cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Tesa Arsitektur
ISSN : 14106094     EISSN : 24606367     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2013)" : 14 Documents clear
PEMENUHAN AIR BERSIH METODA RAIN WATER HARVESTING SKALA RUMAH TINGGAL SEBAGAI SOLUSI TEKNOLOGI YANG EKOLOGIS (Meeting the Clean Water Sufficiency by Implementing Residential-Scaled Rain Water Harvesting Method as a Ecologically Technological Solution) Suskiyatno, F .X. Bambang
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAC.T Lack of clean water supply is one of the serious societal problems, especially in big cities in Indonesia. Water is usually got from groundwater and shallow groundwater resources. They having low income can only get surface water sources (rivers) that is very low qualified and to bring assorted illness. Actually there is another source spending abundant of clean water that can be utilized besides reducing the environmental destruction impacts. It is rain water. As it is known that rain, for the time being, tend to puddle and to lead to flooding, especially in downtowns. Rain also causes land- sliding because there is no open land remaining to absorb the rainwater. All ground surfaces are coated with a water-resistant pavement, including watelWays. Rain water utilization as clean water will minimize the possibility of these effects. Such rainwater utilization is known as Rain water Harvesting System for getting clean water. By having certain technologies rain water utilization can be easily done at a residential scale, both simple to advanced technologies. Keywords: clean water, environment, rain water. ABSTRAK Kurangnya pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat merupakan persoalan yang cukup besar. Terutama di kota-kota besar di Indonesia. Sumber air bersih tersebut adalah dari air tanah dangkal maupun air tanah dangkal. Sementara bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah hanya dapat memanfaatkan sumber air permukaan (sungai) dengan kualitas sangat rendah dan berindikasi menyebabkan penyakit. Sebenarnya terdapat sumber air bersih lain yang tidak kurang dalam jumlah yang dapat dimanfaatkan dan justru dapat mengurangi dampak perusakan lingkungan adalah air hujan. Seperti diketahui bahwa pada masa sekarang, hujan lebih mengakibatkan genangangenangan air bahkan banjir di daerah bawah dan juga kelongsoran tanah, karena hampir tidak tersisanya tanah terbuka di derah perkotaan yang mampu menyerap air hujan. Semua permukaan tanah dilapis dengan perkerasan yang kedap air, termasuk juga saluran air. Pemanfaatan air hujan sebagai air bersih justru dapat meminimalisir kemungkinan dampakdampak tersebut. Bentuk dari pemanfaatan air hujan sebagai air bersih dikenal dengan Sistem Pemanenan Air Hujan (Rain Water Harvesting) untuk air bersih. Dengan teknologi tertentu pemanfaatan air hujan dapat dilakukan dengan mudah pada skala rumah tingga/ baik dengan teknologi yang sederhana sampai tinggi.
POLA PEMBAGIAN LAHAN PEKARANGAN DI RUMAH TRADISIONAL JAWA BERDASAR SISTEM PEMBAGIAN WARISAN, STUDI KASUS: JERON BETENG, KRATON,YOGYAKARTA (House Yard Distribution Pattern in Javanese Traditional Houses Based on the Inheritance Distribution System Case Stu Tarigan, Riandy
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Culture always changes and evolves in accordance with the changing nature of human thought of the area. The change embodies the nature of the contradictory people s thought between how to defend the heritage of the past and the changes caused by the increase of the peoples needs. One of the aspects of traditional house change is about the change of the ownership caused by the division of inheritance. The ownership change is to be one of the significant problems in structuring the traditional settlement. The ownership change will indirectly lead to the changes of the spatial structure and traditional building mass caused by the increasing needs of each residence. In the end, the distribution of land ownership is possibly to lead to decreased quality of traditional neighborhood as a cultural heritage that should factually be preseNed. The study was conducted at JI. Siliran, Jeron Beteng, Kraton Yogyakarta by applying qualitative-empirical method. The data were obtained through in-depth inteNiew techniques. This study focused on traditional houses that had been handed down as inheritances. The results of this study showed that house-yard distribution pattem could be used as a reference in arranging the traditional houses. Keywords: family development, inheritance distribution, house yard pattern. ABSTRAK Budaya selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan alam pemikiran dari manusia pada tempat itu.Perubahan tersebut merupakan perwujudan alam pemikiran masyarakat yang bersifat kontradiktif antara mempertahankan masa lalu dengan perubahan yang disebabkan oleh perkembangan kebutuhan masyarakat. Salah satu aspek dari perubahan dalam rumah tradisional adalah perubahan kepemilikan yang disebabkan oleh pembagian warisan. Perubahan kepemilikan ini merupakan salah satu permasalahan signifikan dalam penataan pada permukiman tradisional. Perubahan kepemilikan secara tidak langsung akan mengakibatkan perubahan tata ruang dan massa bangunan tradisional yang diakibatkan perkembangan kebutuhan dari masing-masing rumah tinggaL Pada akhirnya, pembagian kepemilikan lahan dapat mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan permukiman tradisional sebagai warisan budaya yang perlu dipertahankan. Penelitian dilakukan di JI. Siliran, Jeron Seteng, Kraton Yogyakarta dengan metode kualitatifempiris. Data didapatkan melalui teknik wawancara mendalam. Kajian ini ditekankan pada rumah tradisional yang telah mengalami pembagian warisan. Dari penelitian tersebut didapat pola pembagian lahan pekarangan yang dapat menjadi rujukan dalam penataan rumah tradisional. Kata Kunci: perkembangan keluarga, pembagian warisan, pola pekarangan.
DESAIN RUMAH HEINZ FRICK YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN TERJANGKAU (Heinz Fricks House Design that is Environmentally Friendly and Affordable) Tanuwidjaja, Gunawan; Mulyono, Lo Leonardo Agung; Silvanus, Devi Calista
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The house design made by Dr.Heinz Frick, Semarang, had design features that were environmentally friendly and affordable. Firstly, the house used local labor as well as local materials beside secondhand building materials and environmentally friendly materials. Secondly, it was very functionally designed by having adequate space size, attractive scenery and adequate lighting. Thirdly, the house was built to create public awareness about sustainable design although it had not entirely been successful because of the economic and social barriers Indonesian people. Fourthly, preservation of cultural diversity was verily considered by Dr. Frick, especially Javanese culture having the concepts of the pavilion, joglo (Javanese traditional building design), and implementation of the terrace as a dining room and as a room for social interaction with the local community. Fifthly, strategy of maximizing cross air circulation and of reducing the moisture was applied in the design of the house. This was done by an open design using nako glass windows, ventilation holes, and jalousie doors that were fitted with wire gauze. Finally, water saving strategy was also applied in the house design. This was done by using rainwater for any use but not for drinking. Meanwhile, water from the Regional Water Company (PDAM) was used for drinking and cooking. It could be concluded that Dr. Heinz Fricks house design was to be a proper solution for Indonesia because of its appropriate and affordable design. Keywords: house design, environmentally friendly, affordable. ABSTRAK Desain Rumah karya Dr. Heinz Frick, Semarang, memiliki fitur - fitur desain yang ramah lingkungan sekaligus tetap terjangkau. Hal ini dimulai dengan menggunakan tenaga lokal dan material lokal, material bangunan bekas, dan material ramah lingkungan. Kedua, rumah ini didesain secara sangat fungsional dengan ukuran ruang yang memadai, pemandangan yang menarik serta pencahayaan yang memadai. Ketiga, rumah ini dibangun untul menciptakan tentang kesadaran masyarakat untuk desain berkelanjutan, walaupun belum berhasil sepenuhnya karena hambatan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia. Keempat, pelestarian keragaman budaya sangat diperhatikan oleh Dr. Frick, terutama budaya Jawa yang memiliki kansep pendapo, jagla, dan diterapkannya teras sebagai ruann makan dan interaksi sosial dengan komunitas setempat. Kelima, Strategi memaksimalkan sirkulasi udara silang dan mengurangi kelembabafl diterapkan dalam desain rumah ini. Hal ini dilakukan dengan desain bukaan dengan dijumpainya jendela nako, lubang ventilasi, dan pintu jalusi yang dilengkapi dengan kawat kasa. Terakhir, strategi penghematan air diterapkan juga dalam desain rumah ini. Hal ini dilakukan dengan pemanfaatan air hujan untuk penggunaan air yang tidak diminum. Sementara, air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) penggunaan air yang tidak diminum. Sementara, air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) masih digunakan untuk minum dan memasak. Dapat disimpulkan bahwa desain rumah Dr. Heinz Frick ini merupakan solusi yang tepat untuk Indonesia karena desainnya yang tepat guna dan terjangkau. Kata Kunci : desain rumah, ramah lingkungan, terjangkau
PERAN BALKON PADA RUMAH SUSUN DAN APARTEMEN (Role of Balcony of Flats and Apartments) Septyadinda AD, Lucky; Sari, Ilga Kumala; Hariyono, Paulus
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Green space management in flats and aparlments was a hard and complicated thing to implement. Therefore, there was hardly to find people utilizing the parls of flats and apartments as green spaces. Flats and aparlments are considered as verlical buildings having minimal land so that they often unconcern with the needs of green spaces although such spaces were ve/} necessa/}. This study was intended to learn the use of the balconies of the flats and aparlments to be alternative green open spaces. The problem arising was how a balcony was possibly to be used as a medium of open green space. The study applied three approaches. First was literatures study that was done to obtain seconda/} data. Second was comparative study by comparing several flats and apartments and the third was a case study by solving the cases of buildings balconies that could be associated with the issues. An analysis was then conducted to find a solution of the existing problems. The findings of the study showed: firstly, greening could be done on the balcony to reduce excessive heat. Secondly, a balcony having greene/} would certainly add the aesthetic value. The balcony utilization for greening in flats and apartments could be a good alternative. Keywords: balcony, flats, aparlements ABSTRAK Pengelolaan ruang hijau pada rumah susun dan apartemen merupakan suatu hal yang rumit untuk diterapkan. Karena itu jarang sekali ada pengelola yang memanfaatkan bag ian-bag ian dari rumah susun dan apartemen sebagai ruang hijau. Rumah susun dan apartemen dianggap bangunan vertikal yang minim lahan sehingga sering terlupakan ruang hijau yang sangat penting. Penelitian ini ingin mempelajari pemanfaatan balkon rumah susun dan apartemen untuk digunakan sebagai altematif ruang terbuka hijau. Permasalahan yang muncul adalah seberapa jauh balkon dapat digunakan sebagai media ruang hijau terbuka. Penelitiaan menggunakan tiga pendekatan, yaitu pertama, studi literatur yang dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder. Kedua, studi banding dengan membandingkan beberapa rumah susun dan apartemen. Ketiga, studi kasus, dengan memecahkan kasuskasus balkon pada bangunan yang ada yang berhubungan dengan permasalahan terkait, kemudian mencari jalan keluar dengan analisis. Temuan penelitian menunjukkan, pertama, penghijauan dapat dilakukan di balkon untuk menanggulangi panas yang berlebihan. Kedua, balkon dengan penghijauan menambah nilai estetika. Pemanfaatan balkon untuk penghijauan pada rumah susun dan apartemen merupakan alternatif yang baik. Kata Kunci : balkon, rumah susun, apartemen.
PENGARUH MITOS PADA BENTUKAN RUANG BERMUKIM DI DESA NGADAS KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG Endarwati, Maria Christina
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT A myth is an event in the past of a certain region or area that was believed mystical or supernatural. A myth is also believed to greatly affect peoples lives in terms of their belief system so that it arises rules and rituals that are then performed by the people of the region. Until now many people remain using mystical values as bases affecting the living space concepts. However, a myth could possibly change together with the changes of the societal values. This research took the case of the people of Tengger at Ngadas rural area of Malang District which remained embracing their original belief system named Budho Tengger. This belief said that the land around was holy and thus it affected the community to maintain and preserve the surrounding environment. The people were not allowed to carelessly cut the trees down because such an act was believed fatalistic to those conducting. Of the myth a typical space formation of living space arouses. This study used qualitative research method, meaning to analyze the existing myth based on the peoples characteristics and to analyze the occurring space formation. Based on the study results is could be concluded that the characteristics of Ngadas community were still traditional and were highly influenced by the myth passing from one generation to the other generations. In addition, there were traditional rules and beliefs of Tengger people that affected their living space formation, namely the sacred space and the profane space. Keywords: living space formation, myth, Tengger tribe. ABSTRAK Mitos adalah peristiwa dalam suatu daerah pada masa lampau yang bersifat mistis atau gaib dan diyakini dapat sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam hal kepercayaan, sehingga timbul aturan-aturan dan ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat dari suatu daerah. Hingga saat ini sebagian masyarakat masih menggunakan nilai-nilai mistis sebagai landasan yang dapat mempengaruhi konsep ruang bermukim. Namun mitos ini dapat mengalami perubahan sesuai dengan perubahan nilai-nilai yang dianut masyarakatnya. Penelitian ini mengambil kasus pada suku masyarakat Tengger di Desa Ngadas, Kabupaten Malang yang masih menganut kepercayaan asli (Budho Tengger) yang berkeyakinan bahwa tanah di sekitar adalah suci sehingga mempengaruhi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan disekitarnya dengan tidak menebang pohon sembarangan karena diyakini akan berakibat fatal bagi yang melakukannya. Dari mitos tersebut ternyata juga menimbulkan suatu bentukan ruang khas di dalam ruang bermukim.
ARSITEKTUR MAXIMALIS, MUNGKINKAH TERJADI DI INDONESIA? (Maximalist Architecture, Will It Happpen in Indonesia ?) Muljadinata, Albertus Sidharta
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The architectural development in architecture period tends to change along with the advance of the technology. Globalization a/so takes part in architectural development. Beside the advance of the technology, there are a lot of architects who brave enough to explore with kinds or architecture and it creates Maximalist Architecture. Etymologically, maximalist architecture can be described as science building or the art of building which is based on the unlimited property of objects. Between 1970-1980, architecture started to develop to many ways to the originality and individuality. It happened to come out from the simplicity, functionality and the international style. At that time, many architects had the same style and it lead to the tendency of not creating new sty/e. Yet, it changed. Therefore a lot of architects started to create new style, which later will be called post-modernism. In big cities in Indonesia, particularly in Java Island (Jakarta, Bandung, Surabaya), there are tendency of the development of architecture luxurious private houses which belongs to different person, doesnt want to have the same style with the house besides it; supported by the advance of the material technology, so the style comes to Maximalist Architecture. Key words: maximalist architecture, houses. ABSTRAK Perkembangan bentuk arsitektural selalu berada dalam periode arsitektur yang cenderung selalu berubah, seiring dengan kemajuan teknologi. Arus globalisasi juga memberikan banyak pengaruh pada perkembangan arsitektur. Selain kemajuan teknologi dan semakin banyaknya arsitek yang berani bereksplorasi dengan bentuk-bentuk arsitektur, maka timbul gejala Arsitektur Maximalis. Secara etimologis, arsitektur maximalis dapat diartikan sebagai ilmu bangunan atau seni membangun yang berlandaskan pada sifat-sifat ketidak-terbatasan. Antara tahun 1970-1980, arsitektur mulai berkembang menjadi berbagai arah yang berbeda dalam mencari keaslian dan individualitasnya. Ini sebenarnya telah dimulai untuk memenuhi keinginan untuk keluar dari simplisitas, fungsionalitas dan dari gaya international style. Pada waktu itu, banyak arsitek yang menjurus pad a gaya arsitektur yang sarna, sehingga menjadi suatu kecenderungan untuk tidak menciptakan hal-hal yang baru lagi. Namun hal ini mulai berubah, sehingga banyak arsitek mulai memiliki pemikiran-pemikiran baru, yang nantinya akan disebut dengan post-modernism. Pada kota-kota besar di Indonesia, terutama di pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya), ada kecenderungan perkembangan bentuk-bentuk arsitektur bangunan rumah mewah mengarah pada sosok yang berbeda, tidak mau memiliki kesamaan bentuk dengan bangunan rumah di sebelahnya; didukung dengan kemajuan teknologi bahan yang demikian cepat, maka dijumpai bentuk-bentuk yang mengarah pada Arsitektur Maximalis. Kata kunci: arsitektur maximalist, rumah tinggal.
STRUKTUR RUANG PERMUKIMAN SUKU ATONI BERBASI BUDAYA, STUDI KASUS: KAMPUNG ADAT TAMKESI, KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Tallo, Amandus Jong
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Since the olden days the culture of settling was realized as one of the important heritages handed down from generation to generation. In a society that firmly upheld their culture, such as Balinese, the settlement structure was determined by the cosmic system. It was concretized by the existence of the mountain as the orientation of a sacred space and the ocean as the orientation profane space. In Yogyakarla the settlement structure was determined by a persons life cycle that was described by South Ocean to Mount Merapi. One of the philosophies in determining a spatial structure was based on kinship system and sex. Atoni people arranged their settlement space based on kinship in which the spatial organization of was formed on the basis of gender or sexual difference. Atonis settling culture could be recognized by spatial symbolism that was strongly associated with sexual dichotomy. Each cardinal direction that was associated with only one sex was not always consistent because the head of the community was called "man-woman". He was indeed a real man but he also did womens jobs. A house was specifically placed with that particular direction that was directly linked to the holding of the ceremony of the building construction. This study explained about settling space construction that was based on the culture of A toni tribe. Keywords: spatial structure, culture, Atoni. ABSTRAK Sejak dahulu dapat disadari bahwa budaya bermukim adalah salah satu warisan penting yang diturunkan secara turun-temurun. Dalam masyarakat yang memegang teguh budaya, misalnya di Bali, struktur permukiman ditentukan oleh sistem kosmis yang diwujudkan melalui gunung sebagai orientasi ruang yang sakral, dan laut sebagai orientasi ruang yang profane Pada masyarakat Jogja, struktur permukiman ditentukan oleh sirklus hidup seseorang yang digambarkan melalui laut selatan hingga gunung Merapi. Salah satu filosofi dalam mementukan struktur ruang adalah sistem kekerabatan dan jenis kelamin. Masyarakat suku Aton; juga menata ruang permukiman berdasarkan hubungan kekerabatan, dimana organisasi ruang terbentuk atas dasar jenis kelamin. Budaya bermukim orang Atoni dapat dikenal dari simbolisme spasialnya, yang sangat terkait dengan diktonomi jenis kelamin. Setiap arah kardinal dikaitkan dengan satu jenis kelamin tidak selalu sejalan, karena kepala suku disebut npria-wanita" yang memang seorang pria, tetapi melakukan pekerjaan wanita. Rumah secara khusus diletakan dengan aturan arah khusus yang langsung dikaitkan dengan penyelenggaraan upacara dalam pend irian bangunan. Melaui kajian ini dapat dilihat adanya pembentukan ruang permukiman berbasis budaya Suku Atoni. Kata Kunci: struktur ruang, budaya, Atoni.
ARSITEKTUR MAXIMALIS, MUNGKINKAH TERJADI DI INDONESIA? (Maximalist Architecture, Will It Happpen in Indonesia?) Albertus Sidharta Muljadinata
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v11i1.225

Abstract

ABSTRACT The architectural development in architecture period tends to change along with the advance of the technology. Globalization a/so takes part in architectural development. Beside the advance of the technology, there are a lot of architects who brave enough to explore with kinds or architecture and it creates Maximalist Architecture. Etymologically, maximalist architecture can be described as science building or the art of building which is based on the unlimited property of objects. Between 1970-1980, architecture started to develop to many ways to the originality and individuality. It happened to come out from the simplicity, functionality and the international style. At that time, many architects had the same style and it lead to the tendency of not creating new sty/e. Yet, it changed. Therefore a lot of architects started to create new style, which later will be called post-modernism. In big cities in Indonesia, particularly in Java Island (Jakarta, Bandung, Surabaya), there are tendency of the development of architecture luxurious private houses which belongs to different person, doesn't want to have the same style with the house besides it; supported by the advance of the material technology, so the style comes to Maximalist Architecture. Key words: maximalist architecture, houses. ABSTRAK Perkembangan bentuk arsitektural selalu berada dalam periode arsitektur yang cenderung selalu berubah, seiring dengan kemajuan teknologi. Arus globalisasi juga memberikan banyak pengaruh pada perkembangan arsitektur. Selain kemajuan teknologi dan semakin banyaknya arsitek yang berani bereksplorasi dengan bentuk-bentuk arsitektur, maka timbul gejala Arsitektur Maximalis. Secara etimologis, arsitektur maximalis dapat diartikan sebagai ilmu bangunan atau seni membangun yang berlandaskan pada sifat-sifat ketidak-terbatasan. Antara tahun 1970-1980, arsitektur mulai berkembang menjadi berbagai arah yang berbeda dalam mencari keaslian dan individualitasnya. Ini sebenarnya telah dimulai untuk memenuhi keinginan untuk keluar dari simplisitas, fungsionalitas dan dari gaya international style. Pada waktu itu, banyak arsitek yang menjurus pad a gaya arsitektur yang sarna, sehingga menjadi suatu kecenderungan untuk tidak menciptakan hal-hal yang baru lagi. Namun hal ini mulai berubah, sehingga banyak arsitek mulai memiliki pemikiran-pemikiran baru, yang nantinya akan disebut dengan post-modernism. Pada kota-kota besar di Indonesia, terutama di pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya), ada kecenderungan perkembangan bentuk-bentuk arsitektur bangunan rumah mewah mengarah pada sosok yang berbeda, tidak mau memiliki kesamaan bentuk dengan bangunan rumah di sebelahnya; didukung dengan kemajuan teknologi bahan yang demikian cepat, maka dijumpai bentuk-bentuk yang mengarah pada Arsitektur Maximalis. Kata kunci: arsitektur maximalist, rumah tinggal.
PENGARUH MITOS PADA BENTUKAN RUANG BERMUKIM DI DESA NGADAS KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG (Myth Effect on Living Space Formation at Ngadas of Pondokusumo Sub-District, Malang District) Maria Christina Endarwati
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v11i1.220

Abstract

ABSTRACT A myth is an event in the past of a certain region or area that was believed mystical or supernatural. A myth is also believed to greatly affect people's lives in terms of their belief system so that it arises rules and rituals that are then performed by the people of the region. Until now many people remain using mystical values as bases affecting the living space concepts. However, a myth could possibly change together with the changes of the societal values. This research took the case of the people of Tengger at Ngadas rural area of Malang District which remained embracing their original belief system named Budho Tengger. This belief said that the land around was holy and thus it affected the community to maintain and preserve the surrounding environment. The people were not allowed to carelessly cut the trees down because such an act was believed fatalistic to those conducting. Of the myth a typical space formation of living space arouses. This study used qualitative research method, meaning to analyze the existing myth based on the people's characteristics and to analyze the occurring space formation. Based on the study results is could be concluded that the characteristics of Ngadas community were still traditional and were highly influenced by the myth passing from one generation to the other generations. In addition, there were traditional rules and beliefs of Tengger people that affected their living space formation, namely the sacred space and the profane space. Keywords: living space formation, myth, Tengger tribe. ABSTRAK Mitos adalah peristiwa dalam suatu daerah pada masa lampau yang bersifat mistis atau gaib dan diyakini dapat sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam hal kepercayaan, sehingga timbul aturan-aturan dan ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat dari suatu daerah. Hingga saat ini sebagian masyarakat masih menggunakan nilai-nilai mistis sebagai landasan yang dapat mempengaruhi konsep ruang bermukim. Namun mitos ini dapat mengalami perubahan sesuai dengan perubahan nilai-nilai yang dianut masyarakatnya. Penelitian ini mengambil kasus pada suku masyarakat Tengger di Desa Ngadas, Kabupaten Malang yang masih menganut kepercayaan asli (Budho Tengger) yang berkeyakinan bahwa tanah di sekitar adalah suci sehingga mempengaruhi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan disekitarnya dengan tidak menebang pohon sembarangan karena diyakini akan berakibat fatal bagi yang melakukannya. Dari mitos tersebut ternyata juga menimbulkan suatu bentukan ruang khas di dalam ruang bermukim.
STRUKTUR RUANG PERMUKIMAN SUKU ATONI BERBASI BUDAYA, STUDI KASUS: KAMPUNG ADAT TAMKESI, KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA (Culturally Based Living Space Structure of Antoni People Case Study of Tamkesi Indigenous Village of North Central Timor District) Amandus Jong Tallo
Tesa Arsitektur Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v11i1.221

Abstract

ABSTRACT Since the olden days the culture of settling was realized as one of the important heritages handed down from generation to generation. In a society that firmly upheld their culture, such as Balinese, the settlement structure was determined by the cosmic system. It was concretized by the existence of the mountain as the orientation of a sacred space and the ocean as the orientation profane space. In Yogyakarla the settlement structure was determined by a person's life cycle that was described by South Ocean to Mount Merapi. One of the philosophies in determining a spatial structure was based on kinship system and sex. Atoni people arranged their settlement space based on kinship in which the spatial organization of was formed on the basis of gender or sexual difference. Atoni's settling culture could be recognized by spatial symbolism that was strongly associated with sexual dichotomy. Each cardinal direction that was associated with only one sex was not always consistent because the head of the community was called "man-woman". He was indeed a real man but he also did women's jobs. A house was specifically placed with that particular direction that was directly linked to the holding of the ceremony of the building construction. This study explained about settling space construction that was based on the culture of A toni tribe. Keywords: spatial structure, culture, Atoni. ABSTRAK Sejak dahulu dapat disadari bahwa budaya bermukim adalah salah satu warisan penting yang diturunkan secara turun-temurun. Dalam masyarakat yang memegang teguh budaya, misalnya di Bali, struktur permukiman ditentukan oleh sistem kosmis yang diwujudkan melalui gunung sebagai orientasi ruang yang sakral, dan laut sebagai orientasi ruang yang profane Pada masyarakat Jogja, struktur permukiman ditentukan oleh sirklus hidup seseorang yang digambarkan melalui laut selatan hingga gunung Merapi. Salah satu filosofi dalam mementukan struktur ruang adalah sistem kekerabatan dan jenis kelamin. Masyarakat suku Aton; juga menata ruang permukiman berdasarkan hubungan kekerabatan, dimana organisasi ruang terbentuk atas dasar jenis kelamin. Budaya bermukim orang Atoni dapat dikenal dari simbolisme spasialnya, yang sangat terkait dengan diktonomi jenis kelamin. Setiap arah kardinal dikaitkan dengan satu jenis kelamin tidak selalu sejalan, karena kepala suku disebut npria-wanita" yang memang seorang pria, tetapi melakukan pekerjaan wanita. Rumah secara khusus diletakan dengan aturan arah khusus yang langsung dikaitkan dengan penyelenggaraan upacara dalam pend irian bangunan. Melaui kajian ini dapat dilihat adanya pembentukan ruang permukiman berbasis budaya Suku Atoni. Kata Kunci: struktur ruang, budaya, Atoni.

Page 1 of 2 | Total Record : 14