cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 3 (2017)" : 27 Documents clear
DAMPAK PERKEMBANGAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP SISTEM DRAINASE DI KECAMATAN PAAL DUA MANADO Sakti, Bimo; Gosal, Pierre H; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

. Kejadian berupa banjir dan genangan merupakan suatu hal yang terjadi setiap musim hujan di beberapa wilayah Indonesia, terutama di wilayah perkotaan. Hal tersebut terjadi juga di Kota Manado Kecamatan Paal Dua, di daerah ini selalu mengalami genangan air pada saat musim hujan. Perkembangan pembangunan kota pada kawasan ini mengakibatkan berkurangnya lahan tak terbangun, hal inilah yang merupakan pemicu terjadinya peningkatan volume air pada permukaan tanah. Dimana air pada permukaan yang mengalir tidak sesuai lagi dengan perhitungan awal perencanaan drainase kawasan secara eksisting. Dampak dari peningkatan jumlah aliran air permukaan atau run off ketika hujan pada lokasi penelitian ini mengakibatkan masalah pada sistem drainase kawasan. Dengan mengidentifikasi perkembangan penggunaan lahan dan mengkaji dampak dari perkembangan penggunaan lahan terhadap sistem drainase di Kecamatan Paal Dua Kota Manado diharapkan akan didapati sebuah solusi yang sesuai untuk mengantisipasi terjadinya perencanaan yang tidak tepat pada kawasan / lokasi Penelitian. Untuk itu dalam rangka mengkaji dampak dari perkembangan pembangunan terhadap perencanaan sistem drainase kawasan digunakanlah metode analisis spasial untuk membantu dalam penggambaran perkembangan penggunaan lahan yang terjadi pada 15 tahun terakhir. Sedangkan metode statistik deskriptif  digunakan untuk mengumpulkan sekaligus menyajikan data yang telah terkumpul dan mendeskripsikannya sesuai dengan kajian penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dalam perkembangan penggunaan lahan terbangun dari tahun 2003 sampai 2015 sebesar 12,23% dari luas  wilayah kecamatan  sebesar 925,06 Ha  yang mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air di wilayah kecamatan ini. Hal itulah yang memberikan dampak pada sistem drainase yang ada. Kata kunci : Dampak, Perkembangan Penggunaan Lahan, Sistem Drainase
PERKEMBANGAN PUSAT KOTA TERNATE (STUDI KASUS : KECAMATAN TERNATE TENGAH) Umanailo, Heru A; Franklin, Papia J.; Waani, Judy O
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Ternate adalah salah satu kota di Provinsi Maluku Utara. Kota Ternate merupakan salah satu waterfront city di Indonesia yang awalnya dikenal dalam sejarah dunia sebagai pusat perdagangan rempah-rempah skala internasional di abad ke-15 silam. Selama menjadi kotamadya, Ternate telah menunjukkan perkembangan sebagai kota perdagangan dan industri serta kemajuan yang cukup pesat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat. Kota Ternate dihadapkan dengan kondisi geografis wilayah yang merupakan sebuah gunung api aktif dengan kemiringan lereng terbesar diatas 40% yang mengerucut ke arah puncak gunung dan dikelilingi laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi arah perkembangan pusat kota Ternate dan menganalisis faktor – faktor apa yang mempengaruhi perkembangan tersebut. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ternate Tengah yang terbagi dalam 4 kelurahan yaitu Makassar Barat, Makassar Timur, Gamalama, Muhajirin dengan mengambil data perbandingan setiap tahun. Dari tahun 2000 ke 2005 , 2005 ke 2010 , dan 2010 ke 2015. Metode Penelitian yang di gunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan Metode Analisis Overlay dan Analisis Deskriptif. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat di ketahui bahwa Arah Perkembangan Pusat Kota Ternate dari tahun 2000-2015 dominan mengalami perubahan yang signifikan. Dari aspek kependudukan, Perkembangan Pusat Kota Ternate meningkat per 5 tahunnya. Dari aspek perkembangan spasial, Kota Ternate saat ini lebih cenderung pada pembangunan secara vertikal. Secara keseluruhan dari tahun 2000 – 2015 kawasan lahan terbangun sebesar 79.87 ha sedangkan lahan tidak terbangun hanya sebesar 5.7 ha dan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan pusat Kota Ternate adalah faktor penduduk dan faktor ekonomi. Kata Kunci : Perkembangan Kota , Pusat Kota , Faktor Perkembangan Kota
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN TEPI DANAU GALELA KABUPATEN HALMAHERA UTARA Djangu, Awidano; Rondonuwu, Dwight M; Sela, Rieneke L
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan tepi danau merupakan wilayah yang banyak mengalami perubahan penggunaan lahan terutama perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian yang disebabkan adanya pengaruh perkembangan penduduk. Proses penggunaan lahan yang dilakukan manusia dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan peradaban dan kebutuhan manusia. Sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan penduduk semakin bertambah setiap tahunnya, mengakibatkan kebutuhan semakin tinggi, hal ini menyebabkan bertambahnya permukiman di kawasan tepi danau galela. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi luas perubahan penggunaan lahan yang bersinggungan langsung dengan kawasan tepi danau Galela Kabupaten Halmahera Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode Kualitatif dan Metode Kuantitatif. data-data yang ada dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Spasial sistem Informasi Geografi (SIG)  untuk mengetahui luas perubahan penggunaan lahan serta melihat penggunaan lahannya. Data yang diperlukan yaitu 1. Peta penggunaan lahan dari RTRW Kabupaten Halmahera Utara, 2. Peta citra satellite  historis Google Earth dengan jangka waktu tahun 2003-2015, selanjutnya kedua peta dioverlay untuk mencari luas tutupan lahan. Maka dapat disimpulkan bahwa perubahan penggunaan lahan dari tahun 2003-2015 di kawasan tepi danau Galela, untuk lahan Permukiman 6,89 Ha meningkat menjadi 29,04 Ha, Perdagangan dan Jasa 2,72 Ha meningkat menjadi 8,26 Ha, Fasilitas Umum dan Sosial 0,21 Ha meningkat menjadi 0,68 Ha, Pendidikan 0,12 Ha meningkat menjadi 0,35 Ha, pemerintahan 0,11 Ha menjadi 0,15 Ha. Penggunaan lahan untuk ruang tebuka dengan luas 27,40 Ha meningkat hingga 63,34 Ha, Perkebunan dengan luas 97,05 Ha berkurang menjadi 54,83 Ha, dan tegalan dengan luas 14,02 Ha, berkurang hingga 13,09 Ha.
PENGEMBANGAN SANITASI BERKELANJUTAN DI KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH STUDI KASUS (KECAMATAN TUMPAAN) Silangen, Johanis K; Warouw, Fela; Mastutie, Faizah
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu pemukiman kumuh dapat dikaitkan dengan kemiskinan, karena pada umumnya di pemukiman kumuhlah yang kebanyakan masyarakat yang kurang mampu tinggal dan letak rumahnya semerawut banyak dijumpai di kawasan perkotaan. Kecamatan Tumpaan merupakan bagian dari Kabupaten Minahasa Selatan. Kecamatan Tumpaan memiliki jumlah penduduk 15.884 jiwa dengan luas wilayahnya ±21.485 ha dan memiliki kepadatan menduduk 0,73 jiwa/ha. Berdasarkan RKPKP Tahun 2015-2016 (Rencana Kawasan Pemukiman Kumuh Perkotaan) Kecamatan Tumpaan memiliki luasan permukiman kumuhnya ±13,41 Ha yang tersebar di 3 Kelurahan: Kelurahan Tumpaan 1,  Kelurahan Matani 1 dan Kelurahan Tumpaan 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui arahan pengembangan yang tepat untuk membantu memperbaiki kualitas permukiman yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi kondisi existing Sanitasi di kawasan permukiman kumuh yang ada di Kecamatan Tumpaan dan Menganalisis arahan pengembangan Sanitasi berkelanjutan pada kawasan permukiman kumuh Kecamatan Tumpaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitif dengan menggunakan analisis overlay eliminasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kawasan permukiman kumuh di kecamatan tumpaan terbagi di dalam 3 kawasan yaitu; Kelurahan Matani 1, Kelurahan Tumpaan 1 dan Kelurahan Tumpaan. Berdasarkan hasil observasi dan pembagian kuesioner ditemukan bahwa kondisi eksisting sanitasi pada daerah penelitia belum memadai. Hal ini dapat dilihat dalam perbandingan antara sistem pengelolaan sampah dan  pengaliran limbah cair dengan pedoman yang berlaku. Dan konsep yang bisa dikembangkan dan diterapkan di kawasan permukiman kumuh yang ada ialah konsep Sanimas (Sanitasi Masyarakat) yaitu pembuatan Tangki Septik Bersekat dan bangunan TPS3R di tiap-tiap kelurahan di kawasan permukiman kumuh dan melibatkan masyarakat dalam perencanaan,pembangunan sampai dalam pengelolaannya. Kata Kunci : Pengembangan, Sanitasi, Berkelanjutan, Permukiman Kumuh
PELESTARIAN LANSEKAP BERSEJARAH DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN Willem, Kiwol Yoel; Wuisang, Cynthya E.V; Moniaga, Ingerid
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring berkembangnya zaman, banyak objek peninggalan sejarah yang mulai dibiarkan tidak terawat oleh masyarakat yang ada disekitar bahkan pemerintah lokal. Objek peninggalan sejarah belum menjadi prioritas utama dalam program pembangunan daerah. Banyaknya kegiatan pembangunan dan pengembangan wilayah seringkali menyebabkan lansekap sejarah yang ada tertutupi atau tergeser oleh modernisasi. Selain itu juga lansekap sejarah umumnya sering sekali diabaikan oleh masyarakat itu sendiri bahkan banyak dari masyarakat tidak peduli akan keberadaan lansekap sejarah yang ada di sekitar mereka dan tidak menyadari pentingnya potensi dari lansekap sejarah Padahal jika objek peninggalan sejarah ini diperhatikan bisa menjadi salah satu faktor penunjang kemajuan suatu daerah. Di Kabupaten Minahasa Selatan banyak peninggalan sejarah yang ada mulai dari zaman pra sejarah sampai zaman penjajahan. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik atau kondisi lansekap bersejarah di Kabupaten Minahasa Selatan dan merencanakan dengan konsep pelestarian lansekap bersejarah di Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif/eksplanatif dengan teknik pengumpulan data primer (observasi lapangan dan wawancara langsung) dan sekunder (studi literatur, mengunjungi instansi pemerintah atau organisasi terkait). Adapun hasil dari penelitian pelestarian lansekap bersejarah di Kabupaten Minahasa Selatan menunjukkan bagaimana cara yang tepat untuk melakukan pelestarian terhadap masing – masing objek peninggalan sejarah, dimana sebanyak 7 (tujuh) objek memerlukan tindakan pelestarian konservasi, 1 (satu) objek memerlukan tindakan pelestarian revitalisasi, dan 1 (satu) objek memerlukan tindakan pelestarian revitalisasi dan rekonstruksi. Kata Kunci: Lansekap Bersejarah, Pelestarian, Perencanaan
EVALUASI INKONSISTENSI PEMANFAATAN RUANG DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO Romony, Patrick Jouino; Takumansang, Esli D; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Singkil salah satu Kecamatan yang teletak di Kota Manado, Ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Kecamatan Singkil mempunyai jumlah penduduk yang megalami peningkatan setiap tahunnya sehingga membawa dampak pada peningkatan kebutuhan penggunaan lahan, hal ini akan berdampak pada konversi lahan yang tidak sesuai dengan pemanfaatannya. Salah satunya adalah pada konversi lahan pada penggunaan lahan perkebunan menjadi penggunaan lahan permukima. Empat dari sembilan kelurahan di Kecamatan Singkil ditenggarai  tidak sesuai dengan pemanfaatannya. Dalam penelitian ini metode analisis data yang dipakai untuk menunjang penelitian ini adalah menggunakan metode overlay dengan software Sistem Informasi Geografi (SIG). Peneliti menggunakan metode overlay ini untuk mengetahui pemanfaatan ruang yang terinkonsistensi di Kecamatan Singkil sehiingga dapat diketahui bahwa seluas 16,35 ha atau 4% dari luas total Kecamatan Singkil merupakan pemanfaatan ruang yang terinkonsistensi, selanjutnya menghitung dan mencari tau jenis inkonsistensi yang ada dengan menggunakan peta tematik yang sudah didigitasi batasan-batasan inkonsistensinya perbedaan kenampakannya peta tematik menggunakan aplikasi berbasis SIG sehingga dapat diketahui berbagai macam jenis penggunaan lahan yang terinkonsistensi maupun yang masih konsisten terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado 2014-2013 yang ada di Kecamatan Singkil. Kata Kunci: Pemanfaatan Ruang, Inkonsistensi, Kecamatan Singkil, Kota Manado
KAJIAN PERMUKIMAN DI KAWASAN HUTAN BAKAU DESA RATATOTOK TIMUR DAN DESA RATATOTOK MUARA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Tumigolung, Marthen A; Wuisang, Cynthya E.V; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan Bakau  merupakan  ekosistem  yang  menjadi  jembatan  antara  ekosistem  lautan  dan daratan. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi fisik, penggunaan lahan permukiman serta pola perkembangan permukiman yang terdapat di desa Ratatotok Timur dan Desa Ratatotok Muara kecamatan Ratatotok kabupaten Minahasa Tenggara. Masyarakat pesisir dalam kehidupan sehari hari tidak lepas dari ketergantungannya akan sumberdaya pesisir karena mata pencaharian penduduknya yang bergantung pada laut. Hal ini merupakan salah satu faktor timbulnya permukiman pada lokasi penelitian, namun dilihat dari lokasi permukiman yang terbentuk berada berdekatan dengan hutan bakau, langsung berada di pesisir pantai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif, metodenya adalah deskriptif dimana pengumpulan data menggunakan kuesioner, untuk menganalisa kondisi fisik, penggunaan lahan dan pola perkembangan permukiman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi fisik, penggunaan lahan dan pola perkembangan permukiman di wilayah hutan bakau desa Ratatotok Timur dan Ratatotok Muara terus berkembang dari segi pembangunan infrastruktur dan permukiman masyarakat, tetapi untuk penambahan bangunan sudah dilarang pemerintah karena keterbatasan lahan. Untuk pelestarian hutan bakau, masyarakat terus melakukan penanaman secara berkala. Pemerintah desa setempat telah melakukan peraturan untuk menjaga kelestarian hutan bakau dan pola perkembangan permukiman lebih bersifat linier dan memanjang mengikuti garis pantai.Kata kunci : Permukiman Hutan Bakau, Penggunaan Lahan, Pola Perkembangan Permukiman
EVALUASI KETERSEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN SLTP DI KECAMATAN MAPANGET Uang, Orvans Lexsi; Rengkung, Michael M; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UUD 1945 mengamanatkan pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Itu berarti bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan. Di Kecamatan Mapanget masih terjadi ketidakseimbangan antara penyediaan dengan kebutuhan pelayanan sekolah tingkat SLTP. Hal ini terlihat dari beberapa kelurahan di Kecamatan Mapanget yang terdapat lebih dari 3 unit sekolah yang melayani 1 kelurahan, yang mengindikasikan bahwa secara statistik terdapat kelebihan jumlah sekolah tingkat SLTP di Kecamatan Mapanget. dan juga karena ketidak seimbangan antara jumlah murid dengan jumlah sekolah yang ada sehingga terjadi tunpang tindi, penyediaan failitas pendidikan SLTP. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi ketersediaan pelayanan fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Mapanget dan mengevaluasi kebutuhan dan jangkauan pelayanan fasilitas pendidikan (SLTP) dengan SPM (Standar Pelayanan Minimum). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Untuk mendukung penelitian ini maka data yang diperlukan yaitu data demografi penduduk persebaran lokasi sekolah, jumlah ruang kelas tiap-tiap sekolah, dan kondisi jalan sebagai pendukung aksesibilitas di Kecamatan Mapanget serta jarak jangkauan pelayanan tiap unit sekolah yang merupakan kualitas persebaran lokasi sekolah. Berdasarkan hasil penelitian Tingkat Pelayanan Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Mapanget rata – rata hasil penilaiannya adalah cukup dan kurang dari segi pemenuhan kebutuhan, daya tampung dan tingkat keterisian sekolah. Hal ini menyebabkan ketersediaan fasilitas pendidikan yang tersebar di tiap kelurahan di Kecamatan Mapanget belum optimal atau (over capacity) kelebihan murid yang tidak sesuai dengan jumlah kelas yang ada ditiap sekolah (Kelebihan murid dari daya tampung sekolah menandakan adanya kekurangan jumlah fasilitas pendidikan dalam penerimaan murid) dan (under capacity) sehingga perlunya perencanaan fasilitas pendidikan yang menyesuaikan kebutuhan sekolah berdasarkan jumlah penduduk berusia 13 -15 Tahun sebagai usia sekolah tingkat SLTP dan Jarak jangkauan pelayanan sekolah cenderung melayani kawasan yang berada di jalan kolektor Kecamatan Mapanget, namun ketersediaan fasilitas pendidikan tingkat SLTP berdasarkan hasil buffering 1.200 Meter terlihat dapat menjangkau semua kelurahan yang ada di Kecamatan Mapanget sehingga efektif untuk jangkauan masyarakat atau penduduk untuk menjangkau sekolah yang ada di Kecamatan Mapanget. Kata Kunci : Fasilitas Pendidikan, SLTP, Tingkat Pelayanan, Kecamatan Mapanget
ANALISIS PELAYANAN TRANSPORTASI ANGKUTAN KOTA DI KOTA TERNATE Buamona, Muhammad Syaiful; Timboeleng, James; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportasi atau pengangkutan merupakan bidang kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti Angkutan umum perkotaan merupakan bagian dari sistem transportasi perkotaan yang memegang peranan sangat penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. Peranan tersebut menjadikan angkutan umum perkotaan sebagai aspek yang sangat strategis dan diharapkan mampu mengakomodir seluruh kegiatan masyarakat. Rendahnya tingkat penggunaan kendaraan umum dibandingkan penggunaaan kendaran pribadi di kawasan perkotaan, menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi masih tinggi dan di sisi lain pelayanan angkutan umum perkotaan terlihat masih rendah. Untuk itu transportasi yang ada di Kota Ternate sangat diperhatikan dari pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Ternate dan wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelayanan transportasi angkutan kota, perencanaan rute angkutan kota dan hubungan rute perencanaan dan kawasan wilayah kota di Kota Ternate. Metode analisis yang di gunakan adalah deskkriptif kuantitatif dan kualitatif yang berbentuk angka-angka dan data kualitatif. Metode penelitian kuantitatif dapat di artikan sebagai metode penelitian yang di gunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah di tetapkan. Hasil studi, yaitu kurangnya rute angkutan kota yang beroperasi di daerah perbukitan,ini di lihat dari permintaan masyarakat untuk adanya penambahan rute di beberapa kawasan, karena akan adanya hubungan antar kawasan dan pergerakan mobilitas masyarakatnya dalam melalkukan aktifitas mereka. Kata Kunci : Transportasi, Angkutan Kota
UPAYA PENANGANAN INFRASTRUKTUR KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN DI TANJUNG SELOR, KALIMANTAN UTARA Sonda, Stephany Matra; Makarau, Vicky H; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah perkotaan pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup rumit untuk diatasi. Perkembangan perkotaan membawa pertumbuhan kota pada konsekuensi negatif lewat beberapa aspek, termasuk aspek lingkungan.Timbulnya banyak pemukiman kumuh diperkotaan dimana menjadi penyebab tidak terkendalinya pembangunan perumahan dan permukiman sehingga menyebabkan muncul kawasan kumuh pada beberapa bagian kota sebagai dampak dari penurunan daya dukung lingkungan. Permukiman kumuh hingga saat ini masih menjadi masalah utama yang dihadapi di kawasan permukiman perkotaan. Menumpuknya sumber mata pencaharian di kawasan perkotaan menjadi magnet yang cukup kuat bagi masyarakat perdesaan (terutama golongan MBR) untuk bekerja di kawasan perkotaan dan tinggal di lahan lahan ilegal yang mendekati pusat kota, hingga akhirnya menciptakan lingkungan permukiman kumuh. Di sisi lain, belum terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) perkotaan pada beberapa kawasan permukiman yang berada di lahan legal pun pada akhirnya juga bermuara pada terciptanya permukiman kumuh di kawasan perkotaaan.Kawasan Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia merupakan kawasan kumuh yang berada di Ibu kota Kabupaten Bulungan dalam RP2KPKP Kabupaten Bulungan 2016 kawasan ini menjadi prioritas penanganan dengan kategori kumuh berat. Permasalahan pada kawasan Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia terkait dengan ketersediaan infrastruktur yang  menggambarkan kondisi infrastruktur Bulu Perindu dan Tanjung  Rumbia yang belum memadai. Tujuan penelitian mengidentifikasi ketersediaan pelayanan infrastruktur permukiman kumuh berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penelitian, serta menganalisis upaya penanganan infrastruktur permukiman kumuh pada kawasan penelitian. Penelitian ini menggunakan Metode analisis Kuantiatif Deskriptif. Hasil analisis menunjukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua kawasan tersebut. Identifikasi ketersediaan infrastruktur dengan perhitungan SPM dan analisis upaya penanganan infrastruktur kawasan permukiman kumuh Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia adalah dengan melakukan Pencegaha dan Peningkatan Kualitas.                                             Kata Kunci: Permukiman, Infrastruktur, Kekumuhan

Page 1 of 3 | Total Record : 27