cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Intizar
ISSN : 14121697     EISSN : 24773816     DOI : -
Intizar Journal (ISSN: 1412-1697) and (E-ISSN: 2477-3816) is a peer-reviewed journal which is published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang publishes biannually in June dan December. This journal publishes current concept and research papers on Islamic Studies and Muslim Communities from interdisciplinary perspective, especially in Education; Culture; Politic; Law; Tafsir; Sufism; and Fiqh.
Arjuna Subject : -
Articles 224 Documents
Konsep Mawaddah dalam Al-Qur'an: Studi Tafsir Maudhu'i tentang Transformasi Makna dan Relevansinya dalam Konteks Sosial Kontemporer Nur Hidayat Muhammad
Intizar Vol 31 No 2 (2025): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v31i2.32420

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna konsep mawaddah dalam Al-Qur'an, transformasi penafsirannya, serta relevansinya sebagai paradigma etika sosial kontemporer. Metode utama yang digunakan adalah tafsir maudhu’i (tematik) yang dipadukan dengan analisis semantik-leksikal dan pendekatan historis-transformatif terhadap khazanah tafsir dan pemikiran Islam dari masa ke masa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mawaddah bukan sekadar sinonim cinta, melainkan konsep unik yang menekankan aspek aktif, timbal balik, dan perwujudan nyata dalam tindakan. Analisis terhadap tujuh ayat Al-Qur’an mengungkap spektrum maknanya yang luas, mencakup ikatan personal (suami-istri), solidaritas komunal, loyalitas politik, hingga parameter hubungan dengan non-Muslim. Kajian historis membuktikan dinamika pemaknaannya yang terus berkembang, dari basis kesukuan pra-Islam menuju basis akidah, lalu dikembangkan dalam diskursus fikih dan tasawuf klasik, wacana kebangsaan modern, hingga kajian ilmu humaniora kontemporer. Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa mawaddah merupakan prinsip relasional Qur’ani yang dinamis dan multifaset. Kelenturannya sepanjang sejarah menunjukkan relevansi abadinya sebagai sumber nilai yang dapat menjawab tantangan kekinian, seperti krisis keluarga, polarisasi sosial, dan distorsi relasi digital. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengayaan metode tafsir tematik integratif, tetapi juga menawarkan kerangka etis berbasis teks suci untuk memperkuat kohesi sosial di tengah fragmentasi dunia modern.
Menjaga Identitas di Era Globalisasi: Respons dan Strategi Pelestarian Budaya Melayu Islam Nilawati; Munir; Izomiddin; Mohammad Syawaludin; Chelsea Zia Areza; Ria Astina
Intizar Vol 31 No 2 (2025): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v31i2.33086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi budaya Melayu Islam dengan arus globalisasi, mengidentifikasi bentuk perubahan budaya yang terjadi, mengkaji respons masyarakat, serta merumuskan strategi penguatan identitas budaya Melayu Islam agar tetap relevan dan berkelanjutan di era global. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan perspektif fenomenologis dan sosiokultural. Data diperoleh melalui studi literatur, analisis dokumen, dan observasi non-partisipatif terhadap perkembangan budaya Melayu Islam, khususnya pada aspek bahasa, praktik adat, kesenian, pola komunikasi digital, dan aktivitas budaya yang terdokumentasi pada media daring periode 2023–2025. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola interaksi, perubahan budaya, respons sosial, dan strategi pelestarian budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa globalisasi memengaruhi budaya Melayu Islam melalui intensifikasi penggunaan teknologi digital, media sosial, dan mobilitas informasi yang mempercepat pertukaran nilai global. Perubahan budaya tampak pada pergeseran nilai sosial, penggunaan bahasa daerah, ekspresi seni, praktik keagamaan, serta struktur sosial masyarakat. Meskipun menghadapi tekanan budaya global, masyarakat Melayu Islam menunjukkan respons selektif dengan menerima nilai-nilai positif dan menolak nilai yang bertentangan dengan adat dan syariat. Strategi penguatan identitas budaya dilakukan melalui digitalisasi budaya, revitalisasi tradisi, penguatan pendidikan budaya, serta peran lembaga adat sebagai penjaga nilai lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya Melayu Islam tidak hanya bertahan, tetapi terus beradaptasi melalui proses negosiasi identitas yang memungkinkan keberlanjutan budaya di tengah arus globalisasi.
The Veil and The Issue of Radicalism: A Study of The Phenomenon of Veil Wearing in Islamic Higher Education Abdul Wadud Nafis; Zahratul Maujudatul Mufidah; As'ari
Intizar Vol 32 No 1 (2026): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v32i1.34825

Abstract

This study aims to analyze the phenomenon of wearing the veil (Niqab) and its relationship to the issue of radicalism at UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember. The study used a qualitative approach with a phenomenological method, while data collection was conducted through in-depth interviews, observation, and documentation. Data analysis went through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions, while data validity was tested through triangulation of sources and techniques. The results showed that Niqab wearing was influenced by factors of self-identity, hijrah symbols, religious clothing trends, social media, and the desire to protect oneself from a religious perspective. Wearing the veil also creates barriers to nonverbal communication and negative stereotypes that associate it with radicalism. The issue of radicalism was influenced by a weak understanding of religious moderation, exposure to extreme ideologies through digital media, the social environment, and psychological and economic factors of students. Countermeasures were carried out through strengthening religious moderation, positive student activities, early detection, cooperation with authorities, and inclusive dialogue. Thus, the phenomenon of wearing the veil shows that religious symbols cannot be directly linked to radicalism.
Internalisasi Nilai Ekoteologi dalam Membentuk Karakter Peduli Lingkungan di Pondok Pesantren Bunayar; Dwi Kartika Yanti; Andieni Putri Olivia Arifin; Muhammad Rizal Habib; Amirul Muttaqin; Bima Fandi Asy’arie
Intizar Vol 31 No 2 (2025): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v31i2.35027

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi proses internalisasi nilai ekoteologi, mengetahui peran aktor dalam budaya praktik gerakan ekoteologi, dan menganalisis faktor penghambat penguatan karakter peduli lingkungan di pondok pesantren Hidayatul Qur’an. Metode studi ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data didapatkan melalui wawancara mendalam dengan 25 informan sekaligus dikuatkan melalui pengamatan langsung dan analisis dokumen. Penelitian ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai ekoteologi dilakukan dengan mekanisme penguatan berdasarkan substansi nilai Islam. Peran aktor IBS menggunakan metode keteladanan, pembiasaan, pengawasan, pemberian hukuman, dan refleksi. Selain itu, budaya praktik dilaksanakan melalui berbagai kegiatan seperti kerja bakti, piket kebersihan, pengelolaan sampah, hemat air/listrik, larangan merusak lingkungan, penerapan gaya hidup sehat. Namun, lembaga IBS memiliki beberapa kendala dalam mengedukasi lingkungan, konsistensi peraturan, budaya kedisiplinan, optimalisasi pengawasan, dan keterbatasan infrastruktur. Oleh sebab itu, studi ini memiliki kontribusi dan berimplikasi pada penguatan kebijakan, peningkatan konsistensi disiplin, serta optimalisasi sarana dan prasarana agar praktik budaya lingkungan berkelanjutan dapat berjalan efektif dan sistematis.