cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 21, No 1 (2014)" : 17 Documents clear
Perawatan Pergeseran Mandibula dan Kliking Menggunakan Teknik Edgewise dan Trainer Utami, Rully; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus ini terjadi pada perempuan usia 22 tahun yang bersedia dipublikasikan untuk kepentingan  ilmu pengetahuan. Keluhan utama mandibula dan dagunya bergeser ke kanan, gigitan terbuka posterior dan bunyi click di persendian temporomandibular. Diagnosis pasien adalah maloklusi Angle kelas III tipe dento skeletal, pergeseran garis tengah mandibula dan dagu ke kanan, gigitan terbuka posterior dan clicking pada sendi temporomandibular. Perawatan dilakukan dengan teknik Edgewise dan trainer. Leveling dan unraveling dilakukan menggunakan kawat stainless steel bulat diameter 0,014 mm dengan multiloop. Trainer digunakan untuk koreksi pergeseran mandibula. Perawatan dilakukan selama 11 bulan, dan menunjukkan hasil hubungan molar pertama kanan menjadi kelas I. Overjet meningkat dari 0,1 mm menjadi 2 mm, overbite meningkat dari 0,2 mm menjadi 2,57 mm, garis tengah mandibula yang semula bergeser ke kanan 4,38 mm menjadi 2,53 mm, gigitan terbuka posterior dan clicking telah terkoreksi.ABSTRACT: Compromised Treatment of Class III Malocclusion with Mandibular Shifting, Posterior Openbite and Clicking Using Edgewise Technique and Trainer In Adult. This case report described the treatment of an adult female 22 years old who complained that her mandibula and chin shift to the right, posterior openbite and clicking. The patient diagnosed class III molar relationship, skeletal class III malocclusion, mandibular midline and chin shift to the right, posterior openbite and clicking on temporomandibular joint. Treatment was conducted using combination between  Edgewise Technique and trainer.  Leveling and unraveling are achieved by round stainless steel archwire 0,014 mm with multiloop. Trainer used to corrected the mandibular shifting. Result after 1 years treatment showed that the right molar relationship became class I, overjet increased  from 0,1 mm to 2 mm, overbite increased  from 0,2 mm to 2,57 mm, mandibular midline shifting decresed from 4,38 mm to 2,53 mm,  posterior openbite and clicking have been corrected.
Evaluasi Hasil Preparasi Servikal pada Model Kerja Gigi Tiruan Jembatan Nuning, Fransiska; Oktanauli, Poetry; Oktanauli, Poetry; Tyawati, Herjanti; Tyawati, Herjanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketepatan preparasi tepi servikal merupakan elemen terpenting dalam mengevaluasi sebuah restorasi. Restorasi yang baik didapat dari hasil pencetakan yang akurat dengan tepi servikal yang sesuai. Sebuah restorasi dapat dikatakanberhasil bertahan di dalam rongga mulut jika tepi servikal dapat beradaptasi dengan permukaan garis tepi preparasi.Penelitian dilakukan pada 57 pasien dari mahasiswa yang sedang melakukan kerja di klinik prostodonsia. Kriteriapenelitian adalah tepat dan tidak tepat berdasarkan penelitian terdahulu yang mendapatkan hasil evaluasi sebanyak 70% pada model kerja. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi preparasi servikal pada model kerja yang termasuk tepat sebanyak 78,95%.ABSTRACT: Evaluation of Cervical Working Model Bridge Preparation. The accuracy of the cervical edge preparationis the most important element in evaluating a restoration. Good restoration results obtained from accurate impressionwith cervical corresponding side. A restoration was successful to survive in the oral cavity if it can adapt to the cervical edge surface preparation line side. The study was conducted on 57 patients of the students who are doing work in clinics Prosthodontics. Research criteria are appropriate and not appropriate based on previous research that gets results of the evaluation as much as 70% on the operating model. The results showed the assessment of cervical preparation in proper working model that included as many as 78,95%.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pemeliharaan Kebersihan gigi dan Mulut Ibu Hamil di Puskesmas Kabupaten Kupang Applonia, Applonia; Priyono, Bambang; Widyanti, Niken
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa kehamilan, rongga mulut mudah mengalami peradangan karena adanya perubahan hormonal yang menyebabkan gingiva menjadi sensitif bila kesehatan mulut tidak terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut ibu hamil di Puskesmas Kabupaten Kupang. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional dilakukan dengan mengambil subyek penelitian 97 ibu hamil. Variabel bebas terdiri dari pengetahuan, sikap, dan kebiasaan menginang sedangkan variabel terikat terdiri dari perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut ibu hamil. Alat ukur penelitian ini menggunakan kuesioner yang disusun dengan metode Likert untuk mengukur variabel sikap dan perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut ibu hamil. Kuesioner dengan dua pilihan (benar atau tidak benar) untuk mengukur variabel pengetahuan serta kuesioner pilihan ganda untuk mengukur variabel kebiasaan menginang. Kuesioner tersebut telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji korelasi product moment dan regresi berganda pada tingkat signifikan α< 0,05. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan variabel pengetahuan, sikap, dan kebiasaan menginang, berkolerasi secara signifikan dengan perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut (F = 21,890, p= 0,000). Ketiga variabel tersebut secara bersama – sama memberikan kontribusi sebesar 41,6%. Pengetahuan memberikan pengaruh paling besar terhadap perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Semakin baik pengetahuan dan sikap terhadap pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut, dan semakin kurang frekuensi menginang, semakin baik frekuensi kebersihan gigi dan mulut ibu hamil. ABSTRACT: Factors Affecting Oral And Dental Hygiene Maintaining Behaviour Of The Pregnant Women In Public Health Centre Of Kupang Regency. During pregnancy, woman’s oral cavity becomes inflamed easily due to hormonal changes so that gingiva becomes sensitive if the oral hygiene is not well maintained. The purpose of this study is to examine factors that influence the oral and dental hygiene maintaining behavior of pregnant women at Public Health Centre of Kupang Regency. An observational analytical study with cross sectional design was conducted on 97 pregnant women as the subject research. Independent variables were knowledge, attitude and betel chewing habit, and dependant variables were oral and dental hygiene maintaining behavior of pregnant women. Variables of attitude, oral and dental hygiene maintaining behavior of the pregnant women was assed using questionnaire with Likert Scale method. Questionnaire with two options (true and false) was used to measure knowledge variable, and multiple choice questionnaires were used to measure betel chewing habitvariable. Questionnaire was tested its validity and reliability. The data were analyzed using the multiple regression analysis at the significant rate α< 0,05. The result of multiple regression analysis showed that knowledge, attitude and betel chewing habit correlated very significantly on oral and dental hygiene maintaining behavior (F = 22.052, p = 0.000.), and those three variables gave collectively contributionof 41.6% on oral and dental hygiene maintaining behavior, while betel chewing habit correlated negatively on oral and dental hygiene maintaining behavior. Knowledge variable gave the greatest contribution on the oral and dental hygiene maintaining behavior. The better knowledge and attitude on oral and dental hygiene maintaining behavior and the less frequent betel chewing habit were, the better the oral and dental hygiene maintaining behavior will be.
Perawatan Maloklusi Angle Klas II Divisi 1 Menggunakan Bionator Myofungsional Irawan, Ragil; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi Angle klas II divisi 1 mempunyai ciri tonjol mesiobukal molar pertama atas beroklusi dengan interdental premolar kedua  dan molar pertama bawah, jarak gigit yang besar, lengkung gigi sempit dan profil cembung. Bionator pertama kali diperkenalkan oleh Balter dan merupakan alat ortodontik myofungsional yang digunakan untuk merawat diskrepansi rahang.  Tujuan pemaparan kasus adalah menyajikan kemajuan kasus maloklusi Angle Klas II divisi 1 disertai diskrepansi rahang menggunakan alat myofunctional bionator. Seorang perempuan berusia 13 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju. Diagnosis pasien maloklusi Angle klas II divisi 1, hubungan skeletal klas II dengan protrusif maksila dan retrusif mandibula, protrusif insisivus atas disertai palatal bite, cross bite posterior, jarak gigit 11 mm, tumpang gigit 5,25 mm, SNA 84°, SNB 76°. Pasien dirawat menggunakan alat myofungsional bionator. Hasil perawatan setelah satu tahun overjet menjadi 6,25 mm dan SNB 78°. Kesimpulannya adalah alat myofungsional bionator efektif untuk merawat maloklusi Angle Klas II divisi 1 yang disertai diskrepansi rahang.ABSTRACT: Class II division 1 Angle Malocclussion Treatment  Using  Myofunctional  Bionator. Malocclusion Angle Class II division I is characterized by the upper mesio-buccal cups first permanent molars occludes in interdental second bicuspid and lower first molar permanent, increased overjet, narrow arch form, and convex profile. Bionator originally developed by Balter and used to treat jaw discrepancy. The goal of this case is to present the progress of myofunctional bionator appliance in treating malocclusion Class II division 1 with jaw discrepancies. A Female 13 years old complained protrusive anterior teeth. Diagnosis is malocclusion Angle Class II division I, class II skeletal relationship with maxilla protrusive, mandible retrusive, protrusive upper incisor, palatal bite, posterior cross bite, overjet 11 mm, overbite 5,25 mm SNA 84°, SNB 76°. Myofunctional bionator appliance used to treat the patient. Result after one year treatment, overjet reduce to 6,25 mm dan SNB 78°. The Conclusion is Myofunctional Bionator appliance effective to treat malocclusion Anlge Klas II division I with jaw discrepancies.
Pembuatan Adhesive Bridge dengan Fiber Reinforced Composite untuk Perawatan Kehilangan dan Kegoyahan Gigi Anterior Rahang Bawah Wijaya, Demmy; Indrastuti, Murti; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu perawatan kehilangan gigi anterior untuk tujuan estetis adalah dengan adhesive bridge. Fiber Reinforced Composite (FRC) adalah bahan struktural yang terdiri dari 2 konstituen yang berbeda. Komponen penguat (fiber) memberikan kekuatan dan kekakuan, sedangkan matriks (resin komposit) mendukung penguatan. Bahan FRC dapat digunakan untuk pembuatan adhesive bridge dan juga dapat digunakan sebagai stabilisasi gigi yang mengalami kegoyahan. Adanya gigi pendukung yang sehat juga sangat membantu keberhasilan perawatan ini. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang penatalaksanaan perawatan kehilangan dan kegoyahan gigi anterior rahang bawah menggunakan FRC. Seorang pasien laki-laki berusia 33 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo ingin dibuatkan gigi tiruan. Pasien kehilangan gigi 31, gigi 32, gigi 41 dan mengalami kegoyahan derajat 2 disertai resesi gingiva. Kondisi tersebut akibat pasca pembuatan gigi tiruan di tukang gigi. Pasien tidak ingin giginya yang goyah dilakukan pencabutan. Tatalaksana kasus: pencetakan rahang untuk model diagnostik, pembuatan mock-up pontik gigi 31 pada model diagnostik, pembuatan index dengan mencetak bagian lingual dan 1/3 incisal menggunakan putty, preparasi gigi penyangga (gigi 32, 33, 41, 42, 43), pemasangan fiber dengan bantuan index putty, pembentukan bagian labial pontik dengan komposit, finishing dan polishing. Kesimpulan: Fiber reinforced composite dapat dipakai untuk pengelolaan pasien yang mengalami kehilangan dan kegoyahan gigi anterior rahang bawah.ABSTRACT: Adhesive Bridge of Fiber Reinforced Composite to Treat Tooth Missing and Luxation of Lower Anterior Teeth. One of the anterior tooth loss treatments for esthetic purposes is the adhesive bridge. Fiber Reinforced Composite (FRC) is a structural material that consists of two different constituencies. Amplifier components (fiber) provide strength and stiffness, while matrix (resin composite) support reinforcement. FRC materials can be used in the manufacture of adhesive bridge and can also be utilized for a tooth stabilization for luxation case. The existence of supporting healthy teeth is also very helpful the success of this treatment. Objective: The aim of this case report was to provide information about management of missing teeth and luxation of lower anterior teeth using the FRC. Case: Thirty-three years old male patient came for a denture to the Prosthodontics Clinic of the Prof. Soedomo Hospital. The patient lost tooth 31, the teeth 32 and 41 had a luxation degree 2 with gingival recession. The condition is due to post-manufacture of artificial teeth in dental technician. The Patient did not want to extract the teeth. Managing cases: Impression of teeth for diagnostic models, mock-ups of the pontic tooth 31 on diagnostic models, manufacturing of index scoring lingual and 1/3 incisal using putty, preparation of the abutment (32, 33, 41, 42, 43), the installation of fiber with index putty, forming the labial pontic with composite continued with finishing and polishing. Conclusion: Fiber reinforced composite can be used for the management of patients who experienced a loss and shakiness lower anterior teeth
Kontrasepsi Hormonal Meningkatkan Kadar α-Amylase Saliva Handajani, Juni; Puspita, Rini Maya; Amelia, Rizki
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salivary α-amylase atau α-amylase saliva (SAA) adalah salah satu enzim dalam saliva yang berperan penting pada inisiasi digesti karbohidrat dan fungsi interaksi bakteri. Kontrasepsi hormonal sangat populer di Indonesia untuk mencegah kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar SAA wanita pemakai kontrasepsi pil dan suntik. Subjek penelitian sebanyak 30 perempuan usia 20-35 tahun. Prosedur penelitian telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok (pemakai kontrasepsi pil, suntik, dan kontrol), masing-masing 10 perempuan. Kriteria subjek antara lain subjek sehat, tidak menggunakan alat ortodontik, protesa atau mahkota, serta menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 3 bulan. Sampel saliva dikumpulkan pada sore hari (16.00-18.00 WIB) selama 1 menit dengan metode tanpa stimulasi. Kadar tingkat SAA diukur menggunakan ELISA kit (Salimetrics LLC) dengan Optical Density (OD) pada 405 nm. Data dianalisis menggunakan ANOVA (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar SAA tertinggi pada perempuan pemakai kontrasepsi  pil dan ada perbedaan yang signifikan diantara tiga kelompok. Disimpulkan bahwa kontrasepsi hormonal meningkatkan kadar SAA.ABSTRACT: Hormonal Contraceptive Increased The Level of Salivary Α-Amylase. Salivary α-amylase (SAA) is one of the most important enzymes in saliva. This enzyme was mainly involved in the initiation of the digestion of starch in the oral cavity and has significant bacterial interactive function. Hormonal contraceptives are very popular in Indonesia to avoid pregnancy. This study aimed to evaluate the level of SAA in woman who taking pill and by injection contraceptives. Thirty women were in subjects, 20-35 years old, approval ethical clearance from Ethic Committee Medical Faculty of Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia. Subjects were divided into three groups (taking pill contraceptive, by injection contraceptive and control). Each group consisted ten women. Criteria for issue were medication free, healthy, no orthodontic treatment, no prosthesis or crown and took hormonal contraceptives more than three months. Saliva samples were collected at afternoon (16.00-18.00 pm) for 1 minute using unstimulating method. The level of SAA was measured by ELISA kit (Salimetrics LLC). Optical Density was read on a standard plate at 405 nm. Data for level SAA were analyzed using ANOVA (p<0.05). Results showed the highest level of SAA in woman who takes pill contraceptive, and there were significant differences between the three groups. This study is suggesting that the hormonal contraceptive increased the level of SAA.
Penatalaksanaan Lesi Endo-Perio dengan Perawatan Endodontik Non Bedah Sulistio, Irene; Kristanti, Yulita
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara anatomis pulpa dan periodontal saling berhubungan. Pada keadaan tertentu bisa terjadi inflamasi di pulpa dan periodontal. Hal ini disebut dengan lesi endodontik-periodontal. Perkembangan dan progresi lesi endo-perio ini dipengaruhi oleh faktor etiologi seperti bakteri, jamur, dan virus serta faktor pendukung seperti trauma, resorpsi akar, perforasi, dan malformasi gigi. Pada lesi endo-perio diperlukan rencana perawatan yang tepat agar prognosis perawatan dari gigi tersebut dapat baik. Artikel ini bertujuan memaparkan perawatan kasus lesi endo-perio yang berhasil setelah manajemen endodontik tanpa dilakukan bedah endodontik. Seorang pasien laki-laki berusia 21 tahun datang ke RSGM dengan keluhan gigi belakang kiri bawah sakit. Gigi tersebut pernah ditumpat 1 tahun yang lalu.Pada gambaran radiograf terdapat lesi radiolusen luas pada tulang alveolar sekitar akar distal. Perawatan endodontik dilakukan dengan pergantian bahan dressing kalsium hidroksida sebanyak 3 kali. Pada kontrol bulan kedua terlihat terjadi penulangan pada bagian lesi periodontal tersebut dan pasien tidak mengeluhkan rasa sakit. Kesimpulan hasil perawatan lesi endodontik periodontal dapat dirawat dengan perawatan endodontik non bedah. ABSTRACT: Management of Nonsurgical Endodontic Treatment on A Combined Endo-period Lesion. The pulp and periodontium have anatomic interrelationships. As the tooth matures, and the root is formed, three main avenues are created between pulp and periodontal ligament, i.e. dentinal tubules, lateral and accessory canals, apical foramen. These are the pathways that may provide a means by which pathological agent pass between the pulp and periodontium, thereby creating the endo - period lesion. Etiologic factors such as bacteria, fungi, and viruses as well as contributing factors such as trauma, root resorption, and dental malformations play a significant role in the development and progression of such lesions. In the endodontic - periodontal lesion is necessary to plan appropriate dental treatment that can lead to a better prognosis. This paper presents satisfactory healing of combined endo - period lesion treatment after nonsurgical endodontic management.A 21 years man came to the Conservative Dentistry Clinic, Prof. Soedomo Dental Hospital with pain complaint on left mandible posterior tooth. One year ago, this tooth already restored with resin composite restoration.Radiographs showed an extensive radiolucent lesions on 36 bifurcations extending to the distal root. After thorough cleaning and shaping, calcium hydroxide was applied intracranial and periodically renewed up to three times. Two months after root canal obturation radiograph evaluation showed ossification at the bifurcation 36. Endodontic Periodontal lesion can be treated with nonsurgical endodontic management.

Page 2 of 2 | Total Record : 17