cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2013)" : 16 Documents clear
Exploration of Methadone and HIV Treatment For Injecting Drug Users In West Java, Indonesia: Lessons from Practice Laere, Igor van; Hidayat, Teddy; Wisaksana, Rudi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Over the last decade, Indonesia became one of the fastest growing injecting drug user (IDU) driven HIV epidemics in Asia. Among strategies to prevent and control the HIV epidemic in Indonesia, methadone maintenance treatment (MMT) has been established and could become an entry point for HIV testing and treatment in IDUs. This study explored MMT and HIV treatment practices in West Java. An evaluation team visited six MMT clinics, interviewed staff and collected data on patient characteristics, methadone dose, and HIV testing and treatment practices. By October 2011, from 203 IDUs entering MMT (range 7-73 per clinic), 95% were male with the average age of 31 years (range 19-60 years), 92% had a senior high school or higher diploma, 47% had a regular income, and 55% were married. The mean methadone dose was 79 mg/day (range 13-208mg/day). About 85% of the MMT patients were tested for HIV, of whom 70% were found HIV positive (121/173), while 59% had a baseline CD4 count > 200 cells/mm3 and 65% were receiving ART.  In conclusion, few IDUs entered MMT in West Java and among those who did; high HIV and ART rates were reported, stressing the need for active linking between harm reduction services and integrated MMT and HIV treatment for IDUs.   Key words: injecting drug user; methadone; HIV; ART; clinical guideline; Indonesia
Knowledge about Byssinosis and the Use of Face-Masks Respati, Titik; Ibnusantosa, Ganang; Rachmawati, Meike
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The development of textile industry in Indonesia can potentially increase some occupational diseases that caused by waste products. One of those waste products from textile industry is cotton dust, which can cause byssinosis. There are several ways to reduce cotton dust exposure, such as using face mask. This research aim to describe the relationship between employees knowledge  about byssinosis with face mask utilization in spinning department of a textile factory.This research is a descriptive study with cross sectional approach. The subjects of this research are employees working on Spinning Department. Data gathered using questionnaire about byssinosis and the habit of using face mask.The result of this research shows that 52 (78.79%) of 66 respondents have excellent knowledge about byssinosis, meanwhile the other 14 (21.21%) show just enough knowledge. Almost all wear a face mask during working hour (92.42%). The result of chi square method shows that the relation between employees knowledge about byssinosis and face mask utilization is really weak (p=0,001, contingency coefficient = 0,381). The result of this research indicates that besides knowledge of byssinosis, there are other factors that can affect face mask utilization. Key word: Byssinosis, knowledge, face-masks
Nilai Mean Corpuscular Volume (MCV) Sebagai Petunjuk Ketaatan Minum Obat pada Penderita HIV Manullang, Rudolf Andean; Wisaksana, Rudi; Sumantri, Rachmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengobatan Anti Retroviral (ARV) pada penderita HIV merubah secara dramatis prognosis penderita HIV tetapi memerlukan ketaatan pengobatan yang sempurna. Hingga saat ini penilaian ketaatan pengobatan ARV merupakan hal yang sulit dikerjakan karena ketiaadaan metoda penilaian yang ideal tetapi dapat digunakan sehari-hari diklinik. Pada makalah ini akan diutarakan mengenai peranan Mean Corpuscular Volume (MCV) sebagai metoda penilaian ketaatan pengobatan ARV pada penderita HIV.   Kata kunci: ARV, HIV, Ketaatan minum obat
Konseling Adherence untuk Pengobatan Infeksi HIV/AIDS: Perlukah ? Kesuma, Nirmala
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengobatan Anti Retroviral (ARV) untuk infeksi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodefisiency Syndrome (HIV/AIDS) adalah pengobatan seumur hidup dengan tujuan menekan replikasi HIV dalam darah, sehingga tidak terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium dan pada akhirnya akan memperbaiki kualitas hidup penderita.  Kegagalan terapi masih sering terjadi oleh karena ketidak-patuhan (adherence) untuk minum obat ARV.  Kriteria minum ARV dengan adherence yang baik harus memenuhi : ketepatan waktu meminum obat, dosis obat yang benar dan jumlah pil yang harus diminum. Pengobatan dikatakan baik apabila dalam jangka waktu sebulan semua kriteria diatas mencapai 95 %. Untuk memastikan adherence minum ARV diperlukan konseling sebelum mulai minum obat. Konseling meliputi edukasi, informasi dan support emosional terhadap pasien. Sejak diberlakukannya konseling adherence di Klinik Teratai, angka kematian pasien menurun dari 13,6% pada tahun 2006  menjadi 4,3 % pada tahun 2009. Hasil penelitian di Klinik Teratai RS dr. Hasan Sadikin menunjukkan pentingnya pasien menjalani konseling adherence sebelum memulai terapi ARV. Kata kunci: adherence, ARV, konseling
Kegagalan Terapi Infeksi HIV/AIDS dan Resistensi Antiretroviral Sumantri, Rachmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Kegagalan pengobatan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditandai dengan kegagalan virologis, kegagalan imunologis, dan memburuknya keadaan klinis penderita. Kegagalan virologis mendahului kegagalan lainnya dan ditandai dengan viral load yang tidak menurun setelah 48 minggu pengobatan Anti Retro Viral (ARV). Kegagalan imunologis ditandai dengan CD4 yang menurun. Faktor yang berperan dalam kegagalan terapi ARV adalah kepatuhan, efek samping obat yang menyebabkan penghentian obat, absorbsi buruk, dosis suboptimal, serta resistensi virus. Virus HIV akan bermutasi dengan jenis mutasi yang khas untuk setiap jenis obat ARV. Pemeriksaan resistensi ARV terdiri dari dua cara, genotip dan fenotip. Pemeriksaan genotip adalah pemeriksaan terhadap mutasi, sedangkan pemeriksaan fenotip adalah pemeriksaan in vitro untuk melihat langsung suseptibilitas ARV. Mutasi virus untuk tiap obat berbeda, ditandai dengan penggantian asam amino pada suatu codon. Misalnya untuk lamivudine bila terdapat mutasi M184V, artinya metionin pada codon 184 diganti dengan valin. Pemeriksaan mutasi virus perlu dilakukan jika diduga terjadi virologic failure akibat resistensi ARV, obat ARV yang diberikan harus segera diganti.   Kata kunci:  ARV, HIV/AIDS, kegagalan pengobatan, mutasi
Herpes Genitalis dengan Gambaran Klinis Tidak Khas pada Penderita AIDS Istasaputri, Keni; Djajakusumah, Tony S; Rachmadinata, Rachmadinata; Rowawi, Rasmia
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dilaporkan sebuah kasus herpes genitalis dengan gambaran klinis yang tidak khas pada seorang laki-laki penderita Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) berusia 27 tahun. Penderita datang dengan lesi pada pubis, korpus penis, dan skrotum bagian 1/3 atas, berupa ulkus dangkal multipel,  dengan bentuk tidak teratur, tidak terdapat indurasi maupun nyeri tekan. Diagnosis kerja pada saat itu adalah ulkus genital nonspesifik yang ditegakkan setelah diagnosis banding berbagai etiologi disingkirkan melalui berbagai pemeriksaan penunjang. Pada bulan ke-6, tampak lesi baru di sekitar ulkus berupa vesikel, erosi, dan ekskoriasi, sehingga diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. Pada pemeriksaan serologis ulang didapatkan hasil IgM anti virus herpes simpleks (VHS) (+), dan Ig G anti VHS-2 (+). Terapi topikal diberikan kompres, sedangkan untuk terapi sistemik diberikan antibiotik yang sesuai dengan hasil tes resistensi. Terapi asiklovir sistemik dengan dosis 5x400 mg/hari diberikan setelah diagnosis kerja menjadi herpes genitalis.   Kata kunci: AIDS, herpes genitalis,  terapi
Kondiloma Akuminata di Daerah Anus yang Disebabkan oleh Infeksi Human Papilloma Virus Tipe 6, 11, dan 16 Pada Seorang Laki Suka Laki dengan HIV Positif Achdiat, Pati Aji; Djajakusumah, Tony S; Rachmatdinata, Rachmatdinata
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Human papilloma virus (HPV) merupakan salah satu penyebab infeksi menular seksual terbanyak di seluruh dunia. Kondiloma akuminata (KA) merupakan salah satu manifestasi klinis infeksi HPV yang paling sering ditemukan. Risiko terinfeksi virus HPV multipel lebih tinggi pada penderita HIV, sedangkan risiko terinfeksi tipe ganas lebih tinggi pada laki suka laki (LSL). Dilaporkan satu kasus KA di daerah anus yang disebabkan oleh infeksi HPV tipe 6, 11, dan 16 pada seorang LSL dengan HIV positif. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang karakteristik berupa papula dan plak verukosa berbentuk seperti bunga kol. Hasil pemeriksaan histopatologis menunjang diagnosis KA namun tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan. Pasien diberikan terapi bedah listrik dan trikloroasetat (TCA) 80% topikal. Faktor risiko KA multipel pada pasien ini kemungkinan disebabkan jumlah pasangan seksual yang banyak, LSL, dan infeksi HIV dengan hitung CD4 382 sel/uL. Hasil serotyping menunjukkan penyebab KA adalah HPV tipe 6, 11, dan 16. Pasien disarankan untuk melakukan screening sitologi setiap tahunnya.   Kata kunci: HIV, infeksi HPV multipel, kondiloma akuminata, LSL
Korelasi Jumlah CD4 Dan Total Lymphocyte Count (Tlc) pada Penderita HIV/AIDS dengan dan tanpa Terapi Antiretroviral Sulianto, Ivana Agnes; Indrati, Agnes R; Wisaksana, Rudi; Noormartany, Noormartany
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Jumlah CD4 merupakan parameter laboratorium yang digunakan untuk memulai dan memantau terapi antiretroviral (ART) pada penderita HIV/AIDS. Namun pemeriksaan jumlah CD4 membutuhkan peralatan laboratorium yang mahal dan tenaga terlatih. World Health Organization (WHO) merekomendasikan total lymphocyte count (TLC) sebagai pengganti CD4 dalam memulai terapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara jumlah CD4 dan TLC pada data dasar, pemantauan pertama dan kedua penderita HIV/AIDS sebagai dasar digunakannya TLC untuk pemantauan terapi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dan bagian dari penelitian kohort IMPACT (Integrated Management for Prevention And Care and Treatment of  HIV/AIDS) pada pasien HIV/AIDS di RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data tersebut dibagi menjadi kelompok tanpa ART dan dengan ART, masing-masing kelompok dibagi berdasarkan jenis kelamin. Analisis korelasi dilakukan pada data CD4 dan TLC dari tiap kelompok.Penelitian ini menggunakan 2239 data. Korelasi antara CD4 dan TLC pada data dasar pria tanpa ART adalah 0.644 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.74 (p=0.01), pria dengan ART 0.67 adalah (p=0.01), wanita dengan ART adalah adalah 0.601 (p=0.01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan pertama pria tanpa ART 0.56 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.606 (p=0.01), pria dengan ART adalah 0.569 (p=0.01), wanita dengan ART adalah 0.466 (p=0.01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan kedua pria tanpa ART adalah 0.697 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.306 (p=0.01), pria dengan ART adalah 0.556 (p=0.01), wanita dengan ART adalah 0.561 (p=0.01).  Kesimpulan :  terdapat korelasi yang baik antara jumlah CD4 dan TLC, sehingga TLC dapat digunakan sebagai alternatif pemantauan terapi sebelum penderita melakukan pemeriksaan CD4.   Kata kunci: CD4, HIV/AIDS, terapi antiretroviral, total lymphocyte count
Kondiloma Akuminata di Daerah Anus yang Disebabkan oleh Infeksi Human Papilloma Virus Tipe 6, 11, dan 16 pada Seorang Laki Suka Laki dengan HIV Positif Pati Aji Achdiat; Tony S. Djajakusumah; Rachmatdinata Rachmatdinata
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2382.108 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i1.1515

Abstract

Human papilloma virus (HPV) merupakan salah satu penyebab infeksi menular seksual terbanyak di seluruh dunia. Kondiloma akuminata (KA) merupakan salah satu manifestasi klinis infeksi HPV yang paling sering ditemukan. Risiko terinfeksi virus HPV multipel lebih tinggi pada penderita HIV, sedangkan risiko terinfeksi tipe ganas lebih tinggi pada laki suka laki (LSL). Dilaporkan satu kasus KA di daerah anus yang disebabkan oleh infeksi HPV tipe 6, 11, dan 16 pada seorang LSL dengan HIV positif. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang karakteristik berupa papula dan plak verukosa berbentuk seperti bunga kol. Hasil pemeriksaan histopatologis menunjang diagnosis KA namun tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan. Pasien diberikan terapi bedah listrik dan trikloroasetat (TCA) 80% topikal. Faktor risiko KA multipel pada pasien ini kemungkinan disebabkan jumlah pasangan seksual yang banyak, LSL, dan infeksi HIV dengan hitung CD4 382 sel/uL. Hasil serotyping menunjukkan penyebab KA adalah HPV tipe 6, 11, dan 16. Pasien disarankan untuk melakukan skrining sitologi setiap tahun. CONDYLOMATA ACUMINATA IN THE ANAL REGION CAUSED BY TYPE 6, 11, AND 16 HUMAN PAPILLOMA VIRUS INFECTION IN HIV POSITIVE MAN WHO HAVE SEX WITH MANHuman papiloma virus (HPV) is the most common cause of sexually transmitted infection worldwide. Condyloma acuminata is the most common form of HPV infection. In HIV patient, the risk to get multiple HPV infection is increased, while in man who have sex with man (MSM), the risk to develop into malignancy is even geater. A case of condyloma acuminata (CA) in the anal region caused by HPV type 6, 11, and 16 in MSM with HIV infection was reported. Diagnosis was established based on typical clinical feature presented as verrucous papules and plaques resembling cauliflower. Histopathological result supported the diagnosis of CA without sign of malignancy. Patient was treated with electrosurgery and topical 80% TCA solution. The risk factors for CA in this patient possibly were the high number of sexual partners, MSM status, and HIV infection with CD4 count of  382 cell/uL. Serotyping result revealed that CA in this patient was caused by HPV type 6, 11, and 16. The patient was suggested to undergo cytologic screening analysis every year forwards.
Herpes Genitalis dengan Gambaran Klinis Tidak Khas pada Penderita AIDS Keni Istasaputri; Tony S. Djajakusumah; Rachmadinata Rachmadinata; Rasmia Rowawi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2523.485 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i1.1514

Abstract

Dilaporkan sebuah kasus herpes genitalis dengan gambaran klinis yang tidak khas pada seorang laki-laki penderita acquired immuno deficiency syndrome (AIDS) berusia 27 tahun. Penderita datang dengan lesi pada pubis, korpus penis, dan skrotum bagian 1/3 atas, berupa ulkus dangkal multipel, dengan bentuk tidak teratur, tidak terdapat indurasi maupun nyeri tekan. Diagnosis kerja pada saat itu adalah ulkus genital nonspesifik yang ditegakkan setelah diagnosis banding berbagai etiologi disingkirkan melalui berbagai pemeriksaan penunjang. Pada bulan ke-6, tampak lesi baru di sekitar ulkus berupa vesikel, erosi, dan ekskoriasi, sehingga diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. Pada pemeriksaan serologis ulang didapatkan hasil IgM antivirus herpes simpleks (VHS) (+), dan Ig G anti-VHS-2 (+). Terapi topikal diberikan kompres, sedangkan untuk terapi sistemik diberikan antibiotik yang sesuai dengan hasil tes resistensi. Terapi asiklovir sistemik dengan dosis 5x400 mg/hari diberikan setelah diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. ATYPICAL GENITAL HERPES AND NON SPECIFIC CHARACTERISTIC IN AIDS PATIENTA case of genital herpes with atypical clinical feature in a 27-year-old man with AIDS was reported. The patient presented with multiple shallow ulcers in the pubic area, penile shaft, and 1/3 upper scrotum, with irregular shape, without induration, nor pain. The working diagnosis of nonspecific genital ulcer was made after the differential diagnoses of various etiologies were eliminated through further examination. On the sixth month of follow-up, there were new lesions found around the genital ulcers, which were vesicles, erosions, and excoriations, therefore the working diagnosis turned to genital herpes. Result from second serological examination revealed positive anti-HSV2 IgM, and positive anti-HSV2 IgG. Topical treatment consisted of compress and systemic antibiotic was also given based on resistency test result. Then, 400 mg acyclovir 5 times daily was given after the working diagnosis of genital herpes was established.

Page 1 of 2 | Total Record : 16