cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2009)" : 9 Documents clear
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DAN DAMPAK KONVERSI LAHAN PERTANIAN Ridwan, Ita Rustiati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2448

Abstract

Semakin meningkatnya jumlah penduduk berarti jumlah kebutuhan menjadi lebih besar, salah satunya kebutuhan pada lahan. Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian dalam bidang pertanian, maka semakin sempitlah lahan garapan karena telah dikonversi menjadi lahan permukiman, jalan, industri dan lainnya. Konversi lahan pada dasarnya merupakan hal yang wajar terjadi, namun pada kenyataannya konversi lahan menjadi masalah karena terjadi di atas lahan pertanian yang masih produktif dan ketersediaannya yang terbatas. Proses terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian disebabkan oleh beberapa faktor meliputi faktor eksternal (adanya dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi maupun ekonomi), faktor internal (kondisi sosial-ekonomi rumah tangga pertanian pengguna lahan), dan faktor kebijakan (aspek regulasi yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian). Dampak konversi lahan sawah antara lain menurunkan produksi padi nasional, kerugian akibat investasi dana untuk mencetak sawah, membangun waduk dan sistem irigasi. Dampak lainnya adalah menurunnya kesempatan kerja dalam bidang pertanian dan degradasi lingkungan. Upaya pencegahan konversi lahan sawah yang dapat dilakukan hanya bersifat pengendalian yang bertitik tolak dari faktor-faktor penyebab terjadinya konversi lahan sawah, yaitu faktor ekonomi, sosial, dan perangkat hukum. Selain itu, hendaknya didukung oleh keakuratan pemetaan dan pendataan penggunaan lahan yang dilengkapi dengan teknologi yang memadai. Kata kunci: konversi lahan pertanian, faktor eksternal, faktor internal.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERUMAHAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN GARUT Iskandar, Purwaamijaya Muda; Torik, Fikri
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2444

Abstract

Penelitian analisis kesesuaian lahan untuk perumahan menggunakan sistem informasi geografis di Kabupaten Garut ini, merupakan penelitian untuk mengkaji diwilayah kecamatan mana saja yang sesuai untuk dijadikan  lahan perumahan. Dengan hasil ini supaya terbentuk pembangunan yang berkelanjutan dimana dapat memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan menggunakan ketujuh tema dalam analisis fisik lingkungan ini diantaranya tema drainase, tema erosi, tema kemiringan/lereng, tema banjir, tema kedalaman efektif tanah, tema tekstur tanah, tema batuan kerikil ditambah tema administrasi supaya mempermudah dalam analisis sampai tingkat kecamatan. Penggunaan Software ArcView GIS 3.3 dalam analisis kesesuaian lahan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan melakukan analisis spasial  yang menghasilkan luasan wilayah kesesuaian 35,560% dari luas wilayah Kabupaten Garut berada diwilayah yang baik, 32,827% berada pada wilayah sedang, dan 31,613% berada pada wilayah buruk untuk perumahan. Faktor kendala terbesar pada kawasan baik adalah drainase, kendala terbesar pada kawasan sedang selain erosi juga kemiringan lahan. Dimana kawasan hutan lindung termasuk pada wilayah sedang. Kata kunci: Garut, SIG, Luasan sesuai untuk perumahan.
KONSERVASI LAHAN PERBUKITAN SEPULUH RIBU (TEN THOUSAND HILL) UNTUK LANSEKAP HUTAN KOTA DALAM MENUNJANG RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA TASIKMALAYA Malik, Yakub
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2449

Abstract

Obyek penelitian yaitu kawasan perbukitan Sepuluh Ribu (Ten Thousand Hill) yang ada di Kota Tasikmalaya, tujuan dari penelitian untuk : a) mengetahui karakteristik lingkungan Perbukitan Sepuluh Ribu, b) mengetahui respons masyarakat terhadap perubahan lingkungan akibat eksploitasi Galian C c) mengetahui peluang pengembangan hutan kota di Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Ada dua jenis data yang digunakan, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil kuesioner yang disebarkan ke masyarakat di sekitar kawasan perbukitan yang menjadi sampel penelitian yaitu Kecamatan Mangkubumi dan Kecamatan Indihiang, yang dilengkapi dengan data peninjauan lapangan (ground check). Data sekunder diperoleh dari studi literatur mengenai kondisi fisik , sosial daerah penelitian dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tasikmalaya. Kedua data ini kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kondisi fisik, lahan Perbukitan Sepuluh Ribu dapat berfungsi sebagai wilayah konservasi sumberdaya air, keanekaragaman hayati (biodiversity) dan obyek pendidikan lingkungan (ekowisata). Berdasarkan analisis SWOT sebenarnya lahan Perbukitan Sepuluh Ribu sangat berpotensi dan memiliki peluang untuk dijadikan hutan kota dalam upaya menunjang Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Tasikmalaya menuju pengembangan kota yang berwawasan lingkungan (urban ecology). Kata kunci: konservasi lahan, lanskap kota, ruang terbuka hijau.
DEGRADASI LAHAN SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI (SUB DAS) CITARIK HULU DI KAB. BANDUNG DAN SUMEDANG Wanjat, Kastolani
Jurnal Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem Sub Das Citarik Hulu telah mengalami degradasi lingkungan baik itu sumberdaya lahan maupun sumberdaya air.  Penyebab tersebut antara lain disebabkan oleh karakteristik dan kemampuan lahan, iklim dan curah hujan, jenis tanah, serta perilaku petani dalam melakukan usaha tani. Selain itu, berdasarkan karakter fisik dari lahan tersebut yang pada umumnya berada pada kelas kemampuan lahan Ive, yang memiliki faktor pembatas berupa ancaman erosi, kemiringan lereng dan kepekaan erosi. Untuk mengatasi terhadap hal itu, perlu adanya upaya-upaya untuk pelestarian sumberdaya lahan dan sumberdaya air yaitu melalui berbagai teknik konservasi lahan dengan melibatkan seluruh stakeholder.Kata Kunci: degradasi lahan, SUB DAS  Citarik Hulu.
POTENSI WILAYAH KECAMATAN CIKAKAK DALAM KERANGKA PENGEMBANGAN EKOWISATA PANTAI PALABUAN RATU KABUPATEN SUKABUMI Mulyadi, Asep
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2451

Abstract

Ecotourism adalah perjalanan yang bertanggung jawab ke tempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat”. Ekoturisme sarat oleh aspek primer yakni, mengelaborasi alam untuk kepentingan pariwisata tanpa menurunkan kualitas alam, atau mengubahnya menjadi wujud intervensi penyebab degradasi ekosistem. Kecamatan Cikakak adalah salah satu wilayah yang berada di kawasan pantai Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi. Wilayah ini memiliki potensi yang baik untuk menopang pengembangan kawasan wisata pantai Pelabuhan Ratu terutama pengembangan ke arah ekowisata. Pengembangan kawasan ekowisata di Pelabuhan Ratu diyakini dapat meningkatkan perkembangan kawasan wisata di daerah ini yang bermanfaat tidak hanya bagi lingkungan fisik, tetapi juga masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan. Potensi yang dimiliki oleh wilayah kecamatan Cikakak dalam pengembangan kawasan ke arah ekowisata meliputi potensi berbasis marine, berbasis agro, dan berbasis petualangan yang cukup memadai untuk dikembangkan. Melalui upaya-upaya dengan mempergunakan pendekatan yang komprehensif , kendala-kendala yang ada diyakini akan dapat di atasi. Kata Kunci : Ecotourism, Kawasan Pantai, Pembangunan berbasis masyarakat.
DESAIN SEBARAN TITIK KERANGKA DASAR PEMETAAN DETAIL SITUASI KAMPUS UPI BANDUNG Jupri, Jupri; Sugandi, Dede; Sugito, Nanin Trianawati
Jurnal Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini kampus utama UPI melakukan pembangunan besar-besaran. Dalam rangka inventarisasi sarana dan prasarana kampus sebagai aset UPI diperlukan adanya pemetaan detail situasi kampus. Dari peta detail situasi kampus ini akan dihasilkan informasi posisi secara akurat. Penentuan posisi tersebut dilakukan dengan menggunakan metode tertentu untuk memecahkan parameter posisi (koordinat) berdasarkan pada suatu sistem referensi dan koordinat. Dalam pemetaan detail situasi kampus mutlak diperlukan titik kerangka dasar pemetaan. Representasi titik-titik kerangka dasar pemetaan tersebut di lapangan berupa Bench Mark/tugu yang memiliki nilai koordinat definitif, yang terintegrasi baik secara sistem nasional, bahkan di lingkup praktis global. Hingga saat ini pemetaan yang dilakukan di kampus UPI masih menggunakan sistem koordinat lokal. Hal ini disebabkan oleh kondisi Bench Mark/tugu yang rusak, hilang, atau tidak dapat digunakan lagi. Melalui penelitian ini akan dihasilkan desain sebaran titik kerangka dasar untuk pemetaan detail situasi kampus UPI. Desain sebaran titik kerangka dasar akan diupayakan memenuhi spesifikasi teknis yang distandarkan, sehingga akan dihasilkan lokasi Bench Mark/tugu yang aman dan memungkinkan keberadaannya dari waktu ke waktu akan terjaga dengan baik. Kata Kunci : titik kerangka dasar, pemetaan UPI.
TINGKAT KERUSAKAN DAN ARAHAN KONSERVASI LAHAN DI DAS CIKARO, KABUPATEN BANDUNG Pasya, Gurniwan Kamil; Jupri, Jupri; Murtianto, Hendro
Jurnal Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan karakteristik lahan di Sub Daerah Aliran Ci Karo, (2) Menghitung besar erosi dan sebarannya pada tiap satuan lahan DAS Ci Karo, (3) Menghitung besar erosi yang diperbolehkan pada lahan di DAS Ci Karo,(4) Menganalisis Kekritisan Lahan di DAS Ci Karo, (5) Menentukan Kelas Kemampuan Lahan di DAS Ci Karo, dan (6) Menentukan arahan konservasi lahan secara mekanis dan vegetatif. Metode penelitian adalah deskriptif eksploratif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, kuesioner dan uji laboratorium. Teknik analisis data menggunakan metode Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT). Hasil penelitian adalah (1) Besar erosi tanah permukaan pada lahan pertanian di Sub DAS Ci Karo, Kabupaten Bandung terbesar adalah pada satuan lahan AhIVTg yaitu sebesar 16.577,95 ton/ha/th dan besar erosi yang terendah terdapat pada satuan lahan AhISi, yaitu sebesar 0,01 ton/ha/th, (2) Besar erosi diperbolehkan berbeda-beda antar satuan lahan, erosi masih dapat diperbolehkan terbesar adalah pada satuan lahan AhITg yaitu 25,28 ton/ha dan terkecil pada satuan lahan ThIIIKb yaitu sebesar 5,68 ton/ha, (3) Lahan potensial kritis pada lahan pertanian memiliki kesuburan yang sedang hingga tinggi, kedalaman efektif tanah yang cukup. Lahan semi kritis terjadi karena faktor erosi, berkurangnya penutupan vegetasi, dan kemiringan lerengnya, (4) Kelas Kemampuan lahan terbagi menjadi : kelas III peruntukan pertanian sedang, kelas IV peruntukan pertanian terbatas, kelas VI peruntukan peternakan sedang dan hutan, kelas VII peruntukan peternakan terbatas dan hutan, dan kelas VIII peruntukan cagar alam atau hutan lindung, (5) Arahan konservasi lahan alternatif secara mekanis dan vegetatif dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan bentuk tata guna lahan dengan fungsi kawasan dan kemampuan lahannya. Sehingga fungsi kawasan terbagi menjadi kawasan lindung, penyangga dan budidaya tanaman tahunan. Aplikasi arahan konservasi berdasarkan pada jenis tindakan konservasi yang harus dilakukan sesuai dengan karakteristik lahan dan kemampuan lahan, partisipasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar sangat diperlukan guna mendukung suksesnya program konservasi lahan tersebut. Kata Kunci: erosi, kemampuan lahan, fungsi kawasan, konservasi.
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN DI KABUPATEN BANDUNG UTARA DAN BANDUNG BARAT MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Masri, Rina Marina; Yulianti, Vitri
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2447

Abstract

Meningkatnya kebutuhan dan persaingan dalam penggunaan lahan baik untuk keperluan produksi pertanian maupun untuk keperluan lainnya memerlukan pemikiran yang saksama dalam mengambil keputusan pemanfaatan yang paling menguntungkan dari sumberdaya lahan yang terbatas, dan sementara itu juga melakukan tindakan konservasinya untuk penggunaan masa mendatang.Evaluasi kemampuan lahan diarahkan untuk mengetahui potensi lahan bagi penggunaan lahan secara luas dan lestari berdasarkan cara penggunaan dan perlakuan yang paling sesuai sehingga dapat dijamin pemanfaatan lahan dalam waktu yang tidak terbatas.Klasifikasi faktor-faktor pembatas kemampuan lahan yang terdiri dari kemiringan lereng, tekstur tanah, kedalaman efektif, drainase tanah, erosi tanah, ancaman banjir, curah hujan, kerikil dan batuan kecil dijadikan sebagai masukan untuk memperoleh keluaran peta kelas kemampuan lahan dari hasil proses analisis spasial digital menggunakan sistem informasi geografis. Kata kunci: Evaluasi kemampuan lahan, Kabupaten Bandung, Sistem Informasi Geografis (SIG).
MENANAMKAN KONSEP DASAR KONSERVASI LAHAN MELALUI PEMBELAJARAN GEOGRAFI Ningrum, Epon
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2453

Abstract

Lahan adalah sumberdaya potensial yang memiliki arti penting dan kedudukan strategis. Artinya, keberadaan lahan sangat mempengaruhi kehidupan manusia, baik sebagai tempat tinggal dan wahana aktivitas ekonomi maupun secara politis-teritoris. Dengan demikian, sangat penting pengaturan lahan secara yuridis formal baik pada tataran institusional maupun pemanfaatannya pada tataran empiris, agar keberadaan lahan sebagai sumberdaya terjaga kelestariannya. Lahan sebagai sumber daya memiliki kemampuan dan peluang bagi pemanfaatannya. Penggunaan lahan (land use) sudah seharusnya memperhatikan potensi dan daya dukung lahan. Penggunaan IPTEK dan kepedulian masyarakat dalam pengelolaan lahan sangat menentukan keberadaan lahan sebagai sumberdaya. Agar sumberdaya lahan terjaga kelestariannya, maka manusia sebagai pengelolanya harus memiliki kesadaran akan konservasi lahan. Pengetahuan, pemahaman, dan kepedulian serta partisipasi masyarakat dalam konservasi lahan sangat penting ditumbuh kembangkan sejak dini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan. Tujuan pendidikan adalah menyiapkan calon warga masyarakat yang memiliki keunggulan partisipatif, termasuk di dalamnya partisipasi dalam konservasi lahan. Pendidikan secara operasional dinyatakan dalam bentuk pembelajaran, maka melalui kegiatan pembelajaran tersebut pengetahuan, pemahaman, dan kepedulian serta pembiasaan berpartisipasi dapat dikembangkan. Dalam pembelajaran geografi, lahan dipandang sebagai permukaan bumi yang dimaknai sebagai ruang. Ruang, lahan, tanah atau permukaan bumi merupakan laboratorium bagi geografi dan menjadi sumberdaya bagi kehidupan manusia. Untuk itu, maka pembelajaran geografi hendaknya dikemas dalam proses pembentukan sikap dan penanaman konsep konservasi lahan agar keberadaannya terlestarikan.  Kata kunci: konsep, konservasi, kelestarian, lahan, tanah, ruang, sumberdaya, dan pembelajaran geografi.

Page 1 of 1 | Total Record : 9