Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. Musãwa Journal is a study of gender and Islam especially on gender mainstreaming and child rights both in the study of texts in the Qur’an and Hadith, figures and thoughts, history and repertoire, classical and contemporary literature as well as socio-cultural studies. All concentrations are in the context of Indonesia and other countries in Southeast Asia within the framework of unified NKRI, based on Pancasila. Musãwa Journal has been published by PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta since 2002. Initiated by lecturers, gender activists and Islamic studies scholars of PTKI ( Higher Education of Islamic Religion) Musãwa has regularly published academic works and researches on gender and Islam for almost two decades. Now, the Journal extends its studies with Children and Human Rights (HAM). All studies are still in the context of gender and its mainstreaming. Through the studies hopefully, the Musawa journal can be part of the implementation of gender mainstreaming in the context of Indonesian society.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 19 No. 1 (2020)"
:
8 Documents
clear
Menakar Keadilan Gender pada Penyelenggaraan Amal Usaha dan Ortom Muhammadiyah di Kabupaten Sikka
Nuwa, Gustav Gisela
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.109-123
Paper ini bertujuan menganalisis keadilan gender pada amal usaha dan ortom Muhammadiyah di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sikka. Dasar artikel ini mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat keadilan gender pada amal usaha dan ortom Muhammadiyah di kabupaten Sikka. Analisis Paper menghasilkan 2 hal penting pada pola keadilan gender dinilai cukup dalam memberikan kesempatan pada perempuan dan motivasi besar datang dari faktor pendukung yang memiliki sense of organisasi sangat kuat, anggota masih menerapkan ajaran pada surat An-Nahl, Ayat 97, dan organisasi berupaya besar dalam sistem rekrutmen tenaga yang proporsional. Analisis yang tampak adalah masalah. Hal tersebut menjadi Faktor penghambat, pada kinerja karena jumlah SDM kurang, budaya patriarki yang masih membumi, workshop tentang keadilan gender yang minim. Dampak dari masalah tersebut mengakibatkan eksistensi Muhammadiyah di kabupaten Sikka perlu mendapat suport dalam perkenalan pada kegiatan keadilan gender sehingga dapat dijadikan acuan bagi masyarakat adat, pemerintah, dan LSM yang bicara tentang gender di Sikka.[This paper aims to analyze gender justice in Muhammadiyah charities and orthoms in PDM Sikka. The basis of this article is to find out the supporting and inhibiting factors of gender justice in Muhammadiyah charities and orthoms in Sikka district. The paper analysis produces two essential things in the pattern of gender justice that is considered sufficient in providing opportunities for women, and incredible motivation comes from supporting factors that have a powerful sense of organization, members still apply the teachings of Surah An-Nahl, Paragraph 97. The organization makes great efforts in a proportional staff recruitment system. The visual analysis is a problem. This is an inhibiting factor on performance due to the lack of human resources, a patriarchal culture that is still down to earth, workshops on gender justice are minimal. The impact of this problem resulted in the existence of Muhammadiyah in the Sikka district that needed support in introducing gender justice activities so that it could be used as a reference for indigenous peoples, the government, and NGOs who talk about gender in Sikka.]
Poligami dalam Hermeneutika Feminis Amina Wadud
Anam, Haikal Fadhil
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.43-56
Artikel ini menelaah poligami dalam perspektif hermeneutika feminisme ala Amina Wadud. Buku Qur’an and Woman Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective adalah landasan dasar dalam perwakilan pandangan Amina Wadud pada tiga pembahasan penting dalam pemikiran pada konsep pembebasan, konsep patriarkhi, dan klasifikasi makna feminis. Penulisan ini membedah hakikat pemikiran Amina Wadud pada hak perempuan dan kebebasan poligami dengan syarat. Islam adalah agama kebebasan dalam menata muamalat dalam pola pernikahan yang rahmatan lilalamin.[The article talks about polygamy in Amina Wadud's hermeneutic feminism theory. The base paper, the Qur'an and Woman Rereading the Sacred Text from a Woman's Perspective, is an essential root in Amina Wadud's thought view. Three meaningful discussions are in Amina Wadud's thoughts on freedom concepts in human rights, patriarchal concepts inhabit rule and classification of feminist meaning in the text Qur'an. This paper examines Amina Wadud's thoughts on women's rights and the polygamy perspective with the rule. Islam is a peaceful religion in engaging relationships in a pattern of marriage.]
Praktik Human Trafficking di Propinsi Jambi
Yenti, Zarfina;
Nurhasanah, Nurhasanah
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.71-84
Perdagangan manusia sudah merajalela ada semenjak lama. Namun, pola dan modus operandi berbeda-beda tergantung waktu dan tempat eksekusi praktik trafficking berjalan. Di Provinsi Jambi, perdagangan orang mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada saat masih marak lokalisasi prostitusi Payosigadung, para korban ditempatkan dan dilokalisasikan tetapi, setelah penutupan lokalisasi kecenderungan perdagangan orang melalui Online dan ditempatkan di salon-salon kecantikan yang menyediakan layanan plus-plus. Paper ini menunjukkan terdapat relasi kuasa yang signifikan antara pelaku dan korban terutama pada konsep kuasa pada perdagangan dalam jual beli. Relasi kuasa ini diikat sedemikian rupa sehingga korban tidak bisa menolak ketika dihadapkan pada pilihan untuk mengorbankan diri sebagai pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Pembahasan Paper ini akan menjabarkan tiga hal penting dalam Human Trafficking. Hal-hal penting tersebut adalah Masalah ketimpangan ekonomi pada pelaku dan korban dari trafficking, relasi patriarki dalam hubungan sosial masyarakat dalam praktik trafficking, dan dominasi seksualitas yang tinggi pada hubungan patron-klien trafficking. Bentuk aktivitas trafficking bisa berjalan mulus karena tiga hal tersebut saling berkelindan.[Human trafficking has been rampant for a long time. However, the patterns and modus operandi vary depending on the time and place where the trafficking practice is being executed. In Jambi Province, trafficking in persons has increased from time to time. When the Payosigadung prostitution localization was still rife, the victims were placed and localized, however the closure of the localization of the tendency of trafficking in persons online and put in beauty salons that provide plus-plus services. This paper shows a significant power relationship between the perpetrator and the victim, especially in the concept of power in trade in buying and selling. This power relation is tied in such a way that the victim cannot refuse when faced with the choice to sacrifice herself as the satisfaction of the male masher. Discussion This paper will describe three essential things in Human Trafficking. These essential things are economic inequality among traffickers and victims of trafficking, patriarchal relations in community social relations in trafficking practices, and the high dominance of sexuality in trafficking patron-client relationships. The form of trafficking activity can run smoothly because these three things are intertwined.]
The Dynamics of Gender Equality: The Girls Ddi Mangkoso Islamic Boarding School in South Sulawesi
Wahyudin, Wahyudin
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.99-108
Paper ini mengkaji implementasi kesetaraan gender dalam pembinaan karakter santri Perempuan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Paper terfokus pada implementasi kesetaraan dalam pendidikan karakter di Pondok Pesantren DDI Mangkoso pada nilai-nilai kesetaraan gender dalam perspektif pendidikan karakter, faktor penghambat dan pendukung penerapan nilai-nilai kesetaraan, dan implementasi kesetaraan di pesantren. Tiga hal tersebut telah diterapkan dengan relevansi pendidikan karakter pada kesetaraan gender di pesantren. Berdasarkan bentuk data dan karakter objek yang diamati, penelitian ini tergolong penelitian survei. Masyarakat Pondok pesantren diantaranya Kyai, guru dan santri memiliki pemahaman yang cukup baik tentang gender. Siswa perempuan memandang persepsi gender sebagai sifat. Hal tersebut terejahwantakan dalam kegiatan ekstra di pesantren yang tidak membeda-bedakan siswa laki-laki dan perempuan.[This paper examines the implementation of gender equality in fostering the character of female students at the DDI Mangkoso Islamic Boarding School, Barru Regency, South Sulawesi. The paper focuses on implementing equality in character education at the Islamic Boarding School DDI Mangkoso on the values of gender equality in the perspective of character education, inhibiting and supporting factors for the application of equality values, and the implementation of equality in Islamic boarding schools. These three things have been applied with the relevance of character education to gender equality in pesantren. Based on the form of data and the character of the object being observed, this research is classified as survey research. The Pondok Pesantren community, including kyai, teachers, and students, have a relatively good understanding of gender. Female students view gender perceptions as traits. This is manifested in extra activities at the pesantren that do not differentiate between male and female students.]
The Big Other Gender, Patriarki, dan Wacana Agama dalam Karya Sastra NawÄl Al-Sa'dÄwÄ«
Latifi, Yulia Nasrul;
Udasmoro, Wening
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.1-20
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap struktur yang menstrukturkan wacana agama sehingga menjadi patriarkis dan misoginis dalam tiga karya fiksi “Adab Am Qillah Adab?â€, “Qiṣṣah Fatḥiyyah al-Miá¹£riyyahâ€, dan ZÄ«nah karya NawÄl Al-Sa'dÄwÄ« dengan perspektif the big Other dan metode interpretasi. Penelitian ini dinilai penting disebabkan mayoritas kajian gender dan agama masih terfokus pada problem hermeneutik mikro (asbabunnuzul ayat) dan belum mengungkapkan kenapa bahasa kitab suci itu bias. The big Other adalah struktur atau aturan simbolik yang menyebabkan subjek terkungkung sehingga The Symbolic sebagai jangkar subjek semakin tiranik. Sebagai bagian dari teori subjektivitas yang dikenalkan Žižek, the big Other mengandung lack sehingga tidak dapat melakukan totalisasi dan dapat dikritisi subjek. Hasil analisisnya adalah, the big Other internal (irasionalitas dan kontra-faktualitas) dan eksternal (faktor ekonomi dan politik) yang menjadikan konstruksi patriarkis dalam bahasa kitab suci yang kemudian distrukturkan dalam nalar wacana agama. Lack dalam the big Other menjadikannya struktur terbuka sehingga selalu dikritik dan dilawan oleh subjek narasi untuk memperjuangkan otonomi perempuan dalam wacana agama. [The research talks about revealing with religion point of structuralism discourse on patriarchal and misogynic in three works of "Adab Am Qillah Adab?", "Qiṣṣah Fatḥiyyah al-Miá¹£riyyah" and ZÄ«nah by NawÄl Al-Sa'dÄwÄ« which is seeing the Big Other of gender issue and the method of exegeses texts. The value of research takes on gender and religion with focus micro-hermeneutical problems (asbabunnuzul of verses) and language and holy book on reading texts with a biased view. The big Another issue is a case with a symbolic rule to becomes a patriarchal image on perennial discourse. It is to be a traumatic woman incident on religious tyrannies. As part of Žižek's theory, the Big Other issues contain lack meaning with no perfect talk discuss. The points analyses are the internal factor (irrationality and kontra-factuality) and the external factor (the economic and political factors). Perennial discourses make for reading Al-Qur'an with patriarchal power. "Lack" in the Big Other issues makes the open-minded for challenge and critic for women's rights issues in Religion Studies.]
Kodrat Perempuan dan Al-Qur’an dalam Konteks Indonesia Modern: Isyarat dan Persepsi
Kusmana, Kusmana
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.21-41
Makalah ini mendiskusikan kodrat perempuan dalam al-Qur’an dalam isyarat dan persepsi penafsir dalam konteks modern. Dengan menggunakan deskriptif analitik, ayat-ayat al-Qur’an menginspirasi secara-relevan yang didiskusikan dari perspektif al-Qur’an dan persepsi penafsir serta pemikir. Dari keduanya tersebut menganalisis hubungan tafsir pemahaman atas ayat-ayat dan tafsir realitas sosial. Studi ini menemukan bahwa al-Qur’an mendiskusikan kodrat perempuan dalam dua sisi dalam sisi pengertian esensi dan pengertian empiris. Dalam pengertian esensial, al-Qur’an mendiskusikan kodrat perempuan dari sisi apa-apa yang terberi dari Allah secara dinamis. Dalam pengertian empiris, al-Qur’an mendiskusikan kodrat perempuan dari sisi praktik-praktik atau anggapan-anggapan manusia yang terekam dalam al-Qur’an. Sementara dari sisi persepsi, penafsir, dan pemikir Islam mendiskusikan kodrat perempuan dengan menjadikan al-Qur’an sebagai salah satu sumber inspirasi utama dan menarik pada pengertian esensial dan empiris. Hal tersebut sebagai tren umum dengan merasionalisasikan keadilan gender atas implikasi dari isyarat dan persepsi kodrat.[This article discusses the term kodrat Perempuan (woman's constructed nature) in the Qur'an in terms of its signs and the perception of Muslim interpreters in the modern context. Using a descriptive-analytic method, the related verses are discussed from both the Qur'anic and interpreters' perspective, analyzed within the relation between the Qur' anic perspective and social realities that inspire the interpreters. This study finds that the Qur'an discusses Kodrat Perempuan in two dimensions: essential as well as the empirical dimension. In its essential dimension, the Qur'an discusses Kodrat Perempuan from the point of what is given by Allah dynamically. In its empirical dimension, the Qur'an discusses it from the point of social practice or people's assumptions, which were recorded by in the Qur'an. Meanwhile, interpreters or Muslim thinkers discuss kodrat Perempuan by treating the Qur'an as one of their primary sources of inspiration and treat the discussed matter either to its essential or empirical dimension. With a general trend of rationalizing gender equity and its implication from the sign and the view of kodrat Perempuan.] Â
Hegemoni Kesetaraan Gender Pada Film Kartini Karya Hanung Bramantyo
Fahmi, Muhammad
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.85-97
Artikel ini mendeskripsikan penerimaan atau resepsi dunia Islam pada konsepsi kesetaraan gender. Kajian ini mengeksplorasi posisi audien dalam meresepsi pesan-pesan kesetaraan gender dalam Film Kartini karya Hanung Bramantyo. Data diambil dari wawancara audien Film. Mereka adalah perempuan yang aktif di Ormas Perempuan Islam. Penonton film relatif berkomentar tentang kesuksesan film sebagai media penyebaran gagasan dan nilai-nilai kesetaraan gender. Mereka menerima nilai-nilai equality secara terbuka dan bulat pada konsepsi kesetaraan gender secara dominan hegemonik. Hal ini mematahkan asumsi dominan tentang negara Islam anti konsep kesetaraan gender. Islam selalu dipandang sebagai barrier atau penghalang kesetaraan gender. Kultur negara Islam di nilai sangat patriarkal sehingga sulit mewujudkan kesadaran gender di kawasan tersebut. Paper ini menerangkan tentang Indonesia dengan mayoritas Islam sebagai promotor kesadaran kesetaraan gender. Hal tersebut memunculkan interpretasi tidak bias, genuine, dinamis, dan berkemajuan untuk menghapus ortodoksi, jumud, dan kental budaya patriarkhal. Film Kartini membawah masyarakat dunia bersikap optimis pada Indonesia dalam kesetaraan gender. Ini adalah harapan Kartini yang tertuang dalam “Habis gelap terbitlah terangâ€.[The article talks about the acceptance or reception of the Islamic world on the conception of gender equality. The study explores the position of the audience in perceiving messages of gender equality in Hanung Bramantyo's Kartini film. Data were taken from film audience interviews. They are women who are active in Islamic Women's Organizations. Film viewers relatively comment on the success of films as a medium for disseminating ideas and values of gender equality. They accept the importance of equality openly and unanimously in the dominant hegemonic conception of gender equality. It breaks the prevalent assumption of an Islamic territorial against the concept of gender equality. Islam has been seen as a barrier to gender equality. Islamic culture is considered patriarchal, making it challenging to create gender awareness in the region. This paper describes Indonesia with a Muslim majority as a promoter of gender equality awareness. It gives rise to an unbiased, genuine, dynamic, and progressive interpretation to erase orthodoxy, old age, and patriarchal. Kartini's film leads the world community to be optimistic about Indonesia on gender equality. This is Kartini's hope, which is stated in "After the dark comes light."]
Disrupsi Seksualitas Feminis: Meninjau Pelecehan dan Kekerasan Perempuan Pada Praktik Adat Sifon Masyarakat Suku Atoin Meto
Natar, Asnath
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/musawa.2020.191.57-69
Kekerasan seksual terhadap perempuan menjadi pergumulan bersama sebagai bangsa yang beradab. Tidak dapat dipungkiri bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun kian meningkat. Bahkan, bentuk kekerasan seksual yang terjadi selalu bervariasi. Salah satu bentuk kekerasan seksual perempuan adalah kekerasan seksual berbasis budaya dan tradisi. Oleh karena itu, tulisan ini membahas kekerasan seksual berbasis budaya dan tradisi pada praktik adat Sifon oleh masyarakat suku Atoin Meto. Praktik adat Sifon merupakan tradisi khitan yang dilakukan seorang laki-laki sudah menikah untuk proses penyembuhan luka bekas khitan dengan cara menyetubuhi seorang perempuan yang terpilih. Perempuan yang disetubuhi disebut perempuan media Sifon dan laki-laki yang melakukan praktik Sifon disebut laki-laki Sifon. Tujuan tulisan ini menguak praktik adat sifon dari perspektif seksualitas feminis. Seluk-beluk kekerasan seksual terjadi dalam praktik adat Sifon, khususnya yang dialami oleh perempuan media Sifon.[Sexual violence against women has become a collective struggle as a civilized nation. It cannot be denied that sexual violence against women occurs in Indonesia from year to year. The forms of sexual violence that occur always vary. One form of sexual violence for women is sexual violence based on culture and traditions. Therefore, this paper discusses sexual violence based on culture and traditions in the traditional practice of Sifon by the Atoin Meto tribe. The traditional practice of chiffon is a circumcision tradition that is carried out by a married man for the healing process of circumcision scars by intercourse with a woman who is chosen. Women who have sex are called chiffon media women, and men who practice chiffon are called chiffon men. The purpose of this paper is to uncover the traditional practice of chiffon from the perspective of feminist sexuality. The details of sexual violence occur in traditional Sifon practices, especially those experienced by women in the Sifon media.]