cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Efektivitas Krim Ekstrak Zingiber officinale Linn. var. rubrum sebagai Penurun Nyeri Sendi pada Lansia Ricky Andy Setyawan; Sri Tasminatun
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i2.1061

Abstract

Lanjut usia (Lansia) adalah kelompok khusus yang memiliki banyak masalah kesehatan salah satunya adalah nyeri. Jahe merah (Zingiber officinale Linn. var. rubrum)  berguna sebagai obat modern maupun tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas krim Z. officinale Linn. var. rubrum terhadap intensitas nyeri sendi pada lansia. Penelitian ini adalah eksperimental dengan pre-test post-test control group design. Subjek penelitian adalah 36 lansia yang menderita nyeri sendi dan tidak sedang mengkonsumsi atau menggunakan obat analgetik atau OAINS. Subjek dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok krim ekstrak Z. officinale 10%, 20%, dan 0%. Penurunan intensitas nyeri sendi diukur dengan metode Visual Analogue Scale (VAS) selama 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan penurunan nilai VAS pada ketiga kelompok. Pada kelompok ekstrak krim Z. officinale 10% rata-rata terjadi penurunan sebesar 4.75, kelompok ekstrak krim Z. officinale 20% sebesar 3.08 dan 1 pada kelompok basis krim. Hasil perbandingan analisis data pada kelompok Z. officinale 10% dan 20% menunjukkan perbedaan yang bermakna (p 0.05) dengan Paired T test dan Z.officinale 10% lebih efektif daripada Z. officinale 20% dengan Kruskal-Wallis test yang masing-masing kelompok berbeda bermakna (p 0.05) pada Mann-Whitney test. Disimpulkan bahwa krim ekstrak jahe merah (Z. officinale. Linn. var. rubrum) dengan konsentrasi 10% dan 20% terbukti bermakna dapat menurunkan intensitas nyeri sendi pada lansia. Konsentrasi krim ekstrak Z. officinale. Linn. var. rubrum 10% pada penelitian ini lebih efektif dari pada konsentrasi 20%. Elderly is a group with many health problems and one of those is pain. Ginger used as modern or traditional medicine. This research aims to determine the effectiveness of Z. officinale Linn. var. rubrum cream on the intensity of joint pain in the elderly. This research is experimental with pre-test and post-test control group design. Subject is 36 elderly people with joint pain and does not having any analgetic agents or NSAID. Subject divided into 3 group. Group of ginger extract cream 10%, 20% and 0%. Decreasing intensity of pain measured by Visual Analgue Scale method during 30 minutes. The study result shows decreasing of VAS score in all groups. There are 4.75; 1,308 score value in group 1, 2, 3 respectively. The results of comparative analysis of the data in study of group 1 and 2 showed significant differences (p 0.05) with Kruskal-Wallis test which each group is significantly different with MannWhitney test (p 0.05). The conclusion is the Z. officinale. Linn. var. rubrum extract cream with concentration of 10% and 20% has been proven meaningful to reduce the joint paint intensity on elderly. The 10% concentration of Z. officinale. Linn. var. rubrum extract cream is more effective  than the 20%
Efektivitas Antibakteri Infusa Kunyit Asam dan Jamu Kemasan terhadap Kuman Penyebab Diare secara In Vitro Suryani, Lilis; Kusumaningsih, Eva
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1(s) (2008): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Most people consume liquid herbal medicine known as kunyit asam and powder (package) herbal medicine that contains guava leaf extract (Psidii folium), tumeric rhizome (Curcuma domesticate rhizome), jali seeds (Coicis Semen), mojokeling fruit (Chebulae fructus), pomegranate peel (Granati Pericarpium). Those ingredients had been known to treat dysentery and chronic diarrhea, because containing tanin, astringent, flavonoid, fenol, alkaloid, atsiri oil, and vitamin C. This research is done to know the antibacterial effectiveness of kunyit asam infusion and herbal package medicine to various germ of diarrhea cause, like Escherichia coli, Shigella Dysenteriae, and Vibrio cholerae. The antibacterial activity determined by amount MIC and MBC applying Tube Dilution Method. The research bacterials are Escherichia coli strain ATCC 25922, Shigella Dysenteriae 2a 1992/2/Belgia, Vibrio Cholerae 011986/1/2/Belgia. The result of research of antibacterial effectiveness show us that kunyit asam infusion unable to inhibit and kill the Escherichia coli by MIC and MBC 75 gr%. While kunyit asam infusion able to inhibit and kill the Shigella dysenteriae by MIC and MBC 4,3 gr% and 5,5 gr%, Vibrio Cholerae by MIC and MBC 1,4 gr% and 2,734 gr%. Herbal package medicine able to inhibit Escherichia coli by MIC 30 gr%, Shigella Dysenteriae by MIC and MBC 15 gr% and 30 gr%, Vibrio Cholerae by MIC andMBC 0,003 gr% and 0,004gr%. The conclusion from the result of the research were the infusion of kunyit asam and herbal package medicine. Efective to kill the Shigella dysenteriae and Vibrio cholerae, but there is no antibacterial effect to Escherichia coli.Masyarakat sering mengkonsumsi jamu kunyit asam sertajamu kemasan yang mengandung ekstrak daun jambu biji (Psidii folium), rimpang kunyit (Curcumadomesticate rhizome), biji jali (CoicisSemen), Buah mojokeling (Chebulae fructus), kulit buah delima (GranatiPericarpium). Bahan ini sudah lama dikenal untuk mengobati penyakit disentri dan diare kronik, karena mengandung tanin, astringent, flavonoid, fenol, alkaloid, minyak astiri, dan vitamin C. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas antibakteri infusa kunyit asam dan jamu kemasan terhadap berbagai kuman penyebab diare, seperti Escherichia coli, Shigella dysenteriae, dan Vibrio cholerae. Aktivitas antibakteri ditentukan dengan menghitung Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM) dengan metode seri pengenceran tabung (Tube Dilution Method). Bakteri uji yang digunakan meliputi Escherichia coli strain ATCC 25922, Shigella dysenteriae 2a 1992/2/Belgia, Vibrio cholerae 01 1986/1/2/Belgia. Hasil penelitian efektivitas antibakteri menunjukan bahwa infusa kunyit asam tidak mampu menghambat dan membunuh Escherichia coli dengan KHM dan KBM 75 gr%. Infusa kunyit asam mampu menghambat dan membunuh Shigella dysenteriae dengan KHM dan KBM 4,3 gr% dan 5,5 gr%, Vibrio cholerae dengan KHM dan KBM 1,4 gr% dan 2,734 gr%. Jamu kemasan mampu menghambat Escherichia coli dengan KHM 30 gr%, Shigella dysenteriae dengan KHM dan KBM sebesar 15 gr% dan 30 gr%, Vibrio cholerae dengan KHM dan KBM sebesar 0,003 gr% dan 0,004 gr%. Dapat disimpulkan bahwa infusa kunyit asam dan jamu kemasan efektif membunuh Shigella dysenteriae dan Vibrio cholerae, tidak punya efek antibakteri terhadap Escherichia coli.
Hubungan Antara Pemilik Dan Manajemen Rumah Sakit Erwin Santosa
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1497

Abstract

The most current concept of organization states that actually the disputes or conflicts are inherent with the establishment of an organization. The highly -potential change for the occurrence of a conflict is the conflict of interests, insights, visions, values, philosophy and different strategies. The causal factors for the occurrence of conflicts in the hospital organization and its problem solving should be thoroughly understood by both the owner and the management of the hospital, hence the management conflict could be performed. In perceiving the conflict, most frequently the persons who are in conflicts use tactics which are disanvantageous to the hospital management and can cause further conflicts. It is therefore, ways of how to solve conflicts should be well mastered. If the existing conflict could be well solved, it will be advantageous for both sides (win-win solution) and could be taken as lessons in the future.Konsep organisasi yang terbaru menyatakan bahwa sebenarnya perselisihan atau konflik adalah melekat (sudah menjadi sifatnya) dengan terbentuknya sebuah organisasi. Perubahan yang sangat potensial untuk terjadinya suatu konflik adalah benturan kepentingan {interest), perbedaan wawasan/visi, nilai, filosofi serta perbedaan strategi. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik dalam organisasi Rumah Sakit serta cara-cara penyelesaiannya, perlu dipahami secara rinci oleh pihak Pemilik maupun pihak Manajemen Rumah Sakit, sehingga manajemen konflik bisa terlaksana. Dalam mensikapi konflik, seringkali pihak yang berkonflik menggunakan taktik-taktik yang akan merugikan organisasi Rumah Sakit dan menyebabkan adanya konflik yang lebih dalam lagi. Sehingga perlu dipahami cara-cara penyelesaian konflik yang baik. Bila konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik maka dapat bermanfaat bagi kedua belah pihak (win-win solution) serta dapat diambil manfaatnya sebagai pelajaran.
Batasan dan Ruang Lingkup Rumah Sakit Pendidikan - Supriyatiningsih
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1501

Abstract

In Indonesia, Teaching Hospital and Medical School are two separate institutions whereas each of them has its own organizational structure and bylaw. Teaching Hospital is a hospital which also functions as an official centre for education and training for health personnel trainees i.e. medical doctors, nurses, midwifes, others. The prerequisite for a hospital to be utilized as an education and training center is to fulfill some criteria; one of them is the accreditation status as a teaching hospital which is issued by the profes­sional organization. However, the Joint Decree by 3 Ministers which regulates the scope of teaching hospital requires to be re-evaluated. Di Indonesia Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran merupakan 2 institusi yang terpisah dimana masing-masing memiliki struktur organisasi dan landasan hukum sendiri-sendiri. Rumah sakit Pendidikan adalah rumah sakit yang juga berfungsi sebagai pusat resmi untuk belajar bagi pendidikan atau pelatihan dokter, perawat dan tenaga kesehatan. Suatu Rumah Sakit agar dapat digunakan sebagai tempat pendidikan, maka diharapkan agar dapat memenuhi beberapa criteria antara lain terakreditasi sebagai ruah sakit pendidikan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. Surat Keputusan Bersama 3 Menteri yang mengatur batasan Rumah Sakit Pendidikan perlu dikaji ulang.
Efek Infusa Batang Brotowali (Tinospora crispa) terhadap Nafsu Makan Dan Berat Badan Tikus Putih (Rattus norvegicus) Sri Tasminatun; Nur Wahyuningsih
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1663

Abstract

T. crispa is a herbal medicine that proved as a drug for patient Diabetes mellitus. But, our community also use it to increase the appetite and body weight. The aim of this research was to find out the appetite and body weight effect of T. crispa‘s stem infusion in female white mouse. The subject are 25 female mouse, 2 month years old and 110 gram of body weight. They are divided into 5 groups, 3 groups of treatment with different dose (1,28 g/kgBW, 2,56 g/kgBW, and5,12 g/kgBW) and 2 groups control.. Everyday they will injection with infusion of T. crispa and every 5 days their body weight will be measured. It lasted for 20 days. The data will be analyzed by Anova one way, continued Tukey test with help of computer program of SPSS (p0,05) According to this research, it could be knew that T. crispa‘s stem infusion could increase appetite and body weight. The increasing of appetite was seen at dose 5,12 g/kgBW at 10 days after get infusion. The increasing of body weight was seen at the first dose (1,28 g/ kgBW) for 10 days after get infusion.T. crispa merupakan herbal medicine yang telah terbukti dapat menunkan kadar gula darah pada penderita Diabetes mellitus. Namun, T. crispa ini juga sering digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan yang dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan. Masyarakat biasanya menggunakan batang tanaman ini untuk ditumbuk kemudian di buat ramuan dan diminum sehari- hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek T. crispa sebagai penambah nafsu makan dan berat badan. Penelitian ini dilakukan pada 25 ekor tikus putih betina (Rattus norvegicus) galur SD berumur 2 bulan dengan berat ±110 gram. Subyek dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan dan 2 kelompok kontrol. Pada kelompok perlakuan tiap hari tikus di sonde dengan infusa T .crispa sesuai dengan dosisnya (1,28 g/kgBB, 2,56 g/kgBB, dan 5,12 g/kgBB). Setelah 5 hari penelitian tiap hewan uji ditimbang dan dirata-rata berat badannya selama 20 hari. Data yang diperoleh kemudian di analisa dengan uji Anova satu jalan dilanjutkan uji Tukey dengan bantuan program komputer SPSS (p 0,05). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa infusa batang T. crispa dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan. Peningkatan nafsu makan terjadi pada dosis 5,12 g/kgBB selama 10 hari pertama pemberian infusa, setelah itu nafsu makan tidak meningkat lagi. Peningkatan berat badan diperoleh pada dosis 1.28 g/kgBB selama 10 hari pertama pemberian infusa, setelah itu berat badan tidak meningkat lagi.
Daya Antibakteri Infusa Bawang Putih (Allium sativum) terhadap Escherichia coli pada Berbagai - Firdaus; Lilis Suryani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1547

Abstract

Garlic (Alliums sativum) is one of medicine plants known by people for a long time. It has been known for its antibacterial effect. In 1944, Cavallito in New York found Allicin, a substance that has special quality as antibacterial. However, it is an unstable substance and easily destroyed by heat and can be disintegrated into sulphur compound. Most people consume garlic by cooking it previously. It is difficult to be consumed raw because it can stimulate gastric juice and salivary gland. Gar¬lic is also irritative as well as has sting odor. By using Macrobroth dilution method, the antibacterial activity of garlic infusion was examined at various levels of heat. The Infusion can be made based on the Indonesian Book of Pharmacology, with modification in various temperatures (37°C - 100°C). Escherichia coli ATCC 25922 and local strain, the collection of Microbiology Laboratory of Medical Faculty Yogyakarta Muhammadiyah University, were used as the bacteria tested. The result of the study were: infusion of garlic (Allium sativum) had anti-bacterial activity against Escherichia coli, the heat influenced minimal in¬hibitory concentration of garlic against Escherichia coli and the 80°C heat¬ing of garlic infusion produced the most effective antibacterial capacity (3.38 gr %).  Bawang putih {Allium sativum) merupakan salah satu tanaman obat yang sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat. Bawang putih diketahui dapat digunakan sebagai obat antibakteri. Pada tahun 1944 Cavallito di New York menemukan Allicin yang merupakan zat berkhasiat sebagai antibakteri. Allicin merupakan zat yang bersifat tidak stabil dan mudah rusak oleh pemanasan. Allicin dapat terurai menjadi senyawa sulfur. Sebagian besar masyarakat mengkonsumsi bawang putih dengan dimasak dulu. Bawang putih sulit dikonsumsi secara mentah karena dapat merangsang asam lambung, kelenjar ludah danbersifat iritatif serta baunya menyengat. Dengan menggunakan metode pengenceran tabung (Macrobroth dilution) dilakukan uji daya antibakteri infusa bawang putih dengan berbagai tingkat pemanasan. Infusa dibuat sesuai dengan yang termaktub dalam Farmakope Indo¬nesia, dengan modifikasi pada variasi suhu pemanasan (37°C-100°C). Bakteri uji yang digunakan adalah Escherichia coli ATCC 25922 dan strain lokal, koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: infusa bawang putih {Allium sativum) memiliki daya antibakteri terhadap Escherichia coli, pemanasan mempengaruhi kadar hambat minimal infusa bawang putih terhadap Escherichia coli, pemanasar infusa bawang putih {Allium sativum) dengan suhu 80°C menghasilkan days antibakteri yang paling efektif sebesar 3,38 gr%.
Vulvodinia, Diagnosis dan Penatalaksanaan Devi Artami Susetiati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1565

Abstract

Vulvodynia is often described as discomfort or burning pain in the vulvar area, occurring in the absence of visible pathology or a specific, clinically identifiable disorder. The aim of this this article is to give more information about vulvodinia, diagnose and management with literature study method. The diagnosis of vulvodynia is made after taking a careful history, ruling out infectious or dermatologic abnormalities, and eliciting pain in response to light pressure on the labia, introitus, or hymenal remnants. Several treatment options have been used, although the evidence for many of these treatments is incomplete. Treatments include oral medications that decrease nerve hypersensitivity (e.g., tricyclic antidepressants, selective serotonin reuptake inhibitors, anticonvulsants), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, local treatments, and (rarely) surgery. Most women experience substantial improvement when one or more treatments are used. It can be concluded that vulvodinia ’s management until right now has not been standardized yet because of its etiology.Vulvodinia merupakan rasa tidak nyaman pada vulva, kebanyakan pasien merasa nyeri terbakar, stinging, iritasi, dan lecet pada daerah tersebut, keluhan berlangsung kronik tanpa disertai gambaran klinis yang spesifik atau gangguan neurologis. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan tentang vulvodinia, diagnosis dan penatalaksanaannya dengan metode studi pustaka. Diagnosis vulvodinia ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti dengan menyingkirkan infeksi atau kelainan kulit dan pemeriksaan rasa nyeri terhadap rangsang tekanan ringan pada labia, introitus, atau sisa-sisa himen. Beberapa pilihan terapi telah digunakan meskipun belum cukup terbukti efektivitasnya. Terapi oral dengan menggunakan obat-obatan yang dapat menurunkan hipersensitivitas saraf (misal antidepresan trisiklik, selective serotonin reuptake inhibitors, antikonvulsan), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, terapi lokal, dan yang jarang dilakukan adalah terapi bedah. Kebanyakan wanita penderita vulvodinia mengalami perbaikan yang berarti ketika menggunakan salah satu atau kombinasi terapi. Disimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada standarisasi terapi vulvodinia, hal ini karena vulvodinia merupakan suatu penyakit dengan berbagai kemungkinan etiologi yang belum pasti.
Bising Lingkungan Tempat Tinggal Kota Sebagai Faktor Risiko Presbiakusis Asti Widuri; Dewi Kartika Kurniawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.929

Abstract

Seperti organ-organ yang lain, telinga pun mengalami kemunduran pada usia lanjut dari derajat yang ringan sampai dengan yang berat yang akan menimbulkan banyak masalah bagi penderita dengan orang-orang sekitarnya. Ketulian pada usia lanjut (presbiakusis) disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah bising tempat tinggal. Untuk lebih mengetahui efek faktor lingkungan tempat tinggal kota terhadap terjadinya presbiakusis perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Desain penelitian adalah cross sectional. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi data dari rekam medis pasien yang positif menderita presbiakusis dengan pasien yang negatif. Kemudian diteliti ada atau tidaknya faktor risiko tempat tinggal dari pasien. Dalam penelitian ini digunakan 94 sampel yang dibagi dalam 47 sampel terdiagnosis presbiakusis dan 47 lainnya terdiagnosis non-presbiakusis. Selanjutnya digunakan uji analisis chi-square terhadap variabel diagnosis dengan variabel lainnya. Hasil pada penelitian ini didapatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara diagnosis dengan tempat tinggal sampel di lingkungan kota dan desa dengan nilai p=0,023 (p0,05). Disimpulkan bahwa didapatkan perbedaan yang bermakna antara kejadian presbiakusis dengan lingkungan tempat tinggal sampel, yang berarti bahwa bising lingkungan tempat tinggal berpengaruh terhadap kejadian presbiakusis.
Faktor Risiko Gangguan Pendengaran pada Skrining Pendengaran Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Bambang Edy Susyanto; Asti Widuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v15i1.2491

Abstract

Jenis ketulian neonatus yang banyak dijumpai adalah sensori. Upaya habilitasi hanya dengan memasang alat bantu dengar dan melatih dengan metode audiovisual. Habilitasi sangat efektif bila dilakukan pada periode perkembangan bicara anak sekitar usia 9 bulan sampai 3 tahun. Untuk itu perlu dideteksi dini adanya ketulian pada neonatus, dan segera dimulai habilitasi pendengaran. Penelitian ini untuk mengetahui frekuensi jenis faktor risiko yang potensial penyebab ketulian neonatal. Penelitian ini menggunakan rancang penelitian potong lintang, dengan menggunakan alat otoacoustic emission (OAE) untuk deteksi ketulian neonatus yang lahir antara bulan Januari dan December 2014 di RS PKU Muhammadiyah. Faktor risiko di lihat dalam rekam medik, data dianalisis menggunakan  chi-square. Faktor risiko ketulian yang paling banyak adalah hiperbilirubin sejumlah 44 (53.0%) kasus, prematuritas sejumlah 30 (36.1%) kasus, ventilasi mekanik sejumlah 27 (32.5%) kasus, dan BBLR sejumlah 16 (19.3%). Uji statistik chi-square menunjukkan p=0,001 pada risiko BBLR. Disimpulkan BBLR menjadi salah satu risiko gangguan pendengaran pada skrining pendengaran bayi baru lahir.The most common congenital neonatus hearing loss is sensory disorder. The habilitation is wearing hearing aids, and audiovisual training. Effective habilitation  if perform at optimal early childhood speech development around 9 month to 3 years old. For this reason need early neonatus hearing detection and habilitation. The aims to know the frequency and potential of neonatal hearing loss risk factors.  The method by cross sectional method newborns were tested with OAE screening test, between Januari 2014 and December 2014 in PKU Muhammadiyah Hospital. From medical report all risk factors data and analyzed by chi-square.  Most hearing impairment risk factors are hyperbilirubinemia 44 (53.0%) cases, prematurity 30 (36.1%) cases, mechanical ventilation 27 (32.5%) cases, and low birth weight LBW 16 (19.3%) cases. By chi-square shown p=0,001 for low birth weight. LBW as one of risk factor to  hearing impairment at newborn hearing screening.
Pengaruh Gel Kombinasi Ekstrak Jatropha multifida dan Daun Carica papaya terhadap Penyembuhan Luka Bakar Kimia pada Rattus norvegicus Hendri Okarisman; Sri Nabawiyati Nurul Makiyah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i1.1000

Abstract

Luka bakar merupakan cedera dengan mordibitas derajat cacat tingkat tinggi di rumah sakit. Zat kimia adalah salah satu zat yang dapat menyebabkan luka bakar. Tumbuhan Indonesia yang biasa digunakan untuk menangani luka adalah tumbuhan yodium (Jatropha multivida) dan daun pepaya ( Carica papaya). Tumbuhan yodium mengandung senyawa saponin (anti inflamasi), flavonoid (antimikroba), alkaloid (Bakteriostatik), dan tannin (anti bakteri). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel kombinasi ekstrak tumbuhan yodium  dan daun papaya  terhadap penyembuhan luka bakar kimia pada tikus putih (Rattus norvegicus) terinduksi asam sulfat. Design penelitian eksperimental invivo dengan subjek 30 ekor tikus putih betina galur Spraggue Dawley umur 5-8 minggu, berat 180-265 gram dibagi lima kelompok: kelompok kontrol positif dengan obat standar luka bakar 0,125 ml/hari (A), tiga kelompok perlakuan diberi gel ekstrak kombinasi tumbuhan yodium dan daun papaya, (B) 1:1, (C) 1:2, (D) 2:1 dan kelompok control negative (E). Tikus diberikan perlukaan induksi asam sulfat 75% membentuk diameter luka 2 cm. Diameter luka diukur dengan metode Morton dan dihitung persentase kesembuhan luka. Hasil penelitian didapatkan hasil bahwa kombinasi gel ekstrak tumbuhan yodium ( Jatropha multivida ) dan daun papaya perbandingan 1:2 berpengaruh dalam mempercepat penyembuhan luka bakar kimia pada tikus putih secara bermakna dengan nilai p = 0.011 (p0.05). A burn is an injury with a high level mordibidity of disability degree in hospital. The burn is caused by various factors such as the chemical burns. One of Indonesian typical plant that can be used for the burns is the iodine plant (Jatropha multivida) and leaves of papaya (Carica papaya). Iodine plant contains of saponins (anti-inflammatory substance), flavonoid (antimicrobial), alkaloids (bacteriostatic agent), and tannin (antibacterial). This research is experimental in vivo study with 30 subjects female Spraggue Dawley strain white rats (Rattus norvegicus), 5-8 weeks in age, 180-265 grams. Subjects were divided in five groups namely, the positive control group given a standard drug burns Bioplasenton 0.125 ml / day ( A), whereas the treatment group were given a combination of extracts iodine plant gel and papaya leaves with a ratio of 1:1 (B), 1:2 (C), 2:1 (D) and the negative control (E). Rats given injury using the induction of 75% sulfuric acid to form the wound diameter of 2 cm. Wound diameter measurement is done every day (by the method of Morton) and the percentage of wound healing was counted. The result of Oneway ANOVA test show that intervention in group C may accelerate the healing of chemical burns, with p value 0.05 (p = 0,011).

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue