cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2009)" : 19 Documents clear
Cardivascular reactivity to earthquake Jenie, Ikhlas Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1593

Abstract

Gempa bumi merupakan suatu stressor mental yang terjadi secara alamiah. Belum diketahui bagaimana respon kardiovaskular terhadap gempa bumi, berapa lama respon tersebut berlangsung, dan seberapa jauh akibat yang ditimbulkan oleh gempa bumi terhadap sistem kardiovaskular. Tujuan penulisan naskah ini adalah untuk mengetahui gambaran dan durasi serta potensial dari pengaruh reaktivitas Kardiovaskuler terhadap gempa bumi. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur terhadap penelitian-penelitian mengenai efek gempa bumi terhadap sistem kardiovaskular yang telah dipublikasikan pada MEDLINE. Tekanan darah dan frekuensi denyut jantung mulai berubah pada awal gempa bumi, dan kemudian naik sebesar 20% untuk tekanan darah sistolik, 46% untuk tekanan darah diastolik, dan 79% untuk frekuensi denyutjantung. Tingginya tekanan darah tersebut bertahan 1-2 minggu pasca gampa bumi, kemudian turun secara bertahap dalam kurun waktu 2 minggu. Peningkatan tekanan darah memanjang hingga 2 bulan pada pasien-pasien dengan mikroalbuminuria. Sementara itu, peningkatan tekanan darah tidak begitu tajam pada pasien-pasien yang mengkonsumsi obat-obat a- dan P-bloker Frekuensi denyut jantung kembali ke nilai awal lebih cepat daripada tekanan darah. Kejadian infark miokard meningkat 3 kali lipat penduduk yang tinggal dekat dengan pusat gempa daripada penduduk yang tinggal jauh dari pusat gempa. Terdapat hiperreaktivitas kardiovaskular terhadap gempa bumi. Hiperreaktivitas kardiovaskular terhadap gempa bumi tersebut bersifat akut dan berpotensi menimbulkan komplikasi infark miokard.Earthquake is a naturally occurring mental challenge. It potentially exerts adverse effects on the cardiovascular system, thus may contribute to the development of cardiovascular diseases. To know pattern and duration of the effect of earthquake on cardiovascular reactivity, and to know the potential effect of earthquake on the cardiovascular system. We did literature search on studies published in MEDLINE database that reported changes in cardiovascular parameters among subjects lived in earthquake affected area. The result of blood pressure and heart rate started to change at the initial trembling preceded the earthquake. Then at the strongest shock, systolic blood pressure increased 20%, diastolic blood pressure rose 46%, and heartbeat was up to 79%. Blood pressure remained high in 1-2 weeks after the quake. It then gradually returned to the baseline by 4 weeks (3 - 5 weeks) after the disaster. This increased blood pressure was prolonged for at least until 2 months aftermath in patients with microalbuminuria. However, it was less pronounced in patients who treated with a- and /3-blocker. The heart rate returned to the baseline level more promptly than the blood pressure. The events of myocardial infarction increased 3-fold in people who lived close to the epicentre. The conclution is cardiovascular hyperreactivity to earthquake has cardiac and vascular pattern. Exaggerated cardiovascular reactivity to earthquake is short term response. Cardiovascular reactivity to earthquake potentially leads to myocardial infarction.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Pare (Momordica charantia L) terhadap Motilitas dan Morfologi Sperma Mencit Astuti, Yoni; Fitriana, Selly; Rahayu, Nunuk Siti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The role of man in Family Planning extend o the birth space is rare. Therefore, improvement efforts to create the family planning tools that have characteristic safe and reversible for man ’s reproductive system are needed.It is wellknown that pare (Momordica charantia,L) showed the effect of spermatogenesis inhibition. The aim of this study is to reveal the influence of bitter melon extract on mice sperm activity. This experimental study used male mice which were given bitter melon extract by oral intubations. Twenty mice were divided into 2 groups. Group A was treated with bitter melon extract for 4 weeks and group B for 6 weeks. Each group were further divided into 5 subgroups which were treated with different dose 500, 600, 700, 800 mg/kg body weight/day and control subgroups were treated with aquadest. After this, mice were decapitated, and the left and right terminals of the epididymis were sectioned. Then the motility and morphology of the sperms cells were examined cupically. The results showed that there was a correlation between dose of extract, motility and morphology of sperms. The ANOVA analysis showed that there were significants differenced, at motility A(r = - 0,583), B(R = - 0,839) p = 0,27, normal morphology A(r = - 0,946), B(r = - 0,962) p = 0,000, abnormal morphology A(r = 0,930), B(r = 0,962) p = 0,000. It is concluded that the decreasing of motility and normal morphology of sperms were liniar with the increasing of dose and duration of extract treatment for sperm motility. The most minimally effective dosage were : 500 mg/weight/day during 4 weeks.Peran pria dalam mengikuti program Keluarga Berencana (KB) untuk menjaga jarak kelahiran anak masih sangat sedikit. Sehingga perlu usaha untuk menciptakan alat KB yang aman dan bersifat sementara bagi pria. Pare (Momordica charantiaL) diketahui memiliki efek penghambatan spermatogenesis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Mencit sebanyak 20 ekor terbagi dalam 2 kelompok. Kelompok A (kelompok diberi perlakuan selama 4 minggu dan kelompok B (kelompok yang diberi perlakuan selama 6 minggu). Tiap kelompok terdiri dari 5 sub kelompok dengan dosis berbeda, yaitu 500, 600, 700, 800 mg ekstrak pare/kg BB/hari dan sub kelompok kontrol yang diberi aquadest. Setelah masa perlakuan, mencit didekapitasi, epididimis bagian akhir dari saluran reproduksi sebelah kanan dan kiri diambil, dibuat suspensi dengan NaCl 0,9%. Dihitung motilitas sperma ,dihitung morfologi normal dan morfologi tidak normal. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya korelasi antara dosis ekstrak dengan motilitas pada kelompok A : (r = -0,583) sedang pada kelompok B : (r = -0,839) dan korelasi dosis dengan morfologi sel sperma normal pada kelompok A : (r = -0,946), pada kelompok B : (r = -0,962) dan korelasi dosis dengan kelompok abnormal pada kelompok A : (r = 0,930) , pada kelompok B : (r = 0,962).Sedangkan uji ANOVA menunjukkan adanya beda nyata , yaitu antara dosis dengan pada motilitas p = 0,27 antara dosis dengan p = 0,000, morfologi abnormal p = 0,000. Disimpulkan bahwa penurunan motilitas dan morfologi sperma berbanding lurus dengan peningkatan dosis dan lama perlakuan. Dosis efektifminimal adalah 500mg/BB/hari selama waktu 4 minggu.
Terapi Antibodi IgE pada Rinitis Alergi Widuri, Asti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Allergic rhinitis is a highly prevalent respiratory disease, affecting up to 40% of the population in some countries, and has an important impact on quality of life. Although a number of different drug types are available for treating allergic rhinitis, antihistamines are currently considered first line therapy. Most current treatments only relieve symptoms and do not modify the course of the disease. IgE may play a role in allergic sensitization, interaction between allergens and IgE leads to activation of mast cell, with consequent release of histamine andother pro-allergic mediators. IgE therefore potentially represents an important target for pharmacological intervention in allergic rhinitis.Rinitis alergi adalah penyakit saluran pernafasan yang tinggi prevalensinya, mengenai sampai 40% populasi di beberapa negara, dan menimbulkan dampak yang serius pada kualitas hidup. Meskipun bermacam-macam obat dapat digunakan untuk mengobati rinitis alergi, antihistamin yang merupakan pilihan obat pertama. Hampir seluruh pengobatan rinitis alergi hanya ditujukan untuk mengurangi gejala tetapi tidak merubah perjalanan penyakitnya. IgE kemungkinan berperan pada proses sensitisasi, interaksi antara alergen-alergen dengan IgE akan mengaktivasi sel mast yang akan mengeluarkan histamin dan mediator-mediator alergi yang lain. Sehingga IgE memiliki potensi sebagai target intervensi pengobatan secara farmakologis yang penting dalam penanganan rinitis alergi.
Pengaruh Pemberian VCO (Virgin Coconut Oil) terhadap Berat Badan Tikus Putih (Rattus norvegicus) Cendhikalistya, Gustrin Oktaviayu; Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1589

Abstract

which can be used for overcoming the obesity is by consuming VCO (Virgin Coconut Oil). This study want to know the efficacy of VCO, due to decrease the body weight. This study is a preclinical unrandomized control trial design. Twenty five male Spraque- Dawley strain rats (Rattus norvegicus), 4 months age and ± 300 grams body weight are used for subjects. These rats are divided into 5 groups : positive and negative control, and three groups for treatment groups which are given by fat first. The dosage given is the conversion of human dosage, they are 50 cc/day, 25 cc/day, and 12,5 cc/day. VCO given orally everyday for 28 days then the body weight were measured every 7 days as long as 28 days, the pigs will also measured everyday. Body weight and food intake data are analyzed with Kruskal-Wallis test continued with Mann-Whitney test and also paired t-test for intragroup (before and after). Based on this study, it could be known that VCO can decrease body weight. Dose II (25 cc/ day) is the best in decreasing body weight although in between groups analyzing it has no differences with dose I (50 cc/days). The decreasing of rat ’s body weight is not influence by appetite because the food intake is constant.Obesitas dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan, hipertensi misalnya. Salah satu alternatif diet yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi obesitas adalah dengan mengkonsumsi VCO (Virgin Coconut Oil). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat VCO dalam membantu menurunkan berat badan. Penelitian ini berjenis eksperimental praklinik dengan rancangan unrandomized control trial. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 25 ekor tikus putih galur Spraque-Dawleyjantan, umur 4 bulan dan berat badan rata-rata 300 gram. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol positif dan negatif serta tiga kelompok perlakuan yang digemukkan terlebih dahulu. Dosis yang diberikan adalah hasil konversi dosis manusia, yaitu 50 cc/hari, 25 cc/hari, dan 12,5 cc/hari. VCO diberikan peroral setiap hari selama 28 hari kemudian ditimbang sisa pakannya selama itu sedangkan berat badannya dicatat setiap 7 hari sekali. Data selisih berat badan dan intake pakan dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk menganalisa hasil antarkelompok. Uji t berpasangan dilakukan untuk menganalisa hasil intrakelompok (sebelum dan sesudah perlakuan). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa VCO dapat menurunkan berat badan tikus putih yang telah digemukkan terlebih dahulu. Dosis II (25 cc/hari) adalah dosis terbaik dalam menurunkan berat badan walaupun pada analisis antarkelompok tidak terdapat perbedaan bermakna dengan kelompok dosis I (50 cc/hari). Penurunan berat badan tikus putih ini tanpa dipengaruhi oleh nafsu makan karena intake pakan stabil.
Perawatan Pembesaran Gingiva dengan Gingivektomi Andriani, Ika
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1595

Abstract

The purpose of this article is to report a case of treatment gingival enlargement by gingivectomy The inflammatory enlargement is clinically called hyperthropic gingivitis or gingival hyperplasia and generally related to local or systemic factors. They could be edematous or fibrous. The former is treated by scaling,curettage and root planing, but the latter could not be treated by scaling, curettage and root planing and only has to be removed by gingivectomy A 13-year-old female presented with a complaint of swelling of the gingiva with bled when brushed the teeth in the maxillary and mandibulary anterior region for a period of three mounts. A clinical examination revealed the existence of poor oral hygiene and bleeding spontaneously. By scaling, curettage and root planning this disease could not be treated and only has to be removed by gingivectomy. After gingivectomy, the patient had a better clinical appearance and good gingival esthetic.Tujuan penulisan naskah ini adalah melaporkan kasus perawatan pembesaran gingiva dengan gingivektomi Pembesaran gingiva karena peradangan secara klinis disebut gingivitis hipertropi atau hiperplasi gingival dan disebabkan karena faktor lokal ataupun sistemik. Bisa karena odematus atau fibrotik., jika tidak bisa dirawat dengan scaling, curettage dan root planing maka hanya dilakukan gingivektomi. Pasien wanita 13 tahun datang ke bagian Periodonsi RS Sudomo Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan keluhan, sudah tiga bulan gigi-gigi anterior rahang atas dan bawah membesar dan berdarah ketika menyikat gigi. Pemeriksaan klinis kelihatan bahwa kebersihan mulut yang buruk dan berdarah spontan. Ketika pembesaran gingiva tidak dapat dirawat dengan scaling, curettage dan root planing maka hanya bisa dihilangkan dengan gingivektomi. Sesudah gingivektomi, pasien secara klinis dan estetik lebih baik
Evaluasi Pelayanan Kesehatan, Perilaku Masyarakat, dan Lingkungan di Wilayah dengan Angka Kematian Bayi (AKB) Tinggi Dewi, Arlina; Sulistyawati, Endang; Asmi, Sarah Ayu Budi; Arini, Merita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recently, Pejawaran District has high IMR minimal 5 year and higher than national average. The aims of this research are to evaluate health care, community behavior, and environment in Pejawaran District. This research uses observational method with survey approach. The 97 sample are women who ever deliver the life baby and live in Pejawaran for 5 years. Maternal-neonatal health cares in Pejawaran are good, which are enough in available, acceptable-continuely, accessible, affordable, and good quality. Health behaviors are various and some components should be more concerned (proper washing hand, brushing teeth, “kadarzi”, birth attendance, health insurance and smoking). Illness behaviors are still low, especially mother knowledge. Sick role behaviors are various especially the community efforts to take medication. Achievement is good in the knowledge of health care places and the understanding of the rights of sick people although the understanding of the duties is low. Unfulfilled health housing component are ratio wide house with family members (22,7%), floor (51,5%), wall (49,5%), roof (3,1%), ventilation (66%), lighting (20,6%), and cages of animal (51,6%). Unfulfilled health basic sanitation are the drinking water source (100%), excreta disposals (87%), garbage bin (4,1%), andwaste water disposal (50,5%). The conclution are maternal-neonatal health care in Pejawaran District have fulled requirement; health related behaviors achievement are various, but mostly must be increased; and the majority environment archievement haven ’t fulled health requirements yet.Kecamatan Pejawaran memiliki AKB tinggi selama 5 tahun terakhir dan lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat, dan lingkungan di Kecamatan Pejawaran. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan survei. Sampel sebanyak 97 yaitu ibu yang pernah melahirkan 1 bayi lahir hidup dan tinggal di Pejawaran minimal 5 tahun. Pelayanan kesehatan maternal-neonatal cukup tersedia, dapat diterima-berkelanjutan, mudah dicapai, dapat dijangkau, dan berkualitas. Perilaku sehat masyarakat bervariasi, komponen yang masih memerlukan perhatian adalah mencuci tangan dengan benar, menggosok gigi, kadarzi, penolong persalinan, asuransi kesehatan dan merokok. Perilaku sakit masih rendah khususnya pengetahuan ibu. Perilaku peran sakit beragam khususnya perilaku mencari kesembuhan. Pengetahuan adanya tempat pelayanan kesehatan dan kepemahaman terhadap hak orang sakit tercapai dengan baik walaupun kepemahaman terhadap kewajiban orang sakit masih rendah. Komponen rumah yang belum mencapat syarat kesehatan adalah kepadatan rumah (22,7%), lantai (51,5%), dinding (49,5%), langit-langit (3,1%), ventilasi (66%), pencahayaan (20,6%), dan kandang ternak (51,6%). Sanitasi dasar yang belum mencapat syarat kesehatan adalah sumber air bersih (100%), sarana pembuangan kotoran (87%), sarana pembuangan sampah (4,15%), dan sarana pembuangan limbah (50,5%). Kesimpulan yang diperoleh adalah pelayanan kesehatan maternal-neonatal Kecamatan Pejawaran sudah memenuhi syarat; cakupan perilaku masyarakat terkait kesehatan beragam, namun sebagian besar harus diperbaiki; dan cakupan komponen lingkungan sebagian besar belum memenuhi syarat kesehatan.
Pelepasan Tali Pusat dan Omphalithis Kajian terhadap Perawatan Dengan ASI, Alkohol 70% dan Kering Terbuka Sumaryani, Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study used ‘comparative study ’ to identify the different duration of umbilical cord separation, between umbilical cord care by using breast milk, alcohol 70%, and dry open care. Population of this study are healthy infants who were delivered spontaniously at Sakina Idaman hospital, PKU Muhammadiyah Kota Gede hospital, Queen Latifa hospital Yogyakarta. A total sample of 93 newborn were taken by quota sampling. The result of the study shown that the average duration of umbilical core separation with breast milk care 5,32 days, alcohol 70% 6,87 days, and dry care is 6,65 days. There is significant different in duration of umbilical cord separation between breast milk care and with alcohol 70% care (p=0,001), but there is no significant different in duration of umbilical cord separation between alcohol 70% care and dry care (p=1,000). In another hand there is no significant different of the omphalitis incidens between three group (p=1,000). Conclusion of this study shown that the duration of umbilical cord separation with breast milk is significanly faster than alcohol 70% and dry care.Penelitian ini merupakan penelitian comparative study’ yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu pelepasan tali pusat dan kejadian omphalitis pada perawatan tali pusat dengan ASI, alkohol 70%, dan perawatan kering terbuka. Populasi penelitian adalah bayi sehat yang lahir secara spontan di RB Sakina Idaman, RS PKU Muhammadiyah Kota Gede, dan RB Queen Latifa. Sampel dalam penelitian ini adalah 93 bayi baru lahir. Pengambilan sampel dilakukan dengan quota sampling. Hasil penelitian menunjukkan rerata waktu pelepasan tali pusat yang dirawat dengan ASI 5.32, alkohol 70% 6,87 hari, sedangkan kering terbuka 6,65. Waktu pelepasan tali pusat yang dirawat dengan alkohol 70% tidak ada perbedaan yang bermakna bila dibandingkan dengan kering terbuka (p=1,000) dan tidak ada perbedaan yang bermakna kejadian infeksi lokal tali pusat atau omphalitis antara perawatan tali pusat dengan ASI, alkohol 70% maupun kering terbuka (p=1,000). Kesimpulan penelitian ini adalah waktu pelepasan tali pusat yang dirawat dengan ASI secara signifikan lebih cepat bila dibandingkan tali pusat yang dirawat dengan alkohol 70% maupun kering terbuka (p=0,001).
Efek Mengkonsumsi Air Minum dengan Mineral Rendah dan Minuman Isotonik Bervitamin terhadap Kemampuan Rehidrasi Indriawati, Ratna; Kodri, Riverian Wijaya
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1586

Abstract

All of drinks can restore the body fluid balance and electrolytes which loss because of sports and activity. The aim of this study was to reveal the effect of consumption of drink with low mineral, ordinary and isotonic drink with vitamin. Experimental study, with pre and post test control group design. Subjects were thirty male Medical Faculty of Muhammadiyah University of Yogyakarta students fulfilling the inclusion criteria and divided into 3 groups, the control group, treated group and treated group. The controlled group was given plain water, the treated group I was given water containing low mineral and the treated group II was given isotonic drink with vitamin. Dehydration levels were measured by weighing the subject before and after exercise to find out the level. The restored fluid balance was determined by comparing the results of body weight, clarity, color, and urine specific gravity 15 minutes after rehydration I and 15 minutes after rehydration II to before exercise. The statistic analysis using paired t-test and one way anova test. The results showed that the means of body weight, clarity, color and urine specific gravity before and after exercise were significantly different (p 0,05) based on statistical analysis of three groups. The three groups experienced mild dehydration. There were significant difference (p 0,05) of urine specific gravity 15 minutes after rehydration I, between 2nd treated group with controlled group, 2nd treated group with Ist treated group. No significant difference (p 0,05) of body weight, clarity, and color urine means so 15 minutes after rehydration II among the three groups. An isotonic drink with vitamin was able to restore the body fluid balance in mild dehydration in 15 minutes after exercise. Meanwhile, drink containing low mineral was able to restore the body fluid balance in mild dehydration in 30 minutes after exercise.Semua minuman dapat mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit yang hilang akibat beraktivitas dan berolahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek konsumsi air minum dengan mineral rendah, biasa dan minuman isotonik bervitamin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan rancangan pre and post test control design. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi, berjumlah 30 orang, dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol, perlakuan I dan perlakuan II. Kelompok kontrol diberi air biasa, kelompok perlakuan I diberi air mineral rendah dan kelompok perlakuan II diberi minuman isotonik bervitamin. Dilakukan penimbangan berat badan (BB) sebelum dan sesudah olahraga untuk mengetahui tingkat dehidrasi. Kemampuan rehidrasi diketahui dengan cara membandingkan hasil  penimbangan BB, pemeriksaan kejernihan, warna dan berat jenis urin 15 menit sesudah rehidrasi I dan 15 menit sesudah rehidrasi II dengan sebelum olahraga. Analisis data menggunakan paired t test dan one way anova test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rerata BB, kejernihan, warna dan berat jenis urin 15 menit sebelum dan sesudah olahraga terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada ketiga kelompok (p 0,05). Ketiga kelompok berada pada tingkat dehidrasi ringan. Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik (p 0,05) antara rerata berat jenis urin15 menit setelah rehidrasi I pada ketiga kelompok. Rerata BB, kejernihan, warna dan berat jenis urin tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik (p 0,05). Rerata BB, kejernihan, warna dan berat jenis urin 15 menit setelah rehidrasi II, tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara ketiga kelompok (p 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah minuman isotonik bervitamin mampu mengembalikan keseimbangan cairan tubuh pada dehidrasi ringan, dalam waktu 15 menit setelah olahraga, sedangkan air mineral rendah mampu mengembalikan keseimbangan cairan tubuh pada dehidrasi ringan dalam waktu 30 menit setelah olahraga.
Hubungan antara Kecanduan Online Game dengan Depresi Puspitosari, Warih Andan; Ananta, Linaldi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1592

Abstract

In psychological aspect, bad relation between online game addict to their families and friends usually causes isolation from the community, which can induce some psychiatric disorder for example depression. The purposes of this research are to identify depression score in online game addict and analyze the relation between the addiction to online game and depression. This study is a descriptive non-experimental study, uses cross sectional method. Data analysis uses SPSS 16 with Spearman non-parametric correlation method. The subject are 64 people from online gamer in Genesis game centre attain the age of 17-24 year old. Subjects are asked to fill the questionnaire of online game addiction from Astuti and depression score determined with Beck Depression Inventory (BDI). Result of this study showed that from 64 subjects, 35 subjects (54,7%) are low addiction, and then 29 subjects (45,3%) are high addiction. Moreover, about depression, from 64 subjects 39 subjects (60,9%) are normal and 16 subjects (25%) suffer mild depression, 8 subjects (12,5%) suffer moderate depression, and 1 subject (1,6%) suffers severe depression. Analysis result by Spearman non-parametric correlation test and Sugiyono correlation strength table showed weak correlation between online game addicts and depression (sig 0,005; correlation coefficient 0,348). The conclusion of this study is there’s weak correlation between online game addiction and depression.Kecanduan online game membawa dampak negatif, baik dari aspek fisik maupun psikologis. Dari aspek psikologis, buruknya hubungan sosial dengan keluarga dan teman, menyebabkan pecandu online game seringkali terisolasi dari masyarakat dan rentan menderita gangguan psikiatri, salah satunya adalah depresi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui skor depresi pada pecandu online game dan menganalisis hubungan antara kecanduan online game dengan depresi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional study. Analisis data dilakukan dengan alat bantu program komputer dengan metode analisis korelasi Spearman. Subyek penelitian adalah pemain online game di game centre Genesis Yogyakarta, berusia 17-24 tahun, sebanyak 64 orang. Subyek diminta untuk mengisi kuesioner online game addict dan kuesioner depresi. Kuesioner online game addict yang digunakan adalah kuisioner dari Astuti (2005), sedangkan untuk menilai skor depresi digunakan Beck Depression Inventory Scale (BDI). Hasil penelitian menunjukkan bahhwa dari total subyek sebanyak 64 orang, 35 orang (54,7%) merupakan low addiction, sedangkan 29 orang (45,3%) merupakan high addiction. Sejumlah 39 subyek (60,9%) termasuk kategori tidak depresi, 16 orang (25%) depresi ringan, 8 orang (12,5%) depresi sedang, dan 1 orang (1,6%) depresi berat. Hasil analisis menggunakan teknik korelasi non- parametrik Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan online game dengan depresi. (p 0,005), dengan kekuatan hubungan lemah yaitu 0,348. Oleh karena itu dapat disimpulkan terdapat hubungan yang lemah antara kecanduan online game dengan depresi.
Perbandingan Nilai APGAR Bayi Pada Kelahiran Presentasi Bokong Secara Pervaginam dan Perabdominal di RSUD Kebumen Tahun 2007 Sukmaningrum, -; Baehaqi, Akil; Kuntari, Titik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1587

Abstract

Infant morbidity and mortality was higher in breech presentation than cephalic presentation. It is because of prematurity, asphyxia or trauma more often happening in breech presentation. Maternal morbidity rate was increased, which is caused of postpartum bleeding. The higher major caused of breech presentation perinatal mortality is asphyxia, which is can be identified by APGAR score. The objectives of this study are to compare the APGAR score among delivery history with breech presentation in pervaginam and perabdominal delivery. This research is a non experimental study using cross sectional study design. The subjects are patient with breech presentation and infant which is taking care in RSUD Kebumen during 2007. There is a significant infant APGAR score differences between pervaginam and perabdominal breech presentation delivery history (p value=0,00, IK95%). Infant APGAR score with breech presentation history wich is delivery by perabdominal is better than wich is delivery by pervaginam.Angka kematian bayi sangat dipengaruhi oleh kematian perinatal. Pada presentasi bokong morbiditas dan mortalitas bayi lebih besar bila dibandingkan dengan presentasi letak kepala. Hal ini disebabkan karena pada presentasi bokong lebih sering terjadi prematuritas, asfiksia, atau trauma. Angka morbiditas ibu juga meningkat yang disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan. Penyebab kematian perinatal pada presbo yang tertinggi umumnya adalah karena asfiksia, yang bisa diidentifikasikan dengan nilai APGAR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai APGAR pada persalinan dengan riwayat presbo secara pervaginam dengan perabdominal. Penelitian ini merupakan rancangan penelitian cross sectional dan data diambil secara retrospektif dibagian rekam medis. Subjek penelitian berasal dari pasien dengan presbo dan bayinya yang dirawat di RSUD Kebumen selama tahun. Ada perbedaan yang bermakna antara nilai Apgar pada bayi riwayat persalinan presentasi bokong pervaginam dengan perabdominal (nilai p=0,00, IK95%). Nliai Apgar bayi dengan riwayat presbo yang dilahirkan secara perabdominal lebih baik dibandingkan dengan yang dilahirkan secara pervaginam.

Page 1 of 2 | Total Record : 19


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue