cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 36, No 2 (2015): November 2015" : 11 Documents clear
Interpretasi Vulkanostratigrafi Daerah Mamuju Berdasarkan Analisis Citra Landsat-8 Kamajati, Dhatu; Indrastomo, Frederikus Dian; Sukadana, I Gde; Saepuloh, Asep; Harsolumakso, Agus Handoyo
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Daerah Mamuju dan sekitarnya umumnya disusun oleh batuan gunung api. Batuan sedimen vulkanoklastik dan batugamping berada di atas batuan gunung api. Aktivitas gunung api membentuk beberapa morfologi unik seperti kawah, kubah lava, dan jalur hembusan piroklastika sebagai produknya. Produk tersebut diidentifikasi berdasarkan karakter bentuk-bentuk melingkar di citra Landsat-8. Hasil koreksi geometrik dan atmosferik, interpretasi visual pada citra Landsat-8 dilakukan untuk mengidentifikasi struktur, geomorfologi, dan kondisi geologi daerah tersebut. Struktur geologi regional menunjukkan kecenderungan arah tenggara – baratlaut yang mempengaruhi pembentukan gunung api Adang. Geomorfologi daerah tersebut diklasifikasikan menjadi 16 satuan geomorfologi berdasarkan aspek genetisnya, yaitu punggungan blok sesar Sumare, punggungan kuesta Mamuju, kawah erupsi Adang, kawah erupsi Labuhan Ranau, kawah erupsi Sumare, kerucut gunung api Ampalas, kubah lava Adang, bukit intrusi Labuhan Ranau, punggungan aliran piroklastik Adang, punggungan aliran piroklastik Sumare, perbukitan sisa gunung api Adang, perbukitan sisa gunung api Malunda, perbukitan sisa gunung api Talaya, perbukitan karst Tapalang, dan dataran aluvial Mamuju, dataran teras terumbu Karampuang. Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat-8 dan konfirmasi lapangan, geologi daerah Mamuju dibagi menjadi batuan gunung api dan batuan sedimen. Batuan gunung api terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Kompleks Talaya dan Kompleks Mamuju. Kompleks Talaya terdiri atas batuan gunung api Mambi, Malunda, dan Kalukku berkomposisi andesit, sementara Kompleks Mamuju terdiri atas batuan gunung api Botteng, Ahu, Tapalang, Adang, Ampalas, Sumare, dan Labuhan Ranau berkomposisi andesit sampai basal leusit. Vulkanostratigrafi daerah ini disusun berdasarkan analisis struktur, geomorfologi, dan distribusi litologi. Vulkanostratigrafi daerah Mamuju diklasifikasikan ke dalam Khuluk Talaya dan Khuluk Adang. Khuluk Talaya terdiri atas Gumuk Mambi, Gumuk Malunda, dan Gumuk Kalukku. Khuluk Mamuju terdiri atas Gumuk Botteng, Gumuk Ahu, Gumuk Tapalang, Gumuk Adang, Gumuk Ampalas, Gumuk Sumare, dan Gumuk Labuhan Ranau. Kata kunci:vulkanostratigrafi, Landsat-8, Mamuju, geologi
Karakteristik Intensitas Radioaktivitas Batuan dan Sedimen Terpilih di Pantai Sedau, Kalimantan Barat Aryanto, Noor Cahyo Dwi; Suparka, Emmy; Permana, Haryadi
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Intensitas pancaran unsur radioaktif berdasarkan data aktivitas batuan dan aktivitas pancaran ß serbuk di Pantai Sedau dilakukan menggunakan metode analisis Spektrometer Gamma dan alat cacah ß terhadap sembilan contoh sedimen dan batuan. Intensitas radioaktif batuan memperlihatkan kisaran U238 dari 0,1202 ± 0,008 Bq/25gr hingga 0,4348 ± 0,005 Bq/25gr;  Th232 0,0768 ± 0,005 Bq/25gr hingga 0,4812 ± 0,015 Bq/25gr; sedangkan intensitas gross gammanya berkisar dari 1,0503 ± 0,029 Bq/25gr  hingga 5,6433 ± 0,273 Bq/25gr. Semua contoh yang memiliki intensitas unsur radioaktif untuk aktivitas batuan tinggi berasal dari batuan yang sama (monzogranit), yaitu di lokasi SKP08-04. Hasil yang sama pada pancaran ß serbuknya yang memperlihatkan aktivitas  ß gross tertinggi juga terjadi di lokasi SKP08-04 pada batuan monzogranit dengan intensitas paparan 0,370 ± 0,025 Bq/25gr. Berdasarkan pengamatan petrografi, monzogranit di SKP08-04 memperlihatkan pelimpahan feldspar dengan kondisi yang relatif belum teralterasi sedangkan berdasarkan analisis geokimia memperlihatkan afinitas berupa seri kalk-alkali yang tinggi potasium. Kata kunci: intensitas pancaran radioaktif, aktivitas batuan, paparan serbuk, monzogranit, Pantai Sedau
Interpretasi Deposit Uranium Berdasarkan Data Tahanan Jenis dan Polarisasi Terinduksi di Sektor Rabau Hulu, Kalan, Kalimantan Barat Haryanto, Dwi; Supriyanto, Supriyanto; Soetopo, Bambang; Karunianto, Adhika Junara
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Daerah Rabau Hulu, Kalan, Kalimantan Barat merupakan daerah potensial uranium yang telah dieksplorasi secara detil dengan berbagai metode. Metode tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dapat diterapkan dalam eksplorasi deposit uranium yang mineralisasinya berasosiasi dengan mineral sulfida. Pengolahan, analisis, dan interpretasi data tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dilakukan untuk dapat mengidentifikasi sebaran deposit uranium dan litologi batuan di daerah penelitian. Deposit uranium di daerah Rabau Hulu pada umumnya berasosiasi dengan sulfida, turmalin, dan terdapat dalam batuan favourable. Indikasi mineralisasi uranium dijumpai dalam bentuk-bentuk tidak teratur dan tidak merata yang terdiri atas mineral uraninit, pirit, kalkopirit, pirhotit, molibdenit, dan ilmenit. Pengambilan data menggunakan konfigurasi dipole-dipole pada area sekitar 36 hektare, terdiri atas 46 lintasan dengan panjang + 425 m. Pengambilan data polarisasi terinduksi dalam kawasan frekuensi dengan titik dan lintasan yang sama dengan data tahanan jenis. Pengolahan data menghasilkan nilai tahanan jenis dan faktor logam yang selanjutnya dibuat penampang 2 dimensi. Penentuan nilai tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dilakukan dengan mengkorelasi data sumur bor dengan hasil pengolahan data. Tahanan jenis pada zona deposit uranium bernilai kurang dari 2.000 Ωm dan nilai faktor logamnya lebih besar dari 90 mho/m. Zona deposit uranium ini semakin meluas seiring dengan kedalaman. Distribusi deposit uranium berarah barat daya–timur laut dan berbentuk lensa. Kata kunci: deposit uranium, tahanan jenis, polarisasi terinduksi, Rabau Hulu
Pengaruh Tri - n - Oktil Posfin Oksida dan Tingkat Ekstraksi pada Pemurnian Konsentrat Thorium Purwani, M.V.; Setyadji, Moch.
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Telah dilakukan ekstraksi konsentrat thorium oksalat hasil olah monasit memakai ekstraktan Tri – n - Oktil Posfin Oksida (TOPO).  Pengotor  yang paling banyak  terkandung dalam konsentrat thorium oksalat adalah cerium (Ce) dan lantanum (La).  Tujuan penelitian ini adalah untuk memurnikan thorium (Th) dengan memisahkan Ce dan La dengan cara ekstraksi. Ekstraksi dilakukan secara batch dan bertingkat. Larutan umpan atau fase air adalah 10 gram konsentrat Th oksalat yang dilarutkan dalam 10,08 M HNO3 sehingga volume menjadi 100 mL dan fase organik adalah TOPO dalam kerosen.  Stripping setiap tingkat ekstraksi dilakukan tiga kali, yaitu stripping pertama memakai air, stripping kedua memakai asam oksalat 5%, dan stripping ketiga memakai air. Waktu ekstraksi setiap tingkat 15 menit dan waktu stripping setiap tingkat 5 menit dengan perbandingan fase air dengan fase organik adalah 1 berbanding 1. Parameter yang diteliti  adalah persentase TOPO dalam kerosen dan jumlah tingkat ekstraksi. Pemakaian TOPO dalam kerosen yang optimum 5% dan jumah tingkat ekstraksi 3. Pada ekstraksi I diperoleh konsentrat Ce dan pada tingkat ekstraksi II dan III diperoleh Th.  Efisiensi ekstraksi Th  tingkat II sebesar 39,76% dan efisiensi ekstraksi Th tingkat III 26,33%. Koefisien distribusi (Kd) Th tingkat ekstraksi II adalah 0,7587 dan Kd Th tingkat ekstraksi III 1,0096. Efisiensi ekstraksi Th total adalah 80,08%, efisiensi ekstraksi Ce total 56,12%,  efisiensi ekstraksi La total 1,54.  Faktor pisah (FP) Th – Ce pada ekstraksi I adalah1,00, FP Th – La pada ekstraksi I  92,07, FP Th – Ce pada ekstraksi II adalah 250,24 dan FP Th – La  pada ekstraksi II adalah ∞,  FP Th – Ce pada ekstraksi III 124,22 dan FP Th – La pada ekstraksi III adalah ∞. Faktor pisah total Th – Ce sebesar 1,4270 dan Faktor pisah total Th – La 47,0459. Kadar Th oksalat pada ekstraksi II sebesar 97,06%, kadar Th oksalat pada ekstraksi III 98,00 %. Kata kunci: ekstraksi, konsentrat Th, TOPO
Pengendapan Uranium dan Thorium Hasil Pelarutan Slag II Anggraini, Mutia; Sarono, Budi; Waluyo, Sugeng; Rusydi, Rusydi; Sujono, Sujono
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Proses peleburan timah menghasilkan limbah berupa slag II dalam jumlah besar. Slag II sebagai terak pada proses peleburan timah masih mengandung beberapa unsur utama antara lain 0,0619% uranium, 0,530% thorium, 0,179% P2O5, dan 6,194% logam tanah jarang (LTJ) oksida total. Berdasarkan fakta tersebut, maka sangat menarik untuk meneliti pengolahan slag II, terutama untuk memisahkan uranium dan thorium yang terkandung di dalamnya. Uranium dan thorium dilarutkan dengan pelarut asam (H2SO4). Recovery pelarutan slag II dari hasil peleburan timah pada kondisi optimum adalah 98,52% uranium, 83,16% thorium, 97,22% fosfat, dan 69,62% LTJ. Uranium, thorium, LTJ, dan fosfat yang telah terlarut diendapkan agar masing-masing unsur terpisah. Faktor yang mempengaruhi kesempurnaan reaksi pada pengendapan antara lain reagen yang digunakan, pH reaksi, suhu, dan waktu. NH4OH digunakan sebagai reagen pengendapan dengan kondisi optimum proses pada pH 4. Suhu dan waktu reaksi tidak mempengaruhi proses. Recovery pengendapan yang dihasilkan adalah 93,84% uranium dan 84,33% thorium. Kata kunci: pengendapan, uranium, thorium, slag II, recovery
Karakteristik Intensitas Radioaktivitas Batuan dan Sedimen Terpilih di Pantai Sedau, Kalimantan Barat Noor Cahyo Dwi Aryanto; Lili Sarmili; Emmy Suparka; Haryadi Permana
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.895 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.2.2773

Abstract

Intensitas pancaran unsur radioaktif berdasarkan data aktivitas batuan dan aktivitas pancaran ß serbuk di Pantai Sedau dilakukan menggunakan metode analisis Spektrometer Gamma dan alat cacah ß terhadap sembilan contoh sedimen dan batuan. Intensitas radioaktif batuan memperlihatkan kisaran U238 dari 0,1202 ± 0,008 Bq/25gr hingga 0,4348 ± 0,005 Bq/25gr;  Th232 0,0768 ± 0,005 Bq/25gr hingga 0,4812 ± 0,015 Bq/25gr; sedangkan intensitas gross gammanya berkisar dari 1,0503 ± 0,029 Bq/25gr  hingga 5,6433 ± 0,273 Bq/25gr. Semua contoh yang memiliki intensitas unsur radioaktif untuk aktivitas batuan tinggi berasal dari batuan yang sama (monzogranit), yaitu di lokasi SKP08-04. Hasil yang sama pada pancaran ß serbuknya yang memperlihatkan aktivitas  ß gross tertinggi juga terjadi di lokasi SKP08-04 pada batuan monzogranit dengan intensitas paparan 0,370 ± 0,025 Bq/25gr. Berdasarkan pengamatan petrografi, monzogranit di SKP08-04 memperlihatkan pelimpahan feldspar dengan kondisi yang relatif belum teralterasi sedangkan berdasarkan analisis geokimia memperlihatkan afinitas berupa seri kalk-alkali yang tinggi potasium. The intensity of the radioactive elements based on the rock activity data and ß powder emission activity on Sedau Coast were done using Gamma Spectrometer analysis method and  ß detector to the nine samples of sediment and rocks. Radioactive intensity of U238 in rocks showed a range from 0.1202 ± 0.008 Bq/ 25gr  to 0.4348 ± 0.005 Bq/ 25gr; Th232 0.0768 ± 0.005 Bq/ 25gr to 0.4812 ± 0.015 Bq/ 25gr; while the gross gamma intensity ranged from 1.0503 ± 0.029 Bq/ 25gr to 5.6433 ± 0.273 Bq/25gr. All the sample that has high intensity of radioactive element, occurs in the same rock (monzogranite) which is from samples in location SKP08-04. The same results in the emission of ß powder, which showed the highest gross ß activity also occurs in the rocks monzogranite (SKP08-04) with exposure intensity was 0.370 ± 0.025 Bq/25gr. Based on petrographic observations, monzogranite in SKP08-04 showed the presence of abundant feldspar with the condition which relatively not altered, whereas the affinity based on geochemical analysis showed a calc-alkaline series of high potassium.
Interpretasi Deposit Uranium Berdasarkan Data Tahanan Jenis dan Polarisasi Terinduksi di Sektor Rabau Hulu Dwi Haryanto; Supriyanto Supriyanto; Bambang Soetopo; Adhika Junara Karunianto
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.981 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.2.2774

Abstract

Daerah Rabau Hulu, Kalan, Kalimantan Barat merupakan daerah potensial uranium yang telah dieksplorasi secara detil dengan berbagai metode. Metode tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dapat diterapkan dalam eksplorasi deposit uranium yang mineralisasinya berasosiasi dengan mineral sulfida. Pengolahan, analisis, dan interpretasi data tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dilakukan untuk dapat mengidentifikasi sebaran deposit uranium dan litologi batuan di daerah penelitian. Deposit uranium di daerah Rabau Hulu pada umumnya berasosiasi dengan sulfida, turmalin, dan terdapat dalam batuan favourable. Indikasi mineralisasi uranium dijumpai dalam bentuk-bentuk tidak teratur dan tidak merata yang terdiri atas mineral uraninit, pirit, kalkopirit, pirhotit, molibdenit, dan ilmenit. Pengambilan data menggunakan konfigurasi dipole-dipole pada area sekitar 36 hektare, terdiri atas 46 lintasan dengan panjang + 425 m. Pengambilan data polarisasi terinduksi dalam kawasan frekuensi dengan titik dan lintasan yang sama dengan data tahanan jenis. Pengolahan data menghasilkan nilai tahanan jenis dan faktor logam yang selanjutnya dibuat penampang 2 dimensi. Penentuan nilai tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dilakukan dengan mengkorelasi data sumur bor dengan hasil pengolahan data. Tahanan jenis pada zona deposit uranium bernilai kurang dari 2.000 Ωm dan nilai faktor logamnya lebih besar dari 90 mho/m. Zona deposit uranium ini semakin meluas seiring dengan kedalaman. Distribus deposit uranium berarah barat daya–timur laut dan berbentuk lensa. Rabau Hulu area, Kalan, Kalimantan Barat is a potential area of uranium that has been explored in detail by various methods. Methods of resistivity and induced polarization can be applied in the exploration of uranium deposits in which its mineralization associated with sulphide minerals. Processing, analysis, and interpretation of resistivity and induced polarization data conducted in order to identify the distribution of uranium deposits and lithology of the rocks in the study area. Uranium deposits in the area Rabau Hulu is generally associated with sulphides, tourmaline and contained in favorable rocks. Symptoms of uranium mineralization encountered in other forms of irregular and uneven consists of uraninite, pyrite, chalcopyrite, pyrrhotite, molybdenite, and ilmenite minerals. Data acquisition using dipole-dipole configuration in an area of ​​approximately 36 hectares, 46 lines along + 425 m. Acquisition of induced polarization frequency domain data which the same points and lines with resistivity data. Data processing produces resistivity and metal factor values and subsequently made two-dimensional section. Determination of resistivity and induced polarization are done by correlated boreholes data with the results of data processing. Resistivity of uranium deposits zone worth less than 2,000 Ωm and the value of metal factor greater than 90 mho/m. Uranium deposit zone is expanding along with the depth. Uranium deposits distribution trending Southwestern-Northeast and shaped lens.
Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar + Indeks Isi + Indeks Mitra Bestari Editor Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.743 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar Eksplorium.
Pengaruh Tri-n-Oktil Posfin Oksida dan Tingkat Ekstraksi pada Pemurnian Konsentrat Thorium M.V. Purwani; Moch. Setyadji
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.47 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.2.2775

Abstract

Telah dilakukan ekstraksi konsentrat thorium oksalat hasil olah monasit memakai ekstraktan Tri – n - Oktil Posfin Oksida (TOPO).  Pengotor  yang paling banyak  terkandung dalam konsentrat thorium oksalat adalah cerium (Ce) dan lantanum (La).  Tujuan penelitian ini adalah untuk memurnikan thorium (Th) dengan memisahkan Ce dan La dengan cara ekstraksi. Ekstraksi dilakukan secara batch dan bertingkat.  Larutan umpan atau fase air adalah 10 gram konsentrat Th oksalat yang dilarutkan dalam 10,08 M HNO3 sehingga volume menjadi 100 mL dan fase organik adalah TOPO dalam kerosen.  Stripping setiap tingkat ekstraksi dilakukan tiga kali, yaitu stripping pertama memakai air, stripping kedua memakai asam oksalat 5%, dan stripping ketiga memakai air. Waktu ekstraksi setiap tingkat 15 menit dan waktu stripping setiap tingkat  5 menit dengan perbandingan fase air dengan fase organik adalah 1 berbanding 1.  Parameter yang diteliti  adalah persentase TOPO dalam kerosen dan jumlah tingkat ekstraksi. Pemakaian TOPO dalam kerosen yang optimum 5% dan jumah tingkat ekstraksi 3.  Pada ekstraksi I diperoleh konsentrat Ce dan pada tingkat ekstraksi II dan III diperoleh Th.  Efisiensi ekstraksi Th  tingkat II sebesar 39,76% dan efisiensi ekstraksi Th tingkat III 26,33%. Koefisien distribusi (Kd) Th tingkat ekstraksi II adalah 0,7587 dan Kd Th tingkat ekstraksi III  1,0096. Efisiensi ekstraksi Th total adalah  80,08 %, efisiensi ekstraksi Ce total  56,12%,  efisiensi ekstraksi La total  1,54.  Faktor pisah (FP) Th – Ce pada ekstraksi I adalah 1,00, FP Th – La pada ekstraksi I  92,07, FP Th – Ce pada ekstraksi II adalah 250,24 dan FP Th – La  pada ekstraksi II adalah ∞,  FP Th – Ce pada ekstraksi III 124,22 dan FP Th – La pada ekstraksi III adalah ∞. Faktor pisah total Th – Ce sebesar 1,4270 dan Faktor pisah total Th – La  47,0459. Kadar Th oksalat pada ekstraksi II sebesar 97,06%, kadar Th oksalat pada ekstraksi III  98,00 %. The extraction of thorium oxalate concentrate as processing product  of monazite using  Tri  Octyl Posfine Oxide  (TOPO) has been done.  The most impurities contained in thorium oxalate concentrate are Ce (cerium) and La (lanthanum). The purpose of this study is to purify Th by separating Ce and La using extraction process. The extraction is done by bacth and multistage. The solution of  feed or water phase is 10 grams of Th oxalate concentrate dissolved in 10.08 M HNO3 so that the volume becomes 100 mL and the organic phase is TOPO in kerosene. Stripping in each stage conducted three times, first stripping use water, second stripping use 5 % oxalic acid and the third stripping use water. Extraction time at every stage is 15 minutes and stripping time at every stage is 5 minutes with  ratio of aqueous phase to organic phase = 1 : 1 . The parameters were studied % TOPO - kerosene and number of extraction stage. The optimum usage of TOPO in kerosene is 5 %.  On extraction I obtained Ce concentrate and on extraction II and III obtained Th concentrates. The extraction II efficiency of Th is 39.76 % and extraction III efficiency of Th is 26.33 % . Coefficient of distribution (Kd) of Th in stage II is 0.7587 and Kd of Th in stage III is 1.0096.  Total extraction efficiency of Th is  80.08 %, total extraction efficiency of Ce is 56.12 %,  and total extraction efficiency of La is 1.54 %. The separation factor of  Th – Ce in extraction I  is 1.00 and separation factor of  Th – La in extraction I  is 92.0,  separation factor of  Th – Ce in extraction II  is 250.24, and separation  factor of  Th – La in extraction II  is ∞.  Separation factor of  Th – Ce in extraction III  is 124.22 and separation factor of  Th – La in extraction III  is  ∞.  Total  separation  factor of  Th – Ce  is 1.4270 and total separation factor of  Th – La is 4.0459.  The content of Th oxalate in stripping product from the extraction II is 97.06 % and in stripping product from  the extraction III is 98.00%.
Pengendapan Uranium dan Thorium Hasil Pelarutan Slag II Mutia Anggraini; Budi Sarono; Sugeng Waluyo; Rusydi Rusydi; Sujono Sujono
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.242 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.2.2776

Abstract

Proses peleburan timah menghasilkan limbah berupa slag II dalam jumlah besar. Slag II sebagai terak pada proses peleburan timah masih mengandung beberapa unsur utama antara lain 0,0619% uranium, 0,530% thorium, 0,179% P2O5, dan 6,194% logam tanah jarang (LTJ) oksida total. Berdasarkan fakta tersebut, maka sangat menarik untuk meneliti pengolahan slag II, terutama untuk memisahkan uranium dan thorium yang terkandung di dalamnya. Uranium dan thorium dilarutkan dengan pelarut asam (H2SO4). Recovery pelarutan slag II dari hasil peleburan timah pada kondisi optimum adalah 98,52% uranium, 83,16% thorium, 97,22% fosfat, dan 69,62% LTJ. Uranium, thorium, LTJ, dan fosfat yang telah terlarut diendapkan agar masing-masing unsur terpisah. Faktor yang mempengaruhi kesempurnaan reaksi pada pengendapan antara lain reagen yang digunakan, pH reaksi, suhu, dan waktu. NH4OH digunakan sebagai reagen pengendapan dengan kondisi optimum proses pada pH 4. Suhu dan waktu reaksi tidak mempengaruhi proses. Recovery pengendapan yang dihasilkan adalah 93,84% uranium dan 84,33% thorium. Tin smelting process produces waste in the form of large amount of slag II. Slag II still consist of major elements such as 0.0619% uranium, 0.530% thorium, 0.179% P2O5 and 6.194% RE total oxide. Based on that fact, the processing of slag II is interesting to be researched, particularly in separating uranium and thorium which contained in slag II. Uranium and thorium dissolved using acid reagent (H2SO4). Percentage recovery of uranium, thorium, phosphate and RE oxides by dissolution method are 98.52%, 83.16%, 97.22%, and 69.62% respectively. Dissolved uranium, thorium, phosphat, and RE were each precipitated. The factors which considerable affect the precipitation process are reagent, pH, temperature, and time. NH4OH is used as precipitation reagent, optimum condition are pH 4. Temperature and time reaction did not influence this reaction. Percentage recovery of this precipitation process at optimum condition are 93.84% uranium and 84.33% thorium.

Page 1 of 2 | Total Record : 11