cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 29 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2016)" : 29 Documents clear
KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN MODAYAG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR Padmini, Ni Luh Ratih; Wuisang, Cynthia E.V; Supardjo, Suryadi
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Kawasan agropolitan terdiri dari kota pertanian dan desa-desa sentra produksi pertanian yang ada di sekitarnya, dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi yang ada. Dengan kata lain kawasan agropolitan adalah kawasan agribisnis yang memiliki fasilitas perkotaan.  Kecamatan Modayag dengan luas ± 219,019 Km2 dan Kecamatan Modayag Barat ± 94,129 Km2merupakan kawasan yang memilikipotensi pertanian sehingga layak dikelola, dikembangkan, berorientas lingkungan dan berswasembada pangan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi prasarana dan sarana di Kecamatan Modayag sudah memenuhi syarat sebagai Kawasan Agropolitan.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Kuantitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi lapangan, wawancara terhadap petani dan instansi terkait.Data diolah dan dianalisis menggunakan Analisis Deskriptif Kuantitatif.Hasil penelitian menunjukkan potensi komoditas unggulan, khususnya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan darat yang hasilnya bervariasi dari tahun 2008-2012.Dari hasil analisis di peroleh nilai      LQ > 1.  Pemilihan alternatif  diprioritaskan untuk pengembangan infrastruktur kawasan agropolitan adalah meningkatkan infrastruktur penunjang berbasis komoditi unggulan misalnya peningkatan prasarana dan sarana pertanian, meningkatkan pengembangan fasiitas pengolahan dan pasca panen, meningkatkan pengembangan fasilitas pemasaran untuk memanfaatkan peluang ekspor, peningkatan fasilitas produksi berupa terminal, pasar tradisional, dan pasarikan di kawasan agropolitan Modayag.   Kata Kunci : Komoditas unggulan, Prasarana dan Sarana Penunjang Kawasan Agropolitan.
PERUBAHAN FUNGSI PEMANFAATAN RUANG DI KELURAHAN MOGOLAING KOTA KOTAMOBAGU Umar, Feki Pebrianto; Sela, Rieneke L. E.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota dalam perjalanannya selalu tumbuh dan berkembang. Seiring dengan perkembangan kota, berbagai macam aktifitas perkotaan mulai tumbuh dan salah satu yang memicu perkembangan tersebut adalah Penduduk. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan semakin tingginya permintaan lahan untuk fungsi permukiman. Seperti yang terjadi di Kota Kotamobagu, dimana salah satu wilayah yang mengalami perubahan dalam pemanfaatan ruang adalah Kelurahan Mogolaing. Pembangunan yang terjadi rata-rata berfokus mengikuti jalur jalan dengan kepadatan yang tinggi terutama pada Jln. Adampe Dolot dan Jln Kampus yang masing masing mengalami perubahan dengan fungsi pemanfaatan ruang yang berbeda. Tujuan penelitian ini pada dasarnya adalah untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan tersebut serta mengkaji faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perubahan dengan mengambil 10 tahun perbandingan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dimana pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis dengan SIG. Hasil analisis menunjukan peningkatan persen lahan terbangun yang dimanfaatkan untuk fungsi komersial serta adanya perubahan fungsi bangunan seperti perubahan hunian menjadi hunian sekaligus komersial dimana perubahan tersebut mengikuti koridor atau merembet secara linear dan terfokus pada bagian wilayah penelitian yang berdekatan dengan pusat kota. Selanjutnya ditemukan faktor yang menyebabkan perubahan fungsi pemanfaatan ruang adalah Topografi, Penduduk, Nilai Lahan, Aksesibilitas, dan Daya Dukung Lahan. Kata Kunci : Perubahan Fungsi, Pemanfaatan Ruang, Koridor, Mogolaing Kotamobagu
KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA DI PULAU MANTEHAGE Serin, Wilem; Tondobala, Linda; Gosal, Pierre H
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Mantehage merupakan salah satau pulau yang berada di Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Secara geografis Pulau Mantehage terletak disebelah utara dari ujung Pulau Sulawesi pada posisi 124 0 45’ 20’’ BT 1˚ 42’ 56’’ LU, dengan luas Pulau Mantehage 18,56 km2 dan dikelilingi hutan mangrove. Kondisi infrastruktur di Pulau Mantehage perlu untuk mendukung ketersediaan prasarana dan sarana serta pelayanannya terhadap masyarakat di Pulau Mantehage. Tujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi persebaran dan kondisi eksisting prasarana dan sarana di Pulau Mantehage dan menganalisis kebutuhan prasarana dan sarana serta pelayanannya di Pulau Mantehage berdasarkan proyeksi 5 tahun yang akan datang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dan analisa menggunakan pendekatan kuantitatif, karena dalam  pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur di Pulau Mantehage belum memadai dan ada juga yang memadai. Infrastruktur yang memadai yaitu infrastruktur hijau, fasilitas umum, fasilitas sosial dan infrastruktur transportasi dan mobilisasi, sedangkan infrastruktur yang belum memadai yaitu infrastruktur jalan karena perlu adanya peningkatan kualitas jalan di beberapa titik ruas jalan akibat kerusakan material perkerasan, infrastruktur drainase belum memadai karena ada beberapa titik ruas jalan yang tidak terdapat drainase sehingga perlu adanya pembuatan drainase baru agar dapat menampung debit air hujan. Infrastruktur air bersih belum memadai karena beberapa titik lokasi sumber mata air mengandung air payau, masyarakat Pulau Mantehage menggunakan air bersih bersumber dari air hujan sehingga perlu dilakukan prediksi berupa proyeksi 5 tahun kedepan (tahun 2020) namun untuk 5 tahun kedepan mungkin bisa telayani namun ketersediaan debit sumber mata air belum perlu dapat melayani masyarakat di tahun 2020. Infrstruktur persampahan di Pulau Mantehage secara umum masih di bakar tapi untuk kedepannya perlu disediakan mesin pembakar sampah. Infrsatruktur telekomunikasi perlu penyediaan tower BTS menara telekomunikasi sebagai solusi layanan komunikasi dan informasi di daerah terpencil seperti pedesaan dan pulau-pulau. Infrastruktur listrik di Pulau Matehage bersumber dari PLN sehingga perlu adanya penambahan pasokan listrik seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Solar Cell) di Pulau Mantehage. Kata Kunci : Infrastruktur, Pulau Mantehage
HIRARKI WILAYAH KOTA MANADO Gunena, Andrey Roland; Tilaar, Sonny; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado terdiri dari 11 Kecamatan yakni Kecamatan Bunaken, Kecamatan Bunaken Kepulauan, Kecamatan Tuminting, Kecamatan Singkil, Kecamatan Mapanget, Kecamatan Paal Dua, Kecamatan Tikala, Kecamatan Wenang, Kecamatan Wanea, Kecamatan Sario, dan Kecamatan Malalayang yang pembangunan prasarananya baik sosial, ekonomi, dan pemerintahannya dalam hal kualitas maupun kuantitas berbeda-beda. Penentuan hirarki di Kota Manado akan membuat Kota Manado  menjadi kota yang pembangunannya menjadi lebih terstruktur. Penelitian ini bertujuan menentukan hirarki wilayah Kota Manado dengan terlebih dahulu mengidentifikasi jumlah fasilitas ekonomi, sosial, dan pemerintahan di tiap-tiap kecamatan yang ada di Kota Manado.  Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dgn metode analisis Skalogram.  Metode analisis Skalogram dipakai untuk menentukan Orde berdasarkan prasarana yang ada dimasing-masing kecamatan yang ada di Kota Manado. Dari hasil penelitian diatas diperoleh hirarki wilayah Kota Manado terbagi dalam 4 Orde, yakni Orde I yang terdiri dari Kecamatan Malalayang, Kecamatan Mapanget, Kecamatan Wanea, Kecamatan Wenang, Kecamatan Tuminting. Orde II yang terdiri dari Kecamatan Paal Dua, Kecamatan Sario, dan Kecamatan Singkil. Orde III Kecamatan Bunaken. Orde IV yang terdiri dari Kecamatan Tikala, dan Kecamatan Bunaken Kepulauan.   Kata Kunci: Kota Manado, Hirarki Wilayah, Analisis Skalogram
KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN MODAYAG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR Padmini, Ni Luh Ratih; Wuisang, Cynthia E.V; Supardjo, Suryadi
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Kawasan agropolitan terdiri dari kota pertanian dan desa-desa sentra produksi pertanian yang ada di sekitarnya, dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi yang ada. Dengan kata lain kawasan agropolitan adalah kawasan agribisnis yang memiliki fasilitas perkotaan.  Kecamatan Modayag dengan luas ± 219,019 Km2 dan Kecamatan Modayag Barat ± 94,129 Km2merupakan kawasan yang memilikipotensi pertanian sehingga layak dikelola, dikembangkan, berorientas lingkungan dan berswasembada pangan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi prasarana dan sarana di Kecamatan Modayag sudah memenuhi syarat sebagai Kawasan Agropolitan.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Kuantitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi lapangan, wawancara terhadap petani dan instansi terkait.Data diolah dan dianalisis menggunakan Analisis Deskriptif Kuantitatif.Hasil penelitian menunjukkan potensi komoditas unggulan, khususnya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan darat yang hasilnya bervariasi dari tahun 2008-2012.Dari hasil analisis di peroleh nilai      LQ > 1.  Pemilihan alternatif  diprioritaskan untuk pengembangan infrastruktur kawasan agropolitan adalah meningkatkan infrastruktur penunjang berbasis komoditi unggulan misalnya peningkatan prasarana dan sarana pertanian, meningkatkan pengembangan fasiitas pengolahan dan pasca panen, meningkatkan pengembangan fasilitas pemasaran untuk memanfaatkan peluang ekspor, peningkatan fasilitas produksi berupa terminal, pasar tradisional, dan pasarikan di kawasan agropolitan Modayag.   Kata Kunci : Komoditas unggulan, Prasarana dan Sarana Penunjang Kawasan Agropolitan.
PEMANFAATAN RUANG KAWASAN PASAR PINASUNGKULAN KAROMBASAN MANADO Jikwa, Natalia Rossalia; Tilaar, Sonny; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Pinasungkulan Karombasan merupakan salah satu pasar besar yang berada di kota manado berdasarkan peraturan daerah no. 14 tahun 2000 tanggal 3 januari 2000 dinas pasar dialihkan status menjadi perusahan daerah kota Manado sehingga saat ini dikelolah secara langsung oleh PD Pasar kota Manado. Di pasar pinasungkulan karombasan ini terdapat penjual-penjual mulai dari pedagang kaki lima hingga took-toko besar yang di bangun didalamnya. Pasar Pinasungkulan Karombasan ini telah menjadi pusat perbelanjaan bagi masyarakat sekitar yang sering dibanjiri pedagang maupun pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi dan menganalisis pemanfaatan ruang kawasan pasar pinasungkulan karombasan Manado. Penelitian yang dilakukan untuk penulisan ini menggunakan data-data yang diambil secara langsung di lapangan (data primer) yaitu: tinjau langsung (data opservasi), wawancara, foto-foto dokumentasi. Data dari instansi terkait (data sekunder) diantaranya adalah data PD pasar, peta lokasi pasar, jumlah pedagang dan profil pasar kota manado. Kemudian data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan SNI 1852: 2015 tentang pasar rakyat berdasarkan persyaratan teknis dan pengelolahan pasar. Dari hasil analisis kemudian diolah menggunakan bantuan Microsoft exel yang akan menghasilkan grafik Optimal (termanfaatkan) dan tidak optimal (tidak temanfaatkan) serta standar pemanfaatan ruang. Berdasarkan hasil analisis untuk pemanfaatan ruang kawasan pasar Pinasungkulan Karombasan Manado, bahwa ruang yang termanfaatkan adalah 50% dan ruang yang tidak termanfaatkan adalah 50% sedangkan berdasarkan standar SNI 1852:2015 bahwa pasar Pinasungkulan Karombasan Manado mencapai 47.73% memenuhi standar dan 52.72% tidak memenuhi standar.   Kata kunci :Pasar, Pemanfaatan Ruang.
PERENCANAAN FASILITAS PENDIDIKAN TINGKAT SLTA DI KABUPATEN MERAUKE Tahiya, Tanila; Franklin, Papia J.; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat serta berperan untuk meningkatkan kualitas hidup. Pendidikan sangat penting karena merupakan dasar untuk pengembangan pola berpikir konstruktif dan kreatif. Kondisi geografis Kabupaten Merauke sebagian besar wilayahnya didominasi oleh wilayah datar dan aktivitas perekonomian terkonsentrasi di pusat kota Kabupaten Merauke, kondisi jalan yang kurang baik dan beberapa lokasi belum tersedianya akses jalan, lokasi sekolah yang tidak sesuai dengan peruntukan lahan serta kurangnya sarana transportasi umum ke lokasi sekolah sehingga menyebabkan akses menuju beberapa lokasi pelayanan fasilitas umum belum memadai. Tujuan penelitian ini adalah Mengidentifikasi tingkat pelayanan fasilitas pendidikan tingkatSLTA berdasarkan standar yang berlaku dan Menganalisis dan merencanakan keterjangkauan pelayanan fasilitas pendidikan tingkatSLTA dan tingkat kebutuhan di Kabupaten Merauke sampai pada tahun 2036. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian ini data yang diperlukan yaitu lokasi sekolah, jumlah ruang kelas tiap-tiap sekolah di Kabupaten Merauke serta jarak jangkauan pelayanan tiap unit sekolah yang merupakan kualitas persebaran lokasi sekolah. Berdasarkan hasil penelitian Jumlah ketersediaan fasilitas pendidikan tingkat atas (SLTA) eksisting terbanyak yaitu Distrik Merauke dengan jumlah 24 unit SLTA Sederajat (SMA, SMK, MA). Berdasarkan penilaian daya tampung fasilitas pendidikan tingkat SLTA di Kab. Merauke ada 3 Distrik yang persentase tingkat kapasitas daya tampung (efisien) yaitu Distrik Muting (83%), Distrik Sota (97%) dan Distrik Jagebob (94%). Distrik yang persentase kapasitas daya tampung melebihi kapasitas daya tampung yaitu Distrik Naukenjerai (175%), Distrik Merauke (139%), Distrik Okaba (125%). Sedangkan distrik yang persentase kapasitas daya tampung dinilai kurang (tidak efisien) yaitu Distrik Eligobel (72%), Distrik Tanah Miring (50%), Distrik Semangga (19%), Distrik Malind (42%), Distrik Kurik (64%), dan Distrik Kimaam (65%). Distrik yang memiliki penilaian baik dari segi pemenuhan kebutuhan penduduk usia sekolah, tingkat keterisian dan kondisi jalan baik adalah Distrik Muting, Distrik Sota dan Distrik Merauke, Distrik yang memiliki penilaian cukup (>100 %) yaitu Distrik Kimam, DistrikEligobel, Distrik Jagebob,Distrik Kurik, Distrik Malind, Distrik Naukenjerai, dan Distrik Okaba sedangkan Distrik yang memiliki penilaian kurang (<80 %) yaitu Distrik Ilyawab, Kaptel, Ngguti, Semangga, Tabonji, Tanah Miring, Tubang, Ulilin, dan Waan. Dari segi perencanaan, sekolah yang tidak terdapat di distrik Kabupaten Merauke yaitu : Distrik Ulilin, Distrik Animha, Distrik Ngguti, Distrik Kaptel, Distrik Tubang, Distrik Ilyawab, Distrik Tabonji dan Distrik Waan sehingga perlu adanya perencaan pembangunan fasilitas pendidikan tingkat SLTA baru di 8 lokasi tersebut. Sedangkan dari hasil evaluasi tingkat pelayanan fasilitas pendidikan eksisting di Kabupaten Merauke Tahun 2016, beberapa lokasi sekolah di beberapa distrik yang tingkat pelayanannya (kurang) perlu di adakan penyediaan fasilias pendidikan baru di lokasi tersebut.   Kata Kunci : Fasilitas Pendidikan, Kabupaten Merauke
KAJIAN PERTUMBUHAN WILAYAH PENGEMBANGAN DI KOTA AMBON (STUDI KASUS : SATUAN WILAYAH PENGEMBANGAN II) Djati, Theresia Silvana Samba; Tilaar, Sonny; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Satuan wilayah pengembangan (SWP) adalah wilayah yang secara geografis dan administrasi dikelompokan berdasarkan potensi dan sumber daya untuk pengembangannya. Kota Ambon memiliki lima (V) SWP. Pusat kota merupakan SWP I dengan fungsi kegiatan yaitu pemerintahan, komersial, perdagangan dan jasa serta permukiman. Dari tahun ke tahun menunjukan adanya perkembangan kota Ambon dalam hal pemanfaatan ruang dalam kota. Kegiatan yang cenderung berorientasi di pusat kota sehingga menjadikan pusat kota semakin padat perlahan dikembangkan ke arah bagian luar pusat kota dalam hal ini yaitu satuan wilayah pengembangan (SWP) II. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi arah perkembangan wilayah secara spasial pada SWP (Satuan Wilayah Pengembangan) II dan menentukan lokasi pusat pertumbuhan wilayah di SWP II. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Kualitatif-Kuantitatif (Mix Method). Metode kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi arah perkembangan wilayah pada SWP II dengan menggunakan analisis overlay dan analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan kota, metode kuantitatif digunakan untuk menentukan lokasi pusat pertumbuhan wilayah di SWP II dengan  menggunakan analisis skalogram, analisis indeks sentralitas dan analisis gravitasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa, arah perkembangan spasial Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II  yaitu perkembangan horizontal melalui proses perkembangan spasial sentrifugal. Lokasi pusat  pertumbuhan wilayah  di Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II berdasarkan analisis skalogram dan analisis indeks sentralitas berada di desa Passo. Hasil analisis gravitasi menunjukan interaksi desa/kelurahan yang paling kuat di SWP II yaitu antara Desa Passo dengan Desa Nania, sedangkan yang paling sedikit interaksinya yaitu Desa Passo dengan Desa Latta. Kata Kunci : Pertumbuhan wilayah, Perkembangan Wilayah, Satuan Wilayah Pengembangan II, Kota Ambon.
ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA MAKAM TUANKU IMAM BONJOL SEBAGAI KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN MINAHASA, DESA LOTTA, KABUPATEN MINAHASA Umaternate, Syafrizal; Wuisang, Cynthia E.V; Rate, J. Van
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Cagar Budaya Makam Tuanku Imam Bonjol merupakan Kawasan Strategis Kabupaten yang berada di Kabupaten Minahasa. Dengan menjadi prioritas pengembangan maupun pembangunan sudah pasti sangat disayangkan dengan kondisi saat ini yang kurang diperhatikan baik pemerintah dan masyarakat serta wisatawan, maka dari itu dibutuhkan penelitian untuk memberikan konsep pengembangan kedepan. Berdasarkan permasalahan tersebut upaya yang dilakukan adalah membuat konsep zonasi untuk meningkatkan fungsi dari masing-masing zona dan menyediakan prasarana penunjang untuk Kawasan Cagar Budaya ini. Tahapan awal dalam penelitian ini adalah dengan mengetahui permasalahan yang membuat pengembangan terhambat melalui pengumpulan data menggunakan Kuesioner, selanjutnya digunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis distribusi frekuensi untuk mengetahui permasalahan dan tanggapan masyarakat. Hasi akhir penelitian adalah memberikan rekomendasi prasarana penunjang untuk mengembangkan Kawasan Cagar Budaya ini kedepan dan Konsep zonasi yang dibagi menjadi 4 zona, yaitu zona inti, zona peyangga, zona pengembangan, dan zona penunjang.Kata Kunci: Kawasan Cagar Budaya Makam Tuanku Imam Bonjol, Kawasan strategis Kabupaten, Zonasi, prasarana penunjang

Page 3 of 3 | Total Record : 29