cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Riset Gizi
ISSN : 2338154X     EISSN : 26571145     DOI : http://dx.doi.org/10.31983/jrg
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2014): November 2014" : 15 Documents clear
Efektivitas Konseling Ibu terhadap Perilaku Kadarzi di Kelurahan Kraton Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal Suprijatmi, Tanti; Sunarto, Sunarto
Jurnal Riset Gizi Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Program Kadarzi di Kota Tegal telah dilaksanakan sejak tahun 2003. Dari hasil pemantauan belum semua keluarga menjadi keluarga sadar gizi. Adapun capaian Kadarzi  di kota Tegal adalah 52,83 % (target 76 % tahun 2011) sedangkan di Puskesmas Tegal Barat Kelurahan Kraton baru mencapai 32,4 %.5 Agar diperoleh perubahan perilaku kesehatan khususnya Kadarzi , diperlukan adanya pemberian Informasi. Pemberian informasi akan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Pemberian informasi dengan model Pemberdayaan keluarga menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku Kadarzi melalui pengembangan konseling dan KIE .Konseling adalah model komunikasi antar pribadi yang paling baik, karena di dalam cara ini antara komunikator atau konselor dengan komunikan atau klien terjadi dialog.Tujuan Penelitian :  Mengetahui besar efektivitas konseling ibu terhadap perilaku Kadarzi di Kelurahan Kraton Kecamatan Tegal Barat.Metode : Rancangan penelitian ini dengan Randomized Pretest dan Post test Control Group Design dan jenis penelitian True Experiment dengan  memberikan perlakuan berupa konseling Kadarzi pada ibu balita di Kelurahan Kraton Kecamatan Tegal Barat yang selanjutnya diberlakukan sebagai kelompok perlakukan. Kelompok kontrol adalah ibu balita di kelurahan Kraton yang tidak mendapat perlakuan Konseling..  Populasi penelitian adalah semua keluarga sebanyak 885 keluarga.Besar sample yang dibutuhkan 37 ibu balita. Pengambilan sample dilakukan dengan menggunakan teknik sampling proporsional simple random. Uji statistic dengan Kai Kuadrat dengan derajat kemaknaan pada α 0,05 serta menghitung besar Efektivitas.Hasil : Hasil analisa statistik menunjukkan tidak ada perbedaan perilaku kadarzi sebelum konseling antara kelompok perlakuan dan kelompok control p value = 0,812. Ada perbedaan perilaku kadarzi sesudah konseling antara kelompok perlakuan dan control p value = 0,004. Besar Efektivitas konseling = 60 %.Kesimpulan : Tingkat keberhasilan pemberian konseling adalah 60% dalam menaikan status kadarzi. 
Pengaruh Pemberian Konseling Gizi Terhadap Sisa Makanan Diet Rendah Garam di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang Erna Yulianti Lobo; Setyo Prihatin
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3245

Abstract

Latar Belakang : Informasi gizi yang kurang akan berpengaruh terhadap konsumsi makanan pasien, sehingga penting sekali anjuran makan bagi pasien. Konseling gizi diharapkan dapat menimbulkan kesadaran pasien terhadap asupan makanan Manfaat dari konseling gizi dapat membantu proses penyembuhan penyakit melalui perbaikan gizi, mencari alternatif pemecahan masalah dan memilih cara pemecahan masalah yang paling sesuai bagi pasien.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa makanan diet rendah garam di ruang rawat inap penyakit dalam RSUD Prof. DR. W.Z. Johanes KupangMetode : Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-group pre test - post test (rancangan pre-pasca test dalam satu kelompok) dimana dilihat sisa makanan diet pasien sebelum mendapat konseling gizi dan sesudah diberikan konseling gizi.Subyek penelitian yang digunakan sejumlah 30 pasien diamati sisa asupannya dengan metode comstok. Analisis bivariat yang digunakan adalah paired t-test.Hasil : Persentase sisa asupan makanan pokok sebelum konseling rata-rata sebesar 29.50% sedangkan setelah konseling sebesar 19.72%. Persentase sisa asupan lauk hewani sebelum konseling rata-rata sebesar 26.33% sedangkan setelah konseling sebesar 20.17%. Persentase sisa asupan lauk nabati sebelum konseling rata-rata sebesar 30.67% sedangkan setelah konseling sebesar 23.00%. Persentase sisa asupan sayuran sebelum konseling rata-rata sebesar 30.83% sedangkan setelah konseling sebesar 15.28%. Persentase sisa asupan buah sebelum konseling rata-rata sebesar 27.42% sedangkan setelah konseling sebesar 17.33%Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan makanan pokok dengan p-value 0.000. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi lauk hewani dengan p-value 0.003. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi lauk nabati dengan p-value 0.004. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi sayuran dengan p-value 0.000. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi buah dengan p-value 0.000.
Gambaran Pengetahuan, Sikap, Praktik serta Identifikasi Bakteri Escherichia Coli Dan Staphylococus Aureus Pada Penjamah dan Makanan di PT PSA (Pelita Sejahtera Abadi) Lynda Puspita Sugiyono; Dyah Nur Subandriani
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3257

Abstract

Pendahuluan : Institusi jasa boga memiliki tanggung jawab yang besar dalam menyediakan makanan yang bermutu. Upaya pengamanan makanan sangat penting untuk meningkatkan mutu. Mutu makanan tidak hanya dilihat dari nilai gizi dan cita rasa, namun harus aman dari bahaya kimia, fisik, dan biologi termasuk mikroorganisme.  Bakteri yang paling banyak digunakan sebagai indikator sanitasi adalah Escherichia coli. Di dalam air maupun makanan yang terdeteksi adanya Escherichia coli yang bersifat patogen, jika termakan/terminum dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang bersifat enterotoksin. Bakteri ini biasanya terkontaminasi silang dari penjamah makanan (hidung, mulut, tangan), dan peralatan masak.Tujuan : Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, praktik serta identifikasi bakteri Escherichia coli dan Staphylococus aureus pada penjamah dan makanan yang diolah di PT PSA.Metode : Penelitan ini termasuk penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan di PT PSA (Pelita Sejahtera Abadi). Besar sampel 16 orang penjamah makanan dan 12 sampel makanan. Variabel penelitian meliputi pengetahuan, sikap dan praktik penjamah, serta identifikasi bakteri  Escherichia coli dan Staphylococus aureus pada penjamah dan makanan. Metode pengambilan data pengetahuan dan sikap melalui tanya jawab menggunakan kuesioner, praktik berdasarkan observasi menggunakan formulir chek list. Uji identifikasi bakteri Escherichiacoli dan Staphylococus aureus dilakukan di laboratorium fisiologi dan biokimia Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Waktu penelitian dilakukan pada bulan April  2010.Hasil : Sebanyak (56,3%) penjamah makanan memiliki tingkat pendidikan tamat SMA, dan rata-rata lama kerja 9, 19 tahun (± SD 2,37). Pengetahuan penjamah makanan  sebagian besar (62,5%) tergolong baik, sikap sebagian besar (68,7%) baik, dan praktik sebagian besar (56,3%) kurang. Hasil pemeriksaan identifikasi bakteri Escherichia coli pada makanan ditemukan positif pada sayur bobor bayam dan Staphylococcus aureus pada lauk hewani bandeng presto. Hasil pemeriksaan identifikasi bakteri Escherichia coli pada tangan penjamah makanan (50%) positif dan Staphylococcus aureus (25%) positif. Penjamah yang teridentifikasi bakteri Staphylococcus aureus juga teridentifikasi bakteri Eschericheria coli.Simpulan  : Pengetahuan dan sikap penjamah makanan di PT PSA sebagian besar baik, tetapi untuk praktik higiene personal masih kurang. Makanan yang diolah di PT PSA belum memenuhi syarat kesehatan karena  pada hasil identifikasi bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus positif pada makanan dan tangan penjamah. Ada hubungan antara praktik higiene personal penjamah dengan keberadaan bakteri  Escherichia coli pada tangan penjamah (p=0,001). Tidak ada hubungan antara praktik higiene personal penjamah dengan keberadaan bakteri Staphylococcus aureus pada tangan penjamah (p=0,088).
Gambaran Pola Pemberian Makanan Tambahan dan Kejadian Konstipasi pada Anak Usia 6-24 bulan di Kelurahan Pedurungan Tengah Semarang Setyo Prihatin
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3251

Abstract

Latar belakang : Masa batita (bawah tiga tahun) merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia sehingga sering disebut golden age. Pertumbuhan dan perkembangan pada usia ini menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak dihadapi oleh anak usia ini adalah konstipasi. Penelitian di Amerika, Eropa dan Asia didapatkan angka prevalensi konstipasi pada anak mencapai 0.7 - 29.6 %Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola makan dan kejadian konstipasi pada anak usia 6-24 di Kelurahan Pedurungan Semarang.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian descriptive yang bertujuan untuk mendeskripsikan pola makan dan kejadian konstipasi pada anak usia 6-24 bulan di Kelurahan Pedurungan Tengah Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan subjek penelitian anak usia 6-24 bulan berjumlah 41 yang diambil secara purposive random sampling. Pengambilan data meliputi recall 2x24 jam dan kuesioner kejadian konstipasi dilengkapi gambar Bristol Stool Chart.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pola makan sampel berupa ASI+MP-ASI. Sebagian besar pola makan sampel belum sesuai dengan anjuran Kemenkes RI. Pola makan MP-ASI meliputi jenis, frekuensi dan porsi/jumlah pemberian MP-ASI. Kejadian konstipasi sampel sebesar 34.1% dengan tipe feses 1 dan 2. Sebanyak 57.1% sampel mengalami konstipasi dengan frekuensi 3x dalam satu bulan dari waktu penelitian.Kesimpulan : Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan pada pihak pemerintahan Kelurahan dan Puskesmas untuk mengadakan penyuluhan mengenai pola pemberian MP-ASI yang sesuai dengan anjuran Kemenkes RI tentang MP-ASI tahun 2010 pada ibu-ibu balita khususnya ibu anak usia 6-24 bulan.
Perbedaan Status Gizi Penerima PMT Pemulihan Dengan Penerima Pmt Penyuluhan pada Penderita Gizi Buruk di Kabupaten Jepara Sarimah, Sarimah; Hutagalung, Sihol Pardumuan
Jurnal Riset Gizi Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Balita yang berstatus gizi buruk akan menyebabkan gangguan pada proses pertumbuhan, struktur dan fungsi otak, imunitas serta kualitas kesehatan secara keseluruhan, sehingga akan menciptakan generasi yang lemah secara fisik dan mental.Tujuan penelitian : Mengetahui perbedaan status gizi antara balita gizi buruk penerima PMT pemulihan dengan balita gizi buruk penerima PMT penyuluhan di Kabupaten Jepara.Metode : Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi sebanyak 90 balita terdiri dari 45 sampel dari Kecamatan Kembang dan 45 sampel dari Kecamatan Bangsri. Analisis data dengan SPSS 16 , Uji Repeted Measure Anova digunakan untuk mengetahui perbedaan  status  gizi    sampel setelah satu bulan, dua bulan, tiga bulan pemberian PMT  baik kelompok sampel penerima PMT Pemulihan maupun kelompok sampel penerima PMT Penyuluhan, dan uji Independent t – test untuk mengetahui    perbedaan status     gizi antara kelompok sampel penerima PMT pemulihan dengan kelompok sampel penerima  PMT penyuluhan setelah satu bulan, setelah dua bulan, dan setelah tiga bulan.Hasil : Secara statistik terdapat perbedaan status gizi balita pada kelompok sampel  penerima PMT Pemulihan sebelum dan sesudah menerima PMT dengan p value = 0.000. Pada kelompok sampel penerima PMT Penyuluhan tidak ada perbedaan bermakna p value = 0.103. Dari uji statistik diperoleh hasil bahwa tidak  bermakna  perbedaan status gizi antara balita gizi buruk kelompok penerima PMT Pemulihan dengan balita gizi buruk kelompok penerima PMT Penyuluhan setelah 1 bulan dengan p value = 0. 706 ( p value> 0.05 ), setelah 2 bulan tidak ada perbedaan bermakna dengan p value = 0.063, setelah 3 bulan terdapat perbedaan bermakna status gizi  antara kelompok sampel penerima PMT Pemulihan dengan kelompok sampel penerima PMT Penyuluhan dengan p value = 0.019.Kesimpulan : Perbedaan status gizi  antara balita gizi buruk penerima PMT  pemulihan dengan penerima PMT penyuluhan bermakna secara statistik setelah tiga bulan. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi PMT pemulihan perlu disertai dengan program pendampingan PMT  agar paket PMT  yang diberikan tepat sasaran. 
Perbedaan Asupan Energi dan Protein Pasien Skizofrenia Non Pasung dan Post Pasung di Rumah Sakit Jiwa dr. Amino Gondohutomo Semarang Nursani Rumahorbo; Heni Hendriyani; Mohamad Jaelani
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3237

Abstract

Latar belakang: Fenomena pemasungan pada penderita skizofrenia, yang sering diasosiasikan sebagai gila dan layak dikucilkan dari interaksi social tampak masih terjadi. Tindakan pemasungan ini dapat mempengaruhi, sehingga akan berdampak pada tingkat asupan energi dan protein.Tujuan: Mengetahui perbedaan asupan energi dan protein pasien skizofrenia non pasung dan post pasung di Rumah Sakit Jiwa Dr Amino Gondohutomo SemarangMetode: Penelitian ini berjenis eksplanatif komparatif dengan rancangan cross sectional. Dilakukan pada pasien skizofrenia non pasung dan post pasung di Rumah Sakit Jiwa Dr Amino Gondohutomo Semarang umur 18 tahun, bisa diajak berkomunikasi, sudah tenang saat makan, menderita skizofrenia bukan dengan ketergantungan obat, dan bersedia menjadi sampel. Total sampel 60 orang dibagi dua kelompok yaitu 30 pasien skizofrenia non pasung, dan 30 pasien skizofrenia post pasung. Tingkat asupan energi dan protein diperoleh melalui metode recall 3x24 jam, diuji dengan independent sample t-test.Hasil: penelitian menunjukkan tingkat asupan protein skizofrenia non pasung dan post pasung berbeda signifikan yaitu 1.798 k.kal pada kelompok non pasung dan 1.761 k.kal pada kelompok post pasung dengan nilai p =0,012. Rata-rata asupan protein pasien skizofrenia non pasung adalah 65,59 gr, sedangkan pada post pasung adalah 63,28 gr dengan nilai p = 0,023. Tingkat asupan energi dan protein pada kelompok pasien skizofrenia non pasung adalah lebih tinggi daripada kelompok pasien post pasung.Kesimpulan: Terdapat perbedaan tingkat asupan energi dan protein pasien skizofrenia post pasung dan non pasung di Rumah Sakit Jiwa Dr Amino Gondohutomo Semarang.
Pemanfaatan Limbah Ampas Tahu Sebagai Upaya Diversifikasi Pangan di Masyarakat Yuwono Setiadi; Ria Aambarwati
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3253

Abstract

Latar Belakang: Ampas tahu memiliki sifat yang cepat basi dan berbau tidak sedap (langu). Pemanfaatan tepung ampas tahu yang disubstitusikan ke dalam pembuatan brownies kukus adalah untuk mengganti sebagian tepung terigu dan digunakan untuk lebih meningkatkan kandungan gizi dari brownies.Tujuan: mengetahui nilai gizi brownies kukus dengan substitusi tepung ampas tahu serta daya terimanya.Metode: Penelitian dilakukan 3 tahap, yaitu: pembuatan tepung ampas tahu,  pembuatan brownies kukus, pengujian nilai gizi  serta daya terimanya. Pada penelitian ini dibuat brownies kukus dengan substitusi tepung ampas tahu  0%, 5%, 15%, 25%, 35%, 45%. Disain penelitian ini adalah eksperimen murni dengan Rancangan Acak Lengkap 1 (satu) faktor, yaitu konsentrasi substitusi serta 6 (enam) taraf perlakuan, yaitu:  0%, 5%, 15%,25%,35%, 45%. Jumlah ulangan 2 kali. Variabel yang diukur adalah mutu gizi (proximate) dan daya terimanya. Analisis data menggunakan ANOVA (Analysis of Varians) dan ANOVA Repetead Measure.Hasil: Pensubstitusian tepung ampas tahu kedalam pembuatan brownies kukus  meningkatkan mutu gizi dari brownies kukus, brownies kukus yang paling disukai dan bernilai gizi tinggi/baik adalah brownies dengan substitusi tepung ampas tahu 25%.Kesimpulan: tidak ada perbedaan mutu  gizi serta adanya perbedaan daya terima brownies kukus dengan substitusi tepung ampas tahu pada berbagai konsentrasi.Saran: perlu adanya perlakuan pendahuluan yang berupa pengukusan bahan baku tepung ampas tahu agar aroma langu yang ada pada produk dapat dikurangi.
Pengaruh Substitusi Tepung Kacang Hijau (Vigna radiata) terhadap Nilai Gizi (Serat dan Karbohidrat) dan Daya Terima Cookies Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L) Elinawati, Indira
Jurnal Riset Gizi Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Program penganekaragaman pangan bertujuan untuk meningkatkan konsumsi pangan penduduk serta mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis bahan makanan terutama beras. Program tersebut dilakukan dengan memperhatikan produk lokal yang tersedia dan kurang pemanfaatannyacontohnya ubi jalar ungu. Salah satu contoh produk berbahan ubi jalar ungu adalah cookies tepung ubi jalar ungu.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung kacang hijau terhadap nilai gizi (serat dan karbohidrat) serta daya terima cookies ubi jalar ungu dengan substitusi tepung kacang hijau sebesar 0%, 10%, 20%, 30%.Metode: Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan dua kali pengulangan. Pengukuran kadar serat dan karbohidrat dilakukan secara duplo. Pengukuran daya terima dilakukan oleh 25 panelis agak terlatih yang mengetahui tentang pengujian organoleptik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, cookies tepung ubi jalar dengan substitusi tepung kacang hijau sebanyak 30 % memiliki kandungan serat tertinggi yaitu sebesar 0,22g% dan kadar karbohidrat tertinggi yaitu sebesar 63,28%. Berdasar hasil uji statistik ANOVA, ada pengaruh substitusi tepung kacang hijau terhadap kadar serat dan karbohidrat cookies tepung ubi jalar ungu, dengan p-value 0,00. Hasil uji daya terima menunjukkan adanya pengaruh substitusi tepung kacang hijau terhadap daya terima cookies tepung ubi jalar ungu. Cookies yang paling disukai adalah cookies tepung ubi jalar ungu dengan substitusi tepung kacang hijau 20% dengan skor rata-rata 3,95.Kesimpulan: Hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh substitusi tepung kacang hijau terhadap nilai gizi ( serat dan karbohidrat) dan daya terima cookies.
Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan pada Balita Gizi Kurang Terhadap Perubahan Status Gizi di Wilayah Puskesmas Kramat Kabupaten Tegal Septiani, Septiani; Sunarto, Sunarto
Jurnal Riset Gizi Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Anak balita merupakan salah satu golongan penduduk yang rawan terhadap masalah gizi. Mereka mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat  pada rentang waktu ini sehingga membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup dan memadai. Kurang gizi pada saat balita dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan secara fisik, mental, social, intelektual yang sifatnya menetap dan terus dibawa sampai dewasa.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan pemulihan pada balita gizi    kurang terhadap perubahan status gizi di wilayah Puskesmas Kramat Kabupaten Tegal.Metode : Penelitian in menggunakan jenis penelitian analitik, desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian cohort dalam rancangan dilakukan non randomisassi.Sampel penelitian adalah 23 balita yang mendapat PMT Pemulihan dan 23 balita yang tidak diberikan PMT Pemulihan yang akan dijadikan kelompok control. Analisa peneliti menggunakan uji statistik menganalisa pengaruh pemberian PMT Pemulihan terhadap perubahan status gizi  menggunakan uji Anacova Repeated Meansure dengan α  0,05.Hasil :Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian makanan tambahan pemulihan pada balita gizi kurang  terhadap perubahan  status gizi (p value 0,012).Kesimpulan : Kesimpulan dalam penelitian ini adalah status gizi  kelompok pembanding nilai rata-rata Z skor sebelum -2,426, bulan ke-1 yaitu -2,052, bulan ke-2 yaitu -2,157 dan pada bulan ke-3 -2,783. Status gizi kelompok perlakuan status gizi sebelum perlakukan adalah -2,504, bulan ke-1 -2,222, bulan ke-2 yaitu -1,190 dan bulan ke tiga rata-rata z skor menjadi -1,280. Penulis mengharapkan bagi dinas kesehatan agar meningkatkan efisiensi paket PMTP dengan dilaksanakan proses pendampingan program PMTP agar paket yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan dapat diterima anak balita sasaran.
Hubungan Antara Keaktifan, Pengetahuan Gizi Ibu dan Pemberian Air Susu Ibu dengan Status Gizi Bayi pada Peserta Program Kelas Ibu Hamil di Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak Jatmiasih Jatmiasih; Wiwik Wijaningsih; J Supadi
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3241

Abstract

Latar Belakang. Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2009 menyatakan penyebab langsung kematian ibu sebesar 90% terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan. Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan sebesar 28%, eklamsia sebesar 24% dan infeksi sebesar 11%. Sedangkan untuk penyebab tidak langsung kematian ibu adalah Kurang Energi Kronik (KEK) pada saat kehamilan sebesar 37% dan anemia pada saat kehamilan sebesar 40%. Mempercepat pencapaian program MDG’s, diperlukan upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ibu dan keluarga. Peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ini diharapkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan selama kehamilan menjadi meningkat. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah Kelas Ibu Hamil. Tujuan. Menganalisis hubungan antara keaktifan, pengetahuan gizi ibu dan pemberian Air Susu Ibu dengan status gizi bayi pada peserta program kelas ibu hamil. Metode. Rancangan penelitian ini dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah semua bayi usia 6-8 bulan pada populasi tersebut. Analisis hubungan antara keaktifan dan pemberian ASI dengan status gizi dilaksanakan dengan uji Korelasi Rank Spearman. Analisis hubungan antara pengetahuan ibu dengan status gizi dilaksanakan dengan uji Pearson. Hasil. Ada hubungan yang tidak signifikan antara keaktifan ibu dan status gizi, korelasinya positif dan keeratan rendah ( r= 0,074 p value= 0,68 ). Ada hubungan yang tidak signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi, korelasinya positif dan keeratan rendah (r= 0,275 dan p value= 0,122). Ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI dan status gizi, korelasinya positif dan keeratan rendah ( r= 0,315 dan p value= 0,045 ). Kesimpulan. Ada hubungan yang tidak signifikan antara keaktifan dan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi bayi. Ada hubungan yang signifikan antara pemberian Air Susu Ibu dengan status gizi bayi.  Hubungan Antara Keaktifan, Pengetahuan Gizi Ibu dan Pemberian Air Susu Ibu dengan Status Gizi Bayi pada Peserta Program Kelas Ibu Hamil di Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2025): November 2025 Vol. 13 No. 1 (2025): Mei 2025 Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025 Vol 12, No 2 (2024): November 2024 Vol. 12 No. 2 (2024): November 2024 Vol 12, No 1 (2024): Mei 2024 Vol. 12 No. 1 (2024): Mei 2024 Vol. 11 No. 2 (2023): November (2023) Vol 11, No 2 (2023): November (2023) Vol 11, No 1 (2023): Mei 2023 Vol. 11 No. 1 (2023): Mei 2023 Vol 10, No 2 (2022): November (2022) Vol. 10 No. 2 (2022): November (2022) Vol 10, No 1 (2022): Mei (2022) Vol. 10 No. 1 (2022): Mei (2022) Vol. 9 No. 2 (2021): November (2021) Vol 9, No 2 (2021): November (2021) Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021) Vol 9, No 1 (2021): Mei (2021) Vol 8, No 2 (2020): November (2020) Vol 8, No 1 (2020): Mei (2020) Vol 7, No 2 (2019): November (2019) Vol 7, No 1 (2019): Mei (2019) Vol 6, No 2 (2018): November (2018) Vol 6, No 1 (2018): Mei (2018) Vol 5, No 2 (2017): November (2017) Vol 5, No 1 (2017): Mei (2017) Vol. 5 No. 1 (2017): Mei (2017) Vol 5, No 1 (2017): Mei (2017) Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol. 4 No. 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei (2016) Vol. 4 No. 1 (2016): Mei (2016) Vol. 3 No. 2 (2015): November(2015) Vol 3, No 2 (2015): November(2015) Vol 3, No 1 (2015): Mei (2015) Vol. 3 No. 1 (2015): Mei (2015) Vol. 2 No. 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol. 2 No. 1 (2014): Mei 2014 Vol. 1 No. 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol. 1 No. 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 More Issue