cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH)
ISSN : 19795521     EISSN : 24433527     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2009)" : 8 Documents clear
DEVELOPING MATERIALS FOR ESP (ENGLISH FOR SPECIFIC PURPOSES) CLASS Umi Trisyanti
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.02 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.666

Abstract

Some EFL teachers spend a great deal of time searching for textbooks appropriate to their learner’s needs. But these teachers usually discover that the chosen textbook does not contain exactly what their students require. In order to ensure that the language and content covered in the materials are suitable to the learners’ need and that the students are properly prepared for the real life situations of the target language, teachers are often required to write their own instructional materials from authentic sources.This paper presents a course outline to develop a material for ESP class that can be used by TEFL teachers with an ESP audience. The texts used for the materials development are taken from authentic sources. 
EXPOSING LEARNERS WITH LEARNING STRATEGIES IN STRATEGY TRAING: ONE OF THE WAYS FOR IMPROVING THEIR STUDY SKILL Kartika Nuswantara
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.289 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.662

Abstract

Recognizing our own learning strategies is an effective way to help ourselves to self evaluate for what we have done in our own learning. One among other factors leading to a successful learning is due to the effective learning strategies. However, not all learners are aware of  what they have been doing in learning, or they even sometimes do not know how to learn. If this is the problem, learning strategy training can be very beneficial for the learners with this problem. Why should be through strategy training?  The answer might lie on the fact that strategy is quite amenable to change, and by nature, teachable as well as learneable (Oxford, 1990). In addition, Nuswantara (2008) also found out that the successful learners (i.e. in learning English) were triggered by the courage of using various learning strategies, the more varied the learners are willing to try out, the broader the chance for success. Training is the way that can be selected to present to the learners’ various strategies that they can choose and at the same time employ when learning is taken place. Moreover, by means of training, learners are made aware of the strategy, and they can mend their own strategy, as a result, they become more self - directed rather than dependent.This article attempts to frame out from the perspective of how to bring  reading strategies that are applicable for handling various reading content texts to the learners, and present the result of a one-group experimental study. Thus, training is prepared for college learners who are inevitably deal with various English content textbooks and  the final aim of the training is to improve learners’ study skills. Then, one group experimental study using correlated sample provides some evidences supporting the effectiveness of the training.Specifying on reading strategies, SQ3R that is joined with other learning strategies involving writing activity, annotating a text and paraphrasing/summarizing is exposed to the learners. The effectiveness is assessed by means of reading comprehension test that assesses the ability of the learners to perceive information from a text they read. One group experimental study is aimed to measure the effectiveness of the treatment. Finally, the end product of the study is to give a support to the idea of strategy training for improving the quality of how to learn.
MODE WACANA BAHASA KEKUASAAN Enie Hendrajati
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.779 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.665

Abstract

Manusia dilahirkan tidak terlepas dari kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia bukan saja sebagai makhluk sosial, ekonomi, dan budaya, akan tetapi juga termasuk makhluk politik. Dengan dasar bahwa manusia adalah makhluk politik yang ekuivalen makhluk dengan naluri berkuasa maka perilaku sosial-politiknya akan terpancar dalam bahasa dan perilaku berbahasanya. Manusia dalam berkegiatan dengan siapa pun, tentang apa pun, kapan pun, dan dengan saluran apa pun cenderung tidak bisa netral dari hasrat dan naluri untuk mempengaruhi, menguasai, mempertahankan, dan  atau memperluas tindakan lainnya.Mode wacana menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa, hal yang  diharapkan oleh para pelibat dari bahasa yang digunakan, mode retoriknya, apa yang diharapkan pelibat dari gaya bahasa yang digunakan, apakah  gaya bahasa yang digunakan dapat digolongkan sebagai didaktik, membujuk, menjelaskan dan semacamnya.Bahasa kekuasaan yang merupakan keniscayaan atau naluri kemanusiaan tampaknya bergerak dalam lingkup derajat antara; berkisar antara. Manusia dalam berbahasa dengan naluri ”transaksi”, bahkan ”berduel” dapat dengan bebas bergerak antara yang sarkastis hingga yang eufemistis (substansinya tetap naluri menguasai, bertransaksi, bernegosiasi, dan duel) asalkan masih dalam standar deviasi tertentu, atau batas kenormalan dan kelaziman. Melebihi batas kenormalan berarti abnormal, tidak lazim, gila dan adu fisik.Bahasa dan kekuasaan adalah dwitunggal. Dalam komunikasi kebahasaan akan selalu ada nuansa-nuansa saling dominasi, kekuasaan, pengaruh, autoritas.Mode wacana yang menyertainya dapat bercorak retorik-persuasif, baik yang tampak rasional-persuasif maupun yang bercorak retorik emosional-persuasif, bahkan yang bercita rasa agresif-dogmatis.Kenyataan bahwa bahasa dengan mode retorik seperti itulah yang mengundang alternatif paradigma-teoritis sehingga kajian dan analisis bahasa dan wacana tidak sekedar dari paradigma empirisme-positivisme, tetapi juga dari paradigma fenomenologi, bahkan dengan paradigma discursive-practice.
MISI PENDIDIKAN NABI MUHAMMAD (Kajian Tafsir Surat Al Anbiya (21): 107, Saba’ 34:28) Yahya Aziz
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.265 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.667

Abstract

Sebagai rasul pemungkas, Nabi Muhammad di utus untuk seluruh umat manusia (khattaman linnasi), tanpa batas waktu. Artinya sampai kapanpun ajaran beliau selalu relevan dan dibutuhkan. Skala jangkauannya bukan sebatas kapasitas mampu menjawab tantangan globalisme, tapi jauh melebihi itu, bahkan misinya rahmatal lil alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta).Rasulullah SAW memanifestasikan rohmatan lil alamin dengan 4 hal, yaitu : a) Pendidikan Tauhid; b) Pendidikan yang bernuansa duniawi ukhrowi;    c) Peningkatan kualitas SDM dan d) Pendidikan suri tauladan (uswah hasanah). Tatkala ditanya, apakah sebenarnya hakekat agama? jawab Nabi “addinu husnul khuluq” agama adalah berbudi luhur dalam bermasyarakat, berkeluarga, berbisnis, berpolitik, berpendidikan dan sebagainya. Ibarat lingkaran raksasa, titik pusatnya kasih sayang (rahmat) dan pedomannya kitab suci Al-Qur’an.
BUNG KARNO, FENOMENA KEBAHASAAN DAN LAHIRNYA INDONESIA MERDEKA Edy Subali
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.322 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.663

Abstract

“Dibawah Bendera Revolusi merupakan kumpulan tulisan Bung Karno dalam majalah luar dan dalam negeri, yang terbit antara tahun 1926 sampai dengan tahun 1940-an. Bahasanya terikat konteks; penggunaan kata dan gaya bahasa sebagai wujud aksi dan reaksi terhadap konteks kondisi sosial, ekonomi dan politik yang memprihatinkan sebagai akibat sistem ekonomi kapitalis yang dijalankan penguasa asing-Belanda di Indonesia ketika itu.Kata-kata dan gaya bahasanya berenergi maskulin, “kelaki-lakian”, berkonotasi sebagai aksi bukan narasi, aktivis kehidupan bukan pengamat dan penjelas kehidupan, menggugah dan membangunkan kesadaran bukan meninabobokkan, berfungsi seperti “kejut listrik” bahkan “teror” terhadap kesadaran. Strateginya, konotasi dirangsang, polisemi diperluas optimal dan sinonimi serta antonimi diaktifkan.
KEKURANGAN DAN KELEBIHAN MUI (MAJELIS ULAMA’ INDONESIA) DI ERA ORDE BARU Muhtarom Ilyas
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.124 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.668

Abstract

Awal mula berdirinya Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) bukanlah kehendak umat Islam sepenuhnya dan bukan pula kehendak dari para ulama’ Islam, tetapi berdirinya MUI adalah kehendak dari pemerintah Indonesia pada saat itu (Orde Baru) dalam rangka menguatkan kedudukan pemerintahan di saat itu. Namun demikian setelah berdirinya MUI, terdapat kekurangan dan kelebihan dalam menfatwakan berbagai macam permasalahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat Indonesia karena di Indonesia terdapat berbagai aliran keagamaan, bahkan dalam Islam itu sendiri terdapat beberapa madzhab yang berbeda.
UANG DAN FUNGSINYA (Sebuah Telaah Historis dalam Islam) Wahyuddin Wahyuddin
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.945 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.664

Abstract

Konsep uang dalam ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi konvensional. Dalam ekonomi Islam, konsep uang sangat jelas dan tegas bahwa uang adalah uang, uang bukan capital. Sebaliknya, konsep uang yang dikemukakan dalam ekonomi konvensional tidak jelas. seringkali istilah uang dalam perspektif ekonomi konvensional diartikan secara bolak-balik, yaitu uang sebagai uang dan uang sebagai capital.Kata nuqud (uang) tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadist Nabi saw, karena bangsa Arab umumnya tidak menggunakan kata nuqud untuk menunjukan harga. Mereka menggunakan kata dinar untuk menunjukan mata uang yang terbuat dari emas, kata dirham untuk menunjukan alat tukar yang terbuat dari perak. Mereka juga menggunakan kata wariq untuk menunjukan dirham perak, kata ‘ain untuk menunjukan dinar emas. Sedang kata fulus (uang tembaga) adalah alat tukar tambahan yang digunakan untuk membeli barang-barang murah.Bahwa uang yang digunakan oleh umat islam pada masa Rasulullah adalah dirham perak Persia dan dinar emas Romawi dalam bentuk aslinya, tanpa mengalami pengubahan atau pemberian tanda tertentu. Rasulullah pun tidak pernah membuat uang khusus untuk umat Islam. Dengan kata lain, pada masa itu belum ada apa yang disebut dengan “uang Islam”.Sejarah mencatat bahwa selain uang emas dan perak murni berlaku pula jenis uang lain, yaitu uang emas dan perak campuran, fulus, dan uang kertas. Uang campuran tersebut pada mulanya beredar secara terbatas, kemudian beredar secara luas terutama setelah Khalifah al-Mutawakkil dan memberlakukannya secara resmi. Namun demikian mata uang emas dan perak murni tetap berlaku sebagai mata uang resmi dan paling banyak beredar. Selanjutnya, sejalan dengan perkembangan kehidupan ekonomi dan keterbatasan persediaan emas dan perak, umat Islam sedikit demi sedikit meninggalkan emas dan perak beralih menggunakan uang campuran dan akhirnya menggunakan fulus
TANAH TERLANTAR, MENYALAHI FUNGSI SOSIAL TANAH Yuwono Yuwono
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.294 KB) | DOI: 10.12962/j24433527.v2i1.669

Abstract

Undang-undang Dasar 1945 BAB XIV pasal 33 ayat (3) mengamanahkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di  dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.Tanah, yang merupakan tempat pijakan sekaligus tempat untuk tinggal dan dapat juga digunakan untuk berusaha, sering dimiliki secara berlebih (posesif ) oleh orang perorang atau suatu badan.Hal tersebut tidaklah terlalu salah, namun ironisnya, terkadang melupakan kewajiban terhadap tanah tersebut dan fungsi dari tanah tersebut. Kewajibannya adalah membayar pajak terhadap tanah tersebut (PBB=Pajak Bumi dan Bangunan) dan fungsi tanah tersbut sebagai fungsi sosial dari tanah tersebut.Pada setiap bidang tanah akan melekat suatu hak, hak ini merupakan suatu bukti kuat terhadap kepemilikan bidang tersebut. Contoh hak atas tanah adalah hak milik, hak guna bangunan, hak pakai dan sebagainya.Walaupun kepemilikan tanah telah jelas, namun tanah tidak boleh ditelantarkan, misalnya Tanah Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan ataupun Hak Pakai. Tanah dapat dinyatakan sebagai tanah terlantar apabila tanah tersebut dengan sengaja tidak dipergunakan oleh pemegang haknya sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan haknya atau tidak dipelihara dengan baik. , karena jika tanah ditelantarkan , maka tanah tersebut akan dikuasai langsung oleh negara.

Page 1 of 1 | Total Record : 8