Global Medical and Health Communication
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
" Vol 1, No 1 (2013)"
:
8 Documents
clear
Exploration of Methadone and HIV Treatment For Injecting Drug Users In West Java, Indonesia: Lessons from Practice
Laere, Igor van;
Hidayat, Teddy;
Wisaksana, Rudi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRACT Over the last decade, Indonesia became one of the fastest growing injecting drug user (IDU) driven HIV epidemics in Asia. Among strategies to prevent and control the HIV epidemic in Indonesia, methadone maintenance treatment (MMT) has been established and could become an entry point for HIV testing and treatment in IDUs. This study explored MMT and HIV treatment practices in West Java. An evaluation team visited six MMT clinics, interviewed staff and collected data on patient characteristics, methadone dose, and HIV testing and treatment practices. By October 2011, from 203 IDUs entering MMT (range 7-73 per clinic), 95% were male with the average age of 31 years (range 19-60 years), 92% had a senior high school or higher diploma, 47% had a regular income, and 55% were married. The mean methadone dose was 79 mg/day (range 13-208mg/day). About 85% of the MMT patients were tested for HIV, of whom 70% were found HIV positive (121/173), while 59% had a baseline CD4 count > 200 cells/mm3 and 65% were receiving ART. In conclusion, few IDUs entered MMT in West Java and among those who did; high HIV and ART rates were reported, stressing the need for active linking between harm reduction services and integrated MMT and HIV treatment for IDUs.  Key words: injecting drug user; methadone; HIV; ART; clinical guideline; Indonesia
Knowledge about Byssinosis and the Use of Face-Masks
Respati, Titik;
Ibnusantosa, Ganang;
Rachmawati, Meike
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Abstract The development of textile industry in Indonesia can potentially increase some occupational diseases that caused by waste products. One of those waste products from textile industry is cotton dust, which can cause byssinosis. There are several ways to reduce cotton dust exposure, such as using face mask. This research aim to describe the relationship between employees knowledge about byssinosis with face mask utilization in spinning department of a textile factory.This research is a descriptive study with cross sectional approach. The subjects of this research are employees working on Spinning Department. Data gathered using questionnaire about byssinosis and the habit of using face mask.The result of this research shows that 52 (78.79%) of 66 respondents have excellent knowledge about byssinosis, meanwhile the other 14 (21.21%) show just enough knowledge. Almost all wear a face mask during working hour (92.42%). The result of chi square method shows that the relation between employees knowledge about byssinosis and face mask utilization is really weak (p=0,001, contingency coefficient = 0,381). The result of this research indicates that besides knowledge of byssinosis, there are other factors that can affect face mask utilization. Key word: Byssinosis, knowledge, face-masks
Nilai Mean Corpuscular Volume (MCV) Sebagai Petunjuk Ketaatan Minum Obat pada Penderita HIV
Manullang, Rudolf Andean;
Wisaksana, Rudi;
Sumantri, Rachmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Abstrak Pengobatan Anti Retroviral (ARV) pada penderita HIV merubah secara dramatis prognosis penderita HIV tetapi memerlukan ketaatan pengobatan yang sempurna. Hingga saat ini penilaian ketaatan pengobatan ARV merupakan hal yang sulit dikerjakan karena ketiaadaan metoda penilaian yang ideal tetapi dapat digunakan sehari-hari diklinik. Pada makalah ini akan diutarakan mengenai peranan Mean Corpuscular Volume (MCV) sebagai metoda penilaian ketaatan pengobatan ARV pada penderita HIV. Â Kata kunci: ARV, HIV, Ketaatan minum obat
Konseling Adherence untuk Pengobatan Infeksi HIV/AIDS: Perlukah ?
Kesuma, Nirmala
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Abstrak Pengobatan Anti Retroviral (ARV) untuk infeksi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodefisiency Syndrome (HIV/AIDS) adalah pengobatan seumur hidup dengan tujuan menekan replikasi HIV dalam darah, sehingga tidak terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium dan pada akhirnya akan memperbaiki kualitas hidup penderita. Kegagalan terapi masih sering terjadi oleh karena ketidak-patuhan (adherence) untuk minum obat ARV.  Kriteria minum ARV dengan adherence yang baik harus memenuhi : ketepatan waktu meminum obat, dosis obat yang benar dan jumlah pil yang harus diminum. Pengobatan dikatakan baik apabila dalam jangka waktu sebulan semua kriteria diatas mencapai 95 %. Untuk memastikan adherence minum ARV diperlukan konseling sebelum mulai minum obat. Konseling meliputi edukasi, informasi dan support emosional terhadap pasien. Sejak diberlakukannya konseling adherence di Klinik Teratai, angka kematian pasien menurun dari 13,6% pada tahun 2006  menjadi 4,3 % pada tahun 2009. Hasil penelitian di Klinik Teratai RS dr. Hasan Sadikin menunjukkan pentingnya pasien menjalani konseling adherence sebelum memulai terapi ARV. Kata kunci: adherence, ARV, konseling
Kegagalan Terapi Infeksi HIV/AIDS dan Resistensi Antiretroviral
Sumantri, Rachmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Abstrak  Kegagalan pengobatan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditandai dengan kegagalan virologis, kegagalan imunologis, dan memburuknya keadaan klinis penderita. Kegagalan virologis mendahului kegagalan lainnya dan ditandai dengan viral load yang tidak menurun setelah 48 minggu pengobatan Anti Retro Viral (ARV). Kegagalan imunologis ditandai dengan CD4 yang menurun. Faktor yang berperan dalam kegagalan terapi ARV adalah kepatuhan, efek samping obat yang menyebabkan penghentian obat, absorbsi buruk, dosis suboptimal, serta resistensi virus. Virus HIV akan bermutasi dengan jenis mutasi yang khas untuk setiap jenis obat ARV. Pemeriksaan resistensi ARV terdiri dari dua cara, genotip dan fenotip. Pemeriksaan genotip adalah pemeriksaan terhadap mutasi, sedangkan pemeriksaan fenotip adalah pemeriksaan in vitro untuk melihat langsung suseptibilitas ARV. Mutasi virus untuk tiap obat berbeda, ditandai dengan penggantian asam amino pada suatu codon. Misalnya untuk lamivudine bila terdapat mutasi M184V, artinya metionin pada codon 184 diganti dengan valin. Pemeriksaan mutasi virus perlu dilakukan jika diduga terjadi virologic failure akibat resistensi ARV, obat ARV yang diberikan harus segera diganti.  Kata kunci:  ARV, HIV/AIDS, kegagalan pengobatan, mutasi
Herpes Genitalis dengan Gambaran Klinis Tidak Khas pada Penderita AIDS
Istasaputri, Keni;
Djajakusumah, Tony S;
Rachmadinata, Rachmadinata;
Rowawi, Rasmia
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAK Dilaporkan sebuah kasus herpes genitalis dengan gambaran klinis yang tidak khas pada seorang laki-laki penderita Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) berusia 27 tahun. Penderita datang dengan lesi pada pubis, korpus penis, dan skrotum bagian 1/3 atas, berupa ulkus dangkal multipel, Â dengan bentuk tidak teratur, tidak terdapat indurasi maupun nyeri tekan. Diagnosis kerja pada saat itu adalah ulkus genital nonspesifik yang ditegakkan setelah diagnosis banding berbagai etiologi disingkirkan melalui berbagai pemeriksaan penunjang. Pada bulan ke-6, tampak lesi baru di sekitar ulkus berupa vesikel, erosi, dan ekskoriasi, sehingga diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. Pada pemeriksaan serologis ulang didapatkan hasil IgM anti virus herpes simpleks (VHS) (+), dan Ig G anti VHS-2 (+). Terapi topikal diberikan kompres, sedangkan untuk terapi sistemik diberikan antibiotik yang sesuai dengan hasil tes resistensi. Terapi asiklovir sistemik dengan dosis 5x400 mg/hari diberikan setelah diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. Â Kata kunci: AIDS, herpes genitalis, Â terapi
Kondiloma Akuminata di Daerah Anus yang Disebabkan oleh Infeksi Human Papilloma Virus Tipe 6, 11, dan 16 Pada Seorang Laki Suka Laki dengan HIV Positif
Achdiat, Pati Aji;
Djajakusumah, Tony S;
Rachmatdinata, Rachmatdinata
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAK Human papilloma virus (HPV) merupakan salah satu penyebab infeksi menular seksual terbanyak di seluruh dunia. Kondiloma akuminata (KA) merupakan salah satu manifestasi klinis infeksi HPV yang paling sering ditemukan. Risiko terinfeksi virus HPV multipel lebih tinggi pada penderita HIV, sedangkan risiko terinfeksi tipe ganas lebih tinggi pada laki suka laki (LSL). Dilaporkan satu kasus KA di daerah anus yang disebabkan oleh infeksi HPV tipe 6, 11, dan 16 pada seorang LSL dengan HIV positif. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang karakteristik berupa papula dan plak verukosa berbentuk seperti bunga kol. Hasil pemeriksaan histopatologis menunjang diagnosis KA namun tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan. Pasien diberikan terapi bedah listrik dan trikloroasetat (TCA) 80% topikal. Faktor risiko KA multipel pada pasien ini kemungkinan disebabkan jumlah pasangan seksual yang banyak, LSL, dan infeksi HIV dengan hitung CD4 382 sel/uL. Hasil serotyping menunjukkan penyebab KA adalah HPV tipe 6, 11, dan 16. Pasien disarankan untuk melakukan screening sitologi setiap tahunnya. Â Kata kunci: HIV, infeksi HPV multipel, kondiloma akuminata, LSL
Korelasi Jumlah CD4 Dan Total Lymphocyte Count (Tlc) pada Penderita HIV/AIDS dengan dan tanpa Terapi Antiretroviral
Sulianto, Ivana Agnes;
Indrati, Agnes R;
Wisaksana, Rudi;
Noormartany, Noormartany
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAK Jumlah CD4 merupakan parameter laboratorium yang digunakan untuk memulai dan memantau terapi antiretroviral (ART) pada penderita HIV/AIDS. Namun pemeriksaan jumlah CD4 membutuhkan peralatan laboratorium yang mahal dan tenaga terlatih. World Health Organization (WHO) merekomendasikan total lymphocyte count (TLC) sebagai pengganti CD4 dalam memulai terapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara jumlah CD4 dan TLC pada data dasar, pemantauan pertama dan kedua penderita HIV/AIDS sebagai dasar digunakannya TLC untuk pemantauan terapi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dan bagian dari penelitian kohort IMPACT (Integrated Management for Prevention And Care and Treatment of HIV/AIDS) pada pasien HIV/AIDS di RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data tersebut dibagi menjadi kelompok tanpa ART dan dengan ART, masing-masing kelompok dibagi berdasarkan jenis kelamin. Analisis korelasi dilakukan pada data CD4 dan TLC dari tiap kelompok.Penelitian ini menggunakan 2239 data. Korelasi antara CD4 dan TLC pada data dasar pria tanpa ART adalah 0.644 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.74 (p=0.01), pria dengan ART 0.67 adalah (p=0.01), wanita dengan ART adalah adalah 0.601 (p=0.01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan pertama pria tanpa ART 0.56 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.606 (p=0.01), pria dengan ART adalah 0.569 (p=0.01), wanita dengan ART adalah 0.466 (p=0.01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan kedua pria tanpa ART adalah 0.697 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.306 (p=0.01), pria dengan ART adalah 0.556 (p=0.01), wanita dengan ART adalah 0.561 (p=0.01). Kesimpulan : terdapat korelasi yang baik antara jumlah CD4 dan TLC, sehingga TLC dapat digunakan sebagai alternatif pemantauan terapi sebelum penderita melakukan pemeriksaan CD4.  Kata kunci: CD4, HIV/AIDS, terapi antiretroviral, total lymphocyte count