cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016)" : 10 Documents clear
Sebaran Vektor Penyakit Demam Berdarah (Aedes aegypti) di Kampus Universitas Islam Bandung Ratna Dewi Indi Astuti; Ismawati Ismawati; Listya Hanum Siswanti; Alimmatin Suhartini
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.666 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1602

Abstract

Demam berdarah dengue ialah penyakit disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypti. Untuk mengendalikan vektor dilakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sehingga dapat dicapai angka bebas jentik lebih dari 95%. Penelitian ini bertujuan mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti serta kepadatan nyamuk betina dewasa di kampus Unisba. Penelitian ini bersifat observasional dan survei jentik dilakukan di Universitas Islam Bandung (Unisba) pada bulan Juni 2015. Kepadatan jentik diukur dengan parameter indeks kontainer. Kepadatan nyamuk betina dewasa diukur dengan menghitung indeks ovitrap. Hasil penelitian menunjukkan lingkungan Kampus Unisba belum bebas jentik (indeks kontainer=17%) dengan kepadatan terbesar di Gedung Pascasarjana (24%). Ovitrap indeks di Kampus Unisba 41% dengan proporsi positif terbesar di Gedung Fakultas Kedokteran Unisba Jalan Tamansari 22 dan Gedung Rektorat (masing-masing 57%). Simpulan, Kampus Unisba bukan merupakan daerah bebas jentik nyamuk Aedes aegypti dan tersebar vektor penyebar penyakit demam berdarah, yaitu nyamuk betina dewasa Aedes aegypti. DENGUE'S VECTOR DISTRIBUTION (AEDES AEGYPTI) AT BANDUNG ISLAMIC UNIVERSITY CAMPUSDengue hemorrhagic fever is a disease caused by dengue virus that is transmitted by Aedes aegypti. Mosquito nest eradication (Pemberantasan Sarang Nyamuk) in order to achieve free larva numbers more than 95% is important to control vectors. This study determined the density of larva and the adult female of Aedes aegypti in Universitas Islam Bandung (Unisba’s campus) environment. The larvae survey was conducted on Unisba’s campus in June 2015. The density of larva was counted by container index. The density of adult female assesed by ovitrap index. The results showed that Unisba’s campus environment was not free from larva (container index=17%) with the greatest density was in the pascasarjana building (24%).The ovitrap index on Unisba’s campus was 41% with the largest proportion was in Medical Faculty Unisba Tamansari 22 and rectorate building (each 57%). In conclusion, Unisba’s campus is not an free area of Aedes aegypti larvae and adults female of Aedes aegypti spreaded there.
Imunoekspresi ER-α, PR, Wnt5a, dan HMGA2 pada Berbagai Gradasi Tumor Filodes Payudara Fairuz Quzwain; Yusuf Sulaiman Effendi; Bethy Suryawati Hernowo; Ida Parwati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.232 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1820

Abstract

Tumor filodes merupakan tumor fibroepitelial pada payudara yang secara mikroskopis ditandai dengan peningkatan selularitas sel stroma dan membentuk struktur seperti daun (leaf-like). Berbeda dengan tumor dari unsur epitel duktuli dan kelenjar payudara, penelitian peranan hormonal maupun faktor lain pada tumor filodes masih menunjukkan hasil yang inkonsisten sehingga menyebabkan patogenesis dan penatalaksanaan tumor ini dalam jalur hormonal masih kontroversi. Penelitian ini bertujuan menganalisis imunoekspresi faktor hormonal, yaitu estrogen receptor alpha (ER-α), progesteron receptor (PR), serta faktor nonhormonal HMGA2 dan wnt5a pada berbagai gradasi tumor filodes payudara. Dilakukan penilaian histologi dan imunoekspresi pada parafin blok jaringan tumor filodes payudara di Laboratorium Departemen Patologi Anatomi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode tahun 2011 sampai 2014. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok gradasi berdasarkan kriteria WHO tahun 2012, yaitu benign, borderline, dan malignant. Didapatkan 62 kasus tumor filodes yang sebagian besar menunjukkan distribusi imunoekspresi ER-α >50%, yaitu pada kategori benign sebanyak 35 dari 40 pasien. Terdapat korelasi signifikan histoskor ER-α, HMGA2, dan Wnt5a dengan gradasi histopatologis PT (p=0,002; p=0,001; p=0,040) dengan arah negatif untuk ER-α 2 (R=−0,423) serta positif untuk HMGA2 dan Wnt5a (R=0,439 dan R=0,243). Pada penelitian ini dapat disimpulkan semakin besar nilai histoskor ER-α maka semakin banyak diekpresikan pada gradasi benign dan semakin besar nilai histoskor HMGA2 serta Wnt5a semakin banyak ditemukan pada gradasi malignant.ER-α, PR, HMGA2 AND WNT5A IMMUNOEXPRESSION IN VARIOUS GRADE OF PHYLLODES TUMOR OF THE BREASTPhyllodes tumors (PTs) of the breast are fibroepithelial neoplasms, histologically characterized by hypercellular stromal, stromal overgrowth and double-layered epithelial component arranged in clefts which in combination elaborate leaf-like structures. Unlike epithelial neoplasm of the duct and gland of the breast, there were inconsitence and controversion in hormonal expression research in PTs. These were make unclear pathogenesis and unestablished hormonal therapy in PTs. The aim of this study was to analysis the immunoexpression estrogen receptor-alpha  (ER-α), progesterone receptor (PR), HMGA and Wnt5a in various grade of phyllodes tumors of the breast. We reviewed histology and performed immunohistochemistry for paraffin block of PTs in Laboratory of Departement Pathological Anatomic at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2011 until 2014 period. According to WHO classification (2012), PTs were categorized into three groups benign, borderline and malignant. According to 62 cases of PT, mainly showed that distribution of immunoexpresion ER-α >50% in benign category were 35 of 40 patients. A significant correlation was observed between histoscore ER-α, HMGA2 and Wnt5a (p=0.002, p=0.001, p=0.040) and histopathological grading of PT (p=0.001) in negative direction (R=−0.423), HMGA2 and Wnt5a in positive direction (R=0.439 and R=0.243). It indicates that the histoscore ER-a value increases with increasing expressed value in benign grade. On the other side, the histoscore HMGA2 and Wnt5a value increases  with increasing expressed value in malignant grade.
Korelasi antara Kadar Testosteron dan Proses Remodeling Ventrikel Kiri pada Penderita Infark Miokardium Akut Mohammad Rizki Akbar; Tri Hanggono Achmad; Ieva B. Akbar; Budhi Setianto Purwowiyoto
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.998 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.2008

Abstract

Infark miokardium akut merupakan penyebab utama kematian di dunia. Perbedaan jenis kelamin berperan terhadap mortalitas jangka panjang pascainfark miokardium yang menunjukkan gambaran pola fisiologi regenerasi miokardium yang spesifik. Kematian setelah infark miokardium lebih tinggi pada perempuan. Remodeling ventrikel kiri merupakan proses penyembuhan luka pascainfark miokardium yang menjadi petunjuk keadaan gagal jantung maupun kematian. Proses ini berpengaruh penting pada fungsi ventrikel dan prognosis survival yang dapat didiagnosis dengan pemeriksaan ekokardiografi. Terdapat kontroversi berkaitan dengan peranan androgen pada proses remodeling jantung. Walaupun masih terdapat perdebatan, androgen memiliki peran terhadap remodeling ventrikel kiri dan bersifat protektif terhadap proses fibrosis yang maladaptif. Dilakukan penelitian observasional analitik yang bersifat prospektif untuk mengkaji peranan testosteron terhadap remodeling ventrikel kiri pada pasien infark miokardium akut di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama Maret–Oktober 2015. Penelitian dilakukan pada 60 orang laki-laki usia 40–77 tahun penderita infark miokardium akut. Pemeriksaan ekokardiografi, pengukuran kadar testosteron total, testosteron bebas, dan testosteron bioavailabel dilakukan sebanyak dua kali. Pemeriksaan pertama dilakukan saat pasien didiagnosis infark miokardium akut dan pengulangan 4–6 minggu kemudian. Usia rata-rata penderita 56,16±8,48 tahun. Bila dibanding dengan pemeriksaan pertama dan kedua, tampak peningkatan kadar testosteron total yang signifikan (785,00±661,76 ng/dL vs 822,33±365,64 ng/dL; p=0,004), penurunan kadar testosteron bebas (24,66±17,91 ng/dL vs 19,00±15,24 ng/dL; p=0,067), dan penurunan kadar testosteron bioavailabel (475,21±353,10 ng/dL vs 394,98±314,85 ng/dL; p=0,166). Analisis korelasi rank Spearman memperlihatkan korelasi bermakna antara testosteron bebas dan relative wall thickness (p=0,019), serta testosteron bioavailabel dengan relative wall thickness (p=0,014). Simpulan, testosteron berperan pada proses remodeling ventrikel kiri pascainfark miokardium akut yang diperlihatkan dengan peningkatan kadar testosteron total serta penurunan kadar testosteron bebas maupun testosteron bioavailabel yang memiliki afinitas yang kuat dengan kardiomiosit. CORELLATION BETWEEN TESTOSTERONE LEVEL AND LEFT VENTRICULAR REMODELING PROCESS IN ACUTE MYOCARDIAL INFARCTION PATIENTMyocardial infarction (MCI) is a leading cause of death worldwide. Gender differences in long term mortality after MCI lead to a specific physiologic pattern of myocardial regeneration. Moreover mortality after MCI was reported to be higher in women. Left ventricular remodeling is cardiac wound healing after MCI indicate a high risk of heart failure and death. This remodeling can importantly affect the function of the ventricle and prognosis for survival which can be diagnosed by echocardiography. Controversial information excert about the role of androgen in cardiac remodeling. Even the evidence still debatable, androgen has a role in left ventricular (LV) remodeling and protect heart from maladaptive fibrosis. A prospective analytical observational study was conducted to evaluate the role of testosterone in LV remodeling in acute myocardial infarction patients. The study comprised 60 men aged 40–77 years with acute myocardial infarction in Dr. Hasan Sadikin Hospital during March–October 2015. Echocardiographyc study and the level of total, free, and bioavailable testosterone were measured twice. The first measured when they diagnosed acute myocardial infarction and the second after 4–6 weeks. The age of patient was 56.16±8.487 years old. Comparing the first and the second measure indicate that total testosterone significantly increased (785.00±661.76 ng/dL vs 822.33±365.64 ng/dL, p=0.004), free testosterone decreased (24.66±17.91 ng/dL vs 19.00±15.24 ng/dL, p=0.067), and bioavailable testosteron decreased (475.21±353.10 ng/dL vs 394.98±314.85 ng/dL, p=0.166). Correlation analysis by rank Spearman showed significantly correlation between free testosterone with relative wall thickness (p=0.019), and bioavailable testosterone with relative wall thickness (p=0.014). It is concluded that testosterone has a role on LV remodeling process after myocardial infarction showed by increasing of total testosterone and decreasing of free and bioavailable testosterone which have great affinity with cardiomyocyte.
Akurasi Diagnostik Fibrosis Hati berdasarkan Rasio Red Cell Distribution Width (RDW) dan Jumlah Trombosit Dibanding dengan Fibroscan pada Penderita Hepatitis B Kronik Frenky Jones; Juwita Sembiring; Lukman Hakim Zain
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.498 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1875

Abstract

Hepatitis B kronik merupakan masalah global dan Indonesia termasuk negara yang memiliki prevalensi tinggi. Keterbatasan biopsi hati untuk mendiagnosis fibrosis hati karena invasif membangkitkan penelitian metode noninvasif. Dilakukan penelitian uji diagnostik potong lintang untuk mengetahui akurasi rasio red cell distribution width (RDW) terhadap jumlah trombosit untuk memprediksi derajat fibrosis hati penderita hepatitis B kronik. Terhadap subjek penelitian dilakukan pemeriksaan HBsAg, darah rutin, dan fibroscan di RSUP H. Adam Malik, Medan sejak Januari sampai Maret 2015. Nilai rasio RDW terhadap trombosit dihitung dari hasil pemeriksaan darah rutin. Derajat fibrosis hati dinilai berdasarkan hasil fibroscan dari skala F0–F4. Prosedur analisis adalah receiver operating characteritic (ROC) dan area under the curve (AUC). Dari 34 kasus, 20 orang termasuk kelompok fibrosis hati ringan-sedang (F≤2) dan 14 orang kelompok fibrosis berat (F>2). Nilai akurasi sebesar 72,3% (IK 95%:84,1–97%). Dengan nilai cut-off 0,0591 didapatkan sensitivitas 71,4%; spesifisitas 60%; nilai prediksi positif (NPP) 55,6%; nilai prediksi negatif (NPN) 75%; rasio kemungkinan positif (RKP) 1,79; dan rasio kemungkinan negatif (RKN) 0,48. Simpulan, rasio RDW terhadap jumlah trombosit mampu memprediksi derajat fibrosis hati penderita hepatitis B kronik dengan tingkat akurasi sedang (72,3%). DIAGNOSTIC ACCURACY OF LIVER FIBROSIS BASED ON RED CELL DISTRIBUTION WIDTH (RDW) TO PLATELET COUNT WITH FIBROSCAN IN CHRONIC B HEPATITISChronic hepatitis B is a global problem and Indonesia has a high prevalence. Limitation of liver biopsy as an invasive method, initiates many studies on non invasive diagnosing method for liver fibrosis. The cross sectional study was conducted to determine the accuracy of red cell distribution width (RDW) to platelet count ratio (RPR) in predicting liver fibrosis degree in chronic hepatitis B. HBsAg, complete blood count, and fibroscan were examined in H. Adam Malik Hospital, Medan from January to March, 2015. RPR was calculated. The degree of liver fibrosis assessed by fibroscan on a scale of F0–F4. The accuracy was evaluated by constructing receiver operating characteritic (ROC) and area under the curve (AUC). From 34 cases, 20 subjects were in mild-moderate liver fibrosis (F≤2) and 14 subjects in severe liver fibrosis (F>2). The accuracy was 72.3% (95% CI: 84.1–97%) with a cut-off value 0.0591. Sensitivity was 71.4%, specificity 60%, positive predictive value (PPV) 55.6%, negative predictive value (NPV) 75%, positive predictive ratio (PPR) 1.79, and negative predictive ratio (NPR) was 0.48. RDW to platelet count ratio can predict liver fibrosis grade in chronic hepatitis B with a moderate degree of accuracy (72.3%).
Ekspresi IgA dan Rasio CD4+/CD8+ Sel T Mukosa Usus Tikus Setelah Suplementasi Kerang Darah (Anadara granosa) Netty Ino Ischak; La Ode Aman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.144 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1816

Abstract

Kerang darah (Anadara granosa) mengandung senyawa glikoprotein yang diperkirakan dapat berperan sebagai zat imunomodulator dengan aktivitas tinggi. Penelitian bertujuan mempelajari potensi kerang darah (Anadara granosa) dalam mekanisme sistem imun tikus (Rattus norvegicus) strain Spraque Dawley. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Gorontalo dan Laboratorium Primata Bogor IPB selama periode Maret–Oktober 2015. Peranan itu dijelaskan melalui ekspresi imunoglobulin A (IgA) dan skor histologi rasio CD4+/CD8+ sel T mukosa usus secara imunohistokimia. Metode penelitian adalah eksperimental laboratorik dengan menerapkan randomized post test only control group design terhadap 30 ekor tikus yang dipilih secara simple random sampling. Sampel dibagi dalam lima kelompok: (i) kontrol normal; (ii) dan (iii) adalah sampel malnutrisi yang masing-masing mendapat perlakuan ransum nonprotein sebagai kontrol positif [K.kg(+)] dan ransum standar kasein 20% sebagai kontrol negatif [K.kg(−)]; serta (4) dan (5) adalah sampel malnutrisi yang mendapat perlakuan ransum protein kasein 10% yang dikombinasi dengan tepung kerang darah 10% [P.kg1] dan diberi ransum tepung kerang darah 20% [P.kg2]. Perlakuan terhadap subjek selama 45 hari. Kondisi malnutrisi (kadar albumin<2,7 g/dL) diperoleh dengan pemberian ransum nonprotein. Setelah perlakuan, tikus dinekropsi untuk pengambilan jaringan usus. Pemeriksaan IgA dan skor rasio CD4+/CD8+ sel T jaringan mukosa usus (jejunum dan ileum) dengan metode imunohistokimia. Hasil penelitian menunjukkan kerang darah berpotensi meningkatkan kadar IgA, meningkatkan skor histologi CD4+, dan menurunkan skor histologi CD8+ sehingga memengaruhi peningkatan skor rasio CD4+/CD8+ sel T jejunum dan ileum mukosa usus tikus malnutrisi. Simpulan, terdapat peningkatan jumlah ekspresi IgA pada jejunum maupun ileum mukosa usus kelompok yang diberikan suplementasi kerang darah lebih baik dibanding dengan kelompok tanpa diberi suplementasi. IGA EXPRESSION AND CD4+/CD8+ T CELL RATIO OF RAT INTESTINE MUCOSA AFTER ADMINISTRATION OF ANADARA GRANOSAAnadara granosa contains of glycoprotein that has high activity as immunomodulator. The research objective was to study Anadara granosa’s role on immune system mechanism of rats (Rattus norvegicus) Spraque Dawley strain that described by expression of immunoglobulin A (IgA) and histologic score ratio of CD4+/TCD8+ of intestinal mucosa. The study was held in Chemical Laboratory of Chemical Division of FMIPA Universitas Negeri Gorontalo and Laboratory Primata Bogor IPB during March–October 2015. The method was used experimental laboratory with randomized post test only control group design on 30 rats were selected by simple random sampling and divided into five groups: (1) normal controls, (2) and (3) were malnourished subjects to non-protein food as positive control [K.kg(+)], and food standard with casein 20% as negative control [K.kg(−)], (4) and (5) were malnourished subjects thas treated with casein protein diet 10% combined Anadara granosa flour 10% [P.kg1], and given Anadara granosa flour 20% [P.kg2]. The subjects were treated for 45 days. Malnourished condition (albumin<2.7 g/dL), obtained by non-protein diet. Final step, the samples were operated to get intestinal tissues. IgA examination and CD4+/CD8+ rasio of intestine’s mucosal tissues (jejunum and ileum) by immunohistochemically methods. The results showed that Anadara granosa could potentially increased IgA levels and capable to increase histology score of CD4+ and to decrease histology score CD8+. Increasing of CD4+/CD8+ ratio in jejunum and ileum of rats intestinal mucosa with malnourished after be administrated by Anadara granosa flour. In conclusion, IgA expression increased in jejunum and ileum mucosa of supplementation group is better than non-supplementation.
Gambaran Garis Telapak Tangan pada Siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan Mitayani Mitayani; Trisnawati Trisnawati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.953 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1851

Abstract

Garis-garis di telapak tangan dapat digunakan untuk investigasi kelainan genetik dengan cara yang tidak invasif dan untuk menemukan karakteristik antropologis suatu populasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola garis telapak tangan penduduk Kota Palembang, Sumatera Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang pada populasi siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang dengan besar sampel 70 orang. Gambar kedua telapak tangan responden diambil pada bulan Maret 2016 menggunakan kamera lalu dianalisis tanpa dicetak terlebih dahulu. Pola garis telapak tangan siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan adalah sekitar 90% garis normal, 3% dan 7% garis Simian atau single transverse palmar crease (STPC), dan 1% garis Sydney. Distribusi pola garis telapak tangan normal, STPC, dan Sydney ditemukan merata pada laki-laki dan perempuan. Simpulan, pola garis telapak tangan yang paling banyak ditemukan pada siswa SD Negeri 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan adalah pola garis normal, meskipun ada sebagian kecil pola garis Simian atau single transverse palmar crease dan garis Sydney. PALMAR CREASES PATTERN AMONG STUDENTS IN PUBLIC ELEMENTARY SCHOOL 144 TALANG BETUTU, PALEMBANG, SUMATERA SELATANPalmar crease identification could be used for investigates the genetic anomalies in a non-invasive way and determines the characteristics of a population. The aim of this study was to identify palmar creases in Palembang population. This study was a descriptive study using cross sectional design in students of Public Elementary School 144 Talang Betutu, Palembang, South Sumatera. Samples size were 70 peoples. The picture of subject’s hands was taken with camera on March 2016 and then being analyzed without printed. Palmar creases distribution on students of Public Elementary School 144 Talang Betutu, Palembang, South Sumatera were about 90% normal crease, 3% and 7% Simian or single transverse palmar crease (STPC), and 1% Sydney crease. Palmar crease distribution was equal between male and female. In conclusion, palmar creases pattern in Elementary Public School students 144 Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan are normal crease, Simian or single transverse palmar crease, and Sydney crease.
Sinekia Palatum Molle dan Pilar Tonsil ke Dinding Faring Posterior pada Pasien Tuberkulosis Paru Desno Marbun; Sinta Sari Ratunanda; Nur Akbar Aroeman; Agung Dinasti Permana
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.428 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1802

Abstract

Tuberkulosis paru masih merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai dan masalah kesehatan di dunia. Sinekia yang disebabkan oleh infeksi kronik tuberkulosis pada daerah faring merupakan kasus yang jarang terjadi. Pembentukan sinekia ini menyebabkan obstruksi saluran napas bagian atas dan dapat menyebabkan gangguan menelan. Laporan kasus ini dimaksudkan untuk memaparkan penatalaksanaan pasien tuberkulosis paru disertai kelainan sinekia palatum molle dan pilar tonsil ke dinding faring posterior. Seorang pasien laki-laki usia 40 tahun terdiagnosis tuberkulosis milier yang telah mendapatkan pengobatan antituberkulosis 4 bulan datang dengan keluhan hidung tersumbat, suara sengau, dan gangguan menelan sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit. Dilakukan pelepasan sinekia dengan cara reseksi dan insisi palatum molle pendekatan intraoral dengan panduan endoskopi, didapatkan massa jaringan granuloma pada tepi sinekia tersebut. Hasil pemeriksaan histopatologi berupa jaringan granuloma tuberkulosis. Pascaoperasi pasien dapat bernapas lancar melalui hidung dan gangguan menelan menghilang. Simpulan, operasi pelepasan sinekia diputuskan mengingat gangguan obstruksi saluran napas atas. Penatalaksanaan sinekia palatum molle dan pilar tonsil ke dinding faring posterior dengan operasi memberikan hasil yang baik untuk patensi jalan napas dan fungsi menelan. SINECHIA OF SOFT PALATE AND TONSILLAR PILLAR TO THE POSTERIOR PHARYNGEAL WALL AT PATIENT WITH PULMONARY TUBERCULOSISPulmonary tuberculosis is still a common infection and world health problem. Sinechia at the pharyngeal region due to chronic infection of tuberculosis is a rare case. The sinechial formation causes upper airway obstruction and difficulty of swallowing. This case report was ment to present management of pulmonary tuberculosis with sinechia of soft palate and tonsilar pillar to the posterior pharyngeal wall. A 40-year-old man was diagnosed with milliary tuberculosis that had been undergone four months antituberculosis therapy complained nasal obstruction, hot potato voice and difficulty of swallowing since 2 months ago. Sinechia release had been performed with ressection and incission of soft palate transoral approach guiding endoscopy. We founded masses of granuloma at the edge of sinechia with histopatology result as tuberculosis granuloma. After the procedure, patient can breathed and swallowed normally. In conclusion, operational procedure had been decided due to upper airway obstruction. Operatif management for sinechia of soft palate and tonsillar pillar to the posterior pharyngeal wall brings a good result for upper airway pattency and swallow function.
Faktor Prediksi Perforasi Apendiks pada Penderita Apendisitis Akut Dewasa di RS Al-Ihsan Kabupaten Bandung Periode 2013–2014 Fajar Awalia Yulianto; R. Kince Sakinah; M. Insan Kamil; Tri Yunis Miko Wahono
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.87 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1844

Abstract

Morbiditas dan mortalitas apendisitis akut disebabkan oleh perkembangan apendisitis akut menjadi perforasi apendiks. Hal-hal yang menyebabkan kerentanan apendiks belum banyak diteliti dan belum diketahui penyebab pastinya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat memprediksi terjadinya perforasi apendiks. Penelitian dengan desain kasus kontrol menggunakan data sekunder berupa rekam medis penderita apendisitis akut dewasa di RS Al-Ihsan Kabupaten Bandung tahun 2013–2014 dengan jumlah kasus (perforasi apendiks) 36 kasus dan kontrol (nonperforasi) 93 kasus. Analisis data yang dilakukan meliputi deskriptif, chi-square, receiver operating characteristic, dan regresi logistik multivariat. Dua faktor prediksi yang bermakna sebagai faktor prediksi perforasi apendiks dalam analisis regresi logistik multivariat adalah suhu badan di atas 37,5°C dengan odds ratio (OR) 7,54 (IK 95%: 2,01–28,33), jumlah leukosit di atas 11.500/mm3 dengan OR 12,12 (IK 95%: 4,03–36,48). Perlu validasi pemeriksaan suhu badan di RS, penelitian lebih lanjut untuk mencari faktor prediksi lainnya, persiapan operasi segera untuk pencegahan komplikasi perforasi apendiks, dan pemberian informasi ke masyarakat bahwa sakit perut dapat bersifat gawat darurat. PREDICTIVE FACTORS FOR PERFORATED APPENDIX IN ACUTE APPENDICITIS ADULT PATIENTS IN AL-IHSAN HOSPITAL BANDUNG REGENCY 2013–2014Appendix perforation is the causation for acute appendicitis morbidity and mortality. Factors that may cause appendix vulnerability has not been extensively studied before and the main cause is still yet unknown. The goal of this study was to analyze what factors that could be used to predict appendix perforation. This study was a case control study using 2013–2014 medical records in Al-Ihsan Hospital Bandung Regency as data. Case group pooled from 36 perforated appendix adult (above 15 years old) patients, while control group pooled from 93 non perforated appendix adult patients. Data analysis conducted were descriptive, chi-square, receiver operating characteristic, and multivariate logistic regression. There were two prediction factors which significantly associated with perforated appendix. Those were body temperature above 37.5°C with odds ratio (OR) 7.54 (95% CI: 2.01–28.33), and leucocytes count above 11,500/mm3 with OR 12.12 (95% CI: 4.03–36.48). Further studies and body temperature validation on each hospital are needed to find other prediction factors, preparing pre operative equipment for immediate definite measure like surgery to prevent the complication of perforated appendix, and education to people that abdominal pain is not always causing by gastric problem and it might be a case of emergency.
Pilihan Karier Lulusan Program Pendidikan Profesi Dokter Universitas Islam Bandung Tahun 2015 Eka Nurhayati; Titik Respati; Budiman Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.313 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1827

Abstract

Tahun 2014 merupakan tahun penting bagi dokter di Indonesia karena mulai diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan persiapan menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Alasan tersebut dapat memengaruhi pilihan karier lulusan fakultas kedokteran di Indonesia. Banyak penelitian terkait pemilihan karier kedokteran telah dilakukan di luar negeri, namun penelitian semacam ini belum pernah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba). Tujuan penelitian adalah mengetahui pilihan karier lulusan Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) FK Unisba tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif potong lintang, dilakukan pada bulan April 2015 menggunakan kuesioner dengan sampel 53 orang menggunakan teknik whole sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lulusan program P3D FK Unisba 2015 adalah perempuan (68%) dan profesi yang paling banyak diminati adalah dokter spesialis (85%). Tempat bekerja yang paling banyak diminati adalah rumah sakit (74%). Lokasi pekerjaan yang paling banyak diminati ialah wilayah urban di Indonesia (68%). Pilihan sektor pekerjaan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara sektor publik (40%) dan swasta (43%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa lulusan P3D FK Unisba 2015 lebih banyak berminat pada profesi dokter spesialis dan bekerja di rumah sakit yang berlokasi di wilayah urban Indonesia. CAREER OPTIONS AMONG GRADUATES OF FACULTY OF MEDICINE BANDUNG ISLAMIC UNIVERSITY YEAR 2015Year 2014 was a very important moment for doctors in Indonesia since the Government began to enforce Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) and the preparation for the ASEAN Economic Society (AEC) by 2015. Both reasons might influenced the choice of career of medical graduates in Indonesia. Many medical careers selection related research has been conducted abroad, but this kind of research has not been done in Medical Faculty of Bandung Islamic University (FK Unisba). The purpose of this study was to determine the career choice of graduates of Physician Professional Education Program (P3D) FK Unisba year 2015. This was cross sectional design. The study was conducted in April 2015 using questionnaire with 53 respondents. The results of this study indicated that the majority of P3D graduates FK Unisba were women (68%), with the most favourable profession were specialists (85%). The most demanding work place was hospital (74%), location of the most interesting work was the urban area in Indonesia (68%). Selection work sector showed no significant differences between the public sector (40%) and private (43%). The conclusion of this study showed that graduates of P3D FK Unisba year 2015 mostly interested to be specialist and works in hospital which located in urban area in Indonesia.
Pemanfaatan Kalender 4M Sebagai Alat Bantu Meningkatkan Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan dan Pencegahan Demam Berdarah Titik Respati; Eka Nurhayati; Mahmudah Mahmudah; Yudi Feriandi; Budiman Budiman; Fajar Awalia Yulianto; Kince Sakinah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.144 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1858

Abstract

Upaya pemberantasan sarang nyamuk yang dikenal selama ini adalah gerakan 3M, yaitu Menguras-Menutup-Mengubur. Program ini belum berjalan dengan optimal terbukti dengan masih tingginya insidensi DBD dan masih terjadi kejadian luar biasa. Dibutuhkan monitoring yang kuat untuk mencapai keberhasilan 3M. Penelitian ini bertujuan mempergunakan alat bantu berupa kalender 4M (Menguras-Menutup-Mengubur-Monitor) untuk dipergunakan sebagai alat monitoring dalam program pemberantasan sarang nyamuk. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus menggunakan teknik wawancara mendalam dan diskusi grup terfokus. Metode sampling yang digunakan adalah maximal variation sampling dengan teknik analisis triangulasi. Informan berasal dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, Puskesmas Tamansari, dan Kader Kesehatan di Kelurahan Tamansari selama bulan Juli 2015. Berdasarkan analisis data didapatkan bahwa masalah yang terjadi adalah pengabaian aktivitas rutin seperti 3M karena tidak terdapat mekanisme monitoring dan feedback. Salah satu keunggulan yang ada di lingkungan adalah motivasi dan partisipasi kader. Simpulan, kalender 4M berhasil dikembangkan sebagai sarana monitoring sekaligus edukasi untuk masyarakat. Kalender 4M merupakan alat bantu yang memfasilitasi keberadaan kader dalam mendukung program 3M. 4M CALENDAR AS MONITORING TOOLS TO INCREASE COMMUNITY PARTICIPATION IN DENGUE CONTROL PROGRAMDengue prevention program in Indonesia, 3M, Menguras-Menutup-Mengubur have not been optimal as can be seen from the still high cases of dengue and some outbreak in several areas. A good monitoring process is needed to ensure the success of this program. This study aimed to develop monitoring tools to assist monitoring process in dengue prevention program. This was a qualitative study with case study approach using in-depth interview and focus group discussion with informants from Bandung City Health Department, Tamansari Health center and community cadres on July 2015. Sample method used was maximal variation sampling with triangulation analysis method. Results showed community participation hindered by the lack of monitoring and feedback tools. On the other hands participations from cadres were good that can be used to support 3M program. In conclusion, to assist the monitoring process, a tool—4M (Menguras-Menutup-Mengubur-Monitor) calendar—is developed to assist health cadres in supporting 3M program through monitoring process as well as for education purposes. A strong commitment and collaboration between cadres and community is needed to ensure the success of 3M program.

Page 1 of 1 | Total Record : 10