cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 01 (2015)" : 8 Documents clear
Pengembangan Wedus Gembel (Wayang Kardus Gembira Dan Belajar) Sebagai Media Membangun Jiwa Nasionalisme Sejak Dini Pada Siswa TKK Santo Yusuf Kota Madiun Oktavianto Nugroho Saputro; Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.039 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.897

Abstract

Pendidikan menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita, melalui pendidikanah kita dapar melanjutkan kehidupan dan menatanya dengan baik untuk masa depan yang baik pula. Melalui diunia pendidikan banyak hal yang bisa didapat, tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan, namun juga pelajaran-pelajara diluar itu. Kehidupan sosial, bagaimana kita menempatkan diri ditengah masyarakat, bersikap baik, sopan santun, cinta tanah air, semua hal tersebut juga dapat terbentuk melalui lembaga pendidikan. Semua hal yang baik dalam kehidupan ini akan lebih baik jka mulai dikenalkan sejak dini melalui lembaga pendidikan paling dasar, sebut saja PAUD. Penananman cinta tanah air dengan karakter-karakter pada anak akan lebih cepat mereka serap dan ingat jika dalam penyampaiaannya menggunakan media ajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa sebagai alat bantu penyampai pelajaran.
Multikulturalisme Dalam Perspektif Budaya Pesisir Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.631 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.893

Abstract

Paradigma multikulturalisme yang menekankan sikap dialog, toleransi, dan kesediaan untuk koeksistensi damai dalam keberagaman sesui dengan salah satu pilar kebangsaan Indonesia, yaitu Bhinneka Tungal Ika. Hal itu sesuai dengan relitas bangsa Indonesia yang bersifat plural sehingga membutuhkan paradigma yang mampu membingkai keberagaman. Masyarakat dan peradaban pesisir memiliki perspektif multikulturalisme yang berakar dari latar belakang historisnya. Perspektif multikulturalisme peradaban pesisir dapat dilihat dari sifat kosmopolitanitas dan pluralitas masyarakat dan budayanya. Masyarakat pesisir sejak lama telah memiliki jaringan nteraksi global yang sangat luas memlaui berbagai media seperti pelayaran, perdagangan, migrasi, dan sebagainya. Masyarakat dan budaya pesisir merupakan bagian yang inheren dari budaya dunia. Sifat kosmopolitanitas ini yang menyebabkan peradaban pesisir ini memiliki sifat terbuka, demokratis, toleran, dialog, kemauan unutk berkoeksistensi damai. Sementara itu sifat pluralitas masyarakat dan budaya pesisir juga tidak dapat dilepaskan dari akan historis. Sejak zaman kuno masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang plural sebagai akibat dari kegiatan pelayaran, perdagangan, hubungan-hubungan politik dan budaya, diaspora, dan sebagainya. Hal ini mengondisikan masyarakat pesisir sebagai masyarakat plural. Pengalaman hidup bersama dalam perbedaan namun memiliki kepentingan yang sama telah melahirkan mentalitas multikulturalisme yang merupakan ciri inheren peradaban pesisir. Peradaban pesisir merupakan peradaban yang dinamis dan selalu terbuka bagi perubahan. Dalam perjalanan sejarah selalu terjadi proses pembentukan dan pembentukan kembali identitas masyarakat yang bergantung kepada dinamika internal dan pengaruh eksternal.
Persepsi Dan Sikap Masyarakat Terhadap Penanggalan Jawa Dalam Penentuan Waktu Pernikahan (Studi Kasus Desa Jonggrang Kecamatan Barat Kabupaten Magetan Tahun 2013) Rohmaul Listyana; Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.963 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.898

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan sikap masyarakat terhadap peanggalan Jawa dalam penentuan waktu pernikahan tahun 2013. Selain itu peneliti juga ingin mengetahui bagaimana sebuah tradisi bisa bertahan sampai saat ini. persepsi dan sikap masyarakat Desa Jonggrang terhadap penanggalan Jawa dalam penentuan waktu pernikahan memeliki perbedaan. Masyarakat yang masih menggunakan tradisi penentuan waktu pernikahan adalah masyarkat Jawa yang masih memegang nilai budaya. Tradisi yang menjadi warisan turun temurun dari sesepuh menjadi sebuah pitutur yang harus dilestariakn oleh masyarakat. Dari sebuah pitutur tersebut terkandung sebuah makna untuk menjalani kehidupan terutama dalm sebuah pernikahn yang membutuhkan waktu yang baik. Persepsi masyarakat akan muncul ketika melihat sebuah fenomena yang ada di lingkunagn dan persepsi akan mempengaruhi sebuah sikap masyarakat. Jika persepsi dari masyarakat positif maka sikap masyarakat akan menerima dan jika persepsi masyarakat negatif maka sikap yang ditunjjukan adalah menolak.
Riset Di Bawah Kemenristek-Dikti (Prospek Dan Tantangan) Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.483 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.894

Abstract

Dipisahkannya Kemendikbud mengandung prospek dan tantangan. Di bawah payung Kemenristek-Dikti, perguruan tinggi lebih memiliki peluang untuk menghasilkan inovasi melalui riset lebih serius yang dapat menjadi terobosan inovatif dalam iptek. PT perlu mengembangkan diri dari ”PT pengajaran (teaching university)” menjadi PT berbasis riset (research-based university). Sementara itu, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah juga bisa lebih fokus untuk menyiapkan peserta didik ke jenjang yang lebih tinggi tanpa dibebani lagi dengan urusan pendidikan tinggi.  Tantangannya adalah sinergi dengan lembaga-lembaga riset seperti LIPI, Lapan, BPPT. Kemauan politik dari pemerintah untuk menggunakan hasil riset yang dihasilkan lembaga-lembaga penelitian juga perlu didorong. Tantangan lain adalah rendahnya alokasi dana riset, kurangnya kebebasan menjalankan otonomi kampus dan mimbar akademik, serta posisi pendidikan tinggi keagamaan. Tidak kalah penting adalah tantangan bagi LPTK dalam menjalin sinergi dengan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah dalam program-program praktek pendidikan.
Sejarah Perkembangan Kesenian Tari Gaplik Di Desa Kendung Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi Tahun 1966-2014 Anjar Mukti Wibowo; Shoffikha Cahyanul Janah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.039 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.899

Abstract

Keberadaan tari gaplik diperkirakan sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Gaplik ini merupakan singkatan dari gambaran petunjuk liwat kesenian. latar belakang ditarikannya tari ini karena desa Kendung mengalami bencana pagebluk dan huru hara, dan setelah diadakan tari gaplik keadaan menjadi lebih baik. Tari Gaplik di desa Kendung ditarikan pada hari Jumat Wage. Orang yang menarikannya saat ini adalah saudara Hartono, yang menjadi penerus ayahnya yaitu saudara Kasno. Pada tahun 1966 tari gaplik mulai ditampilkan dalam acara-acara Nyadran di desa-desa yang lain. Diantaranya adalah desa Mbayem, desa Kincang kabupaten Magetan, desa Suratmajan Maospati, dan desa Kinandang kabupaten Magetan. Pada tahun 2005  tari gaplik mulai mewakili kota Ngawi dalam festival kesenian tradisional di Surabaya. Pada bulan januari 2006 tari gaplik kembali mengikuti festival kesenian tradisional se jawa timur di Surabaya. Setelah itu pada tahun 2008  tari gaplik dipercaya kembali dan diikut sertakan dalam lomba kesenian tradisional se Jawa Timur di Bojonegoro, dan untuk ke empat kalinya tari gaplik kembali diikutkan dalam lomba pada Agustus 2010 di Kediri. Setelah dikenal luas oleh masyarakat dan menjadi tari tradisional yang menghibur serta menarik banyak penonton, pada bulan Juni 2013 tari gaplik ditampilkan dalam hari jadi Ngawi di Benteng Pendem kota Ngawi.
Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Upacara Kelahiran Adat Jawa Tahun 2009-2014 (Studi Di Desa Bringin Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo) Lutfi Fransiska Risdianawati; Muhammad Hanif
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.468 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.895

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap Sikap Masyarakat terhadap Pelaksanaan Upacara Kelahiran Adat Jawa Tahun 2009-2014 di Desa Bringin Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo.Lokasi dari penelitian ini adalah di Desa Bringin Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo. Bentuk dari penelitian ini adalah penelitian Kualitatif yaitu penelitian yang datanya tidak berbentuk angka, menekankan pada kondisi obyek yang alamiah untuk memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa hubungan interaksi pola tingkah laku, yang kenyataannya tidak ada rekayasa dalam aktifitas tersebut saat penelitian berlangsung. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan yaitu antara bulan Februari sampai Juli. Pengambilan data menggunakan sumber data primer yang diperoleh dari Dokumen Desa Bringin dan bahan kepustakaan. Validasi yang dipergunakan yaitu validasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang didalamnya terdapat tiga tahapan yaitu melalui proses reduksi data, sajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulankan bahwa sikap Masyarakat Desa Bringin ialah sebagian besar setuju atau menerima segala macam bentuk pelaksanaan upacara kelahiran adat Jawa. Upacara Kelahiran adat ini seperti Upacara selamatan brokohan (setelah bayi lahir), sepasaran (lima hari), selapanan (tiga puluh lima hari), telunglapan (Tiga bulan lima belas hari), mitoni (tujuh bulan), dan nyetahuni (Setahun).Berkaitan dengan adanya bentuk sikap masyarakat yang menerima keberadaan upacara adat tersebut, terdapat berbagai macam tindakan yang dilaksanakan masyarakat yaitu melaksanakan segala macam upacara kelahiran dengan berbagai perlengkapan di dalamnya yaitu sesaji. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan sikap masyarakat Desa Bringin terhadap pelaksanaan upacara kelahiran yaitu faktor lingkungan, faktor kebudayaan, faktor kewibawaan seorang tokoh yang dianggap penting, faktor dalam diri sendiri, dan faktor lembaga pendidikan. Baik pendidikan yang disenggarakan oleh lembaga pendidikan desa setempat yaitu Pondok Pesantren “Darul Fikri” dan pendidikan umum maupun lembaga pendidikan yang berada di luar desa setempat.
Persepsi Masyarakat Desa Jiwan Terhadap Kalender Jawa Dalam Membangun Rumah Berti Fitri Permatasari; Novi Triana Habsari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.71 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.900

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi atau pandangan masyarakat Desa Jiwan terhadap adanya Primbon dan Kalender Jawa dalam membangun rumah. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian interaksi simbolik yaitu terdapat makna-makna sosial yang akan diwariskan dan dilestarikan oleh masyarakat selanjutnya. Sumber data yang digunakan adalah sumber dara primer yaitu masyarakat yang dianggap paling memahami pengetahuan tentang tradisi Jawa atau sesepuh dan masyarakat Desa Jiwan pada umumnya. Sedangkan sumber sekunder adalah dokumen berupa profil desa. Teknik pengumpulan data melalui  wawancara dan observasi. Teknik analisis data menggunakan komponen model interaktif melalui proses pemilihan data, penyajian data kemudian baru disimpulkan. Pandangan masyarakat Jiwan terhadap kelender Jawa dalam membangun rumah masih dianggap penting. Terbukti bahwa ketika akan membangun atau pindah rumah masyarakat menentukan hari baik berdasarkan weton dari kalender Jawa dengan menghindari hari naas yaitu hari meninggalnya orang tua atau nenek. Mereka mempercayai hal tersebut dengan alasan mengikuti nasihat orang tua yang telah berpengalaman dan merupakan suatu adat sebagai masyarakat yang tinggal di tanah Jawa.  Terdapat balutan kain berwarna merah putih sebagai ciri khas Bangsa Indonesia. Masyarakat melakukan slametan ketika membuat pondasi dan setelah rumah berdiri dengan menyiapkan sesaji berupa ayam panggang beserta perlengkapannya yang kemudian mengundang tetangga terdekat untuk melakukan doa bersama.
Peranan Mbah Wo Kucing Dalam Pelestarian Reog Dan Warok Di Kabupaten Ponorogo Reza Adi Primawan; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.706 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.896

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang Peranan Mbah Wo Kucing dalam pelestarian Reog dan Warok di Kabupaten Ponorogo. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif-deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang berupa informan dan sumber data sekunder yang berupa sumber pustaka, arsib, wawancara, dan pengamatan lapangan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga macam yaitu: observasi, dokumentasi, dan wawancara yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Sedangkan analisis data menggunakan analisis model interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Dari penelitian yang dilaksanakan diperoleh gambaran, bahwa perkembangan Reog dan Warok Ponorogo tidak lepas dari campur tangan orang-orang yang peduli terhadap keberlangsungannya. Salah satu tokoh yang giat untuk melestarikan Reog dan Warok di Kabupaten Ponorogo adalah Kasni Gunapati (Mbah Wo Kucing). Kasni Gunopati (Mbah Wo Kucing) lahirpada tanggal 30 Juni 1934 di Desa Kauman Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo. Mbah Wo Kucing merupakan anak pertama dari empat bersaudara putra pasangan Martorejo dan Sutilah. Usaha Kasni Gunapati (Mbah Wo Kucing) dalam melestarikan budaya lokal Ponorogo adalah dengan mendirikan paguyuban Reog Ponorogo yang diberi nama Pujangga Anom. Paguyuban Reog Pujangga Anom berdiri pada tahun 1966 sampai Mbah Wo Kucing meninggal dunia Semasa hidup Mbah WO Kucing mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan Kesenian Reog Ponorogo dengan cara melatih murid-muridnya agar nilai-nilai karakter dalam kesenian Reog Ponorogo selalu ada dalam hati para penerusnya. Adapun peninggalan dan bukti konkret dari sepak terjang Paguyuban Pujangga Anom yang didirikan oleh Mbah Wo Kucing adalah dua dhadak merak sekaligus kepala barongannya, satu set gong, dua kendhang, satu slompret, dan pakaian-pakain menari milik murid-murid Mbah Wo Kucing. Selain itu dalam hidupnya Mbah Wo Kucing tetap menggunakan identitas Warok Ponorogo sebagai identitas dirinya. Sebagai masyarakat asli Ponorogo istilah Warok dan sebuah paguyuban Reog tidak bisa dipisahkan. Warok merupakan seorang pelaku seni sekaligus yang membahwahi sebuah paguyuban tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 8