Kasdin Sihotang, Kasdin
Atma Jaya School Of Economic And Bussiness Atma Jaya Catholic University Of Indonesia

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Kekerasan: Wujud Kehampaan Eksistensi Sebuah Tinjauan Etis atas Pemikiran Erich Fromm Sihotang, Kasdin
Jurnal Etika Respons Vol 14, No 02 (2009): Jurnal Etika Respons
Publisher : Jurnal Etika Respons

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erich Fromm’s analysis of the root of violence in The Anatomy of Human Destructiveness can be seen as a starting point to understand the nature of violence. He contends that violence is not existential but exists as a result of a negative condition that prohibits someone to grow according to his own choice. According to this definition, human aggression is neutral. It can be identified as defensive if it is used to save life, and as destructive one if it destroys the life itself and against the human values. Fromm explains that the progress of technology and science are the main factors that cause modern man, that is called cybernetic man, to act destructively in their life.
Kekerasan: Wujud Kehampaan EksistensiSebuah Tinjauan Etis atas Pemikiran Erich Fromm Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14 No 02 (2009): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v14i02.411

Abstract

Erich Fromm’s analysis of the root of violence in The Anatomy of HumanDestructiveness can be seen as a starting point to understand the nature of violence. He contendsthat violence is not existential but exists as a result of a negative condition that prohibits someoneto grow according to his own choice. According to this definition, human aggression is neutral. Itcan be identified as defensive if it is used to save life, and as destructive one if it destroys the lifeitself and against the human values. Fromm explains that the progress of technology and scienceare the main factors that cause modern man, that is called cybernetic man, to act destructively intheir life.
Implementasi Tanggung Jawab Moral dalam Profesi Akuntansi Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 01 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v20i01.433

Abstract

Abstract: Moral responsibility is one of the ethical principles of profession. It means one’s ability to do the job best and to respons the question on problems that appear in his job according to the ethical principles. Tere are two aspects of the moral responsibility of profession. First, it includes of doing job freely, being aware of job procedures and having good knowledge. Second, he dare to takes risk on job. Accountance needs this aspects as well. It means, accountant does best the job by doing it freely and being aware of what he will do, and having good knowledges. In addition, accountance is responsible for the consequences of his opinion or decision. In short, moral responsibility counts on two things, that are to do the job best and dare to take the risk on job.Key Words: Moral responsibility, freedom, counsiousness, good knowledge, technical competences, moral competences, accountant, auditor and auditee, subject.Abstrak: Tanggung jawab moral merupakan salah satu dari prinsip etis profesi. Tanggung jawab moral adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya serta memberikan tanggapan terhadapnya berdasarkan prinsip-prinsip etis. Dari pengertian ini, ada dua aspek tanggung jawab moral, yakni menunjukkan diri sebagai seorang profesional yang bermutu dan berani menjawab persoalan-persoalan yang muncul di dalamnya. Aspek pertama meliputi pengakuan diri sebagai pribadi yang bebas, sadar dan tahu apa yang akan dilakukan serta kecintaan pada pekerjaannya. Apek kedua, seorang profesional berani menanggung risiko dari perbuatannya. Esensi tanggung jawab ini juga berlaku bagi profesi akuntansi. Ini berarti, seorang akuntan menyadari diri sebagai orang bebas. Ia juga secara sadar akan prosedur-prosedur pekerjaannya dan memiliki pengetahuan yang memadai dalam menjalankan pekerjaannya. Selain itu seorang akuntan berani menanggung resiko dari perbuatannya. Singkatnya, tanggung jawab moral adalah kemampuan kaum profesional menggunakan kompetensi teknis dan kompetensi etis dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Berpikir Kritis: Sebuah Tantangan dalam Generasi Digital Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22 No 02 (2017): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v22i02.455

Abstract

ABSTRAK: Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi IPTEK telah mengubah kualitas kehidupan manusia dari sisi ekonomi dan dari sisi sosial. Konkretnya, IPTEK telah mampu meningkatkan taraf kehidupan ekonomis masyarakat dan memperpendek jarak sosial. Di sisi lain, kemajuan tersebut membawa dampak negatif yang tidak sedikit seperti tumbuhnya kesesatan berpikir dalam manusia yang berorientasi hanya pada kepentingan diri dan kelompok dan menafi kan standar moral universal. Ekses semua pola pikir yang menyesatkan ini adalah degradasi humanitas sebagai makhluk rasional, makhluk sosial, dan makhluk etis berbudaya. Untuk mengurangi ekses negatif dari IPTEK, berpikir kritis perlu dikembangkan. KATA KUNCI: Berpikir kritis, keutamaan-keutamaan intelektual, eksistensi dan humanitas serta generasi digital.
Urgensi Pedagogi Etika Lingkungan Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.578

Abstract

Fritjop Capra mengembangkan sebuah gagasanmenarik tentang keterkaitan antara hidup manusiadenganlingkungan. Dalam bukunya berjudul TheWeb Of Life (1997), Capra mengamini bahwa hidup manusia sangat bergantungkepada lingkungan. Lingkungan dengan segala biotanya menjadi bagian yang tidakterpisahkan dari kualitas hidup manusia. Karena itu menurut Capra, lingkunganyang sehat akan memberikan kualitas hidup yang sehat bagi manusia. Demikiansebaliknya, lingkungan yang buruk akan membawa ancamanbagi hidup manusia.
Menggugah Etika Pelayan Publik Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 16 No 01 (2011): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v16i01.725

Abstract

Satu fenomena yang menonjol di negeri ini adalah buruknya pelayanan publik yang dirasakan oleh masyarakat. Kendati reformasi sudah berlangsung lebih dari satu dekade, namun kualitas penanganan kepentingan umum belum mengalami peningkatan. Rumitnya pengurusan surat-surat penting seperti KTP, SIM atau yang lainnya, kurangnya perhatian para aparat negara untuk mengurus sarana dan prasarana publik merupakan beberapa fakta untuk itu. Fungsi birokrasi, yakni memberikan pelayanan yang efisien dan cepat serta akurat kepada masyarakat, seperti ditegaskan oleh Max Weber, sangat jauh dari kenyataan.
Pentingnya Tanggung Jawab Sosial Korporasi demi Keberlangsungan Bisnis Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.740

Abstract

Bisnis memainkan peran penting dalam kehidupan manusia modern. Hal ini berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan manusia modern. Kendati bisnis bernilai ambilen. Di satu sisi, bisnis memberi peluang bagi manusia untuk memenuhi kesejahteraannya tetapi di sisi lain bisnis berpeluang memperkenalkan tindakan kotor yang mencancam lingkungan dan mengeksploitasi tenaga kerja. Banyak pelaku bisnis modern yang tidak peduli terhadap kesejahteraan manusia cenderung tidak bertanggunjawab terhadap efek negatif dari karya bisnis mereka. Untuk menjadikan bisnis lebih manusiawi, tanggungjawab sosial perusahaan dibutuhkan. Tanggunjwab sosial perusahaan termasuk di dalamnya concern terhadap hak-hak pekerja dan konsumen demi meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang terkait dengan perusahaan.
Humanisme Pancasila Menurut Driyarkara dan Internalisasinya Dalam Pendidikan Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.746

Abstract

Negara yang terdiri dari aneka ragam budaya, ras, suku dan agama menjadi cikal bakal datangnya kehancuran. Negara yang dicirikan oleh pluralitas yang besar memerlukan perekat berupa nilai-nilai utama dalam masyarakat Indonesia. Tanpa perekat tersebut Negara akan mudah mengalami disintegrasi. Tampaknya apa yang dikatakan oleh Clifford Geerts itu sekarang menjadi kenyaan sebagaimana terlihat pada berbagai konflik baik yang bersifat vertikal maupun vertikal. Integrasi sosial tidak terjadi sendiri melainkan mensyarakat Negara yang kuat dan rakyat yang melek namun menjadi persoalan besar karena akhir-akhir ini berkembang fenomena yang semakin tidak menghargai institusi negara sementara itu jaringan masyarakat warga Negara belum terbentuk secara baik menjadi mitra pemerintah. Hal ini terlihat pada kenyaan bahwa masih banyak tindakan kejahatan yang menyebabkan kematian akhir-akhir ini. Aksi dehumanitas ini menimpa baik warga negara biasa maupun aparat keamanan sendiri.
Kekerasan: Wujud Kehampaan EksistensiSebuah Tinjauan Etis atas Pemikiran Erich Fromm Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14, No 02 (2009): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.068 KB)

Abstract

Erich Fromm’s analysis of the root of violence in The Anatomy of HumanDestructiveness can be seen as a starting point to understand the nature of violence. He contendsthat violence is not existential but exists as a result of a negative condition that prohibits someoneto grow according to his own choice. According to this definition, human aggression is neutral. Itcan be identified as defensive if it is used to save life, and as destructive one if it destroys the lifeitself and against the human values. Fromm explains that the progress of technology and scienceare the main factors that cause modern man, that is called cybernetic man, to act destructively intheir life.
Berpikir Kritis: Sebuah Tantangan dalam Generasi Digital Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.623 KB)

Abstract

ABSTRAK: Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi IPTEK telah mengubah kualitas kehidupan manusia dari sisi ekonomi dan dari sisi sosial. Konkretnya, IPTEK telah mampu meningkatkan taraf kehidupan ekonomis masyarakat dan memperpendek jarak sosial. Di sisi lain, kemajuan tersebut membawa dampak negatif yang tidak sedikit seperti tumbuhnya kesesatan berpikir dalam manusia yang berorientasi hanya pada kepentingan diri dan kelompok dan menafi kan standar moral universal. Ekses semua pola pikir yang menyesatkan ini adalah degradasi humanitas sebagai makhluk rasional, makhluk sosial, dan makhluk etis berbudaya. Untuk mengurangi ekses negatif dari IPTEK, berpikir kritis perlu dikembangkan. KATA KUNCI: Berpikir kritis, keutamaan-keutamaan intelektual, eksistensi dan humanitas serta generasi digital.