Global Strategis
Jurnal Global & Strategis is a scientific journal published twice a year, every June and December. JGS invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JGS published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis"
:
9 Documents
clear
Ekonomi Politik Kerja Sama Korea Selatan - Indonesia dalam Joint Development Pesawat Tempur KFX/IFX
Semmy Tyar Armandha;
Arwin Datumaya Wahyudi Sumari;
Haryo Budi Rahmadi
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (415.077 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.75-94
Proyek kolaborasi pengembangan Korean Fighter Experiment/Indonesian Fighter Experiment (KFX/IFX) Joint Development antara Indonesia dan Korea Selatan dibangun atas dasar keinginan Korea Selatan dan Indonesia untuk membangun kemandirian industri pertahanan di tengah keberadaan negara-negara besar dalam laju pengembangan alat utama sistem persenjataan dunia. Proyek ini pada prosesnya mengalami hambatan dan tarik ulur di antara kedua negara. Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan bagaimana hambatan tersebut dapat terjadi. Artikel ini menggunakan kerangka teoretis ekonomi kolaborasi dalam proses akusisi pertahanan secara makro. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif untuk menganalisis secara deskriptif relasi Military-Industrial Complex (MIC) dalam proyek KFX/IFX. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah pemetaan relasi antara Indonesia-Korea Selatan-Amerika Serikat sebagai segitiga besi pertahanan internasional dalam proyek KFX/IFX.
Intensi RRC menjadi Adidaya
I Basis Susilo
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (227.68 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.95-108
Artikel ini membahas keinginan RRC untuk menjadi adidaya pada abad ke-21 dan mengalahkan AS. Setelah Perang Dingin berakhir, sistem bipolar diganti oleh sistem unipolar, di mana AS sebagai adidaya satu-satunya secara sepihak mengontrol dinamika politik internasional. Para ilmuwan sepakat bahwa unipolaritas itu bersifat sementara, yang akan diganti oleh bipolaritas atau multipolaritas. Salah satu ahli, Christopher Lyane, memprediksi bahwa unipolaritas itu berakhir pada tahun 2010. Makalah ini berasumsi bahwa RRC paling potensial menjadi adidaya menggantikan AS pada abad ke-21 dan bahwa intensitas dan kapasitas adalah dua faktor komplementer yang mendorong proses itu. Makalah ini menemukan bahwa RRC belum menjadi adidaya sampai sekarang, karena memang tidak ada bukti adanya intensitas para pemimpin RRC yang menargetkan RRC menjadi adidaya pada tahun 2015 ini. Para pemimpin RRC memang punya intensitas untuk menjadi adidaya dan mengalahkan AS, tetapi targetnya tidak secepat prediksi Lyane. Ada dua target, yaitu tahun 2049 dan 2100, yang diupayakan oleh semua pemimpin tertinggi RRC.
Model of Indonesia-Timor Leste Land Border Management by Optimizing the Cross-Border Post in Belu Regency, East Nusa Tenggara
Iva Rachmawati;
Fauzan Djalaludin
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (767.493 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.1-14
This article is based on our research on the management of Cross-Border Posts (CBPs) in Belu that was conducted in three Cross Border Posts: Mota’ain, Motamasin and Turiskain. We offer a model of CBP management with two changes to the initial function design embedded with CBP (CIQS/Custom, Immigration, Quarantine and Security). The changes we offer are: (1) withdrawing the military personnel; and (2) assigning a new social function. These changes are based on the facts of local’s historical, social and economic backgrounds which are different from those of other areas. This approach will absolutely affect the form of the current CBP. Interviews were conducted to collect information related to the socio-cultural backgrounds and economic needs among the people living around the border. With the changes in mind, functions, it is expected that the CBP can meet the need of the people living around the border.
Nuclear Energy for Everyone, Nuclear Weapons for No-One
Makarim Wibisono
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.582 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.109-124
The article explores the complicated nature of non-proliferation of nuclear weapons even though from the military, ethical and legal perspective, the destructiveness, immorality and illegality of the current situation cannot be perpetuated. Some of the nuclear-weapon states, however, have consistently refused to agree to any approach under multilateral auspices for the abolition of nuclear weapons. Rather, attention has been deflected to the horizontal proliferation of nuclear weapons, while the equally urgent task of complying with the legal obligation of implementing Article VI of the Non-Proliferation Treaty (NPT) concerning nuclear disarmament has been marginalized. I argue, no form of warfare would confront humanity with dangers even remotely comparable with the danger of nuclear warfare. Such disaster would affect the world economy and other vital aspects of the global infrastructure. The sudden collapse of many of the world’s leading trading nations as well as the mechanisms for international transactions would lead to profound disorganization and leave other nation. In addition to the human cost, the ecology of the world would be severely affected and the infrastructure of civilization would be shattered.
Four Scenarios of Malaysia-Indonesia Migration: From the Status Quo to the Wild Card Scenarios
Suyatno Ladiqi;
Reevany Bustami;
Ellisha Nasruddin
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (442.264 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.15-29
In the context of ASEAN, the number of migrants from Indonesia and Malaysia is the largest. Combining the regular and the irregular migrants, the estimates range from 1.8 million to 3 million people. It is incontrovertible that movement of such magnitude has its impacts, probably both positive and negative. This article aims at providing an analysis based on future scenarios. The purpose is not to make predictions but rather to chart possible paths of critical events that would lead to different scenarios which have different implications to the political, economic and socio-cultural realities. Within this analysis, it is hoped that certain taken-for-granted blind-spots, due to conventional assumptions and mainstream paradigms, will be exposed and examined.
The Implementation of Russian Federation’s Coercive Diplomacy towards Ukraine in the New Great Game Context over Gas Pipeline Dispute (2006 -2009)
Anak Agung Banyu Perwita;
Nurhayati Pakpahan
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (679.703 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.125-136
The worsening of technical and safety condition of the pipeline infrastructure in Ukraine due to economic crisis following the end of the Cold War had driven Russia to provide compensation to Ukraine through applying subsidy on its gas price and paying the Ukrainian gas imports as long as Ukraine keep its promise to pay back the country’s debt until 2005. However, since Ukraine’s integration with the United States and its Western Allies by asking to become part of North Atlantic Treaty Organization and European Union state members, it refused to pay its high gas debts to Russia. This situation made Russia feels threatened towards its national security where there will be a possibility to the fall of Russian political influence in Ukraine. In 2006, Russia decided to implement its coercive diplomacy actions towards Ukraine through politicizing its gas sector.
30 Respons Pemerintah Lokal terhadap Ancaman Terorisme Global: Kasus ISIS di Kota Malang
Najamuddin Khairur Rijal
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (628.577 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.30-54
Tulisan ini mengkaji mengenai bagaimana pemerintah lokal, dalam hal ini Pemerintah Kota Malang, merespons ancaman terorisme global Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Hasil penelitian lapangan ini menemukan bahwa dalam merespons ancaman ISIS, Pemkot Malang mengintegrasikan pendekatan persuasif dan represif. Pendekatan persuasif dilakukan dengan berbagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat. Adapun pendekatan represif dengan melakukan penangkapan terhadap anggota ISIS yang telah terbukti melakukan tindak pidana berupa makar. Selanjutnya, dalam merespons ISIS, aktor publik di berbagai level dan aktor privat saling sinergis yang menunjukkan implementasi dari model hybrid security governance. Hybrid security governance tersebut sejalan dengan konsepsi local governance bahwa ancaman ISIS tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah (aktor publik) sehingga membutuhkan keterlibatan aktor privat. Selain itu, respons tersebut sejalan dengan sikap pemerintah di level lebih tinggi yang menunjukkan the whole-of-government approach dan comprehensive approach dalam merespons ISIS sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan dunia.
Respon Poskolonial terhadap Intensifikasi Pendidikan Kolonial di Afrika
Baiq LSW Wardhani
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (402.141 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.137-151
Tulisan ini membahas tentang respon masyarakat poskolonial terhadap intensifikasi pendidikan dan penanaman mindset pro-western yang dilakukan oleh kolonialis, yang menunjukkan sikap penolakan. Subyek target adalah masyarakat di negara-negara poskolonial yang telah mengalami perubahan perilaku akibat masa kolonialisme yang panjang dan intensif. Intensifikasi kolonialisme meninggalkan jejak historis kuat dalam sistem pendidikan di kalangan masyarakat poskolonial. Respon masyarakat poskolonialisme atas hal tersebut amat beragam: menolak, menerima dan kompromi. Namun satu hal yang sama adalah, masyarakat poskolonial yang tinggal di berbagai negara merupakan subyek target dari penanaman nilai-nilai pendidikan Barat yang sebagian besar tidak bersejalan dengan nilai-nilai lokal. Hubungan asimetris yang terbentuk selama masa kolonial telah menciptakan dunia tersendiri bagi kaum terjajah yang selalu diposisikan sebagai marjinal/periphery dan tergantung pada mantan negara kolonialnya. Sebagian besar kasus dalam tulisan ini adalah pendidikan di Afrika yang secara historis mengalami masa kolonial yang intensif.
Intervensi Kemanusiaan dalam Studi Hubungan Internasional: Perdebatan Realis Versus Konstruktivis
Mohammad Rosyidin
Global Strategis Vol. 10 No. 1 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.036 KB)
|
DOI: 10.20473/jgs.10.1.2016.55-73
Artikel ini bermaksud memetakan isu intervensi kemanusiaan dalam konteks teoritis. Dua perspektif utama berdiri secara diametral dalam memandang intervensi kemanusiaan yaitu realisme dan kontruktivisme. Realisme, di satu sisi, memandang bahwa intervensi kemanusiaan tak lebih dari instrumen diplomasi untuk mengejar kepentingan nasional. Mengingat realisme tidak menaruh kepercayaan terhadap prinsip-prinsip abstrak dalam memandu kebijakan luar negeri, mereka bersikukuh bahwa intervensi kemanusiaan murni tindakan politis. Di sisi lain, konstruktivisme memandang sebaliknya bahwa intervensi kemanusiaan berhubungan erat dengan sifat negara yang mematuhi peraturan dan norma internasional. Konstruktivisme percaya bahwa terlepas dari adanya kepentingan nasional di balik tindakan negara, intervensi kemanusiaan merupakan upaya komunitas internasional untuk menegakkan norma kemanusiaan. Alhasil, berbeda dengan realis yang menganggap negara adalah aktor yang mementingkan diri sendiri konstruktivis menganggap negara adalah aktor altruis yang memiliki kepedulian terhadap warga negara lain.