Insisiva Dental Journal : Majalah Kedokteran Gigi Insisiva
Insisiva Dental Jurnal memberikan informasi tentang ide, opini, perkembangan dan isu-isu di bidang kedokteran gigi meliputi klinis, penelitian, laporan kasus dan literature review.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 2 (2018)"
:
10 Documents
clear
Apigenin Daun Rasamala (Altingia excelsa nornha) Sebagai Antibakteri Enterococcus faecalis
Anwar, Risyandi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7294
Penyakit pulpa dan periapikal pada anak merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada kasus penyakit gigi dan mulut. Penyakit ini disebabkan salah satunya oleh bakteri Enterococcus faecalis. Daun Rasamala (Altingia excelsa nornha) dipercaya sebagai antikanker dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa dari daun Rasamala yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri Enterococcus faecalis. Penelitian dilakukan dengan cara eksperimental laboratorik menggunakan bakteri Enterococcus faecalis. Ekstrak etil asetat dipisahkan senyawanya dengan berbagai teknik kromatografi yang dipandu dengan uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan satu senyawa, yaitu apigenin. Senyawa apigenin diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Enterococcus faecalis dan menunjukkan nilai MIC 15,63 µg/mL. Analisis data menggunakan uji ANACOVA dengan tingkat kemaknaan ?=0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah senyawa dari daun Rasamala, yaitu Apigenin memiliki aktivitas sebagai antibakteri Enterococcus faecalis.
Efektivitas Manajemen Stres Cognitive-Behavioral dalam Menurunkan Tingkat Stres Mahasiswa Tahun Pertama Tahap Sarjana PSPDG UMY
Kurniasih, Indri;
Liza, Ika Dhita M
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7296
Stres dapat dikatakan sebagai proses adaptasi dengan lingkungan yang baru. Beberapa fenomena dan penelitian menunjukkan bahwa stres meningkat pada mahasiswa kedokteran gigi di tahun pertama, disertai adanya efek negatif terhadap akademis dan kesehatan. Cara yang paling tepat dalam mengurangi efek negatif dari stres pada mahasiswa baru adalah adalah dengan manajemen stres Cognitive- behavioral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas manajemen stres metode Cognitive-behavioral dalam menurunkan stres pada mahasiswa tahun pertama tahap sarjana Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) UMY. Jenis penelitian ini adalah quasy experimental dengan rancangan pretest-intervention-postest. Sampel terdiri dari 40 mahasiswa tahun pertama PSPDG UMY yang dipilih melalui purposive sampling. Analisis yang digunakan adalah uji Wilcoxon karena distribusi data tidak normal. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diberi manajemen stres dengan nilai probabilitas 0,000 (p < 0,05). Hasil rata-rata menunjukkan penurunan nilai sebesar 9,60. Dapat disimpulkan bahwa manajemen stres metode Cognitive-behavioral efektif dapat menurunkan tingkat stres mahasiswa tahun pertama PSPDG UMY.
Prevalensi Premature Loss Gigi Desidui Pada Anak Usia 9-10 Tahun
Farani, Wustha;
Dewi, Aryani
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7295
Premature loss pada gigi desidui merupakan keadaan gigi desidui yang hilang atau tanggal sebelum gigi penggantinya mendekati erupsi yang disebabkan karena karies, trauma dan kondisi sistemik. Premature loss dapat menyebabkan pengurangan panjang lengkung gigi dan migrasi gigi antagonis yang menyebabkan rotasi, berjejal dan impaksi gigi permanen. Tujuan penelitian untuk mengetahui prevalensi premature loss gigi desidui pada anak usia 9-10 tahun. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan studi penelitian cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 216 anak dan berdasarkan kriteria inklusi didapatkan 63 anak yang menjadi responden penelitian. Penelitian ini dilakukan di SD IT Insan Utama dengan cara melihat kondisi gigi yang mengalami premature loss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 63 anak usia 9-10 tahun di SD IT Insan Utama, 41.2% mengalami premature loss pada gigi molar satu (m1), 37.3% pada gigi kaninus (c) dan 21.6% pada gigi molar dua (m2). Premature loss pada anak laki-laki sebanyak 38 anak (60.3%) sedangkan pada anak perempuan sebanyak 25 anak (39.7%). Prevalensi tertinggi premature loss adalah pada anak usia 9 tahun, yaitu sebanyak 36 anak (57.1%) dari 63 sampel anak, serta prevalensi tertinggi pada regio posterior sebanyak 18 anak (58.1%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu prevalensi premature loss pada anak usia 9-10 tahun di SD IT Insan Utama adalah sebesar 29.16%.
Premature Loss dan Perkembangan Rahang
Anggraini, Laelia Dwi;
Utomo, Rinaldi Budi;
Sunarno, Sunarno;
Pramono, Dibyo
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7297
Premature loss adalah kondisi dimana gigi desidui yang sudah tanggal sebelum waktunya sementara gigi permanen pengganti belum tumbuh. Kehilangan gigi desidui yang terlalu dini akan berpengaruh pada keberhasilan erupsi gigi apabila ada pengurangan ruang pada lengkung gigi. Kondisi premature loss terkait pula dengan perkembangan rahang. Rahang adalah bagian dari struktur total kepala dan setiap rahang bisa mempunyai hubungan posisional yang bervariasi terhadap struktur lain dari kepala, variasi semacam itu bisa terjadi pada ketiga bidang yaitu sagital, vertikal, dan lateral. Setiap kondisi patologis yang mempengaruhi pertumbuhan rahang bisa menimbulkan efek besar terhadap oklusi gigi. Pertumbuhan maksila dipengaruhi oleh pertumbuhan otak, pertumbuhan tulang cranial dan nasal septal memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan maju mundur maksila. Mandibula merupakan tulang kraniofasial yang sangat mobile dan merupakan tulang yang sangat penting karena terlibat dalam fungsi-fungsi vital antara lain pengunyahan, pemeliharaan jalan udara, berbicara, dan ekspresi wajah. Gerakan pertumbuhan mandibula pada umumnya dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di maksila. Pertumbuhan prosesus alveolaris sangat aktif selama erupsi dan berperan penting selama erupsi serta terus memelihara hubungan oklusal selama pertumbuhan vertikal maksila dan mandibula. Kesimpulan dari telaah literatur ini yaitu kondisi rongga mulut karena premature loss secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada tumbuh kembang rahang.
Perawatan Crown Lengthening pada Gigi Anterior Pasca Terjadi Fraktur
Karimah, Fauziah;
Hartanti, Hartanti
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7298
Fraktur gigi anterior yang parah akibat trauma sering menyisakan sedikit struktur gigi yang menjadi tantangan dokter gigi untuk merestorasi. Retensi yang minimal memungkinkan terjadinya kegagalan restorasi, sehingga kebanyakan dokter akan lebih memilih melakukan pencabutan. Crown lengthening adalah prosedur pembedahan untuk mengekspose mahkota klinis yang tersisa sebagai usaha untuk meningkatkan retensi restorasi. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengevaluasi hasil restorasi pasca dilakukan crown lengthening. Laporan kasus seorang perempuan usia 20 tahun mengalami fraktur gigi anterior maksila pasca kecelakaan yang dialaminya 2 minggu lalu. Gigi 21 fraktur dengan garis patahan horizontal 1/3 servikal mengenai pulpa. Status periodontal baik dan tidak ditemukan kelainan pada gambaran radiograf. Penatalaksanaan dilakukan scalling dan root planning pada regio gigi 21 sebelum pembedahan. Gingiva dipotong sedalam 2 mm pada seluruh permukaan menggunakan blade nomor 15 dilanjutkan penutupan luka bekas pembedahan dengan periodontal dressing. Perawatan saluran akar dilakukan dan diikuti dengan restorasi pasak fiber serta inti dengan resin komposit. Porcelain fused to metal diinsersikan sebagai restorasi mahkota akhir. Hasil restorasi akhir gigi 21 menunjukkan retensi yang memadai untuk restorasi mahkota porcelain fused to metal. Mahkota yang diinsersi dapat bertahan setelah 6 bulan observasi dan pasien merasa cukup puas dengan hasil perawatan. Kesimpulan dari kasus ini, prosedur crown lengthening dapat menunjang restorasi akhir yang retentif pada kasus fraktur gigi anterior yang kehilangan sebagian besar struktur mahkota.
Premature Loss dan Perkembangan Rahang
Laelia Dwi Anggraini;
Rinaldi Budi Utomo;
Sunarno Sunarno;
Dibyo Pramono
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7297
Premature loss adalah kondisi dimana gigi desidui yang sudah tanggal sebelum waktunya sementara gigi permanen pengganti belum tumbuh. Kehilangan gigi desidui yang terlalu dini akan berpengaruh pada keberhasilan erupsi gigi apabila ada pengurangan ruang pada lengkung gigi. Kondisi premature loss terkait pula dengan perkembangan rahang. Rahang adalah bagian dari struktur total kepala dan setiap rahang bisa mempunyai hubungan posisional yang bervariasi terhadap struktur lain dari kepala, variasi semacam itu bisa terjadi pada ketiga bidang yaitu sagital, vertikal, dan lateral. Setiap kondisi patologis yang mempengaruhi pertumbuhan rahang bisa menimbulkan efek besar terhadap oklusi gigi. Pertumbuhan maksila dipengaruhi oleh pertumbuhan otak, pertumbuhan tulang cranial dan nasal septal memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan maju mundur maksila. Mandibula merupakan tulang kraniofasial yang sangat mobile dan merupakan tulang yang sangat penting karena terlibat dalam fungsi-fungsi vital antara lain pengunyahan, pemeliharaan jalan udara, berbicara, dan ekspresi wajah. Gerakan pertumbuhan mandibula pada umumnya dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di maksila. Pertumbuhan prosesus alveolaris sangat aktif selama erupsi dan berperan penting selama erupsi serta terus memelihara hubungan oklusal selama pertumbuhan vertikal maksila dan mandibula. Kesimpulan dari telaah literatur ini yaitu kondisi rongga mulut karena premature loss secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada tumbuh kembang rahang.
Prevalensi Premature Loss Gigi Desidui Pada Anak Usia 9-10 Tahun
Wustha Farani;
Aryani Dewi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7295
Premature loss pada gigi desidui merupakan keadaan gigi desidui yang hilang atau tanggal sebelum gigi penggantinya mendekati erupsi yang disebabkan karena karies, trauma dan kondisi sistemik. Premature loss dapat menyebabkan pengurangan panjang lengkung gigi dan migrasi gigi antagonis yang menyebabkan rotasi, berjejal dan impaksi gigi permanen. Tujuan penelitian untuk mengetahui prevalensi premature loss gigi desidui pada anak usia 9-10 tahun. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan studi penelitian cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 216 anak dan berdasarkan kriteria inklusi didapatkan 63 anak yang menjadi responden penelitian. Penelitian ini dilakukan di SD IT Insan Utama dengan cara melihat kondisi gigi yang mengalami premature loss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 63 anak usia 9-10 tahun di SD IT Insan Utama, 41.2% mengalami premature loss pada gigi molar satu (m1), 37.3% pada gigi kaninus (c) dan 21.6% pada gigi molar dua (m2). Premature loss pada anak laki-laki sebanyak 38 anak (60.3%) sedangkan pada anak perempuan sebanyak 25 anak (39.7%). Prevalensi tertinggi premature loss adalah pada anak usia 9 tahun, yaitu sebanyak 36 anak (57.1%) dari 63 sampel anak, serta prevalensi tertinggi pada regio posterior sebanyak 18 anak (58.1%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu prevalensi premature loss pada anak usia 9-10 tahun di SD IT Insan Utama adalah sebesar 29.16%.
Apigenin Daun Rasamala (Altingia excelsa nornha) Sebagai Antibakteri Enterococcus faecalis
Anwar, Risyandi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7294
Penyakit pulpa dan periapikal pada anak merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada kasus penyakit gigi dan mulut. Penyakit ini disebabkan salah satunya oleh bakteri Enterococcus faecalis. Daun Rasamala (Altingia excelsa nornha) dipercaya sebagai antikanker dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa dari daun Rasamala yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri Enterococcus faecalis. Penelitian dilakukan dengan cara eksperimental laboratorik menggunakan bakteri Enterococcus faecalis. Ekstrak etil asetat dipisahkan senyawanya dengan berbagai teknik kromatografi yang dipandu dengan uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan satu senyawa, yaitu apigenin. Senyawa apigenin diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Enterococcus faecalis dan menunjukkan nilai MIC 15,63 µg/mL. Analisis data menggunakan uji ANACOVA dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah senyawa dari daun Rasamala, yaitu Apigenin memiliki aktivitas sebagai antibakteri Enterococcus faecalis.
Efektivitas Manajemen Stres Cognitive-Behavioral dalam Menurunkan Tingkat Stres Mahasiswa Tahun Pertama Tahap Sarjana PSPDG UMY
Kurniasih, Indri;
Liza, Ika Dhita M
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7296
Stres dapat dikatakan sebagai proses adaptasi dengan lingkungan yang baru. Beberapa fenomena dan penelitian menunjukkan bahwa stres meningkat pada mahasiswa kedokteran gigi di tahun pertama, disertai adanya efek negatif terhadap akademis dan kesehatan. Cara yang paling tepat dalam mengurangi efek negatif dari stres pada mahasiswa baru adalah adalah dengan manajemen stres Cognitive- behavioral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas manajemen stres metode Cognitive-behavioral dalam menurunkan stres pada mahasiswa tahun pertama tahap sarjana Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) UMY. Jenis penelitian ini adalah quasy experimental dengan rancangan pretest-intervention-postest. Sampel terdiri dari 40 mahasiswa tahun pertama PSPDG UMY yang dipilih melalui purposive sampling. Analisis yang digunakan adalah uji Wilcoxon karena distribusi data tidak normal. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diberi manajemen stres dengan nilai probabilitas 0,000 (p 0,05). Hasil rata-rata menunjukkan penurunan nilai sebesar 9,60. Dapat disimpulkan bahwa manajemen stres metode Cognitive-behavioral efektif dapat menurunkan tingkat stres mahasiswa tahun pertama PSPDG UMY.
Perawatan Crown Lengthening pada Gigi Anterior Pasca Terjadi Fraktur
Fauziah Karimah;
Hartanti Hartanti
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/di.7298
Fraktur gigi anterior yang parah akibat trauma sering menyisakan sedikit struktur gigi yang menjadi tantangan dokter gigi untuk merestorasi. Retensi yang minimal memungkinkan terjadinya kegagalan restorasi, sehingga kebanyakan dokter akan lebih memilih melakukan pencabutan. Crown lengthening adalah prosedur pembedahan untuk mengekspose mahkota klinis yang tersisa sebagai usaha untuk meningkatkan retensi restorasi. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengevaluasi hasil restorasi pasca dilakukan crown lengthening. Laporan kasus seorang perempuan usia 20 tahun mengalami fraktur gigi anterior maksila pasca kecelakaan yang dialaminya 2 minggu lalu. Gigi 21 fraktur dengan garis patahan horizontal 1/3 servikal mengenai pulpa. Status periodontal baik dan tidak ditemukan kelainan pada gambaran radiograf. Penatalaksanaan dilakukan scalling dan root planning pada regio gigi 21 sebelum pembedahan. Gingiva dipotong sedalam 2 mm pada seluruh permukaan menggunakan blade nomor 15 dilanjutkan penutupan luka bekas pembedahan dengan periodontal dressing. Perawatan saluran akar dilakukan dan diikuti dengan restorasi pasak fiber serta inti dengan resin komposit. Porcelain fused to metal diinsersikan sebagai restorasi mahkota akhir. Hasil restorasi akhir gigi 21 menunjukkan retensi yang memadai untuk restorasi mahkota porcelain fused to metal. Mahkota yang diinsersi dapat bertahan setelah 6 bulan observasi dan pasien merasa cukup puas dengan hasil perawatan. Kesimpulan dari kasus ini, prosedur crown lengthening dapat menunjang restorasi akhir yang retentif pada kasus fraktur gigi anterior yang kehilangan sebagian besar struktur mahkota.