cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Etika Respons
ISSN : 08528639     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 79 Documents
Kekerasan dan Abortus Provocatus Tarigan, Jacobus
Jurnal Etika Respons Vol 14, No 02 (2009): Jurnal Etika Respons
Publisher : Jurnal Etika Respons

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abortus provocatus is one of the sadistic violent actions that make the fetus as its scapegoat and the victim of  violence. It is a criminal action that breaks the law and the moral values. As many other violence actions that is inherited genetically and socially in human society, abortus provocatus endangers human life and its enviroment. To prevent this violent action this article suggests that we need education on love and the creation of love culture.
Pluralitas Agama dan Konflik Beragama Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 19, No 01 (2014): ResponS Juli 2014
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.812 KB)

Abstract

Pluralitas agama sering dituding  sebagai kondisi yang bersimpul pada konflik dan perseteruan antara kelompok agama. Sesungguhnya konflik dan perseteruan itu bukan merupakan kesimpulan dari perbedaan, melainkan sebuah keputusan imperatif yang sering tidak ada hubungan dengannya, selain hanya memanfaatkan, kondisi tersebut. Konflik­konflik dan perseteruan antar agama harus diamati lebih luas dari ranah agama saja, karena agama berinteraksi dengan budaya dan keterbatasan manusia. Dengan demikian penafsiran dan praktik­praktik serta implementasi kebenaran agama, hendaknya selalu didampingi pertimbangan­pertimbangan  etis dan terus direfleksikan dari dalam, demi menguji kesetiaan agama pada kebenaran­kebenaran yang diwartakan. Agama juga menuntut penghayatan yang mengandaikan kebebasan. Maka agama pun berpotensi untuk menjadi beranekaragam. Tetapi keanekaragaman tidak harus menjadi premis untuk menyimpulkan  adanya konflik. Konflik, seperti juga kerukunan,  merupakan keputusan yang bisa diambil atas dasar perbedaan dan keanekaragaman. Oleh karena itu perlu ada pertimbangan­pertimbangan etis untuk menghasilkan keputusan­keputusan yang bermartabat.
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Rekonstruksi Budaya Rima, Febiana
Jurnal Etika Respons Vol 14, No 02 (2009): Jurnal Etika Respons
Publisher : Jurnal Etika Respons

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Violence against women manifests itself in many ways in our age. It could happen in family, in school, and in society at large. Especially in patriarchal culture, violence has its root in the doctrine that women and men are not equal. The natural differences of both were constructed into social relation that puts men on the highest position of power relation pyramid. Violence in this culture is an instrument to keep and protect the power of men. Searching thesolution to this social issue, this article promotes a political reconstruction that based on the universal declaration of human rights and political communication.
Tan Malaka, Dialektika, dan Filsafat Konfrontasi Donny Gahral Adian
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17, No 02 (2012)
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstraksi: Tulisan ini membahas bagaimana aktivitas politik seorang Tan Malaka bersandar pada filsafat dialektika. Basis filsafat dialektika adalah konfrontasi. Namun, konfrontasi di sini bukan sesuatu yang lantas saling menghancurkan melainkan justrumembuat perubahan fundamental dalam struktur kemasyarakatan. Tan Malaka menginginkan agar cara berpikir identitas yang melemahkan digeser oleh cara berpikirdialektika yang lebih dinamis. Buku Madilog disusun Tan Malaka sebagai filsafat sekaligus pedoman gerakan. Meski berbasis pada konfrontasi, Tan Malaka juga menganggapsolidaritas sebagai sesuatu yang sangat penting. Apalagi jika solidaritas tersebutdibentuk untuk memperkuat konfrontasi dengan kekuatan kolonial Belanda.Kata Kunci: Konfrontasi, madilog, dialektika materialis, kolonialisme, logika mistikaAbstract: This paper discusses the political activity of Tan Malaka who rests on philosophicaldialectics. The basis of the philosophy is dialectics is confrontation. However, the confrontation does not necessarily mean mutual destruction. It is rather to make fundamentalchanges in the social structure. Tan Malaka wanted the debilitating mindset to be uprooted and changed by a more dynamic dialectical thinking. He published a book titled Madilog containing his philosophy served the basic guidelines for the movement. Although based on confrontation, Tan Malaka also considers solidarity as something very important. It is especially so when it is maintained in order to strengthen the confrontationwith the Dutch colonial power.Key Words: Confrontation, Madilog, materialist dialectics, colonialism, mystical logics
Pendidikan Moral sebagai Metode dalam Proyek Etika Immanuel Kant A. Puspo Kuntjoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.577 KB)

Abstract

Kant’s theory of education is clearly written in Metaphysics of Morals especially in the article of “Metaphysical First Principles of the Doctrine of Virtue”. Based on the frst principle of the doctrine of virtue Kant developes his ideas on the Doctrine of the Method of Ethics whick consists of ethical teaching and ascetics. According to Kant, ethics is an obligation coming from within. Tis obligation is not ascribed but achieved by the subject who is consistent in following practical reason. Tis is why moral virtue, according to Kant, can be taught.Education, metaphysics, virtue, duty, and natureTeori pendidikan I. Kant secara jelas ditulis dalam Metaphysics of Morals khususnya bagian tentang “Metaphysical First Principles of the Doctrine of Virtue.” Prinsip pertama doktrin keutamaan, Kant mengembangkan apa yang disebutnya Doctrine of the Method of Ethics yang terdiri dari dua bagian yaitu, pengajaran dan askese etis. Menurut Kant, etika merupakan doktrin mengenai kewajiban moral yang tidak diturunkan dari hukum ataupun peraturan dari luar. Kewajiban tidak bersifat kodrat melainkan pencapaian subjek bertindak mengikuti akal budi. Mengikuti akal budi adalah kewajiban moral dan bukan kecenderungan kodrat. Inilah alasannya mengapa keutamaan moral dapat diajarkan.Pendidikan, metafsika, keutamaan, kewajiban, dan kodrat
Media dan Pengawalan Demokrasi dalam Pilkada 2015 Ignatius Haryanto
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20, No 01 (2015): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.558 KB)

Abstract

AbstrAct: It is a matter of fact that today there is almost no independent journalism all over Indonesia. As a consequence journalists dependently rely onpolitical conditions led by those who have economic sources to pay for news andadvertisements. It is not wrong at all when the Press Publishers announced intheir statement that only 30 % of press release remains independent from politicalpower and money. Tis is the real condition challenging mass media to attain respectfrom the readers. Te question is therefore who is responsible when news becomes acommodity of exchange? Tat is why the general election becomes a litmus test forindependent news to exist. key Word: Independent journalism, political power, economic reason, andprofessionalismAbstrAk: Tidak bisa dipungkiri kalau sekarang ini media massa di berbagai wilayahtak bisa beroperasi sebagai perusahaan yang sehat sehingga tampak tidak profesionaldan lebih menunjukkan ketergantungannya pada dinamika yang terjadi dalam politiklokal (mulai dari soal langganan koran oleh kantor-kantor pemerintah, iklan ucapanselamat kepada pejabat, hingga berbagai bentuk suap lainnya). Bukan berlebihan pulajika Serikat Penerbit Pers melontarkan pernyataan bahwa perusahaan pers yang sehathanya sekitar 30 persen dari total pers yang ada. Hal ini memberikan kondisi yangmembuatnya sulit menjadi media yang ideal, independen dan tak terpengaruh darikebutuhan ekonomi perusahaan pers tersebut. Pertanyaannya siapa mendidik siapakalau media massa berkawan setali tiga uang dengan yang berani bayar? Ujiannya adaantara ada di saat penyelenggaraan pemilihan umum.kAtA kunci: pers independen, kuasa politik, masalah ekonomi, dan profesionalisme
Mungkinkah Mengentaskan Kemiskinan Melalui Pemikiran EkonomiBisnis Sosial Muhammad Yunus? Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 01 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.488 KB)

Abstract

ABSTRAK: Sistem ekonomi mana pun bertujuan untuk menyejahterakan masyarakatdengan caranya masing-masing, tak terkecuali kapitalisme dan sosialisme. Tetapi,kapitalisme dan sosialisme gagal menjalankan tugas tersebut. Kapitalisme terlalumeremehkan peran pemerintah dan menyebabkan kesenjangan semakin tajamdalam masyarakat. Sementara sosialisme (komunisme) terlalu mengandalkan peran pemerintah. Akibatnya, kebebasan individual terampas dan kreativitas melemah. Kondisi seperti itu mendorong Muhammad Yunus untuk menemukan jalankeluar bagaimana menciptakan masyarakat sejahtera.Yunus, penerima HadiahNobel Perdamaian 2006, menggagas teori baru yang dapat dijadikan alternatifmengentaskan kemiskinan. Dia menyebut hal itu sebagai “Bisnis Sosial”. Paradigmabaru tersebut mau menjungkirbalikan paradigma lama yang menganggap bisnis selalu berorientasi pada keuntungan diri semata (self-interest). Dalam bisnis sosialkeuntungan tetap menjadi bagian dalam cara kerjanya, namun keuntungan tidakdemi kepentingan pemodal. Bisnis sosial lebih berorientasi pada perubahan sosialyang lebih baik. Pertanyaannya mungkinkah paradigma Yunus dapat diaplikasikan?KATA KUNCI: Kapitalisme, paradigma bisnis sosial, ordo-liberal, neoliberal, welfarestate.ABSTRACT: Both capitalism and socialism basically aim at reaching societal prosperity.But both of them failed. While capitalism underestimates the role of government andcauses a sharper economic gap in society, socialism (communism) underestimates theindividual freedom and weakens the creativity. Such conditions encouraged MuhammadYunus to find a way out how to create a prosperous society. Yunus, the recipient of the2006 Nobel Peace Prize, initiated a new theory that could be used as an alternative toalleviate poverty. Hecalled it “Social Business”. Assuming that business is not alwaysoriented to self-interest,Yunus is adamant to argue that social business could produce abetter social change.KEYWORDS: Capitalism, social business paradigm, ordo-liberal, neoliberalism, welfarestate.
Memaknakan Pengalaman Traumatis Kekerasan:Hannah Arendt dan Viktor Frankl Felix Lengkong
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14, No 02 (2009): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.382 KB)

Abstract

Holocaust is such a traumatizing event, not only to those who had a direct contact with it such as Hannah Arendt and Viktor Frankl, but also to many people who have indirectlygot to know about it through reading or watching Holocaust movies. Assuming that bothHannah Arendt and Viktor Frankl were somehow affected by such a traumatic experience, thisarticle traces out such an effect in the works and writings of those celebrated thinkers. From the perspective personality psychopathological symptoms – traced in the life history of both – itconcludes that there were no traces of posttraumatic stress in the life of both thinkers. Seeminglytheir positive cognitive processes took them from posttraumatic stress control. Instead of succumbing to despair, in line with Frankl’s theory – they found meaning in the suffering.
Profesi Demi Kepentingan Publik Redaksi Respons
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 13, No 01 (2008): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.745 KB)

Abstract

Profesionalisme merupakan kata yang sering terdengar dalam masyarakat modern. Munculnya kata tersebut dalam wacana publik seiring dengan tuntutan masyarakat modern yang mengedepankan kualitas dan kuantitas dalam kinerja.Gagasan ini memilik latar belakang kapitalisme. Sebagaimana digambarkan oleh Bertand Russel dalam The Prospects of Industrial Civilization (1996) kapitalisme telah meletakkan ukuran kesuksesan pada peningkatan jumlah produksi yang memberikan keuntungan berlipatganda bagi pemilik modal. Dalam bingkai pengertian seperti ini, lpengertian profesionalitas diidentikkan dengan peningkatan kuantitas dan kualitas produk secara terus menerus. Modal untuk meningkatkan produk disandarkan pada pengetahuan yang memadai dan penguasaan teknologi secara intensif. Atas dasar inilah meningkatkan  hard skills dan kompetensi berkelanjutan diakui sebagai bagian peningkatan profesionalisme seseorang.
Etika Di Sekitar Perawatan Lansia Rudy Hartanto
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 13, No 01 (2008): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.987 KB)

Abstract

Abstract: This article talks about ethical problem in medicine, mainly about the old people with alzhimer. Being old is not anyone choise, because it is a natural proccess of every living beings. Many people get alzhimer by the time they get older. The ethical question according to that matter, is it ethical for the doctor to revealed his diognose to the alzhimer patient. Since revealed the analized would make patiens become restless. All the problem discuss in this article.Kata Kunci: Persoalan orang lanjut usia, Tua kronologis dan biologis, Alzhimer