cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2008): Instrumentational And Robotic" : 15 Documents clear
AUTONOMOUS MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE FORMAL LOGIKA TEMPORAL LINIER Irvan Lewenusa; Wisnu Ananta Kusuma
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 2 (2008): Instrumentational And Robotic
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Logika temporal linier (LTL) dikontruksi dari formulasi logika tingkah laku sistem yang diharapkan dari waktu ke waktu secara linier. Dengan demikian jika pada bagian atau waktu tertentu terjadi kesalahan pada sistem, kesalahan itu dapat segera diantisipasi. Dalam hal ini penggunaan perencanaan logika temporal linier tidak hanya digunakan pada autonomous mobile robot untuk mencapai sebuah tujuan atau menghindari rintangan, tetapi juga untuk perangkaian, perluasan atau penugasan sementara (temporal ordering) pada sebuah rangkaian tugas yang berbeda dalam satu waktu. Dalam LTL untuk menghasilkan lintasan robot dilakukan tiga tahap tahap aktivitas, yaitu pendefinisan abstraksi diskrit pergerakan robot, perencanaan logika temporal menggunakan model checking, dan implementasi kontinu rencana diskret (continuous implementations of discrete plan).Pada penelitian ini, untuk membuktikan apakah model perencanaan logika temporal linier yang dibuat sebelumnya memenuhi spesifikasi tingkah laku sebuah mobile robot yang dimaksud, maka dibuatlah sebuah autonomous mobile robot sebagai alat uji implementasi formula logika temporal linier tersebut.  Untuk membangun sebuah autonomous mobile robot tersebut diperlukan beberapa perangkat elektronika di antaranya mikrokontroler, sensor, kompas, dan motor penggerak. Selain itu dilakukan pula simulasi dengan perangkat lunak MOBOTSIM versi 1.0.03.Implementasi formulasi dengan simulasi menggunakan  MOBOTSIM menunjukkan hasil yang lebih ideal daripada pembangunan formulasi pada robot sebenarnya Hal ini disebabkan pergerakan protipe mobile robot banyak dipengaruhi faktor luar  yang dalam penelitian ini diabaikan.
ANALISA SISTEM SECONDARY SURVEILLANCE RADAR UNTUK TRACKING ROKET Wahyu Widada; Sri Kliwati
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 2 (2008): Instrumentational And Robotic
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mulai tahun ini LAPAN mengembangkan Sistem Secondary Surveillance RADAR (Radio Detecting and Ranging) untuk informasi jarak dan lokasi pada saat roket terbang. Pengembangan ini meliputi hardware dan pemrosesan signalnya. Tulisan ini membahas analisa akurasi jarak yang dapat diukur berdasarkan frekuensi signal RADAR dan sampling data akuisisinya. Signal RADAR dari 1 MHz hingga 10 MHz, dengan sampling data 1 GHz. Diperoleh hasil pengukuran dari sistem yang sedang dikembangkan cukup akurat untuk  aplikasi tracking roket (<5 meter) hingga jarak jangkau 50 km.
OPTIMASI PENGARAHAN PANCARAN KE SATELIT KOMUNIKASI BERBASIS ANTENA ARRAY 10 X 10 ELEMEN DENGAN PENGATURAN PENCATU FASA MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Aswoyo, Budi
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 2 (2008): Instrumentational And Robotic
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada malakah ini, dikembangkan konsep dasar antena array fasa 10 x 10 elemen dengan mengoptimasi arah pancaran utamanya (elevasi dan azimuth) ke satelit komunkasi yang dituju, dan sekaligus menekan adanya sinyal gangguan yang datang dari arah-arah lain, menggunakan algoritma genetika (AG). Algoritma ini berfungsi untuk mencari nilai koefisien beda fasa pencatu pada setiap elemen antena array, sehingga menghasilkan pola pancaran yang mengoptimasi kualitas sinyal, yakni perbandingan antara level sinyal pada arah satelit komunikasi dan jumlah level-level sinyal pada arah-arah gangguan.Dalam simulasi, elemen antena array diasumsikan sebagai antena isotropis dengan konfigurasi berbentuk planar 10 x 10 elemen, dan jarak antar elemen  setengah panjang gelombang. Parameter AG ditentukan: jumlah populasi 100; jumlah generasi 100; probabilitas pindah-silang (cross over) 0,85 dan probabilitas mutasi  0,1.Sebagai ilustrasi, berturut-turut pancaran utama antena diarahkan ke arah satelit (elevasi=0o, azimuth=0o) dengan arah gangguan (40o, 40o); pancaran utama (-30o, -30o) dengan arah gangguan (10o, 10o); pancaran utama (30o, 30o) dengan  arah gangguan (-20o, -20o) dihasilkan kualitas sinyal optimal  61,60 dB;  64,55 dB; 64,94 dB.Dari hasil analisa diperoleh kesimpulan, bahwa telah dikembangkan konsep dasar antena array fasa 10 x 10 elemen sebagai pangarahan arah optimum ke satelit komunikasi  dan masing-masing menghasilkan kualitas sinyal  61,60 dB;  64,55 dB dan 64,94 dB (di atas 50 dB). Bila diimplementasikan, perlu dipertimbangkan tentang karakteristik propagasi sinyal RF sebenarnya, juga banyaknya elemen antena array yang digunakan dan sistem kontrol pencatuan fasa yang handal.
DESAIN DAN ANALISIS PENDEKODE VITERBI MENGGUNAKAN SATU BUTTERFLY BERBASIS BAHASA VHDL Iswahyudi Hidayat
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 2 (2008): Instrumentational And Robotic
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengkode konvolusi telah digunakan secara luas pada sistem komunikasi, khususnya pada sistem komunikasi wireless yang berkembang saat ini. Pada bagian pengirim, pengkode konvolusi bekerja dengan membangkitkan keluaran data stream dari bit-bit masukan. Sedangkan penerima akan melakukan proses pendekode untuk memperoleh kembali bit informasi asli sebelum melewati pengkode konvolusi. Algoritma yang banyak diusulkan penggunaannya pada bagian penerima adalah algoritma viterbi.Penelitian ini membahas tentang desain pendekode viterbi menggunakan bahasa pemrograman VHDL (Very High Speed IC Description Language). Desain yang diusulkan menggunakan sebuah butterfly pada bagian penerima. Pada umumnya butterfly yang digunakan merupakan fungsi persamaan 2K–1. Dengan K adalah parameter Constrain Length. Di sisi lain fungsi dari setiap butterfly dalam proses pendekode viterbi adalah sama. Sehingga pada penelitian ini akan coba didesain penerima viterbi dengan sebuah blok butterfly yang digunakan secara bergantian. Nilai constrain length (K) yang digunakan adalah K = 7 dan code rate = ½ (satu per dua). Dengan K = 7 lazimnya jumlah butterfly yang diperlukan adalah 32.Hasil desain akhir dari penelitian ini adalah sintesis dan layout rangkaian pendekode viterbi. Hasil sintesis rangkaian berupa area sintesis dan frekuensi kerja yang dihasilkan. Proses layout hasil desain menggunakan standard teknologi CMOS 0,18 mikron. Pada proses layout, hasil penelitian yang ditunjukkan berupa frekuensi kerja, kecepatan data, ukuran core, dan ukuran chip.
PENGENDALIAN MOTOR DC MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION Wahyudi Wahyudi; Sorikhi Sorikhi; Iwan Setiawan
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 2 (2008): Instrumentational And Robotic
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaringan syaraf backpropagation merupakan jaringan syaraf  yang telah umum digunakan dalam beragam aplikasi kontrol. Dari segi arsitektur, backpropagation merupakan jaringan syaraf perceptron dengan banyak layer (multilayer), sehingga jaringan syaraf ini dikenal juga sebagai jaringan syaraf perceptron multilayer. Nama backpropagation diambil dari proses pembelajaran yang melibatkan penghantaran balik sinyal error dari output layer menuju layer sebelumnya hingga layer sebelum input layer. Jaringan syaraf backpropagation digunakan sebagai kontroler dalam pengaturan kecepatan motor DC. Skema yang digunakan dalam pengontrolan adalah fix stabilizing controller. Dalam skema ini, jaringan syaraf berperan sebagai controller dimana sinyal training yang digunakan berasal dari sinyal keluaran penguat proporsional. Pengujian dilakukan pada pengaruh learning, jumlah hidden layer, dan penguat proporsional terhadap respon transien plant. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jaringan dengan satu hidden layer lebih cepat mencapai kondisi tunak dibandingkan jaringan dengan dua hidden layer. Nilai penguat proporsional dimana respon plant masih stabil adalah 2.

Page 2 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2008 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 1, No 1 (2021): Inovasi Teknologi dan Pengolahan Informasi untuk Mendukung Transformasi Digital Vol 1, No 1 (2020): Peran Digital Society dalam Pemulihan Pasca Pandemi Vol 1, No 1 (2018): Landscape Industri Internet Dampak Perilaku Marketing Indonesia Vol 1, No 1 (2018): Landscape Industri Internet Dampak Perilaku Marketing Indonesia Vol 1, No 1 (2017): “e-Defense : Menjaga keamanan data menghadapi cyber warfare untuk memperkokoh ke Vol 1, No 2 (2016): Semnasif 2016 Vol 1, No 2 (2016): Semnasif 2016 Vol 1, No 1 (2015): Informatika Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Vol 1, No 1 (2015): Informatika Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Vol 1, No 1 (2014): Business Intelligence Vol 1, No 5 (2013): Network And Security Vol 1, No 4 (2013): Intelligent System dan Application Vol 1, No 3 (2013): Computation And Instrumentation Vol 1, No 3 (2013): Computation And Instrumentation Vol 1, No 2 (2013): Cloud Computing Technology Vol 1, No 1 (2013): Information System and Application Vol 1, No 1 (2013): Information System and Application Vol 1, No 5 (2012): Geoinformatic And GIS Vol 1, No 5 (2012): Geoinformatic And GIS Vol 1, No 4 (2012): Information System and Application Vol 1, No 4 (2012): Information System and Application Vol 1, No 3 (2012): Intelligent System dan Application Vol 1, No 3 (2012): Intelligent System dan Application Vol 1, No 2 (2012): Network And Security Vol 1, No 1 (2012): Computation And Instrumentation Vol 1, No 5 (2011): Information System and Application Vol 1, No 5 (2011): Information System and Application Vol 1, No 4 (2011): Intelligent System dan Application Vol 1, No 3 (2011): Network And Security Vol 1, No 2 (2011): Instrumentational And Robotic Vol 1, No 2 (2011): Instrumentational And Robotic Vol 1, No 1 (2011): Computatinal Vol 1, No 5 (2010): Information System And Application Vol 1, No 5 (2010): Information System And Application Vol 1, No 4 (2010): Intelligent System dan Application Vol 1, No 3 (2010): Network And Security Vol 1, No 3 (2010): Network And Security Vol 1, No 2 (2010): Instrumentational And Robotic Vol 1, No 1 (2010): Computatinal Vol 1, No 1 (2010): Computatinal Vol 1, No 6 (2009): E-Democracy Vol 1, No 6 (2009): E-Democracy Vol 1, No 5 (2009): Information System And Application Vol 1, No 5 (2009): Information System And Application Vol 1, No 4 (2009): Intelligent System dan Application Vol 1, No 3 (2009): Network And Security Vol 1, No 2 (2009): Instrumentational And Robotic Vol 1, No 1 (2009): Computatinal Vol 1, No 1 (2009): Computatinal Vol 1, No 5 (2008): Information System And Application Vol 1, No 5 (2008): Information System And Application Vol 1, No 4 (2008): Network And Security Vol 1, No 3 (2008): Intelligent System dan Application Vol 1, No 3 (2008): Intelligent System dan Application Vol 1, No 2 (2008): Instrumentational And Robotic Vol 1, No 1 (2008): Computational More Issue