cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
PEMANFAATAN LAHAN BERBASIS MITIGASI BENCANA LONGSOR DI KOTA MANADO Sungkar, Iqbal L; Sela, Rieneke L; Tondobala, Linda
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado memiliki tiga kelas tingkat kerawanan bencana longsor, mulai dari kerawanan rendah,sedang serta tinggi. Pemanfaatan lahannya lebih didominasi oleh lahan terbangun dari pada tidak terbangun, beberapa kecamatan yang ada di kota Manado terdampak oleh bencana longsor. Melihat itu semua, maka para stakeholder mempunyai peranan penting dalam penanganan mitigasi bencana longsor di kota manado. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang  bertujuan : 1.  Mengidentifikasi sebaran daerah rawan bencana longsor dan kondisi pemanfaatan lahannya di kota Manado 2. Membuat mitigasi bencana pada daerah rawan bencana longsor di kota Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis spasial yang terdiri dari dua tahap : - Overlay (tumpang susun) data spasial dan  - skoring dengan menggunakan software (SIG) sistem informasi geografis. Hasil penelitian dapat mengetahui sebaran daerah rawan longsor di kota Manado, dimana lebih di dominasi oleh tingkat kerawanan bencana longsor sedang, dengan luasan 9.621 hektar atau 69 % dari luas wilayah penelitian. Pemanfaatan lahan pada tingkat kerawanan tinggi dengan luas area sebesar 1.761 hektar atau 13 %  dari luas wilayah penelitian, yang didominasi oleh lahan terbangun dengan luasan 920.88 hektar dari pada lahan tidak terbangun yaitu 840.17 hektar. Oleh karena itu, dibuatkan mitigasi struktural maupun non struktural seperti peta mitigasi di daerah kerawanan tinggi bencana longsor sebagai wilayah prioritas untuk dapat memproteksi serta mengurangi potensi terjadinya bencana longsor di kota Manado. Kata kunci : Pemanfaatan Lahan, Mitigasi, Bencana Longsor
ANALISIS KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR PARIWISATA PADA LOKASI WISATA KOTA TIDORE KEPULAUAN Abdurradjak, A Aziz Muslim; -, Suryono; Gosal, Pierre H
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Peraturan Daerah Kota Tidore Kepulauan Nomor  9 Tahun  2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah Kota Tidore Kepulauan Tahun 2015-2030 khususnya Pasal 24 Tentang Pembangunan prasarana dan sarana pariwisata sebagaimana dimaksud pada Pasal 14 huruf c, meliputi Pembangunan prasarana umum, fasilitas umum, dan fasilitas pariwisata. Pasal 24 Menjelaskan tentang jenis-jenis prasanana umum. Prasarana umum dimaksud meliputi jaringan listrik, lampu penerangan, jaringan air bersih Jaringan telekomunikasi Sistem pengelolaan limbah. Yang dimaksud dengan fasilitas umum meliputi Fasilitas keamanan, Pemadam Kebakaran, Fasilitas tanggap bencana (Early warning system) di destinasi yang rawan bencana, Fasilitas pariwisata dimaksud meliputi, fasilitas akomodasi, fasilitas rumah makan, fasilitas informasi dan pelayanan pariwisata, fasilitas pelayanan keimigrasian, pusat informasi pariwisata (tourism information center), dan e-tourism kios, Polisi Pariwisata dan Satgas Wisata, souvenir shop, tourism sign & posting (gate, interpretation board, rambu lalu-lintas wisata); dan Landscaping. Pembangunan infrastruktur pariwisata untuk mendukung sektor pariwisata. Pembangunan infrastruktur pariwisata sangat dibutuhkan, untuk itu presepsi dari masyarakat dan pengunjung sangat dibutuhkan. Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan analisis deskriptif, serta tujuan penelitian yaitu Mengidentifikasi karakteristik infrastruktur pariwisata di Kota Tidore Kepulauan dan menganalisis kebutuhan infrastruktur pariwisata di Kota Tidore Kepulauan. Berdasarkan hasil kuesioner diolah menggunakan skala likert, Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, melakukan wawancara, kuesioner dan telaah pustaka. Hasil analisis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah agar bisa lebih baik lagi memperhatikan infrastruktur pariwisata yang sudah tersedia maupun yang belum tersedia.Kata Kunci : Infrastruktur Pariwisata, Kota Tidore Kepulauan
KAJIAN PERTUMBUHAN WILAYAH PENGEMBANGAN DI KOTA AMBON (STUDI KASUS : SATUAN WILAYAH PENGEMBANGAN II) Djati, Theresia Silvana Samba; Tilaar, Sonny; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Satuan wilayah pengembangan (SWP) adalah wilayah yang secara geografis dan administrasi dikelompokan berdasarkan potensi dan sumber daya untuk pengembangannya. Kota Ambon memiliki lima (V) SWP. Pusat kota merupakan SWP I dengan fungsi kegiatan yaitu pemerintahan, komersial, perdagangan dan jasa serta permukiman. Dari tahun ke tahun menunjukan adanya perkembangan kota Ambon dalam hal pemanfaatan ruang dalam kota. Kegiatan yang cenderung berorientasi di pusat kota sehingga menjadikan pusat kota semakin padat perlahan dikembangkan ke arah bagian luar pusat kota dalam hal ini yaitu satuan wilayah pengembangan (SWP) II. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi arah perkembangan wilayah secara spasial pada SWP (Satuan Wilayah Pengembangan) II dan menentukan lokasi pusat pertumbuhan wilayah di SWP II. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Kualitatif-Kuantitatif (Mix Method). Metode kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi arah perkembangan wilayah pada SWP II dengan menggunakan analisis overlay dan analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan kota, metode kuantitatif digunakan untuk menentukan lokasi pusat pertumbuhan wilayah di SWP II dengan  menggunakan analisis skalogram, analisis indeks sentralitas dan analisis gravitasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa, arah perkembangan spasial Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II  yaitu perkembangan horizontal melalui proses perkembangan spasial sentrifugal. Lokasi pusat  pertumbuhan wilayah  di Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II berdasarkan analisis skalogram dan analisis indeks sentralitas berada di desa Passo. Hasil analisis gravitasi menunjukan interaksi desa/kelurahan yang paling kuat di SWP II yaitu antara Desa Passo dengan Desa Nania, sedangkan yang paling sedikit interaksinya yaitu Desa Passo dengan Desa Latta. Kata Kunci : Pertumbuhan wilayah, Perkembangan Wilayah, Satuan Wilayah Pengembangan II, Kota Ambon.
POLA PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI PUSAT KOTA TERNATE Effendi, Dewinita; Waani, Judy O; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia memiliki kepribadian individual sebagaimana juga mahluk sosial, hidup bermasyarakat dalam suatu kolektivitas. Manusia juga merupakan pusat lingkungan dan sekaligus bagian dari lingkungan. Dalam setiap aktivitas manusia, terutama yang berada di perkotaan biasanya tidak dapat dipisahkan dari pemanfaatan ruang seperti halnya dalam penggunaan ruang terbuka publik. Seperti halnya di Kota Ternate, Keberadaan ruang terbuka publik memiliki peranan penting untuk masyarakat. Ruang terbuka publik di Kota Ternate tersebar di kecamatan-kecamatan dan kepemilikannya beragam dari tanah adat sampai milik pemerintah kota, yaitu salah satu contohnya adalah Taman Nukila dan Pantai Falajawa yang berada di Kecamatan Ternate Tengah. Taman ini secara langsung berperan penting sebagai pusat interaksi dan komunikasi masyarakat baik formal maupun informal, individu atau kelompok. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi perilaku atau atribut masyarakat dalam memanfaatkan ruang terbuka publik di pusat Kota Ternate dan menemukan atribut perilaku dominan lingkungan dari perilaku masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif  yaitu penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan menggunakan behaviour mapping untuk menjawab pertanyaan pertama dan kedua. Berdasarkan hasil studi 1Atribut yang muncul dari Taman Nukila (legitibilitas, kenyamanan, privasi, teritori, dan aksesibilitas) dan di Pantai Falajawa ( visibilitas, privasi, aksesibilitas, dan sosialitas) 2Atribut dominan dari Taman Nukila (legitibilitas, kenyamanan, dan privasi) dan atribut domina dari Pantai Falajawa (privasi dan aksesibilitas).Kata Kunci : Atribut, Pola Perilaku, Ruang Terbuka Publik
KAJIAN DAYA DUKUNG PASAR TRADISIONAL KABUPATEN HALMAHERA UTARA Hatim, Muhammad Fadly; Tarore, Raymond Ch; Takumansang, Esli
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pasar modern yang pesat sangat berdampak terhadap keberadaan pasar tradisional.Pasar modern dikelola secara profesional dengan fasilitas yang serba lengkap hampir semua produk yang dijual di pasar tradisional dapat ditemukan di pasar modern. Berdasarkan data pasar yang ada diketahui bahwa pasar dengan skala pelayanan kecamatan berjumlah 15 buah, pasar dengan skala pelayanan desa berjumlah 9 buah hampir semua pasar dalam kondisi rusak. Hal ini berdampak pada kemacetan lalu lintas disekitarnya, ketidaknyamanan konsumen dan operasi dari para pedagang, rawan kebakaran dan menjadi elemen buruk dari pasar tradisional dikabupaten Halmahera Utara dan wilayahnya termasuk mendorong kekumuhan disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan lokasi dan kebutuhan pasar tradsional wilayah kabupaten Halmahera Utara, dan mengembangkan rencana strategi pasar tradisional diwilayah kabupaten Halamahera utara dengan menggunakan metode analisis spasial. Metode yang digunakan dalam penilitian ini menggunakan metode deskriptif kualititatif dengan ananlisis overlay. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan ditemukan bahwa terdapat 15 pasar tradisional dikabupaten halmahera utara. Dari 15 unit  pasar ini, ada 6 pasar yang  tidak aktif yaitu pasar salimuli, pasar soakonora, pasar gorua, pasar paca, pasar makeling, pasar toliwang dan  9 pasar sisanya masih aktif. Dalam 15 pasar ini kelengkapan sarana,prasarana dan utilitasny secara rata-rata hanya memenuhi 28% dari persyaratan yang ada. Berdasarkan hasil pembahasan diatas Pasar –pasar yang direlokasi adalah  Pasar toligoda, pasar Yasing Gamsungi, pasar Gorua, pasar  Gura, dan pasar Inpres. Sebelum direlokasi, daerah permukiman yang terlayani pasar adalah  sebesar 90,20% dari total  luas daerah permukiman di Kabupaten Halmahera Utara kemudian berubah menjadi 95,05%.                                               Kata Kunci : Daya Dukung, Pasar Tradisional, saranan,prasarana dan Utilitas Radius pelayanan
TIPOLOGI KEPEMILIKAN RTH DI PERKOTAAN TOBELO Konofo, Ristanti; Kumurur, Veronika; Warouw, Fella
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat  tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidaya  pertanian. Perkotaan Tobelo yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara. Kondisi RTH di Perkotaan Tobelo tidak tersebar merata pada beberapa desa. Kota merupakan kecamatan yang memiliki banyak penduduk karena terletak di kawasan pusat kota, dengan fungsi perkantoran, jasa, dan perdagangan dan kawasan pemukiman yang padat penduduk. Proporsi ruang terbuka hijau di Perkotaan Tobelo saan ini masih belum memenuhi standar kebijakan tata ruang 30% dari total luas wilayah atau UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Yang menjadi permasalahan pada penelitian ini adalah bagi sebagian masyarakat yaitu sulit membedakan antara RTH privat dan publik yang ada di perkotaan Tobelo Dikarenakan perkotaan Tobelo Memiliki RTH yang memiliki lahan-lahan kebun dengan status kepemilikan lahan RTH yang sulit dibedakan mana RTH privat dengan publik. Tujuan Penelitian ini untuk menghitung luas RTH perkotaan Tobelo berdasarkan tipologi kepemilikan dan aktivitas apa saja yang ada pada masing-masing RTH Publik RTH Privat. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu peneliti melakukan observasi lapangan, mengambil dokumentasi dan mengamati aktivitas di taman kota untuk mendeskripsikan keadaan wilayah studi, berdasarkan perhitungan luas RTH luas  serta berdasarkan Tipologi Kepemilikan di perkotaan  Tobelo.   Kata  Kunci  : RTH, Tipologi, Kepemilikan, Perkotaan Tobelo.
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN SARANA PERMUKIMAN DI KECAMATAN KALAWAT Rotinsulu, Fanly A; Franklin, Papia J.C.; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kalawat merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yakni pemekaran dari Kecamatan Airmadidi. tingkat pertumbuhan penduduk di kecamatan kalawat terus bertambah dari tiap tahunnya. Perkembangan kecamatan ini dapat juga dilihat dari ketetapan RTRW pasal 6 ayat 2 menetapkan Kabupaten Minahasa Utara sebagai salah satu kecamatan yang menjadi Pusat Kegiatan  Nasional (PKN) di Kabupaten Minahasa Utara, dalam hal ini Kecamatan Kalawat sebagai salah satu titik pertumbuhan (growing points) di Kabupaten Minahasa Utara. Guna menciptakan lingkungan permukiman yang berkembang, sarana  permukiman yang menunjang aktivitas sosial, aktivitas ekonomi juga aktivitas pelayanan umum tentunya harus memadai. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang  bertujuan mengidentifikasi eksisting sebaran sarana permukiman di Kecamatan Kalawat dan menganalisis kebutuhan sarana permukiman di Kecamatan Kalawat. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini, yaitu analisis proyeksi yakni menggunakan rumus geometric serta Analisis spasial yakni buffer (radius) dengan menggunakan software (SIG) sistem informasi geografis Hasil penelitian dapat mengetahui sebaran eksisting sarana permukiman di kecamatan Kalawat, dimana kelurahan kolongan tetempangan memiliki jumah sarana terbanyak yakni 92 fasilitas, sedangkan kelurahan kuwil dengan jumlah sarana yang paling sedikit dengan 2 fasilitas. Oleh karena itu, dibuatkan analisis proyeksi kebutuhan sarana dengan peta buffer (radius pelayanan) tiap sarana untuk dapat mengetahui tingkat kebutuhan sarana permukiman di kecamatan Kalawat di tahun yang akan datang   Kata kunci : Pertumbuhan Penduduk, Sarana Permukiman, Tingkat Kebutuhan
ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA MAKAM TUANKU IMAM BONJOL SEBAGAI KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN MINAHASA, DESA LOTTA, KABUPATEN MINAHASA Umaternate, Syafrizal; Wuisang, Cynthia E.V; Rate, J. Van
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Cagar Budaya Makam Tuanku Imam Bonjol merupakan Kawasan Strategis Kabupaten yang berada di Kabupaten Minahasa. Dengan menjadi prioritas pengembangan maupun pembangunan sudah pasti sangat disayangkan dengan kondisi saat ini yang kurang diperhatikan baik pemerintah dan masyarakat serta wisatawan, maka dari itu dibutuhkan penelitian untuk memberikan konsep pengembangan kedepan. Berdasarkan permasalahan tersebut upaya yang dilakukan adalah membuat konsep zonasi untuk meningkatkan fungsi dari masing-masing zona dan menyediakan prasarana penunjang untuk Kawasan Cagar Budaya ini. Tahapan awal dalam penelitian ini adalah dengan mengetahui permasalahan yang membuat pengembangan terhambat melalui pengumpulan data menggunakan Kuesioner, selanjutnya digunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis distribusi frekuensi untuk mengetahui permasalahan dan tanggapan masyarakat. Hasi akhir penelitian adalah memberikan rekomendasi prasarana penunjang untuk mengembangkan Kawasan Cagar Budaya ini kedepan dan Konsep zonasi yang dibagi menjadi 4 zona, yaitu zona inti, zona peyangga, zona pengembangan, dan zona penunjang.Kata Kunci: Kawasan Cagar Budaya Makam Tuanku Imam Bonjol, Kawasan strategis Kabupaten, Zonasi, prasarana penunjang
PENGARUH KAWASAN KOMERSIAL TERHADAP LALULINTAS JALAN PIERE TENDEAN Abidjulu, Indira Nurdiani; Timboeleng, James; Hanny, Poli
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepadatan dan kemacetan lalu lintas di Kota Manado meningkat seiring dengan tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang mencapai 12,7 % Tahun 2016 (Sumber :Samsat Kota Manado), sedangkan pembangunan jalan baru di perkotaan sangat terbatas. Jalan Piere Tendean merupakan jalan kolektor sekunder yang dilalui oleh kendaraan apapun maupun pejalan kaki. Kawasan jalan Piere Tendean merupakan akses ke pusat kota dan sekaligus pusat perdagangan dan jasa. Di ruas jalan ini terdapat kawasan komersial sehingga mobilitas orang, kendaraan, dan barang begitu tinggi yang menimbulkan bangkitan dan tarikan perjalanan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode kualitatif dan kuantitatif berupa data perhitungan yang terdiri dari volume kendaraan, kecepatan kendaraan, kapasitas jalan dan hambatan samping. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kondisi eksisting kinerja jalan di ruas jalan Piere Tendean dan menganalisis pengaruh yang ditimbulkan oleh aktivitas komersial di ruas jalan tersebut. Pengaruh yang ditimbulkan terhadap kinerja jalan di ruas jalan Piere Tendean yaitu berdampak pada kemacetan karena faktor – faktor seperti hambatan samping, tata guna lahan, dan kapasitas jalan. Kata Kunci : Kemacetan, Lalulintas, Kinerja Jalan
TINGKAT KETANGGUHAN DAN KETAHANAN KOTA MANADO TERHADAP BENCANA Watung, Christania H.T.; Sela, Rieneke L. E.; Tondobala, Linda
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan resilient city sangat penting mengingat posisi kebanyakan kota-kota di Indonesia yang tidak terlepas dari berbagai jenis ancaman bencana alam dan bencana akibat perilaku manusia didalamnya. Kota Manado menurut Indeks Resiko Bencana Indonesia oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengidentifikasikan tingkat kerawanan Kota Manado terhadap bencana membaik dari skala “tinggi” di tahun 2011 menjadi skala “sedang” di tahun 2013. Isu strategis terkait dengan bencana di Manado dan sekitarnya adalah keberadaan multi risiko bencana (banjir, longsor, tsunami, gempa bumi, dan erupsi gunung api) merupakan suatu kenyataan yang menegaskan kondisi kerentanan wilayah ini, yang membutuhkan upaya penanggulangan yang terintegrasi dan sistemik. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi sebaran daerah-daerah rawan bencana banjir, gunung api, tsunami, gempa bumi dan longsor di Kota Manado dan mengukur tingkat ketangguhan dan ketahanan Kota Manado terhadap bencana banjir, erupsi gunung api, tsunami, gempa bumi dan longsor melalui kriteria Penilaian ketangguhan dan ketahanan Kota. Penelitian ini berlokasi di Kota Manado. Metode yang digunakan adalah metode analisis spasial dan analisis deskriptif untuk menghasilkan peta-peta serta informasi landasan penilaian tingkat ketangguhan dan ketahanan Kota Manado terhadap bencana. Hasil analisis menunjukan dari 9 kriteria didalamnya yang memiliki capaian tertinggi adalah kriteria fasilitas pelayanan publik, diikuti dengan kriteria kesiapsiagaan stakeholder, perencanaan dan perizinan, tata ruang, kelembagaan dan anggaran kemampuan dasar stakeholder, sosial ekonomi, penelitian, teknologi dan ekosistem serta kriteria infrastruktur yang memiliki capaian paling rendah.Kata Kunci : Kota Tangguh, Ketahanan, Bencana, Kota Manado