cover
Contact Name
Rachma Wikandari
Contact Email
rachma_wikandari@mail.ugm.ac.id
Phone
+6285712601130
Journal Mail Official
agritech@ugm.ac.id
Editorial Address
Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Jl. Flora No. 1, Bulaksumur, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
agriTECH
ISSN : 02160455     EISSN : 25273825     DOI : 10.22146/agritech
Core Subject : Agriculture,
Agritech with registered number ISSN 0216-0455 (print) and ISSN 2527-3825 (online) is a scientific journal that publishes the results of research in the field of food and agricultural product technology, agricultural and bio-system engineering, and agroindustrial technology. This journal is published by Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta in colaboration with Indonesian Association of Food Technologies (PATPI).
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 4 (2022)" : 14 Documents clear
Karakteristik Minuman Sari Lemon (Citrus limon) dengan Penambahan Konsentrasi Kolagen yang Berbeda Lola Anandya Inke; Ahmad Sapta Zuidar; Dyah Koesoemawardani; Siti Nurdjanah
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.59724

Abstract

Minuman sari lemon kolagen merupakan salah satu minuman fungsional yang mudah diserap oleh tubuh, namun kolagen yang berasal dari ikan memiliki aroma amis sehingga dapat dikombinasikan dengan sari buah lemon untuk menutupi aroma amis tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi kolagen yang tepat sehingga menghasilkan minuman sari lemon kolagen berbasis sari buah lemon dengan karakteristik fisikokimia, mikrobiologi, dan sensori terbaik.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 6 perlakuan level konsentrasi kolagen yang berbeda, yaitu 0,5% (K1), 1% (K2), 1,5% (K3), 2% (K4), 2,5% (K5), dan 3% (K6) dengan 4 kali ulangan. Proses pembuatan dilakukan dengan mencampurkan sari lemon dan gula pasir, kemudian ditambahkan kolagen dan air yang sudah disaring dengan UV dan dipanaskan sambil diaduk hingga suhu ± 60 °C, lalu dimasukkan ke dalam botol kaca dan dilakukan pasteurisasi dengan suhu ± 75-85 °C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kolagen berpengaruh nyata terhadap karakteristik fisik (tingkat kekeruhan, viskositas, dan pH), karakteristik mikrobiologi (total mikroba), dan karakteristik sensori. Minuman sari lemon kolagen berbasis sari buah lemon terbaik diperoleh pada konsentrasi kolagen 1,5% (K3) dengan aroma agak khas lemon (3,11), rasa yang khas lemon (3,71), warna putih sedikit kekuningan (2,34), penerimaan keseluruhan suka (3,53), persen transmittan 67,20%, viskositas 1,19 cP, pH 4,07, dan total mikroba 1,2 x 10 2 koloni/mL.  Minuman sari lemon kolagen ini mengandung kadar protein sebesar 1,34 ± 0,04%, kadar vitamin C sebesar 0,018 ± 0,00 mg/mL, dan aktivitas antioksidan sebesar 19,39 ± 0,08%.
Pengaruh Temperatur Pengeringan pada Karakteristik Pengeringan Nori dari Campuran Ulva lactuca dan Eucheuma cottonii Koko Kurniawan; Nursigit Bintoro; Arifin Dwi Saputro
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.59858

Abstract

Nori merupakan makanan berbahan dasar rumput laut Porphyra namun hingga saat ini masih import. Perlu dilakukan penelitian untuk membuat nori dari bahan dasar rumput laut lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi terbaik nori dari rumput laut Ulva lactuca dan Eucheuma cottonii serta mempelajari karakteristik pengeringannya. Kombinasi perlakuan yang digunakan adalah komposisi rumput laut dan suhu pengeringan. Komposisi yang digunakan A (85% Ulva lactuca  dan 15% Eucheuma cottoni), B (75% Ulva lactuca  dan 25% Eucheuma cottoni) dan C (65% Ulva lactuca  dan 35% Eucheuma cottoni). Suhu pengeringan yang digunakan adalah 75 °C, 85 °C, dan 100 °C dengan alat pengering oven memmert  UN series 55. Empat model pengeringan digunakan untuk mengevaluasi laju pengeringan yakni Henderson and Pubis, Lewis, Page dan Modified Page. Nilai Root Mean Square Error (RMSE) terendah, serta nilai R 2 tertinggi digunakan untuk menentukan model yang paling sesuai. Hasil penelitian menunjukkan suhu 100 °C memberikan waktu pengeringan yang lebih cepat. Nori dengan komposisi Ulva lactuca yang lebih besar dan suhu pengeringan yang lebih rendah memberikan permukaan nori yang lebih halus sehingga komposisi A dengan suhu pengeringan 75 °C memberikan tampilan nori yang paling baik. Suhu pengeringan 100 °C memberikan waktu pengeringan yang lebih cepat. Karakteristik pengeringan nori didominasi dengan laju pengeringan tetap sedangkan laju pengeringan menurun di akhir pengeringan. Laju pengeringan nori terbesar diperoleh pada suhu pengeringan tertinggi (100 °C) dengan nilai laju pengeringan kelompok A, B dan C secara berurutan adalah 12,97; 15,05; dan 16,92. Hasil evaluasi model pengeringan lapisan tipis menunjukkan bahwa model Page memiliki nilai R 2 tertinggi dan nilai RMSE terendah pada semua kelompok komposisi nori dan suhu pengeringan. Sehingga model Page merupakan model pengeringan lapisan tipis yang paling sesuai untuk menggambarkan karakteristik pengeringan nori Ulva lactuca dan E cottonii.
Karakteristik Kimia Roti Manis Sourdough yang Menggunakan Ragi Alami dari Apel Manalagi (Malus sylvestris) Desiana Nuriza Putri; Noor Harini; Liza Ni’matul Azizah; Hanif Alamudin Manshur
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.61100

Abstract

Sourdough adalah campuran terigu, air, dan atau komponen lain yang difermentasi dengan starter alami yang mengandung bakteri asam laktat (BAL) dan yeast. Campuran tersebut digunakan sebagai agen pengembang dalam produksi roti manis. Sourdough dalam penelitian ini menggunakan fermentasi air rendaman apel manalagi sebagai raginya. Sourdough dapat mengubah ketersediaan fraksi serat, protein, dan meningkatkan kandungan mineral pada tepung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan sourdough starter terhadap karakteristik kimiawi roti manis. Percobaan terdiri atas 6 level perlakuan yaitu perbedaan konsentrasi penambahan sourdough starter pada adonan yaitu 0% sebagai kontrol, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%. Parameter pengamatan yang digunakan meliputi kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan serat pangan total. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penambahan proporsi sourdough starter yang berbeda berpengaruh nyata terhadap kadar air dengan kisaran 25,09-31,20% (basis basah), kadar abu dengan kisaran 1,29-1,82%, protein dengan kisaran 6,57-18,22%, lemak dengan kisaran 1,85-8,39%, karbohidrat dengan kisaran 45,4458,67%, dan serat pangan total dengan kisaran 7,48-14,02%. Terjadi peningkatan kadar serat sebesar 2,4 kali lipat pada roti sourdough dibandingkan roti manis.
Pencirian Kopi Robusta Bengkulu dari Kemungkinan Bahan Pencampur Menggunakan Kombinasi Spektroskopi FTIR dan Kemometrik Deni Agus Triawan; Ghufira Ghufira; Morina Adfa; Mohamad Rafi
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.64432

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemurnian kopi bubuk yang beredar di pasaran Kota Bengkulu menggunakan kombinasi spektroskopi FTIR dan teknik kemometrik guna autentifikasi dan kontrol mutu kopi bubuk. Desain penelitian dibuat dengan variabel berupa kopi murni, jagung roasted dan beras roasted, kopi campur jagung roasted (50% b/b), jenis kopi campur beras roasted (50%b/b) dan 18 sampel kopi komersial. Masingmasing variabel tersebut dibuat 3 kali pengulangan. Berdasarkan hasil spektrum FTIR dari kopi murni, jagung roasted dan beras roasted diketahui bahwa terdapat pola spektrum yang hampir mirip dan sulit dibedakan. Analisis PCA dengan bantuan program Unscrambler X menunjukkan nilai PC-1 dan PC-2 yang dapat mendeskripsikan 97% dari total varians (PC-1 = 91%; PC-2 = 6%). Berdasarkan PC-1, kopi murni berada pada sisi positif sedangkan bahan pencampur berupa jagung dan beras berada pada sisi negatif. Plotting sampel kopi komersial pada kopi murni dan kopi dengan campuran beras roasted maupun jagung roasted diperoleh nilai PC-2 dan PC-1 sebesar 95% (PC-1 = 87%; PC-2 = 8%). Dari plotting tersebut, ada indikasi 1 dari 18 sampel mengalami pencampuran dengan jagung atau beras namun konsentrasi pencampurannya tidak dapat diketahui.
Pengaruh Jenis Bubur Buah dan Pemanis terhadap Karakteristik Fisik, Kandungan Gizi, dan Aktivitas Antioksidan Selai Kersen (Muntingia calabura L.) Lembaran Tiara Firstianty Pratiwi; Budi Setiawan; Sri Anna Marliyati
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.67143

Abstract

Kersen (Muntingia calabura L.) merupakan buah yang mengandung antioksidan dan serat yang bermanfaat bagi kesehatan. Buah kersen masih belum banyak dimanfaatkan menjadi suatu produk makanan olahan. Oleh karena itu, dikembangkan produk makanan berbahan dasar kersen seperti selai kersen lembaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bubur buah yang disaring/tidak disaring serta menggunakan fruktosa cair/fruktosa cair+stevia pada selai lembaran, menganalisis karakteristik fisik, kandungan gizi, aktivitas antioksidan, dan kontribusi energi dan zat gizi per takaran saji selai kersen lembaran. Penelitian ini didesain secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama yaitu penyaringan bubur buah meliputi A1 (disaring) dan A2 (tidak disaring), sedangkan faktor kedua yaitu jenis gula meliputi B1 (fruktosa cair) dan B2 (fruktosa cair + stevia). Keempat formula selai lembaran dilakukan analisis karakteristik fisik (total padatan terlarut, warna L, a+, b+, hue, dan chroma), kandungan gizi (kadar proksimat, serat pangan, dan total gula), aktivitas antioksidan, serta kontribusi energi dan zat gizi per takaran saji. Data dianalisis menggunakan uji Two-way Anova dan uji lanjut Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil analisis total padatan terlarut, warna L, b+, chroma, hue, kadar proksimat, serat pangan, dan aktivitas antioksidan pada formula selai kersen lembaran, tetapi terdapat perbedaan yang signifikan untuk hasil warna a+ dan total gula. Formula selai kersen lembaran dengan penyaringan dan penggunaan fruktosa cair + stevia memiliki kandungan energi lebih rendah 30,15-37,9% dan kandungan gula lebih rendah 41,25-47,78% dibandingkan dengan selai buah komersil, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif selingan bagi seseorang yang mengurangi kalori dan asupan gula. Formula ini juga memiliki kandungan serat yang tinggi yaitu sebesar 7,77% atau 2,72 g/35 g.
Analisis Kesiapan Modernisasi Irigasi dan Optimasi Alokasi Air Irigasi pada Daerah Irigasi Belitang Fathul Imron; Murtiningrum Murtiningrum; Sigit Supadmo Arif
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.67203

Abstract

Penilaian pilar irigasi untuk mengukur tingkat kesiapan menuju modernisasi irigasi diperlukan dalam rangka implementasi modernisasi irigasi di Daerah Irigasi Belitang. Ketersediaan air irigasi menjadi pilar yang perlu untuk dioptimasi sebelum implementasi modernisasi irigasi. Tujuan penelitian ini adalah menilai dan mengkaji kesiapan modernisasi irigasi, menetapkan prioritas pengembangan modernisasi pada Daerah Irigasi (DI) Belitang, serta menentukan alokasi air optimal sebagai upaya meningkatkan pilar keandalan penyediaan air. Metode IKMI digunakan untuk mengukur kesiapan modernisasi irigasi DI Belitang sedangkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas kebijakan pengembangan modernisasi irigasi. Optimasi alokasi air dimaksudkan untuk menambah luas tanam dianalisis dengan program linier. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan hasil penilaian indeks kesiapan modernisasi irigasi yaitu 69,05, DI Belitang masuk dalam kategori cukup. DI Belitang pada tingkat wilayah belum siap untuk dimodernisasi sehingga diperlukan pengembangan dan perbaikan sistem irigasi terlebih dahulu selama 1 sampai 2 tahun. Pengembangan dan perbaikan kinerja menuju modernisasi irigasi berdasarkan analisis dengan AHP mengikuti urutan Belitang III, Belitang I dan Belitang II. Keuntungan maksimum dan luas tanam optimal dengan optimasi alokasi air diperoleh dengan penerapan Golongan pada wiayah DI Belitang dan pola tanam padi-padi-palawija. Penerapan Golongan di 3 wilayah DI Belitang dapat menghindari defisit air tetapi terdapat surplus air pada Masa Tanam (MT) I dan MT II. Dengan demikian, optimasi alokasi air dapat menjadi upaya dalam peningkatan keandalan penyediaan air irigasi.
Technology Readiness Index of Agricultural Extension Officers in Bandung City, Indonesia, towards Digitalization of the “Buruan Sae” Program Parman Sukarno; Rahmat Yasirandi; Rio Guntur Utomo; Muhammad Al Makky; Ridha Muldina Negara; Sri Rezeki
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.67535

Abstract

Currently, “Buruan Sae” is a leading program in Bandung City, during the pandemic, this program was used to solve the problem of food security for every community. The government also promotes every community to implement urban farming in the city. Meanwhile, digitization is a step that is expected to be carried out in the future. To prepare for the transformation in this direction, the initial step is to measure readiness. Therefore, this study aims to determine the readiness of Agricultural Extension Officers (AOE) in Bandung as a necessary initial step in assisting the digital transformation of the “Buran Sae” program. AOE from the Department of Food and Agriculture were used as the sample population considering that they are the “spearhead” of this program. Using the Technology Readiness Index (TRI) Model, the value obtained was 3.365, which can be categorized as Medium Technology Readiness group. The amount of Explorers group namely 37.5% indicated that the majority of extension officers will accept the technology quickly. Furthermore, no part of the population can completely resist technological change as implied by the absence of the Laggards group. In the future, the results are expected to become a fundamental basis for the Department of Food and Agriculture to achieve digital transformation and this program will continue to be the main answer to every community’s problem of food and agriculture.
Skrining pada Berbagai Jenis Umbi dan Pisang sebagai Sumber Difructose Anhyride III (DFA III) Melalui Reaksi Enzimatis Diah Ratnaningrum; Een Sri Endah; Sabarni Gaffar; Sri Pudjiraharti
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.68463

Abstract

Difructosa Anhyride III (DFA III) dapat diproduksi melalui reaksi enzimatis menggunakan inulin. Inulin dapat diperoleh dari akar/umbi dan batang tanaman. Pada penelitian ini, jenis umbi-umbian dan pisang yang diketahui sebagai salah satu sumber inulin dan akan diproses untuk pembuatan DFA III menggunakan inulin fructotransferase (IFTase) Nonomurae sp. Tujuan penelitian ini adalah melakukan tahapan skrining untuk memperoleh bahan baku sumber inulin dari berbagai jenis jenis umbi dan pisang yang berpotensi sebagai sumber pembuatan DFA III. Metode yang digunakan yaitu melalui reaksi enzimatis menggunakan Inulin fruktotransferase (IFTase). Umbi dan pisang diblansing, dipotong dan diblender dan ditambahkan air panas dengan rasio 1:2. Ekstrak inulin yang dihasilkan diukur secara kualitatif menggunakan metoda kromatografi lapis tipis (KLT) dan metode spektrofotometer. Hasil penelitian menujukkan bahwa umbi jalar mempunyai potensi besar dalam pembentukan DFA III dengan kadar inulin sebesar 7.03%, sedangkan untuk jenis pisang tidak berpotensi dalam pembentukan DFA III, hanya memiliki kandungan inulin saja (20,1%).
The Physical, Mechanical, Barrier Characteristics, and Application of Edible Film from Yellow Sweet Potato and Aloe Vera Gel Warkoyo Warkoyo; Maghfira Alvarizma Haris; Vritta Amroini Wahyudi
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.68633

Abstract

This study aimed to determine the effect of the concentrations of yellow sweet potato starch and aloe vera gel on the physical, mechanical, and barrier characteristics of the edible film, which is applied as packaging for strawberries. It was carried out using a factorial randomized block design (RBD) consisting of 2 stages where the first step was making edible with varied yellow sweet potato starch  and aloe vera gel, followed by the application of the selected edible film. The two factors used as edible films were yellow sweet potato starch (Ipomea batatas) at 2%, 3%, and 4% w/v, as well as aloe vera gel (Aloevera barbadensis) at 5%, 10%, and 15% v/v concentrations. The formulation was applied to the strawberries to examine their ability to extend shelf life. The parameters tested in the first step were thickness, color, solubility, transparency, tensile strength, elongation, and WVTR, while weight loss, texture, and color were examined in the second stage for four days of storage. The results showed an interaction between yellow sweet potato starch and aloe vera gel on thickness with a range of 0.07-0.16 mm, L value of 66.73-73.23, a* value  of 0.8-2.5, b* value of 11.1-14.4, solubility  of 33.24-56.16%, transparency 2.68-3.43 A/mm, tensile strength 0.08-0.70 MPa, elongation in the range of 10.95-51.14%, and WVTR of 3.97-4.90 g/m 2 /24 hours. This showed that the application of edible coating with the best treatment can prevent a decrease in weight loss, texture andcolor intensity as well as extend the shelf life of strawberries up to two times.
Analisis Bakteri Asam Laktat dan Senyawa Bioaktif selama Fermentasi Bekasam Ikan Nila (Oreochromis niloicus) Rinto Rinto; Herpandi Herpandi; Indah Widiastuti; Sabri Sudirman; Mega Purnama Sari
agriTECH Vol 42, No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.70500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan komponen bioaktif dan bakteri asam laktat selama fermentasi bekasam serta untuk mengetahui media dan waktu terbaik dalam pembentukan komponen bioaktif selama fermentasi bekasam. Penelitian ini menggunakan tiga macam metode wadah penyimpanan fermentasi yaitu wadah toples, plastik vakum dan plastik non vakum, masing-masing sampel difermentasi selama 7, 11, dan 15 hari. Hasil data dianalisis dengan cara mendeskripsikan setiap parameter. Parameter yang diamati yaitu total Bakteri Asam Laktat, asam amino, asam lemak bebas, asam lemak dan lovastatin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan waktu fermentasi dengan penggunaan kemasan yang berbeda dapat menghasilkan perbedaan jumlah total Bakteri Asam Laktat (6,49-6,72 log cfu/ml), perbedaan kandungan komponen bioaktif berupa komposisi asam amino, kandungan asam lemak bebas (0,797-3,386%), komposisi asam lemak dan kandungan lovastatin (53,48-74,99 ppm).

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 45, No 3 (2025) Vol 45, No 2 (2025) Vol 45, No 1 (2025) Vol 44, No 4 (2024) Vol 44, No 3 (2024) Vol 44, No 2 (2024) Vol 44, No 1 (2024) Vol 43, No 4 (2023) Vol 43, No 3 (2023) Vol 43, No 2 (2023) Vol 43, No 1 (2023) Vol 42, No 4 (2022) Vol 42, No 3 (2022) Vol 42, No 2 (2022) Vol 42, No 1 (2022) Vol 41, No 4 (2021) Vol 41, No 3 (2021) Vol 41, No 2 (2021) Vol 41, No 1 (2021) Vol 40, No 4 (2020) Vol 40, No 3 (2020) Vol 40, No 2 (2020) Vol 40, No 1 (2020) Vol 39, No 4 (2019) Vol 39, No 3 (2019) Vol 39, No 2 (2019) Vol 39, No 1 (2019) Vol 38, No 4 (2018) Vol 38, No 3 (2018) Vol 38, No 2 (2018) Vol 38, No 1 (2018) Vol 37, No 4 (2017) Vol 37, No 3 (2017) Vol 37, No 2 (2017) Vol 37, No 1 (2017) Vol 36, No 4 (2016) Vol 36, No 3 (2016) Vol 36, No 2 (2016) Vol 36, No 1 (2016) Vol 35, No 4 (2015) Vol 35, No 3 (2015) Vol 35, No 2 (2015) Vol 35, No 1 (2015) Vol 34, No 4 (2014) Vol 34, No 3 (2014) Vol 34, No 2 (2014) Vol 34, No 1 (2014) Vol 33, No 4 (2013) Vol 33, No 3 (2013) Vol 33, No 2 (2013) Vol 33, No 1 (2013) Vol 32, No 4 (2012) Vol 32, No 3 (2012) Vol 32, No 2 (2012) Vol 32, No 1 (2012) Vol 31, No 4 (2011) Vol 31, No 3 (2011) Vol 31, No 2 (2011) Vol 31, No 1 (2011) Vol 30, No 4 (2010) Vol 30, No 3 (2010) Vol 30, No 2 (2010) Vol 30, No 1 (2010) Vol 29, No 4 (2009) Vol 29, No 3 (2009) Vol 29, No 2 (2009) Vol 29, No 1 (2009) Vol 28, No 4 (2008) Vol 28, No 3 (2008) Vol 28, No 2 (2008) Vol 28, No 1 (2008) Vol 27, No 4 (2007) Vol 27, No 3 (2007) Vol 27, No 2 (2007) Vol 27, No 1 (2007) Vol 26, No 4 (2006) Vol 26, No 3 (2006) Vol 26, No 2 (2006) Vol 26, No 1 (2006) Vol 25, No 4 (2005) Vol 25, No 3 (2005) Vol 25, No 2 (2005) Vol 25, No 1 (2005) Vol 24, No 4 (2004) Vol 24, No 3 (2004) Vol 24, No 2 (2004) Vol 24, No 1 (2004) Vol 23, No 4 (2003) Vol 23, No 3 (2003) Vol 23, No 2 (2003) Vol 23, No 1 (2003) Vol 22, No 4 (2002) Vol 22, No 3 (2002) Vol 22, No 2 (2002) Vol 22, No 1 (2002) Vol 21, No 4 (2001) Vol 21, No 3 (2001) Vol 21, No 2 (2001) Vol 21, No 1 (2001) Vol 20, No 4 (2000) Vol 20, No 3 (2000) Vol 20, No 2 (2000) Vol 20, No 1 (2000) Vol 19, No 4 (1999) Vol 19, No 3 (1999) Vol 19, No 2 (1999) Vol 19, No 1 (1999) Vol 18, No 4 (1998) Vol 18, No 3 (1998) Vol 18, No 2 (1998) Vol 18, No 1 (1998) Vol 17, No 4 (1997) Vol 17, No 3 (1997) Vol 17, No 2 (1997) Vol 17, No 1 (1997) Vol 16, No 4 (1996) Vol 16, No 3 (1996) Vol 16, No 2 (1996) Vol 16, No 1 (1996) Vol 15, No 4 (1995) Vol 14, No 3 (1994) Vol 14, No 2 (1994) Vol 14, No 1 (1994) Vol 13, No 4 (1993) Vol 13, No 3 (1993) Vol 13, No 2 (1993) Vol 13, No 1 (1993) Vol 12, No 4 (1992) Vol 12, No 3 (1992) Vol 12, No 2 (1992) Vol 12, No 1 (1992) Vol 11, No 4 (1991) Vol 11, No 3 (1991) Vol 11, No 2 (1991) Vol 11, No 1 (1991) Vol 10, No 4 (1990) Vol 10, No 3 (1990) Vol 10, No 2 (1990) Vol 10, No 1 (1990) Vol 9, No 4 (1989) Vol 9, No 3 (1989) Vol 9, No 2 (1989) Vol 9, No 1 (1989) Vol 8, No 4 (1988) Vol 8, No 3 (1988) Vol 8, No 2 (1988) Vol 8, No 1 (1988) Vol 7, No 2 (1987) Vol 7, No 1 (1987) Vol 6, No 1 & 2 (1986) Vol 5, No 1 & 2 (1985) Vol 4, No 2,3, & 4 (1984) Vol 4, No 1 (1984) Vol 3, No 3 (1982) Vol 3, No 1 (1982) Vol 2, No 4 (1981) Vol 2, No 3 (1981) Vol 2, No 2 (1981) Vol 2, No 1 (1981) Vol 1, No 3 (1980) Vol 1, No 2 (1980) Vol 1, No 1 (1980) More Issue