cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2020)" : 13 Documents clear
Measuring Envy Level among Students of Faculty of Medicine Eka Nurhayati; Susan Fitriyana; Eva Rianti Indrasari
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.736 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i2.6185

Abstract

Envy is a negative emotion that painful and unpleasant, caused by feelings of inferiority when someone compared themselves to others. Envy is divided into benign and malicious envy. Benign envy could be leverage to motivate someone to improve themselves until they reach or even exceed the envied person’s level. In contrast, malicious is destructive that someone could do anything to pull the envied person down to the same level as themselves or even lower. This study aimed to measure benign and malicious envy among the students of the Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung. It was a descriptive study involving 152 students. Measurement made using the Benign and Malicious Envy Scale (BeMaS), which uses 6 points Likert scale during November 2019. Data analysis using Microsoft Excel. The study results showed envy among the students dominated by positive or productive envy, the mean value for benign envy (4.57), and malicious envy (1.92). It showed that benign envy push students to be more competitive rather than destructive envy. The conclusion of this study that the level of envy students of the Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung dominated by benign envy. The faculty is responsible for developing strategies to increase the benign envy level and control the malicious envy level. PENGUKURAN TINGKAT IRI PADA MAHASISWA SEBUAH FAKULTAS KEDOKTERANIri adalah emosi negatif menyakitkan dan tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh perasaan inferior ketika membandingkan diri dengan orang lain. Iri terbagi atas benign envy dan malicious envy. Benign envy bersifat memotivasi seseorang untuk terus memperbaiki diri sampai mencapai bahkan melebihi apa yang dimiliki kompetitornya. Sebaliknya, malicious envy bersifat destruktif ketika seseorang berupaya untuk menarik kompetitornya ke level yang sama dengan dirinya atau bahkan lebih rendah. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat benign dan malicious envy pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melibatkan 152 mahasiswa sebagai subjek penelitian. Pengukuran dilakukan menggunakan Benign and Malicious Envy Scale (BeMaS) selama November 2019  menggunakan 6 poin Skala Likert dan analisis data menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata benign envy (4,57) lebih tinggi dibanding dengan malicious envy (1,92). Hal ini menunjukkan bahwa iri yang bersifat positif atau produktif jauh lebih tinggi dibanding dengan nilai iri yang bersifat destruktif. Simpulan penelitian ini adalah bahwa tingkat iri pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung lebih dominan pada benign envy dibanding dengan malicious envy. Tugas fakultas adalah mengembangkan strategi agar dapat meningkatkan nilai benign envy serta berupaya mengendalikan tingkat malicious envy.
Probability of Hypertension in Advancing Ages of Women Fajar Awalia Yulianto; Nurul Romadhona; Febyana Rosarianto; Vihannis Rahmanda; Salman Barlian; Tresya Anggi Tania; Romy Reynaldi Gunawan; Sumayya Nuri Fuadana Aulia Ul Haque; Rifa Nataputri; Aulia Nur Amalia; Paulina Maresta; Haris Nugroho
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.649 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i2.6340

Abstract

Hypertension is a problem in Indonesia, with 34.1% prevalence. The number reflected the number of hypertensive patients in the 2016 clinic report of Pasirjambu Public Health Center as the most prominent non-communicable disease. This research aimed to discover the specific age of onset and risk factors of hypertension in the village where the health center located. A rapid survey collected the data in May 2017, where 210 women (representing their household) were chosen by randomization inside their respective clusters. Risk factors were analyzed by a robust and parsimonious logistic regression model along with probability count on age as the final prediction. The prevalence of hypertension was 59.5% (95%CI=52.9, 66.2%). Risk factors for hypertension were age (OR=1.06, p=0.00), stress (OR=1.74, p=0.09) and family history (OR=1.99, p=0.03) but the protective factor was consumption frequency of salty food (OR=0.64, p=0.10). In conclusion, a woman would have a 42.9% chance (95%CI=33.7, 52.1%) for having hypertension at 40 years old of age after adjusted by other risk factors. Despite only two modifiable risk factors that can be intervened with, it would be worth trying to decrease the pace of onset in hypertension and the prevalence. KEMUNGKINAN HIPERTENSI BERDASAR ATAS USIA PADA WANITAHipertensi merupakan sebuah masalah di Indonesia dengan prevalensi sebesar 34,1%, angka tersebut terlihat dalam laporan tahunan Puskesmas Pasirjambu sebagai penyakit tidak menular terbanyak di wilayah kerjanya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui usia munculnya hipertensi dan faktor risikonya. Pengumpulan data dilakukan melalui survei cepat di bulan Mei 2017, melibatkan 210 wanita yang mewakili  rumah tangganya dipilih secara random. Faktor risiko dianalisis menggunakan regresi logistik dengan hasil akhir berupa prediksi kemungkinan. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 59,5% (IK95%=52,9; 66,2%). Usia (OR=1,06; p=0,00), stres (OR=1,74; p=0,09) dan riwayat hipertensi dalam keluarga (OR=1,99; p=0,03) menjadi faktor risiko, sedangkan frekuensi konsumsi makanan asin (OR=0,64; p=0,10) menjadi faktor protektif. Setelah adjusted terhadap variabel lain, kemungkinan untuk hipertensi seorang wanita usia 40 tahun sebesar 42,9% (IK95%=33,7; 52,1%). Pencegahan untuk menurunkan prevalensi dan laju insidensi dapat dilakukan pada usia tersebut walaupun hanya ada dua faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
Effect of Integrated Antenatal Care Training on Midwife Service Quality Improvement Melsa Sagita Imaniar; Hadi Susiarno; Adhi Pribadi; Herry Herman; Dida Akhmad Gurnida; Hadyana Sukandar
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.705 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i2.3457

Abstract

Antenatal care (ANC) is the most effective strategy for preventing complications in pregnancy. However, the current quality of midwife antenatal care services is still considered low. One of the indicators used for assessing midwifery service quality is the technical competency indicator that includes history taking, physical examination, case management and follow up, examination recording, and effective information, communication, and education (IEC). This study aimed to measure the effect on integrated antenatal care training on the quality of midwife services. The design was a pre-test and post-test quasi-experimental study conducted in Manonjaya Public Health Center, Tasikmalaya district, from November to December 2017. Simple random sampling was applied to get 20 respondents for each intervention and control groups. The bivariate analyses used in this study were the paired t test and the Mann-Whitney test. Results showed an overall increase in service quality scores in the intervention and control groups by 5.5% and 0.86%, respectively, with a significant difference in the increase between the two groups (p<0.05). Therefore, there is a significant increase in the quality of midwife after implementing the integrated ANC module and training to midwives. PENGARUH PELATIHAN ANTENATAL CARE TERPADU TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN BIDANAntenatal care (ANC) merupakan strategi pencegahan komplikasi dalam kehamilan paling efektif. Namun, kualitas pelayanan antenatal care bidan saat ini dinilai masih rendah. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan adalah indikator kompetensi teknis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, penatalaksanaan dan tindak lanjut kasus, pencatatan pemeriksaan, serta komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh pelatihan antenatal care terpadu terhadap kualitas pelayanan bidan. Desain penelitian ini menggunakan pre-test and post-test quasi-experimental yang dilaksanakan di Puskesmas Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya dari November hingga Desember 2017. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling untuk mendapatkan 20 responden untuk tiap-tiap kelompok intervensi dan kontrol. Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor kualitas pelayanan secara keseluruhan pada kelompok intervensi dan kontrol sebesar 5,5% dan 0,86% masing-masing dengan perbedaan peningkatan yang signifikan antara kedua kelompok (p<0,05). Simpulan, terdapat peningkatan kualitas bidan yang signifikan setelah penerapan modul ANC terintegrasi dan pelatihan kepada bidan.

Page 2 of 2 | Total Record : 13