cover
Contact Name
Eko Ariwidodo
Contact Email
eko.ariwidodo@iainmadura.ac.id
Phone
+6285231042871
Journal Mail Official
jurnalkarsa@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Gedung Rektorat Lt.2, Institut Agama Islam Negeri Madura, Jl. Raya Panglegur km.4 Pamekasan 69371
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman (Journal of Social and Islamic Culture)
ISSN : 24423289     EISSN : 24424285     DOI : https://doi.org/10.19105/karsa
KARSA is a peer-reviewed national journal published by Institut Agama Islam Negeri Madura. It has been nationally accredited SINTA 2 since 2017 by Ministry of Research Technology and Higher Education of Republic Indonesia. It is published twice a year (June and December). It publishes articles of research results, applied theory studies, social issues, cultural studies, and Islamic culture issues. The aim of KARSA is to disseminate cutting-edge research that explores the interrelationship between social studies and (including) culture. The journal has scope and seeks to provide a forum for researchers interested in the interaction between social and cultural aspects across several disciplines. The journal publishes quality, original and state-of-the-art articles that may be theoretical or empirical in orientation and that advance our understanding of the intricate relationship between social science and culture. KARSA accepts manuscript with a different kind of languages are Indonesian, English, Arabic, or French.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Islam, Budaya dan Ekonomi" : 17 Documents clear
TRADISI TER-ATER DAN DAMPAK EKONOMI BAGI MASYARAKAT MADURA Moh. Wardi, Moh. Wardi
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.30

Abstract

Abstrak:Ter-ater merupakan bagian dari budaya lokal yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang ramah, dermawan, komunikatif, baik hati, dan memiliki solidaritas yang tinggi pada sesama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan tradisi ter-ater dalam tinjauan agama, budaya, dan ekonomi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Data diperoleh dari hasil observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan tahap kesimpulan. Informan dalam penelitian ini terdiri dari masyarakat, pedagang dan tokoh masyarakat di Desa Bakiong, Guluk-Guluk, Sumenep. Hasil penelitian menunjukan bahwa ter-ater merupakan salah satu upaya mempererat hubungan kekeluargaan dan sarana ukhuwwah Islâmiyyah sebagaimana anjuran dalam agama Islam. Secara budaya, orang dianggap kurang lengkap tradisi keberagamaannya jika tidak pernah mengeluarkan sebagian hartanya dalam hal ini adalah ter-ater. Secara ekonomi, pelaksanaan tradisi ter-ater memberikan dampak ekonomi yang cukup berarti. Pertama, dalam setiap perayaan keagamaan yang kemudian diikuti dengan praktik ter-ater, kebutuhan ekonomi masyarakat sangat meningkat, ini dapat dilihat dari neraca transaksi perdagangan yang meningkat pula. Bisa di pastikan pada kondisi seperti ini menjadi momentum kesejahteraan para pedagang. Kedua, bahwa ter-ater merupakan bagian dari kegiatan ekonomi dan motif dalam ekonomi, motif memenuhi kebutuhan, motif memperoleh keuntungan, motif mendapatkan kekuasaan ekonomi, motif sosial, dan motif memperoleh penghargaan.Abstract:Ter-ater is part of the local culture that leads many people to conclude that the Madurese are the people who are friendly, generous, communicative, kind, and has a high solidarity to others. The purpose of this study is to investigate and explain the tradition of ter-ater in the review of religion, culture, and economics. The method used in this study is qualitative with a phenomenological study. Data collected by participating observation, in-depth interviews, and documen-tation. Data analysis was performed with data reduction, data display, and conclusion stage. Informants in this study consist of community, merchants, and community leaders in the village Bakiong Guluk-Guluk Sumenep. The results showed that, ter-ater is one way to strengthen family ties and the means of Muslim brotherhood as recommended in Islam. In culture, the tradition religion considered incomplete if it does not ever issue a part of his property in this case is ter-ater. Economically, the implementation of ter-ater tradition of providing a significant economic impact. First, in any religious celebration, followed byTradisi Ter-Ater dan Dampak Ekonomi bagi Masyarakat MaduraKARSA, Vol. 21 No. 1, Juni 2013| 41practice ter-ater, the economic needs of the community is greatly increased, it can be seen from the trade balance increased as well. Can be sure in these conditions to be momentum traders welfare. Second, that ter-ater is part of the economic activity and the economic motive, motive needs, profit motive, motive power gain economic, social motive, and the motive awarded.Kata Kunci:Ter-ater, tradisi, ukhuwwah Islâmiyyah, ekonomi, kesejahteraan.
TRADISI ÉMBU DALAM TRANSAKSI JUAL BELI PADA MASYARAKAT MADURA Haryanto, Rudy
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.35

Abstract

Abstrak: Mayoritas masyarakat Madura adalah Muslim, sehingga budayanya dipengaruhi oleh ajaran Islam. Tradisi pemberian émbu dalam transaksi jual belinya merupakan bentuk pemberian yang berakar pada budaya Madura. Tradisi pemberian émbu dibentuk oleh demografi dan nilai ajaran Islam serta dilakukan sebagai bentuk realisasi atas khasanah budaya Madura dalam hal ketaatan masyarakat Madura kepada agama, sebagai simbol watak dan karakter mereka, sebagai perilaku dermawan mereka, dan sebagai strategi marketing masyarakat Madura. Tradisi pemberian émbu sebagai bentuk ketaatan terhadap agamanya dituangkan dalam bentuk kehati-hatian terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan tradisi pemberian émbu sebagai bentuk kedermawanan masyarakat Madura tertuang dalam perilaku yang suka memberi dan tidak kikir. Terakhir, tradisi pemberian émbu sebagai strategi marketing menunjukkan bahwa masyarakat Madura cerdas dan tidak seperti dalam stereotip yang mengatakan bahwa masyarakat Madura bodoh dan tidak berilmu, karena dalam kenyataannya masyarakat Madura mempunyai ilmu marketing dengan strategi memberi émbu.   Abstract: The majority of the Madurese are Moslem, so their culture are influenced by the Islam. Émbu giving tradition in the its trading transactions is a form of rooted culture that is rooted in Madura. Émbu giving tradition is shaped by demographic and moral values ​​of Islam and it is done by them as a form of the tred sures realization of Madura culture in terms of obedience to religion, as a symbol of attitude and character, generosity behavior, and it is as a marketing strategy of the Madurese. Émbu giving tradition as a form of obedience to their religion which presented in the form of precautionary behavior incompatible with Islamic law. The tradition of giving émbu as the nature and character of the Madurese entrepreneur spirit is reflected in the alloy. The tradition of giving as a form of philanthropy émbu contained in the behavior of the Madurese who likes to give, it does not fit with the stereotype of the Madurese are miserly. Émbu traditions as well as providing marketing srtategy shows that the Madurese is smart and it is not like the stereotype which says that people are not stupid and have no education enaugh, because in reality the Madurese have knowledge deal with émbu marketing strategy. Kata Kunci: Émbu, Islam, Madura, ihtiyâth
ASURANSI SYARI’AH ANTARA AJARAN SYARA’ DAN PEMBENARAN BUDAYA Muslim, Nur Aziz
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.31

Abstract

Abstrak: Islam sebagai agama universal harus tampil elegan dalam mengurai permasalahan kehidupan manusia. Meskipun ia hadir sebagai blue print dari Tuhan, kehadirannya tidak bisa lepas dari budaya. Meskipun kehadiran budaya sebagai sesuatu yang berada di luar blue print Tuhan, keberadaan budaya kerap kali memengaruhi diundangkannya suatu ketentuan hukum Dalam masalah mu’âmalah (ekonomi syari’ah) misalnya, asuransi yang merupakan hasil karya manusia harus direspon secara positif karena tidak ada larangan terhadapnya dan ia sejalan dengan prinsip universal ajaran  Islam, yakni saling menolong, saling melindungi, dan saling menanggung. Karena itu, memasukkan asuransi sebagai entry dalam ensiklopedi Islam merupakan keharusan, karena dalam Islam adat juga dapat digunakan sebagai sumber hukum Islam. Pertimbangan ini dikuatkan dengan adanya kemaslahatan yang ada di dalam asuransi itu sendiri bagi umat Islam. Meskipun tidak bisa dipungkiri adanya tarik ulur tentang halal atau tidaknya asuransi masih mewarnai ijtihad para ulama yang mempunyai otoritas tentang masalah itu, namun seyogyanya yang perlu dipertimbangkan juga adalah adanya sentimen positif dari masyarakat tentang keberadaan asuransi syari’ah dengan pertumbuhannya dari tahun ketahun yang menunjukkan pertumbuhan yang sangat fantastis. Abstract: As a universal religion, Islam should appears elegantly in describing social problems. Islam as a norms are the blue print of God, however, its implementation is not free from the influence of culture, as the out sider of God blue print. Culture often influences the enactment of Islamic legal provision. In case of mu’âmalah (Islamic economy), insurance for instant, is a man made system of economy that should be regarded positively since there is no prohibition on it  and it is in accordance with the universal Islamic teaching; helping each other, guarding one another and taking risk together. Therefore, taking it as an entry in Islamic encyclopedia is a must since culture, in some cases, is regarded as a source of Islamic law. This attempt is conducted by considering the advantage of insurance for muslims even though there is still a dispute about such matter among ulama. However, the fact is there is a positive response from people about the existence sharia insurance which is proved by the fantastic development of such kind of insurance from year to year. Kata Kunci: Asuransi, budaya, syari’ah, âqilah
QUO VADIS HAKIM PENGADILAN AGAMA DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA EKONOMI SYARI’AH PASCA AMANDEMEN UNDANG-UNDANG PERADILAN AGAMA Hariyanto, Erie
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.36

Abstract

Abstrak: Pengadilan Agama di tahun 2006 mendapatkan tambahan kewenangan yang strategis yaitu mengadili sengketa ekonomi syari’ah. Wewenang baru tersebut bisa dikatakan sebagai tantangan dan sekaligus peluang bagi lembaga peradilan agama utamanya Hakim Pengadilan Agama memikul tanggungjawab yang berat. Disamping sebagai peluang yang bagus, tetapi merupakan tantangan yang tidak mudah karena kuantitas dan kualitas hakim pengadilan agama yang berkompeten di bidang ekonomi syari’ah masih perlu ditingkatkan. Semakin luas otoritas peradilan ekonomi syari’ah yang dapat diperankan oleh pengadilan agama, dan didukung oleh hakim yang memiliki kompetensi yang tinggi, maka akan menghasilkan produk putusan sekaligus lembaga peradilan ekonomi syari’ah yang memadai. Hambatan dan upaya guna peningkatkan kompetensi hakim: Pertama, sumber daya hakim pengadilan agama; kedua, hukum materiil dan Acara Sengketa Ekonomi Syari’ah; ketiga, budaya “pandangan masyarakat” tentang kompetensi hakim pengadilan agama dalam mengadili sengketa ekonomi syari’ah juga menjadi tantangan para hakim untuk mewujudkannya, namun bukan hanya kompetensi  hakim yang harus dikembangkan namun juga harus bersama-sama mengembakan tiga unsur sistem hukum (three element of legal system) yakni: legal structure, legal substance, and legal culture untuk mewujudkan cita-cita perumus undang-undang menjadi Peradilan agama sebagai lembaga yang berwenang mengadili sengketa ekonomi syari’ah dengan menunjukkan kompetensi dan profesionalitas para hakimnya Abstract: Religious court got an additional strategic authority that is judging the disputes of islamic economy in 2006. The new authority can be regarded as a challenge and also an opportunity for religious court mainly religious court judges that have a heavy responsibility. Beside having a good opportunity, but it is not an easy challenge because the quantity and quality of the religious court judges who are competent in the field still need to be improved. The wider authority of islamic judical economy which can be played by the religious court, and supported by judges who have a high competence, will produce economic decision as well as islamic economy court. The barriers and efforts of judges competency enhancement are the first is the resource of religious court judges.  The second is both material laws and islamic economy disputes judicial procedure. The third is the culture of “ people views” about the competence of the religious court judges in judging islamic economy disputes becoming the challege of the judges to realize it, but not only the judge competence that has to be improved but the judges also have to cooperate in developing the three elements of legal system, namely, structure,substance, and culture legal to realize the ideals of drafting legislation to religious courts as an institution that has an authority to judge islamic  economy disputes by showing competence and professionalism of the judges.   Kata kunci: Hakim, pengadilan agama, kompetensi, sengketa, ekonomi syari’ah
REVITALISASI DIMENSI BUDAYA DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI MADURA MELALUI PERAN KIAI DAN PESANTREN Ramadlan, M. Fajar Shodiq
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.32

Abstract

Abstrak: Sebagai sebuah entitas yang terus berkembang dengan sistem sosial budaya yang khas, unik dan partikular, diskursus pembangunan ekonomi dan masyarakat di Madura mendapat perhatian khusus, terutama sejak bergulirnya wacana industrialisasi dan berdirinya jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Dalam dinamika gagasan pem-bangunan ekonomi dan masyarakat, pembangunan berkelanjutan merupakan konsep yang memiliki orientasi ke masa depan. Gagasan paling kontemporer mengenai pembangunan berkelanjutan menem-patkan dimensi budaya sebagai pilar sentral dalam pembangunan ekonomi dan masyarakat. Dalam konteks budaya, Islam, dan pembangunan ekonomi di Madura, menempatkan dimensi kebudayaan dalam paradigma pembangunan berkelanjutan tentu menjadi penting di tengah tantangan industrialisasi. Apalagi, di samping upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi, aspek budaya, nilai-nilai keislaman, dan struktur sosial yang telah terbangun, juga diharapkan tetap terjaga. Cara yang bisa ditempuh untuk mencapainya adalah melalui keterlibatan peran kiai dan pesantren di Madura, yang dapat berfungsi sebagai agen dan lembaga yang mempunyai akar di masyarakat Madura.   Abstract: As an evolving entity with a distinctive, unique and particular socio-cultural system, economic and public development discourse on Madura get special attention, especially since the passing of the discourse of industrialization and the establishment of Surabaya-Madura bridge (Suramadu). In the dynamics of economic and community development ideas, sustainable development is a concept that has a future orientation. The most contemporary ideas about the cultural dimensions of sustainable development put culture as a central pillar in the economic and community develop-ment. In the context of culture, Islam and economic development in Madura, placing dimensions of culture in sustainable development paradigm is certainly important in the challenge of industria-lization. Moreover, in addition to efforts to create economic growth, aspects of culture, Islamic values ​​and social structures that had been built are also expected to be maintained. The way that can be taken to achieve it is through the involvement of kiai and the role of pesantren in Madura, which can serve as agents and agencies who have roots in the community Madura. Kata Kunci: Budaya, pembangunan berkelanjutan, kiai, pesantren
PERILAKU EKONOMI PETANI TEMBAKAU PASCA PANEN DI PAMEKASAN Nashar, Nashar; Hadi, Saiful; Karimullah, Karimullah
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.37

Abstract

Abstrak: Tulisan ini hendak menjawab dua pertanyaan utama, yaitu: bagaimana perilaku ekonomi masyarakat Desa Bulay Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan pasca panen tembakau dalam menunjang pencapaian kesejahteraan? Faktor apa saja yang memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat Desa Bulay Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan pasca panen tembakau dalam menunjang pencapaian kesejahteraan? Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, tulisan ini menegaskan bahwa peri-laku ekonomi masyarakat petani tembakau di Desa Bulay Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan berbeda-beda, sesuai dengan usia, latar pendidikan, pekerjaan sampingan, dan pengalaman bertaninya. Abstract: This article aims to answer two major questions---firstly, how is the economic attitude of Bulay villagers-Galis sub-residence-Pamekasan residence, post tobacco harvest, supporting prosperity achievement? Secondly, what are the factors influencing economic attitude of Bulay villagers-Galis sub-residence-Pamekasan residence, post tobacco harvest, supporting prosperity achievement? The study employs quantitative approach and results a confirmation that the villagers’ economic attitudes are varied. They are categorized on the basis of age, education set, side-jobs, and agricultural experience. Kata kunci: Petani, tembakau, Madura,
BUDAYA CORPORATE DAN RENTABILITAS BANK UMUM SWASTA SYARI’AH INDONESIA Eko Sujianto, Agus
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.28

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menguji perbedaan signifikan ROA BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI; (2) menguji perbedaan signifikan ROE BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI; (3) menguji perbedaan signifikan BOPO BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI  dan (4) menguji perbedaan signifikan NPM BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI. Data penelitian bersumber dari data sekunder berupa data panel (pooled data) yang merupakan gabungan data silang (cross section) dan data runtun waktu (time series) selama kurun waktu 29 bulan (Juni 2010-Oktober 2012). Analisis data menggunakan statistika nonparametrik, yaitu uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ROA keempat sampel tidak identik (data ROA keempat bank berbeda); (2) ROE keempat sampel tidak identik (data ROE keempat bank berbeda); (3) BOPO keempat sampel tidak identik (data BOPO keempat bank berbeda) dan (4) NPM keempat sampel tidak identik (data NPM keempat bank berbeda). Abstract: The aim of this research are: (1) to test differences significantly ROA BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI, (2) test the differences significantly ROE BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI, (3) test the differences significantly BOPO BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI and (4) test the differences significantly NPM BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI. Research data sourced from secondary data panel (pooled data) which is a combination of data cross (cross section) and time series data (time series) during the period of 29 months (June 2010-October 2012). Analysis of the data using a nonparametric statistical Kruskal-Wallis test, The results showed that: (1) ROA four samples are not identically (data ROA four different banks), (2) the four samples are not identically ROE (ROE data is four different banks); (3) BOPO four identical samples (data BOPO four different banks) and (4) the fourth NPM sample is not identically (data NPM four different banks). Kata Kunci: Rentabilitas, ROA, ROE, BOPO, NPM, BNI Syari’ah, BSM, BMI, BSMI
BUDAYA CORPORATE DAN RENTABILITAS BANK UMUM SWASTA SYARI’AH INDONESIA Agus Eko Sujianto
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.28

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menguji perbedaan signifikan ROA BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI; (2) menguji perbedaan signifikan ROE BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI; (3) menguji perbedaan signifikan BOPO BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI  dan (4) menguji perbedaan signifikan NPM BNI Syari’ah, BSM, BMI dan BSMI. Data penelitian bersumber dari data sekunder berupa data panel (pooled data) yang merupakan gabungan data silang (cross section) dan data runtun waktu (time series) selama kurun waktu 29 bulan (Juni 2010-Oktober 2012). Analisis data menggunakan statistika nonparametrik, yaitu uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ROA keempat sampel tidak identik (data ROA keempat bank berbeda); (2) ROE keempat sampel tidak identik (data ROE keempat bank berbeda); (3) BOPO keempat sampel tidak identik (data BOPO keempat bank berbeda) dan (4) NPM keempat sampel tidak identik (data NPM keempat bank berbeda). Abstract: The aim of this research are: (1) to test differences significantly ROA BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI, (2) test the differences significantly ROE BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI, (3) test the differences significantly BOPO BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI and (4) test the differences significantly NPM BNI Syari’ah, BSM, BMI and BSMI. Research data sourced from secondary data panel (pooled data) which is a combination of data cross (cross section) and time series data (time series) during the period of 29 months (June 2010-October 2012). Analysis of the data using a nonparametric statistical Kruskal-Wallis test, The results showed that: (1) ROA four samples are not identically (data ROA four different banks), (2) the four samples are not identically ROE (ROE data is four different banks); (3) BOPO four identical samples (data BOPO four different banks) and (4) the fourth NPM sample is not identically (data NPM four different banks). Kata Kunci: Rentabilitas, ROA, ROE, BOPO, NPM, BNI Syari’ah, BSM, BMI, BSMI
KEMANDIRIAN PEREMPUAN DALAM MENGELOLA REMITAN MELALUI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARI’AH PROGRAM GRAMEEN BANK Iskandar Dzulkarnain
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.29

Abstract

Abstrak: Banyaknya suami yang bekerja sebagai nelayan dengan ketidakpastian waktu melautnya, pada akhirnya memperbanyak keluarga nelayan masuk ke dalam kategori miskin, yang pada akhirnya menyebabkan istri-istri bekerja ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Hal inilah yang menguatkan peran istri bekerja dalam dua ranah, yaitu ranah domestik dan publik. Realitas hidup secara ekonomi dan sosial yang mengharuskan mereka menerjang budaya Madura. Meskipun demikian, secara tidak langsung dan otomatis, kemandirian perempuan akan menghapuskan mereka dari sikap ketidakadilan para suaminya, keluarganya, dan masyarakat Madura. Dari sinilah peneliti berupaya untuk memberdayakan kaum perempuan pesisir Madura untuk tidak hanya sekedar mandiri secara ekonomi dan sosial, namun kemandirian tersebut dibarengi dengan keadilan gender bagi mereka. Karenananya, peneliti berargumen bahwa perlu adanya pemberdayaan bagi kaum perempuan melalui penguatan ekonomi, yang akan melahirkan kemandirian perempuan dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan religiusitas mereka melalui pola Grameen Bank di Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah (LKMS), dengan program dana remitan. Hal ini penting dikarenakan pengelolaan keuangan remitan yang tidak bagus disebabkan oleh belum beranjaknya para keluarga yang istrinya bekerja ke luar negeri ke strata sosial yang lebih tinggi. Hal ini berbeda dengan daerah Kabupaten Malang Selatan, tepatnya di desa Kedungsalam kecamatan Donomulyo, di mana para keluarga yang ditinggalkan istrinya bekerja ke luar negeri lebih mandiri secara ekonomi, sosial, budaya, dan religiusitasnya serta mampu menaikkan strata sosial ekonomi keluarganya. Abstract: Many husbands were fishermen with their fishing time of uncertainty, in turn reproduce fishing families in the category of the poor, which in turn led to the wives work outside the region and even abroad. This is what strengthens the role of the wife works in two spheres, domestic and public. And economic realities of life that requires them crashing socially Madura culture. Even so, indirectly, the independence of women would automatically eliminate them from the injustice of her attitude, her family, and the Madura. From this the researcher seeks to empower women to Madura coast not only economically and socially indepen-dent, but independence is coupled with gender justice for them. So the resear-chers argue that the need for the empowerment of women through economic strengthening, which will give birth to the independence of women in the economic, social, cultural, and their religiosity through a pattern of Grameen Bank in Sharia Microfinance Institutions (LKMS), the remittance of funds program. This is important because the financial management of remittances is not good, because the family has not move whose wife works abroad to the higher social strata. This is in contrast to the South Malang regency, namely Kedungsalam village sub Donomulyo, where the family left behind his wife worked abroad more economic independence, social, cultural, and religiosity and were able to raise her family socio economic strata. Kata kunci: Remitan, Grameen Bank, kemandirian perempuan, dan LKMS
TRADISI TER-ATER DAN DAMPAK EKONOMI BAGI MASYARAKAT MADURA Moh. Wardi Moh. Wardi
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Ekonomi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.30

Abstract

Abstrak:Ter-ater merupakan bagian dari budaya lokal yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang ramah, dermawan, komunikatif, baik hati, dan memiliki solidaritas yang tinggi pada sesama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan tradisi ter-ater dalam tinjauan agama, budaya, dan ekonomi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Data diperoleh dari hasil observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan tahap kesimpulan. Informan dalam penelitian ini terdiri dari masyarakat, pedagang dan tokoh masyarakat di Desa Bakiong, Guluk-Guluk, Sumenep. Hasil penelitian menunjukan bahwa ter-ater merupakan salah satu upaya mempererat hubungan kekeluargaan dan sarana ukhuwwah Islâmiyyah sebagaimana anjuran dalam agama Islam. Secara budaya, orang dianggap kurang lengkap tradisi keberagamaannya jika tidak pernah mengeluarkan sebagian hartanya dalam hal ini adalah ter-ater. Secara ekonomi, pelaksanaan tradisi ter-ater memberikan dampak ekonomi yang cukup berarti. Pertama, dalam setiap perayaan keagamaan yang kemudian diikuti dengan praktik ter-ater, kebutuhan ekonomi masyarakat sangat meningkat, ini dapat dilihat dari neraca transaksi perdagangan yang meningkat pula. Bisa di pastikan pada kondisi seperti ini menjadi momentum kesejahteraan para pedagang. Kedua, bahwa ter-ater merupakan bagian dari kegiatan ekonomi dan motif dalam ekonomi, motif memenuhi kebutuhan, motif memperoleh keuntungan, motif mendapatkan kekuasaan ekonomi, motif sosial, dan motif memperoleh penghargaan.Abstract:Ter-ater is part of the local culture that leads many people to conclude that the Madurese are the people who are friendly, generous, communicative, kind, and has a high solidarity to others. The purpose of this study is to investigate and explain the tradition of ter-ater in the review of religion, culture, and economics. The method used in this study is qualitative with a phenomenological study. Data collected by participating observation, in-depth interviews, and documen-tation. Data analysis was performed with data reduction, data display, and conclusion stage. Informants in this study consist of community, merchants, and community leaders in the village Bakiong Guluk-Guluk Sumenep. The results showed that, ter-ater is one way to strengthen family ties and the means of Muslim brotherhood as recommended in Islam. In culture, the tradition religion considered incomplete if it does not ever issue a part of his property in this case is ter-ater. Economically, the implementation of ter-ater tradition of providing a significant economic impact. First, in any religious celebration, followed byTradisi Ter-Ater dan Dampak Ekonomi bagi Masyarakat MaduraKARSA, Vol. 21 No. 1, Juni 2013| 41practice ter-ater, the economic needs of the community is greatly increased, it can be seen from the trade balance increased as well. Can be sure in these conditions to be momentum traders welfare. Second, that ter-ater is part of the economic activity and the economic motive, motive needs, profit motive, motive power gain economic, social motive, and the motive awarded.Kata Kunci:Ter-ater, tradisi, ukhuwwah Islâmiyyah, ekonomi, kesejahteraan.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

0000


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 2 (2025): Article in Progress Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol. 31 No. 1 (2023) Vol. 30 No. 2 (2022) Vol. 30 No. 1 (2022) Vol. 29 No. 2 (2021) Vol. 29 No. 1 (2021) Vol. 28 No. 2 (2020) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol. 28 No. 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol. 27 No. 2 (2019) Vol. 27 No. 1 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol. 26 No. 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol. 26 No. 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol. 25 No. 2 (2017) Vol. 25 No. 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Islam, Culture, and Economics Vol. 24 No. 2 (2016): Islam, Culture, and Economics Vol 24, No 1 (2016): Islam, Culture, and Law Vol. 24 No. 1 (2016): Islam, Culture, and Law Vol. 23 No. 2 (2015): ISLAM, BUDAYA, DAN PESANTREN Vol 23, No 2 (2015): ISLAM, BUDAYA, DAN PESANTREN Vol 23, No 1 (2015): ISLAM, BUDAYA DAN PEREMPUAN Vol. 23 No. 1 (2015): ISLAM, BUDAYA DAN PEREMPUAN Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK Vol 22, No 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK Vol 22, No 1 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN PENDIDIKAN Vol. 22 No. 1 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN PENDIDIKAN Vol 21, No 2 (2013): ISLAM, BUDAYA DAN BAHASA Vol. 21 No. 2 (2013): ISLAM, BUDAYA DAN BAHASA MADUROLOGI 6 MADUROLOGI 5 MADUROLOGI 4 MADUROLOGI 3 MADUROLOGI 2 MADUROLOGI 1 Islam, Budaya dan Korupsi Islam, Budaya dan Perempuan Islam,Budaya dan Tourism Islam, Budaya dan Pesantren Islam, Budaya dan Pendidikan Islam, Budaya dan Ekonomi Islam, Budaya dan Hukum More Issue