cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2006)" : 17 Documents clear
Antidepresan Pada Nyeri Neuropati Diabetik Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetic neuropathy is a most common and troublesome complication of diabetes mellitus. Approximately 20 to 40% of patients with diabetes develop some form of neuropathy. Diabetic neuropathy is a family ofprogressive, degenerative disorders affecting the sensory, motor or autonomic peripheral nerves. Autonomic and motor involvement is less common than sensory neuropathy. Risk factors for the development and progression of diabetic neuropathy include poor glycaemic control, increasing age, undiagnosed type 2 diabetes, long duration of diabetes, cardiovascular disease, peripheral vascular disease, smoking, high alcohol intake, low socioeconomic status and renal or cardiac failure.Control ofpain is one of the most difficult management issues in diabetic neuropathy. The goal oftreatmentfor painful diabetic peripheral neuropathy is to relieve painful symptoms, prevent further tissue damage and improve patient education. Combinations of pharmacological, physical and psychological interventions are likely to attain the optimum level ofpain relieffor most patients. The mainstay therapeutic agents for managing diabetic neuropathic pain are tricyclic antidepressants and anticonvulsants.Neuropati diabetik merupakan komplikasi yang menyulitkan dan paling sering teijadi pada diabetes melitus. Sekitar 20 - 40 % penderita diabetes mengalami berbagai bentuk neuropati. Neuropati diabetik merupakan suatu kelainan degeneratifprogresifyang mengenai saraf tepi sensorik, motorik maupun otonom. Neuropati otonom dan motorik lebih jarang teijadi dibandingkan neuropati sensori. Faktor risiko timbulnya neuropati diabetik meliputi gula darah tak terkontrol, usia, diabetes tipe 2, lamanya menderita diabetes, merokok, alkohol, status sosial ekonomi yang rendah, serta gagal ginjal atau jantung.Penanggulangan nyeri adalah suatu problem paling sulit dalam penatalaksanaan neuropati diabetik. Tujuan pengobatan nyeri neuropati diabetik adalah mengurangi gejala yang ada serta mencegah perburukan neuropati dan kerusakan saraf lebih lanjut. Terapi kombinasi secara farmakologik, fisiologik, dan psikologik memberikan hasil terapi yang optimal dalam mengurangi nyeri neuropati diabetik pada kebanyakan pasien. Pilihan utama untuk penanggulangan nyeri neuropatui diabetik adalah antidepresan trisikik dan antikonvulsan.
Uji Toksisitas Subkronis Ekstrak Etanolik Biji Srikaya (Annona squamosa L.) Sebagai Repelan Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul; Tasminatun, Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Active compound in A. squamosa seed such as carvon and limonene has a toxic effect on skin cell and can be absorbed into bloodflow, so has a systemic effect on liver, lung and kidney. The aim of this research is to study the toxic effect of ethanolic extract of A. squamosa seed as repellant subchronically.Thirty rats (Rattus norvegicus) Wistar strain, male and female, 3 month old used as subject. It is divided into 5 groups, negative control groups, positive control group with CMC, and three group of treatment group used ethanolic extract of A. squamosa seed dosage I (25%), II (50%) dan III (100%). The back hair of the rats were showed with its diameter 1,5cm of it and given a treatment topically for each groups every day for thirty days and observed its condition if any change happens every days. On day 31, all of the rats decapitated, a skin located of treatment is taken and so its liver, lung and kidney to make a histopathological preparation with H&E.The result of this research showed that subchronic ethanolic extract of A. squamosa seed 25%, 50% and 100% topically caused irritation on skin, but not caused of change in histological features of liver, lung and kidney. Subchronic ethanolic extract of A. squamosa seed 100% significantly caused irritation and increased of polimorphonuclear cell.Senyawa aktif dalam biji antara lain carvon dan limonene mempunyai efek toksik pada sel- sel kulit dan dapat terabsorpsi masuk ke dalam aliran darah, sehingga memberikan efek sistemik pada organ hepar, pulmo dan ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksik ekstrak etanolik biji A. squamosa sebagai repelan yang digunakan secara subkronis.Subyek penelitian adalah tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan dan betina, umur3 bulan, 30ekor. Subyekdibagimenjadi5kelompokyaitukelompokkontrolnegatif,kelompok kontrol CMC, kelompok ekstrak etanolik biji A. squamosa konsentrasi I (25%), II (50%) dan III (100 %). Punggung tikus dicukur dengan diameter 1,5 cm, diberi perlakuan pada hari kel-30 sesuai kelompoknya. Ekstrak dioleskan setiap hari di tempat yang dicukur. Kondisi umum tikus diamati dan dicatat perubahan yang teijadi setiap hari. Pada hari ke-31, semua tikus dikorbankan, kulit tempat perlakuan, hepar, paru dan ginjal diambil dan dibuat preparat histologi dengan pengecatan H&E.Hasil penelitian menunjukkan pemberian subkronis ekstrak etanolik biji srikaya (Annona squamosa) 25%, 50%, 100% secara topikal menyebabkan iritasi pada kulit, tetapi tidak menyebabkan perubahan histologis organ hepar, paru dan ginjal, ekstrak etanolik A. squamosa 100% topikal subkronis secara signifikan dapat menyebabkan iritasi dan meningkatnya jumlah polimorfonuklear sel.
Rufaida Al-Asalmiya: Florence Nightingale Muslim di Dunia Islam Khasanah, Uswatun
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1894

Abstract

In this paper will be presented the history of nursing in Islamic society. Rufaida is the first professional nurse in Islamic history. She lived in the Prophet Muhammad (PBUH) time in the 1st century AH/8th century CE. In the history mention that she devoted her life for the society for better health. She went out to the community and tried to solve the problem the social problem that lead to disease as well as she involved in the battle to provide care to the Muslim army. She had all attributes expected of a good nurse, she was kind and empathetic. She was considered as the founder of nursing school and clinic.Pada tulisan ini disajikan tentang sejarah keperawatan dari dunia Islam. Rufaida adalah seorang perawat professional pertama dalam sejarah Islam. Beliau hidup pada masa Nabi Muhammad pada abad pertama hijriah atau abad ke 8 masehi. Didalam sejarah menyebutkan bahwa beliau mencurahkan perhatiannya kepada masyarakat untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Beliau mendatangi masyarakat dan mencoba mengatasi masalah social yang berhubungan dengan kesehatan. Beliau juga terlibat dalam perbagai peperangan untuk merawat tentara Muslim yang terluka. Rufaida memiliki sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang perawat, baik hati dan juga empati. Beliau dianggap sebagai pembangun sekolah perawat dan klinik pertama.
Diagnosis Laboratorik Leptospirosis; Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1890

Abstract

Leptospirosis is a worldwide zoonosis caused by pathogenic leptospira species. Leptospirosis is endemic disease in the tropical urban areas. Leptospirosis must always be considered during the differential diagnosis of other tropical febrile illnesses. Laboratory tests are necessary to confirm the diagnosis of clinically suspected leptospirosis due to its varied symptomatology. Leptospira has extend serogroup. The detection of antigen and antibodies of leptospira are complicated. They depends on the samples available and temporal stage of the illness, sensitivity and spesificity of laboratory method. The conventional tests include direct microscopy, culture and the most widely used reference standard method the microscopic agglutination test but have many limitations. A variety of newer serological tests and those based on molecular techniques have been developed.Leptospirosis merupakan zoonosis di seluruh dunia yang disebabkan oleh spesies leptospira patogen. Leptospirosis merupakan endemis pada daerah urban di negara tropis. Leptospirosis harus selalu dipertimbangkan pada saat menemui penderita dengan demam di daerah tropis. Pemeriksaan laboratorium diperlukan sebagai konfirmasi diagnosis padapenderitayang secara klinis baik gejalamaupun tanda yang sangat bervariasi dicurigai leptospirosis. Leptospira memiliki serogroup yang sangat besar. Deteksi antigen dan antibodi leptospira merupakan permasalahan yang rumit oleh karena dipengaruhi ketersediaan sampel, onset penyakit maupun sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan, seroprevalensi populasi. Pemeriksaan secara konvensional adalah mikroskop secara langsung, kultur, dan metode microscopic agglutination test (MAT) yang secara luas digunakan sebagai standar rujukan, namun pemeriksaan tersebut memiliki banyak keterbatasan. Berbagai macam tes serologi yang baru dan metode yang berbasis molekuler telah dikembangkan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Skizofrenia di Unit Rawat Jalan RS Grhasia DIY Permatasari Istanti, Yuni; Risdiana, Nurvita; Hendarsih, Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1881

Abstract

Schizophrenia is a mental disorder with the hallucination symptom, waham, inappropriate affect. There a some factors that influence Family role in order to treat clients, because family role can protect family member. The study was done among the schizophrenia s clients of grhasia s hospital. The crossectional study was done to 30 schizophrenic s clients in grhasia s hospital, using Chi Square to know about the factors which influence the role and also family in treatment of schizophrenia s client in take care.The result of this study in economic factor show the Flo accepted with the value of significance level: 0,05 and probabilities : 0,283 ( 0,05). This indicated that there is no influence which significant between economic factor to role and also family in treatment of schizophrenia s client. The test of Chi Square of knowledge factor show that the Ho accepted with the value of significant level: 0,05 and probabilities : 0,788 ( 0,05). This indicated that there is no influence which significant between knowledge factor to role and also family in treatment of schizophrenia s client.Skizofrenia merupakan gangguan mental yang disertai dengan gej ala halusinasi, waham dan gangguan afek. Dalam perawatannya diperlukan peran serta keluarga karena keluarga merupakan unit terdekat dengan klien. Beberapa factor dapat mempengaruhi peran serta keluarga dalam perawatan klien skizofrenia diantaranya adalah factor ekonomi dan factor pengetahuan.Penelitian ini menggunakan pendekatan crossestional dengan 30 responden klien skizofrenia di unit rawat jalan RS Grhasia untuk mengetahui factor-faktor yang berpengaruh terhadap peran serta keluarga dianalisis dengan menggunakan Chi square.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa factor ekonomi tidak berpengaruh terhadap peran serta keluarga, begitu juga dengan factor pengetahuan, dengan tingkat signifikansi 0.05.Sehingga bias disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara factor ekonomi dan pengetahuan terhadap peran serta keluarga dalam perawatan klien skizofrenia.
Manajemen Anestesi Pada Operasi Craniotomi Anak Dengan Cedera Kepala Sedang Pramono, Ardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anesthesia for craniotomy on brain injury needs a knowledge about cerebral phisiology and the effect ofanesthetic agent on brain metabolism. Brain must be prevent from secondary brain injury. Intracranial pressure must be blunt with choosing appropriate technique of induction and maintenance of anesthesia.In this case, we choose general anesthesia technique with semiopen Jackson Rees circuit, endotracheal tube with diameter number 6, and controlled ventilation. Premedication uses fentanyl 25ug to blunt hemodynamic respon following to intubation, induction of anesthesia with pentothal 100 mg, muscle relaxant with atracurium 15 mg and maintenance anesthesia uses sevoflurane, N20 and oxygen. During operation, the mean arterial pressure is between 70-90 mmHg, heart rate about 110/minute and intracranial pressure is not increase. Operation take place about 1 hour and patient was taking care in intensive care unit (ICU) after that to prevent intracranial increased. After 2 days in ICU, patient was transported to ward.Penanganan jejas otak karena trauma kepala mengalami kemajuan yang pesat dengan ditemukannya proses fisiologi otak pada trauma kepala. Manajemen anestesi pada operasi craniotomi memerlukan teknik khusus sehingga tidak menyebabkan cedera otak sekunder (secondary brain injury). Pada kasus bedah saraf, dipilih agen induksi dan rumatan anestesi yang tidak meningkatkan tekanan intrakranial serta perlakuan intubasi y mg smooth.Pada kasus ini, anestesi dilakukan dengan teknik anestesi umum, semiopen sirkuit Jakcson Rees dengan endotrakheal tube (ET) nomor 6, nafas kendali. Premedikasi menggunakan fentanyl 25 ug dengan tujuan untuk menumpulkan respon hemodinamik saat intubasi, induksi menggunakan pentotal dosis 100 mg, fasilitas intubasi menggunakan atracurium 15 mg dan rumatan anestesi menggunakan sevofluran, N20 dan 02. Selama operasi, nilai MAP (mean arterialpressure) berkisar antara 70-90 mmHg dengan nadi sekitar 110 x/menit. Operasi berlangsung sekitar 1 jam. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU selama 2 hari dan pulang kembali ke bangsal.
Efektifitas Bacillus Thuringiensis Terhadap Larva Culex Quinquefasciatus Pada Berbagai Media Hidup Larva Kesetyaningsih, Tri Wulandari; Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1882

Abstract

One of mosquito that transmitted this disease is Culex quinquefasciatus. Insecticide commonly use for vector control because it can reduce mosquito population easily and rapidly, but have a high risk to pollution and resistancy. Bacillus thuringiensis (Bti) is bacteria that produce toxic crystal to larvae of Coleoptera, Diptera and Lepidoptera. The purpose of this study is to know the efficacy of Bti as larvicide to Cx. quinquefasciatus (L3) that live in media biologic water, rice field water and cesspool water and compare the larvae ’s death among those groups.Subject of this study is Bti (strain H-14) Vectobac 12 US in liquidformula from Abott, USA, then examined its effectivity as larvicide to Cx quinquefasciatus. Twenty larvaes (L3) entered into every group that filled 100 ml of 1,2,3,4,5, and 6 ppm Bti solution and negative group. Observation was carried out after 24 hours exposure to get % of larvae s death. Larvae s death was decided if there is no movement by stick touched. Probit analysis used to decide LD50 and LD 95 and One way anova used to know the significancy difference of% larvae s death among research groups.The result shows that Bti is effective to Cx. quinquefasciatus larvae with LD50 1,43 ppm in aquades group, 2,28 ppm in field water group and 4,56 ppm in cesspool water group. There is no significant difference of% larvae ’s death among research groups.Salah satu nyamuk vektor filariasis adalah Culex quinquefasciatus. Pengendalian vektor dengan insektisida digunakan karena dapat menurunkan populasi nyamuk secara cepat, mudah dan dalam jumlah banyak, namun dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan beresiko terjadi resistensi. Bacillus thuringiensis (Bti) adalah bakteri pembentuk spora menghasilkan kristal toksik terhadap larva Coleoptera, Diptera dan Lepidoptera. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas Bti terhadap larva Cx quinquefasciatus (L3) pada tiga macam media hidup larva yaitu comberan, air sawah dan akuades serta membandingkan diantara ketiganya.Subyek penelitian adalah Bti (strain H-14) Vectobac 12 AS formula cair dari Abott, diuj i efektifitasnya sebagai larvisida Cx quinquefasciatus yang hidup pada media air biologis comberan, air sawah dan akuades. Tiap kelompok terdiri atas enam konsentrasi Bti (1,2,3,4,5 dan 6 ppm) dan kontrol negatif (tanpa Bti) yang dilarutkan dalam 100 ml air media hidup larva dan diisi 200Korespondensi: Tri Wulandari K, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jin. Lingkar Barat Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakartaekor L3 Cx. quinquefasciatus. Pengamatan dilakukan 24 setelah pemaparan dengan menghitung prosentase kematian larva. Larva dinyatakan mati bila sama sekali tidak bergerak setelah diusik dengan ujung pipet larva. Analisis Probit digunakan untuk menentukan LD50 dan LD95 dan analisa varians digunakan untuk menentukan signifikansi perbedaan prosen kematian diantara ketiga kelompok perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan Bti efektif sebagai larvisida Cx. quinquefasciatus dengan LD50 1,43 ppm pada akuades, 2,28 ppm .pada air sawah dan 4,56 ppm pada comberan sebagai media hidup larva. Tidak ada perbedaan bermakna diantara ketiga media hidup larva yang diujikan.
Luka pada Leher Akibat Senjata Tajam pada Kasus Bunuh Diri Widagdo, Hendro
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1892

Abstract

A young female corpse was found with several wounds on her neck. Judging from what was observed at the scene, the death was suicide. Medically, the truth of the suicide was attested to by the fact that there were no signs of the victim s defensive act, a deep incised wound wasfound on her leftside neck andparallel to it there were two slight wounds. Psychical pressure was suspected occurred on the victim.Dilaporkan seorang wanita yang meninggal dunia dengan luka-luka di leher di sebuah rumah yang dalam keadaan kosong. Pemeriksaan di TKP menunjukkan tanda-tanda dari suatu kasus bunuh diri. Pemeriksaan di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sardjito terhadap jenazah ditemukan perlukaan pada bagian kiri leher yang terdiri dari satu luka iris utama yang fatal dan dua buah luka iris dangkal yang dikenal sebagai luka-luka iris percobaan, semuanya dengan arah yang sejajar dengan arah luka iris utama. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian tubuh yang lain. Korban meninggal akibat luka iris utama pada bagian kiri leher sehingga memutuskan pembuluh darah karotis kiri yang menyebabkan teijadinya perdarahan. Diduga korban mengalami depresi.
Aktivitas Scavenging Nitrit Oksida oleh Hemoglobin dan Tekanan Darah pada Preeklampsia Syachrumsyah, Muchlisch; Suciati, Suciati; Suhartono, Eko; Setiawan, Bambang
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1879

Abstract

The research of nitric oxide scavenging by hemoglobin and blood pressure in preeclampsia had been done. Aims of this research were to measure methemoglobin level as an index nitric oxide and its correlation to blood pressure. Sixty pregnant were women involved in this study. Thirty subject were normal pregnancy and preeclampsia. Preeclampsia group were consist of 18 mild preeclampsia and 12 severe preeclampsia. The methods, to measure methemoglobin based on Evelyn and Malloy methods with spectrophotometer. Meanwhile, Blood pressure is measured with auscultation methods. The result showed that methemoglobin level, systolic and diastolic pressure preeclampsia higher than normal significantly. There is a positive correlation between methemoglobin level and blood pressure in mild preeclampsia. In severe preeclampsia, there is negative correlation between methemoglobin level and blood pressure. Beside that, correlation between methemoglobin level and sistolic pressure has positive correlation and negative correlation found between methemoglobin level and diastolic pressure in normal pregnancy. This study conclude that nitrite oxide scavenging activity by hemoglobin have correlation to bloodpressure change in normal pregnancy and preeclampsia.Telah dilakukan penelitian tentang aktivitas scavenging mtrit oksida oleh hemoglobin dan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar methemoglobin sebagai parameter nitrit oksida dan korelasinya dengan tekanan darah. Sebanyak 60 orang wanita hamil terlibat dalam penelitian ini. Pada subjek tersebut, 30 orang tergolong hamil normal dan 30 orang didignosis preeklampsia. Kelompok preeklampsia terdiri atas 18 orang preeklampsia ringan dan 12 orang preeklampsia berat. Metode pengukuran kadar methemoglobin digunakan metode Evelyn dan Malloy dan pengukuran tekanan darah dengan metode auskultasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar methemoglobin, tekanan sistolik dan diastolik pada preeklampsia (ringan dan berat) lebih tinggi bermakna daripada tanpa preeklampsia. Terdapat korelasi positif antara kadar methemoglobin dengan tekanan sistolik dan diastolik preeklampsia ringan. Pada preeklampsia berat korelasi kadar methemoglobin dan tekanan sistolik dan diastolik bernilai negatif. Pada kehamilan normal korelasi kadar methemoglobin bernilai positif dengan tekanan sistolik, sedangkan terhadap tekanan diastolik, berkorelasi negatif. Kesimpulanpenelitiani ini adalah aktivitas scavengingmint oksid olehhemoglobin mempunyai korelasi terhadap perubahan tekanan darah pada kehamilan normal dan preeklampsia.
Antidepresan Pada Nyeri Neuropati Diabetik Tri Wahyuliati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1893

Abstract

Diabetic neuropathy is a most common and troublesome complication of diabetes mellitus. Approximately 20 to 40% of patients with diabetes develop some form of neuropathy. Diabetic neuropathy is a family ofprogressive, degenerative disorders affecting the sensory, motor or autonomic peripheral nerves. Autonomic and motor involvement is less common than sensory neuropathy. Risk factors for the development and progression of diabetic neuropathy include poor glycaemic control, increasing age, undiagnosed type 2 diabetes, long duration of diabetes, cardiovascular disease, peripheral vascular disease, smoking, high alcohol intake, low socioeconomic status and renal or cardiac failure.Control ofpain is one of the most difficult management issues in diabetic neuropathy. The goal oftreatmentfor painful diabetic peripheral neuropathy is to relieve painful symptoms, prevent further tissue damage and improve patient education. Combinations of pharmacological, physical and psychological interventions are likely to attain the optimum level ofpain relieffor most patients. The mainstay therapeutic agents for managing diabetic neuropathic pain are tricyclic antidepressants and anticonvulsants.Neuropati diabetik merupakan komplikasi yang menyulitkan dan paling sering teijadi pada diabetes melitus. Sekitar 20 - 40 % penderita diabetes mengalami berbagai bentuk neuropati. Neuropati diabetik merupakan suatu kelainan degeneratifprogresifyang mengenai saraf tepi sensorik, motorik maupun otonom. Neuropati otonom dan motorik lebih jarang teijadi dibandingkan neuropati sensori. Faktor risiko timbulnya neuropati diabetik meliputi gula darah tak terkontrol, usia, diabetes tipe 2, lamanya menderita diabetes, merokok, alkohol, status sosial ekonomi yang rendah, serta gagal ginjal atau jantung.Penanggulangan nyeri adalah suatu problem paling sulit dalam penatalaksanaan neuropati diabetik. Tujuan pengobatan nyeri neuropati diabetik adalah mengurangi gejala yang ada serta mencegah perburukan neuropati dan kerusakan saraf lebih lanjut. Terapi kombinasi secara farmakologik, fisiologik, dan psikologik memberikan hasil terapi yang optimal dalam mengurangi nyeri neuropati diabetik pada kebanyakan pasien. Pilihan utama untuk penanggulangan nyeri neuropatui diabetik adalah antidepresan trisikik dan antikonvulsan.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue