cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Arena Tekstil
ISSN : 05184010     EISSN : 25487264     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini memuat artikel dalam bidang tekstil yang meliputi teknik, kimia, material, desain serta konservasi energi dan lingkungan. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian orisinal yang menyampaikan informasi baru pada bidang tekstil, hasil penelitian teknis yang menggambarkan suatu pengembangan, kemajuan teknis, dan inovasi dalam manufaktur dan processing, teknik laboran dengan data eksperimental yang cukup yang mengilustrasikan kegunaan suatu metoda atau peralatan tertentu, atau artikel tinjauan ilmiah (review) yang mengupas secara kritis suatu topik pada bidang tekstil yang cukup penting. Topik bahasan tidak bersifat umum, tetapi berupa suatu aspek yang dibahas secara mendalam.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
RANCANG BANGUN PROTOTIP MESIN BENANG BULKY PORTABEL DENGAN METODE RODA GIGI CRIMP Achmad Sjaifudin Tayibnapis; Mulia Hendra; Tony Setiawan; Siti Robi'ah Adawiyah; Moekarto Moeliono
Arena Tekstil Vol 33, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.331 KB) | DOI: 10.31266/at.v33i2.4392

Abstract

Telah dilakukan perekayasaan satu prototip mesin benang bulky portabel dengan metode roda gigi crimp yang dipanaskan untuk menghasilkan benang dengan tekstur khusus. Mesin ini diharapkan dapat memproses benang dari serat alam dan serat buatan. Hasil uji pengukuran dimensi mesin berdasarkan ISO/R286 –ISO, System of limit and fit, telah sesuai dengan dimensi perancangannya. Uji performa mesin dari berbagai percobaan dan parameternya  menunjukkan bahwa, benang dari serat alam yaitu benang rami dengan ukuran 1 Ne1 didapat bentuk crimp pada suhu 55-600C, tetapi tidak permanen. Di atas suhu tersebut benang akan terbakar, sehingga sulit untuk dilanjutkan. Sedangkan pada benang poliester rangkap 3,4,5 dan 6 berbasis ukuran 40 tex terbentuk crimp permanen pada suhu 80-100 0C. Hasil uji crimp menunjukkan bahwa benang poliester (40 tex x 6) menghasilkan crimp terbanyak yaitu 23,85 crimp/25 cm. Hasil uji kekuatan tarik benang poliester (40 tex x 6) menunjukkan nilai tertinggi yaitu sebesar 32,15 cN/tex. Sementara mulur tertinggi dihasilkan dari benang poliester (40 tex x 3) yaitu sebesar 27,68%. Hasil uji kekuatan tarik pada benang poliester 40 tex rangkap 3, 4, 5, dan 6 menunjukkan hasil kekuatan tarik yang termasuk ke dalam kategori benang poliester low tenacity, dan benang jenis ini dapat digunakan untuk proses perajutan. Namun demikian, hasil sementara pembuatan benang bulky dengan menggunakan prototip mesin ini masih terbatas hanya untuk benang serat buatan berukuran besar. Untuk itu perlu penyempurnaan-penyempurnaan untuk mendapatkan benang-benang yang dapat diproses lebih lanjut menjadi kain, baik melalui proses pertenunan atau perajutan.
DEVELOPMENT OF TEXTILE FOR ANTI ULTRAVIOLET ROOF THROUGH APPLICATION OF ZnO NANOPARTICLE USING THE MODIFIED PADDING METHOD Doni Sugiyana; Wulan Septiani; Agus Surya Mulyawan; Tatang Wahyudi
Arena Tekstil Vol 33, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.139 KB) | DOI: 10.31266/at.v33i2.4270

Abstract

Development of textile as a roof with durability against ultraviolet/UV radiation can be achieved through the application of ZnO nanoparticles as UV absorber. Immobilization of ZnO nanoparticles onto cotton roof fabric using modified pad-dry-cure method and evaluation of its durability under ultraviolet irradiation was carried out in this research. Research methods including preparation of ZnO nanoparticles suspension and padding process using pad-dry-cure machine with modification of padding-drying multiplied process cycle up to 2 cycles. Evaluation and testing have been done upon durability of nanoparticles attachment on fabric and tensile strength of fabric after UV irradiation. Homogenous ZnO nanoparticle distribution on fabric surface has been obtained by using PVA concentration of 10%. Rain shower test shows that the fabric treated with modified method has higher water rejection performance than that of fabric treated with conventional method, as well as has good durability of attachment. After 5 hrs of UV irradiation, reduction of tensile strength in fabric treated with modified method were found only 1.2% and 1.5% for warp and weft directions respectively, lower than that of fabric treated with conventional method with 1.4% and 1.7% of respective reduction in warp and weft directions
IDENTIFIKASI MEKANISME FOTOKATALITIK PADA DEGRADASI ZAT WARNA AZO REACTIVE BLACK 5 MENGGUNAKAN KATALIS MIKROPARTIKEL TiO2 Doni Sugiyana; Bambang Soenoko
Arena Tekstil Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.315 KB) | DOI: 10.31266/at.v31i2.1939

Abstract

Dalam penelitian ini dipelajari mekanisme fotokatalitik pada degradasi air limbah tekstil artifisial mengandung zat warna azo Reactive Black 5 (RB5) menggunakan katalis mikropartikel TiO2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tahapan degradasi fotokatalitik berupa pemutusan struktur molekul zat warna RB5. Mekanisme degradasi dianalisis melalui pengukuran COD, TOC, pH dan spektra absorbansi warna seiring interval waktu proses fotokatalitik, dilanjutkan dengan identifikasi produk degradasi menggunakan GC-MS. Setelah irradiasi UV selama 5 jam terjadi penurunan COD dan TOC masing-masing sebesar 66,0% dan 86,5%, mengindikasikan terjadinya proses mineralisasi terhadap RB5. Penurunan puncak spektra absorbansi pada rentang panjang gelombang 300-320 nm dan 590-610 nm menunjukkan adanya pemutusan struktur molekul RB5 menjadi senyawa yang lebih sederhana yang terdiri dari pemutusan kromofor warna (ikatan azo) dan pemutusan cincin-cincin senyawa amina aromatik (cincin benzen dan naftalen). Lebih lanjut, identifikasi produk degradasi dengan GC-MS seiring interval waktu proses fotokatalitik menunjukkan bahwa proses degradasi diawali dengan tahapan pemutusan molekul zat warna menjadi senyawa antara dilanjutkan dengan tahapan destruksi senyawa antara menjadi asam-asam organik sederhana yang mendekati tingkat mineralisasi.
THE ANALYSIS OF DIFFERENT CREEL SYSTEMS IN DIRECT BEAMING PLANT Moekarto Moeliono; Freisch Kohller; Mochamad Furqon; Yusniar Siregar
Arena Tekstil Vol 26, No 1 (2011)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.709 KB) | DOI: 10.31266/at.v26i1.1435

Abstract

A research of warping machine has been carried out to investigate the performance of direct beamingplant, that using 5 different creels system. Three of yarn count, i.e. tex 36, 30 and 25 was performed and usedwarping machine from Benninger Machinary Ltd. The research was conducted in 3 factories for 4,000 hours in twoshiftoperation that carried out since 2009 to 2010. In addition, 100 % combed cotton material was used.The aim of this research is to get some datas of performance of warping machine i.e., propered machine,efficiency and productivity. Based on that data, the manufacturer can select the best performance from severalwarping machines that will affect production cost on weaving process.The result of experiments show, that for V creel system the batch changing of 30,000 meters for tex yarncount 36, 30, and 25 requires 52,57, and 59 minutes respectively . Then the time of warp processing for these yarncounts, need about 2,098; 2,125 and 2,250 minutes respectively. In addition, the V-creel sistem requires lowernumber of worker for creeling and doffing the packages, beside that a lower cost is also shown in this system i.e.,63.90; 65.23; and 68.11 for yarn count 36, 30 and 25 respectively; also for the total cost include rewinding remnantpackages. It is therefore a good performance has significantly resulted in V-creel system.
IMMOBILISASI MIKROPARTIKEL TiO2 DAN PENGARUH ANION GARAM PADA DEKOLORISASI FOTOKATALITIK ZAT WARNA AZO REACTIVE BLACK 5 Doni Sugiyana; Yulianti Harja
Arena Tekstil Vol 28, No 1 (2013)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.553 KB) | DOI: 10.31266/at.v28i1.858

Abstract

Dalam studi ini dilakukan penelitian mengenai pengaruh immobilisasi katalis mikropartikel TiO2 dan anion garam terhadap dekolorisasi fotokatalitik air limbah tekstil mengandung zat warna azo Reactive Black 5 (RB5).Immobilisasi katalis mikropartikel TiO2dibuat di atas media pelat akrilat dan pengamatan terhadap aktivitas dekolorisasi fotokatalitiknya dilakukan pada fotoreaktor skala laboratorium. Pengaruh anion garam dievaluasi dengan mengamati efek inhibisi anion garam terhadap proses dekolorisasi fotokatalitik. Dekolorisasi fotokatalitik RB5 dengan katalis tersuspensi ditemukan optimal pada kondisi basa (pH 11),  konsentrasi warna rendah (10 mg/L) dan konsentrasi katalis TiO2 1,0 g/L. Katalis mikropartikel TiO2 terimmobilisasi menunjukkan performa dekolorisasi fotokatalitik lebih rendah dibandingkan katalis tersuspensi pada konsentrasi TiO2 tersuspensi optimum, namun pada konsentrasi katalis lebih tinggi menunjukkan performa yang lebih baik. Anion garam ditemukan dapat memberikan efek inhibisi terhadap performa dekolorisasi fotokatalitik dengan indikasi penurunan konstanta laju dekolorisasi (k’) seiring peningkatan konsentrasi garam baik pada katalis tersuspensi maupun terimmobilisasi.
PENGEMBANGAN DESAIN FESYEN KREATIF DENGAN APLIKASI KAIN TENUN DAN RAJUT MENGGUNAKAN BENANG FANCY Dermawati Suantara; Yusniar Siregar; Endah Oktaviani
Arena Tekstil Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2543.145 KB) | DOI: 10.31266/at.v27i1.1169

Abstract

Penelitian ini merupakan pengembangan desain kain yang menggunakan benang fancy (hias) yangdiperoleh melalui proses pada mesin Caipo dengan variasi slub dan twist. Diperoleh tiga jenis benang fancy, yaitubenang fancy 1, 2 dan 3, dengan hasil uji kekuatan tariknya masing-masing 17,39 g/tex, 20,17 g/tex dan 12,37g/tex. Kekuatan tarik benang tersebut masih dibawah persyaratan SNI 08-0033-2006 “Benang Ring TunggalKapas”, yaitu untuk nomor yang sama kekuatannya adalah 22.8 cN/tex, sehingga hanya digunakan sebagai benangpakan pada kain tenun dan sisipan pada kain rajut yang tidak memerlukan kekuatan tinggi. Proses pertenunandilakukan dengan ATBM dan mesin Shuttle Loom dengan beberapa variasi anyaman benang fancy, sedangkanproses perajutan menggunakan Mesin Rajut Datar dengan varian sisipan benang fancy. Hasil kain dengan variasibenang fancy ini dirancang sebagai aplikasi pada produk fesyen, yaitu baju muslim, bolero, mini dress, busanakerja dan busana pesta yang mengacu pada analisis pasar, trend (kecenderungan) warna dan tema fesyen tahun2012. Pengembangan produk fesyen tersebut dipadukan dengan kain polos dari bahan organdi, sutera Thai (Thaisilk), kanvas, poliester dan kapas yang menghasilkan suatu produk tekstil kreatif.
EKSTRAKSI SERAT BAMBU DARI BAMBU TALI (GIGANTOCHLOA APUS) UNTUK BAHAN BAKU INDUSTRI KREATIF Tatang Wahyudi; Cica Kasipah; Doni Sugiyana
Arena Tekstil Vol 30, No 2 (2015)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1648.65 KB) | DOI: 10.31266/at.v30i2.1958

Abstract

Dalam penelitian ini dilakukan ekstraksi serat bambu dari bambu tali (Gigantochloa apus) yang dapat dipintal menjadi benang serat bambu sebagai bahan baku industri kreatif. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh metode optimum ekstraksi serat bambu dengan proses kombinasi kimia-mekanis yang lebih ramah lingkungan dan mengevaluasi karakteristik serat bambu tali siap pintal yang dihasilkan. Metode ekstraksi serat bambu meliputi proses degumming, pengelantangan, pencucian, softening dan opening. Pengaruh proses kimia dievaluasi melalui variasi konsentrasi NaOH 10 dan 20 g/L di dalam perlakuan panas dan tekan menggunakan autoclave dengan tekanan 1 kg/cm2. Hasil karakterisasi fisik menunjukkan bahwa serat bambu siap pintal diperoleh pada kondisi optimum proses degumming menggunakan konsentrasi NaOH 20 g/L. Komposisi bundel serat bambu yang dihasilkan pada kondisi proses optimum mengandung 18,86% lignin dan 18,54% hemiselulosa. Hasil evaluasi sifat fisika menunjukkan bahwa serat bambu yang dihasilkan memiliki kekuatan tarik 24,84 kg, nilai mulur rata-rata 48,1%, moisture regain 7,7%, moisture content 7,1%, dan tenacity 0,09 N/Tex. Serat bambu yang dihasilkan dapat dipintal dengan baik menggunakan mesin jantra dan telah berhasil dibuat menjadi produk kreatif kerajinan.
KARAKTERISASI PLASMA LUCUTAN PIJAR KORONA POSITIF PADA KONDISI ATMOSFER DENGAN KONFIGURASI ELEKTRODA TITIK BIDANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP KAIN SUTRA ALAM (BOMBYX MORI) Mahendra Kusuma Nugraha; Zaenul Muhlisin; Pandji Triadyaksa
Arena Tekstil Vol 34, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.932 KB) | DOI: 10.31266/at.v34i1.4980

Abstract

Eksperimen pembangkitan plasma lucutan pijar korona telah dilakukan dengan menggunakan konfigurasi elektroda titik dan bidang. Kondisi plasma lucutan pijar korona terbentuk secara optimal pada jarak antar elektroda (d) setinggi 2,1 cm dan 2,4 cm dan arus saturasi (Is) terukur sebesar 0,75 mA dan 1,0 mA. Kondisi tersebut digunakan sebagai dua karakteristik lucutan yang digunakan dalam tahap perlakuan sampel kain sutra alam (Bombyx mori). Pengujian sifat mekanis pada sampel kain sutra alam dengan perlakuan plasma menunjukkan nilai ketahanan jebol yang menurun dibandingkan nilai ketahanan jebol pada sampel kain sutra alam tanpa perlakuan. Pengujian kekuatan serap zat cair (akuades) pada sampel kain sutra alam dengan perlakuan plasma menunjukkan nilai rerata waktu serap (τ) yang lebih singkat dibandingkan nilai τ pada sampel kain sutra tanpa perlakuan. Pada kedua tahap tersebut, pengoptimalan maksimum dari nilai ketahanan jebol dan daya serap zat cair (akuades) dicapai pada jarak antar elektroda (d) setinggi 2,1 cm, arus saturasi (Is) sebesar 0,75 mA dan waktu perlakuan selama 30 menit. Pengujian sifat mikroskopik membuktikan bahwa dengan adanya perubahan struktur permukaan pada sampel cukup berpengaruh terhadap nilai ketahanan jebol dan rerata waktu penyerapan zat cair (akuades) yang dimiliki.  Hasil pengujian pada tahap ini juga menyatakan bahwa tidak ada penambahan jenis baru dari gugus fungsi terkandung pada sampel kain sutra alam yang diberi perlakuan plasma.
STUDI PENGGUNAAN MESIN PENCELUPAN SISTEM JET TIPE SOFT FLOW UNTUK PENCELUPAN KAIN POLIESTER DAN KAIN RAYON Arif Wibi Sana; Eva Novarini; Untung Prayudie; Rini Marlina
Arena Tekstil Vol 30, No 1 (2015)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2637.135 KB) | DOI: 10.31266/at.v30i1.1943

Abstract

Studi ini dilakukan untuk mendapatkan kondisi optimum pencelupan kain poliester dan rayon pada mesin jet dyeing tipe soft flow. Untuk mengetahui kondisi optimum proses pencelupan poliester, dilakukan variasi kecepatan sirkulasi (rendah (42,84 m/menit), sedang (67,56 m/menit), dan tinggi (110,0 m/menit)), konstruksi kain (gramasi 65, 90 dan 175 g/m2) dan zat warna dispersi dengan berat molekul berbeda (BM 248.36, BM 519.93 dan BM 625.38). Proses pencelupan rayon dilakukan dengan variasi kecepatan sirkulasi (rendah (42,84 m/menit), sedang (67,56 m/menit), dan tinggi (110,0 m/menit). Hasil pencelupan diuji ketuaan warna (K/S), daya serap warna dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian, gosokan kering dan basah, serta kekuatan tarik. Pada kain poliester, nilai K/S tertinggi didapatkan pada kain dengan gramasi rendah yang dicelup menggunakan zat warna dispersi dengan berat molekul paling kecil, sedangkan pada kain rayon K/S tertinggi diperoleh pada hasil pencelupan dengan kecepatan sirkulasi sedang. Kain poliester maupun rayon hasil pencelupan memiliki nilai ketahanan luntur warna terhadap pencucian, gosokan kering dan basah yang baik dan tidak mengalami penurunan kekuatan tarik yang signifikan. Mesin jet dyeing tipe soft flow ini lebih sesuai untuk digunakan pada proses pencelupan dengan kecepatan sirkulasi kain tidak lebih dari 110 meter/menit dan lebih disarankan untuk digunakan pada kain-kainringan. Sedangkan untuk kain rayon, proses pencelupan sebaiknya dilakukan pada kecepatan sirkulasi sedang (67,56 m/menit).
BENANG GELATIN/ALGINAT SEBAGAI BAHAN BAKU KAIN KASA Rifaida Eriningsih; Theresia Mutia; Achmad Sjaifudin
Arena Tekstil Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.484 KB) | DOI: 10.31266/at.v27i2.1156

Abstract

Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan benang campuran gelatin/alginat melalui proses wet spinning.Alginat yang digunakan adalah hasil ekstraksi dari rumput laut coklat yang dibuat tanpa proses pemutihan yangmemberikan kekuatan tarik yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan alginat komersial (Manutex RS). Hasilpercobaan menunjukkan bahwa kondisi optimum diperoleh pada perbandingan gelatin/alginat 75/25, denganpenambahan zat pengikat Transglutaminase (TGA) dapat meningkatkan kekuatan tarik menjadi 1024 g, kekuatansimpul 688,5 g dan mulur sekitar 12 %, yang memenuhi syarat dapat ditenun menjadi kain kasa. Selain itu benangtersebut bersifat antibakteri, berdaya serap tinggi sehingga diharapkan hasil pertenunan akan memenuhi syaratsebagai kasa pembalut luka.