of an intersection of research fields of science, technology, arts, and humanities as well as the implications of science, technology, and arts on society. It is published three times a year in April, August, and December. Jurnal Sosioteknologi is a collection of articles that discuss research results, conceptual ideas, studies, application of theories, and book reviews. Jurnal Sosioteknologi has been indexed by Google Scholar and Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474 Jurnal Sosioteknologi adalah jurnal yang memfokuskan pada tulisan berupa penelitian interseksi bidang ilmu sains, teknologi, seni, dan ilmu kemanusiaan serta implikasi sains teknologi dan seni terhadap kehidupan masyarakat. Terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. Jurnal Sosioteknologi berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Jurnal Sosioteknologi telah terindeks oleh Google Scholar, Citerseerx, dan Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474
Arjuna Subject : -
Articles 608 Documents
HUBUNGAN FAKTA GEOPOLITIK DENGAN PERENCANAAN BAHASA Yani Suryani
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.1.4

Abstract

Geopolitik berperan penting terhadap eksistensi sebuah bahasa dan bangsa. Perencanaan bahasa di sebuah negara menjadi penting karena dapat berperan menjaga keutuhan bangsa, melancarkan hubungan diplomatik, dan melakukan ekspansi bahasa bagi kebutuhan industri dan ekonomi. Dari negara-negara yang terdapat di lima benua, didapat simpulan bahwa geopolitik sebuah negara berperan besar terhadap perencanaan bahasa di negara tersebut. Negara yang situasi geopolitiknya stabil dapat melakukan ekspansi bahasa ke negara lain. Sementara itu, negara dengan geopolitik yang masih bergejolak sangat memerlukan perencanaan bahasa yang matang. Kata kunci: geopolitik, perencanaan bahasa, ekspansi Geopolitics is vital to the existence of a language and nation. Language planning in a country is important because it may contribute to the process of maintaining the integrity of the nation, keeping diplomatic relations, and expanding language for the needs of industry and economy. Of the countries in the five continents, a conclusion was obtained that the geopolitics of a state contributes significantly to the language planning of the country. Countries with stable geopolitical situation can expand their language to other countries. Meanwhile, countries with highly volatile geopolitical condition still require a careful language planning. Keywords: geopolitics, language planning, expansion
MEMAKNAI PESAN SPIRITUAL AJARAN AGAMA DALAM MEMBANGUN KARAKTER KESALEHAN SOSIAL Yedi Purwanto
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.1.5

Abstract

Adanya fenomena bahwa kesalehan individu kurang berdampak pada kesalehan sosial merupakan latar belakang kajian ini. Pilar agama Islam (Rukun Islam) tidak bisa dipahami hanya sebagai bentuk kewajiban ritual individual seorang muslim dengan Sang Khalik, melainkan juga mengandung maksud bahwa kelima hal itu menjadi suatu sarana membina hubungan sosial antara seorang muslim dengan orang lain, bahkan dengan makhluk lainya. Dengan kata lain, kewajiban menjalankan rukun Islam, memenuhi kewajiban spiritual seseorang (muslim) juga kewajiban sosial. Pada akhirnya hal tersebut akan membentuk karakter kesalehan sosial. Kelima rukun Islam tersebut secara sosiologis memberikan pemahaman bahwa di dalam menjalankan kewajiban ritual agama, seorang muslim hendaknya memenuhi aspek lainnya, yaitu membina hubungan harmonis dengan sesama manusia. Dengan demikian maka terciptalah keharmonisan hubungan secara vertikal dengan Sang Pencipta (hablum minallah), juga hubungan harmonis dengan manusia (hablum minannas). Jika kedua aspek sudah terpenuhi maka akan menjadi nyatalah perwujudan seorang insan kamil atau manusia sempurna. Kata kunci: manusia, insan, bani adam, kesalehan sosial The phenomena that individual piety has less impact on the social piety is the background of this study. The Five Pillars of Islam cannot be understood as a mere form of individual ritual obligation of a muslim to the Creator, but, more importantly, supports the notion that the Five Pillars are a means of fostering social relationship between a Muslim and other people, and even with other creatures. In other words, the obligation to implement the Pillars of Islam, fulfilling one's (muslim's) spiritual obligations, is also a social obligation. In the end, it will shape the character of the society's piety. The Five Pillars of Islam sociologically provide an understanding that in performing the obligation of religious rituals, a muslim must fulfill other aspects, namely fostering harmonious relationships with fellow human beings. Thus, it creates a harmonious relationship with the Creator vertically (hablum minallah) and also a harmonious relationship with other human beings (hablum minannas). If both aspects are met, there will be an obvious embodiment of a perfect man. Keywords : human beings, children of Adam, social piety
FENOMENA BAHASA BALIHO SEBAGAI IDENTITAS DIRI TOKOH CERMINAN KARAKTER BUDAYA : KAJIAN SEMIOTIKA Sulastri Sulastri; Ronidin Ronidin
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.1.6

Abstract

Keyakinan dan ide-ide sering diiklankan di billboard melalui bahasa dan simbol. Oleh karena itu, keyakinan dan ide-ide pada billboard dapat diteliti dengan menggunakan analisis tekstual. Billboard dapat dianggap sebagai salah satu kekayaan budaya dan oleh karena itu tidak dapat dipisahkan dari aspek identitas, yang dibentuk melalui ideologi dan dapat dibangun melalui kesadaran perilaku individu. Teks billboard tampak sederhana tetapi dapat ditafsirkan ke dalam berbagai tingkatan dan makna. Selama proses membaca billboard, peran "mengundang" dan "mengundang" bisa menjadi "memerintah" dan "yang diperintah". Bahasa billboard mungkin membuat orang tidak ekspresif dan non-eksperimental tetapi dapat menghasilkan bahasa ekspresif yang dapat membawa pencerahan dan kecerdasan. Bahasa "žterlihat"Ÿ dan "žtak terlihat"Ÿ tidak bisa menghindari penafsiran sederhana atau terkendali dan bahkan makna ganda karena bahasa pada billboard menggunakan gaya bahasa hiperbola atau melebih-lebihkan gaya. Teks-teks billboard juga dikemas dalam simbol dan tanda yang tidak berubah-ubah. Melalui semiotika, aspek tanda dan simbol yang tersembunyi dalam bahasa billboard dapat direpresentasikan dan di analisis secara rinci. Pendekatan semiotika menjelaskan hubungan antara satu tanda dengan tanda lain yang mewakilinya. Selain itu, ada posisi yang sama antara representasi dari apa yang tersedia dan representasi apa yang tidak tersedia, antara "mewakili apa yang ada" dengan "apa yang tidak ada", yang diwakili". Kata kunci: bahasa billboard, identitas, perilaku, semiotik, tanda dan simbol Beliefs and ideas are often advertised on billboards, delivered through languages and symbols. Therefore, beliefs and ideas on billboards could be examined by using a textual analysis. Billboards could be considered as one of cultural properties hence it cannot be separated from the identity aspects, which are shaped through ideology and can be built through the awareness of individual behaviors. Billboard texts seem simple but they can be interpreted into many levels and meanings. During the billboard reading process, the roles of "inviting" and "invited" can become "to rule" and "being ruled". The billboard language might make people unexpressive and non-experimental, but it can also produce expressive language that can bring enlightenment and intelligence. The visible and invisible language cannot avoid a simple or restrained interpretation and even numerous meanings because a billboard uses a hyperbole or exaggerating style. The billboard texts are also wrapped up in symbols and signs that are not changeable. Through semiotics, sign aspects and symbols hidden in billboard language are represented and can come into another detailed analysis. Semiotic approach applies its righteousness and then explains the relationship between a sign and another sign that represents it. In addition, there is a similar position between the representation of what is available and the representation of what is not available, between "represent what exists" with" what non-existing" what is "being represented". Keywords: billboard language, identity, behavior, communication, semiotic, signs and symbols.
FLEKSIBILITAS RUANG KELAS SEBAGAI UPAYA MEMENUHI KEBUTUHAN DALAM MEMBANGUN MOTIVASI ANAK DI TK BUNDA GANESA BANDUNG R. Rr. Hasri Sulistiyani; Ruly Darmawan; Lies Neni Budiarti
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.1.7

Abstract

pembelajaran dan meningkatkan motivasi bermain-belajar anak. Salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan yaitu pembelajaran atraktifdengan penataan lingkungan di luar dan dalam kelas sebagai pilar pertamanya. Penataan lingkungan kelas di beberapa TK bukanlah hal mudah karena terkendala oleh keterbatasan lahan atau keleluasaan mengubah bangunanyang ada.Oleh karena itu, pada penelitian ini diuraikan peran fleksibilitas ruang sebagai upaya memenuhi kebutuhan dalam membangun motivasi bermain-belajar anakpada TK dengan keterbatasan lahan.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif dengan studi kasus TK Bunda Ganesa Bandung.Analisis menggunakan quality learning instrument (QLI) yang ditriangulasikan dengan teori motivasi Maslow dan teori fleksibilitas ruang oleh Monahan, serta hasil wawancara.Hasil penelitian menunjukkan fleksibilitas ruang kategori fluiditylebih berperan dalam menunjang motivasi bermain-belajar melalui pemenuhan kebutuhan dan kenyamanan ketika anak berkegiatan, sedangkan fleksibilitas versatilitydan modifiability juga berperan dalam menangani perubahan kebutuhan ruang pada keterbatasan lahan maupun bangunan yang ada. Kata kunci: fleksibilitas ruang, kebutuhan ruang anak, ruang bermain-belajar, motivasi anak TK. Kindergarten learning methods constantly evolve to optimize learning and improve children's learning motivation. One of the methods developed is attractive learning with an environmental arrangement of outside and inside the classroom as the first pillar. Arranging the classroom environment in some kindergartens is not easy because it is constrained by the limitation of space and possibility for changing the existing buildings. Therefore, this research describes the role of spatial flexibility in order to meet the needs for building the learning motivation among the children at kindergartens with limited space. This research uses a descriptive qualitative method with TK Bunda Ganesa Bandung as the case study. The analysis uses Quality Learning Instrument (QLI), triangulated according to Maslow's theory of motivation, and Monahan's theory of flexibility of space, as well as results of interviews. The results show that the fluidity of space flexibility plays a bigger role in supporting the learning-playing motivation through meeting the needs and comfort of the children when they are having activities, while the versatility and modifiability flexibility also play a role in addressing the changing needs for rooms with limited space and the existing buildings. Keywords: flexibility of space, children's need for space, playing-learning space, motivation of children in kindergartens.
Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan Qoriah A. Siregar
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.1.8

Abstract

Defenisi intelijen menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 16 tahun 2011 pasal 1 ayat (1): intelijen adalah usaha, kegiatan, dan tindakan terorganisir [terorganisasi] dengan menggunakan metode tertentu menghasilkan produk tentang masalah yang dihadapi dari seluruh aspek kehidupan untuk disampaikan kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan". Sejalan dengan defenisi tersebut, menurut Surat Keputusan Kapolri no. Pol: Skep/VI/2006 "Secara umum pengertian inte-lijen adalah usaha dan kegiatan yang dila-kukan dengan metode-metode tertentu secara terorganisir [terorganisasi] untuk men-dapatkan/menghasilkan produk berupa penge-tahuan tentang masalah-masalah yang dihadapi, kemudian disajikan kepada Kapol-sek/Kanit intelijen sebagai bahan pengambilan keputusan kebijaksanaan atau tindakan".
TRANSFORMASI BUDAYA SAINS DAN TEKNOLOGI : MEMBANGUN DAYA KREATIVITAS Yasraf Amir Pilliang
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 2 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.2.1

Abstract

Hubungan antara pembangunan sains-teknologi dan pengembangan sosial-budaya pada dasarnya bersifat timbal balik. Di satu sisi, nilai-nilai budaya dalam masyarakat tertentu sangat mendukung pengembangan sains pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain, pengenalan atau difusi sains dan teknologi tertentu secara fundamental dapat mengubah nilai-nilai budaya masyarakat itu sendiri. Kedua nilai pada dasarnya hadir dalam berbagai cara, dan kreativitas adalah manifestasi dasar nilai-nilai tersebut. Akan tetapi, nilai-nilai hidup itu sendiri biasanya tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai yang diperlukan untuk pengembangan kreativitas dalam sains dan teknologi. Di sini, kita berbicara tentang "kesenjangan budaya antara nilai-nilai yang terkait, sebagai konsekuensi logis dari karakter budaya negatif unlsolved tertentu: budaya mimesis, kandang dari status quo, mentalitas jalan pintas, model ketidakseimbangan berpikir. Hasilnya adalah kontradiksi tertentu antara nilai-nilai sosial budaya dan nilai-nilai sains-teknologi. Untuk menciptakan nilai-nilai yang lebih seimbang, yang mendukung pengembangan sistem ilmu-teknologi dan sistem sosial-budaya, pengenalan serangkaian strategi budaya sangat diperlukan: untuk membangun sebuah "budaya ketiga", untuk mengembangkan model berpikir yang seimbang, untuk menciptakan masyarakat yang kreatif, untuk meningkatkan budaya produktif, dan untuk membangun ruang representasi bagi komunikasi sains dan teknologi di masyarakat. Kata kunci : transformasi, sains-teknologi, sosial-budaya, kreativitas The relation between science-technological development and socio-cultural development is basically reciprocal in its nature. On the one hand, certain cultural values in a particular society are highly supportive for the development of science and technology. On the other, the introduction or diffusion of a certain science and technology can fundamentally change the cultural values themselves. Both values are basically present in various ways, in which creativity is their fundamental manifestation. However, the living values themselves are not usually in line with the values that are necessary for the development of creativity in science and technology. Here, we talk about a "cultural discrepancy between related values, as a logical consequences of particular unlsolved negative cultural characters: mimetic culture, the cage of status quo, short cut mentality, imbalance model of thinking. The result is a certain contradiction between socio-cultural values and science-technological values. To create a more balance of values, which are supportive for the development of both science-technological system and socio-cultural system, the introduction of a set of cultural strategies is higly necessary: to build a "third culture", to develop a balance model of thinking, to create a creative society, to enchance a productive culture, and to construct a representational space for the communication of science and technology in the society. Keywords: transformation, science-technology, socio-culture, creativity
KAJIAN MORALITAS TEKNOLOGI PINTU PERLINTASAN KERETA API (Studi Kasus: Pintu Perlintasan Kereta Api Cikudapateuh Bandung) Idhar Resmadi
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 2 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.2.2

Abstract

Kecelakaan kereta api merupakan salah satu peristiwa transportasi yang sering terjadi di Indonesia. Salah satu permasalahan yang mengemuka adalah persoalan pintu perlintasan kereta. Kecelakaan yang sering terjadi di sekitar pintu perlintasan disebabkan kelalaian petugas penjaga pintu atau sikap dari para pengemudi yang nekat. Faktor manusia dan teknologi sering menjadi sorotan dalam banyak kasus kecelakaan kereta api. Konsep mengenai determinisme teknologi dan konstruksi sosial memang merupakan dua kutub yang seolah-olah saling berlawanan dalam melihat suatu fenomena teknologi. Tulisan ini membahas bagaimana suatu pintu perlintasan kereta api dipandang sebagai salah satu unsur teknologi yang berperan penting dalam menjaga keselamatan manusia. Kajian ini mengamati faktor manusia dan nonmanusia dalam melihat moralitas teknologi pintu perlintasan kereta api di Cikudapateuh, Bandung. Kata Kunci: teknologi, moralitas, pintu perlintasan kereta api, transportasi Train wreck is one of the transportation accidents that often occur in Indonesia. One of the problems that often arise is that of railroad crossings due to negligence of the officers in charge or to reckless motorists. Human factors and technology are often in the spotlight in many cases of train accidents. The concept of technological determinism and social construct is a two-seemingly-contradictory view of technological phenomena. This paper outlines how rail crossings are viewed as an element of technology that plays an important role in human safety. This study observes human and non-human factors in perceiving the morality of railroad crossings technology in Cikudapateuh, Bandung. Keywords: technology, morality, railway crossings, transportation
TRANSITIVITY IN TELEPHONE CONVERSATION IN A BRIBERY CASE IN INDONESIA : A FORENSIC LINGUISTIC STUDY Dana Waskita
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 2 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.2.3

Abstract

Penelitian ini adalah sebuah kajian linguistik atas percakapan telepon dalam bahasa Indonesia pada kasus korupsi yang terjadi baru-baru ini, khususnya sebuah kasus penyuapan. Pendekatan linguistik pragmatis dan sistemik fungsional digunakan sebagai metode untuk mengungkapkan fakta-fakta yang ditemukan pada kasus penyuapan sebagai suatu jenis kasus hukum dalam studi Linguistik Forensik. Percakapan telepon dari dua jenis penyuapan dikumpulkan sebagai data penelitian ini. Data dianalisis secara semantis, pragmatis, dan sintaktis. Ditemukan bahwa para pelaku menggunakan beberapa kode tertentu untuk berkomunikasi. Mereka juga menggunakan cara tertentu untuk menyampaikan tindak tutur lokusi untuk mendapatkan ilokusi untuk mencapai efek perlokusi yang mereka inginkan. Banyak proses materi muncul pada transkrip percakapan telepon para pelaku (koruptor) yang menunjukkan tindakan yang mereka lakukan. Proses materi yang muncul dalam percakapan menunjukkan gejala bahwa permintaan langsung dilakukan oleh pihak yang lebih kuat kepada interlokutor untuk mempersiapkan bahan-bahan. Kata kunci : linguistik forensik, semantik, pragmatik, sintaksis, percakapan telepon, penyuapan This study applies linguistics to investigate telephone conversations on a recent corruption case, to be specific, a bribery, in Indonesia. A pragmatic and systemic functional Linguistic approach was used as the method to reveal the facts on a bribery as a type of legal case in forensic linguistic study. The telephone conversations on two different types of bribery were collected as the data of this research. The data were analyzed semantically, pragmatically, and syntactically. It was found that the perpetrators used some particular codes to communicate. They also used a certain way to convey locutions to get the illocution to achieve the effect of the perlocution they wanted. Many material processes appeared in the transcripts of the telephone conversations of the actors (corruptors) which show the actions performed by the actors. The material process that appears in the conversation suggests a direct request from the more powerful to prepare materials to the interlocutor. Keywords : forensic linguistic, semantics, pragmatics, syntax, telephone conversation, bribery
PEMANFAATAN KOTORAN SAPI UNTUK MATERIAL KONSTRUKSI DALAM UPAYA PEMECAHAN MASALAH SOSIAL SERTA PENINGKATAN TARAF EKONOMI MASYARAKAT Muhammad Dwi Nugroho; Muhammad Dzikri Ridwanulloh Annur
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 2 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.2.4

Abstract

Dewasa ini, kemajuan ilmu dan teknologi telah menghadirkan perubahan yang begitu signifikan. Kehidupan yang semula penuh dengan kesederhanaan kini berubah menjadi sangat modern. Sesuatu yang melandasi hal tersebut ialah ilmu. Dengan hadirnya ilmu, segala aspek kehidupan kini berubah sangat drastis. Ilmu membantu kehidupan manusia menjadi lebih dinamis karena keadaan sosial di suatu lingkungan masyarakat berkaitan erat dengan ilmu. Konflik sosial serta keadaan ekonomi rendah di suatu masyarakat dapat dipecahkan dengan ilmu dan teknologi. Perekaciptaan material bangunan pada sebuah konstruksi, yaitu batu bata dari kotoran sapi dapat berpengaruh dalam berbagai bidang seperti bidang sosial dan ekonomi yang selama ini banyak menjadi masalah dalam masyarakat. Konflik sosial dan ekonomi yang terjadi menarik untuk dikaji melalui disiplin ilmu teknik sipil. Dalam dunia konstruksi, kotoran sapi dapat didaur ulang menjadi suatu material bangunan, yakni sebagai pengganti batu bata. Selain upaya memecahkan konflik sosial masyarakat, batu bata kotoran sapi juga dapat menjawab masalah ekonomi masyarakat karena mampu menyediakan lapangan kerja dalam pemanfaatan limbah kotoran sapi. Kata kunci : kotoran sapi, material konstruksi, masalah sosial, ekonomi masyarakat Today the advancement of science and technology has brought significant changes. Life that was previously full of simplicity has now turned into modernity. The agent of change is science. With the presence of science, all aspects of life change so drastically. Science helps human life become more dynamic as the social condition of a public environment is closely related to science. Social conflicts as well as low economic circumstances in a society can be alleviated by science and technology. Innovation in the manufacture of building materials for construction, such as bricks from cow dung, can be influential in many fields, especially social and economic, which is still a problem commonly found in the community. Social and economic conflicts that occur are interesting to study through a civil engineering approach. In the construction world, cow dung can be recycled into a building material that is a substitute for bricks. In addition to the efforts to solve the social conflicts, cow dung bricks can also answer the economic problem of the society because it can provide employment in the use of cow manure. 0Keywords : cow manure, material of construction, social issues, economy of society
KAJIAN DIFUSI INOVASI KONVERGENSI MEDIA DI HARIAN PIKIRAN RAKYAT Idhar Resmadi; Sonny Yuliar
Jurnal Sosioteknologi Vol. 13 No. 2 (2014)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2014.13.2.5

Abstract

Konvergensi media merupakan salah satu perkembangan media massa yang melibatkan banyak faktor teknologi di dalamnya. Kehadiran internet mendorong media massa menerapkan konsep konvergensi media seperti media online, e-paper, e-books, radio streaming, media sosial, dan lain-lain. Persaingan bisnis media menjadi salah satu faktor pendorong media massa menerapkan konsep ini karena perkembangan teknologi tidak hanya mengandalkan format cetak (koran, majalah, buku) semata. Inovasi konvergensi media dibutuhkan agar media massa mampu tetap bersaing di era bisnis dewasa ini. Sebagai salah satu bentuk inovasi, konvergensi media memerlukan berbagai proses dan tahapan dalam penerapannya. Tulisan ini akan menelusuri proses terjadinya difusi inovasi konvergensi media dengan objek penelitian harian Pikiran Rakyat. Penelitian secara kualitatif ini menggambarkan bagaimana konvergensi media mampu diadopsi oleh suatu media massa secara bertahap. Kata kunci: konvergensi media, difusi inovasi, media massa ABSTRACT The convergence of media is one of the developments of mass media that involve many technology factors in it. The existence of internet encourages the media to apply the concept of convergence of media such as online media, e-paper, e-books, radio streaming, social media, and others. Competition in media business is one factor driving the mass media to apply this concept because the mass media today does not merely rely on printted formats (newspapers, magazines, books) alone. Media convergence innovation is deemed necessary in order that the mass media be able to remain competitive in today's media business era. As one of the innovations in the mass media, media convergence requires a variety of processes and stages in the application. This paper will explore the process of diffusion of convergence innovation in the dailynews Pikiran Rakyat. This qualitative study describes how the media convergence is adopted by the mass media in stages. Keywords: media convergence, diffusion of innovation, mass media

Filter by Year

2006 2025