cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
Geochemistry of Ophiolite Complex in North Konawe, Southeast Sulawesi Ronaldo Irzon; Baharuddin Abdullah
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.731 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.2868

Abstract

ABSTRACTSoutheast Sulawesi is crosscutted by Lasolo Fault into two geological provinces: Tinondo and Hialu. Tinondo Geological Province is occupied largely by Ophiolite Complex in the northern part of Southeast Arm of Sulawesi. No study was conducted in relation to the geochemistry composition of Ophiolite Complex in North Konawe Regency. The aim of this study is to describe the ultramafic rock of the Ophiolite Complex in North Konawe Regency using field, geochemical, and petrographical analysis. Megascopically, the selected nine samples are described as greyish to blackish and fine to medium grains ultramafic rocks, which consist of pyroxene and olivine. Microscope, X-Ray Fluorescence (XRF), and Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) devices were used to obtain both petrography and geochemistry data. Major oxides data confirm that the selected samples are classified into ultramafic rocks as SiO2, MgO, and Fe2O3T are the most abundant oxides. The studied samples presumably came from arc tholeiitic environment tectonic setting. Ultramafic rocks often contain promising economic metals whereas the average numbers of Ni, Mn, Cr, and Co of this study are 2,675; 1,074; 2,386; and 117 ppm respectively. The rocks are generally enriched in high field strength elements whilst rare earth elements value are low, ranging from 2.11 to 7.10 ppm. Microscopically, samples can be classified into three groups: olivine-hornblende pyroxenite, lherzolite, and olivine websterite. Geochemical data describes more about the discriminant analysis of the groups. ABSTRAKWilayah Sulawesi Tenggara dipotong oleh Sesar Lasolo yang membagi daerah ini menjadi dua lajur: Tinondo dan Hialu. Lajur Tinondo diisi sebagian besar oleh Komplek Ophiolit, yang berada di bagian utara dari Lengan Tenggara Sulawesi. Belum ada studi yang terfokus kepada kandungan geokimia Komplek Ophiolit tersebut di wilayah Kabupaten Konawe Utara.Studi ini bertujuan untuk mempelajari karakter batuan ultramafik dari Komplek Ophiolit di Kabupaten Konawe Utara melalui kegiatan lapangan, analisis geokimia, dan analisis petrografi. Secara megaskopis, sembilan contoh batuan terpilih teridentifikasi sebagai batuan ultramafik berwarna kelabu hingga hitam, berukuran butir sedang hingga halus, dan mengandung piroksen maupun olivine. Perangkat mikroskop, X-Ray Fluorescence (XRF), dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) dimanfaatkan untuk memperoleh data geokimia maupun mikroskopis. Data oksida utama mengklasifikasikan contoh terpilih ke dalam batuan utramafik dengan SiO2, MgO, dan Fe2O3T sebagai oksida dengan kelimpahan tertinggi. Contoh terpilih mungkin terbentuk pada lingkungan busur tektonik tholeitik. Batuan ultramafik sering mengandung logam ekonomis dengan kadar rata-rata Ni, Mn, Cr, dan Co pada studi ini adalah: 2.675, 1.074, 2.386, dan 117 ppm secara berurutan. Batuan telah mengalami pengayaan unsur high field strength elements meskipun dengan kadar unsur tanah jarang yang rendah, berkisar dari 2,11 hingga 7,10 ppm. Secara petrografi, batuan terpilih dapat dibagi menjadi tiga kelompok: olivine-hornblende pyroxenite, lherzolite, and olivine websterite. Data geokimia menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan dari kelompok-kelompok tersebut.
Pemodelan dan Estimasi Sumberdaya Uranium di Sektor Lembah Hitam, Kalan, Kalimantan Barat Adi Gunawan Muhammad; Bambang Soetopo
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1440.124 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2668

Abstract

Sektor Lembah Hitam merupakan bagian dari Pegunungan Schwaner dan stratigrafi bagian atas Cekungan Kalan. Lapisan pembawa uranium (U) berasosiasi dengan metabatulanau dan metapelit sekistosan berarah N 265° E/60° S. Pemboran evaluasi telah dilakukan dengan jarak 50 m dari titik yang sudah ada (FKL 14 dan FKL 13) untuk mengetahui model dan jumlah sumber daya U berkategori terukur. Untuk mencapai tujuan tersebut beberapa kegiatan perlu dilakukan, yaitu mengkaji hasil penelitian terdahulu, pendataan geologi dan pemineralan U, estimasi kadar secara kuantitatif menggunakan log gross-count gamma ray, pembuatan basis data, pemodelan dan estimasi sumber daya U. Berdasarkan pemodelan sepuluh titik pemboran dan didukung dengan data pengamatan inti pemboran, rata-rata kadar mineralisasi U di sektor Lembah Hitam dapat diketahui. Kadar rata-rata berkisar antara 0,0076 – 0,95 % eU3O8, dengan tebal mineralisasi berkisar antara 0,1 – 4,5 m. Mineralisasi U hadir sebagai isian fraktur (urat) atau kelompok urat dan sebagai isian matrik breksi tektonik, berasosiasi dengan mineral pirit, pirhotit, magnetit, molibdenit, turmalin, dan kuarsa dalam metabatulanau dan metapelit sekistosan. Penghitungan sumber daya U terhadap 26 tubuh bijih dengan radius pencarian 25 m didapatkan tonase bijih sebesar 655,65 ton. Menggunakan cut-off grade 0,01 % eU3O8 dihasilkan bijih sebanyak 546,72 ton dengan rata-rata kadar 0,101 % eU3O8. Sumber daya U dikategorikan sebagai sumber daya terukur berkadar rendah.Lembah Hitam Sector is part of Schwaner Mountains and Kalan Basin upper part stratigraphy. Uranium (U) mineralization layer is associated with metasiltstone and metapelites schistose heading to N 265° E/60° S. Evaluation drilling carried out with a distance of 50 m from an existing point (FKL 14 and FKL 13) to determine the model and the amount of U resources in measured category. To achieve these objectives some activities including reviewing the previous studies, geological and U mineralization data collecting, grades quantitative estimation using log gross-count gamma ray, database and modeling creation and resource estimation of U carried out. Based on modeling on ten drilling data and completed with drilled core observation, the average grade of U mineralization in Lembah Hitam Sector obtained. The average grade is ranging from 0.0076 - 0.95 % eU3O8, with a thickness of mineralization ranging from 0.1 - 4.5 m. Uranium mineralization present as fracture filling (veins) or groups of veins and as matrix filling in tectonic breccia, associated with pyrite, pyrrhotite, magnetite, molybdenite, tourmaline and quartz in metasiltstone and metapelites schistose. Calculation of U resources to 26 ores body using 25 m searching radius resulted in 655.65 tons ores. By using 0.01 % cut-off grade resulted in 546.72 tons ores with an average grade 0.101 % eU3O8. Uranium resource categorized as low-grade measured resources.
Penentuan Kondisi Pelarutan Residu dari Hasil Pelarutan Parsial Monasit Bangka Sumarni Sumarni; Riesna Prassanti; Kurnia Trinopiawan; Sumiarti Sumiarti; Hafni Lissa Nuri
EKSPLORIUM Vol 32, No 2 (2011): November 2011
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.39 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2011.32.2.2819

Abstract

Pengolahan monasit Bangka untuk memisahkan unsur-unsur utama yang terkandung di dalamnya, yaitu fosfat (PO4), tanah jarang (RE), uranium (U) dan thorium (Th) melalui proses dekomposisi dengan sodium hidroksida (NaOH), untuk memisahkan PO4 terlebih dahulu. Pada tahap ini dihasilkan residu yang mengandung (U, Th, RE) hidroksida. Residu ini dilarutkan dengan asam khlorida (HCl) pekat untuk memisahkan RE dari U dan Th. Hasil pelarutan tersebut pada pH 3,7 RE terpisah (larut) 62 %. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memisahkan RE dari U dan Th yang masih terkandung dalam residu pelarutan RE pada pH 3,7 tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kondisi optimum pelarutan pada residu hasil pelarutan parsial dengan asam sulfat pekat (H2SO4) . Parameter yang digunakan pada penelitian adalah waktu pelarutan, suhu pelarutan dan konsumsi H2SO4. Hasil penelitian diperoleh kondisi pelarutan optimal pada waktu 2 jam, konsumsi H2SO4 100 ml/gram umpan dan suhu 130 oC dengan rekoveri pelarutan RE = 93,46%, U = 92,30 % dan Th = 97,15 %. Bangka monazite processing to separate its major elements i.e. phosphate (PO4), rare earth (RE), uranium (U) and thorium (Th) through decomposition prosess with NaOH to separate the PO4 first. This prosess produces a residue of (U, Th, RE) hydroxide. Then this residue is dissolved with HCl concentrate partially at 3,7 of pH to separate the RE from U and Th. In this process 62 % of RE is dissolved. The residue of RE dissolution at 3,7 of pH still contain U, Th and RE, so continuation research needed to be done separate U, Th and RE mentioned. The purpose of this research is to determine the optimum condition of residue dissolution as product of partiel dissolution by using concentrate H2SO4. On the next research each element of U, Th and RE will be separated. The research’s parameters are dissolution time, dissolution temperature and consumption of H2SO4. The result showed that the optimum conditions were 2 hours of time, 30 oC of temperature and 100 ml of H2SO4/gram of feed with recovery 92,30 % of U, 97,15 % of Th and 93,46 % of RE.
Ground Penetrating Radar Survey Across The Bok Bak Fault, Kedah, Malaysia Yuaniarti Ulfa; Nur Fathin Mohd Jamel; Mardiana Samsuardi
EKSPLORIUM Vol 34, No 2 (2013): November 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.629 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2013.34.2.2802

Abstract

A ground penetrating radar (GPR) survey was done across the Bok Bak Fault zone in Baling, Kedah in order to investigate the shallow subsurface geology of the Bok Bak fault zone, its extension and associated weak zones within the study area. GPR data acquisition was compared with visual inspection on the slope of the outcrop. Ten GPR profiles were acquired using 250 MHz GPR frequency. Basic data processing and filtering to reduce some noise and unwanted signal was done using MALA RAMAC Ground Vision software. The data penetrate around 2 meters in depth for all survey lines. In most lines shows clear images of shallowest Bok Bak Fault (NW trending) as detected at distance of 28 m horizontal marker. It also exhibits several sets of faults as a result of Bok Bak Fault deformation, including the conjugate NE trending fault (Lubok Merbau Fault). Active seismicity encompasses the Malay-Thai Peninsular trigger the changes of Bok Bak Fault dipping direction, steeper dips of conjugate faults and faults or fractures rotational movement. Survei menggunakan ground penetrating radar (GPR) yang dijalankan melalui kawasan patahan Bok Bak di Baling, Kedah adalah bertujuan untuk menyelidiki geologi dangkal zona bawah tanah patahan Bok Bak, kemenerusannya beserta zona-zona lemah di sekitar patahan tersebut. Data pengukuran GPR yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil pengamatan langsung pada tebing singkapan. Sepuluh profil GPR telah diperoleh menggunakan frekuensi 250 MHz. Pemrosesan dasar dan penapisan data untuk mengurangi sinyal-sinyal yang tidak dikehendaki berikut gangguan-gangguan suara dilakukan dengan piranti halus MALA RAMAC Ground Vision. Data mampu menembus hingga kedalaman 2 meter untuk semua garis survei. Umumnya garis survei menunjukkan gambar yang jelas untuk patahan Bok Bak   (ke arah Barat Laut) sebagaimana terdeteksi di jarak 28 m pada penanda horisontal. Beberapa set patahan yang dihasilkan dari deformasi patahan Bok Bak juga dapat dideteksi, termasuk pasangan patahan yang ke arah Timur Laut (patahan Lubok Merbau). Pergerakan aktif seismik di Peninsula Malaya-Thailand turut memicu perubahan arah kemiringan patahan Bok Bak, menjadikan kemiringan pasangan patahan lebih curam, dan pergerakan rotasi patahan dan retakan.
Interpretasi Vulkanostratigrafi Daerah Mamuju Berdasarkan Analisis Citra Landsat-8 Frederikus Dian Indrastomo; I Gde Sukadana; Asep Saepuloh; Agus Handoyo Harsolumakso; Dhatu Kamajati
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1482.403 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.2.2772

Abstract

Daerah Mamuju dan sekitarnya umumnya disusun oleh batuan gunung api. Batuan sedimen vulkanoklastik dan batugamping berada di atas batuan gunung api. Aktivitas gunung api membentuk beberapa morfologi unik seperti kawah, kubah lava, dan jalur hembusan piroklastika sebagai produknya. Produk tersebut diidentifikasi berdasarkan karakter bentuk-bentuk melingkar di citra Landsat-8. Hasil koreksi geometrik dan atmosferik, interpretasi visual pada citra Landsat-8 dilakukan untuk mengidentifikasi struktur, geomorfologi, dan kondisi geologi daerah tersebut. Struktur geologi regional menunjukkan kecenderungan arah tenggara – baratlaut yang mempengaruhi pembentukan gunung api Adang. Geomorfologi daerah tersebut diklasifikasikan menjadi 16 satuan geomorfologi berdasarkan aspek genetisnya, yaitu punggungan blok sesar Sumare, punggungan kuesta Mamuju, kawah erupsi Adang, kawah erupsi Labuhan Ranau, kawah erupsi Sumare, kerucut gunung api Ampalas, kubah lava Adang, bukit intrusi Labuhan Ranau, punggungan aliran piroklastik Adang, punggungan aliran piroklastik Sumare, perbukitan sisa gunung api Adang, perbukitan sisa gunung api Malunda, perbukitan sisa gunung api Talaya, perbukitan karst Tapalang, dan dataran aluvial Mamuju, dataran teras terumbu Karampuang. Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat-8 dan konfirmasi lapangan, geologi daerah Mamuju dibagi menjadi batuan gunung api dan batuan sedimen. Batuan gunung api terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Kompleks Talaya dan Kompleks Mamuju. Kompleks Talaya terdiri atas batuan gunung api Mambi, Malunda, dan Kalukku berkomposisi andesit, sementara Kompleks Mamuju terdiri atas batuan gunung api Botteng, Ahu, Tapalang, Adang, Ampalas, Sumare, dan Labuhan Ranau berkomposisi andesit sampai basal leusit. Vulkanostratigrafi daerah ini disusun berdasarkan analisis struktur, geomorfologi, dan distribusi litologi. Vulkanostratigrafi daerah Mamuju diklasifikasikan ke dalam Khuluk Talaya dan Khuluk Adang. Khuluk Talaya terdiri atas Gumuk Mambi, Gumuk Malunda, dan Gumuk Kalukku. Khuluk Mamuju terdiri atas Gumuk Botteng, Gumuk Ahu, Gumuk Tapalang, Gumuk Adang, Gumuk Ampalas, Gumuk Sumare, dan Gumuk Labuhan Ranau. Mamuju and its surrounding area are constructed mainly by volcanic rocks. Volcanoclastic sedimentary rocks and limestones are laid above the volcanic rocks. Volcanic activities create some unique morphologies such as craters, lava domes, and pyroclastic flow paths as their volcanic products. These products are identified from their circular features characters on Landsat-8 imagery. After geometric and atmospheric corrections had been done, a visual interpretation on Landsat-8 imagery was conducted to identify structure, geomorphology, and geological condition of the area. Regional geological structures show trend to southeast – northwest direction which is affects the formation of Adang volcano. Geomorphology of the area are classified into 16 geomorphology units based on their genetic aspects, i.e Sumare fault block ridge, Mamuju cuesta ridge, Adang eruption crater, Labuhan Ranau eruption crater, Sumare eruption crater, Ampalas volcanic cone, Adang lava dome, Labuhan Ranau intrusion hill, Adang pyroclastic flow ridge, Sumare pyroclastic flow ridge, Adang volcanic remnant hills, Malunda volcanic remnant hills, Talaya volcanic remnant hills, Tapalang karst hills, Mamuju alluvium plains, and Karampuang reef terrace plains. Based on the Landsat-8 imagery interpretation result and field confirmation, the geology of Mamuju area is divided into volcanic rocks and sedimentary rocks. There are two groups of volcanic rocks; Talaya complex and Mamuju complex. The Talaya complex consists of Mambi, Malunda, and Kalukku volcanic rocks with andesitic composition, while Mamuju complex consist of Botteng, Ahu, Tapalang, Adang, Ampalas, Sumare, danLabuhanRanau volcanic rocks with andesite to leucitic basalt composition. The volcanostratigraphy of Mamuju area was constructed based on its structure, geomorphology and lithology distribution analysis. Volcanostratigraphy of Mamuju area is classified into Khuluk Talaya and Khuluk Mamuju. The Khuluk Talaya consists of Gumuk Mambi, Gumuk Malunda, and Gumuk Kalukku, while Khuluk Mamuju consists of Gumuk Botteng, Gumuk Ahu, Gumuk Tapalang, Gumuk Adang, Gumuk Ampalas, Gumuk Sumare, and Gumuk Labuhan Ranau.
Evaluasi Sistem Pengendapan Uranium Pada Batuan Sedimen Formasi Sibolga, Tapanuli Tengah I Gde Sukadana; Heri Syaeful
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.438 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.3112

Abstract

ABSTRAKUranium di alam dapat terbentuk dalam berbagai tipe cebakan, sesuai dengan sumber, proses, dan lingkungan pengendapannya. Keterdapatan uranium di Sibolga pada batuan sedimen Formasi Sibolga merupakan suatu potensi yang layak untuk dikembangkan tetapi hingga saat ini belum diketahui pola pengendapan dan proses mineralisasi uranium tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola sebaran batuan dan keterdapatan anomali kadar uranium berdasarkan data geologi, radiometri permukaan, dan data log bor untuk mengetahui proses pengendapan batuan dan mineralisasi uranium. Keterdapatan mineralisasi berdasarkan data log bor tersebar dari satuan konglomerat alas (Kgl 1), satuan batupasir 1 (Bp 1), satuan konglomerat 2 (Kgl 2), dan satuan batupasir 2 (Bp 2) dengan ketebalan dan sebaran semakin ke atas semakin menipis. Sebaran mineralisasi pada bagian timur pada satuan batuan konglomerat 1 lebih didominasi oleh mineral detrital hasil pengendapan epigenetik berupa monasit yang terbentuk pada saat pembentukan granit sebagai batuan sumber. Pada satuan batuan di atasnya mineralisasi berbentuk pola alur (channel) yang berarah timur laut-barat daya, yang terbentuk secara syn-genetic dengan mineral berupa uraninite, carnotite, dan coffinite. Pengendapan batuan Formasi Sibolga berasal dari timur ke arah barat dan pengendapan uranium terjadi akibat perbedaan kondisi lingkungan pengendapan dari oksidasi di bagian timur menjadi lebih reduktif di bagian barat daya. Peningkatan kandungan material organik yang cukup tinggi pada lingkungan pengendapan bagian barat daya menyebabkan lingkungan pengendapan dalam kondisi reduksi.ABSTRACTUranium in nature formed in various deposit type, depends on its sources, process, and depositional environments. Uranium occurrence in Sibolga, hosted in sedimentary rocks of Sibolga Formation, is properly potential to develop; nevertheless, the depositional pattern and uranium mineralization process so far had not been recognized. The research aim is to determine the rock distribution patterns and the existence of uranium grade anomalies based on surface geology and borehole log data. Mineralization occurrences from borehole log data distributed from basalt conglomerate unit (Kgl 1), sandstone 1 unit (Bp 1), conglomerate 2 unit (Kgl 2), and sandstone 2 unit (Bp 2) with their distribution and thickness are thinning to the top. Mineralization distribution in the eastern area, mainly on Kgl 1 unit, dominated by detritus materials from epi-genetic depositional in the form of monazite which is formed along with the formation of granite as its source rock. Meanwhile, mineralization on the upper rocks units formed a channel pattern trending northeast-southwest, which formed in syn-genetic process consist of uraninite, carnotite, and coffinite. Sibolga Formation deposition originated from east to west and uranium deposit formed because of the differences of depositional environment from oxidation in the east to the more reductive in the southwest. The increasing of organic materials in southwest basin caused the reduction condition of depositional environment.
Facies Analysis, Sedimentology and Paleocurrent of The Quaternary Nenering Formation, Pengkalan Hulu, Malaysia Yuniarti Ulfa; Evonne Hooi Rong Yu; Ooi Cheng Kit
EKSPLORIUM Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1777.58 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2014.35.2.2755

Abstract

Nenering Formation is essentially made up of semi-consolidated sediments, which are divided into basal conglomerate beds, conglomeratic sandstone, cross-bedded sandstone, and siltstone to muddy layers facies. It is overlie unconformable to the Berapit Formation, but conformable to the Kroh and Grik Formations. The stratigraphy of Nenering Formation is a fining upwards sequence where the thickness of conglomerate beds become thinner upwards and become thicker for conglomeratic sandstone. The thickness varies from 0.5 m to tenths of meters. The more sandy in the upper portion (cross-bedded sandstone) overlie with thin siltstone and mudstone facies. The clast and grain composition suggested that the material making up the sedimentary sequence were derived predominantly from the erosion of granitoid rocks and sedimentary and metamorphic rocks constitute a minor provenance. Imbrications and the trend sizes of clasts indicate that the palaeo-current flow toward northeast. Cross bedding that was found in conglomerate and sandstone indicates the main channel depositional environment. The sequence stratigraphy of this area match with the Saskatchewan fluvial braided channel model. Formasi Nenering tersusun atas sedimen semi-terkonsolidasi yang terdiri atas lapisan basal konglomerat, batupasir konglomeratik, batupasir berlapisan silang siur, batulanau hingga fasies berlapisan lempung. Formasi Nenering terletak tidak selaras di atas Formasi Berapit, tetapi terletak selaras di atas Formasi Kroh dan Formasi Grik. Stratigrafi Formasi Nenering adalah menghalus ke atas, dimana ketebalan batuan konglomerat semakin menipis ke arah atas, sedangkan batupasir konglomeratik menjadi menebal ke arah atas. Ketebalan perlapisan berkisar pada 0,5 meter hingga puluhan meter. Komposisi pasir yang lebih dominan pada bagian atas (batupasir silang siur) terletak di atas fasies lapisan tipis batulanau dan batulempung. Komposisi butiran dan klastika menunjukkan bahwa material yang menyusun sekuen sedimen didominasi berasal dari erosi batuan granitik, batuan sedimen dan sedikit dari batuan metamorf. Indikasi imbrikasi dan kecenderungan perubahan ukuran material klastika menunjukkan bahwa aliran arus purba mengarah ke timur laut, sedangkan perlapisan silang siur pada batuan konglomerat dan batupasir mengindikasikan lingkungan pengendapan berupa sungai. Sekuen stratigrafi di daerah ini sesuai dengan model lingkungan pengendapan sungai teranyam fluvial Saskatchewan.
Pemisahan Uranium dari Thorium pada Monasit dengan Metode Ekstraksi Pelarut Alamine Kurnia Trinopiawan; Riesna Prassanti; Sumarni Sumarni; Rudi Pudjianto
EKSPLORIUM Vol 32, No 155 (2011): Mei 2011
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.09 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2011.32.155.2829

Abstract

Penelitian pengolahan monasit telah menghasilkan proses pengambilan rare earth (RE) dengan rekoveri sebesar 62% melalui tahapan dekomposisi, pelarutan parsiil, pengendapan pH 6,3, dan pengendapan pH 9,8. Upaya efisiensi proses dilakukan pada tahun 2009 dengan penggunaan resin penukar ion, dan rekoveri RE meningkat menjadi 85%. Selain RE, diperoleh pula uranium dan thorium tetapi keduanya belum terpisahkan satu sama lain. Penelitian pemisahan U dari Th dengan umpan larutan hasil pelarutan endapan pH 6,3 dengan H2SO4 dilakukan menggunakan metode ekstraksi pelarut, dan pelarut yang digunakan adalah campuran dari Alamine-336, kerosin, dan isodekanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimal pemisahan U dari Th dengan metode ekstraksi, dimana U terpisah dari Th semaksimal mungkin. Parameter penelitian meliputi pH umpan, perbandingan O/A, dan waktu ekstraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimal ekstraksi yaitu pH umpan 1,5 dengan perbandingan O/A = 5 dan waktu ekstraksi 5 menit, dan diperoleh persen terekstrak U sebesar 100% tetapi Th ikut terekstrak 32,44%. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa pada kondisi optimal tersebut, Th dapat terpisah dari U sebesar 67,56%. The research of monazite processing have obtained the process to recover 62% of rare earth elements (REE) from following steps, such as decomposition, partial dissolution, precipitation at pH 6,3, and precipitation at pH 9,8. There was an increased efficiency of the process in 2009, when ion exchange is used in process development, and the REE recovery became 85%. Besides REE, monazite processing also produce uranium and thorium, but they not separated individually yet. The research of the U from Th separation from pH 6,3 precipitate dissolution by H2SO4, is carried out using solvent extraction method, which the extractant consist of Alamine-336, kerosene, and isodecanol. This research is purposed to obtain the optimum condition of separation uranium from thorium with solvent extraction, where U separated from Th as best as it could . The research’s parameters are feed pH, O/A ratio, and extraction time. And the result showed that the optimum condition were 1,5 of pH, 5 of O/A ratio, and 5 minutes of extraction time, and the percentage of U extracted was 100%, but 32,44% of Th also extracted. From the result, it has a conclusion that 67,56% of Th could be separated from U.
Inventarisasi Potensi Sumber Daya Uranium Daerah Kawat, Mahakam Hulu, Kalimantan Timur Tahapan Prospeksi Detil Ngadenin Ngadenin; I Gde Sukadana; Adi Gunawan Muhammad; Suripto Suripto
EKSPLORIUM Vol 32, No 2 (2011): November 2011
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.052 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2011.32.2.2813

Abstract

Hasil prospeksi pendahuluan di Kalimantan Timur menemukan beberapa lokasi anomali radioaktivitas batuan di hulu sungai Mahakam seluas 25 km2 pada batuan gunung api asam. Penelitian ini bertujuan mengetahui tatanan geologi dan karakter mineralisasi uranium secara rinci. Metoda yang digunakan adalah pemetaan geologi, radioaktivitas dan geokimia bersekala 1:10.000. Litologi daerah Kawat tersusun oleh satuan batulempung hitam, satuan batupasir feldspatik, satuan riolit Nyaan, satuan andesit bawah, satuan riolit Kawat, satuan andesit atas, dan satuan batupasir tufan. Sesar yang berkembang adalah sesar geser menganan dan sesar normal. Sesar geser menganan berarah barat-timur dan barat daya-timur laut, sementara sesar normal berarah barat-timur dan barat daya-timur laut. Pada daerah ini terdapat dua kali periode pembentukan uranium, yaitu yang berhubungan dengan terbentuknya riolit Nyaan dan yang berhubungan dengan riolit Kawat. Mineralisasi uranium dikelompokkan menjadi dua yaitu mineralisasi uranium kelompok Nyaan dan mineralisasi uranium kelompok Kawat. Mineralisasi U terbentuk pada tahap proses hidrotermal dan termasuk cebakan U vulkanogenik klas pneumatogenik. Diperoleh dua sektor potensial uranium yaitu sektor Nyaan dengan luas sekitar 6 km2 dan sektor Kawat dengan luas sekitar 10 km2. Result of the general prospecting in East Kalimantan has found several radioactivity outcrop anomalies at upper Mahakam in the acid volcanic rock area which is approximately 25 km2 in wide. The objective of the research is to know detailed geological information and characteristic of uranium mineralization. Method of this research are detailed geological, radiometric and geochemical mapping 1:10.000 on scale. The lithology of Kawat area is composed of seven units of rock. They are black clay unit, feldspatic sandstone unit, Nyaan rhyolite unit, lower andesite unit, Kawat rhyolite unit, upper andesite unit and tuffaceous sandstone unit. Evolving fault is dextral fault and normal fault. The trending of dextral fault is west-east and southwest-northeast, meanwhile the trending of normal faults is west-east and southwest - northeast. There are two period of uranium mineralization occurrences in the area, the first is connected with the eruption of Nyaan rhyolite magma and the second is connected with the eruption of Kawat rhyolite magma. Uranium mineralization occurred in the stage of hydrothermal process and including in the pneumatogenic class of volcanogenic uranium deposits. This investigation has yielded two sites of potential uranium sector are the Nyaan sector with an area of about 6 km2 and Kawat sector with an area of about 10 km2.
Studi Ekstraksi Bijih Thorit dengan Metode Digesti Asam dan Pemisahan Thorium dari Logam Tanah Jarang dengan Metode Oksidasi-Presipitasi Selektif Moch Iqbal Nur Said; Mutia Anggraini; Mohammad Zaki Mubarok; Kurnia Setiawan Widana
EKSPLORIUM Vol 38, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.798 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2017.38.2.3930

Abstract

AbstrakThorium (Th) merupakan logam radioaktif yang dapat terbentuk bersama uranium dan logam tanah jarang (LTJ). Mineral-mineral yang mengandung unsur radioaktif diantaranya monasit ((Ce,La,Y,U/Th)PO4), thorianit ((Th,U)O2), dan thorit (ThSiO4). Daerah Mamuju, Sulawesi Barat diketahui mengandung mineral radioaktif, salah satunya adalah thorit. Untuk memisahkan LTJ dari unsur radioaktif dapat dilakukan dengan cara mengekstraksi thorium dari bijih thorit dengan metode digesti asam menggunakan asam sulfat (H2SO4), kemudian diikuti pelindian dalam air dan rekoveri thorium dalam bentuk thorium hidroksida dengan metode presipitasi kimia menggunakan ammonium hidroksida (NH4OH). Hasil percobaan menunjukkan bahwa kondisi optimum digesti asam yang memberikan persentase ekstraksi paling tinggi didapatkan pada rasio padat/cair 1:2 (g/mL) selama 60 menit dengan persentase ekstraksi Th, besi (Fe), dan LTJ masing-masing sebesar 82,47%, 80,08%, dan 83,31%. Persentase presipitasi Th tertinggi sebesar 95,47% diperoleh pada pH 4,5 dalam suhu ruangan (26±1°C). Pada temperatur yang lebih tinggi, (70°C), diperoleh persentase presipitasi thorium yang lebih rendah sebesar 83,69%. Pre-oksidasi dengan menggunakan larutan H2O2sebanyak dua kali stoikiometri selama 1,5 jam pada suhu kamar meningkatkan persentase presipitasi Fe dari 93,08% menjadi 99,93%. AbstractThorium (Th) is a radioactive metal that can be formed along with uranumand rare earth metals (REM). Minerals contain radioactive elements are monazite ((Ce,La,Y,U/Th)PO4), thorianite ((Th,U)O2), and thorite (ThSiO4). Mamuju Area is containing radioactive minerals, thorite is one of them. To separate REM from radioactive elements can be conducted by exctracting thorium from thorite ore by acid digestion method using sulphuric acid (H2SO4), followed by leaching and thorium recovery in the form of thorium hydroxide by chemical precipitation using ammonium hydroxide (NH4OH). The experimental results showed that the optimum conditions of acid digestion that give the highest Th extraction percentage on solid to liquid ratio are obtained at 1:2 (g/mL) in 60 minutes with extraction percentages of Th, iron (Fe) and REM are 82.47%, 80.08%, and 83.31% respectively. The highest thorium precipitation percentage, as much as 95.47% , was obtained at pH 4.5 on room temperature (26 ± 1°C). At higher temperature (70°C), a lower percentage of thorium precipitation is obtained, as much as 83.69%. Pre-oxidation by using H2O2 solution with two times stoichiometry for 1.5 hours at room temperature is increasing Fe precipitation percentage from 93.08% to 99.93%.

Page 9 of 20 | Total Record : 194