cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Etika Respons
ISSN : 08528639     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 79 Documents
Kesadaran Akan Identitas Melepaskan Belenggu Eksklusivitas Alex Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20, No 01 (2015): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.637 KB)

Abstract

Catholic Identity In An Age Of Challenge: A Pastoral Letter To Te Clergy, Religious And Laity Of Te Archdiocese Of Washington And All Who Read Tis Letter (pp.1-36)Salah satu tantang yang tidak enteng dihadapi oleh dunia pendidikan adalah menyadarkan orang mengenai identitasnya. Masalah identitas diakui merupakan hal yang sangat rumit sehingga seseorang terkadang mempertanyakan siapakah dirinya.
Kajian Etis atas PP No. 61 Tahun 2014 tentang Pengaturan Kesehatan Reproduksi Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 01 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.774 KB)

Abstract

ABSTRAK: Dalam rangka memenuhi tuntutan UU Kesehatan No. 36/2009, Kementerian Kesehatan RI menerbitkan PP No. 61/2014 untuk mengaturkesehatan reproduksi. Peraturan Pemerintah ini sebetulnya sebuah ketentuanteknis bagaimana kesehatan reproduksi harus diselenggarakan di Indonesia, danini dianggap perlu untuk memastikan terjaminnya kesehatan ibu usia subur. Selainitu, peraturan pemerintah ini juga diposisikan sebagai alat untuk mewujudkan apayang oleh pemerintah disebut sebagai generasi yang sehat danberkualitas. Namunperaturan tersebut telah memicu dua pertanyaan etis sekaligus. Pertama,regulasiini diklaim untuk mengatasi kesetaraan akses terhadap kesehatan reproduksisebagaiconditio sine qua non demi mencegah kematian ibu, menyebarnya penyakitmenular,kehamilan yang tidak direncanakan, pemerkosaan dan sebagainya.Penulis berpendapat bahwa peraturan ini tidak mempertimbangkan secara saksamadimensi-dimensi sosial dan nilai lokal mengenai seksualitas serta nilai-nilai keluarga.Pertanyaan apakah hal ini dapat dibenarkan secara etis tetap tak terjawab. Kedua,seluhur dan semulia apa pun sebuah tujuan, ia tidak bisa membenarkan sarana yangdigunakan. Dalam arti itu, upaya mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitastidak bisa serta merta menggunakan sarana (peraturan) yang menerabas nilai-nilaikultural dan moral masyarakat. Argumen makalah ini disusun dalam dua cara. Disatu sisi penulis berpendapat bahwa adalah tidak etis menghalalkan cara atau alatuntuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, kebijakan di bidang kesehatanreproduksi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai moral dan budaya lokal. Penulisberpendapat bahwa sudah waktunya kita memiliki kebijakan terobosan yang bisamengakomodasi pentingnya mengakses kesehatan reproduksi dan pada saat yangsama tidak merugikan kelompok yang menolaknya atas nama agama atau moralitastertentu. Di sisi lain, tidak dibenarkan secara etis untuk menentukan kualitas wargahanya berdasarkan kriteria sehat-sakit, normal-cacat jika martabat manusia hendakdipertimbangkan secara serius.KATA KUNCI: kesehatan reproduksi, kontrasepsi, aborsi, PP No. 61/2014, etikaABSTRACT: To meet the demand of Indonesian Health Law No. 36/2009, the ministryof health has issued a reproductive health regulation, known as Regulation No.61,2014. Technical provision on reproductive health is considered to be necessary in orderto ensure the health of mothers ofchildbearing age. It is also perceived as a tool to realizewhat has been labeled by the government as healthy and qualified generation, and bythat the number of maternal deaths is believed to be minimized. Yet the regulation hastriggered two ethical questions all together. First, the regulation is claimed to addressthe equality of access to reproductive health as sine qua non condition forpreventingmaternal mortality, the spread of infectious diseases, unplanned pregnancy, rape and so on, As the regulation does not take into consideration all the social values, culture of sexuality and the family values, the question of whether it can be justified ethically is remained unanswered. Secondly, can it be ethically justified if the state positioned itselfas an institution that defines and establishes healthy and qualified citizen. The argumentof this paper is arranged in two ways. On the one hand it argued that it is ethicallyunacceptable to justify the ends by the means used. In that sense, the policies in the field ofreproductive health should not ignore moral values and local culture. It is timely to havea breakthrough policy that could accommodate the importance of accessingreproductivehealth and at the same time not harming the groups that reject it in the name of religious ethics or morality. On the other hand, it is not ethically justifiable to define the quality of the citizens merely based on healthy-sick normal-deformed criteria when human dignityis taken into consideration seriously.KEY WORDS: reproductive health, contraception, abortion, Regulation No. 61/2014,ethics
Kekerasan: Wujud Kehampaan EksistensiSebuah Tinjauan Etis atas Pemikiran Erich Fromm Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14, No 02 (2009): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.068 KB)

Abstract

Erich Fromm’s analysis of the root of violence in The Anatomy of HumanDestructiveness can be seen as a starting point to understand the nature of violence. He contendsthat violence is not existential but exists as a result of a negative condition that prohibits someoneto grow according to his own choice. According to this definition, human aggression is neutral. Itcan be identified as defensive if it is used to save life, and as destructive one if it destroys the lifeitself and against the human values. Fromm explains that the progress of technology and scienceare the main factors that cause modern man, that is called cybernetic man, to act destructively intheir life.
Refleksi Etika Mengenai Pengobatan Komplementer dan Alternatif K. Bertens
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 13, No 01 (2008): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.003 KB)

Abstract

Abstract: When we compare complementary and alternative medicine (CAM) with conventional medicine, the most striking difference is thatCAMis characterised by a broad cultural diversity, whereas conventional medicine is far more unified because of its scientific base. In former times the adverse attitude of conventional medicine towardsCAMwas much stronger than it is nowadays. The reason for this change is that the powerful position of the medical profession came to an end in our more liberal era. But this does not mean that the borderline betweenCAMand the medical profession may be wiped out. It seems ethically questionable when a professional physician turns to CAM practices, as it is also unethical when aCAMpractician appears as a physician.CAMshould be given freedom as long as it causes no harm to the patients.Kata Kunci: Bioetika, Pengobatan Komplementer dan Alternatif, Profesi Medis.
Demokrasi: Pergumulan Melawan Sang Demagog Refleksi Atas Pemikiran Plato, Aristoteles dan Hannah Arendt Mikhael Dua
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14, No 01 (2009): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.218 KB)

Abstract

Abstract: As far as it develops, democracy has been practiced in many forms of civil states as the only way to reduce many forms of domination. The course of political history, however, shows that democracys is not the ideal form of the states, especially because it cannot be purified from the phenomena of the demagogues. The turn from democracy to tyranny can be explained from this point of view: democracy is the source of the demagogues. This paper will deal with the question of the relationship between democracy and the demagogues. By following Plato, Aristotle and Hannah Arendt who concern with the question of the essence of the politics, the paper brings forth the idea that the constitution of democracy should be developed into the constitution of the freedom of the people. In such a way, politics can be identified with the human togetherness.Kata Kunci: Demokrasi, demagog, kebebasan, konstitusionalisme, filsafat Yunani
Reposisi Pancasila dengan Membuka Ruang bagi Konstruksi Budaya Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.809 KB)

Abstract

ABSTRAK: Pancasila sudah disepakati sebagai Dasar Negara Republik Indonesia oleh para pendiri bangsa. Nilai-nilai Pancasila ini oleh Bung Karno digali dari kekayaan nilai budaya Nusantara Indonesia. Artinya nilai-nilai yang dijadikan dasar negara ini sudah tertanam sejak lama dalam budaya bangsa Indonesia dan sudah merupakan pegangan hidup bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran, Pancasila menyandang banyak peran penting, mulai dari fungsinya sebagai dasar negara, jati diri bangsa, falsafah, sampai ke etika bangsa, Weltanschauung, yang menjiwai kehidupan orang Indonesia. Namun dewasa ini, semuanya ini dilihat sebagai jargon-jargon kosong. Ini ditengarai sebagai telah terjadi semacam penyempitan ruang bagi Pancasila. Pancasila seperti kehilangan posisi dan ruangnya. Maka perlu ada upaya untuk secara cerdas menempatkan kembali Pancasila pada posisinya dan membuka kembali ruang bagi penggalian dan eksplorasi nilai-nilai Pancasila bagi kehidupan manusia dan bangsa Indonesia.KATA KUNCI: Pancasila, posisi, ruang sosial dan politik, pendidikan
Krisis Pengamalan Pancasila dan Perlunya Penguatan Ruang Publik Melalui Etika Komunikasi: Sebuah Pendekatan Etika Keutamaan Alexander Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.021 KB)

Abstract

ABSTRAK: Krisis pengamalan Pancasila dalam berbagai pemberitaan media menimbulkan salah persepsi yang cenderung menyalahkan media sebagai biang kerok. Sebaliknya pengamat dan analis sosial atas peran media menilai penguatan ruang publik politik untuk demokrasi tidak tanpa media. Menggunakan media dalam mempromosikan Pancasila adalah suatu keharusan untuk membangun citra positif tentang Pancasila representasi moralitas budi luhur yang menyatakan kehormatan dan kewibawaan sebagai bangsa berbudaya. Fungsi media sebagai sarana pencitraan harus digunakan secara bertanggung jawab untuk memproduksi insight mengenai pendidikan moral yang oleh Jean Baudrillard dinamakan sign value dari Pancasila. Pancasila yang sejatinya adalah prestise moralitas budi luhur harus digelorakan citra melalui media yang menyatakan kehormatan dan kewibawaan sebagai dasar hukum dan pandangan dunia masyarakat majemuk. Oleh sebab itu, pemeliharaannya sebagai sign value tidak tanpa penggunaan media.KATA KUNCI: Krisis, media, Pancasila, dasar hukum, moralitas, dan dunia kehidupan
Berpikir Kritis: Sebuah Tantangan dalam Generasi Digital Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.623 KB)

Abstract

ABSTRAK: Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi IPTEK telah mengubah kualitas kehidupan manusia dari sisi ekonomi dan dari sisi sosial. Konkretnya, IPTEK telah mampu meningkatkan taraf kehidupan ekonomis masyarakat dan memperpendek jarak sosial. Di sisi lain, kemajuan tersebut membawa dampak negatif yang tidak sedikit seperti tumbuhnya kesesatan berpikir dalam manusia yang berorientasi hanya pada kepentingan diri dan kelompok dan menafi kan standar moral universal. Ekses semua pola pikir yang menyesatkan ini adalah degradasi humanitas sebagai makhluk rasional, makhluk sosial, dan makhluk etis berbudaya. Untuk mengurangi ekses negatif dari IPTEK, berpikir kritis perlu dikembangkan. KATA KUNCI: Berpikir kritis, keutamaan-keutamaan intelektual, eksistensi dan humanitas serta generasi digital.
Editoria Mikhael Dua
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.742 KB)

Abstract

Masalah perempuan buruh migran Indonesia belum juga tuntas diselesaikan. Selain karena beberapa di antara mereka terjerat kasus hukum, yang sering tidak mendapat perhatian serius adalah kecemasan yang mereka alami di negeri asing karena faktor bahasa, budaya, dan kedudukan sosial. Dalam banyak hal kita memang tertarik dan memberikan perhatian ketika mereka mendapat masalah hukum. Namun kegaduhan yang muncul di sekitar masalah ini sering kali tidak membawa jalan keluar yang memuaskan karena kasus hukum sebenarnya tidak lebih dari akibat dari seluruh frustrasi hidup yang dialami oleh perempuan buruh migran di luar negeri.
Tinjauan Etis Terhadap Hoax Dalam Publikasi Artikel Ilmu Sosial Johan Hasan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.228 KB)

Abstract

ABSTRAK: Esai ini membahas masalah etis atas skandal artikel ilmiah sosial yang berupa hoax yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal terpercaya yang sudah didukung oleh peer-reviewer. Namun, walau tulisan tidak koheren, penuh istilah absurd atau data yang dikutip sembarangan, ternyata peer-reviewer tidak mampu mengenali itu sebagai hoax dan menerimanya juga sebagai artikel ilmiah. Tulisan ini akan menimbang dari sudut tiga aspek yakni: kejujuran, dampak dari perbuatan tersebut, standar evaluasi tulisan dari institusi jurnal itu sendiri serta menjawab apa yang seharusnya dilakukan menghadapi artikel jurnal hoax seperti ini di kemudian hari.KATA KUNCI: Hoax, Sokal Aff air, Etika Penulisan, Etika Sains, Postmodernisme