cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Etika Respons
ISSN : 08528639     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 79 Documents
Hannah Arendt: Kekerasan bukan Tindakan Politik, Namun bukan tanpa Resiko Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14, No 01 (2009): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.867 KB)

Abstract

Abstract: This paper considers the implication of Hannah Arendt’s criticism of the relationship between violence and politics. For some political theorists and philosophers, it is taken for granted, that violence and politics are inextricably intertwined. For Arendt, it is crucial to  keep the two clearly and distinctly apart. After arguing for a tripartite division between the human activities of labor, work and action, Arendt identifies the politics as the part of action, and the violence as the part of labor and work. This is the way Arendt argues to keep the politics and the violence clearly apart.Kata Kunci: Kekerasan, politik,  kerja (labor), karya (work), tindakan (action), kebebasan
Jalan Pendidikan Untuk Kedaulatan Rakyat dan Demokrasi Sosial: Mohammad Hatta Tentang Cita-Cita Kemerdekaan Indonesia Arif Susanto
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17, No 02 (2012)
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstraksi: Mohammad Hatta (1902-1980) adalah salah satu kontributor utama hal yang dapat kita rumuskan sebagai cita-cita kemerdekaan Indonesia. Tentu agak serampangan jika orang berpandangan bahwa cita-cita tersebut tunggal, menimbang bahwa begitu banyak pahlawan yang memberi sumbangan terhadap bangunan cita-cita negara itu. Secara mendasar, kehendak untuk membentuk suatu pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskankehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam UUD 1945 adalah harapan tentang situasi Indonesia merdeka.Kata Kunci: Mohammad Hatta, kemerdekaan, sosialisme, nasionalisme, demokrasi,rakyat, pemimpin, politik kemerdekaan, kedaulatan rakyatAbstract: Mohammad Hatta (1902-1980) is one of the major contributors to the formulation of the ideals of Indonesia’s independence. It is, somehow, indiscriminate to consider such an effort done by Hatta singlehandedly, because there were also many leadersof those times who contributed to it. Fundamentally, it was the hope of everyone to form a government that protects the whole country, promote the social welfare, enhance the intellectual life of the nation, and participate in the establishment of world order based on freedom, lasting peace, and social justice as it was enshrined in the 1945 Constitution.Key Words: Mohammad Hatta, freedom, socialism, nationalism, democracy, the people,the leader, independence politics, popular sovereignty1. PENDAHULUANGagasan kemerdekaan dapat disebut sebagai suatu obsesi berkelanjutan dalam sejarah
Krisis Humaniora Alex Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.731 KB)

Abstract

Ada berbagai pembicaraan tentang krisis dalam media massa. Krisis yang masih segar dalam ingatan kita adalah krisis fnansial 1997-98 yang telah ikut memicu rontoknya kekuasaan Orde Baru (1966-1998). Ini bukanlah satu-satunya krisis karena sudah mendahului krisis fnansial tersebut adalah krisis religiusitas, krisis masyarakat, krisis bahan bakar minyak (BBM), krisis perumahan bagi rakyat miskin, krisis pendidikan, krisis keluarga, krisis etika, krisis lingkungan hidup dan seterusnya dan seterusnya.
Pendekatan Integratif Dalam Pendidikan Karakter Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.233 KB)

Abstract

The aim of this paper is to defend a philosophy of education which is based on morality and personality. Rather than learning about morality and personality education should integrate morality and personality into practice that can be universally justifed by ethical principles.Education, morality, personality, practice, and ethical principles.Paper ini dimaksudkan untuk mempertahankan pandangan mengenai pendidikan yang berbasis moralitas dan karakter/ keperibadian. Dewasa ini, pendidikan membutuhkan lebih dari belajar tentang moralitas dan karakter sejatinya adalah pengintegrasioan moralitas dan karakter dalam perilaku yang dapat dibenarkan menurut prinsip-prinsip moral universal.Pendidikan, moralitas, karakter/kepribadian, perilaku, dan prinsipprinsip etika.
Implementasi Tanggung Jawab Moral dalam Profesi Akuntansi Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20, No 01 (2015): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.021 KB)

Abstract

Abstract: Moral responsibility is one of the ethical principles of profession. It means one’s ability to do the job best and to respons the question on problems that appear in his job according to the ethical principles. Tere are two aspects of the moral responsibility of profession. First, it includes of doing job freely, being aware of job procedures and having good knowledge. Second, he dare to takes risk on job. Accountance needs this aspects as well. It means, accountant does best the job by doing it freely and being aware of what he will do, and having good knowledges. In addition, accountance is responsible for the consequences of his opinion or decision. In short, moral responsibility counts on two things, that are to do the job best and dare to take the risk on job.Key Words: Moral responsibility, freedom, counsiousness, good knowledge, technical competences, moral competences, accountant, auditor and auditee, subject.Abstrak: Tanggung jawab moral merupakan salah satu dari prinsip etis profesi. Tanggung jawab moral adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya serta memberikan tanggapan terhadapnya berdasarkan prinsip-prinsip etis. Dari pengertian ini, ada dua aspek tanggung jawab moral, yakni menunjukkan diri sebagai seorang profesional yang bermutu dan berani menjawab persoalan-persoalan yang muncul di dalamnya. Aspek pertama meliputi pengakuan diri sebagai pribadi yang bebas, sadar dan tahu apa yang akan dilakukan serta kecintaan pada pekerjaannya. Apek kedua, seorang profesional berani menanggung risiko dari perbuatannya. Esensi tanggung jawab ini juga berlaku bagi profesi akuntansi. Ini berarti, seorang akuntan menyadari diri sebagai orang bebas. Ia juga secara sadar akan prosedur-prosedur pekerjaannya dan memiliki pengetahuan yang memadai dalam menjalankan pekerjaannya. Selain itu seorang akuntan berani menanggung resiko dari perbuatannya. Singkatnya, tanggung jawab moral adalah kemampuan kaum profesional menggunakan kompetensi teknis dan kompetensi etis dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Strategi Pendidikan Karakter Dalam Sektor Pendidikan Formal:Telaah Berdasarkan Pandangan Ki Hadjar Dewantara Bartolomeus Samho
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 01 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.27 KB)

Abstract

Abstrak: Berbasiskan perikemanusiaan, pendidikan memiliki tujuan memerdekakanmanusia dari kelemahan lahiriah dan batiniahnya, baik sebagai makhluk individualmaupun sosial. Dalam perspektif itu, praksis pendidikan mesti menumbuhkanminat belajar para peserta didik agar mereka bertumbuh dalam pengetahuan dannilai. Pendidik pun harus menjadi teladan (role model) dalam sikap, perkataan, danperilaku yang bersahaja, bermoral, dan berbudi pekerti luhur. Menelusuri pemikiranKi Hadjar Dewantara, artikel ini ingin menunjukkan bahwa tanpa intensi kepadapembentukan karakter positif para peserta didik, proses pendidikan hanya akanmelahirkan orang pintar, tetapi belum tentu menjadi pribadi yang berkarakterdalam keutamaan-keutamaan moral.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, pendidikan, nilai, karakter, budi pekerti, keteladanan.Abstracts: Philosophically, education has its goal to liberate man from his outer andinner weaknesses, both as individual and social beings. In that perspective, educationalpraxis should cultivate learners’ learning interests to grow in knowledge and value. The educator must also be a role model in attitude, words, and behavior. Tracing out thethought of Ki Hadjar Dewantara, this article wants to show that without the intentionto form the positive character of the learners, the educational process will only give birthto smart people, but not necessarily a good person who lives in moral virtues.KEYWORDS: Education, examplar, good character, Ki Hadjar Dewantara, moral values.
Resensi Buku: Merekam Persoalan Pasar Eko Widodo
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 01 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.157 KB)

Abstract

Judul Buku  : Rakyatisme dan Esaiesai Lain Pengarang  : Alois A. Nugroho Penerbit     : Kompas Cetakan     : Pertama, 2017 Tebal         : viii + 248 halamanSetiap empu atau cendekiawan memiliki tugas kesejarahan yang tidakbisa diabaikan untuk merekam berbagai peristiwa yang pernah dialami olehdiri dan bangsanya agar dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi masyarakatdan generasi berikutnya. Berbeda dari orang biasa yang hanya menangkapperistiwa sebagai gambaran, seorang cendikiawan memberikan intepretasidan analisa yang tepat atas peristiwa tersebut. Dari analisis dan interpretasinyamasyarakat dapat menangkap makna yang dapat dijadikan pembelajaran. Diatas dasar ilmu, teori, wawasan serta pengalaman historis, cendikiawan akanmembangun argumen yang matang dan pantas diperhatikan.
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Rekonstruksi Budaya Febiana Rima
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14, No 02 (2009): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.617 KB)

Abstract

Violence against women manifests itself in many ways in our age. It could happenin family, in school, and in society at large. Especially in patriarchal culture, violence has its rootin the doctrine that women and men are not equal. The natural differences of both wereconstructed into social relation that puts men on the highest position of power relation pyramid.Violence in this culture is an instrument to keep and protect the power of men. Searching thesolution to this social issue, this article promotes a political reconstruction that based on theuniversal declaration of human rights and political communication.
Pendidikan Etika: Professi, Politik dan Agama Mikhael Dua
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 13, No 01 (2008): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.971 KB)

Abstract

Good life is the final purpose of all men. Since Aristotle, ethics is supposed to achieve this purpose. It is a reflection of how to get good life. According to this philosophical assumption, being wealthy and briliant never guarantee the quality of human person. This article talks about a good life in its relation with man as individual, and social being.Kata Kunci: Etika, Kehidupan yang baik, persoalan sosial dewasa ini
Postmodernisme, Filsafat dan Universitas Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 13, No 01 (2008): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.343 KB)

Abstract

Abstract: Modernism  has brought the great accomplishment on science and technology. But   modernism at the same time  fails to bring pieceful and civilized life.  As a reaction, postmodernism tries to promote a new world by giving space  for mini naratin.  University might play her role in this postmodernism era. She can promote local knowledge and local truth in all her activities : in recearch and teachingKata Kunci: Postmodernisme, modernisme, meta narasi, konteks lokal.