cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Permasalahan-permasalahan yang Menyertai Erupsi Gigi Indri Kurniasih
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1.1655

Abstract

Tooth eruption process is an normal physiological process. It may become abnormal there disturbances intervered within the process. Several disturbances such as trauma, hereditary factors, and pathological disorders can cause some problems which may leads to dental disorders if it were remain untreated. These matters have to become a serious concern of the dentists. There are several problems which are frequently associated with tooth eruption process such as ankylosis, eruption cyst, eruption hematoma and ectopic eruption. Each of these problems has their own specific clinical characteristic .Moreover, some of the problems needs special treatments to assure that dental anomaly resulted will not develop further and dental eruption is not disturbed. The aim of the writing is to elaborate the etiology, sign and clinical symptoms, and also treatment of problems during tooth eruption.Proses erupsi gigi merupakan suatu proses fisiologis yang normal. Bisa menjadi tidak normal ketika terjadi gangguan pada proses tersebut. Beberapa gangguan berupa trauma, faktor herediter, kondisi patologis terkadang menimbulkan permasalahan yang jika dibiarkan akan berlanjut menimbulkan kelainan pada gigi. Hal ini perlu menjadi perhatian serius oleh dokter gigi. Ada beberapa permasalahan yang sering menyertai proses erupsi gigi diantaranya ankylosis, eruption cyst, eruption hematoma dan ectopic eruption. Permasalahan-permasalahan tersebut mempunyai karakteristik yang khas. Beberapa diantaranya bahkan memerlukan penanganan khusus agar kelainan gigi tidak berlanjut dan proses erupsi gigi tidak terganggu. Penulisan ini bertujuan untuk menguraikan tentang etiologi, tanda dan gejala klinis serta perawatan dari permasalahan-permasalahan yang timbul selama proses erupsi gigi.
Hubungan Jenis Kelamin dengan Intensitas Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Lakbok Kabupaten Ciamis Jajuk Kusumawaty; Nur Hidayat; Eko Ginanjar
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 2 (2016): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i2.4450

Abstract

Hipertensi adalah penyebab terbesar penyakit kardiovaskular. Tekanan darah pada pria rata-rata memiliki angka diastolik lebih tinggi dibandingkan dengan wanita pada semua usia dan juga pria memiliki angka prevalensi tertinggi untuk terjadinya hipertensi. Pria memiliki insiden tertinggi kasus kardiovaskular pada semua usia. Di kabupaten ciamis angka hipertensi pada lansia sebanyak 68.450 dari 10 Puskesmas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor jenis kelamin dengan kejadian hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Lakbok Kabupaten Ciamis. Jenis penelitian observasional  analitik kuantitatif dengan menggunakan desain Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini  seluruh lansia penderita hipertensi dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan  proporsional random sampling  sebanyak 92 orang dengan laki-laki 38 orang dan perempuan sebanyak 54 orang. Pengambilan data dilakukan dengan cara langsung diperoleh dari objek penelitian dengan menanyakan langsung jenis kelamin serta pengukuran tekanan darah. Data dianilisis menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Lakbok Kabupaten Ciamis karena nilai X2hitung X2 tabel (11,4457,185) dan nilai α ρ value (0,05 0,01). Saran bagi tenaga kesehatan agar lebih meningkatkan promosi kesehatan mengenai faktor risiko kejadian hipertensi.Hypertension is the biggest cause of cardiovascular disease. Men in the general population have the highest diastolic number in blood pressure compared with women of all ages and also men have the highest prevalence rate for hypertension. Men have the highest incidence of cardiovascular cases at all ages. In ciamis district, hypertension rate in elderly is 68,450 from 10 Puskesmas. The purpose of this study to determine the relationship between the sexes with hypertension in community health centers Lakbok Ciamis Distric.Desain district this study using this type of quantitative analytical research using cross sectional approach. The population of elderly patients with hypertension with the sampling technique used proportional random sampling as many as 92 people of 92 people with 38 men and women as many as 54 people. The data were collected by direct questioning of sex and blood pressure measurement. The results showed there was a significant relationship between gender factor with hypertension in the elderly in community health centers Lakbok Ciamis Distric for grades X2hitung X2 table (11.445 7.185) and the value of α ρ value (0.05 0.01). Advice for health personnel in order to further enhance the promotion of health regarding risk factors hypertension.
Kajian terhadap Pemeriksaan Haemoglobin (Hb) Ratna Indriawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1510

Abstract

The prevalence of anemia among pregnant women and under-five-year- old children in Indonesia is still very high. Hemoglobin (Hb) estimation assists in detecting anemia. There are two methods on measuring Hb by colorimetries i.e. Sahli and Talquist. The objective of this study was to compare the value of Sahli and Talquist methods by using the agreement test. This study was conducted in Physiology Laboratory, Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Yogyakarta. A total number of 39 students who took Physiology were enrolled to this study. The Hb level measurement was conducted by trained students. Two students conducted the Hb level measure-ment using Sahli and Talquist methods randomly. Subjects of the study were 39 students consisted of 18 men and 21 women. The age mean was 20 ± 2,2. Using Talquist method, the Hb levels among men were significantly higher than women (p-0.02). Kappa coeffisient was calcu-lated to know the agreement between Sahli and Talquist methods. The Hb levels were catagorized into two groups using cut-off point 12 mg/dl, 10 mg/dl and 8 mg/dl, respectively. The agreement based on those three cut-off point was low, kappa coefficient were 0.24, 0.20 and 0.22, respectively. There were differences on the Hb level measurement between Sahli and Talquist methods (the agreement test with K=0,24; K=0,22 and K=0,20 were low).Prevalensi anemia pada wanita hamil dan anak-anak di bawah lima tahun di Indonesia masih sangat tinggi. Untuk menentukan adanya anemia perlu pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb). Pemeriksaan kadar Hb secara kolorimetris ada 2 cara yaitu, metode Sahli dan Talquist Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan hasil pengukuran kadar Hb menggunakan metode Sahli dan Talquist dengan uji kesepakatan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi, Fakultas Kedokteran Univer-sitas Muhammadiyah Yogyakarta. Jumlah subyek 39 orang mahasiswa yang mengambil matakuliah fisiologi. Mahasiswa sebelumnya dilatih dahulu. Dua orang mahasiswa melakukan pemeriksaan Hb dengan metode Sahli dan Talquist, secara acak. Subyek penelitian ini adalah 39 mahasiswa, terdiri dari 18 laki-laki dan 21 perempuan, yang berusia rata-rata 20 +2,2 tahun. Pemeriksaan kadar Hb metode Talquist didapatkan perbedaan bermakna antara kadar Hb laki-laki dan perempuan (p=0,02). Perhitungan dengan koefisien Kappa untuk mengetahui kesepakatan antara metode Sahli dengan Talquist. Kadar Hb dikategorikan diam 2 kelompok menggunakan cut-off point 12 g/dl, 10 g/dl dan 8 g/dl. Uji kesepakatan pada 3 cut¬off point tersebut rendah, koefisien Kappa 0,24,0,20 dan 0,22. Terdapat perbedaan hasil pemeriksaan kadar Hb metode Sahli dan Talquist (uji kesepakatan dengan K=0,24, K=0,22 dan K=0,20 rendah).
Penurunan Kadar Interleukin-18 Cairan Peritoneal pada Penderita Endometriosis Yoni Astuti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i2.1751

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan konsentrasi interleukin- 15 (IL-18) pada cairan peritoneal dan serum penderita endometriosis yang -bandingkan dengan kelompok control( tidak menderita endometriosis). Metode penelitian yang digunakan adalah kajian analitik prospektif. Subyek yang terlibat sebanyak 44 penderita yang melakukan bedah laparoscopic pada penyakit ginekologi ringan. Pengambilan cairan peritoneal dan serum sebagai specimen ulakukan sebelum dan sesudah tindakan bedah laparoskopis untuk analisis kadar IL-18. Konsentrasi IL-18 cairan peritoneal dan serum dihubungkan dengan adanya endometriosis, tingkat penyakit, dan fase siklus menstruasi. Hasilnya menunjukkan bahwa Interleukin -18 dapat dideteksi pada 98% specimen cairan peritoneal dan 84 pada specimen serum. Konsentrasi IL-18 cairan peritoneal secara statistic lebih rendah bermakna pada penderita endometriosis dari pada kelompok control. Sedangkan IL-18 serum tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara penderita fndomeriosis dan kelompok kontrol. Konsentrasi IL-18 cairan peritoneal dan serum remyata tidak berhubungan dengan endometriosis, maupun fase siklus menstruasi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah turunnya kadar IL-18 pada cairan reritoneal penderita endometriosis berperan penting pada patogenesis penyakit ini.
Gambaran Rekam Medik Gigi sebagai Posisi Sentral bagi Dokter Gigi di Yogyakarta Iwan Dewanto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2.1672

Abstract

Permasalahan dan kendala utama dari pelaksanaan rekam medis pada pelayanan kesehatan adalah dokter dan dokter gigi tidak menyadari sepenuhnya manfaat dan kegunaan rekam medis pada sarana pelayanan kesehatan. Akibatnya, rekam medis seringkali dibuat tidak lengkap, tidak jelas dan tidak tepat waktu. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan bentuk survey. Cara pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan limitasi sampel yaitu dokter gigi praktek swasta mandiri di wilayah Kota Yogyakarta, dengan masa pengalaman buka praktek dokter gigi 0 sampai dengan 10 tahun. Cara penelitan sampel menggunakan teknik observasional dengan instrumen checklist yang diisi oleh surveyor. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Subyek penelitian adalah 40 dokter gigi praktek sore di kota Yogyakarta. Seorang dokter gigi tidak menggunakan rekam medik pada saat praktek swasta mandiri. Terdapat 12 dokter gigi (30%) yang menggunakan media buku sebagai rekam medik dan 19 dokter gigi (47,5%) yang menggunakan rekam medis sederhana, yaitu hanya berisi data pasien dan terapi. Standar rekam medis nasional yang mengharuskan menulis odontogram (gambar skema gigi dengan penomoran khusus sesuai FDI World Dental Federation) hanya dilakukan oleh 2 dokter gigi (5%). Hasil penelitian ini menunjukkan masih banyak rekam medis dokter gigi yang harus diperbaiki sesuai dengan standar yang berlaku. Hal ini menggambarkan rentannya profesi kedokteran gigi di bidang regulasi hukum di Indonesia.The main problem and obstacle of the implementation of medical/ dental record in the health care services is that medical doctors and dentists do not have sufficient understanding about the importance and functions of medical/ dental records in health care facilities. Consequently, health care providers often write incomplete, unclear and untimely medical/ dental records. This research was a cross sectional study done in a survey. The sampling method used was a random sampling with sample limitation i.e. independent private-practicing dentists in Yogyakarta with practice length of 0-10 years. Research instrument used in this research was a checklist completed by a surveyor. Data collected was analyzed descriptively. Research subjects were 40 independent private-practicing dentists in Yogyakarta. One dentist did not use dental record in his private practice. There were 12 dentists (30%) who used books as media for dental record and 19 dentists (47.5%) us/ed simple dental record consisting of patient data and treatment. National standard of medical record, which obliges writing odontogram (teeth diagram with special numbering in accordance to FDI World Dental Federation) was only done by 2 dentists (5%). The findings revealed that the writing of dental record needed to be improved in accordance with the prevailing standard. This shows the vulnerability of dental profession in the field of law regulation in Indonesia.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Karies Gigi Anak Usia Prasekolah Kabupaten Sleman Tahun 2015 Sri Utami
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180218

Abstract

Karies gigi anak merupakan masalah utama di negara-negara sedang berkembang. Prevalensi karies gigi anak usia 3-6 tahun di Kota Yogyakarta mencapai 84,1%. Karies gigi merupakan multifactorial desease, antara lain faktor host, agent dan lingkungan mulut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pH saliva, plak gigi, frekuensi menyikat gigi dengan status karies gigi anak usia prasekolah. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan case control study. Subyek penelitian adalah 80 anak-anak usia 4-6 tahun di TK wilayah Kabupaten Sleman. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Status karies gigi diukur menggunakan indeks def-s, plak gigi diukur menggunakan indeks PHP-M dan pH saliva diukur menggunakan pH digital meter, serta frekuensi menyikat gigi diukur menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah logistic regression. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa plak gigi berhubungan dengan status karies gigi dengan OR = 4,3 dan p = 0,015, pH saliva dengan OR = 6,2 dan p = 0,002 dan frekuensi menyikat gigi dengan OR = 6,5 dan p = 0,002. Plak gigi, pH saliva dan frekuensi menyikat gigi merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan status karies gigi anak usia prasekolah. Frekuensi menyikat gigi merupakan faktor risiko yang paling berperan dalam kejadian karies gigi anak usia prasekolah.
Cell Signaling Pathways in the Neuroprotective Actions of the Green Tea Polyphenol (-)-epigallocatechin-3-gallate: Implications for Neurodegenerative Diseases Sri Nabawiyati Nurul Makiyah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1874

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bukti-bukti yang mendukung hipotesis bahwa gangguan pengaturan zat besi di otak dan stres oksidatif menghasilkan spesies oksigen reaktif dari hidrogen peroksida (H202) dan proses-proses inflamatori yang memacu kaskade peristiwa yang mempengaruhi kematian sel (apoptosis atau nekrosis) pada penyakit neurodegenerative, contohnya penyakit Parkinson, Alzheimer, Huntington dan sclerosis lateral amiotropik.Saat ini pendekatan terapi yang dilakukan bertujuan untuk menetralkan neurotoksisitas yang diinduksi oleh stress oksidatif, mensuport aplikasi scavenger spesies oksigen reaktif, transisi metal khelator (misalnya Fe dan Cu) dan antioksidan polifenol alami non vitamin pada terapi tunggal atau sebagi bagian dari formulasi campuran antioksidan untuk penyakit ini. Bukti-bukti secara eksperimental dan epidemiologis memperlihatkan bahwa flavonoid pada polifenol khususnya yang berasal dari teh hijau dan blueberi, meningkatkan kemampuan kognitif dikaitkan dengan usia dan bersifat neuroprotektif pada model penyakit Parkinson, Alzheimer, dan gangguan iskemia/reperfusi serebral.Penelitian terakhir menunjukkan bahwa sifat scavenger radikal polifenol dari teh hijau dapat dipakai untuk menerangkan kemampuan neuroprotektifnya dan kenyataannya spektrum yang luas dari penyandi seluler mempunyai nilai yang berharga untuk aksi biologisnya. Pada artikel ini juga diulas tentang mekanisme terkini kajian yang berkaitan dengan aktivitas neuroprotektif molekuler dari polifenol (-)- epigallocatechin-3-gallate teh hijau.
Vitrektomi pada Pasien dengan Retinopati Diabetik Setyandriana, Yunani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1566

Abstract

Retinopathy is a primary morbidity occurring in retinopathy diabetic patients and may cause blindness. The failure of laser treatment to stop the new neovascularization may result in severe vision damage. Vitrectomy is indicated in severe vision patients to improve their vision. The aims of the study were to discuss vitrectomy in diabetic retinopathy patients, refresh the knowledge on how and when Vitrectomy should be performed, and to understand the side effect in order to obtain optimal vision improvement. The method is literature study. Progressive fibrovascular proliferation in diabetic retinopathy patients may lead to retinal detachment. The detachment of posterior retinal without involvement of fovea can be observed. However, if fovea is involved, vitrectomy is indicated. If adequate Laser fails due to media opacity, cataract surgery may be performed. Laser photocoagulation can be conducted a few days postsurgery. Alternatively, both vitrectomy and endolaser may be recommended along with lensectomy and intraocular lens implantation. Diabetic Retinopathy Vitrectomy Study(DRVS) concluded:1) in severe vitreous bleeding eyes, early vitrectomy may result in improved vision despite the high risk of vision loss which needs to be considered.2)In the IDDM patients, especially those with severe vitreous bleeding, early vitrectomy is more beneficial and may have a good result. Postoperative complications may occur including retinal detachment, vitreous bleeding, rubeosis iridis, and other types of complications, which require further considerations for optimal result.The prognosis after vitrectomy depends on the macular function. Surgery for vitreous bleeding without macula detachment generally brings a good result.Retinopati merupakan penyebab morbiditas utama pada pasien diabetes dengan akibat akhir yang paling ditakuti adalah kebutaan. Kegagalan terapi laser untuk menghentikan proliferasi pembuluh darah baru dapat menyebabkan kerusakan penglihatan yang parah. Pada pasien dengan kerusakan penglihatan yang berat, vitrektomi merupakan terapi yang dapat diharapkan untuk memperbaikinya. Kajian ini membahas tentang vitrektomi pada retinopati DM, menyegarkan pengetahuan kita tentang bagaimana dan kapan vitrektomi dilaksanakan serta mengerti efek yang terjadi supaya didapatkan perbaikan penglihatan yang seoptimal mungkin. Proliferasi fibrovaskular yang progresif pada diabetes dapat mengakibatkan lepasnya retina. Lepasnya bagian posterior tanpa melibatkan fovea dapat tetap stabil dan harus diobservasi, namun begitu fovea terlibat, vitrektomi merupakan indikasi. Jika fotokoagulasi panretinal yang adekuat tidak dapat dilakukan karena opasitas media, pembedahan katarak dapat dilakukan, dan fotokoagulasi laser dapat dilakukan setelah beberapa hari pasca pembedahan. Sebagai alternative, vitrektomi dan endolaser dapat dilakukan bersama dengan lensektomi dengan pemasangan lensa intraocular. Penelitian DRVS menyimpulkan: 1) untuk mata dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal menghasilkan tajam penglihatan yang lebih baik, meskipun risiko lebih banyak kehilangan visus sampai tidak didapatkan persepsi cahaya harus dipikirkan. 2) pasien dengan IDDM, khususnya dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal lebih menguntungkan dan menghasilkan pemulihan tajam penglihatan yang baik. Komplikasi post operasi dapat terjadi, diantaranya yaitu pelepasan retina, perdarahan vitreus, rubeosis iridis, dan komplikasi lain harus pula dipikirkan lebih lanjut supaya didapatkan hasil yang optimal. Disimpulkan bahwa prognosis penglihatan setelah vitrektomi tergantung pada fungsi macula. Pembedahan untuk perdarahan vitreus tanpa pelepasan macula biasanya menghasilkan ketajaman penglihatan yang baik.
Uji Potensi Antibakteri Sodium Ascorbyl Phosphate terhadap Propionibacterium acnes In Vitro Sulistiyowati, Yuli; Siswati, Agnes Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.930

Abstract

Akne vulgaris adalah gangguan pada unit pilosebaseus yang sering terjadi pada dewasa muda. Propionibacterium acnes adalah bakteri anaerob yang merupakan flora folikel dan berperan penting dalam patogenesis akne. Sodium Ascorbyl Phosphate (SAP) merupakan bentuk phosphate ester ascorbic acid yang mudah diserap oleh kulit, sehingga sering digunakan dalam produk kosmetik baik sebagai senyawa tunggal maupun campuran. Apabila senyawa ini terbukti mempunyai pengaruh terhadap jumlah koloni P. acnes, maka SAP dapat digunakan sebagai salah satu obat alternatif antiakne. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kadar minimal SAP yang dapat menghambat pertumbuhan P. acnes invitro. Penelitian dilakukan secara eksperimental lab dengan bahan uji SAP yang dibuat dalam konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5 %, 3%, 3,5%, 4%, 4,5 % kadar hambat minimal SAP terhadap P. acnes dengan metode dilusi cair. Penelitian ini dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. P. acnes cair di dapatkan dari Laboratorium Mikrobiologi FK UGM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar hambat minimal SAP terhadap Propionibacterium acnes adalah 2,5 % b/v. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa SAP memiliki potensi antibakteri terhadap Propionibacterium acnes.
The Influence of Hypertension and High-Density Lipoprotein on the Diabetic Nephropathy Patients Enda Silvia Putri; Marniati Marniati; Arafah Husna; Afriani Maifizar
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 20, No 1 (2020): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.200139

Abstract

Diabetes complication of kidney failure begins with poor control of High-Density Lipoprotein (HDL) levels causing constriction of efferent arterioles affecting microalbuminuria, which triggers hypertension due to damage to blood vessels, with scarring in the filtration system of the central part of the kidneys. The Objective of the research was to analyze the influence of hypertension and HDL on the diabetic nephropathy patients. The study was an observational analytic study with a case-control design. The research sample consisted of 32 sample cases of patients with type II DM complications of kidney failure, and 32 control samples were DM type II patients without complications of kidney failure in dr. Pirngadi Hospital, Medan with accidental sampling technique. Data were generated by using questionnaires and medical records and analyzed by using the chi-square test, independent t-test, Mann-Whitney, and multivariate logistic regression to identify the effect of HDL and hypertension with DM type II complications of kidney failure. The Result of multivariate analysis showed hypertension OR; 17.845, and HDL OR; 7.049. The Conclusion showed that the most dominant factor that influenced the incidence of kidney failure complications in DM type II patients was hypertension at the Population Attributable Risk of 91%.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue