cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Captopril Mencegah Stres Oksidatif pada Tikus Wistar Jantan dengan Diet Tinggi Lemak Ikhlas Muhammad Jenie; Rizki Afrian; Barii Hafidz Pramono
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 1 (2016): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i1.4723

Abstract

Stres oksidatif berperan dalam terjadinya penyakit-penyakit kardiovaskular. Stres oksidatif ditandai dengan peningkatan radikal bebas dan penurunan sistem antioksidan. Sumber utama radikal bebas pada sirkulasi adalah enzim NAD(P)H oksidase. Enzim tersebut dimodulasi oleh angiotensin II. Angiotensin II dihasilkan dari konversi Angiotensin I oleh enzim angiotensin converting enzyme (ACE). Timbul pertanyaan apakah pemberian captopril, suatu penghambat ACE, dapat mencegah stres oksidatif. Untuk itu dilakukan penelitian pra-eksperimental pada hewan coba dengan rancangan post test only measurement. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan dikelompokkan ke dalam 3 kelompok: kelompok I mendapat diet normal 20g/hr, kelompok II diet tinggi lemak (10%) 20g/hr dan kelompok III diet tinggi lemak (10%) 20g/hr dan captopril 50 mg/kgBB/hr. Perlakuan diberikan selama 2 bulan. Variabel yang diukur adalah berat badan, kadar kolesterol total, kadar hidrogen peroksida (H2O2) dan histopatologi aorta. Data dianalisis dengan ANOVA satu arah. Berat badan tikus antarkelompok tidak berbeda bermakna pada awal dan akhir perlakuan. Kadar kolesterol total antarkelompok berbeda bermakna, dengan kadar kolesterol total pada tikus kelompok III lebih rendah secara bermakna daripada kelompok I dan II. Kadar H2O2 antarkelompok berbeda bermakna, dengan kadar H2O2) pada tikus kelompok II lebih tinggi secara bermakna daripada kelompok I dan III. Pada pemeriksaan histopatologi, lesi aterosklerotik ditemukan pada kelompok II dan III. Disimpulkan bahwa pemberian captoprildapat mencegah stres oksidatif pada tikus Wistar jantan dengan diet tinggi lemak.  
Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks Warih Andan Puspitosari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1502

Abstract

The need of the appropriate comprehension of the human sex essentials for adolescents is urgently required. The facts show that adolescents fre¬quently do not know where to go in finding the right information about sexu¬ality; hence they seek information to resources who do not certainly provide the right information. This could mislead them to go on the wrong path. In fact, the information about the right sexual issues can be provided through sex education. The understanding that sex education is only a mere knowledge of sexual intercourse will result the rejection of many people to provide sex education for the adolescents. The stigma in the society that sex education is a taboo should be eliminated, hence the adolescents could obtain the right informa¬tion. An open-minded point of view that sex issues can be politely and well discussed has to be arised, hence not causing rejections from many people. The best sex education is the one provided by the parents as the closest people, in relaxing condition, with heart-to-heart approach. Therefore, it re-quires appropriate comprehension of the parents on those issues.Kebutuhan akan pemahaman yang benar tentang hakekat seksualitas manusia bagi remaja kian mendesak untuk dipenuhi. Kenyataan menunjukkan bahwa remaja sering tidak tahu ke mana mereka bisa mendapatkan informasi yang benar tentang seksualitas, sehingga mereka mencari informasi pada pihak-pihak yang belum tentu memberikan pengertian secara benar. Hal ini justru bisa menyesatkan para remaja. Sebenarnya, informasi tentang masalah seks yang benar dapat diberikan melalui pendidikan seks. Pemahaman bahwa pendidikan seks hanyalah pengetahuan tentang hubungan seks semata-mata menyebabkan banyak pihak menolak untuk memberikan pendidikan seks kepada remaja. Stigma yang ada di masyarakat bahwa pendidikan seks adalah sesuatu yang tabu harus dihapus, sehingga remaja bisa mendapatkan informasi yang benar. Perlu dibuka sebuah wacana bahwa masalah seks bisa didiskusikan secara sopan dan baik, sehingga tidak menimbulkan penolakan dari berbagai pihak. Pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sebagai orang terdekat, dalam suasana santai dengan pendekatan dari hati ke hati, sehingga dibutuhkan pemahaman yang benar dari orang tua tentang masalah tersebut.
Imunitas Seluler Malaria Titiek Hidayati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1867

Abstract

Malaria is still a majority infection disease in Indonesia. Although the disease have high rate morbidity and mortality, but literature concerning malaria immunology is still few. There is no effective vaccine available against endemic human malaria at present. The aim of this study is to explain new information about cellular immune response of infection malaria.Malaria infection by Plasmodium falsiparum patient who have not immuned can cause patient died. In the body of patient, malaria parasite is a lot of staying in cell, either in hepatosit and also eritrosit. The cellular immunity assumed more antici¬pated to malaria infection compared to the humoral immuned system. T lymphocyt, macrophage and other phagocyt that helping by pro inflammation cytokin, interleukin 2, TNF A and interferon y, are important component [of] cellular immuned system. The direct phagocytosis and microbisidal is an important mechanism to elliminate the parasite by phagocyte.Malaria masih merupakan penyakit infeksi utama di Indonesia. Tingkat morbiditas dan mortalitas malaria di Indonesia masih tinggi, tetapi literatur mengenai imunologi malaria masih sedikit. Sampai saat ini belum ada vaksin malaria yang mampu melindungi masyarakat yang tinggal di daerah endemic. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji imunitas seluler pada infeksi malaria melalui pendekatan kajian pustaka.Infeksi malaria oleh Plasmodium falsiparum pada penderita yang tidak imun dapat menyebabkan kematian. Dalam tubuh penderita, parasit malaria banyak tinggal di dalam sel baik di dalam hepatosit maupun eritrosit. Imunitas seluler diduga lebih berperan sebagai sistem pertahanan penderita terhadap infeksi malaria dibandingkan dengan sistem imun humoral. Sel limfosit T, makrofag dan fagosit dengan dibantu oleh sitokin pro inflamasi, interleukin 2, TNF a dan interferon y, merupakan komponen utama sistem imun seluler. Fagositosis langsung dan mikrobisidal merupakan cara eliminasi parasit yang utama oleh fagosit.
Perbedaan Tingkat Ketajaman Visus antara Penambang Pasir di Sungai Serayu dan Perenang di Umbang Tirto Yogyakarta Paryono, -; Mahanggoro, Tri Pitara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1664

Abstract

The decrease of eyes function like blindness can disturb the daily activities, so in the long term it would be decrease work productivity which is appears economic burden whether for personally, society and country. The disease cause by dust who enters to eyes will appear a big disturb. If this problem still happened will appears dangerous disease even blindness. The purpose of this research is to knowing the difference of the acuteness of vision between sand miner and swimmer.. Subject in this research are 60 people which age 15-35 years old, subject are sand miner in Serayu river and swimmer in umbang tirto yogyakarta, the instrument in this research is optotip Snellen . Data was collected and than analysis by chi-Square and t test. Finally, as this research examines shower the influence time of diving for sand miner, the result is p=0.105, this number is bigger than standard number of p, which is p0.05. And influence timing of swimming the result is p=0.322, this number is bigger than the standard number of p which is p0.05. the data using t test for knowing the different of acuteness of vision sand miner and swimmer, t test shower p value is smaller than standard value which is p=0.023. Conclusion is there is influence long activity whether diving or swimmer to acuteness of vision but the influence not really meaning full but there is significant different between acuteness of vision for sand miner and swimmer.Turunnya fungsi mata sebagai indra penglihatan sampai pada kebutaan akan mengganggu aktivitas kerja sehari - hari, sehingga akan menurunkan produktivitas kerja yang mengakibatkan bertambahnya beban ekonomi baik bagi individu, masyarakat dan Negara. Trauma yang diakibatkan oleh debu yang masuk ke dalam mata sudah cukup menimbulkan gangguan hebat. Apabila keadaan ini dibiarkan dapat menimbulkan penyakit yang cukup gawat, bahkan kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat ketajaman visus antara penambang pasir dengan perenang. Subyek dalam penelitian ini adalah 60 orang dengan usia 15-35 tahun, subyek penelitian adalah penambang pasir di sungai Serayu dan perenang di umbang tirto Yogyakarta. Instrumen yang dipakai adalah ototip Snellen. Data di yang diperoleh kemudian dilakukan uji analisis dengan menggunakan Chie-Schuare dan uji t. Hasil penelitian menunjukan pengaruh lama aktivitas menyelam pada penambang pasir didapat nilap p=0.105 nilai ini lebih besar dari nilai p standar yaitu p0.05 dan pengaruh lama berenang didapat nilai p=0.322 nilai ini lebih besar dari nilap p standar yaitu 0.05. Data tersebut kemudian dilakukan uji t untuk mengetahui perbedaan visus penambang pasir dengan perenang, uji t menunjukan nilai p lebih kecil dari standar yaitu p=. Kesimpulannya adalah ada pengaruh lama aktivitas baik menyelam maupun berenang terhadap tingkat ketajaman visus tetapi pengaruh tersebut tidak bermakna tetapi terdapat perbedaan yang signifikan antara visus penambang pasir dan visus perenang.
Kandungan Zat Aktif pada Beberapa Jenis Minuman Berenergi Kusbaryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1548

Abstract

The content of active substances in several kinds of energy drinks which are commonly marketed in public include taurine, caffeine, inositol, ginseng, micotinamide, vitamin B1, vitamin B2 and vitamin B6. In the body, each of those active substances has different function, however in general they can increase energy and vitality. The consumption of an energy drink at a standard dose is quite safe, except in hipersensitivity condition. The side effect of caffeine can arise when it is taken more than 250 mg (5 bottles) all at once. Taurine can also result in side effect, although it is very rare. The consumption of inositol and nicotinamide are to be cautious in diabetic patients, because they can increase blood sugar level. The consumption of piridoxin at 50 mg - 2g for a long period of time can result in side effects of sensoric neuropathy and neu-napathy syndrome.Kandungan zat aktif beberapa jenis minuman berenergi yang banyak beredar di masyarakat antara lain ialah taurine, kafein, inositol, ginseng, nicotinamid, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin B6. Di dalam tubuh masing-masing zat aktif tersebut punya peran berbeda-beda, namun secara umum akan meningkatkan energi dan vitalitas tubuh. Konsumsi minuman berenergi dalam dosis normal cukup aman,kecuali ada hipersensitifitas. Efek samping bisa muncul dari kandungan kafein apabila SsEEKimsi melebihi dosis 250 mg(5 botol) sekaligus, bisa juga muncul dari kandungan taurine meskipun sangat jarang terjadi,sedangkan dari kandungan inositol dan nicotinamide perlu waspada bagi penderita penyakit diabetes melithus karena bisa menaikkan kadar gula darah.Dari kandungan piridoksin konsumsi jangka panjang dengan dosis antara 50 mg-2g dapat menyebabkan neuropati sensorik dan sindroma neuropati
Pengaruh Serbuk Cabai Rawit (Capsicum frutescens L) terhadap Nafsu Makan dan Berat Badan Anak Tikus Putih (Rattus norvegicus L) Ratna Sari Ritonga; Ratna Indriawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1561

Abstract

Lost of appetite factor in children approxiantely between 25% and can increase until 40-70% especially in chonic infection and premature infants. It has consequence to reduce their body weight. The aim of this study is to find out the influence of Capsicum frutescens L to appetiteand body weight of Rattus norvegicus L. The samples consisted of 24 Rattus norvegicus L, male and female, devided into 4 groups. every group was given Capsicum frutescens L powder such with 60 mg, 90 mg, I20 mg and one group used for control. Such group was being adapted for one week and then was given the treatment for three weeks. The analized result using Anova test showed that there was significant different between the amount rest of food and body weight increasing of Rattus norvegicus L given Capsicum frutescens L to each treatment group. Among various groups of treatment the most effective dosis is I20 mg.It is concluded that Capsicum frutescens L has the potential effect to stimulate the Rattus norvegicus L appetite and to increase body weight.Faktor kesulitan makan pada anak dialami sekitar 25% usia anak, dan jumlah akan meningkat sekitar 40 - 70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Faktor yang paling banyak menimbulkan kesulitan makan yaitu kurangnya nafsu makan. Kesulitan makan akan menyebabkan berat badan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) terhadap nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L). Sampel adalah 24 ekor tikus, jantan dan betina, dan dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan serbuk cabai rawit dengan dosis 60 mg/hari/ekor, 90 mg/hari/ekor, 120 mg/hari/ekor, dan kelompok kontrol. Sampel diadaptasikan selama seminggu, kemudian diberi perlakuan selama 3 minggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan sisa makanan yang bermakna secara statistik antara jumlah sisa makanan dan peningkatan berat badan Rattus norvegicus L. Serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L) dengan dosis efektif yaitu 120 mg/hari/ekor untuk meningkatkan nafsu makan dan lebih efektif pada jantan. Disimpulkan bahwa pemberian Capsicum frutescens L dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan Rattus norvegicus L.
Pengaruh Senam Kebugaran Jasmani terhadap Fleksibilitas Sendi pada Wanita Usia 45-50 Tahun Zulkhah Noor; Asep Nurul Huda
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.925

Abstract

Fleksibilitas sendi adalah kemampuan untuk bergerak bebas tanpa rasa sakit. Latihan fisik merupakan upaya untuk melatih tubuh dalam menjaga fleksibilitas sendi. Wanita berisiko menderita osteoporosis dan kehilangan fleksibilitas sendi mereka. Hal ini berakibat mudahnya cidera dan terbatasnya rentang gerak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan fleksibilitas sendi wanita usia 45-50 tahun yang melakukan latihan fisik dan tidak. Desain penelitian adalah cross sectional. Subyek adalah 20 orang wanita usia 45-50 tahun yang melakukan latihan fisik dan tidak. Data diperoleh dari kuesioner dan mengukur fleksibilitas sendi secara langsung menggunakan metode sit and reach. Fleksibilitas sendi mempunyai nilai e” 10 cm adalah baik, -10 cm hingga 10 cm adalah moderat dan d” 10  cm lebih buruk. Perbedaan nilai fleksibilitas sendi dianalisis dengan Mann Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai fleksibilitas sendi tertinggi wanita usia 45-50 tahun yang melakukan latihan fisik adalah 18 cm, terendah adalah 11 cm, rata-rata adalah 14,3±4.25 cm dan 100% masuk ke kategori baik. Fleksibilitas sendi nilai tertinggi wanita usia 45-50 tahun yang tidak melakukan latihan fisik adalah 2  cm, terendah adalah -17 cm, rata-rata -10 ± 7,63 cm, 25% masuk ke moderat kategori dan 75% masuk ke kategori buruk. Disimpulkan bahwa nilai fleksibilitas sendi wanita yang melakukan latihan fisik lebih baik secara bermakna daripada wanita yang tidak melakukan latihan fisik (p = 0,0001).
Efek Antiinflamasi Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa [Scheff.] Boerl) pada Tikus Betina Terinduksi Karagenin Akhmad Edy Purwoko; - Agustiana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1577

Abstract

The objective of the research is to understand the anti-inflammation effect of Mahkota Dewa fruits (Phaleria macrocarpa) in the female rats foot edema induced by carrageenan. Research design is a simple randomized experimental. Samples taken a number of 30 female mice of Wistar groove, divided into 5 groups randomly, each group consisted of 6 mice. All groups of mice fasted for 12 hours. Volume measurement is done early by pletismograph for 3 times. Mice were given treatment orally with aquades, ibuprofen, infusa of mahkota dewa 2.1%, 4.2%, and 8.4%. One hour later the right foot injected with carrageenan 1% subplantar. After injection the right foot volume measured as the volume of minutes 0 (T0) further measurements made every 15 minutes to the minutes 240 (T16). Anti-Inflammation effect votes average difference with the volume of foot edema. Data statistically tested with Anova and LSD type Post Hoc Analysis-Multiple Comparison. The result shown that every mahkota dewa doses have different effect significantly with negative controlp0,005. Doses group with 2,1% and 4,2% different not significantly with positive controlp0,05. Dose 8,4% different significanly both. It show that mahkota dewa have anti-inflammation effect.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek antiinflamasi daging buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) pada edema kaki tikus betina terinduksi karagenin. Disain penelitian adalah eksperimental acak sederhana. Sampel 30 ekor tikus betina galur Wistar, dibagi 5 kelompok secara acak, masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus. Seluruh kelompok tikus dipuasakan selama 12 jam. Volume awal kaki kanan tikus diukur dengan pletismograph sebanyak 3 kali. Tikus diberi perlakuan peroral berupa aquades, ibuprofen, infusa mahkota dewa 2,1%, 4,2%, dan 8,4%. Satu jam kemudian telapak kaki kanan tikus disuntik karagenin 1% subplantar. Setelah penyuntikan volume kaki kanan diukur sebagai volume menit ke-0 (T0), dilakukan pengukuran tiap 15 menit hingga menit ke-240 (T16). Daya inflamasi dinilai dengan menghitung rerata selisih volume edema kaki. Data diuji secara statistik dengan Anova dan Post Hoc Analysis - Multiple Comparison tipe LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing dosis mahkota dewa mempunyai efek berbeda signifikan terhadap kontrol negatif p0,05. Kelompok dosis 2,1% dan 4,2% berbeda tidak bermakna dibandingkan kontrol positif p0,05. Kelompok dosis 8,4% perbedaan bermakna baik kontrol positif maupun kontrol negatif. Ini membuktikan bahwa mahkota dewa memiliki efek antiinflamasi.
Hubungan Asupan Makanan Anak Usia 0-2 Tahun terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia 2 Tahun di Puskesmas kasihan 1 Kabupaten Bantul Yogyakarta Nur Aini Abd. R Balafif; - Kusbaryanto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i3.959

Abstract

Upaya peningkatan sumber daya manusia tidak dapat lepas dari keadaan gizi manusianya. Keadaan gizi buruk akan menghambat kualitas sumber daya manusia, karena keadaan gizi buruk terutama pada bayi usia 0-2 tahun yang merupakan periode kritis terhadap gangguan tumbuh kembang mempunyai dampak buruk terhadap perkembangan anak dan tingkat kecerdasannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan makanan anak usia 0-2 tahun dengan perkembangan motorik anak usia 2 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan crosssectional menggunakan pendekatan retrospektif. Subjek penelitian adalah anak usia 24-35 bulan sebanyak 55 anak. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan wawancara dan kuesioner dan nilai observasi menggunakan Denver II. Analisis data univariabel menggunakan distribusi frekuensi, bivariabel menggunakan chi-square dan analisis multivariabel menggunakan condicional logistic regression. Hasil penelitian menunjukan anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki resiko keterlambatan perkembangan motorik 1,95 kali dibanding dengan anak yang mendapat ASI eksklusif (P=0,10 CI 95%: 0,91-4,18) meskipun secara statistik tidak bermakna. Anak yang diberi MP-ASI 3 kali perhari memiliki 1 ,15 kali untuk mencapai perkembangan motorik normal dibanding dengan anak yang diberi MP-ASI ? 3 kali perhari (P=0,53  RR 0,68 CI 95% : 0,18-2,47). anak dengan ibu berpendidikan menengah kebawah tinggi memiliki risiko keterlambatan motorik 2,66 kali dibanding dengan anak yang ibunya berpendidikan (P=0,05 CI 95% : 0,87-8,16) sedang ibu yang pernah mendapat pendidikan non formal berbanding terbalik dengan perkembangan motorik anak (P=0,04  RR 0,39 (CI 95% : 0,14-1,06).
Terapi Antibodi IgE pada Rinitis Alergi Asti Widuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1594

Abstract

Allergic rhinitis is a highly prevalent respiratory disease, affecting up to 40% of the population in some countries, and has an important impact on quality of life. Although a number of different drug types are available for treating allergic rhinitis, antihistamines are currently considered first line therapy. Most current treatments only relieve symptoms and do not modify the course of the disease. IgE may play a role in allergic sensitization, interaction between allergens and IgE leads to activation of mast cell, with consequent release of histamine andother pro-allergic mediators. IgE therefore potentially represents an important target for pharmacological intervention in allergic rhinitis.Rinitis alergi adalah penyakit saluran pernafasan yang tinggi prevalensinya, mengenai sampai 40% populasi di beberapa negara, dan menimbulkan dampak yang serius pada kualitas hidup. Meskipun bermacam-macam obat dapat digunakan untuk mengobati rinitis alergi, antihistamin yang merupakan pilihan obat pertama. Hampir seluruh pengobatan rinitis alergi hanya ditujukan untuk mengurangi gejala tetapi tidak merubah perjalanan penyakitnya. IgE kemungkinan berperan pada proses sensitisasi, interaksi antara alergen-alergen dengan IgE akan mengaktivasi sel mast yang akan mengeluarkan histamin dan mediator-mediator alergi yang lain. Sehingga IgE memiliki potensi sebagai target intervensi pengobatan secara farmakologis yang penting dalam penanganan rinitis alergi.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue